cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Rihlah Jurnal Sejarah dan Kebudayaan
ISSN : 23390921     EISSN : 25805762     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
Dampak Perang Makassar terhadap Umat Islam Sulawesi Selatan Abad XVII-XVIII M. Ahmad Yani
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 6 No 1 (2018): RIHLAH
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v6i1.5460

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah; Pertama, mendeskripsikan kondisi umat Islam pra Perang Makassar. Kedua. mendeskripsikan proses kejadian Perang Makassar. Ketiga, mendeskripsikan eksitensi umat Islam pasca Perang Makassar.Jenis penelitian adalah library researchdengan menggunakan pendekatan historis, politik, dan sosiologi. Untuk menjawab rumusan masalah dalam penelitian ini, maka hal tersebut melalui metode sejarah yang meliputi empat tahapan kritis, yaitu: (1) heuristik atau pengumpulan data, (2) kritik sumber, (3) interpretasi dan (4) penulisan laporan atau historiografi.Hasil penelitian ini terungkap bahwa keberlangsungan Perang Makassar antara kesultanan Makassar dengan VOC Belanda bukan semata-mata karena persaingan keduanya dalam pelayaran dan perdagangan rempah-rempah di Kepulauan Maluku. Namun, ada pula faktor lain yang menjadi pemicu perang tersebut. Faktor tersebut adalah kondisi internal masyarakat dari kerajaan-kerajaan Islam di Sulawesi Selatan turut mempengaruhi konflik atau Perang Makassar. Faktor internal tersebut adalah fakta geografis yang stategis berada pada pertengahan jalur pelayaran dan perdagangan antara Maluku di Timur dan Batavia dan Malaka di barat; kondisi kultural masyarakat setempat yang dikenal keras dan berani (de hantjens van het Oesten) sama kerasnya dengan tabiat orang Belanda, kondisi politik masyarakat setempat yang diliputi kompetisi dalam memperoleh superiotas diantara mereka. Hal-hal demikian menjadi sumber konflik yang kelak menimbulkan perang yang dahsyat yang dikenal dengan Perang Makassar. Perang Makassar merupakan perang yang pernah dialami oleh VOC Belanda di Asia Tenggara yang berakhir dengan kemenangan VOC Belanda terhadap kesultanan Makassar. Kemenangan VOC Belanda tersebut sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat dari kerajaan-kerajaan Islam Sulawesi Selatan. Hal tersebut oleh sebagian masyarakat diterima sebagai sebuah kekalahan sebagai takdir dari Allah SWT sehingga mereka tetap tinggal di Makassar dengan mengikuti aturan Kompeni Belanda sebagai resiko dari kekalahan perang.Adapula kelompok yang merespon hal tersebut dengan melepaskan diri dari ikatan-ikatan keduniaan yang berhubungan dengan kekuasaan dan VOC dengan memasuki dunia tarikat.Ada pula yang melakukan diaspora meninggalkan Sulawesi Selatan ke berbagai daerah di Nusantara. Diantara mereka ada secara extrim berniat tetap melanjutkan perlawanan terhadap VOC adapula yang semata-mata ingin mengadu nasib atau memperbaiki kehiduapan mereka di negeri rantau.Dalam penelitian ini melengkapi/mendukung teori konflik sosial David Lockwood yang berasumsi bahwa perselisihan atau permusuhan antara individu atau antara kelompok disebabkan karena kompetisi atau interest terhadap kepentingan tertentu. Demikianlah rempah-rempah sebagai komoditas dagang menjadi sumber konflik antara kesultanan Makassar-VOC Belanda. Namun, konflik tersebut tidak akan menjadi menimbulkan perang dahsyat sekiranya tidak ada faktor lain yang menjadi pemicunya. Kondisi geografis, kondisi kultural (tabiat), kondisi politik turut menjadi pemicu.
Musu’ Selleng dan Islamisasi dalam Peta Politik Islam di Kerajaan Bone Rahmawati Rahma
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 6 No 1 (2018): RIHLAH
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v6i1.5536

Abstract

Artikel ini membahas tentang Musu Selleng dan Islamisasi dalam peta poliitik Islam di Kerajaan Bone pada abad 14. Untuk memperoleh data yang tepat,penulis menggunakan telaah historis. Karena pada dasarnya,kajian sejarah adalah kajian terhadap sumber-sumber masa lalu dengan maksud membuat peristiwa masa lalu berbicara melalui tulisan. Hasil penelitian ini terungkap bahwa, penyebab yang mendorong terjadinya Musu Selleng dan Islamisasi di Kerajaan Bone, disebabkan karena dua hal. Pertama, sebab langsung, hal ini dimaksudkan adanya dampak positif yang terjadi karena ide dan gagasan transparansi antar kerajaan termasuk Gowa dengan Bone. Kedua, sebab tidak langsung adalah keinginan Kerajaan Gowa, untuk menjadikan kerajaan Gowa kuat dari segi ekonomi dan politik. Kajian ini memperlihatkan Kerajaan Bone mengalami kekalahan sehingga Raja Bone harus menerima Islam pada tanggal 23 November 1611 M.  Kajian ini juga memperlihatkan  kedudukan Raja Bone dalam penyebaran Islam. sejarah Islamisasi yang menguntungkan ini mempunyai ciri tersendiri yang pada awalnya ditolak hingga diterima, berkembang secara cepat dan sebagai agama resmi dalam kerajaan sebagai puncak piramida.
Politik Penguasaan Bangsa Mongol terhadap Negeri-negeri Muslim pada Masa Dinasti Ilkhan (1260-1343) Sujati Budi
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 6 No 1 (2018): RIHLAH
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v6i1.5456

Abstract

Dalam sejarah Islam, kehancuran dinasti Abbasiyah sebagai pusat peradaban Islam pada masanya yang terjadi pada 10 Februari 1258 oleh serangan bangsa Mongol menyebabkan Islam kehilangan identitasnya. Kehancuran tersebut membawa dampak luar biasa yang pengaruhnya masih bisa dirasakan hingga sampai sekarang, karena pada waktu itu semua bukti peninggalan Islam dihancurkan dan dibumihanguskan tanpa sedikitpun yang tersisa. Namun bukan berarti dengan kehancuran tersebut membuat Islam sebagai agama yang ditaklukan hilang seperti ditelan bumi. Justru dengan Islamlah para penakluk bangsa Mongol yang akhirnya setelah berasimilasi dalam waktu yang lama tertarik hingga akhirnya dari beberapa keturunan bangsa Mongol sendiri memeluk Islam dengan mendirikan dinasti Ilkhaniyah yang berpusat di Tabriz Persia (Iran sekarang). Hal ini tentunya menjadi ketertarikan penulis dalam menggambarkan suatu peristiwa yang unik bahwa para penguasa sendiri yang akhirnya mengikuti kepercayaan yang dianut oleh masyarakatnya berbeda dengan penaklukan-penaklukan suatu bangsa terhadap bangsa lain. Dalam penelitian ini menggunakan metode sejarah (studi historis) yang bersifat deskriptif-analitis dengan menggunakan approach sebagai media dalam menganalisa. Sehingga peristiwa yang telah terjadi bisa diketahui dengan melibatkan berbagai metode keilmuan dengan menggunakan ilmu sosial dan humaniora sebagai approach. Dengan menggunakan ilmu sosial dan humaniora akan mampu menjawab peristiwa yang terjadi pada bangsa Mongol sebagai penguasa atas dunia Muslim menjadikan Islam sebagai agama resmi pemerintahannya pada anak cucu mereka.
Kontribusi Peradaban Islam terhadap Peradaban Barat; suatu Tinjauan Historis Muhammad Dahlan
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 6 No 1 (2018): RIHLAH
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v6i1.5453

Abstract

Tulisan ini bertujuan mengungkapkan kontribusi peradaban Islam terhadap peradaban barat dengan pembahasan meliputi: (1) proses peradaban Islam masuk ke dunia Barat (2) pengaruh peradaban Islam terhadap dunia Barat.Hasil kajian ini terungkap bahwa peradaban Islam masuk di Eropa dengan empat cara yaitu saluran peradaban Islam yang mempengaruhi Eropa melalui Spanyol, Sisilia, perang Salib maupun pertukaran perniagaan, akan tetapi saluran yang terpenting dalam hal ini adalah Spanyol Islam. Spanyol merupakan tempat yang paling utama bagi Barat menyerap peradaban Islam, baik dalam hubungan politik, sosial, ekonomi maupun peradaban antar negara. Bahwa suatu kenyataan sejarah Spanyol selama tujuh abad lebih berada dalam kekuasaan Islam.Peradaban Barat dibangun dari rahim fase sejarah Islam menduduki Spanyol. Secara sosial politik, Islam dalam posisi yang sangat kuat untuk melakukan ekspansi dan secara peradaban dalam Puncak keemasaannya. Proses ekspansi ini diikuti dengan transfer of sciense dari kaum muslimin ke penduduk Spanyol saat itu. Kebudayaan terbuka dan dermawan ilmu yang dibangun oleh kaum Muslimin saat itu, menjadikan setiap kelompok, daerah, atau suku bangsa sangat terbuka lebar menimba ilmu pengetahuan dari kaum Muslimin di Spanyol, termasuk banyak orang-orang Eropa yang menimba ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang dari Muslim Spanyol, baik ilmu-ilmu ‘aqli maupun ilmu naqli. Ketika mereka sudah kembali ke daerah masing-masing banyak yang mengembangkan ilmu pengetahuan tersebut di daratan Eropa.
Nabi Muhammad saw. (Pemimpin Agama dan Kepala Pemerintahan) M. Dahlan
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 6 No 2 (2018): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v6i2.6912

Abstract

This article aimed to know about the process of preaching of the Prophet Muhammad saw. in spreading Islam, and the leadership of the Prophet Muhammad saw. as the leader of the religion and nation. The first principle is the construction of the Masjid, the second is the Ukhuwwah Islamiyyah, the third is the relationship of friendship among other parties that are Muslims.The greatest success of Prophet Muhammad is able to become the leader of the country and religion which has laid on the foundations of politics in the state of life and with it has become the origin of the spread of Islam until it is able to master 2/3 of the world and become the largest religion nowadays.The realization of the Medina Charter is evidence of the nature of the Prophet Muhammad's vision. He not only emphasized Muslims, but he also accommodated the interests of the Jews and united the two peoples under his leadership. The Prophet Muhammad saw. succeeded in creating unity, as well as brotherhood between the Muhajirin and Anshar. Among the Anshar, Prophet Muhammad saw.is admitted to have recaptured the interconnected relations that had always been hostile. Tujuan tulisan ini adalah untuk mengetahui: (1) bagaimana proses dakwah Nabi Muhammad saw. dalam menyebarkan agama Islam, (2) bagaimana kepemimpinan Nabi Muhammad saw. sebagai pemimpin Agama dan pemimpin negara.Dalam rangka memperkokoh masyarakat dan negara baru itu, ia segera meletakkan dasar-dasar kehidupan bermasyarakat. Dasar pertama, pembangunan masjid, Dasar kedua, adalah ukhuwwah islamiyyah, Dasar ketiga, hubungan persahabatan dengan pihak-pihak lain yang beragama Islam.Kesuksesan terbesar Nabi Muhammad adalah mampu menjadi pemimpin negara dan (sekaligus agama) yang telah meletakkan dasar-dasar politik dalam kehidupan bernegara dan dengan hal tersebut telah menjadi cikal bakan tersebarnya agama Islam hingga mampu menguasai 2/3 dunia dan menjadi agama terbesar hingga sekarang. Terwujudnya Piagam Madinah merupakan bukti sifat kenegarawan Nabi Muhammad saw. Beliau tidak hanya mementingkan umat Islam, tapi juga mengakomodasi kepentingan orang Yahudi dan mempersatukan kedua umat seumpun ini di bawah kepemimpinannya. Bagi umat Islam Nabi Muhammad saw. berhasil menciptakan persatuan dan kesatuan, serta persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar. Di kalangan kaum Anshar Nabi diakui telah merekat kembali hubungan antarsuku yang sebelumnya selalu bermusuhan.
Karakteristik Perkembangan Tafsir al-Qur’an pada Abad IX (Analisis Historis Metodologis) Andi Miswar
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 6 No 2 (2018): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v6i2.6913

Abstract

In the development of quranic interpretation, the IX century is known as the mutaakhhirin period. In this era interpretation shows fundamental change, for example the change from the form of bi al-ma’tsur (riwayah) exagesis to the form of dirayah (al-ra’yu) exegesis, as it is practiced in jalalayn exagesis by jalaluddin al-mahally and jalaluddin al-sayuti that it is using ijmali or global method, and placing exegesis within it is global  or general context. The exagesis book was published in that century is the interpretation of tafsir tanwir al-miqbas min tafsir Ibnu Abbas exegesis by al-fairuzabādi applies ijmali method such as tafsir bi al-ma’tsur and tafsir al-Dūr al-mansūr fi tafsir al-ma’tsūr by jalaluddin al-sayuti, which applying ijmali and muqāran, in the form of tafsir bi al-ma’tsur, the exagesis is classified as general exegesis. The tendency of exegesis mostly impluenced by their personal understanding, school of thought, and qualification of their knowledge.Dalam  Perkembangan tafsir al-Qur’an, abad  IX dikenal dengan periode mutaakhhirin. Di era ini kegiatan penafsiran mengalami perkembangan yang cukup signifikan, misalnya dari bentuk tafsir bi al-ma’tsur (riwayah) ke bentuk tafsir dirayah (al-ra’yu) seperti yang terdapat dalam  Tafsīr Jalalayn  Oleh Jalaluddin al-Mahally dan Jalaluddin al-Syayuti yang menggunakan  metode ijmāli atau global, serta memberikan gambaran penafsiran yang bercorak umum. Kemudian beberpa tafsir yang lahir pada masa tersebut, diantaranya, Tafsīr Tanwīr al-miqbās min tafsīr Ibnu Abbās oleh al-fairuzabādi menggunakan metode ijmāli  dengan kategori bentuk tafsir bi al-Ma’tsūr, Dan Tafsīr al-Dūr al-Mantsūr fi tafsir al-ma’tsūr oleh Jalaluddin al-Sayūti disamping menggunakan metode muqāran juga  ijmali, dengan bentuk tafsir bi al-ma’tsūr tafsir ini dikategorikan pula bercorak umum. Kecendrungan Mufassir dalam melakukan penafsiran kebanyakan dipengaruhi oleh pemahaman pribadi, mazhab, dan kwalifikasi keilmuan mereka.  
Pengembangan Syiar Islam di Kerajaan Bone pada Masa Pemerintahan La Maddaremmeng Tahun (1625–1644 M.) Muhammad Kadril
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 6 No 2 (2018): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v6i2.6909

Abstract

The aimed of this research to know how far the role of La Maddaremmeng Sultan Muhammad Shaleh in doing Islam development magnigicience in Bone kingdom in the 17thcentury, as far that became problems in this research, the researcher divided into several parts, they were: The effort La Maddaremmeng Sultan Muhammad Shaleh in Islam religion development magnigicience in Bone Kingdom, and the defiance was faced by La Maddaremmeng Sultan Muhammad Shaleh in applying the Islam values in Bone Kingdom. The kind of this research was history research.To reveal the reality of history that had been done in the 17thcentury, so that the researcher used some approaches that were very relevant with this research.As far some approaches were used by the researcher were history approach, religion, and sociology.The result of this research, the researcher got some efforts that were done by La Maddaremmeng, which were slave abolition, made parewa syara’, and did the purification of religion.Tujuan penelitian ini untuk mengkaji sejauh mana peranan La Maddaremmeng Sultan Muhammad Shaleh dalam melakukan pengembangan syiar Islam di Kerajaan Bone pada abad XVII, adapun yang menjadi permasalahan dalam tulisan ini, penulis membagi ke dalam beberapa bagian diantaranya:Usaha La Maddaremmeng Sultan Muhammad Shaleh dalam Pengembangan syiar Agama Islam di Kerajaan Bone, dan tantangan yang dihadapi La Maddaremmeng Sultan Muhammad Shaleh dalam mengaplikasikan nilai-nilai Islam pada Kerajaan Bone. Jenis penelitian ini adalah penelitian sejarah. Untuk mengungkap realitas sejarah yang terjadi pada abad ke XVII, maka penulis mengunakan beberapa pendekatan yang tentu sangat relevan dengan penelitian ini. Adapun beberapa pendekatan yang digunakan oleh penulis yakni pendekatan sejarah, agama, dan sosiologi. Hasil penelitian ini, penulis mendapatkan beberapa usaha yang dilakukukan oleh La Maddaremmeng diantaranya penghapusan budak, membentuk parewa syara’, dan melakukan pemurnian agama.
Analisis Penulisan al-Kâmil fî al-Târîkh Karya Ibn al-Atsir Shidqy Munjin; Satria Setiawan
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 6 No 2 (2018): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v6i2.6910

Abstract

Al-Kâmil fî al-Târīkh is the most important work of Ibn al-Athir. Ibn al-Athir wrote this work by collecting data from his predecessors and adding to the events that occurred during his time. Ibn al-Athir wrote down all the events witnessed by his own eyes, especially those relating to the saliibn war. This paper attempts to analyze and compare the work of Ibn al-Athir in terms of historical aspects that developed in the Islamic world during his time, especially with Târikh al-Rusul wa al-Muluk by Ibn Jarir al-Tabari. The research method used in this study was library research, where the study was explained descriptively and critically analyzed. Then the type of data used is literature literary data, both primary and secondary. The results of this study indicate that Ibn al-Athir with his work al-Kâmil fî al-Tîrīkh was a initiator of a new historical study in the Islamic world. Al-Kâmil fî al-Târîkh merupakan karya terpenting dari Ibn al-Atsir. Ibn al-Atsir menulis karyanya ini dengan mengumpulkan data-data dari para pendahulunya dan ditambahkan dengan kejadian yang terjadi pada masanya. Ibn al-Atsir menuliskan semua kejadian yang disaksikan oleh matanya sendiri, terutama yang berkaitan dengan perang saliibn Tulisan ini mencoba menganalisis dan membandingkan karya Ibn al-Atsir tersebut ditinjau dari aspek ilmu kesejarahan yang berkembang  di dunia Islam pada masanya, terutama dengan Târikh al-Rusul wa al-Muluk karya Ibn Jarir al-Thabari. Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah riset kepustakaan, dimana kajiannya dijelaskan secara deskriptif dan analisis kritis. Kemudian jenis data yang digunakan adalah data literer kepustakaan, baik primer maupun sekunder. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Ibn al-Atsir dengan karyanya al-Kâmil fî al-Târîkh merupakan seorang penggagas kajian kesejarahan yang baru dalam dunia Islam.
Kontribusi Dinasti Abbasiyah Bidang Ilmu Pengetahuan Salmah Intan
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 6 No 2 (2018): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v6i2.6911

Abstract

This article aimed to reveal the progress of Muslims in the fields  of religion, philosophy, education and science in the era Abbasid Dynasty, they were: the history of the emergence of the Abbasids, and the progress achieved by the Abbasids in the fields of religion, philosophy, education and science.The Abbasid dynasty was officially established in 750 AD, founded by Abu Abbas al-Saffah who was assisted by Abu Muslim al-Khurasani by seizing the power from the previous dynasty (Banu Umayah). During the Abbasid dynasty, developments and advances in various fields were fairly rapid. At that time, Muslims had reached the peak of glory, both in the fields of economics, civilization and power. In addition, various branches of science have also developed, coupled with the many translations of books from foreign languages to Arabic. In the field of religious science, several scholars emerged in the field of law or fiqh with various schools. The field of hadith found efforted to trace and collect hadith andthe science of interpretation hadalso stood alone. In the field of science and technology, medical science or medicine had developed quite rapidly, which was marked by the establishment of medical schools which also established institutions in certain fields such as Bait al-Hikmah. Tulisan ini bertujuan mengungkapkan tentang kemajuan umat Islam dalam bidang ilmu agama, filsafat, pendidikan dan sains pada masa Dinasti Abbasiyah. Dinasti Abbasiyah secara resmi berdiri pada tahun 750 M., didirikan oleh Abu Abbas al-Saffah yang dibantu oleh Abu Muslim al-Khurasani dengan merebut kekuasaan dari dinasti sebelumnya (Bani Umayah). Pada masa itu, Umat Islam telah mencapai puncak kemuliaan, baik dalam bidang ekonomi, peradaban dan kekuasaan. Selain itu juga telah berkembang berbagai cabang ilmu pengetahuan, ditambah lagi dengan banyaknya penerjemahan buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab. Dalam bidang ilmu agama, muncullah beberapa ulama dalam bidang hukum atau fikih dengan berbagai mazhab. Dalam bidang hadis ditemukan usaha-usaha untuk penelusuran dan penghimpunan hadis. Ilmu tafsir yang sudah berdiri sendiri. ilmu kedokteran atau pengobatan telah berkembang cukup pesat, yang ditandai dengan berdirinya sekolah kedokteran juga dibangun lembaga dalam bidang tertentu seperti Bait al-Hikmah.
Peran Ayatullah Khomeini dalam Revolusi Islam di Iran 1979 Budi Sujati
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 7 No 1 (2019): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v7i1.7756

Abstract

Khomeini was a great scholar and leader of the Iranian Islamic Revolution. Khomeini's role in the Revolution was a struggle that never ceased to overthrow Shah Reza Pahlevi. The fall of the monarchy to the Islamic Republic of Iran system made Khomeini the most influential actor in the eruption of the Islamic revolution in Iran. This certainly has an impact on Iran's development until now. This paper outlines the role of ulama in the occurrence of a revolution. His role was to invite the public to oppose Shah's policies through political lectures both on the pulpit and on tapes. His influence in mobilizing the community to make opposition to the Shah Pahlevi supported by intellectuals and ulama made Khomeini's influence on the revolution so great. The research uses the library research approach (Library Resereach) with historical study methods.Khomeini merupakan seorang ulama dan pemimpin besar Revolusi Islam Iran. Peran Khomeini dalam Revolusi adalah perjuangan yang tidak pernah berhenti untuk menumbangkan Shah Reza Pahlevi. Jatuhnya sistem monarki ke sistem Republik Islam Iran menjadikan Khomeini menjadi aktor yang paling berpengaruh terhadap meletusnya revolusi Islam Iran. Hal ini tentunya memberi dampak bagi pekembangan Iran hingga sekarang. Tulisan ini menguraikan peran ulama dalam terjadinya sebuah revolusi. Perannya adalah mengajak masyarakat untuk menentang kebijakan Shah melalui ceramah politik baik itu di mimbar maupun di kaset. Pengaruhnya dalam menggerakan masyarakat untuk melakukan oposisi terhadap Shah Pahlevi dengan ditopang kaum intelektual dan ulama menjadikan pengaruh Khomeini terhadap revolusi sangat begitu besar. Adapun penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kepustakaan (Library Resereach) dengan metode studi historis.