cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Rihlah Jurnal Sejarah dan Kebudayaan
ISSN : 23390921     EISSN : 25805762     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
TRADISI MASSAGALA PADA ETNIK TO BALO DI DESA BULO-BULO KECAMATAN PUJANANTING KABUPATEN BARRU Asy'ary Ulama'i, Khaerul; Syamsuduhha Saleh; Indo Santalia; Mustamin Giling; Jusmiati
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 13 No 01 (2025): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v13i01.56768

Abstract

This study aims to examine the Massagala tradition of the To Balo ethnic group in Bulo-Bulo Village, Pujananting District, Barru Regency, as a cultural heritage that is still preserved amidst the current of modernization. This tradition is believed to be a form of ritual to cure kasiwiang skin diseases as well as a means of uniting and maintaining social and spiritual harmony in the To Balo community. This study uses a descriptive qualitative method with a historical, anthropological, sociological, and religious approach. Data collection techniques are carried out through observation, interviews, and documentation. The results of the study indicate that (1) the history of the existence of the To Balo ethnic group is based on the myth of violating taboos and the process of assimilation of Bugis-Makassar culture; (2) The Massagala tradition is carried out every three years with three main stages, namely Appamassi, Appagallang, and Apparibba; (3) This tradition contains strong Islamic teachings, including religious values ​​(monotheism and fasting), social values ​​(deliberation, mutual cooperation, silaturahmi), and aesthetic values ​​(Elong Sagala art). The implications of this study indicate the importance of preserving local traditions as a reflection of the integration of culture and religion in maintaining the social identity and local wisdom of the To Balo community. This study also contributes to the development of cultural studies and understanding of Islamic values ​​in the context of locality.   Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Tradisi Massagala pada Etnik To Balo di Desa Bulo-Bulo, Kecamatan Pujananting, Kabupaten Barru, sebagai warisan budaya yang masih lestari di tengah arus modernisasi. Tradisi ini diyakini sebagai bentuk ritual penyembuhan penyakit kulit jenis kasiwiang serta sarana pemersatu dan penjaga harmoni sosial dan spiritual masyarakat To Balo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan historis, antropologis, sosiologis, dan religius. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) sejarah keberadaan Etnik To Balo dilatarbelakangi oleh mitos pelanggaran pantangan dan proses asimilasi budaya Bugis-Makassar; (2) Tradisi Massagala dilaksanakan setiap tiga tahun dengan tiga tahapan utama yaitu Appamassi, Appagallang, dan Apparibba; (3) Tradisi ini mengandung nilai-nilai ajaran Islam yang kuat, termasuk nilai religi (tauhid dan puasa), nilai sosial (musyawarah, gotong royong, silaturahmi), serta nilai estetika (seni Elong Sagala). Implikasi dari penelitian ini menunjukkan pentingnya pelestarian tradisi lokal sebagai cerminan integrasi budaya dan agama dalam menjaga identitas sosial dan kearifan lokal masyarakat To Balo. Penelitian ini juga memberikan kontribusi terhadap pengembangan studi budaya dan pemahaman nilai-nilai Islam dalam konteks lokalitas.
SELOKO ADAT MELAYU JAMBI: REFLEKSI KEARIFAN LOKAL DALAM TRADISI DAN BUDAYA MASYARAKAT MELAYU JAMBI Dina Chabib Uluum; Hanan Riswar; yogia prihartini; Musli; Mustar; Muhamad Khumaini Umasugi
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 13 No 01 (2025): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v13i01.56778

Abstract

Seloko Adat Melayu Jambi is one of the oral literatures that is an inseparable part of the local wisdom of the Malay Jambi community. This tradition contains cultural, moral, and social values ​​that are passed down from generation to generation. This study aims to examine the role of Seloko Adat in shaping the cultural identity of the Malay Jambi community, as well as how this tradition functions as a guideline for life in facing social dynamics and modernization. With a qualitative approach, this study reveals that Seloko Adat is not only a tool for cultural communication, but also functions as a conflict resolution mechanism, a strengthener of harmonious values, and a guardian of customary norms, as well as a reminder of religious rules. Viewed from an anthropological perspective which includes normative studies, empirical studies, scientific studies, and analysis of interconnected integration. Seloko Adat Melayu Jambi merupakan salah satu sastra lisan yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari kearifan lokal masyarakat Melayu Jambi. Tradisi ini memuat nilai-nilai budaya, moral, dan sosial yang diwariskan secara turun-temurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran Seloko Adat dalam membentuk identitas budaya masyarakat Melayu Jambi, serta bagaimana tradisi ini berfungsi sebagai pedoman hidup dalam menghadapi dinamika sosial dan modernisasi. Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengungkapkan bahwa Seloko Adat tidak hanya menjadi alat komunikasi budaya, tetapi juga berfungsi sebagai mekanisme resolusi konflik, penguat nilai-nilai harmoni, dan penjaga norma adat, serta pengingat dari aturan agama. Dilihat dari segi antropologi yang didalamnya mencakup kajian normatif, kajian empirik, kajian saintifik, dan analisis integrasi interkoneksi.  
ARSITEKTUR MASJID ABIDIN DI KECAMATAN MEDAN MAIMUN KOTA MEDAN Rahmadhani, Kinanty; Achiriah, Achiriah; Muchsin, Kasron
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 13 No 01 (2025): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v13i01.57161

Abstract

This qualitative research emphasizes notes with detailed, complete, in-depth sentence descriptions that describe the actual situation to support the presentation of data. This research also uses historical methods. The data collection technique used direct observation of the field, interviews, and at the same time documentation. The main source for finding data is the BKM management of the Abidin mosque in Medan Maimun District, Medan City. Based on the research results conducted at the Abidin mosque in Medan Maimun District, Medan City, it can be concluded that, The Abidin Mosque is a mosque that was founded for the people of KM 3 Kampung Baru and its surroundings because of the need worship to the creator (Allah SWT). the beginning of the mosque was in the form of a surau named Batu Tiga, established in 1922. But over time this mosque has made many expansions and changes to accommodate more worshipers. This mosque stands majestically and luxuriously with unique architecture in its design. The mosque was expanded and completed in 2017 and named the Abidin mosque. (2). The Abidin Mosque has a diverse cultural acculturation in its buildings that complement each other and blend in each architecture by paying attention to every detail of the ornaments on the elements. The acculturation of the cultural touches found in this mosque is Malay, European, and Middle Eastern cultures that appear in the design of the Abidin mosque, starting from the interior and exterior walls of the mosque. As in the exterior design of the mosque in the mihrab, pulpit, pillars, and Langham. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menekankan catatan dengan deskripsi kalimat yang rinci, lengkap, mendalam yang menggambarkan situasi yang sebenarnya guna mendukung penyajian data. Penelitian ini juga menggunakan metode sejarah. Teknik pengumpulan data yang dilakukan menggunakan observasi langsung ke lapangan, wawancara dan sekaligus dokumentasi. Narasumber utama untuk menemukan data-data ialah pengurus BKM dari masjid Abidin di Kecamatan Medan Maimun Kota Medan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di masjid Abidin di Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan dapat disimpulkan bahwa Masjid Abidin merupakan masjid yang didirikan untuk masyarakat KM 3 Kampung Baru dan sekitarnya karena kebutuhan akan peribadatan kepada Sang Pencipta (Allah swt.) awal berdiri masjid berupa sebuah surau yang diberi nama Batu Tiga, berdiri tahun 1922. Namun seiring berjalan waktu masjid ini banyak dilakukan perluasan dan perubahan guna untuk menampung jumlah jamaah lebih banyak.  Masjid ini berdiri dengan megah dan mewah dengan arsitektur yang unik pada desainnya. Masjid yang setelah dilakukan perluasan dan rampung pada tahun 2017 dan diberi nama masjid Abidin. Masjid Abidin memiliki akulturasi budaya yang beragam di bangunannya yang saling melengkapi dan menyatu di setiap arsitekturnya dengan memperhatikan setiap detail ornamen pada elemen-elemennya. Akulturasi sentuhan budaya yang terdapat di masjid ini budaya Melayu, Eropa, dan Timur tengah yang tampak pada desain masjid Abidin, mulai dari dinding interior dan eksterior masjid. Seperti pada desain eksterior masjid pada bagian kubah, menara, serambi dan jendela. Pada desain interior masjid pada bagian mihrab, mimbar, tiang penyangga dan langgam.
Konsekuensi Perang Shiffin terhadap Kesatuan Umat Islam Iqbal
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 13 No 02 (2025): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Battle of Siffin was one of the most decisive conflicts in classical Islamic history. The confrontation between Caliph ʿAli ibn Abi Ṭalib and the Governor of Syria, Muʿawiyah ibn Abi Sufyan, was not merely a military clash but a historical event that demands an in-depth examination of the socio-political dynamics of the Muslim community at that time. This article aims to understand the roots of the Siffin conflict, to trace the political factors underlying its emergence, and to explore how this event provides new insights into the process that led to divisions within Islamic history. This study employs a historical approach with a qualitative-descriptive analytical method. Through this approach, the paper demonstrates that the Battle of Siffin marked a crucial turning point in the transformation of political conflict into ideological and sectarian divisions within the Muslim community. The research shows how narratives of power and political legitimacy influenced the emergence of enduring social and theological fragmentation that continues to shape Muslim societies up to the contemporary era. Data for this study were obtained from various literatures relevant to the research topic. The analytical procedure involved examining the chronology of the Battle of Siffin, identifying key figures, and assessing its impacts on the course of Islamic history.   Perang Shiffin merupakan salah satu konflik paling menentukan dalam sejarah Islam klasik. Pertempuran antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Gubernur Syam, Muawiyah bin Abi Sufyan, ini bukan sekedar perang militer, tetapi peristiwa historis yang menuntut telaah mendalam terhadap dinamika sosial-politik umat Islam pada masa itu. Artikel ini bertujuan untuk memahami akar-akar munculnya konflik Perang Shiffin, menelusuri faktor-faktor politik yang melatarbelakanginya, serta mengkaji bagaimana peristiwa tersebut dapat memberikan pemahaman baru mengenai proses terbentuknya perpecahan dalam sejarah Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan historis dengan metode analisis kualitatif-deskriptif. Dengan pendekatan tersebut, tulisan ini menunjukkan bahwa Perang Shiffin menjadi titik balik penting dalam transformasi konflik politik menjadi perpecahan ideologis dan sektarian dalam tubuh umat Islam. Penelitian ini memperlihatkan bagaimana narasi kekuasaan dan legitimasi politik dapat berdampak pada fragmentasi sosial dan teologis yang terus diwarisi hingga era kontemporer. Data didapatkan dari literatur-literatur yang relevan dengan judul penelitian. Prosedur analisis dilakukan dengan menelaah kronologi peristiwa Perang Shiffin, tokoh-tokoh penting serta dampaknya dalam sejarah umat Islam.
Abbasid Power Under Abu Ja’far Al-Mansur Through Ibn Khaldun’s Ashabiyah Concept H, Sopyan; M. Sewang, Ahmad; Hasaruddin, Hasaruddin; Zanilha, Muflihah
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 13 No 02 (2025): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Abbasid dynasty, one of the most successful in Islamic history, emerged from a revolution that overthrew the Umayyad Caliphate. This study examines the role of Abu Ja'far al-Mansur, the second Abbasid caliph, in establishing power and upholding the dynasty's stability and legitimacy. Using a qualitative methodology rooted in historical research, a comprehensive literature review analyzes the historical context of the Abbasid revolution, al-Mansur's contributions, and Ibn Khaldun's concept of ashabiyah. The findings demonstrate that al-Mansur's diverse strategies, including urban development, economic reform, military organization, and ideological governance, were crucial in strengthening Abbasid power. The establishment of Baghdad as the capital, the integration of various ethnic groups, and the promotion of religious legitimacy through alliances with the ulama were key factors in enhancing the dynasty's resilience. The Umayyad dynasty served as a common enemy, fostering solidarity (asabiyyah) among various factions and facilitating the rise of the Abbasids. Al-Mansur's inclusive policies strengthened loyalty and resolved divisions within the empire. This study concludes that al-Mansur was a transformative leader who successfully unified the political, religious, and social spheres, embodying the principles of asabiyyah and establishing a pattern of ideological solidarity that sustained Abbasid rule for centuries. The implications of these findings highlight the importance of an interdisciplinary approach, the relevance of the concept of asabiyyah in the modern context, the significance of the common enemy narrative, and the need for further social theory studies on al-Mansur's leadership.   Dinasti Abbasiyah, salah satu dinasti yang paling sukses dalam sejarah Islam, muncul dari sebuah revolusi yang menggulingkan Kekhalifahan Umayyah. Studi ini meneliti peran Abu Ja'far al-Mansur, khalifah kedua Abbasiyah, dalam memantapkan kekuasaan dan menegakkan stabilitas serta legitimasi dinasti tersebut. Menggunakan metodologi kualitatif yang berakar pada penelitian sejarah, dengan tinjauan pustaka komprehensif menganalisis konteks sejarah revolusi Abbasiyah, kontribusi al-Mansur, dan konsep ashabiyah dari Ibn Khaldun. Temuan menunjukkan bahwa strategi al-Mansur yang beragam, termasuk pengembangan kota, reformasi ekonomi, organisasi militer, dan pemerintahan ideologis, sangat penting dalam memperkuat kekuasaan Abbasiyah. Pendirian Baghdad sebagai ibu kota, integrasi berbagai kelompok etnis, serta promosi legitimasi keagamaan melalui aliansi dengan para ulama menjadi faktor kunci dalam meningkatkan ketahanan dinasti tersebut. Dinasti Umayyah berperan sebagai musuh bersama, mendorong solidaritas (ashabiyah) di antara berbagai faksi dan memfasilitasi kebangkitan Abbasiyah. Kebijakan inklusif al-Mansur memperkuat loyalitas dan mengatasi perpecahan di dalam kekaisaran. Studi ini menyimpulkan bahwa al-Mansur adalah pemimpin transformatif yang berhasil mempersatukan ranah politik, agama, dan sosial, mewujudkan prinsip-prinsip ashabiyah dan membangun pola solidaritas ideologis yang menopang kekuasaan Abbasiyah selama berabad-abad. Implikasi dari temuan ini menyoroti pentingnya pendekatan interdisipliner, relevansi konsep ashabiyah dalam konteks modern, signifikansi narasi musuh bersama, serta perlunya studi-teori sosial lebih lanjut tentang kepemimpinan al-Mansur.
Entitas ENTITAS TERHADAP TRADISI ZIARAH KUBUR (STUDI KASUS: MAKAM ‎DATUK SULAIMAN DI DESA PATTIMANG KECAMATAN MALANGKE ‎KABUPATEN LUWU UTARA) ‎: Indonesia Wahyu; Syamhari; Alfrida Nurhikma; Salsabila
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 13 No 02 (2025): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to reveal the entity of the grave pilgrimage practice as a form of religious and social meaning transformation through a case study at the tomb of Datuk Sulaiman in Pattimang Village. The pilgrimage tradition serves as a space for articulating local Islamic identity rooted in the history of the spread of Islam in the Kedatuan Luwu region. This is a cultural study employing a qualitative approach through participatory observation and interviews with religious leaders and local communities. Data analysis was conducted using a descriptive narrative model with historical, anthropological, and religious approaches. The results of the study show that: (1) the arrival of Datuk Sulaiman as an Islamic missionary laid the historical foundation for the pilgrimage tradition in North Luwu; (2) the pilgrimage tradition at Datuk Sulaiman’s tomb has transformed from a purely religious practice into a form of collective cultural expression; (3) the pilgrimage process contains symbolic dimensions representing the relationship between the community and the sacred figure; and (4) the motives and purposes of the pilgrims are not only spiritual (tabarruk) but also social, such as strengthening solidarity, communal identity, and the continuity of local Islamic traditions. Unlike other studies that focus on the dimensions of karamah (miraculous power) of saints and devotional patterns, this research emphasizes the socio-cultural function of pilgrimage as a means of reconstructing Islamic history and preserving the collective memory of coastal communities in South Sulawesi.   Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap entitas praktik ziarah kubur sebagai bentuk transformasi makna religius dan sosial melalui studi kasus di makam Datuk Sulaiman di Desa Pattimang. Tradisi ziarah sebagai ruang artikulasi identitas keislaman lokal yang berakar pada sejarah penyebaran Islam di wilayah Kedatuan Luwu. Penelitian ini merupakan penelitian kebudayaan dengan pendekatan kualitatif melalui observasi partisipatif dan wawancara dengan tokoh agama dan masyarakat setempat. Analisis data dilakukan menggunakan model deskriptif-naratif dengan pendekatan sejarah, antropologi, dan agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Kedatangan Datuk Sulaiman sebagai penyebar Islam membentuk fondasi historis bagi tradisi ziarah di Luwu Utara; (2) Tradisi ziarah makam Datuk Sulaiman mengalami transformasi dari praktik keagamaan menuju bentuk ekspresi budaya kolektif; (3) Proses pelaksanaan ziarah mengandung dimensi simbolik yang merepresentasikan hubungan antara masyarakat dan figur suci; (4) Motif dan tujuan peziarah tidak hanya berkaitan dengan aspek spiritual (tabarruk) tetapi juga sosial, seperti memperkuat solidaritas, identitas komunal, dan kontinuitas tradisi Islam lokal. Berbeda dengan studi lainnya yang menyoroti dimensi karomah wali dan pola devosi, penelitian ini menekankan fungsi sosial-budaya ziarah sebagai sarana rekonstruksi sejarah Islam dan pelestarian memori kolektif masyarakat pesisir Sulawesi Selatan.
ISLAM DAN BUDAYA LOKAL Hamzah, Saidin; Azis, Abdul; Faradilla
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 13 No 02 (2025): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the relevance of Islamic teachings to the values of local wisdom in the traditional expressions of the Bima people as an effort to strengthen Islamic identity and maintain social harmony. Using a descriptive qualitative method, the research was carried out through field studies and analysis of the meaning of traditional expressions contained in Nggusu Waru. The results of the study show that each expression contains values that are in harmony with Islamic teachings. such as, Maja Labo Dahu cultivates moral control through shame and fear; Ma Bae Ade instills empathy; Mambani Labo Disa affirmed courage; A man who has been patiently waiting for his or her to be patient; Ndinga Nggahi Rawi Pahu teaches consistency between speech and action; Ma Taho Hidi emphasizes life balance; Dou Ma Wara Di Woha Dou strengthens social solidarity; and Ntau Ro Wara underlined physical and spiritual well-being. These findings confirm that Islam and the local culture of Bima interact harmoniously and complement each other in shaping the social, spiritual, and cultural ethics of the community. This research emphasizes that the traditional expression Bima is a real manifestation of the integration of Islamic values and local wisdom in daily life.   Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relevansi ajaran Islam dengan nilai-nilai kearifan lokal dalam ungkapan tradisional masyarakat Bima sebagai upaya memperkuat identitas keislaman dan menjaga harmoni sosial. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, penelitian dilakukan melalui studi lapangan dan analisis makna terhadap ungkapan-ungkapan tradisional yang terdapat dalam Nggusu Waru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap ungkapan mengandung nilai yang selaras dengan ajaran Islam. seperti, Maja Labo Dahu menumbuhkan kontrol moral melalui rasa malu dan takut; Ma Bae Ade menanamkan empati; Mambani Labo Disa menegaskan keberanian; Ma Lembo Ade ro Ma Na’e Sabar menekankan kesabaran; Ndinga Nggahi Rawi Pahu mengajarkan konsistensi antara ucapan dan tindakan; Ma Taho Hidi menekankan keseimbangan hidup; Dou Ma Wara Di Woha Dou memperkuat solidaritas sosial; serta Ntau Ro Wara menggarisbawahi kesejahteraan fisik maupun spiritual. Temuan ini menegaskan bahwa Islam dan budaya lokal Bima berinteraksi secara harmonis dan saling melengkapi dalam membentuk etika sosial, spiritual, dan budaya masyarakat. Penelitian ini memberikan penegasan bahwa ungkapan tradisional Bima merupakan manifestasi nyata integrasi nilai Islam dan kearifan lokal dalam kehidupan sehari-hari
Aktualisasi Jejak Kepemimpinan Ali bin Abi Thalib Rahmat; Syukur, Syamzan; Idris, Muhammad
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 13 No 02 (2025): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study is an effort to introduce the leadership of Ali bin Abi Talib through a     descriptive narrative and analytical disclosure, both the principles of leadership, the challenges in carrying out duties as a ruler, and the actualization of his leadership in a contemporary perspective. In order to elaborate on the leadership of this caliph, this study uses historical methods and approaches with an emphasis on modern historiography. The results of this study show All bin Abi Talib as the fourth caliph, the successor to the leadership of the Prophet Muhammad (peace be upon him), he is considered a figure who actualizes the temporal leadership of the Messenger of Allah based on the concepts of fatanah, siddiq, amanah, and tablik. This is evident in the principles of leadership that he implemented. In carrying out his duties as a leader, he faced very heavy challenges as a legacy from his predecessors. However, with the firmness of holding on to leadership principles in governance, he became a figure worthy of emulation in the contemporary era filled with turmoil.   Kajian ini adalah upaya memperkenalkan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib melalui pengungkapan secara deskriptif naratif dan analitis, baik prinsip kepemimpinan, tantangan dalam menjalankan tugas sebagai penguasa maupun aktualisasi kepemimpinannya dalam perspektif kontemporer. Dalam rangka mengelaborasi kepemimpinan khalifah tersebut, kajian ini menggunakan metode dan pendekatan sejarah dengan penekanan historiografi modern. Dari hasil kajian ini menunjukkan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah keempat, pengganti kepemimpinan Nabi Muhammad saw. beliau dianggap sosok yang mengaktualisasikan kepemimpinan temporal Rasulullah dengan berdasar pada konsep fatanah, siddiq, amanah dan tablik. Hal ini terlihat pada prinsip-prinsip kepemimpinan yang dijalankannya. Dalam menjalankan tugas sebagai pemimpin beliau menghadapi tantangan yang amat berat sebagai warisan dari pendahulunya. Namun dengan keteguhan memegang prinsip kepemimpinan dalam menjalankan pemerintahan menjadikannya sosok yang patut ditiru pada era kontemporer yang penuh dengan pergolakan.