cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Rihlah Jurnal Sejarah dan Kebudayaan
ISSN : 23390921     EISSN : 25805762     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
Iran pada Masa Reza Syah 1925-1941 Faiz Nasrullah
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 8 No 2 (2020): History of Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v8i2.14971

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemerintahan Reza Syah di Iran yang sering ditampilkan sebagai periode yang didominasi oleh kekuatan otoriter di mana Reza Shah berusaha mengikuti model tangan besi Kemal Ataturk dalam mengubah Iran menjadi negara modern. Dengan pendekatan kualitatif, deskriptif, analitis sebagai penelitian studi pustaka, tulisan ini menyimpulkan bahwa kedatangan pemerintahan baru ini membangkitkan respons yang kompleks dari berbagai lapisan masyarakat Iran. Banyak anggota ulama dan sekutu mereka, seperti para pedagang, menyambut kedatangan Reza Syah ke tampuk kekuasaan, melihat dalam dirinya sebagai tempat penyelamatan bagi Iran. Menggunakan teori peranan sosial yang dikemukakan oleh Erving Goffman penulis menemukan dalam upaya untuk menciptakan identitas nasional yang bersatu dan maju dia melarang bentuk pakaian tradisional dan adanya penggunaan Persia sebagai satu-satunya bahasa nasional, modernisasi tentara, industrialisasi bahkan minoritisasi suku suku nomad di wilayah Iran.This article aims to describe Reza Syah’s government in Iran which is often presented as a period dominated by authoritarian forces in which Reza Syah tried to follow Kemal Ataturk's iron fist model in turning Iran into a modern state. With a qualitative, descriptive, and analytical approach as library research, this paper concludes that the arrival of this new government evokes complex responses from various strata of Iranian society. Many members of the clergy and their allies, such as merchants, welcomed Reza Syah to power, saw in him as a savior for Iran In an effort to create a unified and advanced national identity he banned traditional forms of clothing and the use of Persia as the only national language, army modernization, industrialization and even the minoritization of nomadic tribes in Iranian territory.
Implementasi Ritual Addinging-dinging pada Masyarakat Modern di Tambung Batua Gowa: Tinjauan Sosio-Kultural Mastanning Mastanning; Khadijah - Tahir; Abdullah Renre
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 8 No 2 (2020): History of Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v8i2.16360

Abstract

This research aims to analyze the rituals or practices Addinging-dinging that survives in the context of modern society. This research is descriptive research using a qualistative approach. Primary data are obtained from research informants, cultural figures and community leaders, while secondary data are obtained from the relevant literatur, documents and references. The techniques of collecting data are done by interviewing, observing and documenting. This research also employs a relational social culture. The results conclude the implementation of Addinging-dinging ritual means relasing the nazar that had been said. They are grateful for the bountiful harvest and as a forms of repellent against things that are feared. The addinging-dinging ritual has been able to survive until now because it is based on religious values, spiritual values, social values, cultural values and economic values. Penelitian ini bertujuan menganalisis makna impelentasi ritual (amalan) Addinging-dinging yang bertahan dalam konteks masyarakat modern. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analisis yang menerapkan pendekatan kualitatif. Data yang diperlukan berupa proses pelaksanaan, benda-benda yang digunakan dalam tradis serta analisis nilai yang ada dalam ritual. Data utama bersumber dari informan, tokoh adat dan tokoh masyarakat. Data sekunder diperoleh dari literatur, dokumen dan referensi yang relevan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, pengamatan dan dokumentasi. Penelitian menggunakan pendekatan teori budaya sosial. Hasil penelitian menyimpulkan impelementasi ritual addinging-dinging bermakna pelepas nazar yang pernah diucapkan sebagai tanda syukur patas hasil panen yang melimpah dan sebagai wujud penolak bala terhadap hal-hal yang ditakutkan. Adapun ritual Addinging-dinging mampu bertahan sampai sekarang karena dilandasi nilai religious, nilai kesadaran spiritual, nilai sosial, nilai budaya dan nilai ekonomi.
Kearifan Lokal Handep Masyarakat Dayak: Perspektif Cendekiawan Muslim Dayak di IAIN Palangkaraya Raya Muhammad Husni
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 8 No 2 (2020): History of Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v8i2.15941

Abstract

This research is based on the local wisdom culture of the Dayak people which is used as a philosophy of life which is derived from the values of handep (gotong royong) in the form of equality, brotherhood, kinship and tolerance. On this basis, the main problem of this research is howcultural activities handep in the Dayak community are in the perspective of Dayak Muslim scholars as academics at IAIN Palangka Raya, so this research aims to describeactivities handep with the values they have that contribute to the realization of brotherhood in a society multicultural. This study used a qualitative approach to 14 academics at IAIN Palangka Raya. The technique of collecting data is conducting in-depth interviews with sources with the help of recording tools and stationery. Data analysis was carried out during the research process carried out until drawing conclusions then analyzing the data, namely data collection, data reduction, data presentation and presentation of conclusions. The results showed that the values incultural activities handepstrong gave birth toharmony, harmony, unity and brotherhood through mutual cooperation instruments in terms of clearing land, farming, building houses, traditional marriage ceremonies, traditional ritual ceremonies and togetherness at death ceremonies. by visiting each other and making contributions. Penelitian ini didasarkan pada budaya kearifan lokal masyarakat suku Dayak yang dijadikan falsafah hidup yang diturunkan dari nilai-nilai handep (gotong-royong) berupa nilai kesetaraan, persaudaraan, kekerabatan dan toleransi. Atas dasar tersebut yang menjadi masalah pokok penelitian ini adalah bagaimana aktivitas budaya handep di masyarakat Dayak dalam perspektif cendekiawan Muslim Dayak selaku akademisi di IAIN Palangka Raya, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan  aktivitas handep dengan nilai-nilai yang dimiliki yang berkontribusi bagi terwujudnya persaudaraan dimasyarakat yang multikultural. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif terhadap 14 orang akademisi di IAIN Palangka Raya. Teknik pengumpulan data yaitu melakukan wawancara mendalam kepada narasumber dengan bantuan alat rekam dan alat tulis. Analisis data dilakukan selama proses penelitian dilaksanakan hingga penarikan kesimpulan kemudian menganalisis data, yaitu koleksi data, reduksi data, penyajian data dan pemaparan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai dalam aktivitas budaya handep melahirkan kerukunan, keharmonisan, persatuan, dan persaudaraan yang kuat melalui instrumen gotong-royong dalam hal membuka lahan, bercocok tanam, membangun rumah, upacara adat perkawinan, upacara ritual adat dan kebersamaan pada upacara kematian dengan saling mengunjungi serta memberi kontribusi.
Penyebaran Pendidikan Islam di Buol Abad XX M. Muhammad Nur Ichsan Azis
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 8 No 2 (2020): History of Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v8i2.15680

Abstract

This paper describes the process of spreading Islamic education in Buol towards the beginning of the 20th century. Islamic education is in Buol through the role of preachers and propagators of Islam who come to Buol through maritime trade routes. By using historical, heuristic, criticism, interpretation, and historiography methods, as well as a social science approach. Islamic education in Buol cannot be separated from the spreaders of Islam through the da'wah network where they also influence the development of Islamization. In Buol, Islamic education is found through the path of Sufism, and also politics by the appointment of a kadi. In addition, Islamic education developed because of the role of the aristocracy who wanted to make changes to Buol in the early 20th century. They developed education by learning from several teachers and scholars, and they also studied in several developing areas in the archipelago in the early 20th century.Tulisan ini mendeskripsikan proses penyebaran pendidikan Islam di Buol menjelang awal abad ke-20. Pendidikan Islam di buol berporses melalui peran para pendakwah dan penyebar Islam yang datang ke Buol melalui jalur niaga maritim. Dengan menggunakan metode sejarah, heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi, serta pendekatan ilmu sosial. Pendidikan Islam di Buol tidak lepas dari peran para penyebar Islam melalui jaringan dakwah dimana mereka juga berpengaruh pada perkembangan Islamisasi. Di Buol, pendidikan Islam ditemukan melalui jalur tasawuf, dan juga politik dengan diangkatnya seorang kadi. Selain itu juga, pendidikan Islam berkembang karena peran dari kalangan bangsawan yang ingin melakukan perubahan atas Buol di awal abad ke-20. Mereka mengembangkan pendidikan dengan cara belajar ke beberapa guru dan ulama, serta mereka juga belajar ke beberapa daerah berkembang di Nusantara pada awal abad ke-20.
Masyarakat Tradisi Islam Melayu Jambi: Perspektif Pierre Bordieau Aliyas Aliyas
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 8 No 2 (2020): History of Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v8i2.15388

Abstract

Malay was the first kingdom to control Jambi. Jambi City was historicallyknown as one of the centers of the Malay Kingdom. Chinese records mention that Malays in Jambi during the T'ang Dynasty called Mo-lo-yu I Tsing. Jambi Malay Islam as research in the context of the Islamic tradition community with Pierre Bordieau's view. This study uses a literature review, by conducting a literature study with the method of collecting library data, using a historical approach to reconstruct the Jambi Malay Islamic tradition community as a Malay Islamic identity in Indonesia. Melayu merupakan kerajaan pertama yang menguasai Jambi. Secara historis Kota Jambi dikenal sebagai salah satu pusat Kerajaan Melayu. Catatan Tiongkok menyebutkan bahwa Melayu di Jambi pada zaman Dinasti T’ang menyebut Mo-lo-yu adalah I Tsing. Islam Melayu Jambi sebagai penelitian dalam konteks masyarakat tradisi Islam dengan pandangan Pierre Bordieau. Penelitian ini memakai kajian literatur, dengan melakukan studi kepustakaan dengan metode pengumpulan data pustaka, menggunakan pendekatan sejarah untuk merekonstruksi masyarakat tradisi Islam melayu Jambi sebagai identitas Islam melayu di Indonesia.
Historiografi Islam Klasik Muhammad Kadril
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 9 No 1 (2021): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v9i1.15812

Abstract

In this research was study that focused on Islam historiography in the classical era, that was very important to be discussed and analyzed because historiography was the parent of reconstructing history hence the role of historiography was very useful as a foundation for writing historical history. In this research there were several formulations of the issues raised by the researcher about: What were the topics discussed in the early period of Islamic historiography, as well as how the development of reading Islamic historiography. This type of research was a historical study hence it can analyze Islamic historiography in the classical period in depth hence it can know the various important things in the development of historiography starting from the initial themes of its writing to the process of its development. In the research process, it certainly used several approaches including the historical approach as the main approach in this research, the religious, and social approaches. The results of this study can reveal a variety of historiographies in the classical period besides the development of Islamic historiography writing to enter the figures who had succeeded in proclaiming many writings about Islamic historiography.Penelitian ini merupakan kajian yang berfokus pada historigrafi Islam pada masa klasik, hal ini sangatlah penting untuk dibahas dan dianalisis sebab historiografi merupakan induk dari merekonstruksi sejarah sehingga peranan historiografi sangatlah berguna sebagai peletak dasar penulisan sejarah. Pada tulisan ini terdapat beberapa rumusan masalah yang telah diajukan oleh penulis diantaranya : Apa topik pembahasan pada periode awal historiografi Islam, serta Bagaimana perkembangan penulisan historiografi Islam. Jenis kajian ini merupakan kajian sejarah sehingga dapat menganalisis historiografi Islam pada masa klasik secara mendalam serta dapat mengetahui berbagai hal penting dalam perkembangan historiografi mulai dari tema-tema awal penulisannya sampai pada proses perkembangannya. Pada proses penelitiannya tentu menggunakan beberapa pendekatan diantaranya pendekatan sejarahsebagai pendekatan utama dalam tulisan ini, pendekatan  agama, serta sosial. Adapun hasil penelitian ini dapat mengungkap berbagai macam historiografi pada masa klasik selain itu adapula perkembangan penulisan historiografi Islam hingga masuk pada tokoh-tokoh yang telah berhasil memproklamir banyak tulisan tentang historiografi Islam. 
KAJIAN KRITIS AKULTURASI ISLAM DAN BUDAYA LOKAL Nasruddin Ibrahim
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 9 No 1 (2021): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v9i1.16744

Abstract

slam needs culture in order to spread its missions, both in the form of customs, traditions, art and so on. However, it is nfecessary to distinguish which Islam is a religion of monotheism which is universal, absolute and eternal and which is relative and temporal as part of human creation and at the same time as an expression of Islam. Cultural da'wah is nothing but an effort to carry out dynamism and purification. Dynamics means cultural creations that have a tendency to always develop and change for a better and more Islamic direction. Meanwhile, purification is defined as an effort to purify values in culture by reflecting the values of monotheism. The scholars and proponents of Islam in the early era of the existence of Islam in the archipelago realized that the successful delivery of Islam to society had to be peaceful, and to avoid conflict between culture and religion, religious advocates used a culture that society understood and possessed, so that religious and cultural confrontations were avoided. and even complement each other so that acculturation occurs. In Islam there is culture, and in culture there are religious values, and all of them are practiced by humans.Islam membutuhkan kebudayaan dalam rangka penyebaran misi-misinya, baik yang berupa adat, tradisi, seni dan sebagainya. Namun perlu dibedakan mana Islam  sebagai agama tauhid yang bersifat universal, absolut dan abadi dan mana yang bersifat relatif, dan temporal sebagai bagian dari kreasi manusia dan sekaligus sebagai ekspresi keislaman.Dakwah kultural tidak lain adalah upaya melakukan dinamisasi dan purifikasi. Dinamisasi bermakna sebagai kreasi budaya yang memiliki kecendrungan untuk selalu berkembang dan berubah ke arah yang lebih baik dan islami. Sedangkan purifikasi diartikan  sebagai usaha pemurnian nilai-nilai dalam budaya dengan mencerminkan nilai-nilai tauhid. Para ulama dan penganjur Islam di awal-awal era keberadaan Islam di nusantara menyadari bahwa, kesuksesan penyampaian Islam ke masyarakat haruslah damai, dan untuk menghindari pertentangan budaya dengan agama, para penganjur agama  menggunakan budaya yang masyarakat pahami dan miliki, sehingga komprontasi agama dan budaya terhindari dan malah saling melengkapi sehingga terjadi akulturasi. Dalam Islam ada budaya, dan dalam budaya ada nilai-nilai agama, dan semuanya dilakoni oleh manusia. 
PERADABAN ISLAM PADA MASA DINASTI-DINASTI KECIL DI TIMUR BAGHDAD AR MIFTAH Al Farouqy
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 9 No 1 (2021): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v9i1.18664

Abstract

Abstact:This article discusses the development of Islamic civilization in the east of Baghdad. The Abbasid empire once reached the peak era of Islamic civilization. This qualitative work was written by library method, the data collected by the writter of the history books. The study yileded results tht the Abbasid victory was short-lived, the dynamic polliticall situation, coupled with the power struggle between nations the Persian-Turkish and the Sunni-Shia conflict in the east region of Baghdad. The situation gave rise to a pollitical movement that resulted in new power from the Persians who founded power in the Thahirid Dynasty (820-897 c. e.), followed by The Shaffarid Dynasty (867-908 c. e), The Samanid Dynasty (819-999 c.e.), and The Buyid Dynasty (933-1055 c.e.). From Turk came the Ghaznavid Dynasty (977-1186 c.e.), The Seljuk Dynasty (1037-1157 c.e.) and The Khwarazmian Dynasty (1077-1231 c.e.). The Caliph is only symbol of the state of the Buyid-Seljuk era, and The Abbasid Empire are divided into small states led by governors known as amir or sulthan. It also gave rise the rival cities of Baghdad as the center of world civilization, such as Isfahan, Ghaznah, Shiraz and BukharaKeywords: Abbasid, Centra Asia, Islamic Civilization, East of Baghdad Abstrak:Artikel ini membahas perkembangan peradaban Islam di Timur Baghdad. Dinasti Abbaisyah pernah mencapai era puncak peradaban Islam. Artikel yang merupakan penelitan kualitatif ini ditulis dengan  metode pustaka, data dikumpulkan oleh penulis dari buku-buku sejarah. Dari penelitian ini didapatkan hasil, bahwa kejayaan Abbasiyah tidak berlangsung lama, situasi politik yang berlangsung secara dinamis, diwarnai dengan perebutan pengaruh kekuasaan antara bangsa Persia-Turki dan konflik Sunni-Syiah di wilayah timur Baghdad. Situasi ini melahirkan gerakan politik yang membuat kekuasaan baru di mulai dari bangsa Persia yang mendirikan kekuatan di Dinasti Thahiriyah (820-897 M), kemudian dilanjutkan oleh Dinasti Shaffariyah (867-908 M), Dinasti Samaniyah (819-999 M),  dan Dinasti Buwaihi (933-1055). Dari bangsa Turki, berdiri Dinasti Ghaznawiyah (977-1186 M), Dinasti Seljuk (1037-1157 M) dan Dinasti Khwarizm (1077-1231 M). Khalifah hanya sebagai simbol negara di era kekuasaan Buwaihi-Seljuk, dan negara Abbasiyah terpecah belah menjadi negara-negara kecil yang dipimpin oleh para gubernur yang dikenal dengan amir atau sulthan. Selain itu, keadaan ini juga melahirkan kota-kota pesaing Baghdad sebagai pusat peradaban dunia, seperti Isfahan, Ghaznah, Syiraz dan Bukhara.Kata Kunci: Abbasiyah, Asia Tengah, Peradaban Islam, Timur Baghdad
Politik Jihad Turki Utsmani Pada Perang Dunia Pertama Luqman Al Hakim
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 9 No 1 (2021): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v9i1.19113

Abstract

AbstractThis article will explore political jihad produced by Turkey Utsmani in world war one, echo jihad concepts is nothing only to circle muslim Turkey Utsmani but involved muslim arround the world and several west countries from blok poros. So that described muslim strength from enemy Turkey Utsmani in world war one, then in jihad Utsmani journey eventually insult of failed and loosed that caused crack Turky Utsmani and emerged Republik Sekular Turkey mastermind Freemasonry movement and Musthafa Kemal Attaturk. in other that explore concept, impact, and politica Utsmani dynamics to umat Islam and collaborations in military, economic aspect from blok poros country so that stil made Turkey Utsmani exist until 1924. It should be stated that for period jihad political from 1914-1918, Turkey Utsmani has lossed many regions in Asia, Afrika, and Europ continent so that emerged the jihad political can be expected win world war one and back to regions especially Muslim regions but they are effort becoming disunity and destruction self intern Turkey Utsmani.    Key Words: Jihad, World War One, Turkey Utsmani. AbstrakArtikel ini membahas politik jihad yang dilakukan oleh Turki Utsmani dalam perang dunia pertama, konsep jihad yang digaungkan tidak terbatas untuk kalangan Muslim Turki Utsmani tetapi juga melibatkan seluruh Muslim yang ada di dunia dan beberapa negara Barat yang tergabung dalam blok poros. Sehingga menggambarkan kekuatan Islam pada musuh Turki Utsmani di perang dunia pertama, kemudian dalam perjalanan jihad Utsmani pada akhirnya menuai kegagalan dan kekalahan yang menyebabkan runtuhnya Turki Utsmani dan berdirinya Republik Sekular Turki yang di dalangi gerakan Freemasonry dan Musthafa Kemal Ataturk. Selain itu akan dibahas pula konsep, dampak, dan dinamika politik Utsmani terhadap umat Islam dan kerjasamanya dalam aspek militer dan ekonomi kepada negara blok poros sehingga masih menjadikan Utsmani eksis hingga pada tahun 1924. Perlu ditegaskan kembali di masa politik jihad yang berlangsung pada tahun 1914-1918, Turki Utsmani telah kehilangan banyak kekuasaanya di benua Asia, Afrika, dan Eropa sehingga dengan munculnya politik Jihad diharapkan dapat memenangkan Perang Dunia Pertama dan mengembalikan wilayah khususnya wilayah yang mayoritasnya beragama Islam akan tetapi usaha yang mereka lakukan berujung pada perpecahan dan kehancuran diinternal Turki Utsmani sendiri.Kata Kunci: Jihad, Perang Dunia Pertama, dan Turki Utsmani.
Administrative law and intellectual movement in the reign of Sultan Alauddin Mansur Shah of the 16th century in Aceh KHAIRUL NIZAM BIN ZAINAL BADRI
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 9 No 2 (2021): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v9i2.22261

Abstract

Sultanate of Aceh is recognized as one of the most important Malay-Muslim kingdom of the past, especially after the fall of the Malacca Sultanate in the 16th century AD. From a large number of its rulers, Aceh was ruled by a king's daughter who came from abroad. One of them was Sultan Alauddin Mansur Shah who hails from Perak located on the Malay Peninsula. But to be presented in this paper is not about the origins of his coming from the state, but rather a contribution to the development of Aceh, especially in the field of knowledge. The study is based on qualitative methods, using data from the writing of the history of Aceh are then analyzed to assess and justify his stature. What can be summed up is that his services as one of the important figures in nurturing the culture of knowledge and religious teachings cannot be ignored. It is very important if more research on it is done in the future in line with the efforts to excavate the treasures of the past so that the historical aspect is always fresh with positive values.