cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Rihlah Jurnal Sejarah dan Kebudayaan
ISSN : 23390921     EISSN : 25805762     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
Sultan Abdul Qahir dalam Pengembangan Islam di Bima rahmat rahmat; nurwahidah nurwahidah
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 7 No 2 (2019): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v7i2.11542

Abstract

Regarding Sultan Abdul Qahir is very interesting because since he was appointed by the king of Gowa and embraced Islam became the beginning of the development of Islam in Bima. Education as the main channel of Islamization is carried out in households raised by parents and ulemas, religious teachers such as the art of reading barzanji which is still valid in the villages. Carving, seen in the pulpit of the mosque, heirloom keris carved in such a way that it looks very beautiful grooves. Hadra, which is a kind of Islamic art in the form of dhikr in Arabic while shaking the body according to the tambourine rhythm which is done by sitting also standing. The second channel is a fairly successful propaganda method carried out by preachers is by approaching the community such as, adjusting to the situation and conditions of the people who hold fast to the old beliefs of Animism and Dynamism. The method of preaching like the one above is to look at the situation and condition of the community indeed has been exemplified by the Prophet Muhammad.Mengenai Sultan Abdul Qahir sangat menarik karena sejak Ia dilantik oleh raja Gowa dan memeluk Islam menjadi awal perkembangan Islam di Bima. Pendidikan sebagai saluran utama islamisasi  dilakukan dalam rumah tangga yang diasuh oleh orang tua dan para ulama. Pelajaran untuk didikan anak dilingkungan kesultanan Bima waktu itu selain belajar agama Islam (rukun, iman, rukun Islam, thaharah, adab), juga untuk meyiapkan putra-putrinya secara khsusus untuk tujuan-tujuan dan tanggung jawab yang dihadapinya dalam kehidupan mendatang.  Kegiatan pendidikan Islam di istana sebagaimana yang diuraikan di atas membawa pengaruh yang luas dikalangan masyrakat, yang berdatangan untuk belajar agama Islam dan berguru kepada mubalig/guru di istana untuk beberapa lama.  Saluran kedua dengan cara pendekatan kepada masyarakat seperti, penyesuaian diri dengan situasi dan kondisi masyarakat yang berpegang teguh pada kepercayaan lama Animisme dan Dinamisme. Metode dakwah yang seperti tersebut diatas adalah dengan melihat situasi dan kondisi masyarakat memang sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw.
Akulturasi Budaya: Adat Pernikahan di Kelurahan Cikoro Kecamatan Tompobulu Kabupaten Gowa st. hajar hajar; Dahlan M; syamzan syukur
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 8 No 1 (2020): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v8i1.12150

Abstract

Abstrak: Penelitian ini akan menjawab pertanyaan 1. Bagaimana prosesi dalam adat pernikahan di Kelurahan Cikoro Kecamatan Tompobulu Kabupaten Gowa?, 2. Apa saja nilai-nilai budaya Islam dalam adat pernikahan di Kelurahan Cikoro Kecamatan Tompobulu Kabupaten Gowa?, 3. Bagaimana proses akultuasi budaya Islam dan budaya lokal dalam adat pernikahan di Kelurahan Cikoro Kecamatan Tompobulu Kabupaten Gowa?. Pernikahan di Kelurahan Cikoro disebut dengan istilah pa’buntingan, tidak hanya melibatkan keluarga inti tapi juga masyarakat luas dan terdiri dari dua tahap, yakni: tahap sebelum pernikahan dan tahap setelah pernikahan. Adat pernikahan di Kelurahan Cikoro sangat unik jika dibandingkan dengan adat pernikahan di daerah lain, di Kelurahan Cikoro pesta pernikahan didahulukan daripada akad nikah. Terjadinya akulturasi semakin memperkokoh adat pernikahan di Kelurahan Cikoro dengan nilai budaya Islam seperti: tolong-menolong, musyawarah dan menjalin hubungan silaturrahim. 
Corry Van Stenus, Perempuan dalam Perjuangan Abdul Qahhar Mudzakkar 1950-1965 Nurul Azizah
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 8 No 1 (2020): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v8i1.11582

Abstract

Rebellion is often identified as a masculine realm, which is dominated by men. But in the case of Kahar Mudzakkar's rebellion in South Sulawesi, we could find a women named, Corry Van Stenus,. she was a Javanese-Dutch German and also the second wife of Kahar Mudzakkar.This paper focuses on Corry's life during the Kahar Mudzakkar rebellion. This theme is rarely discussed because the writings on rebellion are dominated by men. By using the historical approach, this paper wants to show about women in rebellion. in this case, Corry and her role as a woman, wife and mother in a rebellion.In conclusion, Corry became a woman who played a role in Kahar Mudzakkar's rebellion. From the domestic sphere, she became the wife and mother who accompanied her husband in rebellion. From the political realm, she became a lead of the Sulawesi Islamic Women's Movement (GERWAIS).  
Sejarah dan Penyebaran Islam di Asia dan Afrika Herman Wicaksono
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 8 No 1 (2020): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v8i1.13235

Abstract

This study tries to reveal and remind us about part of the struggle of our predecessors in spreading Islam to various parts of the world. In this case, the author chose Asia and Africa these two regions are not only the biggest continents, but also both continents were the center of Islamic civilization in the past before finally Islam was also introduced in other continents or countries in the European region, America and Australia. In essence, this study wants to reveal how the spread of Islam - especially in Asia and Africa - is clear evidence of how Islam is easily accepted by all groups without dressing on ethnicity, race, class, skin color, nation, and state. This study was written using the library research method, which means that all data contained in this study are sourced from documents related to this theme. Kajian ini mencoba untuk mengungkap dan mengingtkan kita akan sebagain perjuangan para pendahulu kita dalam menyebarkan ajaran Islam ke berbagai penjuru dunia. Dalam hal ini penulis memilih Asia dan Afrika dengan alasan selain kedua wilayah tersebut merupakan dua benua terbesar di dunia, kedua benua tersebut merupakan pusat peradaban Islam pada masa lalu sebelum akhirnya Islam juga mulai diperkenalkan di benua-benua atau negara-negara lain di wilayah Eropa, Amerika, dan Australia. Pada intinya, kajian ini ingin mengungkap betapa penyebaran Islam –khususnya di Asia dan Afrika– merupakan bukti nyata betapa Islam mudah diterima oleh semua kalangan tanpa memandan suku, ras, golongan, warna kulit, bangsa, dan negara. Kajian ini ditulis dengan metode kajian pustaka (library research) yang artinya seluruh data-data yang ada pada kajian ini merupakan data yang bersumber dari dokumen-dokumen yang terkait dengan tema ini.Kata kunci: Asia, Afrika, Islam, penyebaran, sejarah.
Sarekat Islam Penggagas Nasionalisme di Indonesia soraya rasyid; Annisa Tamara
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 8 No 1 (2020): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v8i1.13579

Abstract

This paper aims to describe the existence of Sarekat Islam and its contribution in developing the Indonesian nationalism awareness. This paper is a historical writing by relying on literary studies. The results showed that the struggle of Sarekat Islam in the national movement has been able to foster Indonesian awareness of human values and their dignity as a nation. This consciousness developed into a national awareness with the growth of national unity ties between the people of Indonesia. The struggle of Sarekat Islam also made the Dutch colonial government realize about the desire of Indonesian people to achieve independence. Internal conflicts have slowly divided Sarekat Islam, thus weakening its struggle in the national movement. However, Sarekat Islam played an important role in realizing the independence of the Republic of Indonesia. The struggle and the track record of Sarekat Islam have placed this organization as a pioneer of nationalism in Indonesia.Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan keberadaan Sarekat Islam dan kontribusinya dalam membangun kesadaran nasionalisme bangsa Indonesia. Tulisan ini merupakan tulisan sejarah dengan mengandalkan studi pustaka. Hasil tulisan menunjukan bahwa perjuangan Sarekat Islam dalam pergerakan nasional telah mampu menumbuhkan kesadaran rakyat Indonesia terhadap nilai manusia dan harga dirinya sebagai suatu bangsa. Kesadaran ini berkembang menjadi kesadaran nasional dengan tumbuhnya ikatan persatuan nasional antara rakyat Indonesia. Perjuangan Sarekat Islam juga menyadarkan pihak pemerintah kolonial Belanda terhadap keinginan rakyat Indonesia mencapai kemerdekaannya. Konflik internal secara pelan telah memecah Sarekat Islam sehingga melemahkan perjuangannya dalam pergerakan nasional. Meski demikian, Sarekat Islam tetap mempunyai peranan penting dalam mewujudkan kemerdekaan Republik Indonesia. Rekam jejak dan perjuangan Sarekat Islam telah menempatkannya sebagai organisasi pengagas Nasionalisme di Indonesia.
Pengaruh Bugis di Tanah Melayu dalam Perspektif Sejarah Sosial Politik Saepuddin Saepuddin
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 8 No 1 (2020): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v8i1.11498

Abstract

Diaspora Bugis telah memberikan pengaruh terhadap situasi dan kondisi di daerah rantau. Dalam artikel ini, diaspora bugis di Tanah Melayu menjadi fokus kajian utama yang berkaitan dengan sebab-sebab kedatangannya di daerah Johor-Pahang-Riau-Lingga hingga bagaimana pengaruh setelah kehadirannya. Dari penelitian ini diketahui bahwa seba perantauan Bugis ke berbagai daerah di Nusantara kala itu ialah karena faktor politik dari dampak perjanjian Bogaya. Bagi orang Bugis, lebih baik mereka mencari penghidupan di daerah baru dari pada tunduk dan menjadi antek dan boneka Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Kehadiran Daeng Rilakka beserta dengan anak-anak dan pasukannya di wilayah kerajaan Johor-Pahang-Riau ketika itu adalah bagian dari upayanya untuk mencari daerah perantauan yang sesuai. Pada saat itu, Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah meminta bantuan kepada Daeng Rilakka untuk melawan Raja Kecil (Raja Kecik) yang dinilai merebut tahta kerajaan. Tawaran itu pun bersambut dan mengantarkan Sultan Sulaiman menduduki tahtanya dengan gelar Yang Dipertuan Besar dan menjadikan keturunan Bugis sebagai Yang Dipertuan Muda dengan pengikat sebuah ikrar yang dikenal dengan “Sumpah Setia”. Kemudian, terjadi perkawinan silang di antara kerabat dan sanak saudara kedunya hingga beranak pinak dan menyebabkan terjadinya adaptasi budaya, sosial dan politik. Sumpah setia itulah yang mengantarkan Bugis menjadi Melayu. The Bugis Diaspora has influenced the situation and conditions in the overseas areas. In this article, the diaspora bugis in Tanah Melayu becomes the main focus of the study relating to the causes of his arrival in the Johor-Pahang-Riau-Lingga area to how it was affected after his presence. From this research, it is known that the Bugis overseas to various regions in the archipelago at that time was due to political factors from the impact of the Bogaya agreement. For the Bugis, they are better off earning a living in new areas than submitting to and becoming Vereenigde Oostindische Compagnie's (VOC) henchmen and puppets. The presence of Daeng Rilakka along with his children and troops in the Johor-Pahang-Riau kingdom when it was part of his efforts to search for suitable overseas areas. At that time, Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah asked for help from Daeng Rilakka to fight the Little King (Raja Kecik) who was judged to seize the throne. The offer was welcomed and led Sultan Sulaiman to occupy his throne with the title of the Great Lord and make the Bugis descendants the Young Entities with the binding of a pledge known as the "Faithful Oath". Then, cross-marriages occur between relatives and relatives of the two children to breed and cause cultural, social and political adaptation. It is this oath of loyalty that has brought Bugis into Malay.
Bergerak dengan Dua Sayap: Fenomena Gerakan Dakwah dan Politik Hizbut Tahrir di Indonesia Pasca Reformasi aksa aksa
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 8 No 1 (2020): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v8i1.13802

Abstract

This paper explains about the phenomenon of HTI politics and its da’wah movement after reformation. The main problems answered in this paper are: what are the activities of da’wah and political movements of HT in Indonesia?, And how is the form of  HTI da’wah through social media and publications? The writing method used the historical writing method which included four stages (heuristics, literary criticism, interpretation and historiography). The results showed that da’wah and the politics of Hizbut-Tahrir in Indonesia is a mainstream phenomenon from a preaching model and politics in general. HTI has played two orientation movements (preaching and politics) in establishing its influence in Indonesia. The da’wah and political movements appeared ambiguous. In terms of da’wah, the activities were more focused on proposing a single ideology and anti-democracy. But at the same time, taking cover themselves behind the armpit of the country which adheres to the democratic system and the ideology of Pancasila. While in the political perspective, its movement was seen as a half-hearted political movement, claiming to be a political movement, but it did not have a political party and was not involved in the electoral contestation. HTI da'wah was increasingly effective by utilizing media and publications (books, magazines, tabloids, and bulletins). The use of social media as a concrete approach has made social media as a mean of preaching. Tulisan ini menjelaskan tentang fenomena gerakan dakwah dan politik HTI pasca reformasi. Masalah pokok yang dijawab dalam tulisan ini yaitu: bagaimana aktivitas dakwah dan gerakan politik HT di Indonesia?, dan bagaimana bentuk dakwah HTI melalui sosial media dan publikasi?. Metode penulisan mengikuti metode penulisan sejarah yang meliputi empat tahapan (heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi). Hasilnya menunjukan bahwa dakwah dan politik Hizbut Tahrir di Indonesia adalah sebuah fenomena mainstream dari model dakwah dan politik umumnya. HTI telah memainkan dua orientasi gerakan (dakwah dan politik) dalam menancapkan pengaruhnya di Indonesia. Gerakan dakwah dan politiknya terlihat ambiguitas. Dari segi dakwah, aktivitasnya lebih terfokus pada pengusulan ideologi tunggal dan anti demokrasi. Tetapi pada saat bersamaan, berlindung diri di balik ketiak negara Indonesia yang menganut sistem demokrasi dan berideologi Pancasila. Sementara dari segi politik, gerakannya terkesan sebagai gerakan politik setengah hati, mengklaim dirinya sebagai gerakan politik, tetapi tidak memiliki partai politik dan tidak terlibat dalam kontestasi pemilu. Dakwah HTI semakin efektif dengan memanfaatkan media dan publikasi (buku, majalah, tabloid, dan bulletin). Pemanfaatan sosial media sebagai langkah kongkrit menjadikan sosial media sebagai sarana dakwah.
KEBIJAKAN IMIGRASI ZAMAN HINDIA BELANDA (1913-1942) Chaerul Mundzir; Muhammad Arif; Aksa Aksa
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 9 No 1 (2021): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v9i1.17962

Abstract

AbstractThis paper describes the immigration that took place in the Dutch East Indies under the Dutch colonial rule. The immigration policy had applied in the Dutch East Indies which was called Open deur politiek or open door politics. Open Door Politics namely the policy that opened the Dutch East Indies as wide as possible for foreigners to enter permanently and become resident of the Netherlands Indies. The history of immigration in Indonesia began in 1913, since the Dutch East Indies government began implementing a colonial immigration law system. At that time there was a colonial government body called Immigratie Dienst which was in charge of handling immigration issues for the entire Dutch East Indies region. Keywords: Immigration; Open deur politiek; Dutch-IndiesAbstrakTulisan ini menjelaskan tentang imigrasi yang berlangsung di Hindia Belanda dibawah jajahan pemerintahan Belanda. Politik kebijakan keimigrasian yang diterapkan di Hindia-Belanda disebut opendeurpolitiek atau politik pintu terbuka yaitu kebijakan yang membuka wilayah Hindia-Belanda untuk seluas-luasnya bagi orang asing dapat masuk menetap dan menjadi penduduk Hindia-Belanda. Sejarah keimigrasian di Indonesia dimulai sejak tahun 1913, sejak pemerintah Hinda-Belanda mulai menjalankan ssstem hukum keimigrasian yang bersifat kolonial. Pada saat itu terdapat badan pemerintahan kolonial bernama Immigratie Dienst yang bertugas menangani masalah keimigrasian untuk seluruh kawasan Hindia-Belanda.
Sejarah Diaspora Suku Bugis-Makassar di Kalimantan Tengah Suryanti Suryanti; Ihsan Mz; ST Rahmah
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 8 No 2 (2020): History of Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v8i2.15707

Abstract

 The presence of the Buginese-Makassarnese in Indonesia is always interesting when examined from various points of view, especially since this tribe has spread to various regions in the country and even abroad. The Buginese-Makassarnese who settled in Central Kalimantan is interesting to study because their existence still shows a strong engagement to the traditions of their origin. For example, the Buginese-Makassarnese who live in Central Kalimantan still maintains some of their ancestral traditions. Second, this community can also establish a harmonious and peaceful relationship with the Dayak people as the original inhabitant of Central Kalimantan, including other migrant communities from Java, Sumatra, and others. This type of research is qualitative with a narrative study approach. Data collection techniques using in-depth interviews and observation. The results of this study reveal that the reason the Buginese-Makassarnese commit diaspora is due to conflict in their hometown and economic motives. For the Buginese-Makassarnese, "Siri" is their soul and self-esteem, a culture of noble values as an impetus to settle down and be successful overseas. This confirms that cultural roots and local wisdom should be preserved as a form of heritage. Kehadiran suku Bugis-Makassar yang ada di Indonesia selalu menarik jika dikaji dari berbagai sudut pandang apalagi karena suku ini telah berdiaspora ke berbagai wilayah di tanah air bahkan mancanegara. Suku Bugis-Makassar yang menetap di Kalimantan Tengah menarik untuk dikaji karena keberadaan mereka masih menunjukkan keterikatan yang kuat dengan tradisi yang terdapat di daerah asal. Sebagai contoh, suku Bugis-Makassar yang tinggal di  Kalimantan Tengah masih memelihara beberapa adat istiadat serta tradisi nenek moyang. Kedua, komunitas ini juga dapat menjalin hubungan yang harmonis dan damai dengan masyarakat Dayak yang merupakan penduduk asli Kalimantan Tengah, termasuk masyarakat perantau lainnya yang berasal dari Pulau Jawa, Sumatera, dan lain-lain. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi naratif. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dan observasi. Hasil penelitian ini mengungkap bahwa penyebab suku Bugis-Makassar melakukan diaspora karena adanya konflik di kampung halaman, motif ekonomi dalam upaya mencari peruntungan. Bagi masyarakat Bugis-Makassar, “Siri” merupakan jiwa dan harga diri mereka, budaya nilai-nilai luhur sebagai pendorong bisa menetap dan sukses di tempat rantauan. Hal ini menegaskan bahwa akar budaya dan kearifan lokal seharusnya terus dijaga sebagai bentuk warisan para leluhur dimanapun berada. 
Tradisi Mappande Sasi' di Dusun Tangnga-tangnga Kabupaten Polewali Mandar (Studi Budaya Islam) Nur Annisa; Ahmad M Sewang; Wahyudin G
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 8 No 2 (2020): History of Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v8i2.15784

Abstract

This research explain about the implementation procession and the meaning of the traditional symbol of mappande sasi in the in societyTangnga-Tangnga hamlet, Polewali Mandar Regency, which is carried out once a year in mid-March where this month is considered a change in the season of moving west to east winds accompanied by strong waves. On the coast. The sea feeding event is held in the morning until the completion of the event and the first is the procession of raising funds, secondly slaughtering the chicken, the third washing away the food, the fourth eating together, and the fifth releasing the sandeq boat race (West Sulawesi’s fastest boat). The tradition of mappande sasi is one of the community traditions believed by fishermen to resist disasters during fishing activities. Penelitian ini menjelaskan tentang prosesi pelaksanaan dan makna simbol tradisi mappande sasi’ pada masyarakat Tangnga-Tangnga Kabupaten Polewali Mandar yaitu dilaksanakan satu kali dalam setahun pada pertengahan bulan Maret di mana bulan ini dianggap sebagai pergantian musim berpindahnya angin Barat ke Timur disertai dengan kencangnya ombak di pesisir pantai. Acara mappande sasi’ dilaksanakan pada pagi hari sampai selesainya acara berlangsung dan adapun prosesi pelaksanaannya yang pertama pengumpulan dana, kedua pemotongan ayam, ketiga menghanyutkan makanan, ke empat makan bersama, dan kelima pelepasan lomba perahu sandeq (perahu tercepat Sulawesi Barat).Tradisi mappande sasi’ merupakan salah satu tradisi masyarakat yang diyakini oleh masyarakat para nelayan untuk menolak bencana selama melakukan aktivitas melaut.