cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Rihlah Jurnal Sejarah dan Kebudayaan
ISSN : 23390921     EISSN : 25805762     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
Integrasi Budaya Islam dengan Budaya Lokal dalam Upacara Pernikahan di Desa Ummareng Kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru Nurhikmah, Nurhikmah; Aksa; Mastanning
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 10 No 01 (2022): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v10i01.42163

Abstract

This research aims to find out how Islamic culture is integrated with local culture in wedding ceremonies in Ummareng Village, Tanete Rilau District, Barru Regency. This research is cultural research with qualitative data, descriptive analysis. Data was obtained through field research (field data) as a primary source and library research (library data) as a secondary source. The research approaches used are historical, sociological, anthropological and religious approaches. The application of local culture in wedding ceremonies in Tanete Rilau sub-district, Barru Regency is related to this existence, namely the beginning of the Bugis Barru wedding in Tanete Rilau sub-district, Barru Regency which is divided into two stages, namely preparation for the procession before the wedding, the marriage contract procession. Integration of the Bugis Traditional Wedding Procession with the Islamic Wedding Procession, in several stages of implementation, such as the Al-Quran mappatemme procession, barazanji, and the marriage contract. Values of Islamic Cultural Integration, mammanu-manu, ma'duta, mappetu'ada, mappasikarawa, barazanji. And the values of Islamic Cultural Integration, tolerance, justice, interconnection. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang bagaimana integrasi budaya Islam dengan budaya lokal dalam upacara pernikahan di Desa Ummareng Kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru. Penelitian ini adalah penelitian budaya dengan data kualitatif analisi deskriptif. Data diperoleh melalui field research (data lapangan) sebagai sumber primer dan library research (data pustaka) sebagai sumber sekunder. Pendekatan penelitian digunakan adalah pendekatan sejarah, sosiologi, antropologi, agama. Pelaksanan Budaya lokal dalam Upacara pernikahan di kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru terkait keberadaan tersebut, yang mana awal dilakukannya pernikahan Bugis Barru kepada Kacamatan tanete rilau Kabupaten barru yang terbagi menjadi dua tahapan yaitu, persiapan prosesi sebelum pelaksanaan pernikahan, prosesi akad nikah. Intergrasi dalam Prosesi Pernikahan Adat Bugis dengan Prosesi Pernikahan islam, dalam beberapa tahap-tahap pelaksanaannya seperti pada prosesi mappatemme Alquran, barazanji, dan akad nikah. Nilai-nilai Intergrasi Budaya islam, mammanu-manu, ma’duta, mappetu’ada, mappasikarawa, barazanji. Dan nilai-nilai Intergrasi Budaya Islam, toleransi, keadilan, Interkoneksi.
Umar bin Khattab's Governance: a Paradigm of Intellectual Renewal Alamshah, Anisah; Syukur, Syamzan; Rahmawati
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 10 No 01 (2022): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v10i01.42319

Abstract

Umar ibn Khattab, one of the illustrious four rightly guided caliphs, is celebrated not only for his legendary tales of valor and unyielding determination but also for his imposing character. His reputation in this regard often eclipses the recognition of his impactful political endeavors on the Muslim community. This modest research endeavor seeks to unveil the innovations and pioneering ideas introduced by Umar al-Faruq, which encompass a wide spectrum of political, economic, and socio-communal ijtihad (independent reasoning). Employing a qualitative research methodology, the study draws upon primary sources, including hadiths and the wisdom of the Prophet's companions, historical texts, and supplements this with secondary sources like scholarly journals, articles, and preceding research works. The amassed data will be meticulously dissected and presented descriptively. The research unearths Umar's audacious overhaul of existing systems while steadfastly upholding the principles delineated in the Quran and the Prophetic tradition. His reforms resulted in the evolution of modern ijtihad, the codification of the Quran, the eradication of land ownership by non-indigenous landlords, and a comprehensive metamorphosis of the defense mechanisms within the Islamic caliphate. These far-reaching reforms have left an enduring impact on the development of the Muslim community, with their reverberations still palpable in contemporary times. Keywords: umar ibn khattab, caliphs, ijtihad, intelectual renewal, governance
Nilai-nilai Islam dalam Tradisi Kalomba pada Masyarakat Kajang Desa Tambangan Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba: (Studi Unsur-unsur Budaya Islam) Hasrianiayu5
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 10 No 01 (2022): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v10i01.42387

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai nilai-nilai Islam dalam tradisi Kalomba pada masyarakat Kajang di Desa Tambang Kecamatan Kajanng Kabupaten Bulukumba, berdasarkan penelitian ini nilai-nilai Islam dalam tradisi Kalomba dalam masyarakat Kajang . Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologi dan sosiologi agama dengan metode pengumpulan data, sehingga penelitian ini mencoba mengangkat objek yang dibicarakan sesuai dengan kondisi yang terjadi di masyarakat. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam yang terkandung dalam tradisi Kalomba pada masyarakat Kajang adalah gotong royong, gotong royong, kerjasama, kekeluargaan, habluminannas dan hablumillah. Tradisi Kalomba dilaksanakan dengan beberapa tahapan awal yaitu pengumpulan dana atau modal untuk membeli bahan-bahan yang akan digunakan pada saat pelaksanaan Ma'buritta, pemanggilan dukun, mengundang pejabat pemerintah atau tokoh adat, tetangga dan keluarga. Mulai dari janur kuning, Sulo safitri, Tala, Pasang Tongko, Batu Leppa, Kamannyang, Ju'ju, Raung Kaju Patampulo/raung, dan Paddingin .
Peran Shalahuddin Al-Ayyubi dalam Perkembangan Islam di Mesir 1170-1193 M rini, Syamsurini; Rahmat; Syakur, Nur Ahsan
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 10 No 01 (2022): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v10i01.42171

Abstract

Saladin al-Ayyubi was born in Tikrit in 1137 AD to a Kurdish Ayyubid family. Saladin in spreading Alhusunnah waljamaah in Egypt implemented efforts including; making Ahlusunnah Waljamaah the official sect, appointing Sunni qadis from the Ahlusunnah Waljamaah group, establishing several Sunni madrasas, changing the orientation of Al-Azhar University to Sunni, destroying books that teach Shia ideology, and taking physical action against Shia followers. As for the influence of Saladin al-Ayyubi in the spread of Ahlusunnah Waljamaah; succeeded in making progress in the political field by uniting Islamic regions, from Northern Egypt to Yemen, North Africa to Asia Minor. In the religious field, Saladin al-Ayyubi succeeded in erasing the traces of Shi'ism brought by the Fatimid dynasty in Egypt, and replacing it with the Sunni school of thought. In the field of education during Saladin's time, Islamic education experienced quite significant progress. In the social and cultural field, the progress achieved by Saladin in this field cannot be separated from the horrendous events that occurred at that time, namely the Crusades. Keywords: Shalahuddin Al-Ayyubi; Ahlusunnah Waljamaah; Mesir.
I Mangadacinna Daeng Sitaba Karaeng Pattingalloang Sultan Mahmud (Kondisi Kerajaan Islam Makassar Menjelang Pemerintahannya): (KONDISI KERAJAAN ISLAM MAKASSAR MENJELANG PEMERINTAHANNYA) Habib Akramullah, Ahmad; Hasaruddin
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 11 No 01 (2023): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v11i01.42386

Abstract

Pada masa itu, Makassar telah berkembang menjadi kerajaan yang dipengaruhi Islam berkat upaya Karaeng Matoaya I Malingkaang Daeng Manyonri' Karaeng Katangka Sultan Abdullah, bersama penguasa Gowa ke-14, I Mangarangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin. Hal ini menyebabkan para penguasa menyebarkan agama Islam karena perjanjian yang dibuat oleh para raja (Ulu Ada'), yang merupakan “janji bersama” yang menyatakan: “Siapapun (di antara raja-raja) yang menemukan jalan yang lebih baik harus juga memberitahu raja-raja lain yang berpartisipasi dalam perjanjian itu." Melalui jalur ini, Islam menjadi agama resmi di Sulawesi Selatan pada tahun 1611. Hasilnya, Islam dimasukkan ke dalam struktur pemerintahan masing-masing kerajaan, dan didirikanlah lembaga pengawas hukum Islam (pejabat yang disebut Parewa Sarak). Keputusan ini memungkinkan Kerajaan Makassar membuka pintunya bagi masyarakat dari semua bangsa untuk melakukan perdagangan di wilayahnya tanpa membeda-bedakan bangsa yang berbeda. Pengaruh militer Makassar juga diperluas pada masa pemerintahan Karaeng Matoaya. Ekspedisi angkatan laut Makassar tercatat dikirim ke wilayah utara dan tengah Sulawesi, Buton, dan kepulauan Nusa Tenggara. Di wilayah selatan Sulawesi, pasukan darat Makassar yang kuat juga menumpas pemberontakan dan ketidakpatuhan terhadap kekuatan militer mereka.
Metode Penulisan Sejarah Kitab Tarikh Al-Umam Wa Al-Muluk Karya Al-Thabari: Indonesia Alamshah, Anisah; Pababbari, Musafir; Syukur, Syamzan
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 11 No 01 (2023): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v11i01.42403

Abstract

Tarikh al-Umam wa al-Muluk, also known as Tarikh al-Rusul wa al-Muluk, is a significant work in Islamic historiography.While it is widely acknowledged as a primary source in classical Islamic studies, it has been criticized for its perceived lack of systematic and interpretative style. Consequently, there has been a preference for Orientalist works that are deemed more rational and critical. This research study uses a descriptive-analytical approach to delve into the life and writings of Al-Thabari, a prominent scholar of the Abbasid era. The study suggests he was born in 225 AH and died in 310 AH, with his work heavily influenced by his socio-political context. Tarikh al-Umam wa al-Muluk" is recognized as one of Al-Thabari's major achievements, covering human history before and after Islam's rise. The book is divided into two periods: pre-Islamic and Islamic eras, discussing topics like Prophet Muhammad's life, Mecca and Medina, wars, the Rightly Guided Caliphs, Umayyad Dynasty, and Abbasid Dynasty. Al-Thabari employed a chronological approach, relying on narrations, chains of transmission, and various sources. However, criticisms exist, including its alleged omission of important events, like the Umayyad Dynasty's rule in Andalusia. The book is seen as lacking objectivity due to its descriptive-narrative nature and the inclusion of fictional stories. Therefore, a critical and rational historical approach is essential to evaluate the accuracy of the narratives presented in the book. Keywords: Tarikh wa al-muluk, al-thabari, traditional Islamic historiography, criticism, writing method.
Orientalisme dan Pengaruh Renaisans Terhadap Sejarah Perkembangannya Rahmat Ramadani
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 11 No 01 (2023): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v11i01.42633

Abstract

Sampai saat ini pandangan terhadap Orientalisme bagi sebahagian kalangan Muslim masih dianggap negatif, walaupun sebahagian lainnya tidak. Olehnya perlu dilihat kembali Orientalisme ini secara utuh dari perspektif sejarah agar tidak salah paham terhadapnya. Artikel ini menjelaskan tiga fase perkembangan Orientalisme dalam sejarah. Pertama, Masa sebelum meletusnya perang salib, dan Islam berada dalam masa keemasannya. Kedua, masa perang Salib sampai masa pencerahan atau Renaisans. Ketiga, masa Renaisans hingga kini. Renaisans menjadi salah satu titik perubahan kajian Orientalisme yang awalnya didasari permusuhan menjadi lebih akademis dan objektif. Sebab semangat Renaisans adalah semangat ilmuan yang sangat menekankan kebebasan berpikir dan objektifitas. Olehnya pandangan negatif terhadap Orientalis tidak terlepas dari sejarah masa lalu yang mana sebelum Renaisans terjadi para Orientalis memang melakukan kajian demi menjatuhkan umat Islam itu sendiri.
Kepemimpinan Hashim Ibn ‘Abd Manaf Terhadap Bangsa Quraysh Muhammad Nur Shiddiq
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 11 No 01 (2023): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v11i01.42842

Abstract

This article discusses the figure of Hashim ibn ‘Abd Manaf as the leader of the Quraish nation. He is the ancestor of Rasulullah Saw, who was the first to open a new trade route outside the city of Mecca twice a year. By using literature research, this article finds historical information that the success of the Quraish nation was pioneered by one of the traders, who later became known as a leader and trading figure among them. Hashim ibn ‘Abd Manaf's character can be seen from his expertise in seeing opportunities to change the trade route (silk route) in the northern region, which was often disrupted by wars between Rome and PersIa. With his diplomatic techniques, Hashim ibn ‘Abd Manaf succeeded in proposing a change in the trade route from the north to the south that crossed Mecca. This path became known as the rihlat al-shita wa al-sayf path and was immortalized in the Koran with the revelation of the Quraish letter. The findings of this article provide an illustration that the success of a nation can be built through the nation's ability to seize opportunities. Hashim ibn 'Abd Manaf was a leader who was able to see these opportunities and apply them to leading the Quraish nation.
Benteng Rotterdam: Alih Fungsi Benteng Rotterdam Pasca Perjanjian Bongaya Sri Rezky Meiliana, Sri Rezky Meiliana; Mastanning; Syukur, Syamzan
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 11 No 02 (2023): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v11i02.42992

Abstract

This research discusses the function of Fort Rotterdam which has changed several times, starting from Fort Rotterdam as a defense base which is the main function of the establishment of a fort especially during the kingdoms, to the fort which has changed and added functions tailored to the needs and interests of certain control. The results of this study indicate that the function of Fort Rotterdam experienced a transition and addition of functions in each period of control starting from the control of the Kingdom of Gowa, after the Bongaya agreement the fort was under the control of the Dutch, Japanese to the time after independence.
Pengaruh Kepemimpinan dan Kebijakan Sultan Alauddin Terhadap Kerajaan Makassar (1593 -1639 M) hikmahh, hikmahh; Mastanning; Rahmawati
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 11 No 01 (2023): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v11i01.43253

Abstract

Sultan Alauddin (1593-1639) adalah anak dari raja Gowa ke-12 yang bernama Karaeng Bontolangkasa atau Tunijallo, dan ibunya adalah raja Tallo yang ke-4. Ketika ia dinobatkan sebagai raja Gowa ke-14, umurnya masih sangat muda sehingga yang menjalankan roda pemerintahan diwakilkan kepada raja Tallo ke-6 atau Mangkubumi Kerajaan Gowa-Tallo yang bernama Karaeng Matoaya. Raja Tallo yang merangkap Mangkubimi Kerajaan Gowa bernama I Malingkaang Daeng Manyonri adalah yang pertama kali menerima agama Islam dan mengucapkan dua kalimat Syahadat. Setelah pengucapan dua kalimat syahadat, beliau lalu diberi gelar Islam Sultan Abdullah Awwalul Islam, yang artinya orang yang pertama menerima agama Islam sebagai agamanya. Setelah itu menyusul raja Gowa yang bernama I Mangarangi Daeng Manra’bia raja Gowa ke-14, lalu kemudian diberi gelar Islam Sultan Alauddin. Pada 9 November 1607, dinyatakan sebagai penerimaan Islam oleh rakyat Gowa dan Tallo sebagai agamanya, dan Kerajaan Gowa menjadikan agama Islam sebagai agama resmi kerajaan. ketika pemerintahan Sultan Alauddin di Kerajaan Gowa, beliau sangat menekankan perlunya ada persamaan di antara sesama manusia, apakah itu adalah penduduk asli kerajaan ataukah mereka berasal dari luar, bahkan juga berlaku bagi bangsa asing. Hal ini tercermin dalam bidang perdagangan, dimana Pelabuhan Somba Opu dibuka selebar-lebarnya kepada siapa saja dengan tidak membedakan warna kulit. Hal inilah yang menyebabkan sehingga Kerajaan Gowa terkenal hingga ke luar negeri dan bangsa-bangsa asing berdatangan untuk melakukan perdagangan antar wilayah. Ia juga sangat menentang monopoli perdagangan di daerahnya.