EMARA : Indonesian Journal of Architecture
MARA Indonesian Journal of Architecture merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Program Studi Arsitektur, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya dengan masa terbit 2 (dua) kali dalam satu tahun. Yang menjadi pokok bahasan EMARA Indonesian Journal of Architecture adalah kajian evaluasi, kajian teori/literatur, dan hasil pemikiran kritis yang meliputi: Desain Arsitektur, Desain Lingkungan dan Tata Kota, Arsitektur Lingkungan dan Prilaku, Permukiman Berkelanjutan, Struktur dan Konstruksi Bangunan serta Manajemen Proyek. Emara Indonesian Journal of Architecture is a journal published by Department of Architecture, State Islamic University of Sunan Ampel Surabaya with 2 (two) issue periods in a year. What become the subject of Emara Indonesian Journal of Architecture are the evaluation studies, literature studies, and the critical thinking papers that include: Architectural Design, Environmental Design and Urban Planning, Architecture Environment and Behavior, Settlement Planning, Structure and Building Construction and Project Management.
Articles
111 Documents
Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Tinggal pada Rusunawa di Kota Surabaya
Rita Ernawati
EMARA: Indonesian Journal of Architecture Vol. 5 No. 1 (2019): EIJA | August ~ October 2019 Edition
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1239.167 KB)
|
DOI: 10.29080/eija.v5i1.527
Kepuasan terhadap tempat tinggal merupakan hasil dari interaksi karakteristik individual dengan karakteristik fisik rumah yang dihuninya. Karakteristik personal suatu individu memunculkan ekspetasi terhadap tempat tinggal. Faktor yang secara umum mempengaruhi kepuasan terhadap tempat tinggal adalah lokasi, ekonomi, fasilitas, kualitas bangunan dan kehidupan sosial dengan penghuni lain. Rusunawa merupakan bentuk tempat tinggal dengan kompleksitas permasalahan tersendiri. Namun rusunawa juga dianggap mampu memberikan solusi bagi peyediaan perumahan di Indonesia. Untuk menjamin kelayakan dan kenyamanan penghuni, penelitian ini mencoba mengelaborasi faktor yang mempengaruhi kepuasan tinggal di rusunawa. Dengan metode kualitatif, pengumpulan dan analisis dilakukan secara triangulasi untuk menjamin kredibilitas penelitian. Survei dengan kuesioner, observasi, wawancara dan Focus Group Discussion dilakukan untuk menghasilkan data yang beragam agar dapat dianalisis dengan teori dan penelitian terdahulu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor lokasi, ekonomi, teknis bangunan dan kehidupan sosial merupakan faktor yang mempengaruhi kepuasan tinggal. Faktor teknis yang meliputi luas hunian dan pengelolaan bangunan masih perlu ditingkatkan untuk memenuhi kepuasan penghuni
Rekonstruksi Identitas Sosial Kebudayaan di Perkotaan: Studi Kasus Kota Pekanbaru, Indonesia
Yohannes Firzal
EMARA: Indonesian Journal of Architecture Vol. 5 No. 1 (2019): EIJA | August ~ October 2019 Edition
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1101.445 KB)
|
DOI: 10.29080/eija.v5i1.533
Identitas suatu tempat pada hakikatnya dapat diubah dan dibentuk. Kondisi seperti ini dapat dimungkinkan sebagai bentuk upaya untuk mengakomodir perubahan keseharian yang terjadi yang terbentuk oleh transformasi dan artikulasi hubungan sosial. Dalam konteks ini, identitas tempat tersebut akan berkaitan erat dengan pengaruh budaya dan tradisi yang berlaku; sesuatu yang bersifat tidak tetap, belum berakhir dan memiliki berbagai variasi bentuk lainnya yang sudah tentu mempengaruhi tempat dan kehidupan masyarakat tempatan. Melalui pendekan penelitian kualitatif, penelitian ini mencari pengaruh budaya Melayu pada identitas sosial kebudayaan di Kota Pekanbaru. Data lapangan dikelompokkan, dianalisis, dan diolah melalui proses iterasi berulang guna memahami bagaimana proses rekonstruksi identitas sosial kebudayaan terjadi, dan bagaimana juga identitas budaya tertentu menjadi dasar dalam proses rekonstruksi identitas ini. Penelitian ini pada akhirnya dapat menyimpulkan bahwa hubungan antara budaya dan identitas dapat dijelaskan melalui arsitektur dan perubahan sosial kebudayaan yang terjadi di kehidupan perkotaan
Dimensi Persepsi Penggunaan Mesin Parkir Elektronik
Fairuz Nabilah;
Hanson E Kusuma
EMARA: Indonesian Journal of Architecture Vol. 5 No. 1 (2019): EIJA | August ~ October 2019 Edition
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1078.878 KB)
|
DOI: 10.29080/eija.v5i1.542
Parkir di bahu jalan merupakan cara parkir yang praktis dan dilakukan hampir di semua kota. Tetapi, cara tersebut dapat menimbulkan ketidaktertiban, kemacetan, pungutan liar, dan permasalahan lainnya. Sebagian pemerintah daerah mulai memperkenalkan penggunaan mesin parkir elektronik. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui dimensi persepsi masyarakat terhadap penggunaan mesin parkir elektronik. Data dikumpulkan dengan survei daring dan dianalisis menggunakan analisis korespondensi, analisis faktor, dan anova. Hasil analisis menunjukkan hampir semua responden baik yang pernah dan belum pernah menggunakan mesin parkir elektronik, cenderung antusias ingin memakai mesin tersebut. Dari hasil analisis terungkap tiga dimensi persepsi penggunaan mesin parkir yaitu Keamanan dan Ketertiban, Pemanfaatan Teknologi, dan Kejelasan Tarif. Responden yang setuju pada penggunaan mesin parkir elektronik cenderung memiliki persepsi positif terhadap tiga dimensi tersebut. Responden yang tidak setuju cenderung memiliki persepsi negatif terhadap tiga dimensi tersebut.
Konsep Kampung-Wisata Sejahtera, Kreatif, Cerdas dan Lestari Berkelanjutan: Kasus Studi di Karangwaru Riverside, Yogyakarta
Yohanes Djarot Purbadi;
Reginaldo Christophori Lake
EMARA: Indonesian Journal of Architecture Vol. 5 No. 1 (2019): EIJA | August ~ October 2019 Edition
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1085.45 KB)
|
DOI: 10.29080/eija.v5i1.641
Pariwisata merupakan salah satu model dalam strategi pembangunan yang semakin banyak digunakan. Pariwisata berbasis masyarakat dan ekonomi kreatif merupakan trend konsep yang diyakini mampu menyejahterakan masyarakat dan melestarikan lingkungan. Desa wisata berkembang di Daerah Istimewa Yogyakarta sejak tahun 2010 dan terus meningkat jumlahnya. Pada sisi lain, kampung-kampung-wisata juga tumbuh di kawasan perkotaan dan perdesaan sejalan dengan pertumbuhan desa-desa wisata. Karangwaru Riverside terletak di Kalurahan Karangwaru sejak tahun 2012 telah dikenal sebagai destinasi wisata baru di Yogyakarta, sebagai ruang publik yang memanfaatkan sungai dan kawasan sekitar sungai. Idealnya, konsep kampung-wisata berbasis masyarakat dan potensi lokal menjadi dasar pengembangan Karangwaru Riverside sebagai kampung-wisata yang hijau, lestari, sejahtera berkelanjutan. Permasalahan yang dikaji adalah bagaimana konsep pengembangan Karangwaru Riverside yang berbasis masyarakat dan potensi lokal untuk menciptakan kemakmuran masyarakat dan kelestarian lingkungan secara berkelanjutan. Tujuan tulisan adalah merumuskan konsep pengembangan kawasan tepian sungai berbasis potensi lokal, ekonomi kreatif dan ekonomi digital pada kasus Karangwaru Riverside. Penelitian ini menggunakan metode observasi lapangan, wawancara dan studi pustaka tentang kampung-wisata, ekonomi kreatif dan pembangunan pariwisata hijau lestari. Hasilnya, Karangwaru Riverside sebagai kampung-kota berpotensi dikembangkan lebih maju dengan konsep kampung-wisata berbasis pada potensi lokal, partisipasi masyarakat, ekonomi kreatif, pembangunan hijau ramah lingkungan dan didukung ekonomi digital.
The Effect of Physical Quality Improvement to Inhabitant’s Sense of Place
Annisa Nur Ramadhani;
Arina Hayati;
Muhammad Faqih
EMARA: Indonesian Journal of Architecture Vol. 5 No. 1 (2019): EIJA | August ~ October 2019 Edition
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2317.332 KB)
|
DOI: 10.29080/eija.v5i1.656
Sense of place is closely related to the level of community participation and sustainability development. In this paper, the context of environment is tourism kampung. Tourism kampung has a dynamic activities and cultural values both tangible and intangible. The development of tourism kampung has a positive goal to improve inhabitant’s socio-economic welfare. But, there was a change in kampung’s function, activity and meaning from a closed settlement system with low social accessibility to a tourism kampung. This change can also affect the people’s sense of place. Research method used in this study is mixed method, which combines quantitative and qualitative research. Data collection techniques were obtained from questionnaires, field observations, and in depth interviews. The result shows that physical improvement has a positive effect in escalating the level of inhabitant’s sense of place. The finding will be important to the development of the sense of place’s theory and sustainable development.
Front Matter - Cover
admin
EMARA: Indonesian Journal of Architecture Vol. 5 No. 1 (2019): EIJA | August ~ October 2019 Edition
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (6035.386 KB)
Perubahan Guna Lahan Desa Karama Sebagai Dampak Aktivitas Ekonomi Masyarakat
Nur Adyla Suriadi;
Nurgadima Djalaluddin;
Muhammad Aswad
EMARA: Indonesian Journal of Architecture Vol. 5 No. 2 (2019): December 2019 ~ February 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29080/eija.v5i2.681
The fishing settlements in Karama Village have different characteristics from other settlements because this village still maintains Mandar culture in terms of physical and non-physical aspects such as weaving lipa 'saqbe activities, fisherman cultural rituals, sandeq races, and other cultural rituals that are carried out every year. But as it develops, its existence can experience a shift. This can happen when a community's economic activities affect other cultures, either on purpose or by accident. This study aims to find out how the cultural value of the community in Karama Village has changed, especially in terms of community economic activity. It will do this by looking at land-use change, figuring out how it has changed in Karama Village because of community economic activity and coming up with policy ideas for dealing with land-use change issues in Karama Village. The study results indicate that Karama Village's administration and land use have changed. For example, 74% of the buildings have switched from residential to commercial or industrial use. Eighteen percent of buildings got more prominent because of economic activity in the neighborhood. While 28% of buildings don't add to their building area, they use their public land for business. This change has big effects on the social and economic activities mentioned in the cultural element and related to the economy or people's ways of making a living.
Korespondensi antara Faktor Ketidaknyamanan Lingkungan Kerja dengan Keinginan untuk Pindah Ruang
Fildza Zatalini Zakirah;
Hafshah Salamah;
Hanson Endra Kusuma
EMARA: Indonesian Journal of Architecture Vol. 5 No. 2 (2019): December 2019 ~ February 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29080/eija.v5i2.694
The work environment has a great influence on motivation, performance and individual willingness to stay in their workspace. It will affect individual intention to move to a better place according to them. This study aims to determine the relationship between discomfort factors on the working environment with the intention to move from a workspace based on the individual indoor worker perception. This study uses qualitative methods and a grounded theory approach with non-random sampling and online questionnaires for data collection. The results revealed that there were five main categories of discomfort in the workspace, that is thermal discomfort, poor interior design, unsupported working atmosphere, inadequate indoor facilities, and poor indoor lighting intensity. Among those five categories, thermal discomfort has become the thing that most influences an individual's desire to move from their workspace. It can be concluded that there are three groups of factors that represent work inconvenience, namely: factors that are very influential, tend to be influential and have less effect on individual inconvenience to their work environment
Tipe Ruang Kreatif di Bandung dan Konteks Pendukungnya
Ihsan Maulanar Robbany;
Josephin Maria Pastika Atidipta;
Shabrina Amalia Ihsanti;
Vadya Dzauqiah;
Agus Suharjono Ekomadyo
EMARA: Indonesian Journal of Architecture Vol. 5 No. 2 (2019): December 2019 ~ February 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29080/eija.v5i2.779
The creative class is a group of people who utilize their creative thinking as a way to solve problems by creating innovations. The development of the creative class in the urban regions of the world results in a term called the creative city. Inside a creative city, the activity of the creative class establishes the needs for spaces that can accommodate their activities. Bandung, one of a creative city in Indonesia, has a lot of creative spaces. This research aims to map the types of creative spaces in Bandung, including their relationship with their contexts. This is achieved through the study of three cases, Kompleks Gudang Selatan, Lo.Ka.Si Coffee & Spaces, and Bandung Creative Hub. The mapping of creative spaces is done using the quantitative and qualitative scoring systems through observation, user interviews, and management interviews. Study about contexts is done using interviews and literature studies. The result of this research shows that those 3 cases, as creative spaces, are dominated by presentation space. This is supported by factors in their firm aspects. Moreover, it is found that the creative industry in Bandung is currently still oriented at presentation activities
Perubahan Spasial Wilayah Permukiman Muslim Sekumpul Terkait Aktivitas Dakwah KH Muhammad Zaini Abdul Ghani
Muhamad Ratodi;
Arfiani Syariah
EMARA: Indonesian Journal of Architecture Vol. 5 No. 2 (2019): December 2019 ~ February 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29080/eija.v5i2.850
Ulama have taken an important role in the people of South Kalimantan, not only in terms of social cohesion but also in the forerunner of Muslim settlements. Taking the case in Sekumpul Martapura, This study tries to identify the development pattern of the Sekumpul settlement delineation due to KH Muhammad Zaini Abdul Ghani's da'wah activities, and identification of changes in the function of the area. The settlement delineation spatial-sprawl obtained by Google Earth and Geospatial Information Agency and supported by structured interviews with key informants using a snowball sampling technique. The results showed the expression of spatial delineation development in the Sekumpul area run naturally and adapted what looks like an octopus pattern with the road network as its dominant factor. In the 1980s until recently the Sekumpul area has experienced three times changes in its function, from the center of propagation, residential, into economic functions with its religious tourism concept. There were no specific guidelines found in the da'wah material regarding the technical aspects of spatial development. One important message conveyed by KH Muhammad Zaini Abdul Ghani was to uphold the rights of guests. This concept was then very tightly held by the residents of Sekumpul, which impacted on the maximum provision of facilities and infrastructure for the pilgrims.