cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman
ISSN : 08520720     EISSN : 25023616     DOI : 10.30821
MIQOT: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman is a peer reviewed academic journal, established in 1976 as part of the State Islamic University of North Sumatra Medan (see: video), dedicated to the publication of scholarly articles in various branches of Islamic Studies, by which exchanges of ideas as research findings and contemporary issues are facilitated. MIQOT is accredited as an academic journal by the Ministry of Education and Culture, Republic of Indonesia (SK Dirjen Dikti No. 040/P/2014) valid through February 2019. Miqot welcomes contributions of articles in such fields as Quranic Studies, Prophetic Traditions, Theology, Philosophy, Law and Economics, History, Education, Communication, Literature, Anthropology, Sociology, and Psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 364 Documents
TRADISI KISIK-KISIK DALAM MASYARAKAT MUSLIM TANJUNGBALAI ASAHAN Husnel Anwar Matondang
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 40, No 2 (2016)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v40i2.297

Abstract

Abstrak: Masyarakat Tanjungbalai Asahan sebagai pelaku ritual kisik-kisik mempercayai bahwa penyakit yang diderita oleh manusia selalu dipahami dalam dua sisi yang saling mempengaruhi, yakni penyakit pada jasad dapat mempengaruhi jiwa (batin/ruh) dan penyakit pada jiwa (batin) dapat pula mempengaruhi kesehatan jasad (badan). Solusi magis yang digunakan masyarakat ini adalah kisik-kisik, yaitu suatu upacara untuk memanggil sumangat (ruh) yang telah hilang atau pergi dari jasad seseorang yang menderita sakit agar ia kembali sehat. Dalam menjelaskan sistem kepercayaan kisik-kisik digunakan teori fungsionalis Bronislaw Malinowski, yaitu masyarakat dilihat sebagai suatu totalitas fungsional, seluruh adat kebiasaan dan praktik harus dipahami dalam totalitas konteksnya dan dijelaskan dengan melihat fungsinya bagi anggota masyarakat yang diteliti. Dari kajian ini, ditemukan bahwa ritual kisik-kisik berawal dari kepercayaan animisme yang menjadi anutan nenek moyang orang-orang Tanjungbalai Asahan. Namun, ia tetap dipraktikkan, kendati mereka telah memeluk Islam. Abstract: Kisik-Kisik Tradition in Tanjung Balai Muslim Community. Tanjungbalai Community in Asahan as the actors of kisik-kisik ritual believe that the diseases suffered by humans always understood in two sides of interaction, that is the bodies diseases may affect the psyche (mind/spirit) and the soul diseases (mind) can also affect the bodies healthy (bodies). The magic solution that allows people is kisik-kisik, that is a ceremony to call spirit (ruh) that have been lost or away from the body of person who is sick to become healthy. In explaining the system of kisik-kisik belief used functionalist theory by Bronislaw Malinowski, that society is seen as a functional totality, the entire customs and practices must be understood in totality context and explained by looking at the function for the communities who studied. From this study, it was found that the kisik-kisik ritual came from animism which became an ancestor’s belief of Tanjungbalai people in Asahan. However, it still practiced, although Tanjungbalai people have embraced Islam. Kata Kunci: kisik-kisik, ritual, penyembuhan, Tanjungbalai, Asahan
TINDAKAN PERUNDUNGAN (BULLYING) DALAM DUNIA PENDIDIKAN DITINJAU BERDASARKAN HUKUM PIDANA ISLAM Muhammad Hatta
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 41, No 2 (2017)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v41i2.488

Abstract

Abstrak: Perundungan (bullying) dalam dunia pendidikan merupakan tindakan tercela dan diharamkan oleh Islam karena dapat melukai korban baik secara fisik maupun mental. Dalam aspek jinayah, apabila perundungan dilakukan oleh pelajar atau mahasiswa yang sudah dewasa, sehingga mengakibatkan korban luka-luka, kehilangan atau kerusakan harta benda atau korban meninggal dunia, maka pelaku dapat dihukum dengan hukuman jinayah hudûd, ta’zir dan qishâsh. Namun, apabila perundungan tersebut mengakibatkan korban tertekan, ketakutan, atau trauma dan lain-lain di luar kategori jinayah hudûd dan qishâsh, maka pelaku dapat dihukum dengan hukuman ta’zir. Sebaliknya, apabila perundungan dilakukan oleh siswa atau pelajar yang masih di bawah umur, maka pelaku dikenakan hukuman ta`zir berupa diyath, kaffarah, hukuman alternatif atau penganti (‘uqubât al-badilâh) yang bertujuan mendidik atau memberi pelajaran bagi pelaku dan orang lain supaya tidak mengulanggi perbuatan yang sama. Abstract: Bullying in Word of Education in the Perspective of Islamic Criminal Law. Bullying in the world of education is reprehensible actions and forbidden by Islam because it can injure the victim both physically and mentally. In the aspect of a crime, if the bullying is done by a student or students who have grown up, resulting in injuries, loss or damage to property or death of the victim offender a crime punishable by hudûd, ta’zir and qishâsh. However, if such bullying resulted in the victim distress, fear, trauma and others outside the category of a crime hudûd and qishâsh the offender can be punished with ta'zir. Conversely, if the bullying is done by the student or students who are minors the offender liable to punishment in the form of diyath ta`zir, kaffarah, alternative or substitute penalty (‘uqubât al-badilâh) which aims to educate or provide lessons for the offender and others so that similar acts could be prevented. Kata Kunci: perundungan, dunia pendidikan, hukum pidana Islam
LANDASAN PENDIDIKAN SPIRITUAL ABÛ AL-QÂSIM AL-QUSYAIRÎ (W. 465/1072) Muhammad Arifin
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 41, No 2 (2017)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v41i2.341

Abstract

Abstrak: Artikel ini membahas landasan pendidikan spiritual al-Qusyairî, yang pemikirannya berpengaruh dalam dunia Islam, bahkan sampai ke Nusantara dengan paham neo-sufisme. Berdasarkan analisis terhadap dua karyanya, al-Risâlah al-Qusyairiyah dan Tafsîr Lathâ’if al-Isyârât, ditemukan setidaknya ada empat landasan pendidikan spiritual yang harus ditempuh oleh sâlik. Pertama, seorang sâlik harus mengenal (ma‘rifat) kepada Allah, sebagaimana konsep-konsep akidah Ahlussunnah Waljamaah. Selain itu, ma‘rifat yang teguh mengejawantah perilaku. Kedua, dalam mendidik jiwa seseorang harus menjaga keseimbangan antara syariat dan hakikat. Ketiga, ibadah yang dilakukan melihat sisi batin atau aspek esoterisnya, sehingga berpengaruh positif dalam tingkah laku. Keempat, seorang sâlik harus senantiasa berzikir dan mengingat Allah dalam lisan dan atau hatinya. Landasan pendidikan spiritual seperti ini akan menjaga seseorang tetap berada dalam ajaran Islam, dan akan menyampaikannya kepada Allah yang akan menurunkan ketenangan batinnya di dunia dan akhirat. Abstract: Foundations of Abû al-Qâsim al-Qusyairî’s Spiritual Education. This article discusses the principles of al-Qusyairî’s spiritual education, whose ideas influenced the Islamic world, even to the Nusantara in a neo-sufism. Based on the analysis of his ouvre al-Risâlah al-Qusyairiyah and Tafsîr Lathâ’if al-Isyârât, it is found that there are at least four spiritual education foundations a sâlik should undergo. First, a sâlik should know (ma‘rifah) to Allah, as the concepts of Ahli Sunnah wal Jama’ah theology. Additionally, ma‘rifah steadfast in the heart should  portray in behavior. Second, in educating the spirit must maintain a balance between syarî`ah and haqîqah. Third, worship is done to be seen the inner or esoteric aspects, and thus have the positive effect on behavior. Fourth, a sâlik must always remember and enchant Allah orally or by heart. The cornerstone of spiritual education such as this would keep someone remains in the teachings of Islam, and will present it to Allah who will resulted in peacelful and spiritual satisfaction in this world and hereafter. Kata Kunci: pendidikan, spiritual, makrifat, syariat, hakikat, zikir, al-Qusyairî
DINAMIKA LEMBAGA PENDIDIKAN TINGGI ISLAM DI INDONESIA Amiruddin Amiruddin
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 41, No 1 (2017)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v41i1.314

Abstract

Abstrak: Tulisan ini berupaya menganalisis dinamika perkembangan  Pendidikan Tinggi Islam di Indonesia dari perspektif sejarah. Penulis mengklaim bahwa Perguruan tinggi Islam pertama di Indonesia adalah STI (Sekolah Tinggi Islam) didirikan di Jakarta pada tahun 1945, yang tiga tahun kemudian ditransformasi menjadi UII (Universitas Islam Indonesia) di Yogyakarta. Pada tahun 1951, selanjutnya, pemerintah mendirikan PTAIN di Yogyakarta dengan menegerikan fakultas agama Islam pada UII. Disamping itu, pemerintah mendirikan ADIA (Akademi Dinas Ilmu Agama) di Jakarta pada tahun 1957. Hasil perkawinan kelembagaan antara PTAIN dan ADIA melahirkan IAIN  atau al-Jamiah al-Islamiyah al-Hukumiyah didirikan pada tahun 1960 di Yogyakarta. Cabang-cabang IAIN di daerah ditingkatkan statusnya oleh pemerintah pada tahun 1997 menjadi STAIN. Perkembangan paling signifikan terjadi pada tahun 2002 dimana beberapa IAIN dan STAIN dikonversi menjadi UIN. Penulis mengklaim bahwa format terakhir ini merupakan perkembangan paling sentral di era globalisasi dengan konsep integrasi ilmu. Abstract: The Dynamics of Islamic Higher Education Institutions in Indonesia. This paper seeks to analyze the dynamics of the development of Islamic Higher Education in Indonesia from a historical perspective. The author claimed that the first Islamic College in Indonesia was the STI (Islamic High School) founded in Jakarta in 1945, which three years later was transformed into UII (Islamic University of Indonesia) in Yogyakarta. In 1951, furthermore, the government established PTAIN in Yogyakarta integrated in UII. In addition, the government established ADIA (Akademi Dinas Ilmu Agama) in Jakarta in 1957. The result of institutional marriage between PTAIN and ADIA gave birth to IAIN or al-Jamiah al-Islamiyah al-Hukumiyah was founded in 1960 in Yogyakarta. The IAIN branches in the region were upgraded by government in 1997 to become STAIN. The most significant developments occurred in 2002 where some IAIN and STAIN were converted to UIN. The author claims that this last format is the most central development in the era of globalization with the concept of science integration.  Kata Kunci: Indonesia, lembaga pendidikan tinggi, UIN, IAIN, STAIN
IMPLEMENTASI BUDAYA MELAYU DALAM KURIKULUM PENDIDIKAN MADRASAH IBTIDAIYAH DI RIAU Syahraini Tambak; Desi Sukenti
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 41, No 2 (2017)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v41i2.409

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi budaya Melayu sebagai Visi Riau 2020 dalam kurikulum pendidikan Madrasah Ibtidaiyah di Provinsi Riau. Penelitian ini dilaksanakan di madrasah Ibtidaiyah pada 12 kabupaten/kota se- Propinsi Riau. Populasi penelitian  ini adalah seluruh kepala Madrasah Ibtidaiyah Propinsi Riau berjumlah 382 kepala madrasah. Sampel penelitian ini berjumlah 24 kepala madrasah Ibtidaiyah dengan pengambilan sampel adalah teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah angket dan teknik analisis data adalah deskriptif analitis. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa budaya Melayu Riau dalam kurikulum pendidikan Madrasah Ibtidaiyah di Provinsi Riau adalah 18.9% terakomodasi dan diimplementasikan dalam kurikulum. Implementasi budaya Melayu tersebut tersebar dalam kurikulum inti, ekstrakurikuler, muatan lokal, dan eksidentil pada kurikulum pendidikan Madrasah Ibtidaiyah di Provinsi Riau. Abstract: The Implementation of Malay Culture in the in Islamic Elementary School Curriculum in Riau. This study aims to determine the extent to which Malay culture implemented as the Vision of Riau 2020 in education curriculum of Madrasah Ibtidaiyah in Riau Province. This research was conducted in madrasah Ibtidaiyah in 12 districts/ cities in the region. The population of this study are 382 heads of Madrasah Ibtidaiyah of Riau Province, 24 heads of which are taken in purposive sampling technique. Data collection techniques used are questionnaires and data analysis technique is  descriptive analytic. The results of this study revealed that Riau Malay culture in the curriculum of Madrasah Ibtidaiyah education in Riau Province is 18.9% accommodated and implemented in the curriculum. Implementation of Malay culture is infused in the core and extra-curriculum, and local content on Madrasah Ibtidaiyah education curriculum in Riau Province. Kata Kunci: budaya, melayu, madrasah ibtidaiyah, kurikulum, Riau
PENDEKATAN SAINTIFIK PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA SEKOLAH DASAR ISLAM TERPADU Asnil Aidah Ritonga
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 41, No 1 (2017)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v41i1.339

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengkaji penerapan pendekatan saintifik pembelajaran PAI pada SDIT di Kota Medan, berdasarkan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknis kualitatif model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam menyusun RPP pembelajaran PAI pada SDIT di kota Medan sudah melakukan variasi pencapaian dalam berbagai aspek yaitu dalam aspek pencapaian tujuan pembelajaran, pencapaian karakter yang diharapkan dalam pembelajaran PAI. Kemudian dalam menyusun kalimat dalam langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan tuntutan pendekatan saintifik telah dituangkan dengan terurai meskipun indikator pencapaiannya belum terlihat secara jelas, dan juga sudah diterapkan meskipun ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan konsep pendidikan dan perlu mendapat perhatian yang lebih serius. Penulis menyimpulkan bahwa kendala yang dihadapi di SDIT kota Medan (al-Fityan, Bunayya dan An-Nizam) tidak jauh berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.   Abstract: Scietific Approach of Islamic Religious Learning in Islamic Integrated Primary School. This study aims to examine the application of scientific approach of PAI learning at SDIT in the city of Medan, based on qualitative approach with phenomenology method. Data analysis was performed using qualitative techniques of Miles and Huberman models. The results showed that in preparing the RPP of learning PAI at SDIT in Medan city has done variation of achievement in various aspect that is in aspect of achievement of learning goal, achievement of character expected in learning of PAI. Then in composing the sentences in the learning steps in accordance with the demands of the scientific approach has been poured down even though the indicators of achievement have not been clearly seen, and also applied even though there are some things that are not in accordance with the concept of education and need to get more serious attention. The author concludes that the obstacles encountered in SDIT Medan in such schools as Al-Fityan, Bunayya and An-Nizam, are not much different from one another.   Kata Kunci: pendidikan Islam, pendekatan saintifik, SDIT
INTERAKSI MUSLIM DAN KRISTIANI DALAM IKATAN KEKERABATAN DI SUMATERA UTARA Irwansyah Irwansyah
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 41, No 1 (2017)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v41i1.519

Abstract

Abstrak: Asumsi dasar yang dibangun pada penelitian ini adalah, hubungan muslim dan kristiani di Sumatera Utara berlangsung dalam berbagai domain dimana interaksinya bisa terjadi secara harmonis dan bisa pula disharmonis. Berpijak pada asumsi tersebut, permasalahan pada penelitian ini ditegaskan dalam pertanyaan “bagaimana hubungan muslim-kristiani di Sumatera Utara dalam ikatan kekerabatan?”. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan Sosiologi Agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan muslim dan kristiani di Sumatera Utara pada domain kekerabatan berlangsung harmonis ketika keduanya mengalami interaksi yang berkesinambungan; melebur dalam berbagai aktivitas sosial; saling menghormati dan melahirkan kesadaran saling membutuhkan satu sama lain. Sementara hubungan disharmonis terjadi ditandai dengan sikap saling mencurigai, persaingan satu sama lain serta lahirnya konflik-konflik yang tersembunyi (hidden conflict).Abstract: Muslim Christian Interaction within Kinship Tie in Sumatra Utara. The basic assumption of this study is that there has been a muslim and christian relations in North Sumatra in various domains, the interactions of which may occur in harmony, but also disharmony. Based on these assumption, the problem of this study is to answer the extent to which the muslim-christian relations occur in North Sumatra. Specifically, it traces the Muslims and Christians relations with regard to kinship. The study was conducted by using the socio-religious approach. The results of this study showed that the Muslim and Christian relations in North Sumatra, in the kinship domain run in harmony when both experienced continuous interaction, immerse themselves in various social activities, mutual respect and raise awareness of reciprocal relationship. While the disharmonious relationship occurred emanated from mutual suspicion, competition with one another and the hidden conflict.Kata Kunci: Muslim, Kristiani, Sumatera Utara, interaksi agama-agama
PESANTREN’S RESISTANCE AGAINST CULTURAL GLOBALIZATION Gonda Yumitro; Dion Maulana Prasetya
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 41, No 2 (2017)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v41i2.391

Abstract

Abstract: This research attempts to explore the resistance of Pesantren against cultural globalization dominated by western society. By using the post-colonial approach, it is found that there is the process of re-reading the meaning of globalization and re-defining of ‘self’ as the subject of globalization. Pesantren introduced the concept of non material point of view namely al-tarbiyah wa al-ta‘lim preserving the local tradition in facing the secular and materialistic values of the West. Interestingly, this concept has emerged as prominent alternative of Islamic position showing the adaptability of Islam toward the globalization. Based on this research, the author thus argues that the violence and mass movements have no longer been used by the pesantren as an indication of modernzing Islamic  approach in the globalization era. Abstrak: Resistensi Pesantren terhadap Globalisi Budaya. Penelitian ini mencoba menggali resistensi pesantren terhadap globalisasi budaya yang didominasi oleh masyarakat Barat. Dengan menggunakan pendekatan pasca-kolonial, ditemukan bahwa ada proses membaca ulang makna globalisasi dan mendefinisikan ulang 'diri' sebagai subjek globalisasi. Pesantren memperkenalkan konsep cara pandang non material yaitu al-tarbiyah wa al-ta‘lim yang melestarikan tradisi lokal dalam menghadapi nilai sekuler dan materialistik dari Barat. Menariknya, konsep ini telah muncul sebagai alternatif utama posisi Islam yang menunjukkan adaptasi Islam terhadap globalisasi. Berdasarkan penelitian ini, penulis berpendapat bahwa kekerasan dan gerakan massa sudah tidak lagi digunakan oleh pesantren sebagai indikasi terjadi modernisasi pendekatan Islam pada era globalisasi ini. Keywords: globalization, pesantren, culture, postcolonial, materialistic
ISLAMIC EDUCATION DURING LANGKAT SULTANATE ERA IN 1912-1946: A Historical Study of Jam’iyah Mahmudiyah li Thalibil Khairiyah Langkat Zaini Dahlan
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 41, No 1 (2017)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v41i1.325

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengungkap pendidikan Islam pada masa Kesultanan Langkat 1912-1946, khususnya tentang Jam‘iyah Mahmudiyah Li Thalibil Khairiyah Tanjung Pura Langkat ditinjau dari aspek kelembagaan, isi pendidikan, tenaga pendidik dan siswa, serta manajemen. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah dengan pendekatan sejarah sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jam‘iyah Mahmudiyah Li Thalibil Khairiyah menggambarkan lembaga pendidikan modern formal pertama di Sumatera Timur. Dari aspek kelembagaan, Jam‘iyah Mahmudiyah memiliki visi misi, struktur organisasi, prasarana dan sarana yang modern, serta pendanaan yang jelas. Pada tahun 1912 Jam‘iyah Mahmudiyah mengadakan pembaruan di lembaga tersebut yang dimulai dengan pemberlakuan ujian dan berhak mendapatkan ijazah. Pendidiknya terdiri dari ulama yang memiliki latar belakang pendidikan dari Ummul Qurâ’ dan al-Azhar. Menurut penulis hal ini semakin kuat dengan kendali pengelolaan pendidikan yang langsung dikendalikan oleh organisasi yang dibawahi oleh Sultan Langkat. Abstract: Islamic Education in Langkat Sultanate During 1912-1946: A Historical Study of Jam'iyah Mahmudiyah li Thalibil Khairiyah Langkat. This study aims to reveal the Islamic education during the Langkat Sultanate 1912-1946, especially about Jam'iyah Mahmudiyah Li Thalibil Khairiyah Tanjung Pura Langkat in terms of institutional aspects and management. This research is a historical research with social history approach. The results show that Jam'iyah Mahmudiyah Li Thalibil Khairiyah represents the systematic, planned, modern and first formal education institution in East Sumatra. As for the institutional aspect, the Jam'iyah has a vision of mission, organizational structure, infrastructure and modern facilities, as well as fixed budgeting. In 1912 the Jam'iyah reformed evaluation method, as well as standardized the qualification of the teachers of Umm al-Qurâ’ and Al-Azhar. According to the author, the system is getting stronger with the control of education management directly controlled by the organization that was under Sultan Langkat.  Keywords: Indonesia, Malay, Langkat sultanate, Islamic education, Jam’iyah Mahmudiyah
CONFUSION OF EDUCATOR POLICY IN MINISTRY OF RELIGIOUS AFFAIRS 1945-2016 Muh. Saerozi
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 41, No 2 (2017)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v41i2.410

Abstract

Abstract: This essay examines the dynamics of the development of educator policy at the Ministry of Religious Affairs, which begins with the educator concept in Education Law at the Ministry of Religious Affairs from 1945 to 2016, and what the philosophical meaning of the development of the concept is. It also uncover where the confusion of the concept of educators throughout the history. This essay concludes with the conceptual solutions to educator problems enshrined in the Educational Law. The author finds there is a change of educators' concept on every amendment to Education law, each of which contains a specific philosophical meaning. The concept of educator that has been changed still entails the some problems up to the present time. The confusion of the concept in the law affects the regulation of educators in the Ministry of Religious Affairs, and thus it needs to be revised and finds alternative solution as offered in this paper. Abstrak: Kerancuan Kebijakan Pendidik di Kementerian Agama 1945-2016. Esai ini mengkaji dinamika perkembangan kebijakan pendidik pada Kementerian Agama, yang diawali dengan konsep pendidik dalam undang-undang pendidikan dan peraturan Menteri Agama sejak tahun 1945 sampai 2016, dan apa makna filosofis dari perkembangan konsep tersebut. Selanjutnya diungkap dimana letak kerancuan konsep pendidik dalam sepanjang sejarah tersebut. Pada bagian akhir difokuskan untuk  menemukan solusi konseptual terhadap problem pendidik yang terdapat dalam undang-undang pendidikan. Penulis menemukan ada perubahan konsep pendidik pada setiap perubahan undang-undang pendidikan, yang memuat makna filosofis yang spesifik. Konsep pendidik yang telah diubah masih menyisakan masalah sampai sekarang. Kerancuan konsep dalam undang-undang berdampak pada peraturan pendidik di Kementerian Agama, sehingga perlu dilakukan revisi sebagaimana alternatif yang ditawarkan dalam tulisan ini. Keywords: education, Religious Affairs Ministry, policy, teacher, educational support personnel