cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman
ISSN : 08520720     EISSN : 25023616     DOI : 10.30821
MIQOT: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman is a peer reviewed academic journal, established in 1976 as part of the State Islamic University of North Sumatra Medan (see: video), dedicated to the publication of scholarly articles in various branches of Islamic Studies, by which exchanges of ideas as research findings and contemporary issues are facilitated. MIQOT is accredited as an academic journal by the Ministry of Education and Culture, Republic of Indonesia (SK Dirjen Dikti No. 040/P/2014) valid through February 2019. Miqot welcomes contributions of articles in such fields as Quranic Studies, Prophetic Traditions, Theology, Philosophy, Law and Economics, History, Education, Communication, Literature, Anthropology, Sociology, and Psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 364 Documents
PAKIAH AND SADAKAH: The Phenomenon of Mamakiah Tradition in Padang Pariaman Novizal Wendry; Sri Chalida
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 41, No 1 (2017)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v41i1.342

Abstract

Abstrak: Pakiah dan Sadakah: Fenomena Tradisi Mamakiah di Padang Pariaman. Artikel ini mengungkap fenomena mamakiah pada komunitas pakiah, santri pesantren tradisional Padang Pariaman. Niimma mengklaim sadakah yang diperoleh oleh pakiah pada beberapa pesantren, diserahkan kepada buya. Penulis menelusuri latarbelakang historis kapan mamakiah terbentuk, faktor-faktor apa yang memotifasi munculnya, serta bagaimana sikap dan respon masyarakat. Melalui pendekatan fenomenologi ditemukan bahwa mamakiah telah eksis semenjak Islam masuk di Ulakan Sumatera Barat sekitar abad kelimabelas. Penulis berargumen bahwa pakiah disuport oleh masyarakat dan institusi. Selanjutnya menurut penulis Pakiah melakukan aktivitas mamakiah untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka selama proses belajar di surau. Dua motif lainnya adalah kultural dan pemahaman keagamaan. Penulis menyimpulkan bahwa selain motif di atas, pakiah memiliki modal kultural. Abstract: This article reveals the phenomenon of mamakiah in pakiah community, students of traditional Islamic boarding school (pesantren) Padang Pariaman. Niimma claims that sadakah obtained by pakiah in some pesantren, submitted to buya. The author traces the historical background to when mamakiah is formed, what factors motivate the emergence, and how the attitude and response of the community. Through the phenomenological approach it is found that mamakiah have existed since Islam entered Ulakan Sumatera Barat around the fifteenth century. The author argues that pakiah is supported by society and institutions. Furthermore, according to the author pakiah perform mamakiah activities to meet their basic needs during the learning process in surau (a simple form of mosque). Two other motifs are cultural and religious understanding. The writer believes that in addition to these motives, pakiah has also a cultural capital. Keywords: pakiah, buya, sadakah, mamakiah tradition
PEMIKIRAN FIKIH SYAIKH MUHAMMAD ZAIN BATU BARA: Fidiah Salat dan Puasa Ahmad Fauzi Ilyas
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 41, No 2 (2017)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v41i2.459

Abstract

Abstrak: Artikel ini membahas pemikiran Syaikh Muhammad Zain Batu Bara, seorang ulama besar alumni Makkah awal abad 20 dan berasal dari Batu Bara yang namanya tidak dikenal, namun mempunyai kontribusi besar dalam perkembangan dakwah Islam di daerah tersebut. Salah satu kontribusinya adalah praktik dan tradisi Fidiah salat dan puasa bagi orang yang sudah meninggal, yang sampai sekarang masih dilestarikan oleh masyarakatnya. Dalam konteks wilayah Nusantara, kajian ini membandingkan pemikiran Syaikh Muhammad Zain dengan pemikiran-pemikiran ulama Nusantara lainnya baik sebelum, semasa atau sesudahnya, untuk menemukan titik persamaan dan perbedaan dan sejauhmana implikasinya, dengan  menggunakan telaah kepustakaan karya-karya dan sejarah biografi masing-masing tokoh. Penulis menyimpulkan bahwa Syaikh Muhammad Zain Batu Bara adalah kelompok ulama Kaum Tua di Sumatera Timur yang tetap mempertahankan amaliah dan tradisi Fidiah salat dan puasa bagi orang yang sudah meninggal, dengan memilih pendapat mazhab Hanafi yang memasukkan masalah ini dalam pendapat yang dipedomani dan berkembang terus di masyarakat. Abstract: Islamic Legal Thought of Syaikh Muhammad Zain Batu Bara: A Case of Fidyah for Fasting and Prayer. This article discusses the thought of Shaykh Muhammad Zain Batu Bara, a prominent scholar of early 20th century Mecca originating from Batu Bara whose name is unknown, but has a major contribution in the development of Islamic da'wah in the area. One of his contributions is the practice and tradition of fidyah for the five prayers and fasting for the dead, which until now is still preserved by the society. In the context of the archipelago territory, this study compares the thought of Shaykh Muhammad Zain with the thoughts of other learned Islamic thinkers of the archipelago throughout the history, to unveil the points of similarities and differences as well as the extent of their implications, using literature review of works and the biographical history of respective figure. The author concludes that Shaykh Muhammad Zain Batu Bara appears to be bounded by conventional school of thought in East Sumatra, who retains the tradition of fidyah for prayer and fasting of the dead person, by choosing the opinion of the Hanafi school that eventually developed in the society. Kata Kunci: fikih, ulama, Nusantara, Syaikh Muhammad Zain, fidiah, salat, puasa
HAM ISLAM DAN DUHAM PBB: Sebuah Ikhtiar Mencari Titik Temu Izzuddin Washil; Ahmad Khoirul Fata
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 41, No 2 (2017)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v41i2.394

Abstract

Abstrak: Meski secara umum memiliki kesamaan dengan Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia (DUHAM) Perserikatan Bangsa-bangsa, konsep Hak Asasi Manusia (HAM) dalam Deklarasi Kairo memiliki spesifikasi tertentu yang berbeda. DUHAM bersumber dari paradigma Barat, sementara Deklarasi Kairo berbasis syariat. Dilihat dari perspektif DUHAM, ada beberapa hal spesifik dalam HAM versi Dunia Islam yang dinilai melanggar HAM. Konsep kebebasan beragama berbeda antara keduanya. Juga tentang hukuman mati, rajam, dan yang lainnya. Dengan demikian apakah HAM versi Islam tersebut harus dipertentangkan dengan DUHAM? Alih-alih mempertentangkan keduanya, tulisan ini mencoba mempertemukan keduanya dengan mencarikan alternatif jawaban. Dengan melakukan pemaknaan ulang terhadap beberapa konsep Islam, tulisan ini menemukan adanya peluang agar Deklarasi Kairo dengan DUHAM bisa berjalan beriringan. Abstract: Islamic Human Rights and the United Nations Human Rights Declaration: in Search of Compromise.  Although generally in common with the United Nations Human Rights Declaration (DUHAM), the concept of Human Rights in the Cairo Declaration has different specifications. The Universal Declaration of Human Rights comes from the Western paradigm, while the Cairo Declaration is based on the Shari'a. Viewed from the perspective of the Universal Declaration of Human Rights, there are some specific issues in the human rights of the World Islamic version that are considered to violate human rights. The concept of freedom of religion differs between the two. It is also true in the context of death penalty, stoning, and others. Thus does the human rights of the Islamic version be contrasted with the Universal Declaration of Human Rights? Instead of contrasting these two aspects, this paper tries to reconcile them by finding an alternative answer. By re-enacting some Islamic concepts, this paper finds an opportunity for Cairo Declaration with the Universal Declaration to go hand in hand in harmony. Kata Kunci: hak asasi manusia, PBB, deklarasi Kairo, syariat Islam
THE INTERACTIONS OF MADZHABS IN ACEH: The Tripolar Typology Fauzi Fauzi
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 41, No 1 (2017)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v41i1.327

Abstract

Abstract: Interaksi Madzhab di Aceh: Sebuah Tipologi Tripolar. Penelitian ini bertujuan untuk melihat model interaksi di antara berbagai mainstream mazhab yang berkembang dalam praktik masyarakat  Aceh. Penulis menemukan bahwa terdapat tiga tipologi interaksi mazhab di Aceh, pertama; eksklufisme yang meyakini bahwa mazhab Syâfi’i merupakan model fikih yang layak untuk diikuti sebagai akibat pengajaran fikih selama ini berorientasi pada satu mazhab berkembang pada milieu pendidikan informal seperti Dayah. Kedua, inklusivisme, dimana masyarakat  cenderung bermazhab Shâfi‘î baik dalam ‘ibâdah maupun mu‘âmalah, sekalipun tetap membuka ruang bagi mazhab lain untuk diikuti. Ketiga, pluralisme yang beranggapan bahwa mazhab hanya merupakan sarana untuk memahami agama. Penulis menyimpulkan bahwa masyarakat perkotaan cenderung pada dua tipologi terakhir dalam bermazhab yang dikembangkan oleh pendidikan formal seperti perguruan tinggi Islam. Untuk membangun Aceh modern, masyarakat harus memahami mazhab secara tepat dan memposisikannya sebagai salah satu model pemahaman shari’ah yang menjadi rahmat li al-‘âlamîn sebagai social engineering. Abstract: This study aims to analyze the model of interactions amongst various legal school of thoughts in contemporary Aceh. This study was a field study with the qualitative method. The method used to analyze the data was descriptive analysis. In this research, it is revealed that the dynamic of interactions of Islam in spins around three typologies which are exclusivism, inclusivism and pluralism. As for the first typology, it is believed that the Shâfi‘î madhab is the only legitimate school and thus should be abide by. The second polar is inclusivism, a typology in which society tends to adhere to Shâfi‘î madhab in the realm of religious observation (‘ibâdah) and (mu‘âmalah) though it still gives room and tolerate any other madhabs to to survive side by side. The author asserts that this typology could be considered the neutral way to solve the current religious problems in Aceh. The third polar is pluralism that can be utilized as a principal standard in building the harmony, peace and respect amongst the Acehnese in order to accomplish the ultimate goal of Islam as rahmat li al-‘âlamîn. Keywords: Islamic law, madhab, Aceh, exclusivism, inclusivism, pluralism
BUDAYA SUMANG DAN IMPLEMENTASINYA TERHADAP RESTORASI KARAKTER MASYARAKAT GAYO DI ACEH Syukri Syukri
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 41, No 2 (2017)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v41i2.428

Abstract

Abstrak: Tulisan ini berupaya memahami sistem budaya masyarakat Gayo yang populer dengan sumang yang berarti tindakan menyimpang dari konvensi tata krama dan bertentangan dengan Islam dan adat. Sistem budaya sumang Gayo ini bermuatan pengetahuan, keyakinan, nilai, aturan, dan hukum yang menjadi acuan bagi tingkah laku dalam kehidupan masyarakat Gayo. Implementasi budaya sumang terhadap restorasi karakter masyarakat Gayo sangat relevan, karena bernilai spiritual dan berorientasi kepada akhlâq al-karîmah,  menjaga harga diri, harkat, martabat keluarga dan masyarakat. Harga diri disebut mukemel artinya punya rasa malu. Kalau masyarakat Gayo tidak berkarakter berarti tidak punya rasa malu (gere mukemel). Penulis menyimpulkan bahwa budaya sumang berperan penting dalam merestorasi kultur  masyarakat menjadi lebih berkarakter mulia ketika diterapkan secara utuh dalam kehidupan masyarakat. Budaya sumang ini berisi tindakan adat pergaulan, kemudian memberikan nilai kepada perbuatan tersebut, yang menjadi standar ukur dalam kehidupan sosial masyarakat Gayo di Aceh. Abstract: Sumang Tradition and Its Implementation on Character Restoration of Aceh Gayo Society. This paper seeks to understand the cultural system of Gayo society that is popular with Sumang that means acts deviate from convention of manners and contrary to Islam and adat. This Gayo sumang culture system is filled with knowledge, beliefs, values, rules, and laws that become the reference for behavior in Gayo social life. The Implementation of sumang culture towards restoration of Gayo community character is very relevant, because it is spiritual and oriented to morality al-karîmah, maintaining self-esteem, family and social dignity. Self-esteem called mukemel means "have a sense of shame". The author concludes that sumang culture plays an important role in restoring the culture of society to be more noble character when applied in the whole life of the community. This sumang culture contains the social behavour of association, then gives value to the action, which becomes the standard in Gayo people's social life in Aceh. Kata Kunci: budaya sumang, Aceh, Gayo, budaya, karakter
RESISTENSI ULAMA DAYAH ACEH TAMIANG TERHADAP HAK-HAK PEREMPUAN DALAM KHI Muhammad Nasir
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 41, No 1 (2017)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v41i1.358

Abstract

Abstrak: KHI menurut beberapa kalangan sebagai wujud pembaharuan hukum Islam di Indonesia yang juga diklaim sebagai hukum yang banyak membela hak-hak perempuan, sekalipun masih ada kalangan yang berpendapat sebaliknya. Tulisan ini mengkaji bagaimana respons Ulama Dayah Aceh Tamiang terhadap pemberlakuan Kompilasi Hukum Islam (KHI), khususnya yang terkait dengan hak-hak kaum perempuan yang diatur dalam masalah pencatatan nikah, keabsahan talak dan harta bersama. Tulisan ini berangkat dari penelitian yang dilakukan terhadap Ulama Dayah Aceh Tamiang dengan menggunakan metode interviu dan observasi. Ada tiga teori yang dipergunakan dalam menganalisis data penelitian ini, yakni; Teori Relasi Negara dan Agama, Teori Otoritas Ulama dan Negara, dan Teori Concervative Turn. Penulis menemukan bahwa penentangan Ulama Dayah terhadap KHI dapat diidentifikasi pada dua tingkatan. Pertama, mereka tidak sependapat dengan beberapa aspek dari KHI seperti; pendaftaran pernikahan, harta kekayaan bersama dan prosedur hukum perceraian. Kedua, secara faktual bahwa Ulama Dayah tidak sepenuhnya terlibat dalam proses penyusunan rancangan naskah KHI tersebut. Abstract: The Resistance of Ulama Dayah Aceh Tamiang Against Women’s Rights in Compilation of Islamic Law (KHI).This article provides the latest information on how the Ulama Dayah Aceh Tamiang's response to the implementation of the Compilation of Islamic Law (KHI), particularly related to women's rights regulated in the issue of marriage registration, the validity of divorce, and joint property. This paper is based on research  conducted on Dayah Aceh Tamiang Ulama by using interview and observation method. There are three theories used in analyzing this research data, namely; theory of relations of state and religion, theory of ulama and state authority, and theory of conservative turn. The finding of this article reveals that the resistance of the Ulama Dayah against KHI can be identified in two levels. Firstly, they disagreed with some aspects of KHI in such as marriage registration, joint property, and divorce legal procedures. Secondly, the fact that Ulama Dayah were not involved in the process of legal drafting of the KHI.                                                                                Kata Kunci: KHI, ulama dayah, hukum, keluarga, wanita
ETIKA ISLAM DALAM RANAH POLITIK: Respon dan Tinjauan Kritis Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah Provinsi Jambi terhadap Penyelenggaraan Pilkada Langsung, 2005-2015 Maulana Yusuf; Bahrul Ulum; M. Rusydi; M. Ishak
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 41, No 1 (2017)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v41i1.306

Abstract

Abstrak: Tulisan ini menelisik dampak Pilkada dan evaluasi kritis NU dan Muhammadiyah Jambi terhadap Pilkada langsung (2005-2015). Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data di lapangan berupa wawancara dan dokumentasi. Data-data dianalisis dengan menggunakan analisis hermeneutik dan fenomenalogis: Dari studi di lapangan didapatkan bahwa Pilkada langsung telah menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat, karena itu NU dan Muhammadiyah memandang penting untuk meninjau dan memberikan catatan kritis. Pertama, penyelenggara Pilkada harus objektif, amanah, adil, dan transparan. Kedua, masyarakat pemilih harus  menggunakan hak pilihnya secara bertanggung jawab dan menghindari money politic. Ketiga, Calon kepala daerah harus bersaing secara sehat, dan bersikap ksatria; siap kalah dan menang. Keempat, semua pihak dapat menghindari adanya  black campaign, dan pembunuhan karakter pada pihak pesaing. Kelima, semua pihak harus mengikuti aturan-aturan Pilkada secara konsisten dan senantiasa menempatkan nilai-nilai agama dan moral masyarakat menjadi pedoman dan penuntun. Abstract: Islamic Ethics in the Realm of Politics: Response and Critical Review of Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah of Jambi Province Against the Implementation of Direct Elections (2005-2015). This paper reviews the impacts of election and the critical evaluations of NU and Muhammadiyah of Jambi against the direct elections during 2005-2015.This research uses field data collection techniques such as interviews and documentation. The Data obtained are analyzed by using hermeneutical and fenomenalogal analysis. The research found that the direct elections have negative impact on the people. Therefore, the NU and Muhammadiyah have considered to review and to provide critical notes; (i) The organizers of the elections must be objective, trustworthy, fair, and transparent. (ii) Voters should use their rights responsibly and avoid money politics, (iii) The candidates of the regional leaders must compete fairly, and be ready and gentleman whether they lose or win, (iv) All parties must avoid black campaign and character assassination to other competitors, (v) All parties must follow the rules of the election consistently and put religious (Islamic) values and public norms as guidance. Kata Kunci: Indonesia, Jambi, Melayu, NU, Muhammadiyah, etika, politik
ISLAM, PATRON SOSIAL, PSEUDO IDENTITAS MASYARAKAT PERKOTAAN DI KOTA MEDAN Muhammad Habibi Siregar
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 41, No 2 (2017)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v41i2.401

Abstract

Abstrak: Kota Medan memiliki masyarakat yang relatif heterogen sehingga sangat diperlukan kesadaran yang tinggi untuk menjaga kondusivitas wilayah ini. Pluralitas bisa dianggap sebagai potensi bukan ancaman terhadap disintegrasi bangsa. Ada dua opsi yang ditawarkan dalam kegiatan yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat yaitu dengan melakukan melting pot dan non-melting pot. Keduanya memiliki keunggulan maupun kelemahannya masing-masing. Pola pertama biasanya diterapkan pada kelompok masyarakat yang memiliki latar belakang yang sangat berbeda sehingga dibutuhkan satu bentuk identitas baru yang mengikat semua elemen masyarakat yang ada di dalamnya. Sistem ini  dilatar belakangi oleh semangat menumbuhkan nasionalisme baru karena warganya berasal dari berbagai bangsa. Pola kedua lebih bersikap akomodatif terhadap nilai-nilai primordialisme warganya. Sistem ini berusaha menciptakan masyarakat memberi kebebasan kepada warganya untuk tetap mempertahankan identitas asal warganya selama tidak mengganggu kepentingan nasional secara umum. Abstract: Islam, Social Patron, Pseudo Identity of Urban People in Medan City. Medan city has a relatively heterogeneous society so it is highly commended to maintain the condition of this region. Plurality can be regarded as a potential not a threat to the disintegration of the nation. There are two options offered in activities related to community empowerment namely; by doing the melting pot and non-melting pot both have their own advantages and disadvantages. The first pattern is usually applied to groups of people who have very different backgrounds so that it takes a new form of identity that binds all elements of society in it. This system is based on the spirit of growing new nasioanalisme because citizens come from various nations. The second pattern is more accommodative to the values of its citizens primordialism. This system seeks to create a society giving freedom to its citizens to retain the identity of their citizens as long as it does not interfere with the national interest in general. Kata Kunci: etnisitas, Islam, melting pot, patron sosial, social identity
AKULTURASI NILAI BUDAYA MELAYU DAN BATAK TOBA PADA MASYARAKAT MELAYU KOTA TANJUNGBALAI ASAHAN Mailin Mailin
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 41, No 1 (2017)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v41i1.328

Abstract

Abstract: This paper attempts to analyze the acculturation process of Malays and Toba Batak cultures in Asahan Tanjungbalai, and to what extent the Sultan of Asahan influenced the process of acculturation. This study uses descriptive qualitative research method. The findings of this research showed that the process of acculturation Malay and Muslim Toba Batak culture in the city emerged from the government of Tanjungbalai Sultan Asahan I who ruled in the city before the independence era of the Republic of Indonesia. Religious leaders (ulama) and traditional leaders also played a role in the acculturation process of Malay cultural values in Tanjungbalai, especially in the Batak Toba ethnic Muslim milieu. Acculturation between these two cultures gave birth to a Malay culture which led to a different characteristic to the Malay culture in the archipelago. The author affirms that Malays in the city, by nature, tends to be tough in character as a result of Toba Batak ethnic character. Abstrak: Acculturation of the Malay and Toba Batak Cultural Values on Malay Societies in Tanjung Balai City Asahan North Sumatra. Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang bertujuan untuk mengetahui proses akulturasi budaya Melayu dan Batak Toba di Tanjungbalai Asahan, serta seberapa besar pengaruh Sultan Asahan dalam proses akulturasi budaya Melayu dan Batak Toba di Asahan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses akulturasi budaya Melayu dan budaya Batak Toba Muslim di kota Tanjungbalai berawal  dari  pemerintah Sultan Asahan I yang memerintah di kota Tanjungbalai sebelum kemerdekaan  Negara Republik Indonesia. Tokoh agama (ulama) dan tokoh adat juga turut berperan dalam  proses akulturasi nilai budaya Melayu di Kota Tanjungbalai, khususnya pada etnis Batak Toba Muslim. Akulturasi antar dua budaya ini melahirkan sebuah budaya Melayu yang memiliki ciri khas yang berbeda dengan budaya Melayu di Nusantara. Melayu di kota ini memiliki sifat serta karakter yang cenderung kasar dan keras, seperti karakter etnis Batak toba. Kata Kunci: Melayu, Batak Toba, Kesultanan Asahan, Islam
POLA KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA DALAM PERSPEKTIF FORUM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA (FKUB) SUMATERA UTARA Manshuruddin Manshuruddin
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 41, No 2 (2017)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v41i2.400

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk memahami dinamika pola kerukunan umat beragama (religious harmony) FKUB di Sumatera Utara. Untuk mengungkap hal itu, penelitian ini menggunakan pendekatan phenomenologic-interpretif, dengan meng-gunakan teknik pengumpulan data pada FGD (Focus Group Discussion). Penelitian ini mengajukan beberapa temuan. Pertama, idealita kerukunan yang dibangun oleh FKUB Sumut berpijak pada pola kerukunan non-pluralisme agama, yang berarti bahwa truth claim pada masing-masing agama tidak bisa disamakan karena memiliki landasan teologis yang berbeda. Namun dalam konteks sosial, kebenaran teologis tersebut tidak boleh dipaksakan kepada orang lain, dan setiap individu beragama harus mampu bekerjasama untuk kepentingan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kedua, dalam penerapannya, FKUB Sumatera Utara melakukan dialog teologis, interaksi sosial, advokasi dan regulasi serta dialog interaktif.Abstract: The Pattern of Religious Harmony in the Perspective of Religious Harmony Forum of Sumatera Utara. This study aims to analyze the dynamics of the harmony of the FKUB (Religious Harmony Forum in North Sumatra). This study uses a phenomenologic-interpretive approach, using data collection techniques in FGD (Focus Group Discussion). This research finds that: First, the ideal of harmony established by FKUB of North Sumatra is based on the pattern of religious non-pluralism harmony, in a sense that the claim of truth in each religion can not beequated because it has a different theological foundation. But in the social context, such theological truths should not be imposed on others, and every religious individual must be able to work together for the benefit of society, nation and state. Second, in its application, FKUB of North Sumatra conducts theological dialogue, social interaction, advocacy and regulation and interactive dialogue.Keywords: agama-agama, kerukunan, pluralisme, FKUB, Sumatera Utara