cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman
ISSN : 08520720     EISSN : 25023616     DOI : 10.30821
MIQOT: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman is a peer reviewed academic journal, established in 1976 as part of the State Islamic University of North Sumatra Medan (see: video), dedicated to the publication of scholarly articles in various branches of Islamic Studies, by which exchanges of ideas as research findings and contemporary issues are facilitated. MIQOT is accredited as an academic journal by the Ministry of Education and Culture, Republic of Indonesia (SK Dirjen Dikti No. 040/P/2014) valid through February 2019. Miqot welcomes contributions of articles in such fields as Quranic Studies, Prophetic Traditions, Theology, Philosophy, Law and Economics, History, Education, Communication, Literature, Anthropology, Sociology, and Psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 364 Documents
TAFSIR TARJUMÂN AL-MUSTAFÎD KARYA ‘ABD AL-RAUF AL-FANSHURI: Diskursus Biografi, Kontestasi Politis-Teologis dan Metodologi Tafsir Arivaie Rahman
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 42, No 1 (2018)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v42i1.419

Abstract

Abstrak: Artikel ini mengkaji tafsir Tarjumân al-Mustafîd karya ‘Abd al-Rauf al-Fanshuri. Penelitian ini difokuskan pada surah al-Fâtihah dan surah al-Baqarah yang menghabiskan setidaknya lima puluh halaman dari tafsir Tarjumân al-Mustafîd. Pendekatan deskriptif dan kuantitatif dalam penelitian ini sangat perlu dilakukan untuk menggapai hasil yang tepat sesuai dengan fakta dan realitas yang ada. Tafsir ini ditulis ketika ‘Abd al-Rauf menduduki jabatan mufti di kerajaan Aceh yang waktu itu dipimpin oleh empat orang sultanah secara bergantian. Meskipun begitu, hampir dapat dikatakan nuansa politis itu tidak meresap ke dalam penafsirannya. Sisi keunikan tafsir ‘Abd al-Rauf ini, ia sangat kontiniu dalam menggunakan kata kunci tertentu untuk mengawali sebuah penafsiran, ditambah lagi dengan bahasa dan aksara yang melekat dalam tafsir semakin menambah kekayaan khazanah tafsir Nusantara yang jarang dimiliki oleh tafsir lain.Abstract: ‘Abd al-Rauf al-Fanshuri’s Tarjumân al-Mustafîd: Biography, Political and Theological Contestation and Tafsir Methodology. This article is an attempt to provide insight to the reader on the interpretation of Tarjumân al-Mustafîd by ‘Abd al-Rauf al-Fanshuri focusing on the sura al-Fâtihah and sura al-Baqarah which consumes at least fifty pages of the Tarjumân al-Mustafîd tafsir. This commentary was written when ‘Abd al-Rauf assumed the position of mufti in the kingdom of Atjeh, which was then led by four sultanahs in turn, although, it is almost arguable that the political nuance did not seep into his interpretation. The unique aspect of the interpretation of ‘Abd al-Rauf, he constantly uses certain keywords to start an interpretation, coupled with the language and script inherent in the interpretation increasing the wealth of the wealth of interpretation of the Nusantara that is rarely owned by other exegetes.Kata Kunci: Nusantara, Aceh, tafsir, ‘Abd al-Rauf al-Fanshuri, Tarjumân al-Mustafîd
CILUKBA: Popular Learning dan Akhlak Inklusif dalam Majalah Anak Islam Okta Nurul Hidayati
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 42, No 1 (2018)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v42i1.500

Abstract

Abstrak: Tulisan ini merupakan upaya untuk memahami pola pendidikan Islam sehari-hari dalam rubrik majalah Cilukba. Pendidikan Islam yang diajarkan di sekolah selama ini cenderung dengan doktrinasi buku-buku pelajaran. Sementara di luar sekolah, media populer berkembang pesat seperti Cilukba sebagai representasi majalah anak Islam yang inklusif yang dapat menjadi alternatif media pembelajaran keseharian untuk anak-anak. Namun, di sisi lain majalah Cilukba dapat mengkonstruksi doktrin baru bagi anak. Tulisan ini menggunakan pendekatan diskriptif kualitatif dengan teknik analisis konten majalah Cilukba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa majalah Cilukba berisi materi-materi pembelajaran Islam keseharian seperti pembela-jaran adab, akhlak dan keteladanan yang tergambarkan dalam rubrik-rubrik dalam majalah, dengan tampilan desain yang modern. Penelitian ini menyimpulkan bahwa majalah Cilukba mengkonstruksi pendidikan melalui visualisasi idealisme Islam. Pemahaman terhadap isi rubrik Cilukba memberikan edukasi alternatif yang ber-gandengan tangan dengan pendidikan formal Islam di Indonesia.Abstract: Cilukba: Popular Learning and Inclusive Character in Muslim Child Magazine. This paper is an effort to understand the pattern of daily Islamic education Cilukba magazine. Islamic education in Indonesia has continuously taught students in the schools by providing the doctrines of textbooks, whereas popular media significantly increases such as Cilukba that represents Islamic children magazine. On one hand, the existence of Cilukba magazine can be an alternative media for daily learning for children, on the the other hand, however, it might construct a new doctrine for children. This paper uses a qualitative descriptive approach with content analysis techniques Cilukba magazine. The results showed that Cilukba magazine contains daily Islamic learning materials, such as learning adab, morals and exemplary are described in the rubrics in the magazine, with a modern design look. The author argues that Cilukba magazine constructs education through visualizing of Islamic idealism. In addition, Cilukba rubrics provides an alternative education which run hand in hand with formal Islamic education in Indonesia. Kata Kunci: pendidikan, majalah, anak, agama, akhlak
WACANA ISLAMOPHOBIA DAN PERSEPSI TERHADAP ISLAM INDONESIA MELALUI STUDI BAHASA DI KALANGAN MAHASISWA POLANDIA Jauharoti Alfin; Ach. Muhibbin Zuhri; Zudan Rosyidi; Dorotea Moni Stelmachowska
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 42, No 1 (2018)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v42i1.547

Abstract

Abstrak: Artikel ini mengkaji persepsi mahasiswa Adam Mickiewicz of University tentang Islam di Indonesia. Pengetahuan menjadi variabel yang berperan dalam mempersepsikan Islam di Indonesia melalui proses perkuliahan BIPA. Melalui keterampilan berbahasa Indonesia, mahasiswa ini memiliki kemampuan memperoleh informasi yang pada akhirnya membentuk pengetahuan tentang Islam Indonesia. Kombinasi antara pengetahuan dan bahasa inilah yang menjadikan ide dan gagasan mereka tentang Islam di Indonesia, baik lisan maupun tulisan, dapat terbaca dan dianalisis oleh penulis. Secara implisit ancangan analisis wacana kritis digunakan sebagai kerangka untuk mengembangkan tulisan ini. Pendekatan ini menempatkan teks berbahasa tidak dalam kerangka interpretif namun lebih bersifat kontekstual.Abstract: Islamophobia Discourse and Perceptions of Indonesian Islam Through Language Studies among Polish Students. This article analyzes the perception of Adam Mickiewicz of University students about Islam in Indonesia. Knowledge becomes a variable that plays an important role in perceiving Islam in Indonesia through BIPA lecture process. With Indonesian language skills, this student has the ability to obtain information that ultimately forms the knowledge of Indonesian Islam. The author analyzes the combination of knowledge and language both oral and written that he claims to have contributed to the creation of ideas as well as ideas about Islam in Indonesia. The Critical Discourse Analysis is implicitly used as a framework for developing this paper. This approach places language texts not in an interpretive framework but rather in a more contextual character.Kata Kunci: Islamophobia, Islam Indonesia, mahasiswa Polandia
KONSTELASI KUASA TUBUH PEREMPUAN DALAM PENGUJIAN UUP NO. 1 TAHUN 1974: Analisa Dekonstruksi Pemikiran Islam Mohammed Arkoun Masthuriyah Sa'dan
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 42, No 1 (2018)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v42i1.402

Abstract

Abstrak: Tulisan ini merupakan kajian atas penjelasan Majelis Ulama Indonesia ketika pengajuan uji materi UUP No. 1 tahun 1974 ke Mahkamah Konstitusi untuk merevisi usia minimum perkawinan perempuan dari 16 tahun menjadi 18 tahun. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana mendekonstruksi keterangan MUI dalam pengujian UUP No. 1 Tahun 1974. Kajian dalam tulisan ini adalah kajian pustaka dan menggunakan pendekatan epistemologi Islam analisa dekonstruksi Mohammed Arkoun. Hasil kajian menemukan bahwa alasan MUI terkait konsep balig yang merupakan pandangan fikih Imam Syâfi‘i memiliki dua maksud keinginan, yaitu keinginan yang tidak terkatakan oleh institusi MUI adalah laki-laki ingin menjadi yang superior di atas perempuan. Sedangkan keinginan yang terkatakan adalah MUI membawa argumentasi agama dalam hal ini fikih Imam Syâfi‘i untuk menguatkan pandangan dalam penjelasan uji materi di Mahkamah Konstitusi. Abstract: The Constellation of Woman Power in Judicial Review of Marriage Law No. 1 of 1974: Constructional Analysis of Mohammed Arkoun’s Islamic Thought. This paper analyzes about Indonesian Ulama Council explanation in testing a judicial review of UUP No. 1 of 1974 to the Constitutional Court to revise the minimum age of women marriage from 16 years to 18 years. The formulation of the problem in this research is how to deconstruct MUI information in the testing of UUP No. 1 of 1974. The study in this paper is a literature review using the Islamic epistemology approach of deconstruction analysis Mohammed Arkoun. The study finds that the reason for the MUI related to the concept of bâligh which is the view of fiqh of Imam Shâfi‘i has two intentions. First, the unspeakable desire by the institution of the MUI that men want to be superior over women. Second, while the stated wish is that MUI brings religious argument in this case uses Imam Shâfi‘i’s fiqh to strengthen the view in the explanation of material testing in the Constitutional Court.Kata Kunci: perempuan, Arkoun, MUI, hukum, undang-undang
PESANTREN DAN PENDIDIKAN KEBANGSAAN: Studi Tentang Buku al-Difâ‘ ‘ani al-Wathân min Ahammi al-Wâjibât ‘ala Kulli Wâhidin Minnâ Karya Kiai Muhammad Said Rustam Ibrahim
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 42, No 1 (2018)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v42i1.489

Abstract

Abstrak: Kelompok radikal kerap menyerang ormas Islam yang tidak sependapat dengan mereka, termasuk pesantren. Pemahaman kebangsaan pesantren dengan kaum radikal bertolak belakang. Kaum radikal anti nasionalisme, sedangkan pesantren sangat erat dengan nasionalisme. Dalam hal ini, Pesantren Lirboyo memiliki sebuah kitab yang berjudul al-Difâ‘ ‘ani al Wathân min Ahammi al-Wâjibât ‘ala Kulli Wâhidin Minnâ. Tulisan ini merupakan hasil penelitian tentang konsep, aplikasi, dan urgensi pendidikan kebangsaan pada kitab tersebut. Berdasarkan penelitian, konsep pendidikan kebangsaan adalah media dan sarana untuk menjaga persatuan dan kesatuan NKRI. Aplikasi pendidikan kebangsaan adalah menerapkan kaidah pendidikan kebangsaan, yaitu memperkokoh persatuan, memperkuat keamanan, menegakkan kemaslahatan, dan menanamkan rasa cinta tanah air.Abstract: Pesantren and Education of Nationality: Study Against al-Difâ‘ ‘ani al Wathân min Ahammi al-Wâjibât ‘ala Kulli Wâhidin Minnâ by Kiai Muhammad Said. Radical group often attacks against Islamic organizations that disagree with them, including pesantren. The understanding of pesantren with radical groups in the concept of nationality is contradictory. Radical group is anti nationalism, while pesantren is very close with nationalism. In this case, Pesantren Lirboyo has a book entitled al-Difâ‘ ‘ani al Wathân min Ahammi al-Wâjibât ‘ala Kulli Wâhidin Minnâ. This paper is the result of a research on the concept, application, and urgency of nationality education in the book of al-Difâ‘. Based on the research, the concept of nationality education is the media to maintain the unity of the Unitary State of the Republic of Indonesia. The application of nationality education is applying the rules of nationality education, namely strengthening unity, strengthening security, upholding benefits, and instilling a sense of loving the homeland.Kata Kunci: radikalisme, negara, politik, pendidikan, pesantren
THE PRACTICE OF HIBAH AS A SUBSTITUTE HEIR AMONG THE JAVANESE FAMILY Sukiati Sukiati
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 42, No 1 (2018)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v42i1.552

Abstract

Abstract: This paper is an attempt to discuss the tradition of bequest or hibah as an inheritance, in which the wealth is distributed before the parents passed away among Javanese Family in Selesai Langkat. Data collection used qualitative method and phenomenology approach. Data analysis used descriptive analysis. The data from the field was collected, processed, reduced and then concluded. It is concluded that there are three patterns of giving hibah: the first, the treasure is granted entirely to the heirs before the heirs passed away. The surviving heir is usually set aside for living expenses and needs. The heir is usually living with the youngest child called, the ‘ragil.’ When he dies, the child who tookcare will inherit the wealth. Second, inheritance is distributed after the heir dies. Third, families who are prosperous in terms of economics usually give grants to all children in the form of fields and houses.Abstrak: Praktik Hibah sebagai Ahli Waris Pengganti di Kalangan Masyarakat Jawa. Tulisan ini bertujuan mendiskusikan tradisi memberikan hibah sebagai harta warisan, di mana pewaris sendiri belum meninggal dunia, di kalangan Masyarakat Jawa Selesai Langkat. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data dianalisis secara deskriptif. Data dari lapangan dikumpulkan, diolah, direduksi dan ditarik kesimpulan. Tulisan ini menyimpulkan terdapat tiga pola pemberian hibah sebagai pengganti harta warisan. Pertama, harta dihibahkan seluruhnya kepada ahli waris sebelum pewaris meninggal dunia. Bagian pewaris yang masih hidup biasanya disisihkan untuk biaya hidup dan kebutuhannya. Pewaris biasanya tinggal bersama anak ragil (bungsu). Bila ia meninggal dunia, maka anak yang merawatnya inilah yang mewarisi bagiannya. Kedua, harta warisan dibagikan setelah pewaris meninggal dunia. Ketiga, keluarga yang cukup sejahtera dari segi ekonomi biasanya memberi hibah kepada semua anaknya berupa ladang dan rumah.Keywords: Islamic jurisprudence, hibah, substitute heirs, inheritance, Java family
RE-INTERPRETASI PEMIKIRAN UKHUWWAH SAYYID QUTHB Arsyad Sobby Kesuma
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 42, No 1 (2018)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v42i1.536

Abstract

Abstrak: Penelitian ini memotret kembali karakteristik pemikiran Sayyid Quthb yang diklaim sebagai seorang tokoh fundamentalis, radikal dan ekstrimis. Akan tetapi berdasarkan penelitian dengan mengambil sampel pemikirannya tentang konsep ukhuwah, klaim di atas tidaklah benar seluruhnya. Ketika mengkaji pemikirannya tentang ukhuwwah, Sayyid Quthb adalah seorang tokoh pemikir Islam yang toleran dan cinta perdamaian. Hal ini terlihat dari beberapa bentuk pemikirannya yang dianggap cukup terbuka. Pertama, menurutnya toleransi adalah unsur yang paling penting bagi terwujudnya perdamaian. Kedua, seorang mukmin apabila berpaling mereka melakukannya dengan beradab, penuh wibawa, dan penuh harga diri. Ketiga, kebebasan beragama merupakan hak asasi manusia yang karena iktikadnya itulah ia layak disebut manusia. Keempat, masalah akidah, sebagaimana dibawa oleh Islam, adalah masalah kerelaan hati setelah mendapatkan keterangan dan penjelasan, bukan pemaksaan dan tekanan. Kelima, setiap orang mukmin adalah bersaudara apapun kelompok, manhâj, atau alirannya, mereka adalah bersaudara.Abstract: The Reinterpretation of Ukhuwwah Thought of Sayyid Quthb. This research attempts to depict the thoughts of Sayyid Quthb who has always been claimed to be a fundamentalist, radical and extremist. However, based on research by taking samples of his thoughts about the concept of ukhuwah, the above claims are not entirely true. While reviewing his thoughts on ukhuwwah, he is a tolerant Islamic thinker, and a love of peace. This can be seen from some of his thoughts that are considered quite open among them. First, according to him tolerance is the most important element for the realization of peace. Second, a believer when turned away they do it with civilized self-responsibility. Thirdly, freedom of religion is a human right in which creed, one deserves to be called human. Fourth, the problem of faith, as tought in Islam, is a matter of willingness after receiving information and explanation, rather than coercion and pressure. Fifth, every believer is in a bond of brotherhood regardless of their group and mainstreams.Kata Kunci: Sayyid Quthb, fundamentalisme, radikal, ukhuwwah
EVALUASI PEMBELAJARAN DI MADRASAH DINIYAH TAKMILIYAH AWALIYAH AL WASHLIYAH DI KABUPATEN BATU BARA Rosnita Rosnita
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 42, No 2 (2018)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v42i2.578

Abstract

Abstrak: Di antara organisasi Islam yang turut berkontribusi bagi pengembangan madrasah di Indonesia adalah Al Jam’iyatul Washliyah. Dalam konteks ini, Al Washliyah mengembangkan madrasah diniyah dan jumlah lembaga yang dikelola relatif banyak secara kuantitas. Artikel ini merupakan hasil studi lapangan dengan tujuan untuk mengevaluasi pembelajaran di Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah, disingkat MDTA, yang terdapat di Kabupaten Batu Bara. Data yang diperoleh melalui kegiatan wawancara, studi dokumen dan observasi akan dianalisis dengan model analisis Miles dan Huberman. Studi ini menemukan bahwa kualifikasi sebagian pendidik masih belum memenuhi standar nasional, pendidik masih menggunakan metode pembelajaran yang konvensional, kurikulum tidak mengalami perubahan sejak lama dan tidak mengakomodir kurikulum pemerintah, sedangkan pemerintah dan masyarakat relatif kurang mendukung keberadaan madrasah. Abstract: Evaluation of Learning in Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah Al Washliyah in Batu Bara District. Among the Islamic organizations that participated in the development of madrasas in Indonesia were Al Jam’iyatul Washliyah. In this context, Al Washliyah developed madrasah diniyah (Primary School) and the number of institutions managed was relatively enormous. This article is the result of a field study with learning objectives in the Diniyah Takmiliyah Awaliyah Madrasah, abbreviated as MDTA, located in Batu Bara District. Data is obtained through interviews, document studies and observation. Such data is then analyzed by the analysis models of Miles and Huberman. The study found that the qualifications of the teacher still did not meet national standards. To put it differently, educators still used conventional learning methods, the curriculum did not change for a long time and did not accommodate government curricula, while the government and society were relatively less supportive of madrasah schools.Kata Kunci: evaluasi, pembelajaran, Madrasah Diniyah, Al Washliyah, CIPP
MUSHAF 2.0 DAN STUDI AL-QUR’AN DI ERA “MUSLIM TANPA MASJID” Muhammad Endy Saputro
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 42, No 2 (2018)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v42i2.502

Abstract

Abstrak: Sejak memasuki milenium baru, otoritas keagamaan (Islam) baru mulai berkompetisi dengan otoritas keagamaan konvensional. Ruang seperti masjid atau pesantren, mulai tergantikan dengan media-media sosial baru. Fenomena ini melahirkan sebuah generasi “Muslim Tanpa Masjid”. Tulisan ini merupakan sebuah pengantar analisis kemunculan mushaf-mushaf baru al-Qur’an. Bagaimana visualisasi mushaf yang terdapat dalam Qur’an for Women, E-Pen Reading Qur’an, I Love Qur’an, Pocket Qur’an for Mobile Phone, dan Digital Qur’an? Bagaimana pengaruh kelahiran ekspresi bentuk mushaf baru tersebut dalam studi Qur’an di Indonesia? Tulisan ini berargumen bahwa mushaf-mushaf tersebut mengekspresikan interaktivitas dalam beragama. Kajian tentang mushaf-mushaf baru al-Qur’an juga menantang studi al-Qur’an untuk mengkaji ranah-ranah baru otoritas agama dengan berbagai media barunya.Abstract: Mushaf 2.0 and the Study of al-Qur’an in the Era of “Muslim without Mosque”. Following the new millennium, new religious (Islamic) authority has creatively participated in the process of shifting the space of conventional religious authority. Such religious spaces as mosque or pesantren have gradually begun to compete with the new social media of religion. This phenomenon has simultaneously triggered the rise of new generation called Muslim Tanpa Masjid (Muslim without Mosque). This article is a preliminary effort of analyzing the birth of new mushaf al-Qur’an. How these mushaf (Qur’an for Women, E-Pen Reading Qur’an, I Love Qur’an, and Pocket Qur’an for Mobile Phone, and Digital Qur’an) visualize the new expression of religiousty? How does the rise of these mushaf give impact on the Qur’anic studies in Indonesia? This article argues that these mushaf have spontaneously offered the interactivity of reading. This finding has challenged the old style of studying Qur’an in Indonesia to explore the new avenues of contending new religious authorities.Kata Kunci: studi al-Qur’an, mushaf 2.0, Muslim tanpa Masjid, living Qur’an
MAQÂSHID SYARÎ'AH APPROACH ON THE EMPOWERMENT OF HUMAN RESOURCES IN MULYODADI VILLAGE BANTUL YOGYAKARTA Syamsuri Syamsuri; Okta Yuripta Syafitri
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 42, No 2 (2018)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v42i2.549

Abstract

Abstract: The process of community economic development by involving the community directly from planning, implementation to evaluation is a model of empowerment that raises human dignity on the real essence. The villagers is not only an object of development, but every individual is required to be involved in the whole process of empowerment. This article tries to analyze the inhibiting factors as well as solutions of empowerment program of Human Resources in Mulyodadi village. By using qualitative method and taking data through interview, observation, and documentation (triangulation). Finally this article found two factors inhibiting the empowerment of human resources that is internal and external aspects. However, these two factors can be solved with some solutions and approaches made by the government and the community.Abstrak: Pendekatan maqâshid syarî‘ah terhadap Penguatan Sumberdaya Manusia di Desa Mulyodadi Bantul Yogyakarta. Proses pembangunan ekonomi masyarakat dengan melibatkan masyarakat secara langsung mulai perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi merupakan model pemberdayaan yang memanusiakan manusia pada hakekat sebenarnya. Masyarakat desa tidak hanya menjadi objek pembangunan atau program yang bersifat top-down, melainkan setiap individu dituntut terlibat dalam seluruh proses pemberdayaan. Artikel ini mencoba menganalisis faktor penghambat sekaligus solusi program pemberdayan Sumber Daya Manusia di desa Mulyodadi. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pengambilan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi (triangulasi). Artikel ini menemukan bahwa terdapat dua faktor penghambat pemberdayaan SDM yaitu aspek internal dan eksternal. Akan tetapi kedua faktor tersebut mampu diselesaikan dengan beberapa solusi dan pendekatan yang dilakukan oleh pihak pemerintah maupun masyarakat.Keywords: maqâshid syarî‘ah, human resources, Bantul, economic development