cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
DIMENSI
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 83 Documents
Paranormal, Media, Dan Pencitraan "Magic" Politik D.Haryanto, Bangun Sentosa
DIMENSI Vol 7, No 1 (2015): Juni
Publisher : DIMENSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini merupakan bagian dari penelitian beberapa tahun lalu (2011-2012) di Jakarta.  Fenomena baru tapi lama ini menunjukkan bahwa Paranormal  memiliki peran krusial dalam perikehidupan hampir seluruh masyarakat Jakarta , termasuk kalangan terdidiknya. Paranormal menyediakan  servis  khusus dalam konteks perdagangan magic berkaitan dengan pencintraan ‘magic’  politik kepada beberapa klien terdidik yang terlibat dalam kompetisi beberapa proses pemilihan umum ( termasuk Pilkada- Pemilihan Kepala Daerah)  Deskripsi tulisan ini sangat terbantu dengan pisau analisis menggunakan konsep-konsep Kapital yang dirilis oleh Pierre Bourdieu, serta bertujuan untuk membedah pola-pola kerjasama  paranormal dan pelaku politik praktis dalam menentukan langkah-langkah politis secara magic.   Di samping itu , tulisan ini akan secara singkat dan padat memberikan gambaran bagaimana kerja media massa menjembatani relasi antara Paranormal dan pelaku politik
ANALISIS PEMETAAN SOSIAL, EKONOMI DAN KEBUTUHAN MASYARAKAT Studi Kasus: Sistem Zonasi Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu (TNKpS) pada Masyarakat Kepulauan Seribu Utara, Provinsi DKI Jakarta Budiyanti, Syamsu
DIMENSI Vol 7, No 1 (2015): Juni
Publisher : DIMENSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi pemetaan sosial dan kebutuhan masyarakat dilakukan di 3 (tiga) kelurahan yang terdapat di Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Wilayah studi adalah Kelurahan Pulau Panggang, Kelurahan Pulau Harapan dan Kelurahan Pulau Kelapa. Wilayah studi termasuk kedalam zona pemukiman Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKps). Pusat Kecamatan terdapat diantara Pulau Kelapa dan Pulau Harapan, sementara itu pusat pemerintahan kabupaten terdapat di Pulau Pramuka yang termasuk ke wilayah Kelurahan Pulau Panggang. Hasil pemetaan profil kondisi wilayah dan sosial ekonomi menunjukan bahwa wilayah studi masih memiliki ketergantungan sumber pendapatan pada sumberdaya alam pesisir terutama perikanan dan pariwisata. Kondisi wilayah penangkapan ikan tidak cukup baik karena wilayah studi merupakan tujuan wilayah penangkapan nelayan lokal dan nelayan dari luar seperti Jakarta dan Tanggerang. Kompetisi penangkapan ikan di wilayah <4 mil tinggi. Pada saat survey dilakukan masih terdapat nelayan dari Pulau Panggang dan Pulau Harapan yang menggunakan alat tangkap yang dilarang secara hukum yaitu jaring muroami. Selain kegiatan perikanan tangkap, diwilayah studi juga berkembang kegiatan budidaya laut yaitu Keramba Jaring Apung (KJA) yang dikelola oleh secara individu, kelompok maupun oleh perusahaan. Profil kebutuhan menggambarkan kebutuhan masyarakat di desa-desa studi terutama yang terkait dengan ketersediaan kebutuhan dasar. Kebutuhan dasar yang perlu mendapatkan perhatian yaitu kebutuhan terhadap pendidikan formal, sampah, kepadatan penduduk, kebutuhan nelayan dan sarana publik tambahan. Fasilitas pendidikan tersedia cukup memadai, namun yang menjadi kendala adalah jika ingin melanjutkan pendidikan pada tingkat SLTA siswa harus tinggal di Pulau Pramuka hal ini tentu saja menimbulkan biaya tambahan. Fasilitas kesehatan di wilayah studi sudah tersedia dari tingkat poskes, pukesmas sampai rumah sakit.
MEMBANGUN MADURA : STRATEGI MENUJU “MADURA MADANI” Lubis, Hisnuddin
DIMENSI Vol 8, No 2 (2015): Oktober
Publisher : DIMENSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Madura begitu dekat dengan Jawa, namun ralitanya perkembangannya sangat jauh dibandingkan dengan jawa. Empat kabupaten di Madura menempat posisi terakhir dalam kesejahteraan. Untuk itu pemerintah berupaya membangunan Madura yang dikenal dengan Paket jembatan Suramadu dan industrialisasi. Pembangunan Madura merupakan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Madura. Dalam perspektif penulis, kesejahteraan ekonomi dan sosial Madura semakna dengan istilah  “Madura Madani” yaitu terciptanya kondisi Masyarakat Madani di Madura.  mensejahterakan masyarakat madura secara ekonomi, swasembada dalam kemandirian, serta terjaganya kelestarian budaya dan sumberdaya alam (SDA) sesuai dengan konsep awal pembangunan madura dalam trilogi alawi yaitu pembangunan yang Manusiawi, madurawi dan islamiUntuk mencapai target dan sasaran yang telah dirumuskan yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Madura, proses ini membutuhkan beberapa strategi. Pertama Peningkatan kapasitas masyarakat lokal, artinya meningkatkan kwalitas human resources melalui instritusi lokal dalam hal ini adalah pesantren. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan sinergi antara pendidikan pesantren dengan pendidikan perguruan tinggi. Selain itu untuk memperkuat posisi pesantren sendiri diperlukan inovasi kurikulum, Peningkatan Mutu Pengajar, pembinaan dan pengembangan jaringan.Kedua, pemberdayaan masyarakat lokal dan sinergi antar daerah. keberdayaan masyarakat lokal merupakan syarat utama pembangunan partisipatif maupun sustainable development. Pemberdayaan masyarakat lokal mencakup juga kesadaran masyarakat akan potensi diri, strategi pemanfaatannya untuk pembangunan.  broker strategi dan closure strategy dapat dikombinasikan sebagai sinergi antar daerah di Madura guna mencapai madura masa depan secara utuh dan merata.Ketiga optimalisasi peran peran pemerintah. Dalam hal ini peran pemerintah adalah intervensi kebijakan yang di konstruksi untuk melindungi masyarakat lokal tanpa mengurangi daya tarik madura bagi investor. Kebijakan pemerintah daerah harus protektif, dan berorientasi kepada sustainabilitas sumberdaya alam, maupun sosial masyarakat Madura. Dengan demikian “Madura Madani” masyarakat sejahtera secara ekonomi, swasembada dalam kemandirian, serta terjaganya kelestarian budaya dan sumberdaya alam (SDA) sesuai dengan konsep awal pembangunan madura dalam trilogi alawi yaitu pembangunan yang Manusiawi, madurawi dan islami dapat tercapai tanpa mengurangi daya tarik Madura bagi masyarakat Luar.
Reproduksi Kekuasaan Kyai Dan Blater Di Kabupaten Bangkalan Abdussalam, Ishaq
DIMENSI Vol 7, No 1 (2015): Juni
Publisher : DIMENSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In Madurese culture, Kiai symbolizedas someone who has adeep knowledge of religion, he is also believed as a representative prophet on earth. Discourse knowledge saminawa atho’na is a manifestation of how the figure of Kiai has a sacred meaning for the people of Madura, so that the words and actions become apatron who always followed by the public. While Blater pointing to things that dimension of violence, carok is the domain that cannot be separated with the blater. For those carok is the best way to go if their self-esteem feels to be harassed. So this blater group respected by the community and tend tobe feared because of the courage and strength.Kiai and blater in local politics of Madura are often used as a means of seizing power. This study seeks to unpack the phenomenon, such as: want to reveal the use of symbols of religious ideology (kiai) as a strategy to influence and attract the sympathy of the masses in Bangkalan elections 12-12-2012, and uncover strategies of blater is meas power presses and organizing the masses in Bangkalan elections.This study uses a critical paradigm approach to dismantle the relations of the power that inherent in the reality studied. Critical paradigm was chosen because it is believed that the reality of the struggle for power in Bangkalan elections involves cultural and political power and the economy. This paradigm always sees that reality for med over these relations.The results of this study are: a) all the symbols and identities attached to kiai used as a strategy for hegemony community by Bangkalan regent candidates. The candidates fight the owner of kiai Kholil identity to attract the sympathy of the masses, because they still have a blood descendant of kiai Kholil that was very influential in Bangkalan. b) The relation of kiai-students is an effective means of gaining support from the district level till to the villages. c) While blaterisme strategy covers two things. First, structural blaterisme and the Second, blaterisme non-structural.
Islam, Modal Sosial, Pembangunan dan Pengentasan Kemiskinan Rosyadi, Khoirul
DIMENSI Vol 7, No 1 (2015): Juni
Publisher : DIMENSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai sebuah agama, Islam memiliki segalanya. Ia bukan saja sebagai nilai-nilai spiritual. Lebih jauh Islam juga berperan sebagai modal sosial dalam pembangunan dan pengentasan kemiskinan
Strategi Adaptasi Nelayan Dan Perkembangan Modernisasi Perikanan Di Kota Baubau La Ode Abdul Munafi; Andi Tenri
DIMENSI - Jurnal Sosiologi Vol 9, No 2 (2016): November
Publisher : DIMENSI - Journal of Sociology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to decipher the patterns of adaptation strategies fishers in Baubau city in response to the demands of the modernization of the fisheries began to explore the area since the end of the decade of 1970 an.Penelitian using the data kualitatif.Pengumpulan done through interviews, observation, and conducted dokumentasi.Penelitian the fishing communities in the City Bone-Bone Baubau.Analisis data were analyzed descriptively-kualitatif.Hasil research showsthat in responding to the demands of the development of the modernization of the fisheries, the fishermen in the City Baubau generally selecting adaptation strategies. This strategy is the fishermen through motorisation boat (fleet) catch in the various types and sizes, the adoption of modern fishing gear innovation, and establish a working relationship (partnership) with modern fisheries entrepreneurs. Selection of adaptation strategies through three approaches, functionally deliver fishermen can increase productivity results, although on the other hand appears the impact thatputs them in a position exploited in the construction of a working relationship with a modern fisheries entrepreneurs.
Pengentasan Kemiskinan: Belajar Dari Kegagalan Orde Baru Hisnuddin Lubis
DIMENSI - Jurnal Sosiologi Vol 9, No 1 (2016): Juni
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/djs.v9i1.3739

Abstract

Dinamika pengentasan kemiskinan di Indonesia cukup menarik untuk dikaji. upaya mencari bentuk ideal terus menerus berproses secara dialektik guna menuju rumusan strategis yang sesuai dengan persoalan kemiskinan kontemporer. Orde baru dengan berbagai program pengentasan kemiskinannya menarik untuk dikaji sebagai pembelaran dimasa mendatang. Diantaranya Program Inpres Desa Tertinggal (IDT), Tabungan Keluarga Sejahtera (Takesra) dan Kredit Usaha Keluarga Sejahtera (Kukesra). Strategi developmentalistik, basic need serta sentralistik lebih dominan dilakukan pada masa orde baru. Ketika upaya tersebut dipertanyakan maka mucul wacana pembaharuan berbasis partisipasi (sentralistik menjadi partisipatif). Wacana empowerment menjadi alternatif ketika pendekatan developmentaslitik dinilai mengalami kegagalan. Untuk keberhasilan empowerment perlu diperhatikan prasyarat: (1)kesadaran sinergis bersama masyarakat dan pemerintah (2) Efektifitas kelompok sasaran melalui identifikasi yang komprehensif. (3) Pemisahan kelompok sasaran, miskin produktif - non produktif (4) Koordinasi dan sinkronisasi program antar instansiatau lintas sektor (5) Penataan ulang managemen fasilitator (6) Reformasi birokrasi.
Peran Perempuan Dalam Politik Faiz Dz
DIMENSI - Jurnal Sosiologi Vol 8, No 2 (2015): November
Publisher : DIMENSI - Journal of Sociology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mengukur hasil pembangunan, disamping melihat secara fisik dengan kemajuan ekonomi dan teknologi, tidak kalah pentingnya dengan bagaimana melihat tingkat kemajuan melaui kualitas pembangunan itu sendiri. Salah satunya dengan akses masyarakat dalam semua bidang, termasuk pada bidang Politik. Perempuan dalam berbagai bidang, termasuk dalam kehidupan politik masih mengalami berbagai masalah, mulai dari akses sampai pada tingkat partisipasi dalam politik yang salah satunya terlihat di parlemen. Secara nasional saja fluktuasi jumlah perempuan di DPR terjadi, secara prosentase pemilu 1999 jumlah perempuan baru 9%, meningkat 11,09% pada 2004, meningkat kembali di pemilu 2009 menjadi 17,86%, akan tetapi hasil pemilu 2014 terjadi penurunan menjadi 17,32 %. Berbagai upaya untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam politik sudah dilakukan mulai dari penguatan organisasi perempuan sampai pada upaya mereformasi hukum dengan model Affirmasi Action. Upaya ini bersifat sementara dengan membuat kebijakan yang berusaha untuk memperbaiki tindakan diskriminasi di masa lalu melalui tindakan aktif untuk menjamin terciptanya kesempatan yang setara, misalnya di dalam pekerjaan maupun pendidikan di kalangan tertentu seperti perempuan, kaum kulit hitam dan lainnya. Tentu hasilnya ada , akan tetapi belum terasa maksimal, dengan melihat fluktuasi prosentase dalam politik seperti di atas. Upaya yang lebih mengakar dalam menangani permasalahan ini merupakan kunci utamanya. Persoalan yang mendasar yang berasal dari kultural yakni budaya politik patriarkhi, dan pandangan masyarakat terhadap isu gender dalam politik merupakan budaya yang hidup da berkembang dalam masyarakat Indonesia.Sehingga dengan kultural dengan pendekatan fenomenologi dan eksistensional maka permasalahan perempuan dan politik secara pasti akan terpecahkan.
Rasialisme Media: Telaah Kritis Media Massa di Indonesia Puji Laksono
DIMENSI - Jurnal Sosiologi Vol 10, No 1 (2017): Juni
Publisher : DIMENSI - Journal of Sociology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The images in the mass media present a culture of mass that tends to be discriminatory against certain groups. Various mass cultures presented by the mass media construct a body that unilaterally imaged as the ideal body. The bodies presented by the media tend to represent races with white, straight-haired traits. The practice of mass media racism, makes us should re-question the role of the mass media who carry out the mandate to uphold the public interest. Racism is an example of how the mass media is more concerned with the market than the public interest. The ideal body construction that is represented in every opportunity such as advertising, film, soap operas, and ideal images are created to meet profit targets. The mass media must return to the basic principle for the common good, giving the same space of expression to the entire Indonesian blood spill.
Kelas Menengah Perubah “Sebuah Kontestasi Stratifikasi Dominasi Dalam Kapitalisme dan Konsumerisme” (Dalam Perspektif Teori Sosio HistorisKritis C. Wright Mills) Arie Wahyu Prananta
DIMENSI - Jurnal Sosiologi Vol 8, No 1 (2015): Juni
Publisher : DIMENSI - Journal of Sociology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Study and Discussion Middle Class in Indonesia Since the 1970's making us Startled and remind them a very central role in the class structure of the elite class and the lower class. Mengah class structure that is very dynamic and became the most influential class in the class structure Indonesia1 nation. The most influential class of bargaining structure makes it difficult to track class in the class structure of the Indonesian nation but their role is very important, and some of the events changes ranging from the collapse of the old order and the new order and the new order to the order of the reform to make the lesson for the nation that etintas and their role is to make the power of change in the state system and social structure in the community. Vagueness figure mengah class in the social structure in the community make this a decent middle-class researched and chosen as a topic there does require quite a lot of study and also an imagination in soiologi to be in perspektifkan and projected in an empirical object assumes constructed reality of objects material to be appointed as a more macro assumptions preposition. The existence of vague mengah class does not mean the absence of middle class structures etintas them, the emergence of class roles mengah be a force of change in a country makes them very central role, classification and categorization within a social structure in the community is very vague, so the need to study very deep study and empirically focused on middle-class structure, Refine concepts in a theory of the middle class by Ariel Hariyanto in a study Robinson is the middle class are some government officials, practitioners, managers in a company fund or class of educated intellectual, in the structure existing social Indonesian nation. Capitalism here as in imagine a production order in the capital penguasaaan. The need for this level of precision and mapping of capitalism in the frame in the ownership of capital.