cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Geosaintek
ISSN : 24609072     EISSN : 25023659     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Jurnal GEOSAINTEK adalah jurnal yang dikelola oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) ITS dan Departemen Teknik Geofisika ITS. Terbit pada bulan Januari-April, Mei-Agustus, dan Septermber-Desember pada setip tahunnya. Jurnal Goeaintek mempublikasi dan menerbitkan hasil kajian, penelitian, penerapan ilmu pengetahuan serta teknologi di bidang kebumian. Terbuka bagi peneliti, praktisi, serta akademisi dari berbagai lembaga.
Arjuna Subject : -
Articles 200 Documents
Zonasi Bahaya Kegempaan Akibat Patahan Aktif Di Wilayah Jawa Timur Dengan Pendekatan Deterministik Menggunakan Perhitungan Atenuasi Chiou-Youngs 2014 NGA Augustika Ratna Salsabil; Anik Hilyah; Muhammad Singgih Purwanto; M Haris Miftakhul Fajar
Jurnal Geosaintek Vol 4, No 3 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1290.215 KB) | DOI: 10.12962/j25023659.v4i3.4508

Abstract

Studi mengenai bahaya kegempaan dilakukan untuk meminimalisasi dampak dari bencana gempa bumi di wilayah rawan bencana gempa. Penelitian ini mempresentasikan analisis bahaya kegempaan dalam bentuk nilai Peak Ground Acceleration (PGA) dengan menggunakan pendekatan deterministik untuk wilayah Jawa Timur. Metode ini membuat simulasi sumber gempa patahan sehingga mendapatkan nilai PGA yang dihitung dari fungsi atenuasi terpublikasi yaitu Chio-Youngs 2014 NGA. Selanjutnya digunakan data Vs30 USGS sebagai batasan kedalaman lapisan batuan daerah penelitian. Rentang nilai PGA yang dihasilkan berkisar antara 0,0099 g m/s2 untuk nilai terendah hingga 2,0014 m/s2 untuk nilai tertinggi. Hasil analisa menunjukkan nilai PGA tinggi berada pada daerah dengan Vs30 rendah, dimana pada daerah tersebut memiliki rentang Vs30 rendah berkisar antara 180 m/s hingga 332,62 m/s. Kondisi geologi didominasi oleh sedimen alluvium meliputi kerakal, kerikil, batupasir, batulempung, lanau dan konglomerat. Wilayah ini merupakan zona rawan gempa bumi dikarenakan kondisi geologi yang memicu terjadinya amplifikasi gelombang gempa. Secara keseluruhan, daerah rawan mengalami kerusakan akibat gempa meliputi Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Gresik, Kabupaten Jombang, Kabupaten Mojokerto, Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Probolinggo
KERENTANAN PESISIR TERHADAP BENCANA TANAH LONGSOR DI BUNGUS, SUMATERA BARAT DAN SEKITARNYA MENGGUNAKAN METODE STORIE WISNU ARYA GEMILANG
Jurnal Geosaintek Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25023659.v3i1.1203

Abstract

Daerah Teluk Bungus dan sekitarnya secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Bungus - Teluk Kabung terletak pada bagian Selatan Kota Padang – Sumatera Barat merupakan salah satu kawasan yang masuk dalam zona potensi terjadi gerakan tanah tinggi hingga menengah. Tulisan ini bertujuan untuk mengklasifikasikan tingkat kerentanan daerah rawan gerakan tanah daerah pesisir Teluk Bungus menggunakan metode Storie (Storie, 1978 ; Sitorus, 1995) berdasarkan karakteristik fisik berupa tataguna lahan, kelerengan, geologi dan curah hujan setempat. Klasifikasi tingkat kerentanan gerakan tanah menggunakan metode Storie di kawasan Bungus dan sekitarnya dan menghasilkan lima tingkat kerentanan gerakan tanah, yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi. Secara umum klasifikasi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar lokasi longsor memang berada pada daerah dengan tingkat kerentanan gerakan tanah sedang hingga rendah. Kerentanan gerakan tanah di daerah penelitian dipengaruhi oleh kemiringan lereng dan litologi atau jenis tanah, serta curah hujan sebagai faktor pemicu terjadinya gerakan tanah.
Delineasi Landas Kontinen Ekstensi di Luar 200 Mil Laut melalui Penarikan Garis Hedberg dari Kaki Lereng Investigator Ridge Khomsin Khomsin; Muammar Khadafi Ashar; Arif Rahman
Jurnal Geosaintek Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.134 KB) | DOI: 10.12962/j25023659.v2i1.1228

Abstract

Indonesia, sebagai negara kepulauan (archipelagic state) menurut UNCLOS 1982 berhak untuk mengklaim wilayah maritim tertentu yang ditarik dari garis pangkal yang telah ditetapkannya. Seperti yang telah dijelaskan pada pasal 76 UNCLOS 1982, negara pantai berhak untuk melakukan pengajuan submisi untuk mengklaim batas terluar landas kontinen melebihi 200 mil laut atau yang biasa disebut dengan Landas Kontinen Ekstensi (LKE). Pengajuan klaim LKE harus berlandaskan pada metode yang telah diatur oleh CLCS (Commission on the Limits  of the Continental Shelf). Untuk itu diperlukan sebuah test/uji untuk menentukan apakah sebuah negara berhak untuk mengajukan klaim landas kontinen esktensi melebihi 200 mil laut. Pada kasus ini, data yang digunakan untuk mengajukan LKE adalah data batimetri global yang diperoleh dari Global (GEBCO) dengan akurasi 30 detik. Sedangkan data ketebalan sedimen yang digunakan adalah data sedimen global yang tersedia dalam software CARIS. Pada penelitian ini, lokasi yang diusulkan untuk studi kasus pengajuan LKE adalah sebelah barat daya Pulau Sumatera. Metode yang digunakan untuk penarikan batas LKE adalah metode Hedberg yang ditarik melalui kaki lereng Investigator Ridge. Hasil dari test yang dilakukan di wilayah ini membuktikan bahwa Indonesia dalam hal ini lokasi sebelah barat daya Pulau Sumatera berhak untuk mengajukan Landas Kontinen Ekstensi lebih dari 200 mil laut.
Analisis Inversi 2D Metode Occam Untuk Memodelkan Resistivitas Bawah Permukaan Data Magnetotellurik Satrio Budiraharjo; Widya Utama; Dwa Desa Warnana; Arif Darmawan
Jurnal Geosaintek Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25023659.v3i1.2929

Abstract

Program pengolahan data metode Magnetotellurik dikalangan mahasiswa, khususnya inversi2D sangat jarang ditemukan. Pemodelan struktur resistivitas bawah permukaan menggunakan dataMagnetotellurik umumnya saat ini menggunakan inversi 1D yang kemudian dilakukan pseudo-sectionterhadap resistivitas vertikal untuk menampilkan model dalam bentuk 2D. Untuk medium 2D solusipemodelannya menjadi lebih kompleks, dikarenakan parameter resistivitas tidak hanya bervariasiterhadap kedalaman namun juga dalam dimensi lateral. Program TGMT2D yang dibuat, menggunakanmetode inversi Occam yang ditest dengan model sintetik hasil forward modelling, dengan resistivitaslapisan pertama 50 ohm.m, lapisan kedua 1ohm.m, lapisan ketiga 100 ohm.m dan lapisan keempat 500ohm.m. Dari hasil inversi yang dilakukan didapatkan hasil yang mirip antara struktur resistivitas bawahpermukkan dengan model sintetik hingga kedalaman 4000m dari total kedalaman 6000m, dengan nilairesistivitas lapisan pertama 32-79 ohm.m, lapisan kedua 1.2-3.9 ohm.m, lapisan ketiga 2.5-79Ohm.m,dan lapisan keempat dengan 32-200 ohm.m.
Estimasi Energi Gelombang Laut Menggunakan Satelit Altimetri Jason-2 Studi Kasus: Selatan Pulau Jawa Lalu Muhamad Jaelani; Albertus Sulaiman
Jurnal Geosaintek Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (755.561 KB) | DOI: 10.12962/j25023659.v2i1.1222

Abstract

Data tinggi muka air laut (SSH) sangat diperlukan untuk mengetahui kondisi permukaan laut di suatu perairan. Dari data tersebut dapat diketahui di antaranya kontur permukaan laut dan karakteristik gelombang permukaan yang dipengaruhi angin atau gravitasi. Pengembangan energi terbarukan sangatlah penting untuk membantu pasokan listrik Indonesia yang hingga saat ini masih bergantung terhadap fossil fuel (energi tidak terbarukan). Data tinggi muka laut ini dapat membantu Indonesia sebagai negara maritim dunia untuk mengeksplorasi potensi lautnya terutama dalam bidang energi. Altimetry Radar (Radar Altimetri) adalah salah satu jenis sensor penginderaan jauh yang sedang berkembang, di mana dapat memonitor dan memetakan tinggi permukaan air laut secara akurat dan efektif. Pengolahan data titik nadir satelit altimetri dapat dilakukan di aplikasi pengolah matriks, Matlab setelah mengalami proses pengolahan awal pada software BRAT. Dalam penelitian ini dilakukan pengolahan data satelit altimetry Jason-2 pada tahun 2012, dengan hasil menunjukkan bahwa pada bulan Januari 2012, di perairan selatan Pulau Jawa, Samudra Hindia memiliki panjang gelombang dominan sebesar 2319,208 dan 4638,417  m dan periode sebesar 33,7480 dan  74,9808 sekon yang memenuhi syarat menjadi sebuah swell yaitu diantara 30-300 sekon. Terdapat 3 spot potensial yang memiliki estimasi energi gelombang laut cukup tinggi dibandingkan dengan daerah lainnya.
Determination Of Source Rock Potential Using Toc Model Log, Ngimbang Formation, North East Java Basin Yosar Fatahillah; Widya Utama; Anik Hilyah; Kukuh Suprayogi
Jurnal Geosaintek Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1054.472 KB) | DOI: 10.12962/j25023659.v2i2.1919

Abstract

Ngimbang Formation is known as one major source of hydrocarbon supply in the North Eastern Java Basin. Aged Mid-Eocene, Ngimbang is dominated by sedimentary clastic rocks mostly shale, sandstone, including thick layers of limestone (Mostly in Lower Ngimbang), with thin layers of coal. Although, laboratory analyses show the Ngimbang Formation to be a relatively rich source-rocks, such data are typically too limited to regionally quantify the distribution of organic matter. To adequately sample the formation both horizontally and vertically on a basin–wide scale, large number of costly and time consuming laboratory analyses would be required. Such analyses are prone to errors from a number of sources, and core data are frequently not available at key locations. In this paper, the authors established four TOC (Total Organic Carbon Content) logging calculation models; Passey (1990), Schmoker-Hester (1983), Meyer-Nederloff (1984), and Decker/ Density Cross plot Model (1993) by considering the geology of Ngimbang in North Eastern Java Basin. Three wells data along with its available core data was used to determine the most suitable model to be applied in the formation, as well as to compare the accuracy of these TOC model values. Cutoff value of 1.5 in deviation was applied to quantify the minimum amount of acceptable error. This cutoff value was applied based on the standardized TOC model to core deviation used for qualitative interpretation column to scaling ratio. Since, Meyer-Nederloff model couldn’t be used to determine the TOC value as other three models, this model was only used as standard comparison model.
Citra Satelit Landsat 8 + Tris Sebagai Tinjauan Awal Dari Manifestasi Panas Bumi Di Wilayah Gunung Argopura M Singgih Purwanto; Alif Al Bashri; Mochammad Harto; Yuri Syahwirawan
Jurnal Geosaintek Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25023659.v3i1.2930

Abstract

Gunung Argopura merupakan daerah yang berpotensi sebagai sumber daya panas bumi di jawa timur.Dapat dibuktikan dengan adanya manifestasi panas bumi disekitar kawasan gunung argopuro yakni sumber air panasdi daerah Tiris berada diantara gunung lemongan dan argopura. Pada makalah ini terdapat analisa manifestasi panasbumi menggunakan pengolahan data – data citra satelit LandSat 8 TRIS. Citra Satelit yang diperoleh berupa kawasanregional gunung argopuro dengan deretan gunung lainnya di jawa timur. Setelah didapatkan data citra tersebutkemudian dilakukan koreksi radiometric dan selanjutnya di komposit band data data spasialnya meliputi band 5, 6, 7dengan tujuan diperoleh false color. Hasil Interpretasinya berupa adanya manifestasi panas bumi di kawasan regionalgunung argopuro meliputi sumber air panas dan fummarol di dekat patahan pada gunung argopuro yang diperolehdari pengolahan data citra tersebut. Dengan demikian hasil penelitian dapat dimanfaatkan untuk keperluan kajianstudi manifestasi panas bumi regional gunung Argopuro.
Delineasi Landas Kontinen Ekstensi di Luar 200 Mil Laut melalui Penarikan Garis Hedberg dari Kaki Lereng Investigator Ridge Khomsin, Khomsin; Ashar, Muammar Khadafi; Rahman, Arif
Jurnal Geosaintek Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.134 KB) | DOI: 10.12962/j25023659.v2i1.1225

Abstract

Indonesia, sebagai negara kepulauan (archipelagic state) menurut UNCLOS 1982 berhak untuk mengklaim wilayah maritim tertentu yang ditarik dari garis pangkal yang telah ditetapkannya. Seperti yang telah dijelaskan pada pasal 76 UNCLOS 1982, negara pantai berhak untuk melakukan pengajuan submisi untuk mengklaim batas terluar landas kontinen melebihi 200 mil laut atau yang biasa disebut dengan Landas Kontinen Ekstensi (LKE). Pengajuan klaim LKE harus berlandaskan pada metode yang telah diatur oleh CLCS (Commission on the Limits  of the Continental Shelf). Untuk itu diperlukan sebuah test/uji untuk menentukan apakah sebuah negara berhak untuk mengajukan klaim landas kontinen esktensi melebihi 200 mil laut. Pada kasus ini, data yang digunakan untuk mengajukan LKE adalah data batimetri global yang diperoleh dari Global (GEBCO) dengan akurasi 30 detik. Sedangkan data ketebalan sedimen yang digunakan adalah data sedimen global yang tersedia dalam software CARIS. Pada penelitian ini, lokasi yang diusulkan untuk studi kasus pengajuan LKE adalah sebelah barat daya Pulau Sumatera. Metode yang digunakan untuk penarikan batas LKE adalah metode Hedberg yang ditarik melalui kaki lereng Investigator Ridge. Hasil dari test yang dilakukan di wilayah ini membuktikan bahwa Indonesia dalam hal ini lokasi sebelah barat daya Pulau Sumatera berhak untuk mengajukan Landas Kontinen Ekstensi lebih dari 200 mil laut.
APLIKASI METODE GEOLISTRIK TAHANAN JENIS UNTUK MENGETAHUI BAWAH PERMUKAAN DI KOMPLEK CANDI BELAHAN (CANDI GAPURA) rochman, juan gya
Jurnal Geosaintek Vol 3, No 2 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25023659.v3i2.2917

Abstract

Gunung Penanggungan merupakan gunung yang memiliki sejarah yang tinggi di Jawa Timur. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya candi yang mengelilingi di komplek gunung ini. Setidaknya terdapat 116 yang ditemukan. Komplek Situs belahan merupakan  salah satu komplek bangunan candi yang besar. Candi Gapura merupakan bagian pintu masuk dari komplek bangunan ini yang sebagian bangunannya masih terpendam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi bawah permukaan di komplek candi tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Geolistrik Tahanan jenis. Prinsip metode ini adalah menginjeksikan arus listrik ke permukaan tanah melalui sepasang elektroda dan mengukur beda potensial dengan sepasang elektroda yang lain. Metoda ini memanfaatkan sifat kelistrikan suatu material untuk mengetahui karakteristik dari suatu material. Jumlah lintasan yang digunakan  sebanyak 8 lintasan yang terletak di Candi Gapura A (4 lintasan) dan Candi Gapura B (4 lintasan). Dari pengkuran geolistrik didapatkan profiling resistivitas bawah permukaan tanah yang dapat mengetahui dugaan sebaran bangunan candi. Hasil intepretasi 8 lintasan secara umum dibagi dua lapisan. Pada kedalaman 0-4 meter nilai resitivitasnya 1-6 ohm meter diintepretaskan sebagai lapisan lempung. Pada lapisan ini juga terdapa nilai resitivitas 10-20 ohm meter diduga runtuhan batu bata candi. Pada  lapisan kedua dengan kedalaman lebih dar 4 meter dengan nilai resistivitas 100-150 ohm meter diduga lapisan kerkil (zona keras). Pada Batas lapisan ini (kedalaman 4 meter) diduga terdapat altar atau pelataran karena pada semua lintasan terdapat kontras nilai resitivitas tinggi dan rendah pada kedalaman yang hampir sama untuk tiap lintasan pengukuran.
Orientasi pada Pra Plotting Peta Bersistem Koordinat Lokal Terhadap Sistem Koordinat Fix (Tetap) Yuwono Yuwono; Adi Kurniawan
Jurnal Geosaintek Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.197 KB) | DOI: 10.12962/j25023659.v2i1.1226

Abstract

Untuk berbagai keperluan perencanaan dan pelaksanaan suatu pekerjaan teknis, sering peta (topografi) yang ada dikeluhkan tidak cocok. Ada berbagai penyebab ketidakcocokan peta  tersebut antara lain adalah masalah orientasi. Penggunaan orientasi sangat penting dalam sebuah peta, artinya apabila terjadi kesalahan orientasi atau arah, maka akan terjadi ketidak cocokan antara rencana dan kenyataan di lapangan. Sebagai contoh di peta diperkirakan masih berupa lahan kosong, sehingga direncanakan peruntukannya misalnya untuk perumahan, tetapi setelah dilakukan penerapan di lapangan ternyata pada daerah tersebut bukan lagi lahan kosong akan tetapi sungai. Hal ini akan mengakibatkan kesan bahwa peta tersebut tidak cocok, padahal dapat terjadi bahwa permasalahannya ada pada orientasi saja.

Page 9 of 20 | Total Record : 200