cover
Contact Name
Aqil Luthfan
Contact Email
walisongo@walisongo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
aqilluthfan@walisongo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan
ISSN : 08527172     EISSN : 2461064X     DOI : -
Core Subject : Humanities, Social,
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan is an international social religious research journal, focuses on social sciences, religious studies, and local wisdom. It is intended to communicate original research and current issues on the subject. The subject covers literary and field studies with various perspectives i.e. philosophy, culture, history, education, law, art, theology, sufism, ecology and much more.
Arjuna Subject : -
Articles 452 Documents
INDONESIA IS COMBATING CORRUPTION: A Struggle between the Extra-Ordinary Measurement and Extraordinary People Heniarti, Dini Dewi
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 24, No 2 (2016): Agama, Politik dan Kebangsaan
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.24.2.1002

Abstract

Currently, the practices of mafia of  law in Indonesia is getting more rampant. Law enforcement is very slow, many cases of corruption offenses as crimes extra ordinary crime are addressed will slow grind lower law. Ineffective of  law in Indonesia is also dependent on these factors. Primarily extraordinary people. Several law enforcement officials  are easily bribed by corrupt actors with the aim to escape punishment, or lighten their sentences. Laws are formulated to deal with corruption seem barren. Factually  Indonesia show that is still ranked below Malaysia, Singapore, and Hong Kong, as well as Vietnam and the Philippines. Outcome in the form of impacts and benefits of combating corruption unclear to this day. This paper will to describe that law enforcement combating corruption will be support by extra ordinary measure and extra ordinary people. Especially, Indonesia, a majority Muslim country in fact the largest Muslim country in the world, a large number of Islam is really potential become a leader in the combating corruption.***Praktek mafia hukum di Indonesia saat ini lebih merajalela. Penegakan hukum saat ini sangat lambat, banyak kasus tindak pidana korupsi sebagai ke­jahatan extra ordinary ditangani lambat laun akan  menggiring hukum yang lebih rendah. Tidak efektifnya hukum di Indonesia tergantung juga pada faktor-faktor ini: pejabat penegak hukum yang mudah disuap oleh pelaku korupsi dengan tujuan untuk menghindari hukuman, atau meringankan hukuman mereka; hukum yang  diformulasikan untuk menangani korupsi tampaknya mandul. Secara faktual Indonesia masih berada di bawah peringkat Malaysia, Singapura, dan Hong Kong, serta Vietnam dan Filipina dalam hal penanganan korupsi. Tulisan ini akan menjelaskan bahwa penegakan hukum dalam pemberantasan korupsi mem­butuhkan dukungan dengan tindakan luar biasa dan orang luar biasa. Terutama Indonesia, yang mayoritas penduduknya Muslim benar-benar potensial bagi kelahiran  pemimpin yang mampu memerangi korupsi.
DEMOKRASI EKONOMI DAN KONTRIBUSI EKONOMI ISLAM DALAM UNDANG-UNDANG DASAR1945 Murtadho, Ali
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 24, No 1 (2016): Ekonomi (Bisnis) Islam
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.24.1.1003

Abstract

Integration of Islamic teachings has given a significant contribution for Indonesian economic life and establishment of Indonesian basic constitution namely the Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. The founding fathers of Indonesia has elaborated the substance of economic value in the 1945's by using “economic democracy” term. Descriptive-analytical method and historical literary approach were applied in this study to explore the economic democracy in relation with the teachings of Islamic economy in the UUD 1945, especially in the discussion on social welfare. The results of study found that the democratic system of Indonesian economy is a distinctive model of economy system, while it is different from capitalist and liberal economics. The democratic system of Indonesian economy, which refers to 1945, were implemented in the form of Koperasi as an economic system. Principlly it rejects to capitalism and liberalism, while integrating the Islamic economics values. At the same time, it combines with the Indonesian economic values called “populist economy’.***Integrasi ajaran Islam  telah memberi kontribusi signifikan terhadap kehidupan ekonomi Indonesia dan pembentukan konstitusi dasar Indonesia yakni Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Substansi nilai ekonomi dalam UUD 1945 ini dielaborasi oleh para pendiri bangsa Indonesia dengan istilah demokrasi ekonomi. Dengan menggunakan metode deskriptif-analitis dan pendekatan literer historis, artikel ini mengeksplorasi demokrasi ekonomi dalam hubungannya dengan ajaran ekonomi Islam dalam UUD 1945, terutama pada pembahasan pasal yang terkait dengan kesejahteraan sosial. Hasil kajian ini menemukan bahwa sistem demokrasi ekonomi Indonesia merupakan model ekonomi yang khas Indonesia, dan berbeda dengan sistem ekonomi kapitalis dan liberalis. Sistem demokrasi ekonomi Indonesia yang mengacu pada UUD 1945 kemudian diimplementasikan dalam bentuk sistem ekonomi koperasi. Sistem ekonomi ini secara prinsip menolak kapitalisme dan liberalisme Barat, dan mengintegrasikan nilai-nilai ekonomi Islam. Pada saat yang sama, dipadukan dengan nilai-nilai ekonomi masyarakat Indonesia, yakni ekonomi kerakyatan.
Maintaining Employees’ Morality to Improve Internal Control in the Sharia Microfinance Institution Mukhibad, Hasan
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 25, No 2 (2017)
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.25.2.1924

Abstract

Problems of fraud committed by a company’s internal party are hitherto still problematic to figure out, including in sharia microfinance institutions. This research examines the benefit of maintaining employees’ morality for the improvement of internal control in sharia microfinance institution. The object of this research is Anda BMT (sharia microfinance institution in Indonesia). The research uses a qualitative method. The data were obtained by interviewing the managers and twenty employees, and also through field observations for four months. The result of this research shows that the management needs to improve the employees’ morality as it is the key element to prevent fraud act. The efforts made to improve the employees’ morality are like praying together, joining a program of Islamic study once a week, and targeting all employees to read the Quran at least One Day One Juz (ODOJ). Islamic religious activities should be applied to sharia financial institutions in order to improve the employees’ morality and to diminish the act of fraud. It is because the employees who properly carry out Islamic religious activities may reduce the potency of fraud.Masalah kecurangan (fraud) yang dilakukan oleh pihak internal perusahaan masih menjadi masalah yang sulit dipecahkan sampai saat, termasuk di dalamnya adalah lembaga keuangan syariah. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi model mengembangkan lingkungan pengendali yang digunakan untuk meningkatkan efektifitas sistem pengendalian internal. Obyek penelitian ini adalah BMT Anda. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif. Data dikumpulkan dengan metode wawancara dan pengamatan di lapangan selama 4 bulan. Narasumber penelitian adalah manajer, dan 20 karyawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen memiliki komitmen bahwa etika karyawan merupakan elemen kunci untuk menghindari kecurangan. Upaya untuk menjaga etika karyawan, manajemen mewajibkan karyawan untuk melaksanakan salat berjamaah (Dhuhur dan Asar), mengikuti kegiatan pengajian seminggu sekali, dan menargetkan semua karyawan untuk membaca Alquran setidaknya satu hari satu juz (One Day One Juz - ODOJ). Pelaksanaan kegiatan keagamaan Islam harus diterapkan pada lembaga keuangan syariah dalam upaya meningkatkan etika karyawan, selanjutnya akan mengurangi potensi kecurangan. Hal ini dikarenakan karyawan yang melaksanakan kegiatan keagamaan secara benar bisa mengurangi potensi kecurangan.
Muslim Immigrants in the Early 20th Century America: Some Have Forsaken, While Others Preserved Their Identity Bhuiyan, Haider A
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 25, No 2 (2017)
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.25.1.1882

Abstract

This article explores the challenges that immigrant Muslims faced in pre-1965 America in their efforts to find acceptance within the American host society. To understand this phenomenon I have used the ethnographic methods of research and collecting data focusing on a Palestinian Muslim family (Abukhdeir) who came to America in 1910 and settled in Provo, Utah as Kader family and adopted Mormonism. As such, this article demonstrates that the identity crisis of early generation Muslim immigrants resulted in the following consequences: (1) Who assimilated to the prevailing American melting pot culture of mainstream society, including converting to American religions; (2) Who did not assimilate, rather escaped the pressure of assimilation by returning to their home countries and resettled there without coming back to live in America; and (3) Who both assimilated and preserved their Islamic identities, as they were the children of returnees, which coincided with the wake of multiculturalism in America in the late 1960s. These grown-up children of the returnees then shared the new process of assimilation into the multicultural America, replacing melting pot culture, and affiliated with the fastest growing Muslim communities.Artikel ini membahas tantangan yang dihadapi imigran Muslim di Amerika pra-1965 untuk diterima oleh masyarakat Amerika. Untuk memahami fenomena ini, penelitian ini menggunakan metode etnografi dan mengumpulkan data yang berfokus pada keluarga Muslim Palestina, Abukhdeir, yang datang ke Amerika pada tahun 1910 dan menetap di Provo, Utah sebagai keluarga Kader lalu mengadopsi Mormonisme. Artikel ini menunjukkan bahwa krisis identitas imigran Muslim generasi awal menghasilkan konsekuensi berikut: (1) Berasimilasi dengan budaya Amerika, yang berlaku di masyarakat mayoritas, termasuk beralih ke agama-agama Amerika; (2) Tidak berasimilasi, keluar dari tekanan asimilasi dengan kembali ke negara asal mereka dan bermukim di sana tanpa harus tinggal di Amerika; dan (3) Berasimilasi dan mempertahankan identitas Islam, sebagai keturunan dari para imigran yang kembali, bersamaan dengan menguatnya multikulturalisme di Amerika pada akhir 1960an. Keturunan dari para imigran yang kembali ini kemudian membentuk proses asimilasi baru dalam budaya multikultural Amerika, menggantikan budaya peleburan “melting pot”, dan berafiliasi dengan komunitas Muslim yang berkembang dengan cepat.
Religious Freedom and the Idea of Establishing Islamic State Hapsin, Abu
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 25, No 1 (2017)
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.25.1.1329

Abstract

The idea of Gamwell on“religion as rational” was based on the concept that religious freedom is nothing other than a political discourse that can be figured out only through a democratic resolution. Changing paradigm from “religion as non-rational” to “religion as rational” is a necessary condition for entering a public debate. Yet, the sole public debate or public view is not enough to solve the modern political problematic. The public debate must be guided by a constitutional procedure affirmed by the body politic so that it fulfills the criteria of formal claim about justice. Applying qualitative research and literature review this research tried to reveal: Gamwell’s idea of religious freedom, the features of the Islamic State as described by Abdul Rauf and Gamwell’s concept of religious freedom and the idea of establishing the Islamic State advocated by Abdul Rauf.Gagasan Gamwell tentang "agama itu rasional" didasarkan pada konsep bahwa kebebasan beragama tidak lain adalah wacana politik yang hanya bisa diraih melalui resolusi demokratis. Mengubah paradigma dari "agama sebagai tidak rasional" menjadi "agama sebagai rasional" adalah syarat yang diperlukan sebelum memasuki debat publik. Namun, debat publik atau pandangan publik saja tidak cukup untuk memecahkan masalah politik modern. Perdebatan publik harus dipandu oleh prosedur konstitusional yang ditegaskan oleh badan politik sehingga memenuhi kriteria klaim formal tentang keadilan. Dengan menggunakan penelitian kualitatif dan kajian pustaka penelitian ini mencoba mengungkapkan: gagasan Gamwell tentang kebebasan beragama, ciri-ciri Negara Islam seperti yang dijelaskan oleh Abdul Rauf, dan konsep Gamwell tentang kebebasan beragama, serta gagasan untuk mendirikan Negara Islam yang dianjurkan oleh Abdul Rauf.
REVISITING THE SPIRIT OF RELIGIOUS NATIONALISM IN THE ERA OF PLURALISM AND GLOBALIZATION: Reading the Text of NDP of HMI Makin, Al
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 24, No 2 (2016): Agama, Politik dan Kebangsaan
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.24.2.972

Abstract

This article is a reflection of the text of NDP (Nilai Dasar Perjuangan/Basic Principles of Struggle) text held by HMI (Himpunan Mahasiswa Islam/Muslim Student Association) as a basis of their activism struggle in Indonesia. The text consists of eight sections covering many aspects, such as theology, anthropology, sociology, and epistemology. By critical thinking, the NDP text of HMI should be transformed continuously toward an era of global diversity and plurality. In Indonesian context, there has been a fundamental change along with the democratization that brings out an openness and multi-party political system. This is important regarding that the NDP of HMI has been drafted in 1960 and 1970 when Nurcholis Madjid era faced the context of socio-political thought. The study found that the NDP of HMI is required to be changed in the context of new world order. It is not a sacred text, so the change is a necessity. *** Artikel ini merupakan refleksi dari teks NDP (Nilai Dasar Perjuangan) yang dimiliki HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sebagai dasar untuk perjuangan aktivisme mereka di Indonesia. Teks terdiri dari delapan bagian yang meliputi banyak aspek, mulai dari teologi, antropologi, sosiologi, hingga epistemologi. Dengan pembacaan secara kritis terhadap teks NDP HMI di tengah perubahan dunia global yang terus mengalami transformasi menuju era keragaman dan kemajemukan global. Pada konteks lokal Indonesia, juga telah terjadi perubahan yang mendasar seiring dengan gelombang demokratisasi yang memunculkan era keterbukaan dan sistem politik multipartai. Hal ini penting, mengingat NDP HMI disusun dalam kurun waktu antara tahun 1960 hingga 1970-an di mana era Nurcholis Madjid menghadapi konteks pemikiran dan sosial-politik pada waktu itu. Studi ini menemukan bahwa NDP HMI sudah sewajarnya memerlukan perubahan di tengah konteks dan tatanan dunia yang baru. NDP HMI bukanlah teks yang suci, sehingga perubahan adalah sebuah keniscayaan.
Empirical Facts of Educational Chances for Women in Islamic World: Past and Present Ja'far, Handoko; Rigo, Taufik
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 25, No 2 (2017)
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.25.2.1250

Abstract

This article explores educational opportunities in the early period of Islam until the 13th century, which shows the significant role of women in education. It can be argued that the role of women in education can be traced not only in certain areas of religious knowledge but also in the patronage of education and even in determining the political policy of the government. Unfortunately, compared to the next period until the 21st century, policy concerning education has recently turned to unfair treatment such as marginalization, exclusion, and even deprivation. What is surprising is that the reasons for the genitals, which deprive women of their right to participate in education, casually occurred. In other cases, socio-cultures are restricting their access to education. The factual errors on educational thoughts for woman here are explicitly used as an empirical description in this study, while its purpose is to demonstrate the shift in the treatment of female education. The result expected in this study is to reach the historical footprint of Islamic education and ensure inappropriate reasons, such as genital terms, used and abused as arguments for not allowing woman to get education.Artikel ini mengeksplorasi peluang pendidikan pada periode awal Islam hingga abad ke-13 yang menunjukkan peran penting wanita dalam pendidikan. Dapat dikatakan bahwa peran perempuan dalam pendidikan dapat ditelusuri tidak hanya di bidang pengetahuan agama tertentu tetapi juga mereka terlibat dalam patronase pendidikan dan bahkan terlibat dalam penentuan kebijakan politik pemerintah. Sayangnya, dibandingkan dengan periode berikutnya hingga pada abad ke-21, kebijakan penanganan pendidikan akhir-akhir ini berubah menjadi perlakuan tidak adil seperti marginalisasi, eksklusi, dan bahkan deprivasi. Satu hal yang mengejutkan adalah perempuan dianggap sebagai aurat dan dijadikan alasan untuk mencabut hak mereka untuk berpartisipasi dalam pendidikan terjadi begitu saja. Kasus lainnya, sosio-budaya membatasi akses perempuan untuk berpendidikan. Kesalahan faktual pada pemikiran pendidikan bagi perempuan sebagaimana tersebut, secara eksplisit digambarkan sebagai deskripsi empiris dalam penelitian ini sementara tujuan penelitian adalah untuk menunjukkan pergeseran perlakuan atas pendidikan perempuan. dengan mencapai jejak historis pendidikan Islam dan memastikan tidak tepatnya penggunaan alasan seputar aurat dan penyalahgunaannya sebagai argumen untuk tidak mengizinkan perempuan mendapatkan pendidikan.
The Potential of Religious Radicalism Movement in Banyumas Widyaningsih, Rindha; Sumiyem, S; Kuntarto, K
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 25, No 1 (2017)
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.25.1.1807

Abstract

Religious radicalism is the trigger for the occurrence of terrorism which is an extraordinary crime and an enemy of all the countries that exist in the world. Since Indonesia as a country has a high vulnerability to religious radicalism, it is important to conduct studies on religious radicalism both nationally and regionally. Knowing the level and potential of religious radicalism is a step for the creation of a comprehensive mechanism of prevention and treatment of religious radicalism. The position of Banyumas as an inter-provincial gateway becomes very strategic for radical groups to spread their ideology and mindset. The ease of inter-regional access underpinned by good supporting facilities and infrastructure is an important point of consideration for radical groups to spread their ideas. Interviews were conducted to obtain data from stakeholders who handle radicalism. the findings were elaborated with supporting literature to provide a more comprehensive result. The results of this study indicate that Banyumas has great potential for the growth and development of religious radicalism, and Banyumas people have high vulnerability to get exposed and influenced by the idea of radicalism caused by factors of religious behavior, geography, culture, technology and information development, and demography. However, so far the level of religious radicalism in Banyumas is still low because there is good cooperation between the stakeholders and the community. Radikalisme agama merupakan pemicu bagi terjadinya terorisme yang merupakan kejahatan luar biasa dan menjadi musuh semua negara yang ada di dunia. Indonesia sebagai negara yang memiliki kerawanan yang tinggi terhadap radikalisme agama penting untuk melakukan kajian-kajian mengenai radikalisme agama baik dalam tingkat nasional maupun regional. Mengetahui tingkat dan potensi radikalisme agama merupakan langkah bagi terciptanya mekanisme pencegahan dan penanganan radikalisme agama yang komprehensif. Posisi Banyumas sebagai pintu gerbang antar provinsi menjadi sangat strategis bagi kelompok-kelompok radikal untuk menyebarkan ideologi dan pola pikirnya. Kemudahan akses antar wilayah yang ditopang dengan kondisi sarana dan prasarana pendukung wilayah yang baik menjadi poin penting pertimbangan bagi kelompok radikal untuk menyebarkan pahamnya. Wawancara dilakukan untuk mendapatkan data dari stakeholder yang menangani radikalisme. Hasil temuan lalu dielabrasi dengan literatur pendukung untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Banyumas memiliki potensi besar bagi tumbuh dan berkembangnya radikalisme agama, dan masyarakat Banyumas memiliki kerentanan yang tinggi terpapar dan terpengaruh paham radikalisme yang disebabkan karena faktor perilaku beragama, faktor geografis, faktor kultural, faktor perkembangan teknologi dan informasi, serta faktor demografi. Namun demikian sejauh ini tingkat radikalisme agama di Banyumas masih termasuk rendah. Hal tersebut karena adanya kerjasama penanggulangan yang baik antara stakeholder dan masyarakat.
THE RECONSTRUCTION OF RELIGIOUS EDUCATION INTO COMMUNITY’S LEGAL LIFE Suryono, Hassan
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 24, No 2 (2016): Agama, Politik dan Kebangsaan
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.24.2.1087

Abstract

The aim of this study was to elaborate how the religious education can be implemented to the community life as the reference and norm of behavior in their life. Religious education developed in legal order remained to be needed inexplicitly. There is a tendency that the community wanted to organize their life corresponding to the religion. For making the religion to be alive, the state’s leadership and participation is needed to regulate it. The constructed religion value in community behavior manifested in legislation will ensure the presence of both law certainty and law enforcement. Thus, religion and law containing regulations and prohibitions will bind to everyone, either ordinary people or ruler. The religion becoming the universal foundation of life. So,  there should be an identification and verification of shared religion values before they are constructed to be law in the plural community life.***Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguraikan bagaimana pendidikan agama dapat diterapkan untuk kehidupan masyarakat sebagai referensi dan norma-norma perilaku dalam kehidupan mereka. Pendidikan agama dikembang­kan di tengah masyarakat hukum secara tidak eksplisit. Ada kecenderungan bahwa masyarakat ingin mengatur hidup mereka sesuai dengan agama. Akan tetapi peran serta negara tetap diperlukan untuk mengatur itu, dimana nilai-nilai agama diwujudkan dalam undang-undang, sehingga dapat dipastikan adanya kehadiran hukum agama dan hukum positif untuk tegaknya suatu tatanan hukum. Hal ini karena agama dan hukum mengandung peraturan dan larangan akan mengikat semua orang, baik orang biasa atau penguasa. Agama juga menjadi tumpuan hidup yang bersifat universal. Oleh karenanya, diperlukan identifikasi dan verifikasi terhadap nilai-nilai agama yang universal sebelum menjadi hukum yang disepakati di dalam masyarakat plural.
ANALISIS THE FIVE FORCES STRATEGY PADA AL-MUMTAZ PEDULI PONTIANAK Iqbal, Ichsan
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 24, No 1 (2016): Ekonomi (Bisnis) Islam
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.24.1.976

Abstract

This study discussed the implementation of the strategy management system on zakat management organizations 'Al-Mumtaz Peduli’ Pontianak, West Kalimantan. Using the Five Forces Strategy analysis, the researcher will see to what extent Al-Mumtaz Peduli Pontianak is able to serve its function as a zakat agency competing with other organizations. This study was a field and qualitative research. The data had been obtained through interviews and documentation. This study concludes that Al-Mumtaz Peduli recognized other zakat institutions are partners that can work together to alleviate poverty and social problems. Al-Mumtaz gives services on orphans and wish every village has a religious preacher. Al-Mumtaz Peduli always do a socialization through seminars, mass and electronic media. Relating with collection and distribution of ZISWAF funds, Al-Mumtaz always improves its services to muzaki by giving activity and financial reports socialized by a per-three months’ magazines.***Penelitian ini membahas implementasi sistem manajemen strategi pada organisasi pengelola zakat ‘Al-Mumtaz Peduli’ Pontianak, Kalimantan Barat. De­ngan menggunakan analisa Five Forces Strategy, peneliti akan melihat sejauh mana Al-Mumtaz Peduli Pontianak mampu menjalankan fungsinya sebagai organisasi pengelola zakat ditengah persaingan dengan lembaga zakat yang lain. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dan kualitatif. Sedangkan data didapatkan melalui wawancara dan dokumentasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Al-Mumtaz Peduli memandang organisasi pengelola zakat yang lain adalah mitra, supaya dapat bersinergi dalam mengentaskan kemiskinan social problem. Al-Mumtaz fokus segmen layanannya pada anak yatim dan berharap setiap desa ada memiliki satu dai. Al-Mumtaz Peduli harus selalu melakukan sosialisasi, baik melalui seminar, media massa dan elektronik. Dalam hal pengumpulan dan penyaluran dana ZISWAF dan Al-Mumtaz selalu meningkatkan pelayanan kepada muzaki berbentuk laporan kegiatan dan keuangan berbentuk majalah yang disampaikan per tri wulan.

Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 33 No. 1 (2025) Vol. 32 No. 2 (2024) Vol. 32 No. 1 (2024) Vol. 31 No. 2 (2023) Vol 31, No 1 (2023) Vol 30, No 2 (2022) Vol 30, No 1 (2022) Vol 29, No 2 (2021) Vol 29, No 1 (2021) Vol 28, No 2 (2020) Vol 28, No 1 (2020) Vol 27, No 2 (2019) Vol 27, No 1 (2019) Vol 26, No 2 (2018) Vol 26, No 2 (2018) Vol 26, No 1 (2018) Vol 26, No 1 (2018) Vol 25, No 2 (2017) Vol 25, No 2 (2017) Vol 25, No 1 (2017) Vol 25, No 1 (2017) Vol 24, No 2 (2016): Agama, Politik dan Kebangsaan Vol 24, No 2 (2016): Agama, Politik dan Kebangsaan Vol 24, No 1 (2016): Ekonomi (Bisnis) Islam Vol 24, No 1 (2016): Ekonomi (Bisnis) Islam Vol 23, No 2 (2015): Agama dan Sains untuk Kemanusiaan Vol 23, No 2 (2015): Agama dan Sains untuk Kemanusiaan Vol 23, No 1 (2015): Pendidikan dan Deradikalisasi Agama Vol 23, No 1 (2015): Pendidikan dan Deradikalisasi Agama Vol 22, No 2 (2014): Dakwah Multikultural Vol 22, No 2 (2014): Dakwah Multikultural Vol 22, No 1 (2014): Relasi Agama dan Negara Vol 22, No 1 (2014): Relasi Agama dan Negara Vol 21, No 2 (2013): Agama Lokal Vol 21, No 2 (2013): Agama Lokal Vol 21, No 1 (2013): Resolusi Konflik Vol 21, No 1 (2013): Resolusi Konflik Vol 20, No 2 (2012): Spiritualisme Islam Vol 20, No 2 (2012): Spiritualisme Islam Vol 20, No 1 (2012): Fundamentalisme Agama Vol 20, No 1 (2012): Fundamentalisme Agama Vol 19, No 2 (2011): Pendidikan Islam Vol 19, No 2 (2011): Pendidikan Islam Vol 19, No 1 (2011): Ekonomi Islam Vol 19, No 1 (2011): Ekonomi Islam More Issue