cover
Contact Name
Aqil Luthfan
Contact Email
walisongo@walisongo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
aqilluthfan@walisongo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan
ISSN : 08527172     EISSN : 2461064X     DOI : -
Core Subject : Humanities, Social,
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan is an international social religious research journal, focuses on social sciences, religious studies, and local wisdom. It is intended to communicate original research and current issues on the subject. The subject covers literary and field studies with various perspectives i.e. philosophy, culture, history, education, law, art, theology, sufism, ecology and much more.
Arjuna Subject : -
Articles 452 Documents
Muslim Minority in Myanmar: A Case Study of Myanmar Government and Rohingya Muslims Wekke, Ismail Suardi; Hasbi, Hasbi; Mawardin, M; Ladiqi, Suyatno; Salleh, Mohd Afandi
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 25, No 2 (2017)
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.25.2.2317

Abstract

The discrimination suffered by Rohingya Muslims is increasingly blewed up in media in last decade. The peak of the discriminatory treatment against Rohingya Muslim by Myanmar government is the unavailability of shelter from Myanmar government. In the perspective of international law, Myanmar government's actions constitute a serious violence, because it ignores the rights of its citizens. Even a series of massacres and inhumane treatment became a major offense committed by Myanmar government in terms of humanity. This attracted international attention in solving the problem. This article illustrated the fate of Rohingyas who are not given citizenship rights by Myanmar government. It also revealed the irony of Muslims of Rohingya life who are discriminated by the government of Myanmar, both in the practical as well as in the political context.Diskriminasi yang diderita oleh Muslim Rohingya semakin mengemuka di media dalam dekade terakhir. Puncak perlakuan diskriminatif terhadap Muslim Rohingya adalah tidak tersedianya tempat tinggal dari pemerintah Myanmar. Dalam perspektif hukum internasional, tindakan pemerintah Myanmar ini merupakan bentuk kekerasan yang serius, karena mengabaikan hak warganya. Selain itu serangkaian pembantaian dan perlakuan tidak manusiawi menjadi pelanggaran besar yang dilakukan oleh pemerintah Myanmar dalam hal kemanusiaan. Hal ini menarik perhatian dunia internasional dalam upaya memberikan solusi atas permasalahan-permasalahan tersebut. Artikel ini selain menggambarkan nasib warga Rohingya yang tidak diberikan hak kewarganegaraan oleh pemerintah Myanmar, juga mengungkap ironi Muslim dari kehidupan Rohingya yang didiskriminasi oleh pemerintah Myanmar, baik dalam praktik maupun dalam konteks politik.
Bullying and Adjustment Problems in Islamic Elementary School Agustina Setiowati, Erni
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 25, No 1 (2017)
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.25.1.1386

Abstract

The number of bullying cases is getting more significant among students. The effect of bullying covers some conditions of psychology, physic, and adjustment either for bullies, bully-victims or whoever witnesses the action (bystander). The cases of bullying more problematic if the action occurs in Islamic based schools. In the Holy Quran, there are 12 verses which correlate to enmity (i’tada ya’tadi). Besides, it also has 39 verses about scolding (istahzaa yastahziu). Thus, actions relating to harassment should be decreased more than non-Islamic based schools. This study aims to describe bullying behavior and adjustment. The quantitative method is used for this study. The sample involved in this study was 73 students of Islamic elementary schools in the district of Semarang Utara selected by purposive sampling. The data were collected through a questionnaire of bullying behavior, reliability coefficient α=0.890 and corrected correlation coefficients was in the range between 0.268-0.552. SCT (Sentence Completion Test) for Children was used to measure perception of adjustment problems. Data analyzed by a descriptive statistic. The finding indicated that bullying was in a high category and students have some adjustment problems related to interpersonal relationship, in school and family, and self-concept. Kasus bullying akhir-akhir ini terus meningkat di kalangan siswa. Dampak dari bullying antara lain berpengaruh pada kondisi psikologis, fisik, dan penyesuaian baik bagi pelaku, korban, maupun teman korban atau siapapun yang menyaksikan kejadian tersebut. Kasus bullying ini lebih problematik bila terjadi di sekolah berbasis agama Islam. Dalam al-Quran terdapat 12 ayat yang berkaitan dengan kata permusuhan (i’tada ya’tadi). Disamping itu, terdapat 39 ayat mengenai cacian (ihtahzaa yastahziu). Sehingga semestinya kejadian yang berkaitan dengan kekerasan dapat ditekan dibanding pada sekolah umum. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perilaku bullying dan masalah penyesuaian. Sampel yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah 73 siswa dari sekolah dasar islam di kota semarang yang dipilih menggunakan cara purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner perilaku bullying, reliabilitas α=0.890 dan koefisien korelasi antara skor aitem-total bergerak antara 0.268-0.552. SCT (Sentence Completion Test) untuk anak digunakan untuk mengukur persepsi terhadap masalah penyesuaian. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku bullying pada siswa tergolong pada kategori tinggi dan terdapat beberapa masalah penyesuaian yang terkait dengan relasi interpersonal, penyesuaian di sekolah dan keluarga dan masalah konsep diri.
LEGITIMASI KEKUASAAN ATAS SEJARAH KERUNTUHAN KERAJAAN MAJAPAHIT DALAM WACANA FOUCAULT Birsyada, Muhammad Iqbal
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 24, No 2 (2016): Agama, Politik dan Kebangsaan
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.24.2.974

Abstract

The history of the collapse of the Majapahit showed the discourse of power. In this context  rule has been supporting a particular version of historical knowledge. Applying  historical method and multi-dimensional approach, this study aims to find out why the knowledge about the collapse of Majapahit spreading among community members was more tended toward the version that Girindra-wardhana  as a single actor who overthrow Prabu Brawijaya V. The results of this study indicated  that the knowledge  among Javanese  community about the collapse  of Majapahit that stated Girindrawardhana as the sole actor that attacked  and subverted  the kingdom of Majapahit which at the time was ruled by King Kertabhumi (Brawijaya V) is supported by a wide range of all power of the ruling elite that were largely due to ideological motives. Power and ideology are used as a means of legalizing knowledge.***Sejarah runtuhnya Majapahit memunculkan diskursus yang menampilkan ke­kuasaan. Dengan demikian kekuasaan telah menyokong versi pengetahuan sejarah tertentu. Dengan menggunakan metode sejarah dan pendekatan multi-dimensional, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengapa penge­tahuan tentang peristiwa runtuhnya Majapahit yang berkembang dalam masyarakat lebih me­nisbatkan pada versi Girindrawardhana sebagai aktor tunggal yang melengserkan kekuasaan Prabu Brawijaya V. Hasil dari penelitian ini menunjuk­kan bahwa pengetahuan masyarakat Jawa mengenai peristiwa runtuhnya Majapahit yang meletakkan Girindrawardhana sebagai aktor tunggal yang menyerang dan menumbangkan kerajaan Majapahit yang pada waktu diperintah oleh Prabu Kertabhumi (Brawijaya V) disokong oleh berbagai ke­kuataan elit penguasa yang sebagian besar karena motif ideologi. Kekuasaan dan ideologi digunakan sebagai alat legalisasi pengetahuan.
Pesantren as a Basis for Internalization of Pluralistic Values for Preparing a Democratic Citizens in a Diverse Society Rohman, Abdul
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 25, No 2 (2017)
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.25.2.1324

Abstract

Indonesia, as a pluralistic country, has potentialities of conflict at anytime as frequent violence has happened in Indonesia. Therefore, pluralism value has to be early introduced to the students in order to make them accustomed to a democratic attitude, and in turn, able to live in the diverse society harmoniously. Education has an important role to instill pluralism and tolerance values to students. It is a strategic way to socialize the values of tolerance, moderation, respect, and empathy, and to develop an attitude for learners in responding to the pluralism. This study will qualitatively discuss the role of pesantren in internalizing pluralism values to students in responding to a diverse society. It focuses on how the curriculum is constructed, instruction is done for the sake of creating a school culture for holding education that addresses pluralistic values. This study shows that pesantren with a pluralism based religious education is an effective basis for internalizing the values of pluralism to perform tolerance and inclusiveness to prepare the students to live in a pluralistic or diverse society.Indonesia, sebagai negara majemuk, memiliki potensi konflik yang bisa terjadi sewaktu-waktu dan hal ini bisa berujung pada kekerasan. Oleh karena itu, nilai pluralisme harus diperkenalkan lebih awal kepada siswa agar membuat mereka terbiasa dengan sikap demokratis, dan pada gilirannya, mampu hidup secara harmonis dalam masyarakat yang beragam. Pendidikan memiliki peran penting untuk menanamkan nilai pluralisme dan toleransi kepada siswa. Pendidikan merupakan media strategis untuk mensosialisasikan nilai toleransi, moderasi, rasa hormat, dan empati, dan untuk mengembangkan sikap bagi peserta didik dalam menanggapi pluralisme. Studi kualitatif ini akan membahas peran pesantren dalam menginternalisasikan nilai pluralisme kepada siswa dalam menanggapi masyarakat yang beragam. Studi difokuskan pada bagaimana kurikulum dibangun, pembelajaran dilakukan untuk menciptakan budaya sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan yang membahas nilai-nilai pluralistik. Studi ini menunjukkan bahwa pesantren dengan pendidikan agama berbasis pluralisme merupakan dasar yang efektif untuk menginternalisasikan nilai-nilai pluralisme untuk memiliki sikap toleransi dan inklusivitas untuk mempersiapkan siswa hidup dalam masyarakat majemuk.
The Effectiveness of Gallery Walk and Simulation (GALSIM) to Improve Students’ Achievement in Fiqh Learning Ismail, I; Anitah W, Sri; Sunardi, S; Rochsantiningsih, Dewi
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 25, No 1 (2017)
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.25.1.1343

Abstract

This article presents the efforts of teacher in enhancing students’ achievement through the implementation of cooperative learning model: Gallery Walk and Simulation (GALSIM). This classroom action research aims to describe the improvement of students’ achievement of Fiqh subject matter. The data was collected by observation, actions, documents, and tests. This two-cycle research used four steps i.e. planning, action, observation and reflection in each cycle. The results show that the implementation of GALSIM could improve students’ activity along the learning process. Moreover, the implementation of this model could also improve students’ achievement at the end of their study on Fiqh. Tulisan ini mengetengahkan upaya guru dalam meningkatkan prestasi siswa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif berupa Gallery Walk dan Simulation (GALSIM). Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemajuan prestasi siswa pada pelajaran Fikih. Data penelitian terkumpul melalui pengamatan, tindakan, dokumentasi, dan tes. Penelitian dengan dua siklus ini memanfaatkan empat langkah berupa perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi dalam setiap siklusnya. Temuan riset ini menunjukkan bahwa penerapan GALSIM dapat meningkatkan keaktifan siswa selama pembelajaran. Di samping itu, penerapan model ini dapat pula meningkatkan prestasi siswa dalam mempelajari Fikih.
DIALEKTIKA PLURALISME HUKUM: Upaya Penyelesaian Masalah Ancaman Keberagaman dan Keberagamaan di Indonesia Masyithoh, Novita Dewi
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 24, No 2 (2016): Agama, Politik dan Kebangsaan
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.24.2.1289

Abstract

Conflict resolution on SARA requires pluralistic approaches. Hence, the presence of legal pluralism becomes a new approach to resolve the problem. This study is a qualitative research that convey three dimensions of legal pluralism, namely natural law, state law and society law. The study used secondary data, with primary and secondary legal materials obtained by documentation resources. Data were analyzed inductively, used the contemporary theories to produce more conceptual and general propositions for conclusions and recommendations. The result shows that there have been 8 cases on SARA conflict in Indonesia during the last three years. To solve these problems, religious leaders can use natural law approach to re-internalize religious values and tolerance. In addition, the government also should understand that those conflicts were a form of society law owing to discreditable law society and religious diversity. Therefore, non penal policy with persuasive appeals is needed to reduce the problems. However, penal policy through law enforcement should also be implemented as a form of state positivism law. In other words, state positivism law should go hand in hand with natural law and society law in order to reach the best decision based on moral and religious ethics as well as social values.***Penyelesaian konflik SARA membutuhkan pendekatan-pendekatan yang plural. Oleh karena itu pluralisme hukum hadir sebagai pendekatan baru untuk menyelesaikan tersebut Penelitian ini adalah penelitian hukum dengan tradisi kualitatif yang berusaha mendialektikakan 3 dimensi dari legal pluralism, yaitu natural law, state law dan law society. Penelitian menggunakan data sekunder, dengan bahan hukum primer dan sekunder yang diperoleh dengan teknik dokumentasi. Data dianalisis secara induktif dengan menggunakan teori-teori yang ada untuk mem­produksi suatu proposisi yang umum, sehingga menghasilkan kesimpulan dan rekomendasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi 8 konflik SARA di Indonesia dalam 3 tahun terakhir. Untuk memecahkan masalah tersebut, para pemuka agama menggunakan pendekatan natural law untuk reinternaliasasi nilai-nilai keluhuran atas agama dan toleransi. Pemerintah seharusnya me­mahami bahwa konflik tersebut adalah bentuk society law karena tercederainya keragaman dan keberagamaan. Perlu kebijakan non penal dengan seruan-seruan persuasif agar persoalan serupa tidak lagi terjadi. Di sisi lain, kebijakan penal melalui penegakan hukum juga harus dilakukan, sebagai bentuk state positivism law. State positivism law harus mampu menggandeng natural law dan law society, agar diperoleh putusan terbaik yang berlandaskan nilai-nilai moral ethic religion dan nilai-nilai sosial kemasyarakatan.
MODEL PENGELOLAAN BISNIS SYARI’AH: Studi Kasus Lembaga Pengembangan Usaha Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung Semarang Huda, Choirul
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 24, No 1 (2016): Ekonomi (Bisnis) Islam
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.24.1.1140

Abstract

Islamic business management becomes an interesting topic continues to increase. There are 3 (three) models of Islamic business management: 1) Sole proprietor­ships, 2) Partnership, and 3) Mudharaba with cooperation between two or more parties in which the owners of capital (shahibul mal) entrust amount of capital to the manager (muḍarib) with an agreement at the earliest. This paper analyze to the Islamic business management model developed by Lembaga Pengembangan Usaha (LPU) of Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung (YBWSA) as a holding company that houses several business units. The types of business model is influence the applied business management model, and the type of business management model is influence the results of business operations. By using qualitative descriptive analysis, the study found that the LPU using multiple management models according to the type of business operation, which is a self-ownership (Takessa, Air Quasa, SA Radio), and partnerships (property, retail, Pumanisa), and combination model both self-ownership and partnerships (SApress, asset management and SAtour).***Model pengelolaan bisnis syari’ah menjadi tema menarik seiring dengan per­kembang­annya terus meningkat. Terdapat 3 (tiga) model yang berkembang: 1) Sole proprietorships (kepemilikan tunggal), 2) Partnership (kemitraan), dan 3) Muḍa­rabah, bentuk kerjasama dimana pemilik modal (shahibul mal) mem­percayakan sejumlah modal kepada pengelola (muḍarib) dengan per­janjian di awal. Paper ini menganalisa model pengelolaan bisnis syari’ah yang di­kembang­kan oleh Lembaga Pengembangan Usaha (LPU) pada Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung (YBWSA) sebagai lembaga induk yang menaungi banyak unit usaha dengan prinsip syari’ah. Banyaknya unit usaha ini dapat mempengaruhi model pengelolaan bisnis yang diterapkan, dan model pengelolaan tersebut dapat mem­pe­ngaruhi hasil usaha yang dijalankan. Dengan menggunakan metodfe analisis deskriptif kualitatif, penelitian ini menemukan bahwa LPU menggunakan be­berapa model bisnis sesuai dengan jenis usaha yang dijalankan, yaitu kepemilikan tunggal (Takessa, Air Quasa, dan SA Radio), dan kemitraan (properti, ritel, dan Pumanisa) serta model kombinasi ke­dua­nya (SApress, manajemen aset dan SAtour).
The Transcendent Unity Behind the Diversity of Religions and Religiosity in the Perspective of Perennial Philosophy and Its Relevance to the Indonesian Context Baharudin, M.; Luthfan, Muhammad Aqil
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 25, No 2 (2017)
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.25.2.2025

Abstract

This study is conducted to answer an important question: is there any transcendent unity behind the diversity or plurality of religions and religiosity? This question will be answered through perennial philosophy approach. The study found that, according to perennial philosophers, there is a transcendent unity behind the diversity or plurality of religions and religiosity. This transcendent unity is seen in ‘the common vision’, or what in Islam is called the ‘basic message of religion’, namely ‘submission’ to always fear God and live His presence in everyday life. Further, the perennial philosophers argue that the True God is one; therefore, all religions emerging from the One are in principle the same for they come from the same source. In other words, the diversity of religions and religiosity lies only in the exoteric level, and all religions actually have a transcendent unity in the esoteric level. However, in this case, the perennial philosophers do not mean to unify or equate all religions. In fact, they try to open a way to a spiritual ascent through the reviving of the religious traditions in every religion.Penelitian ini dilakukan untuk menjawab sebuah pertanyaan penting: adakah kesatuan transenden di balik keragaman atau pluralitas agama dengan religiusitas? Pertanyaan ini akan dijawab melalui pendekatan filsafat perennial. Penelitian ini menemukan bahwa, menurut para filsuf perennial, ada kesatuan transenden di balik keragaman atau pluralitas agama dan religiusitas. Kesatuan transenden ini terlihat dalam pandangan bersama, atau apa yang di dalam Islam disebut pesan dasar agama, yaitu tunduk untuk selalu takut kepada Tuhan dan menjalani kehadiran-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, para filsuf perennial berpendapat bahwa Tuhan yang Sejati adalah satu. Oleh karena itu, semua agama yang muncul dari Yang Satu pada prinsipnya sama karena mereka berasal dari sumber yang sama. Dengan kata lain, keragaman agama dan religiusitas hanya terletak pada tingkat eksoteris, dan semua agama benar-benar memiliki kesatuan transenden di tingkat esoteris. Namun, dalam kasus ini, filsuf perennial tidak bermaksud menyatukan atau menyamakan semua agama. Sebenarnya, mereka mencoba membuka jalan menuju pendakian spiritual melalui kebangkitan kembali tradisi keagamaan di setiap agama.
Factors Influencing Non-Performing Financing (NPF) at Sharia Banking Effendi, Jaenal; Thiarany, Usy; Nursyamsiah, Tita
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 25, No 1 (2017)
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.25.1.1540

Abstract

The risk of financing is the risk caused by the failure of the customers to fulfill their obligations. Non-performing financing (NPF) is a representation of financing risk that is channeled and has a direct impact on bank profitability. The value of NPF tends to increase annually with a value that is already close to the maximum limit set by Bank Indonesia of 5 percent. This condition is able to lead to the inefficiency of the banking system and in the long run, will have an impact on the sustainability of the bank. Therefore, the analysis of NPF factors should be conducted as a preventive measure and a risks controller of business activities. This research analyzes the factors influencing NPF at sharia banking (BUS) using a quarterly data from first quarter of 2012 until third quarter 2016. The method used in this research is panel data analysis. The result of analysis shows that the factors influencing NPF negatively and significantly are ratio of revenue sharing financing (RR), Return on Assets (ROA), inflation, Capital Adequacy Ratio (CAR) and Bank size while Gross Domestic Product (GDP) and Operating Cost to Operating Income (BOPO) have a significant positive effect.Risiko pembiayaan adalah risiko yang disebabkan oleh adanya kegagalan nasabah dalam memenuhi kewajibannya. Non- Performing Financing (NPF) merupakan representasi dari risiko pembiayaan yang disalurkan dan berdampak langsung pada profitabilitas perbankan. Nilai NPF yang cenderung meningkat setiap tahunnya dengan nilai yang sudah mendekati batas maksimum yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia yaitu sebesar 5 persen dapat menyebabkan inefisiensi perbankan dan dalam jangka panjang akan berdampak pada kelangsungan bank. Maka dari itu, analisis faktor-faktor NPF perlu ditinjau sebagai upaya pencegahan dan untuk mengendalikan risiko dari kegiatan usaha. Penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi NPF pada Bank Umum Syariah (BUS) dengan menggunakan data kuartal dari kuartal I 2012 hingga kuartal III 2016. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data panel. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi NPF secara negatif dan signifikan adalah RR, ROA, inflasi, CAR dan Bank size sedangkan GDP dan BOPO berpengaruh positif signifikan.
ISLAM ABANGAN DAN NASIONALISME KOMUNITAS SAMIN DI BLORA Mukodi, Mukodi; Burhanuddin, Afid
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 24, No 2 (2016): Agama, Politik dan Kebangsaan
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.24.2.1086

Abstract

This study aimed at exploring the starting point of Islam Abangan and nationalism among Samin community in Blora regency. This research also aimed at exposing the resistance of Samin community Blora in recent time. For this research, qualitative approach and e phenomenological method were both used to get the accurate results. Relation between Islam Abangan and nationalism among Samin community in Blora were coherently intertwined and in harmony. The harmony were manifested through the daily practices of Samin community containing the teachings of Ki Samin Surosentiko. The c onsistency  of the community in carrying out the teachings of Ki Samin Surosentiko caused them still exist to survive amid the onslaught of modernism currents. Thus, local culture, and Javanese Islam were the means to strengthen the attachment of humanity, to strengthen the humanity affinity as well as the seeds of nationalism spirit, in the regional locality, including in Blora.***Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi titik pangkal Islam Abangan, dan nasionalisme di komunitas Samin Kabupaten Blora. Selain itu, riset ini juga bertujuan untuk mengekspos daya tahan eksistensi komunitas Samin Blora yang masih hidup hingga kini. Agar menemukan hasil yang akurat riset ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Relasi antara Islam Abangan, dan nasionalisme di kalangan komunitas Samin Brola terjalin padu, dan harmoni. Keharmonian keduanya terejawantahkan melalui praktik-praktik keseharian mereka yang merupakan nilai ajaran Ki Samin Surosentiko. Konsistensi komunitas Samin dalam menjalankan ajaran Ki Samin mengakibatkan mereka tetap eksis bertahan di tengah gempuran arus modernisme. Dengan demikian, kebudayaan lokal, dan Islam (Jawa) Abangan menjadi sarana untuk memperkokoh kelekatan kemanusiaan, sekaligus penyemai jiwa nasionalisme di bilik-bilik lokalitas kedaerahan, tak terkecuali di Blora. 

Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 33 No. 1 (2025) Vol. 32 No. 2 (2024) Vol. 32 No. 1 (2024) Vol. 31 No. 2 (2023) Vol 31, No 1 (2023) Vol 30, No 2 (2022) Vol 30, No 1 (2022) Vol 29, No 2 (2021) Vol 29, No 1 (2021) Vol 28, No 2 (2020) Vol 28, No 1 (2020) Vol 27, No 2 (2019) Vol 27, No 1 (2019) Vol 26, No 2 (2018) Vol 26, No 2 (2018) Vol 26, No 1 (2018) Vol 26, No 1 (2018) Vol 25, No 2 (2017) Vol 25, No 2 (2017) Vol 25, No 1 (2017) Vol 25, No 1 (2017) Vol 24, No 2 (2016): Agama, Politik dan Kebangsaan Vol 24, No 2 (2016): Agama, Politik dan Kebangsaan Vol 24, No 1 (2016): Ekonomi (Bisnis) Islam Vol 24, No 1 (2016): Ekonomi (Bisnis) Islam Vol 23, No 2 (2015): Agama dan Sains untuk Kemanusiaan Vol 23, No 2 (2015): Agama dan Sains untuk Kemanusiaan Vol 23, No 1 (2015): Pendidikan dan Deradikalisasi Agama Vol 23, No 1 (2015): Pendidikan dan Deradikalisasi Agama Vol 22, No 2 (2014): Dakwah Multikultural Vol 22, No 2 (2014): Dakwah Multikultural Vol 22, No 1 (2014): Relasi Agama dan Negara Vol 22, No 1 (2014): Relasi Agama dan Negara Vol 21, No 2 (2013): Agama Lokal Vol 21, No 2 (2013): Agama Lokal Vol 21, No 1 (2013): Resolusi Konflik Vol 21, No 1 (2013): Resolusi Konflik Vol 20, No 2 (2012): Spiritualisme Islam Vol 20, No 2 (2012): Spiritualisme Islam Vol 20, No 1 (2012): Fundamentalisme Agama Vol 20, No 1 (2012): Fundamentalisme Agama Vol 19, No 2 (2011): Pendidikan Islam Vol 19, No 2 (2011): Pendidikan Islam Vol 19, No 1 (2011): Ekonomi Islam Vol 19, No 1 (2011): Ekonomi Islam More Issue