cover
Contact Name
Aqil Luthfan
Contact Email
walisongo@walisongo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
aqilluthfan@walisongo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan
ISSN : 08527172     EISSN : 2461064X     DOI : -
Core Subject : Humanities, Social,
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan is an international social religious research journal, focuses on social sciences, religious studies, and local wisdom. It is intended to communicate original research and current issues on the subject. The subject covers literary and field studies with various perspectives i.e. philosophy, culture, history, education, law, art, theology, sufism, ecology and much more.
Arjuna Subject : -
Articles 452 Documents
UNITY OF SCIENCES ACCORDING TO AL-GHAZALI Muhaya, Abdul
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 23, No 2 (2015): Agama dan Sains untuk Kemanusiaan
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.23.2.281

Abstract

The dichotomy of sciences caused both the positive and negative effects for development of civilizations; such as poverty, economic colonialism and dehumanization. Therefore, the unity of sciences is an interesting and important to be discussed for developing a new and prosperous civilization. This paper discussed the unity of sciences according to Imam al-Ghazali (d. 1111) and its urgency to the issue of human life. For al-Ghazali, science must be unified in the aspects of ontology, epistemology, and axiology. These three aspects of knowledge united in one entity; such as three angles in a triangle. From the pespective of ontology, knowledge comes from God and cannot be separated from God, so all sciences are commendable. Epistemologically, the nature of science is the light coming from the illumination light of God. Science can be obtained by optimizing the function of reason and through revelation or inspiration. The validity of science is depended on how and sources used to obtain it. Knowledge is not for knowledge, but knowledge for human prosperity. To realize the concept of the unity of sciences it is needed a hard work, patience and many-stage processes; namely equal treatment on scientific and religious knowledge, dialogue, integration and interconnection between science and the end is the unity of sciences..***Dikhotomi ilmu pengetahuan mengakinatkan efek positif dan negatif bagi per­kembangan peradaban, seperti kemiskinankolonialisme ekonomi, dan de­humani­sasi. Oleh karena itu kesatuan ilmu menarik dan penting untuk didiskusikan untuk pengembangan peradaban yang baru dan sejahtera. Tulisan ini membahas tentang kesatuan ilmu menurut Imam al-Ghazali (w. 1111) serta arti pentingnya bagi kehidupan manusia. Menurut Ghazali ilmu harus disatukan dalam suatu kesatuan; seperti halnya tiga sudut dalam sebuah segitiga. Dari perspektif ontologi, pengetahuan berasal dari Tuhan dan tidak dapat dipisahkan dari Tuhan, sehingga semua ilmu. Secara epistemologi, hakikat ilmu adalah cahaya yang berasal dari cahaya Tuhan. Ilmu dapat diperoleh dengan mengoptimalkan fungsi akal serta melalui wahyu atau inspirasi. Validitas ilmu tergantung pada cara serta sumber yang digunakan untuk memperolehnya. Untuk merealisasikan konsep kesatuan ilmu dibutuhkan kerja keras, kesabaran, dan proses yang bertahap; yaitu perlakuan sama terhadap ilmu pengetahuan dan ilmu agama, dialog, integrasi dan interkoneksi antara ilmu dan akhirnya adalah kesatuan ilmu.
AL-QUR’AN AND HUMAN MIND: THE FACTS OF SCIENCE DEVELOPMENT Aswirna, Prima; Fahmi, Reza
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 23, No 2 (2015): Agama dan Sains untuk Kemanusiaan
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.23.2.288

Abstract

The scientific facts claimed in the Qur'an are found in different discorces, including in the terms of creation, astronomy, human reproduction, oceanology, embroyology, zoology, and water cycle. This article explored the miracle of al-Qur’an on scientific knowledge, especially natural science. Applying the approach of descriptive analysis, this study was able to demonstrate the empirical facts about the miracle of al-Qur’an that have been discovered the scientific truth in science. This article also showed the limitations of human intellect to understand all the realities existing in this world, as well as advocated human beings on the importance of returning dialoging al-Qur'an and intellect in exploring science.***Fakta-fakta ilmiah yang diklaim dalam al-Qur'an ada di berbagai wacana, ter­masuk dalam hal ini penciptaan, astronomi, reproduksi manusia, oseanologi, embroyologi, zoologi, dan siklus air. Artikel ini ingin mengeksplorasi tentang keajaiban al-Qur'an dalam pengetahuan ilmiah, terutama dalam ilmu alam. Dengan pendekatan analisis deskriptif, penelitian ini mampu menunjukkan fakta empiris keajaiban al-Qur'an telah ditemukan kebenaran ilmiah dalam ilmu. Artikel ini juga menunjukkan keterbatasan kecerdasan manusia untuk me­mahami semua realitas yang ada di dunia ini. Serta mengajak kembali kepada manusia pentingnya untuk kembali mendialogkan antara al-Qur'an dan ke­cerdas­an dalam mengeksplorasi ilmu pengetahuan.
WAKAF PRODUKTIF (CASH WAQF) DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN MAQĀṢID AL-SHARĪ‘AH Suryani, Suryani; Isra, Yunal
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 24, No 1 (2016): Ekonomi (Bisnis) Islam
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.24.1.680

Abstract

Cash waqf is a breakthrough in appropriate with religious principles (maqāṣid al-sharī’ah) and social demands of humanity. This program can synergize with government programs in order to realize the welfare of the people of Indonesia as a manifestation of the ideals of the Republic of Indonesia, as stated in the preamble of the 1945 Constitution. Judging from the principle of religious, cash waqf has also been exemplified by several companions of Rasullullah and the scholars from time to time. Call it like what has been exemplified by the Caliph ‘Umar ibn al-Khaṭṭāb when making a land in Khaibar as productive land that used as much as possible for the benefit of Muslims. In addition, this program has also had supported by law. MUI Fatwa Commission also stipulates that the cash waqf is a movement in accordance with the principles of the religion that brought prosperity to the human in here and hereafter. This paper is literature research with reference to several primary and secondary sources such as books or books relevant to the study.***Wakaf uang merupakan gebrakan yang sesuai dengan prinsip agama (maqāṣid al-sharī’ah) dan tuntutan sosial kemanusian. Program ini bisa bersinergi dengan program-program pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat Indonesia sebagai manivestasi dari cita-cita besar Negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Gerakan wakaf produktif dengan uang juga sudah dicontohkan oleh beberapa sahabat Rasul dan para ulama dari zaman ke zaman. Misalnya Khalifah ‘Umar ibn al-Khattāb ketika menjadikan tanah di Khaibar sebagai lahan produktif yang digunakan untuk kepentingan umat Islam. Program ini juga sudah didukung oleh hukum positif seperti Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah tentang wakaf, Demikian pula Fatwa MUI juga menetapkan bahwa wakaf dengan menggunakan uang adalah gerakan yang sesuai dengan prinsip agama yaitu membawa kesejahteraan untuk manusia baik untuk dunia maupun akhirat mereka. Tulisan ini merupakan library research dengan merujuk beberapa sumber primer dan sekunder berupa buku atau kitab yang relevan dengan kajian.
THE SIGNIFICANCE OF PHILOSOPHY OF SCIENCE FOR HUMANITY IN ISLAMIC PERSPECTIVE Zaprulkhan, Zaprulkhan
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 23, No 2 (2015): Agama dan Sains untuk Kemanusiaan
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.23.2.284

Abstract

In Islamic perspective, researching universe is not only investigate the universe materially but also what is behind the universe itself. So, the universe was not viewed autonomously. This paper tried to elaborate significance of philosophy of science for humanity in Islamic perspective by using three fundamental structures of knowledge, namely ontology, epistemology, and axiology. Both Islam and science have to put humanity as center for research. The paradigm of Islamic science opens up an integral-holistic thought, and can not be separated from axiological meaning, that the purposes toward the enlightenment, progress, welfare, safety, and happiness for the whole human being in this world. So, Islam and science could give the most important roles to human’s welfare and safety.***Dalam perspektif Islam, meneliti alam semesta tidaklah hanya mengkaji alam dari aspek materialnya, melainkan juga aspek spiritual di balik yang nyata sehingga alam semesta tidak dikaji secara berdiri sendiri. Tulisan ini mencoba meng­elaborasi tentang signifikansi filsafat sains untuk kemanusiaan dari perspektif Islam dengan menggunakan tiga unsur pokok pengetahuan: ontologi, episte­mo­logi dan aksiologi. Hasil kajian menunjukkan bahwa Islam dan sains sama-sama menjadikan nilai kemanusiaan sebagai objek penelitian. Paradigma ilmu penge­tahuan Islam itu membuka cakrawala berpikir yang menyeluruh dan terintegrasi, dan tidak dapat dipisahkan dari makna aksiologinya yang bertujuan untuk pencerahan, perkembangan, kesejahteraan, keselamatan, dan kebahagiaan bagi seluruh umat manusia di dunia. Oleh karena itu, Islam dan ilmu pengetahuan memberikan peran yang sangat penting bagi kesejahteraan dan keselamatan manusia.
URGENSI NOTARIS SYARI’AH DALAM BISNIS SYARI’AH DI INDONESIA Arliman S., Laurensius
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 24, No 1 (2016): Ekonomi (Bisnis) Islam
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.24.1.676

Abstract

The business development of the economy not only in the field of conventional, Shari'ah economic business now has started mushrooming everywhere. With a population of Indonesia is predominantly Muslim, the more it will attract market share to take part in business economics Shari'ah. Instead of that, the presence of a notary Shari'ah is urgently needed in Indonesia, because the focus of work in the field of economics Shari'ah, so it can ensure law and society in transacting Shari'ah. The research used normative juridical approach, using the theory of legal certainty. So we get Analisia, that the reality is that the people do not feel comfortable in transacting Shari'ah, because of the absence of provisions on rules of shari'a law notary. So the conclusion is obtained, the need for Shari'ah notary very important. *** Perkembangan bisnis ekonomi bukan hanya dibidang konvensional saja, sekarang bisnis ekonomi syari’ah sudah mulai menjamur dimana-mana. Dengan penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam, maka akan semakin menarik pangsa pasar untuk mengambil bagian dalam bisnis ekonomi syari’ah. Dari pada itu, kehadiran notaris syari’ah sangat dibutuhkan di Indonesia, karena fokus kerjanya pada bidang ekonomi syari’ah, sehingga bisa menjamin kepastian hukum dan masyarakat didalam bertransaksi syari’ah. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan secara Yuridis Normatif, dengan menggunakan teori kepastian hukum. Sehingga didapatkan analisia, bahwa dengan kenyataan yang ada, masyarakat belum merasa nyaman dalam bertransaksi syari’ah, karena belum adanya pengaturan tentang aturan hukum notaris syari’ah. Maka kesimpulan yang didapatkan, kebutuhan terhadap notaris syari’ah sangat penting.
CONTEXTUALIZATION OF SCIENTIFIC AND RELIGIOUS VALUES IN MULTICULTURAL SOCIETY Dalmeri, Dalmeri
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 23, No 2 (2015): Agama dan Sains untuk Kemanusiaan
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.23.2.285

Abstract

This paper is the result of research applying reflective philosophical approach that try to answer the the question about the integration of the values of science and the values of the Islamic religion to shape the character of college students and the contextualization of religious values in the development science and technology in the multicultural era such as Indonesia. The findings of this research is, that Islam as a religion has always advocated Muslims to always holds integration, because, religion and science are not contradictive. and controversial, but complementary. Such a perspective, factually was able to build positive character among students in Jakarta, because for them religion is seen as a driving force for the development of science and discovery in science and technology should be aligned with the values of Islam, so it is not pulled out from the roots of religious values sublime.***Tulisan hasil riset dengan pendekatan penelitian reflektif filosofis terhadap integrasi nilai-nilai sains dan nilai-nilai agama Islam ini, mencoba menjawab persoalan integrasi nilai-nilai sains dan nilai-nilai agama Islam untuk membentuk karakter mahasiswa perguruan tinggi dan kontekstulisasi nilai-nilai agama dalam perkembangan sains dan teknologi di era multikultural seperti Indonesia. Adapun temuan peneletian ini adalah, bahwa Islam sebagai sebuah agama selalu menganjurkan umatnya untuk selalu berpandangan integratif. Sebab, antara agama dan sains tidak bersifat kontradiktif dan berlawanan, melainkan saling melengkapi. Cara pandang seperti ini, ternyata mampu membentuk karakter positif di kalangan mahasiswa perguruan tinggi di Jakarta, sebab bagi mereka agama dipandang sebagai pendorong bagi perkembangan ilmu penge­tahuan dan penemuan sains dan teknologi harus diselaraskan dengan nilai-nilai Islam, sehingga tidak tercerabut dari akar nilai-nilai agama yang luhur.
THE PARADIGM OF THEO-ANTHROPO-COSMOCENTRISM: REPOSITION OF THE CLUSTER OF NON-ISLAMIC STUDIES IN INDONESIAN STATE ISLAMIC UNIVERSITIES Suharto, Toto
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 23, No 2 (2015): Agama dan Sains untuk Kemanusiaan
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.23.2.308

Abstract

State Islamic Universities (UIN) in Indonesia nowadays has developed their study courses by opening the faculty of social science and humanities and the faculty of the natural science. This development is constitutionally “has gone beyond” scientific mandate of UIN, which only had the authority to execute the education in the cluster of religious sciences. Applying the approach of philosiphy of knowledge, this paper tried to commit the reposition the sciences of non Islamic studies cluster in UIN so that there is no gap between the two clusters, by offering the application of the paradigm of theo-antropo-cosmosentrism. Applying content analysis on texts related to the theme of the study, this paper offered the integration model of "Triangle of Science" which is based on the paradigm of Theo-anhropo-cosmosentrism. This paradigm tried to integrate the paradigms of theocentrism, anthropocentrism and cosmocentrism.***Universitas Islam Negeri (UIN) di Indonesia dewasa ini telah mengembangkan wilayah studi Islamnya dengan membuka fakultas dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora dan ilmu-ilmu kealaman. Perkembangan ini secara konstitusional telah “melampaui batas” mandat keilmuan UIN, yang hanya diberi kewenangan untuk menyelenggarakan pendidikan dalam rumpun ilmu agama. Tulisan ini dengan pendekatan filsafat ilmu mencoba mereposisi ilmu-ilmu non-rumpun ilmu agama yang ada di UIN, sehingga tidak terjadi gap antar keduanya, dengan menawarkan penggunaan paradigma teo-antropo-kosmosentrisme. Dengan analisis isi terhadap teks-teks yang terkait dengan tema kajian, tulisan ini menawarkan model integrasi “Segitiga Ilmu” yang berbasiskan pada paradigma teo-antropo-kosmosentrisme. Paradigma ini mencoba mengintegrasikan antara paradigma teosentrisme, antroposentrisme dan kosmosentrisme.
ISLAMIC SCIENCE, NATURE AND HUMAN BEINGS: A DISCUSSION ON ZIAUDDIN SARDAR'S THOUGHTS Sa’dan, Masthuriyah
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 23, No 2 (2015): Agama dan Sains untuk Kemanusiaan
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.23.2.278

Abstract

Currently the development of western science has been very advanced. However, the development of western science only concerns towards big profits without any consideration about the side effects of science development itself. The western science has marginalized the aspects of metaphysics and theology so that the western science arises materialistic characteristics for human beings, ecological damage, and disharmonic situations between nature and human. This writing discussed Ziauddin Sardar thoughts about Islamic science applying descriptive analysis approach. In Sardar’s thoughts, Muslim community must not follow western science; nevertheless, Muslim community may have Islamic science, having the Islamic characteristic and value. The characteristics of Islamic science cannot be separated from the ten parameters such as tawḥīd, khilāfah, ’ibādah, ’ilm, ḥalāl, ḥarām, ’adl, ẓulm, istiṣlāḥ and diyā’.***Pada era sekarang ini perkembangan sains telah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Namun kemajuan sains hanya mengambil keuntungan sebesar-besarnya, tanpa memikirkan dampak dari perkembangan sains itu sendiri. Sains telah memarginalkan sisi metafisika dan teologi sehingga sains Barat me­nimbul­kan sifat materialistis bagi manusia, kerusakan ekologi, dan ketidak­harmonisan antara alam dan manusia. Tulisan ini mengkaji pemikiran Ziauddin Sardar tentang sains Islam dengan pendekatan analisis deskriptif. Dalam pandangan Sardar, masyarakat Muslim tidak harus mengekor sains Barat, akan tetapi masyarakat Muslim bisa memiliki sains sebagai karakteristik sains yang bercorak dan bernilai Islam yakni sains Islam. Adapun karaketeristik sains Islam tidak lepas dari sepuluh parameter yang meliputi tawḥīd, khilāfah, ’ibādah, ’ilm, ḥalāl, ḥarām, ’adl, ẓulm, istiṣlāḥ dan diyā’.
STUDI AGAMA & ETIKA ISLAM DAN KEBERAGAMAAN MAHASISWA "Z" GENERATION: Kajian di Lingkungan Kampus ITB Bandung Purwanto, Yedi; Khoiri, Shohib
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 24, No 2 (2016): Agama, Politik dan Kebangsaan
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.24.2.1182

Abstract

Time is going on so fast, demanding man to have the quality and the courage to compete. Competition was sometimes make people forget the norm. To solve this problem it is required religion as a way of life. The method used herein are reviewing the literature and system of Islamic religious education activities in Bandung Institute of Technology (ITB). The findings of this study stated that the First, religious education in public universities is needed to foster the spirituality of younger generation. Second, "Z" generation is the object of da'wah who are very close to IT (information technology), so there must be a specific design of da’wa which is meetiing their need. Third, the role of Salman mosque is very central in implementing any Islamic da'wa to the students of ITB.***Perkembangan zaman yang serba cepat, menuntut manusia untuk mempunyai kualitas dan berani bersaing. Persaingan itu kadang membuat manusia lupa akan norma. Untuk mengatasi persoalan tersebut maka diperlukanlah agama sebagai way of life. Metode yang digunakan tulisan ini adalah mengkaji literatur dan sistem kegiatan pendidikan agama Islam di lingkungan Institut Teknologi Bandung. Temuan penelitian ini menyatakan bahwa Pertama, pendidikan agama di per­guruan tinggi umum sangat diperlukan guna memupuk spiritualitas generasi muda. Kedua, generasi “Z” merupakan objek dakwah yang sangat lekat dengan IT, dan oleh karena itu model dakwah yang memiliki kedekatan dengan IT me­rupakan sebuah keniscayaan. Ketiga, Peran masjid Salman sangat sentral dalam mengejawantahkan berbagai dakwah islam kepada mahasiswa ITB. 
AKAR EPISTEMIK HEGEMONI POLITIK BARAT TERHADAP NASIONALISME DI TIMUR TENGAH Ashaf, Mohammad Arifullah
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 24, No 2 (2016): Agama, Politik dan Kebangsaan
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.24.2.954

Abstract

Nationalism in the Middle East until now have not been able to create an atmosphere of peace in the life of the nation. This spawned the thesis that the nationalism that developed there really is not free from the influence of Western Europe to split the power of Islamic world power. This paper is directed to probe the roots of Western European political epistemic hegemony on nationalism in the Middle East by applying the method of literature study. Hegemony of colonialism in Middle East supported the rise of nationalism. Nationalism made Islam no longer used as the basis of unity of nations in the Middle East as is in the caliphate system. Nationalism is an imported product that is inseparable to modernization with the effect of disrupting the unity of the Islamic world, especially in countries of the Middle East. ***Nasionalisme di Timur Tengah hingga saat ini belum mampu menimbulkan suasana damai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini melahirkan thesis bahwa Nasionalisme yang berkembang di sana sebenarnya tidak lepas dari pengaruh atau bahkan sketsa Eropa Barat untuk memecahbelah kekuatan dunia Islam. Tulisan ini diarahkan untuk menelisik akar epistemik hegemoni politik Eropa Barat atas Nasionalisme di Timur Tengah dengan menggunakan metode studi literatur. Kolonialisme yang menghegemoni Timur Tengah mendorong lahir­nya Nasionalisme. Nasionalisme membuat Islam tidak digunakan lagi sebagai dasar persatuan bangsa-bangsa di Timur Tengah sebagai mana pada sistem khilafah. Nasionalisme merupakan produk impor yang tidak dapat dipisahkan dengan modernisasi, yang mengakibatkan kekacauan bagi persatuan di dunia Islam khususnya di negara-negara Timur Tengah.

Page 11 of 46 | Total Record : 452


Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 33 No. 1 (2025) Vol. 32 No. 2 (2024) Vol. 32 No. 1 (2024) Vol. 31 No. 2 (2023) Vol 31, No 1 (2023) Vol 30, No 2 (2022) Vol 30, No 1 (2022) Vol 29, No 2 (2021) Vol 29, No 1 (2021) Vol 28, No 2 (2020) Vol 28, No 1 (2020) Vol 27, No 2 (2019) Vol 27, No 1 (2019) Vol 26, No 2 (2018) Vol 26, No 2 (2018) Vol 26, No 1 (2018) Vol 26, No 1 (2018) Vol 25, No 2 (2017) Vol 25, No 2 (2017) Vol 25, No 1 (2017) Vol 25, No 1 (2017) Vol 24, No 2 (2016): Agama, Politik dan Kebangsaan Vol 24, No 2 (2016): Agama, Politik dan Kebangsaan Vol 24, No 1 (2016): Ekonomi (Bisnis) Islam Vol 24, No 1 (2016): Ekonomi (Bisnis) Islam Vol 23, No 2 (2015): Agama dan Sains untuk Kemanusiaan Vol 23, No 2 (2015): Agama dan Sains untuk Kemanusiaan Vol 23, No 1 (2015): Pendidikan dan Deradikalisasi Agama Vol 23, No 1 (2015): Pendidikan dan Deradikalisasi Agama Vol 22, No 2 (2014): Dakwah Multikultural Vol 22, No 2 (2014): Dakwah Multikultural Vol 22, No 1 (2014): Relasi Agama dan Negara Vol 22, No 1 (2014): Relasi Agama dan Negara Vol 21, No 2 (2013): Agama Lokal Vol 21, No 2 (2013): Agama Lokal Vol 21, No 1 (2013): Resolusi Konflik Vol 21, No 1 (2013): Resolusi Konflik Vol 20, No 2 (2012): Spiritualisme Islam Vol 20, No 2 (2012): Spiritualisme Islam Vol 20, No 1 (2012): Fundamentalisme Agama Vol 20, No 1 (2012): Fundamentalisme Agama Vol 19, No 2 (2011): Pendidikan Islam Vol 19, No 2 (2011): Pendidikan Islam Vol 19, No 1 (2011): Ekonomi Islam Vol 19, No 1 (2011): Ekonomi Islam More Issue