cover
Contact Name
Aqil Luthfan
Contact Email
walisongo@walisongo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
aqilluthfan@walisongo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan
ISSN : 08527172     EISSN : 2461064X     DOI : -
Core Subject : Humanities, Social,
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan is an international social religious research journal, focuses on social sciences, religious studies, and local wisdom. It is intended to communicate original research and current issues on the subject. The subject covers literary and field studies with various perspectives i.e. philosophy, culture, history, education, law, art, theology, sufism, ecology and much more.
Arjuna Subject : -
Articles 452 Documents
KONSEP HUKUM MODERN: SUATU PERSPEKTIF KEINDONESIAAN, INTEGRASI SISTEM HUKUM AGAMA DAN SISTEM HUKUM NASIONAL Umar, Nasarudin
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 22, No 1 (2014): Relasi Agama dan Negara
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.22.1.263

Abstract

Indonesia is known as a country with a mixed legal system. The current legal system is dominated by three major legal systems, namely Western legal system, customary legal system and Islamic legal system. The mixing of legal system has been emerging problem, because basically each legal system has a different character. The most basic problem is unbalancing in the formation of legal system in consequence of the dominance of Western legal system from customary and religious legal system. This paper try to analyze the concept of integration of religious legal system in the national legal system to make its position can be balanced. Based on the analysis, the concept of Three Pillars of Modern Legal Systems is suitable for modern Indonesian legal system in order to integrate the diversity of cultures, customs and religions.***Indonesia dikenal sebagai negara dengan sistem hukum campuran. Sistem hukum yang saat ini berlaku didominasi oleh tiga sistem hukum besar, yaitu sistem hukum Barat, sistem hukum adat dan sistem hukum Islam. Percampuran sistem hukum ini bukan tak masalah, karena pada hakikatnya setiap sistem hukum memiliki karakter yang berbeda. Problem paling dasar adalah pem­bentukan hukum yang tidak berimbang, yaitu dominasi sistem hukum Barat atas hukum agama dan adat. Tulisan ini mengurai konsep integrasi sistem hukum agama dalam sistem hukum nasional agar kedudukannya dapat berimbang. Berdasarkan hasil analisa, konsep Three Pillars Sistem Hukum Modern yang integratif merupakan konsep hukum yang tepat untuk sistem hukum modern Indonesia dalam rangka mengintegrasikan keanekaragaman budaya, adat istiadat dan agama.
MENUJU DIALOG ISLAM – KRISTEN: PERJUMPAAN GEREJA ORTODOKS SYRIA DENGAN ISLAM Arifin, Zaenul
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 20, No 1 (2012): Fundamentalisme Agama
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.20.1.187

Abstract

Conflict between Christianity and Islam prevailed the pages of the history of religion. Having a common origin, the two religions always stuck in a violent conflict. This article try to explore deeply the Syrian Orthodox Church, and find out the common roots with Islam. It is found the parallelization in any theological aspect of Christianity and Islam, especially in the observance of religious duties. The data cought will have an importance in developing the dialog between Islam and Christian.***Konflik antara Kristen dengan Islam tampil dalam sejarah agama. Karena memiliki sumber asal yang sama, kedua agama selalu terlibat dalam kontak ke­kerasan. Tulisan ini mencoba untuk mengkaji secara mendalam geraja orthodoks Syria dan ditemukan akan adanya akar yang sama dengan Islam. Ditemukan pula adanya paralelisasi dalam aspek teologinya, khususnya pe­laksana­an kewajiban agama. Data yang didapatkan menunjukkan arti penting dalam pengembangan dialog antara Islam dengan Kristen
PENGELOLAAN WAKAF TUNAI Fanani, Muhyar
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 19, No 1 (2011): Ekonomi Islam
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.19.1.217

Abstract

Basic issue on waqaf is the management, especially on the management of cash money. The institutions having in charge for managing the waqaf of cash money, have some management specific characteristics and patterns. This study focused on the management of waqaf on cash money in three institution, TWI, PKPU, and BMM. Applying qualitative method, it is found that waqaf of cash money still has some problems to solve: the lack of dissemination about waqaf of cash money among society mem­bers, the lack of professional nāẓir, no effective fundraising system, the weak managerial system, the low commitment on risk management, the unprotected purchasing power of money, and the variability on the distribution priority.***Permasalahan dasar waqf adalah menajemen, khususnya manajemen uang tunai. Lembaga yang berperan untuk mengelola waqf uang tunai memiliki beberapa karakteristik dan pola manajemen yang spesifik. Kajian ini memfokuskan pada manajemen waqf uang tunai di tiga lembaga: TWI, PKPU, dan BMM. Dengan meng­gunakan pendekatan kualitatif ditemukan bahwa waqf uang tunai masih meninggalkan beberapa persoalan yaitu: kurangnya diseminasi tentang waqf uang tunai di kalangan masyarakat, kurangnya jumlah nadzir yang profesional; tidak adanya sistem pencarian dana yang efektif, lemahnya sistem manajemen, kekuatan pembelian uang yang tidak terlindungi, dan variabilitas prioritas distribusi.
JANENGAN SEBAGAI SENI TRADISIONAL ISLAM-JAWA Junaidi, Akhmad Arif
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 21, No 2 (2013): Agama Lokal
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.21.2.254

Abstract

This paper is based on the cultural reality of Javanese Muslim society especially in Islamic Javanese traditional music. The cultural expression of Islamic-Javanese music is very diverse and reflecting the diversity of the “face” of Islam that has been adapted to the local culture. Janengan’s Islamic Javanese traditional music is an expression from three different cultural music traditions: Javanese music tradition, Middle Eastern music traditions (Arabic), and currently has been developed with a combination of Western music such as pop. The combination of three different musical traditions creates a unique creativity in Javanese music character. The character also encourages the values covering musical values, cultural values, and religious values. Thematically, the Janengan’s lyrics contain a variety of Islamic teaching such as monotheism, shari’ah and sufism.***Tulisan ini dilatarbelakangi satu realitas budaya yang dihasilkan dari kehidupan masyarakat Muslim Jawa khususnya seni musik tradisional Islam-Jawa. Ekspresi kebudayaan Islam-Jawa dalam seni musik ini sangat beragam dan mencerminkan keberagaman “wajah” Islam yang telah beradaptasi dengan budaya lokal. Musik tradisional Islam-Jawa Janengan merupakan perwujudan dari perpaduan tiga unsur tradisi musik, yakni tradisi musik Jawa, tradisi musik Islam Timur Tengah (Arab) dan kini telah dikembangkan dengan kombinasi musik Barat seperti pop. Perpaduan ketiga unsur tradisi musik yang berbeda ini membentuk suatu hasil kreativitas yang unik bercirikan musik Jawa. Musik tradisional Islam-Jawa ini juga melahirkan nilai-nilai yang meliputi nilai-nilai musikal, nilai-nilai kultural, dan nilai-nilai religius. Secara tematik syair-syair Janengan berisi berbagai ajaran seperti akidah (tauhid), syari’at dan tasawuf.
NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM SURAT LUQMAN Mukodi, Mukodi
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 19, No 2 (2011): Pendidikan Islam
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.19.2.166

Abstract

The result of this study —library research— showed that the values of Islamic education are contained in the Holy Qur’an surah Luqman verses 12-19. There are at least three basic education, namely aqidah education, syari’ah education and character education. Aqidah education, there are two things: (1) prohibition of associating partners with Allah. Luqman al-Hakim himself had to prioritize monotheism education (tauhid) to his children, (2) believe in the place of hereafter. Luqman ordered his children to believe the reward of all his deeds. Especially retaliation for our gratitude to Him for every blessing and our sense of respect for both parents. Syari’ah Education, there are two things, namely a command set up prayer and amar ma‘rūf nahy munkar. Character education, which is the command to ingratitude towards Allah SWT. For all the blessings and grace of God, we should be grateful to Him.***Artikel ini merupakan penelitian kepustakaan. Penelitian menunjukkan bahwa pendidikan Islam termuat dalam al-Qur’an Surat Lukman 12-19. Setidaknya ada tiga tingkatan yaitu pendidikan aqidah, pendidikan syari’ah, dan pendidik­an karakter. Pendidikan aqidah meliputi dua hal: (1) larangan mensekutukan Allah. Lukman Hakim memprioritaskan pendidikan tauhid kepada anak-anak; (2)mempercayai hari akhir. Lukman Hakim mengajarkan kepada anak-anaknya untuk mempercayai balasan atas perbuatan yang dilakukan di dunia. Pendidikan syariah meliputi dua hal, yaitu mendirikan sholat dan amar ma‘rūf nahy munkar. Pendidikan karakter meliputi perintah untuk bersyukur kepada Allah atas semua karunia-Nya.
IMAGINING HELL: A BURKEIAN ANALYSIS OF INDONESIAN RELIGIOUS AFTERLIFE IMAGES Suwarno, Peter
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 20, No 2 (2012): Spiritualisme Islam
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.20.2.208

Abstract

This paper is not only dealing with depiction of hell (divine punishment) which is very popular depicted by the speech and media news in Indonesia, but also description on meaning, and the possibility on motive behind that description. Applying Burke theory on logology, this paper revealed that the depiction of hell punishment constituted the ritual of purity. Based on the cycle of order, feeling of guilty, redemption through sacrifice to achieve the purity, general depiction on hell are a reflection of the challenges and complexity of legal rules and regulation that exactly will be broken off. This violation of the rule creates a sense of guilty and sin which come out as all the problems and difficulties that the majority of Indonesian must hold – the situation that generates scapegoat. The victims of the scapegoat became the apparent sinners, and the punishment is the sacrifaction which create satisfaction and a sense of clean up.***Tulisan ini tidak hanya untuk membahas penggambaran neraka (hukum­an akhirat) yang sangat populer sebagai­mana digambar­kan dalam pidato dan media di Indonesia, tetapi juga untuk mengungkapkan makna dan kemungkinan motif di balik gam­baran tersebut. Dengan teori logologi Burke, tulisan ini meng­ungkapkan bahwa penggambaran siksaan neraka merupakan ritual pemurni­an. Berdasarkan siklus ke­tertiban, rasa bersalah, pe­nebusan melalui pe­ngorban­an untuk mencapai kemurnian, gambar­an hukum­an di neraka adalah cerminan dari tantangan dan komplek­sitas aturan dan hukum yang pasti akan dilanggar. Pe­langgar­an ini mencipta­kan rasa bersalah dan dosa yang di­wujudkan dalam bentuk semua masalah dan kesulitan bahwa mayoritas penduduk Indonesia harus tahan-situasi yang me­nimbulkan kambing hitam. Para korban yang me­rupakan kam­bing hitam menjadi orang berdosa ter­kutuk, yang hukumannya me­rupakan sebuah pengorban­an, men­ciptakan kepuasan dan rasa dibersihkan.
RESISTENSI AGAMA DAN BUDAYA MASYARAKAT Samiyono, David
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 21, No 2 (2013): Agama Lokal
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.21.2.244

Abstract

Ethnic group, religion, and cultural interactions are familiar phenomena in Bali. Such an interraction had been there since the island became the locus for trading activities. The concept of Tri hita karana is underlying the harmony on the relations of human beings and God (perhyangan), human beings each others (pawongan) and human beings with the environment (palemahan). Bali is changed now. The culture orientation is on services related to tourism. Bali blast on October 2002 and 2005 effected on the on guard among Baliness. Ajeg Bali is a local wisdom of Baliness –religions and cultures— in order to anticipate outside influences effected toward any aspect of life. The problem in this research is weather Ajeg Bali, as local wisdom able to damm outside culture toward Baliness culture, religion, and economics.***Interaksi antar etnis, agama dan budaya bukanlah barang langka di Bali. Sejak semula hal tersebut sudah ada, ketika pulau ini menjadi locus perdagangan hasil bumi. Sebab sesungguhnya kebudayaan Bali menjujung tinggi nilai-nilai keseimbangan dan harmonisasi antar manusia dengan Tuhan (perhyangan), dengan sesama (pawongan) dan dengan lingkungan (palemahan). Konsep ini disebut Tri hita karana. Bali kini berubah. Budayanya berorientasi pada jasa, yang berkait dengan industri pariwisata. Sikap orang Bali kini tidak lagi ramah dan harmoni. Akibat ledakan bom dalam bulan Oktober 2002 dan 2005, masyarakat lebih berhati-hati terhadap para pendatang. Ajeg Bali merupakan kearifan lokal –agama dan budaya– masyarakat Bali dalam rangka menanggulangi pengaruh luar yang mengakibatkan perubahan di berbagai bidang sehingga identitas kebalian mengalami degradasi. Ajeg Bali merupakan bentuk resistensi masyar­akat Bali dalam rangka membatasi pendatang dari luar Bali. Kajian ini berusaha untuk menjawab pertanyaan “apakah Ajeg Bali, sebuah kearifan lokal masyarakat Bali dapat membendung pengaruh budaya, agama dan ekonomi masyarakat Bali?”
THE LIVING AL-QUR’AN: BEBERAPA PERSPEKTIF ANTROPOLOGI Ahimsa-Putra, Heddy Shri
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 20, No 1 (2012): Fundamentalisme Agama
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.20.1.198

Abstract

This article deals with the meanings of the living al-Qur’an and how as socio-cultural phenomena they can be studied anthropo­logically. The living al-Qur’an here is interpreted as the meanings given by the people (Moslem as well as non-Moslem) to al-Qur’an and how these meanings are actualized in their daily lives. Some of its social meanings are given here and explained. Seen in that way, the living al-Qur’an can thus be studied by using anthropological perspectives, such as acculturation perspective or diffusion perspective, functional perspective, structural perspective, phenomenological perspective and hermeneutical or interpretive perspective.***Artikel ini membahas tentang makna al-Qur’an hidup dan bagaimana sebagai fenomena sosial bidaya al-Qur’an dapat dikaji secara antropologis. Al-Qur’an yang hidup di sini diinterpretasikan sebagai makna yang diberikan oleh masyarakat (Muslim maupun non-Muslim) terhadap al-Qur’an dan bagaimana makna ini diaktualisasikan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Beberapa makna sosialnya akan dibahas di sini dan akan dijelaskan.  Dengan cara seperti itu al-Qur’an hidup dapat dikaji secara antropologis, yaitu dengan perspektif akulturasi, difusi, fungsional, fungsional struktural, fenomenologi, dan herme­neutik  atau interpretif.
REVITALISASI NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL BAGI UPAYA RESOLUSI KONFLIK Suprapto, Suprapto
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 21, No 1 (2013): Resolusi Konflik
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.21.1.235

Abstract

The involvement of local wisdom in conflict resolution and peace building is not the only way to resolve conflict. Some level of conflict resolution should be there along the path of conflict resolution. The stressing on the patterns of conflict resolution is still limited on conflict settlement and need to develop toward peace building involving local wisdom which ic proven to be able to maintain social harmony. Considering to the norms had been long internalized among society, the society members strongly held the society order. The most important in this context is the need in the side of the elites to discuss the patters of local wisdom based peace building.***Keterlibatan kearifan lokal dalam upaya resolusi konflik dan pembangunan per­damaian bukan satu-satunya jalam untuk menangani konflik. Harus ada beberapa tingkatan resolusi konflik. Penekanan pada pola resolusi konflik masih terbatas pada penghentian konflik dan perlu dikembangkan ke arah pem­bangunan per­damaian yang melibatkan kearifan lokal yang terbukti mampu mem­per­tahankan harmoni sosial. Dengan mempertimbangkan pada norma-norma yang telah lama terinternalisir di kalangan masyarakat, maka anggota masyarakat akan mem­pertahankan norma yang dimilikinya secara kuat. Hal yang paling penting dalam konteks ini adalah perlunya para elite untuk membicarakan tentang pola kearifan lokal yang didasarkan pada pembangunan perdamaian.
PENGAJIAN YASINAN SEBAGAI STRATEGI DAKWAH NU DALAM MEMBANGUN MENTAL DAN KARAKTER MASYARAKAT Hayat, Hayat
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 22, No 2 (2014): Dakwah Multikultural
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.22.2.268

Abstract

Da‘wa strategy has an important role and function in improving the quality of people's lives. Pengajian Yasinan is one of NU strategy in developing and spread­ing the religion. Pengajian Yasinan can be found in various areas, especially in rural or neighbourhood whose citizen originately  from the NU tradition. How­ever, the influence of modernization caused the change within society. By using a qualitative approach and applying library research for data collection, this paper will explain the role and function of Pengajian Yasinan as da‘wa strategy of NU for the  connectivity integration This strategy is implemented for fortifying the community members from the social complexity as well as for developing the mental of society members through practicing the value of  religion, society, and mutual cooperation for the benefit of the entire community.***Strategi dakwah mempunyai peran dan fungsi penting dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Pengajian Yasinan merupakan salah satu amalan NU yang menjadi strategi di dalam mengembangkan dan menyebarkan agama. Keberadaan Pengajian Yasinan dapat ditemukan di berbagai daerah, terutama di pedesaan atau perkampungan yang masyarakatnya dari kalangan NU. Namun demikian pengaruh modernisasi telah mengakibatkan perubahan dalam ma­syarakat. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpul­an data menggunakan studi kepustakaan, tulisan ini akan menjelaskan peran dan fungsi Pengajian Yasinan sebagai strategi dakwah NU di dalam integrasi konek­tivitas. Hal itu dilakukan dalam rangka membentengi masyarakat dari kompleksitas sosial serta untuk pembangunan mental masyarakat melalui pengamalan nilai-nilai agama, sosial, dan kegotongroyongan untuk kemaslahatan bagi seluruh masyarakat.

Page 7 of 46 | Total Record : 452


Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 33 No. 1 (2025) Vol. 32 No. 2 (2024) Vol. 32 No. 1 (2024) Vol. 31 No. 2 (2023) Vol 31, No 1 (2023) Vol 30, No 2 (2022) Vol 30, No 1 (2022) Vol 29, No 2 (2021) Vol 29, No 1 (2021) Vol 28, No 2 (2020) Vol 28, No 1 (2020) Vol 27, No 2 (2019) Vol 27, No 1 (2019) Vol 26, No 2 (2018) Vol 26, No 2 (2018) Vol 26, No 1 (2018) Vol 26, No 1 (2018) Vol 25, No 2 (2017) Vol 25, No 2 (2017) Vol 25, No 1 (2017) Vol 25, No 1 (2017) Vol 24, No 2 (2016): Agama, Politik dan Kebangsaan Vol 24, No 2 (2016): Agama, Politik dan Kebangsaan Vol 24, No 1 (2016): Ekonomi (Bisnis) Islam Vol 24, No 1 (2016): Ekonomi (Bisnis) Islam Vol 23, No 2 (2015): Agama dan Sains untuk Kemanusiaan Vol 23, No 2 (2015): Agama dan Sains untuk Kemanusiaan Vol 23, No 1 (2015): Pendidikan dan Deradikalisasi Agama Vol 23, No 1 (2015): Pendidikan dan Deradikalisasi Agama Vol 22, No 2 (2014): Dakwah Multikultural Vol 22, No 2 (2014): Dakwah Multikultural Vol 22, No 1 (2014): Relasi Agama dan Negara Vol 22, No 1 (2014): Relasi Agama dan Negara Vol 21, No 2 (2013): Agama Lokal Vol 21, No 2 (2013): Agama Lokal Vol 21, No 1 (2013): Resolusi Konflik Vol 21, No 1 (2013): Resolusi Konflik Vol 20, No 2 (2012): Spiritualisme Islam Vol 20, No 2 (2012): Spiritualisme Islam Vol 20, No 1 (2012): Fundamentalisme Agama Vol 20, No 1 (2012): Fundamentalisme Agama Vol 19, No 2 (2011): Pendidikan Islam Vol 19, No 2 (2011): Pendidikan Islam Vol 19, No 1 (2011): Ekonomi Islam Vol 19, No 1 (2011): Ekonomi Islam More Issue