cover
Contact Name
Aqil Luthfan
Contact Email
walisongo@walisongo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
aqilluthfan@walisongo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan
ISSN : 08527172     EISSN : 2461064X     DOI : -
Core Subject : Humanities, Social,
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan is an international social religious research journal, focuses on social sciences, religious studies, and local wisdom. It is intended to communicate original research and current issues on the subject. The subject covers literary and field studies with various perspectives i.e. philosophy, culture, history, education, law, art, theology, sufism, ecology and much more.
Arjuna Subject : -
Articles 452 Documents
PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ASWAJA SEBAGAI STRATEGI DERADIKALISASI Naim, Ngainun
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 23, No 1 (2015): Pendidikan dan Deradikalisasi Agama
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.23.1.222

Abstract

This study discussed about the role of Aswaja lesson in the efforts of de-radicalization. Radicalization had been more and more evolved since after the fall of New Order. Reformation Era opened wide varieties of expression, included religious expression. The development of radicalization led to widespread of social unrest. Responses appeared, included using the counter-ideology. Aswaja was believed as being able to prevent the proliferation of radicalization. The data presented in this article was derived from observation, interview and review of the literature related to the topic of writing. The argument developed in this paper is that the reconstruction and actualization of the values contained in Aswaja might be personally internalized firmly. An important strategy that might be applyed to disseminate and internalize Aswaja is through education. In the schools in which applying Aswaja lesson, students had the opportunity to have a moderate religious understanding and avoid radicalization.***Penelitian ini mengulas tentang peranan pelajaran Aswaja dalam usaha de­radikalisasi. Radikalisasi semakin berkembang pasca jatuhnya Orde Baru. Era Reformasi membuka lebar berbagai bentuk ekspresi, termasuk ekspresi keber­agamaan. Semakin berkembangnya radikalisasi memunculkan keresahan masya­rakat secara luas. Berbagai respons pun muncul, di antaranya melalui counter-ideologi. Aswaja diyakini dapat mencegah tumbuh suburnya radikalisasi. Data yang disajikan dalam artikel ini berasal dari observasi, wawancara dan tela­ah literatur yang berkaitan dengan topik tulisan. Argumen yang dibangun dalam tulisan ini adalah rekonstruksi dan aktualisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam Aswaja dapat terinternalisasi secara kokoh dalam diri seseorang. Stra­tegi penting yang dapat ditempuh untuk sosialisasi dan internalisasi Aswaja adalah melalui jalur pendidikan. Di sekolah-sekolah yang mengaplikasi mata pelajaran Aswaja, para siswanya memiliki peluang untuk memiliki pemahaman keagamaan yang moderat dan terhindar dari arus radikalisasi.
POLITIK DAKWAH DAN DAKWAH POLITIK DI ERA REFORMASI INDONESIA Rosa, Andi
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 22, No 1 (2014): Relasi Agama dan Negara
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.22.1.259

Abstract

This research activity parse dzikir majelis Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) "Nurussalam" which has a strategic role in the democratic era. His status as a society organizations (NGOs) are positioned optimally by interest groups, political organizations and even into the container. By analyzing the dataobtained through interviews and documentation, the results of this study indicate that this council makes verses of the Qur’an that deals with the concept of al-‘ummah, al-ukhuwwah al-islamiyya, and al-ta'āwun as a cornerstone in interpreting para­graph integrative social which is then used as a propaganda entity. Proselytizing as mass communication, political communication line with more likely to use communication as a way to mobilize the masses massif. Even activities have been able to carry out the functions of political propaganda as part of the interest-group system.***Penelitian ini berusaha untuk mengurai kegiatan Majelis Dzikir Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) “Nurussalam” yang memiliki peran strategis di era reformasi. Statusnya sebagai organisasi masyarakat (Ormas) diposisikan secara maksimal oleh kelompok kepentingan, bahkan menjadi wadah lembaga politik. Dengan mengganalisis data yang diperoleh melalui wawancara dan dokumentasi, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa majelis ini menjadikan ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan konsep al-‘ummah, al-ukhuwwah al-islāmiyyah, dan al-ta’āwun sebagai landasan dalam menafsirkan ayat sosial integratif yang kemudian dijadikan sebagai sebuah entitas dakwah. Dakwah sebagai komunikasi massa, sejalan dengan komunikasi politik yang lebih cenderung memanfaatkan komunikasi sebagai cara massif untuk menggalang massa. Bahkan kegiatannya telah mampu melaksanakan fungsi politik dakwah sebagai bagian dari sistem interest-group.
FUNDAMENTALISME AGAMA Rosidah, Nur
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 20, No 1 (2012): Fundamentalisme Agama
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.20.1.182

Abstract

Al-Qur’an frequently stated as a basic source for violence and terror as well as Islamic fundamentalism. This is because materially there are some provocative-agitative verses in al-Qur’an for violence doer and terrorist. This article discussed about the way to study Qur’an verses on violence and the interpretation methodo­logy applied to understanding that verses.***Al-Qur’anseringkali dinyatakan sebagai landasar perilaku kekerasan dan teror serta fundamentalisme Islam. Hal ini karena secara material terdapat beberapa ayat di dalam al-Qur’an yang provokatif dan agitatif untuk terjadinya kekerasan dan teror. Artikel ini membahas tentang cara melakukan kajian ayat-ayat al-Qur’an tentang kekerasan dan metode interpretasi yang diterapkan untuk memahami ayat tersebut.
AKUNTABILITAS LEMBAGA PENGELOLA WAKAF Budiman, Achmad Arief
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 19, No 1 (2011): Ekonomi Islam
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.19.1.213

Abstract

Although wakaf has much importance for social living and practiced since a long time ago, but in fact wakaf has not maximally functioned. Still much numbers of people living under poor line level showed this fact. Some causes make wakaf is not effective. In one side, the cause is related to the human resources, especially in the side of the organizer (nāẓir). Other cause is the weakness of the accountability of wakaf institution. Applying doctrinal and non-doctrinal approach, this research showed that in PKPU the organizer implemented the principle of transparency and accountability in managing waqaf in the institution. The principle of accountability is implemented in the form of audit, both internally and externally by public accountant. Applying the principle of accountability had been increasing the publict trust to the wakaf institution.***Walaupun wakaf memiliki arti penting bagi kehidupan sosial dan telah di­praktekkan sejak lama, namun dalam kenyataannya wakaf belum difungsikan secara maksimal. Masih banyaknya anggota masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan menunjukkan kenyataan ini. Ada beberapa penyebab yang membuat wakaf tidak efektif. Di salah satu sisi, penyebabnya terkait dengan sumber daya manusia, khususnya pada sisi pengelola (nāẓir), Penyebab yang lain adalah lemahnya akuntabilitas dari institusi wakaf. Dengan menggunakan pendekatan doktrinal dan non-doktrinal penelitian ini menunjukkan bahwa di PKPU pengelola menerapkan prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam mengelola wakaf di dalam lembaga itu. Prinsip akuntabilitas diimplementasikan dalam bentuk audit, baik internal maupun eksternal oleh akuntan publik. Penerapan prinsip akntabilitas telah meningkatkan kepercayaan publik terhadap lembaga wakaf.
KONTRIBUSI UNGKAPAN TRADISIONAL DALAM MEMBANGUN KERUKUNAN BERAGAMA Haryanto, Joko Tri
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 21, No 2 (2013): Agama Lokal
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.21.2.250

Abstract

The Ganjuran society who live in Sumbermulyo Village, District Bambanglipuro Bantul of DIY, have ability to maintain religious harmony although those people are different religions. It is because Ganjuran society have elements that can be a social glue in their local wisdom. This research is conducted by qualitative approach to reveal local wisdom in the maintaining harmony through the form of traditional expressions and tradition of kenduri (ritual of meal). Ganjuran society has strong social harmony perspective which is expressed by traditional idiom like rukun agawe santosa crah agawe bubrah (harmony makes peaceful, hostile makes splits).***Masyarakat Ganjuran Desa Sumbermulyo Kecamatan Bambanglipuro Bantul DIY mampu memelihara kerukunan umat beragama, meskipun berbeda agama. Hal ini disebabkan adanya elemen-elemen yang menjadi perekat sosial berupa kearifan-kearifan lokal yang hidup dalam masyarakat Ganjuran. Penelitian yang dilakukan dengan pendekatan kualitatif ini mengungkapkan kearifan lokal pada masyarakat Ganjuran dalam memelihara kerukunan dalam bentuk ungkapan-ungkapan tradisional dan tradisi kenduri. Masyarakat Ganjuran memiliki pandangan sosial guyub rukun yang diungkapkan melalui berbagai ungkapan tradisional seperti rukun agawe santosa crah agawe bubrah.
PERKEMBANGAN PENDIDIKAN DAN PERILAKU KEBERAGAMAAN PADA MASA KESULTANAN SAMBAS Mardiyati, Isyatul
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 19, No 2 (2011): Pendidikan Islam
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.19.2.161

Abstract

From a historical perspective, Sambas Sultanate historically had a significant contribution to the diversity of the empire and the kingdoms in the archipelago. While the educational side of this empire have also contributed to the transmission of the scientific world-Malay archipelago in the context of the development of Islamic education as a chain of intellectual authority (intellectual genealogy) which in turn result in the intensification of the Islamization of Islamic civilization in Indonesia. One role of the educational Sambas Sultanate is their success in producing the best sons of the Malay world and the Islamic world, such as Indra Crown Prince, Ahmad Khatib Sambas and H. M. Basyuni Imran. To find out more about the historical development of science Sambas Sultanate both from within and outside the palace will be presented further in this paper.***Dari perspektif sejarah, Kesultanan Sambas memiliki sumbangan yang signifikan terhadap keragaman kerajaan di kepulauan Indonesia. Sementara itu dari sisi pendidikan kerajaan ini juga memberikan kontribusi bagi transmisi dunia keilmuan di kepulauan Indonesia dalam konteks perkembangan pendidikan Islam sebagai jaringan intelektual (genealogi intelektual) yang pada gilirannya mempengaruhi intensifikasi Islamisasi peradaban Islam di Indonesia. Salah satu peran pendidikan Kesultanan Sambas adalah keberhasilannya dalam meng­hasil­kan putra terbaik dalam dunia Melayu dan Islam, seperti Putra Mahkota Indra, Ahmad Khatib Sambas, dan H.M. Basyuni Imran. Kajian ini akan mengungkap perkembangan sejarah ilmu di Kesultanan Sambas, baik di dalam maupun luar Kesultanan Sambas.
KITAB AL-SANĪ AL-MAṬĀLIB: INTERKONEKSI NAHWU DAN TASAWUF Zakiyah, Zakiyah
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 20, No 2 (2012): Spiritualisme Islam
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.20.2.204

Abstract

This paper reviews a book entitled al-Sanī al-Maṭālib written by Kiai Nur Iman Mlangi Yogyakarta. This book is written in Arabic containing an interconnection between Arabic grammar and mysticism. This book is very interesting due to the fact that those two knowledges have its own rules. In addition, there is only small number of authors who had written with the same model, to name one of them is Shaikh Abdul Qadir bin Ahmad al-Kuhany with his work entitled Manniyat al-Fāqir al-Munjarid wa Sayrat al-Murīd al-Mutafarrid”. The book al-Sanī al-Maṭālib was predicted written in the late 18s Century or the beginning of 19s century, it is based on the period of Kiai Nur Iman’s life in which around the mid of 18s century. The grammatical rule of Arabic in this book was explained theo­sophically, it is started with the explanation of tauhid (oneness) as the basic learning for Muslim, followed by the meaning of each Arabic rule in mystical aspect.***Tulisan ini mereview buku yang berjudul al-Sanī al-Maṭālib yang ditulis oleh Kiai Nur Iman Mlangi Yogyakarta. Buku ini ditulis dalam bahasa Arab yang me­ngandung interkoneksi antara ilmu Nahwu (tata bahasa Arab) dengan mis­tisis­me. Buku ini sangat menarik karena kenyataan bahwa kedua pengetahuan tersebut memiliki aturan sendiri-sendiri. Selain itu, sangat sedikit penulis yang menulis dengan gaya seperti itu. Salah satunya adalah Syaikh Abdul Qadir bin Ahmad al-Kuhany dengan karyanya yang berjudul Manniyat al-Fāqir al-Munjarid wa Sayrat al-Murīd al-Mutafarrid. Buku al-Saniy al-Muthalib diduga telah ditulis pada akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19, menurut periode kehidupan Kiai Nur Iman yaitu sekitar pertengahan abad ke-18. Aturan Nahwu dalam buku ini dijelaskan secara teosofi yang dimulai dengan penjelasan mengenai tauhid (keesaan Tuhan) sebagai kajian dasar bagi orang Islam, yang diikuti dengan makna dari masing-masing aturan bahasa Arab dalam aspek mistiknya.
SENGKETA TANAH KAWASAN HUTAN DAN RESOLUSINYA DALAM PERSPEKTIF FIQH Rokhmad, Abu
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 21, No 1 (2013): Resolusi Konflik
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.21.1.240

Abstract

Land dispute on forest area in Blora Regency is still developing. This is a form of resistence among Blora community toward the patterns of forrest management by Perhutani since New Order. Many things became the trigger like illegal logging, violence involving community members, and claim on land ownership. This article studied the phenomenon applying fiqh perspective in order to develop peace building that was based on common good. However natural resources management constituted an important part in doing worship to God, so it needed to be accorded to Islamic spirit.***Konflik sengketa tanah kawasan hutan di kabupaten Blora terus bergulir. Kisah ini merupakan sejarah lama karena resistensi masyarakat Blora terhadap pola-pola pengelolaan hutan oleh Perhutani telah dimulai sejak masa Orde Baru. Banyak hal yang menjadi pemicu persoalan seperti penebangan liar, kekerasan yang melibatkan warga, dan klaim kepemilikan atas tanah. Tulisan ini mencoba melakukan kajian secara fiqh atas fenomena tersebut, sebagai salah satu upaya mengembangkan resolusi perdamaian berdasarkan dari kemaslahatan bersama. Bagaimanapun pengelolaan atas alam merupakan bagian penting dari prosesi ibadah kepada Tuhan sehingga perlu disesuaikan dengan spirit Islam.
MULTIKULTURALISME DAN HEGEMONI POLITIK PERNIKAHAN ENDOGAMI: IMPLIKASI DALAM DAKWAH ISLAM Rahmaniah, Syarifah Ema
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 22, No 2 (2014): Dakwah Multikultural
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.22.2.273

Abstract

This paper described a variety of views on the dynamics of endogamy marriage practiced by sharif community in Pontianak. This paper used the theory of hege­mony to analyze Surah al-Ahzab: 33 as the cause of endogamy among the descendants of 'Isa al-Muhajir (Ba ‘Alawi) that have migrated to the archipelago. One of her off spring grew and spread in Pontianak was called sharif or syarifah of Pontianak. The results of this study explained that there are three different attitudes about endogamous marriage, they are accept, reject and moderate thinking. The three different attitudes came out as the result of modernization, contact with foreign cultures, the influence of education, socio-economic, and the existing settlement pattern. There is a socio-political implications of the verses of hegemony that is keeping the values of the potential political kinship as social capital to raise awareness and political culture in the context of community participation and representation of sharif in local and national politics. But in sociocultural context. Once endogamy was understood as an absolute system that must be run so it may open space of social stratification that threatens women’s freedom and will open the spaces for subordination.***Tulisan ini mendiskripsikan berbagai pandangan mengenai dinamika pernikahan endogami yang dipraktekan oleh komunitas syarif Pontianak. Tulisan ini meng­gunakan teori hegemoni menganalisis surat al-Ahzab ayat 33 sebagai penyebab terjadinya endogami di kalangan keturunan Isa al-Muhajir (Ba ‘Alawi) yang ber­migrasi ke Nusantara. Salah satu keturunannya yang berkembang  di kota Pontianak disebut sebagai syarif/syarifah Pontianak. Hasil penelitian men­jelaskan terdapat tiga sikap yang berbeda mengenai pernikahan endogami yaitu kalangan yang me­nerima, menolak dan yang berpikir moderat. Tiga sikap yang ber­beda ini terjadi akibat adanya modernisasi, kontak dengan budaya luar, pe­ngaruh pendidikan, sosial ekonomi, dan pola pemukiman yang ada. Terdapat impli­kasi sosio politik ayat-ayat hegemoni yaitu menjaga nilai-nilai kekerabatan yang secara politik berpotensi se­bagai modal sosial untuk meningkatkan kesadaran dan budaya politik dalam kontek partisipasi dan keterwakilan komunitas syarif dalam politik lokal dan nasional. Namun secara sosio-budaya jika endogami dipahami se­bagai suatu sistem absolut yang mesti dijalankan dapat membuka ruang terjadinya stra­tifikasi sosial yang mengancam kebebasan perempuan dan membuka ruang ter­jadinya sub­ordinasi.
PEACEFUL JIHĀD DAN PENDIDIKAN DERADIKALISASI AGAMA Sulasman, Sulasman
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 23, No 1 (2015): Pendidikan dan Deradikalisasi Agama
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.23.1.228

Abstract

The Islamic Boarding School (Pondok Pesantren) Miftahul Huda was originatelly identical with the radicalism movement not only because of its exclusivism in religious activities, the criticism  toward the government, but also the identification of its members with DI/TII movement and FPI. In line with internal and external dynamics, this boarding school reoriented its movement from physical jihād  to the path of education and peaceful dakwah or in Lukens-Bull’s perspective it is so-called peaceful jihād. The process of self-domestication and the movement of de-radicalization in this boarding was executed by six ways. They are internalizing the values of boarding school, increasing the Islamic perspective, adopting schools system, providing the education of hubb al-waṭan, using local wisdom, and developing skill education. The strategy of de­-radicalization applied by Miftahul Huda Islamic Boarding School is divided into three efforts; preventive de-radicalization, preservative de-radicalization, and curative de-radicalization. The results was shown that the students, alumni, and the boarding schools incorporated in Miftahul Huda Islamic boarding school networking system that appears in peace, moderate, and tolerance appearance.***Pondok Pesantren Miftahul Huda semula identik dengan gerakan “radikal” baik karena pandangan eksklusivismenya dalam beragama, kritisisme terhadap Pemerintah, maupun karena keidentikkan beberapa personalnya dengan gerakan DI/TII dan FPI. Sejalan dengan dinamika internal dan eksternal, pondok pe­santren ini pun mereorientasi gerakannya dari jihād fisik ke jalur pendidikan dan dakwah damai atau dalam perspektif Lukens-Bull dikenal sebagai jihad damai (peaceful jihād). Proses menjinakkan diri dan gerakannya, yang dikenal dengan deradikalisasi, dilalui oleh pondok pesantren ini dengan enam cara, yakni inter­nali­sasi nilai-nilai pesantren, perluasan perspektif keislaman, adopsi sistem sekolah, pendidikan hubb al-waṭan, penggunaan local wisdom, dan pendidikan keterampilan. Upaya deradikalisasi yang dilakukan Pondok Pesantren Miftahul Huda berkisar pada tiga strategi, yakni pencegahan, pemeliharaan budaya damai, dan pemulihan bagi yang terdampak radikal. Hasilnya, para santri, alumni, dan pesantren yang tergabung dalam sistem jaringan Pondok Pesantren Miftahul Huda muncul dalam wajah damai, moderat, dan toleran. 

Page 8 of 46 | Total Record : 452


Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 33 No. 1 (2025) Vol. 32 No. 2 (2024) Vol. 32 No. 1 (2024) Vol. 31 No. 2 (2023) Vol 31, No 1 (2023) Vol 30, No 2 (2022) Vol 30, No 1 (2022) Vol 29, No 2 (2021) Vol 29, No 1 (2021) Vol 28, No 2 (2020) Vol 28, No 1 (2020) Vol 27, No 2 (2019) Vol 27, No 1 (2019) Vol 26, No 2 (2018) Vol 26, No 2 (2018) Vol 26, No 1 (2018) Vol 26, No 1 (2018) Vol 25, No 2 (2017) Vol 25, No 2 (2017) Vol 25, No 1 (2017) Vol 25, No 1 (2017) Vol 24, No 2 (2016): Agama, Politik dan Kebangsaan Vol 24, No 2 (2016): Agama, Politik dan Kebangsaan Vol 24, No 1 (2016): Ekonomi (Bisnis) Islam Vol 24, No 1 (2016): Ekonomi (Bisnis) Islam Vol 23, No 2 (2015): Agama dan Sains untuk Kemanusiaan Vol 23, No 2 (2015): Agama dan Sains untuk Kemanusiaan Vol 23, No 1 (2015): Pendidikan dan Deradikalisasi Agama Vol 23, No 1 (2015): Pendidikan dan Deradikalisasi Agama Vol 22, No 2 (2014): Dakwah Multikultural Vol 22, No 2 (2014): Dakwah Multikultural Vol 22, No 1 (2014): Relasi Agama dan Negara Vol 22, No 1 (2014): Relasi Agama dan Negara Vol 21, No 2 (2013): Agama Lokal Vol 21, No 2 (2013): Agama Lokal Vol 21, No 1 (2013): Resolusi Konflik Vol 21, No 1 (2013): Resolusi Konflik Vol 20, No 2 (2012): Spiritualisme Islam Vol 20, No 2 (2012): Spiritualisme Islam Vol 20, No 1 (2012): Fundamentalisme Agama Vol 20, No 1 (2012): Fundamentalisme Agama Vol 19, No 2 (2011): Pendidikan Islam Vol 19, No 2 (2011): Pendidikan Islam Vol 19, No 1 (2011): Ekonomi Islam Vol 19, No 1 (2011): Ekonomi Islam More Issue