cover
Contact Name
Aqil Luthfan
Contact Email
walisongo@walisongo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
aqilluthfan@walisongo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan
ISSN : 08527172     EISSN : 2461064X     DOI : -
Core Subject : Humanities, Social,
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan is an international social religious research journal, focuses on social sciences, religious studies, and local wisdom. It is intended to communicate original research and current issues on the subject. The subject covers literary and field studies with various perspectives i.e. philosophy, culture, history, education, law, art, theology, sufism, ecology and much more.
Arjuna Subject : -
Articles 452 Documents
THE ROLE OF GOVERNMENT IN REVITALIZATION OF ISLAMIC SCHOOL IN TURKEY Raharjo, Raharjo
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 22, No 1 (2014): Relasi Agama dan Negara
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.22.1.264

Abstract

Selama berabad-abad Islam telah menjadi agama negara di Turki. Tetapi itu berubah saat Turki mendeklarasikan diri sebagai negara Republik pada tahun 1923. Turki menjadi negara sekuler dan membuat Islam tertekan. Namun saat sistem politik Pemerintah Turki mengadopsi multipartai dan partai itu kemudian didukung oleh masyarakat Muslim dan memimpin pemerintahan, perlahan keberadaan Islam kembali tampak. Kondisi ini memengaruhi keberadaan pendidikan dan sekolah-sekolah Islam, yang pada dua dekade terakhir jumlahnya meningkat tajam. Penelitian ini mengumpulkan data tentang kontrol kualitas pendidikan, bentuk-bentuk pendidikan Islam dan peran pemerintah terhadap pendidikan Islam. Melalui teknik dokumentasi, observasi dan interview, peneliti­an ini menunjukkan bahwa: 1) kontrol kualitas pendidikan di Turki dilakukan di bawah kementerian pendidikan nasional; 2) bentuk sekolah dibagi menjadi negeri dan swasta, dan 3) peran pemerintah terhadap sekolah-sekolah Islam tidak dilakukan secara langsung, namun melalui kebijakan Kementerian Pen­didikan Nasional yang diberlakukan secara umum kepada sekolah negeri.***Islam had been the religion of the state in Turkey for many centuries, but it was disappeared when the type of the state was changed into republic in 1923. Turkey then has become a secular state and Islam has been depressed. However, when the political system in Turkey adopted multiparty and the party supported by Muslim community run the ruling government, Islam gradually has existed. This affected the Islamic education and schools, which have been sharply increased in number during the last 2 decades. This research was conducted to identify the quality control of education, the types of Islamic education and the role of government towards Islamic schools. By using techniques of documentation, observation and interview, this research indicated that: 1) the quality control of education in Turkey is done under ministry of national education; 2) the types of Islamic education are divided into public and private and  3) the role of government towards Islamic schools is not implemented straight forward, but through the policy in the Ministry of National Education addressed towards the public schools.
THE LUTHER OF SHI’I ISLAM al-Qurtuby, Sumanto
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 20, No 1 (2012): Fundamentalisme Agama
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.20.1.188

Abstract

This paper examines socio-historical roots of the emergence of the idea of “Islamic Protestantism” within Iranian Shi’i tradition. The central focus of this study is to present thoughts and activities of so-called “Iranian Luthers” as the agents, actors, and prime movers of the birth of Islamic reformation in Iran. These actors whose ideas of Islamic reformation have had great influences and reached broader audiences beyond Iranian territory include Sayyid Jamal al-Din al-Afghani, Ali Shari’ati, Mehdi Bazargan, Hashem Aghajari, and Abdul Karim Soroush. There are a number of Iranian reformers deserve credits for their thoughtful, controversial ideas of Islamic reformations. These Iranian reformers are considered “the Luthers of Islam” for their deep admiration of Martin Luther’s Protestant Reformation, and their calls for Islamic reformation just like Luther did in the sixteenth century Europe. By the socio-historical and descriptive analysis, this paper is not intended to compare two religious reformations in Iran and Europe, but rather to study and analyze their notions with regard to Islamic reformation.***Artikel ini membicarakan tentang akar sosio-historis muncul­­­nya gagasan “Protestanisme Islam” dalam tradisi Syi’ah Iran, dengan fokus kajian pemikiran dan gerakan yang disebut “Luther Iran” sebagai agen, aktor, dan peng­gerak utama lahirnya reformasi Islam di Iran. Ide-ide re­formasi Islam memiliki pengaruh besar dan mencapai khalayak yang lebih luas di luar wilayah Iran termasuk Sayyid Jamal al-Din al-Afghani, Ali Shari’ati, Mehdi Bazargan, Hashem Aghajari, dan Abdul Karim Soroush. Sejumlah reformis Iran layak mendapatkan perhatian karena pe­mikir­an, ide-ide kontroversial mereka dalam reformasi Islam. Para reformis Iran dianggap sebagai “Luther Islam” karena kekaguman mendalam mereka terhadap Martin Luther, dan mereka menghendaki reformasi Islam seperti yang terjadi pada masa Luther di Eropa abad keenam belas. Dengan analisis sosio-historis dan deskriptif, tulisan ini tidak di­maksud­kan untuk membandingkan dua reformasi ke­agamaan di Iran dan Eropa, melainkan untuk mem­pelajari dan meng­analisis gagasan-gagasan mereka mengenai refor­masi Islam.
MEMBANGUN KEMITRAAN BANK SYARIAH DENGAN PENDEKATAN SHARIAH MARKETING Yulianto, Arief
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 19, No 1 (2011): Ekonomi Islam
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.19.1.218

Abstract

Amidst the competitions among shariah bank demanding the shariah bank to have marketing strategies in order to keep a sustainable relation between bank and customers. It was revealed from this research that some variables: product attributes, the quality of service to the Islamic approach to marketing, reputation, satisfaction, affective commitment, continuous commitment and customer loyalty can be accepted as the decisive variables in deciding the good marketing relation­ship between shariah bank and customers.***Di tengah-tengah persaingan di antara bank-bank syariah, dibutuhkan strategi marketing untuk mempertahankan hubungan yang berkelanjutan di antara bank dengan pelanggan. Terungkap dalam penelitian ini bahwa beberapa variabel: atribut produk, kualitas layanan dengan pendekatan Islam mengenai pemasaran, reputasi, kepuasan, komitmen yang efektif, komitmen yang berkelanjutan, dan kesetiaan pelanggan dapat diterima sebagai variabel yang menentukan hubungan pemasaran yang baik antara bank syari’ah dengan pelanggan.
DASAR NEGARA DAN TAQIYYAH POLITIK PKS Rokhmad, Abu
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 22, No 1 (2014): Relasi Agama dan Negara
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.22.1.255

Abstract

This article studied about the relationship between Partai Keadilan Sejahtera (PKS/the Prosperous Justice Party) and Pancasila as the state’s philosophy. PKS didn’t have the experience of the struggle of Indonesian independence and the difficult period of the Pancasila formulation. PKS was born after Pancasila convinced as the national agreement. The political attitude of PKS to Pancasila as the state’s philosophy is still indistinct. PKS viewed as political party that hide their truly intent: between receiving Pancasila and implementing islamic shari’ah. The aspiration of implementing islamic shari’ah has been concealing in vision and mission as well as in the heart of PKS’s cadres. The aspiration will be done by peaceful and constitutional ways.***Artikel ini mengkaji relasi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan Pancasila sebagai dasar negara. PKS tidak mengalami perjuangan meraih kemerdekaan dan masa-masa sulit perumusan Pancasila. PKS lahir setelah Pancasila diyakini sebagai perjanjian suci kebangsaan. Sikap PKS terhadap Pancasila sebagai dasar negara masih mengambang. Ia dipandang menyembunyikan maksud hati yang sebenarnya: antara menerima Pancasila atau menegakkan syariat Islam. Cita-cita menegakkan syariat Islam tersimpan dalam visi, misi dan hati para kader PKS, yang akan dilakukan secara damai dan konstitusional.
PENDIDIKAN AGAMA ANAK SUKU KALANG Elizabeth, Misbah Zulfa
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 19, No 2 (2011): Pendidikan Islam
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.19.2.168

Abstract

This study with descriptive qualitative approach produces a fact that the context of education, the children of the Kalang community in general are also followed formal education, like other school children. They also received religious instruction as a compulsory subject. This of course has consequences for the possibility of cultural transformation through the instrument of education. Especially with religious education, the children of the Kalang community possible simultaneously and slowly will leave their teachings. Moreover, the nature of religious education itself is more of an orthodox religious values.***Kajian dengan pendekatan deskritif ini menyajikan fakta bahwa konteks pen­didikan, anak-anak suku Kalang secara umum mengikuti pendidikan formal, sebagaimana anak-anak lain pada umumnya. Mereka juga menerima pelajaran agama sebagai pelajaran wajib. Hal ini tentu saja berpengaruh terhadap kemungkinan terjadinya transformasi budaya melalui instrumen pendidikan. Khususnya terkait dengan pendidikan agama, anak-anak suku Kalang dimungkin­kan secara simultan dan perlahan akan meninggalkan ajarannya. Apalagi model pendidikan agama yang mereka terima adalah pendidikan yang lebih banyak memuat nilai-nilai ortodoks.
PENGALAMAN BERSUA TUHAN: PERSPEKTIF WILLIAM JAMES DAN AL-GHAZALI Komarudin, Komarudin
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 20, No 2 (2012): Spiritualisme Islam
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.20.2.209

Abstract

Experience of meeting God constitutes an interresting phenomenon and become the focus of interrest of many disciplines. Psychology and tasawuf are two disciplines which focusedly study this phenomenon applying different approaches. Ghazali is the representative of the dicsipline of tasawwuf and William James is the representative of the dicsipline of psychology. The both experts applied the different approaches in studying the religious experiences. Epistemological base on which William James used , has the scientific accountability but less accurate in the source of knowledge. In other side, Ghazali has a deep source of knowledge but less of rationality. An effort to compromise the both approach in order to study about the experience of meeting God will result in a comprehensive, deep, and objective depiction.***Pengalaman bersua Tuhan merupakan fenomena yang menarik dan menjadi titik perhatian banyak disiplin ilmu. Psikologi dan tasawuf merupakan dua disiplin ilmu yang memfokuskan kajiannya pada fenomena ini dengan menerapkan pendekatan yang berbeda. Ghazali adalah representasi dari disiplin ilmu tasawuf dan William James adalah representasi disiplin ilmu psikologi. Kedua ahli tersebut menggunakan pendekatan yang berbeda dalam mengkaji pengalaman keagamaan. Basis epistimologi yang digunakan oleh James memiliki akuntabilitas ilmiah namun kurang akurat dalam sumber pengetahuannya. Di sisi lain Ghazali memiliki sumber pengetahuan yang dalam namun kurang dari sisi rasionalitas. Upaya untuk mengkompromikan kedua pendekatan dalam rangka untuk mengkaji pengalaman bersua Tuhan akan menghasilkan penggambaran yang dalam dan obyektif.
REVITALISASI ISLAM KULTURAL Jamil, M. Mukhsin
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 21, No 2 (2013): Agama Lokal
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.21.2.245

Abstract

This research aim to explore one of Islamic movements in Indonesia after reformation of 1998. By using qualitative method, it is clear that the demarcation betweeen Islamic tradisionalism and Islamic modernism fluided culturally. Although at the same time polarization both become more political, which is made Indonesian Islamic mainstream loosed elan vital as sosial and cultural movement. There is the contradictory trends in the dynamic of Islamic thought and movement introduced by Islamc minority groups. In one side the trends are multiculturalism, anti coruption movement and appreciation to the local cultures which is ignorenced before by Islamic movement in Indonesia. In other side, political oriented in many Islamic movement is stronger. The dominant of traditional constructions of Islamic polical thought of sunni (fiqh al-siyasah) influenced to the Islamic movement to state orientation at same time ignored the society with their problem and cultural expression. The cultural Islam proposed new understanding to Islamic traditions with hermeneutic and remove the locus of movement forum political Islam to civil Islam.***Penelitian ini bertujuan untuk menjelajahi salah satu gerakan Islam di Indonesia setelah reformasi 1998. Dengan menggunakan metode kualitatif, akan menjadi jelas demarkasi antara Islam tradisional dan Islam modernis secara kultural. Meski polarisasi kedua kelompok keagamaan itu kerap bernuansa lebih politis, sehingga menghilangkan elan vital Islam Indonesia sebagai gerakan sosial dan budaya. Tetapi ada tren kontradiktif dalam dinamika pemikiran dan gerakan Islam yang dilakukan oleh kelompok minoritas Islam. Di satu sisi trennya adalah multikulturalisme, gerakan anti korupsi, dan apresiasi terhadap budaya lokal yang telah dikembangkan oleh gerakan Islam sebelumnya. Di sisi lain, orientasi politik kelompok keagamaan juga semakin meningkat. Dominasi pemikiran politik tradisional Sunni turut mempengaruhi pola gerakan Islam kepada negara dan pada saat yang sama mengabaikan masyarakat dengan problem kebudayaan mereka. Islam kultural mencoba untuk meniupkan pemahaman baru dalam tradisi Islam dengan hermeneutika dan menggeser arah gerakan Islam politik kepada Islam sipil.
FENOMENOLOGI AGAMA: PENDEKATAN FENOMENOLOGI UNTUK MEMAHAMI AGAMA Ahimsa-Putra, Heddy Shri
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 20, No 2 (2012): Spiritualisme Islam
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.20.2.200

Abstract

In this article the author explains what is called ‘phenomeno­logical approach’ in the study of religion. Starting from Husserl’s philosophy of phenomenology, the author tracing its influences in social science through one of Husserl’s students, Alfred Schutz. Based on Husserl’s ideas developed by Schutz, the author presents his views how those ideas can be applied in the study of religion, and how religion can be defined phenomeno­logically. The author further explains some methodo­logical ethical implications of doing phenomeno­logical research on religion.***Dalam tulisan ini penulis menjelaskan apa yang disebut ‘pen­dekatan feno­menologi’ dalam kajian agama. Berangkat dari filsafat fenomeno­logi Husserl, penulis melacak pe­ngaruhnya pada ilmu sosial melalui salah seorang murid Husserl, Alfred Schultz. Berdasarkan ide Husserl yang di­kembangkan oleh Schultz, penulis menyajikan pan­dang­an­nya bagaimana ide-ide itu dapat diterapkan dalam kajian agama, dan bagaimana agama dapat didefinisikan secara fenomenologis. Penulis selanjutnya menjelaskan beberapa impli­kasi etis metodologis jika me­lakukan kajian fenomeno­logis terhadap agama.
MODEL PENYELESAIAN KONFLIK DI LEMBAGA ADAT Kamaruddin, Kamaruddin
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 21, No 1 (2013): Resolusi Konflik
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.21.1.236

Abstract

So far, there is a claim that the conflict resolution conducted by tradition institution is mediation, but in some extend it showed the differences in principle and procedure. Based on the argument this article has the purposes to know any conflict frequently broken among Aceh community, the patterns of cooperation of the tradition institutions, and to know the most dominant institution in resolving conflict. Applying qualitative method, it is revealed that tradition institutions took a very important part in resolving confling in Aceh society. Eventhough all elements of the tradition institutions are involved in conflict resolution but in the processes of conflict resolution in gampong level, keuchik has a very important and strategic role.***Selama ini muncul klaim bahwa praktek penyelesaian konflik yang dilakukan oleh lembaga adat adalah mediasi tetapi pada tataran realitasnya menunjukkan ada perbedaan dalam prinsip dan prosedur yang selama ini dilakukan. Oleh karena itu tulisan ini bertujuan untuk mengetahui macam-macam konflik yang sering terjadi dalam masyarakat Aceh dan melihat pola kerjasama yang dilakukan lembaga adat dalam menyelesaikan konflik serta siapakah diantara mereka yang paling domi­nan dalam menyelesaikan konflik. Dengan mengguna­kan metode penelitian kuali­tatif ditemukan bahwa lembaga adat telah me­main­kan peran yang sangat signifi­kan dalam menyelesaikan konflik di kalangan masyarakat Aceh. Meskipun semua unsur lembaga adat terlibat dalam me­nyelesaikan konflik tetapi dalam proses penyelesaian konflik untuk tingkat gampong, keuchik menduduki peran yang sangat penting dan strategis.
REVITALISASI FUNGSI MASJID SEBAGAI PUSAT EKONOMI DAN DAKWAH MULTIKULTURAL Dalmeri, Dalmeri
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 22, No 2 (2014): Dakwah Multikultural
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.22.2.269

Abstract

This article had the purpose to analyze the functions of the mosque that  is not only as a center of activities of ibadah, but also as the center of da‘wa and Muslim social and economic activities. The orientation of da‘wa that emphasized individual improvement dealing with in the quality of faith have neglected one important dimension of da‘wa, namely the development and empowerment of the Muslims as a whole. Through a qualitative descriptive approach and collecting data through observation and interviews, it was founded that communities which are empowered are not seen as passive recipient of the service, but a community that has a variety of potential and capabilities that can be empowered. Muslim community empowerment activities can be done through mentoring by boasting motivation, increasing awareness, developing knowledge and attitudes to enhance their capabilities, mobilizing productive resources and developing economic and da‘wa activity.***Artikel ini berupaya menganalisis bahwa fungsi masjid bukan hanya sebatas pusat kegiatan ibadah, tetapi juga sebagai pusat dakwah dan aktivitas sosial maupun ekonomi umat Islam. Orientasi dakwah yang lebih mengedepankan perbaikan kualitas keimanan individual telah mengabaikan satu dimensi penting dalam dakwah yaitu pengembangan dan pemberdayaan umat Islam secara menyeluruh. Melalui pendekatan deskriptif-kualitatif dengan proses penggalian data melalui observasi dan wawancara, dapat ditemukan bahwa komunitas yang diberdayakan tidak dipandang sebagai komunitas yang menjadi objek pasif penerima pelayanan, melainkan sebuah komunitas yang memiliki beragam potensi dan kemampuan yang dapat diberdayakan. Kegiatan pemberdayaan komunitas umat Islam dapat dilakukan melalui pendampingan dengan mem­berikan motivasi, meningkatkan kesadaran, membina aspek pengetahuan dan sikap meningkatkan kemampuan, memobilisasi sumber produktif dan me­ngembangkan kegiatan ekonomi maupun aktivitas dakwah.

Page 9 of 46 | Total Record : 452


Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 33 No. 1 (2025) Vol. 32 No. 2 (2024) Vol. 32 No. 1 (2024) Vol. 31 No. 2 (2023) Vol 31, No 1 (2023) Vol 30, No 2 (2022) Vol 30, No 1 (2022) Vol 29, No 2 (2021) Vol 29, No 1 (2021) Vol 28, No 2 (2020) Vol 28, No 1 (2020) Vol 27, No 2 (2019) Vol 27, No 1 (2019) Vol 26, No 2 (2018) Vol 26, No 2 (2018) Vol 26, No 1 (2018) Vol 26, No 1 (2018) Vol 25, No 2 (2017) Vol 25, No 2 (2017) Vol 25, No 1 (2017) Vol 25, No 1 (2017) Vol 24, No 2 (2016): Agama, Politik dan Kebangsaan Vol 24, No 2 (2016): Agama, Politik dan Kebangsaan Vol 24, No 1 (2016): Ekonomi (Bisnis) Islam Vol 24, No 1 (2016): Ekonomi (Bisnis) Islam Vol 23, No 2 (2015): Agama dan Sains untuk Kemanusiaan Vol 23, No 2 (2015): Agama dan Sains untuk Kemanusiaan Vol 23, No 1 (2015): Pendidikan dan Deradikalisasi Agama Vol 23, No 1 (2015): Pendidikan dan Deradikalisasi Agama Vol 22, No 2 (2014): Dakwah Multikultural Vol 22, No 2 (2014): Dakwah Multikultural Vol 22, No 1 (2014): Relasi Agama dan Negara Vol 22, No 1 (2014): Relasi Agama dan Negara Vol 21, No 2 (2013): Agama Lokal Vol 21, No 2 (2013): Agama Lokal Vol 21, No 1 (2013): Resolusi Konflik Vol 21, No 1 (2013): Resolusi Konflik Vol 20, No 2 (2012): Spiritualisme Islam Vol 20, No 2 (2012): Spiritualisme Islam Vol 20, No 1 (2012): Fundamentalisme Agama Vol 20, No 1 (2012): Fundamentalisme Agama Vol 19, No 2 (2011): Pendidikan Islam Vol 19, No 2 (2011): Pendidikan Islam Vol 19, No 1 (2011): Ekonomi Islam Vol 19, No 1 (2011): Ekonomi Islam More Issue