cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
JURNAL PENELITIAN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 376 Documents
REALITAS KEBERAGAMAAN GURU MADRASAH DI KUDUS (Respon Guru Madrasah di Kudus dalam Menyikapi Fenomena Guru non-Muslim Mengajar di Madrasah) Muhammad Amin; Abdul Malik; Muqtasidah Ita
Jurnal Penelitian Vol 15, No 1 (2021): JURNAL PENELITIAN
Publisher : LP2M IAIN kUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/jp.v15i1.10529

Abstract

Penelitian ini timbul dari fenomena guru non-Muslim mengajar di Madrasah yang sedang viral di media sosial, tujuan dari penelitian ini adalah dalam rangka mengetahui secara empiris bagaimana paradigma keberagamaan guru Madarsah di Kudus serta respon mereka terhadap fenomena guru non-Muslim mengajar di Madrasah. Adapun dalam penelitian ini menggunakan metode survei deskriptif yang berusaha mengungkapkan makna dari fenomena atau gejala yang terjadi. Pengumpulan data yang dilakukan menggunakan kuesioner/angket yang berisikan mengenai paradigma keberagamaan yaitu: Ekslusivisme, Inklusivisme dan Pluralisme, serta respon terhadap fenomena apabila terdapat guru non-Muslim mengajar di Madrasah. Kemudian angket disebar melalui google form kepada guru yang mengajar di Madrasah kota Kudus. Terdapat 100 responden yang telah berpartisipasi dalam survei ini. Setelah melakukan analisis data dengan pendekatan kuantitaif ditemukan fakta bahwa paradigma Inklusivisme menjadi paradigma dengan urutan paling banyak mendapat persetujuan, setelah itu paradigma Ekslusivisme dan yang terakhir paradigma Pluralisme. Meskipun guru madrasah di Kudus memiliki paradigma Inklusivisme yang tinggi akan tetapi mereka sebagian besar menolak apabila terdapat guru non-Muslim mengajar di Madrasah. Hal tersebut sungguh mengejutkan peneliti sendiri, karena seharusnya paradigma inklusivisme dapat menghantarkan sikap menerima apabila terdapat guru non-Muslim mengajar di Madrasah.
PERANAN ASOSIASI PENGACARA SYARI’AH INDONESIA (APSI) DALAM UPAYA PENYELAMATAN ASET KREDITUR MELALUI FIDUSIA Achmad Nur Qodin
Jurnal Penelitian Vol 8, No 2 (2014): JURNAL PENELITIAN
Publisher : LP2M IAIN kUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/jupe.v8i2.845

Abstract

THE ROLE OF ISLAMIC INDONESIAN LAWYERS ASSOCIATION IN RESCUING CREDITORS ASSET THROUGH FIDUCIARY. One type of collateral material that is often used by the BMT Fastabiq is fiduciary. Collateral objects pledged by the debtor to the bank are such as vehicles and machinery equipment. They are burdened fiduciary and apparently damaged, destroyed, and the value of  the moving objects will shrink every year. This study intended to study the role of  the role of  Islamic Indonesian lawyers association  (APSI)  in  rescuing  creditors  assests  through  fiduciary at KJKS BMT Fastabiq Pati and APSI efforts in conducting legal protection toward creditors on the collateral objects destruction in KJKS BMT Fastabiq Pati. Model of this research was a socio-juridical study. That was based on a legal provision (regulations) with the phenomenon or the fact that occur in the field as well as in practice, according to what happened and the truth. The results showed that APSI has an important role in rescuing the creditors assets through fiduciary at BMT KJKS Fastabiq Pati. In rescuing the assets, APSI made several attempts, namely: 1). Preventive measures. 2). Fiduciary Registration. 3. Repressive efforts. According to UU No. 42 of  1999, debtors are still responsible to repay their loans even after they fiduciary loans are insured or not insured.Keywords: ‘Shari’ah’ Lawyers, Creditors, Debtors, FiduciarySalah satu jenis jaminan kebendaan yang sering dipakai oleh pihak BMT Fastabiq adalah jaminan Fidusia. Benda jaminan yang dijaminkan oleh pihak debitur kepada pihak bank terutama pada benda jaminan seperti kendaraan bermotor, peralatan mesin  yang dibebani jaminan Fidusia ternyata rusak, musnah, dan nilai dari benda bergerak tersebut setiap tahun akan menyusut. Penelitian ini bermaksud mengkaji peranan  APSI  dalam  upaya  penyelamatan asset kreditur melalui Fidusia di KJKS BMT Fastabiq Pati, serta upaya APSI dalam melakukan perlindungan hukum terhadap kreditur atas musnahnya benda jaminan Fidusia di KJKS BMT Fastabiq Pati. Model penelitian ini adalah penelitian yuridis-sosiologis yaitu  suatu  penelitian  yang  didasarkan  pada  suatu  ketentuan hukum (peraturan yang berlaku) dengan fenomena atau kenyataan yang  terjadi  di  lapangan  serta  dalam  prakteknya  sesuai  dengan yang terjadi dan sebenarnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa APSI mempunyai peranan penting dalam upaya penyelamatan asset kreditur  melalui  Fidusia  di KJKS BMT Fastabiq Pati. Dalam penyelamatan asset tersebut, APSI melakukan beberapa upaya, yaitu: 1). Upaya preventif. 2). Pendaftaran Jaminan Fidusia. 3. Upaya represif. Menurut Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 adalah debitur tetap bertanggungjawab mengembalikan pinjaman kredit walaupun benda jaminan Fidusia tersebut diasuransikan maupun tidak diasuransikan.Kata kunci: Pengacara Syari’ah, Kreditur, Debitur, Fidusia
Pemanfaatan Modal Sosial Dalam Upaya Meningkatkan Kemandirian Mantan Tenaga Kerja Indonesia Di Kabupaten Lampung Timur Diana Ambarwati
Jurnal Penelitian Vol 13, No 1 (2019): JURNAL PENELITIAN
Publisher : LP2M IAIN kUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/jp.v13i1.4191

Abstract

Artikel ini akan memfouskan pada bagaimana modal sosial yakni trust, norms, network, reciprocity dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemandirian mantan Tenaga Kerja Indonesia di Pasar Rintisan TKI Lampung Timur, dengan melakukan field research dan menggunakan pendekatan sosiologis.Menjadi mandiri secara ekonomi adalah mimpi setiap mantan TKI di Lampung Timur. Modal sosial yang dimiliki cukup untuk mnghantarkan pada kemandirian mantan TKI secara ekonomi. Modal sosial yang telah dimiliki mantan TKI di Lampung Timur meliputi (1) kepercayaan (trust). Kepercayaan yang tinggi (hight trust) akan menghasilkan kemauan dan keberanian untuk bekerjasama. (2) Norm (tatanan/pranata sosial yang berlaku). Norma yang disepakati bersama menjadikan setiap orang bertindak atass dasar kesepakatan dan tujuan bersama dari komunitas mantan TKI yang sedang membangun kemandirian ekonomi. (3) Network (jaringan antar anggota), jejaring yang kuat menjadikan para mantan TKI cepat mendapatkan informasi baik berkaitan dengan pemasok, peluang pasar, dan peluang usaha baru, serta peluang mendapatkan pendidikan pelatihan bekerjasama dengan pihak luar. (4) Reciprocity (hubungan timbal-balik) inilah yang kemudian menjadikan anggota pasar Labuhan Ratu sebagai sesama mantan TKI yang senasib sepenanggungan untuk saling membantu, saling menguatkan dan saling memotivasi untuk mencapai kemandirian. Untuk melihat seberapa besar modal sosial memberikan pengaruh terhadap peningkatan kemandirian mantan TKI. Secara garis besar modal sosial memberikan pengaruh positif bagi peningkatan kemandirian TKI di Labuhan Ratu Lampung Timur.
TRINITAS DAN SIFAT TUHAN: Studi Analisis Perbandingan Antara Teologi Kristen dan Teologi Islam Sri Dahlia
Jurnal Penelitian Vol 11, No 2 (2017): JURNAL PENELITIAN
Publisher : LP2M IAIN kUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/jupe.v11i2.3486

Abstract

This paper emphasizes discussion on two traditions of Abrahamic religion, Islam and Christian who have more or less the same doctrine. Among these doctrinal similarities are the attributes of God. Various schools in Islamic theology differ on the existence of such attributes. Some say qadim and some say hadithas well as in the Christian tradition. In addition, this paper also elaborates the Mu’tazilite opinion that believes that the atributes of God as hadith contrasts with the opinion of Ash’ariyah. While in the Christian tradition that has a doctrine similar to the Mu’tazila is the understanding of the humanity of Jesus.
Membangun Karakter Siswa Melalui Kegiatan Intrakurikuler, Ekstrakurikuler, dan Hidden Curriculum di SD Budi Mulia Dua Pandeansari Yogyakarta Prawidya Lestari
Jurnal Penelitian Vol 10, No 1 (2016): JURNAL PENELITIAN
Publisher : LP2M IAIN kUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/jupe.v10i1.1367

Abstract

Model Pendidikan Budaya Bugis dalam Penerapan Nilai-nilai Pluralisme di IAIN Palopo Yunus Salik
Jurnal Penelitian Vol 14, No 2 (2020): JURNAL PENELITIAN
Publisher : LP2M IAIN kUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/jp.v14i2.8251

Abstract

IAIN Palopo sebagai lembaga Pendidikan Tinggi yang memiliki tata kelolah dengan pola kepemimpinan yang efektif dan efisien, akuntabel, kredibel, transparan, bertanggung jawab, dan adil. Adapun deskripsi nilai utama kearifan lokal yang dijadikan sistem manajemen yang diinternalisasikan terlebih dahulu sebagai dasar dalam melaksanakan kegiatan manajerial namun juga diterapkan ke mahasiswa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan menggunakan  pendekatan etnopedagogi. Penerapan budaya Bugis pada IAIN dilakukan model tudassipulung, pelaksanaan ini cukup efektif, Hal ini terlihat nilai Bugis (Pesse) diterapkan dalam kampus maupun di luar kampus. Nilai pluralisme empati dalam pendidikan kearifan lokal budaya Bugis terjelma konsep pesse seperti nilai Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakaingge, Sipakatou. Budaya Bugis punya cinta dan kasih sayang terhadap sesama ditunjukkan dengan pepatah seperti Mali siparappe, rebba sipatokkong, malilu sipakainge (orang lain terhanyut, dibantu, orang lain terjatuh dibantu agar bangkit, orang lain keluar dari norma-norma diingatkan/diinsyafkan). Orang Bugis menghargai kedamaian, senang membantu sesama manusia, apalagi jika itu saudara sesama manusia. kearifan lokal, misalnya; Sipakatau artinya saling memanusiakan manusia, Sipakalebbi artinya saling memuliakan, Sipakaingge’, artinya saling mengingatkan. Hal tersebut harus tetap dipelihara dan disosialisasikan, sehingga menjadi perekat bagi terciptanya serta terpeliharanya kerukunan umat beragama di Kota Palopo.
MAQASHID SYARI’AH DAN HAK ASASI MANUSIA (IMPLEMENTASI HAM DALAM PEMIKIRAN ISLAM) Abdurrahman Kasdi
Jurnal Penelitian Vol 8, No 2 (2014): JURNAL PENELITIAN
Publisher : LP2M IAIN kUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/jupe.v8i2.836

Abstract

MAQASHID SYARI’AH AND HUMAN RIGHTS (IMPLEMENTATION OF HUMAN RIGHTS IN ISLAMIC THOUGHT).  This  research  intends  analysed  relationship between ‘maqashid shari’ah’ and human rights in the context of  Islamic thought. In some text and context of  Islamic civilization, Islam respects equality. Islam gives freedom, both thinking and doing. Humans have a sense that is used to assess and see the surroundings. God gives the freedom of expression, criticizing and rectifying the country steps. Related to human rights, human being is a central point that gets attention. All the concepts and theory directed towards how to maintain mankind virtue. In the classification stage, these rights can be grouped into the most important, important and less important. To provide a solution to the phenomenon, the most ideal is to use a ‘maqashid’ concept that is implemented with ‘fiqh aulawiyat’ (priority). To promote and realize the ‘maqashid’ concept, it requires skillful people. Incorporating the concept of  Islamic human rights in the International level becomes an indicator of the implementation of these two relations.keywords:   ‘Maqashid   Syari’ah’,   Human   Right,  ‘Dlaruriyah’, ‘Hajjiyah’, ‘Tahsiniyah’Penelitan ini bermaksud mengkasji relasi antara maqashid syari’ah dan hak asasi manusia dalam konteks pemikiran  Islam. Dalam beberapa teks dan konteks peradaban Islam, Islam sangat menghormati persamaan hak. Dalam masalah kebebasan; baik berfikir maupun berbuat, Islam memberikan  keluasaan  selebar–selebarnya.  Manusia  memiliki  akal yang dipergunakan untuk menilai dan melihat alam sekitarnya. Allah memberikan kebebasan mengutarakan pendapat, mengkritik dan meluruskan langkah–langkah negara. Dalam perbincangan tentang HAM, manusia adalah titik sentral yang mendapatkan perhatian. Semua konsep dan teori diarahkan  bagaimana untuk menjaga kemashlahatan umat manusia. Dalam tahap klasifikasi, hak–hak tersebut bisa dikelompokkan menjadi paling penting, penting dan kurang penting. Untuk memberikan solusi atas fenomena tersebut yang paling ideal adalah dengan memakai konsep maqashid yang diimplementasikan dengan fiqh aulawiyat (prioritas). Untuk mengedepankan konsep maqashid ini diperlukan tangan–tangan terampil sehingga bisa terealisir. Memasukkan konsep HAM Islam dalam tingkat International, menjadi indikator implementasi dua relasi ini.kata kunci: Maqashid Syari’ah, HAM, Dlaruriyah, Hajjiyah, Tahsiniyah
Hubungan Financial Deepening dan Pertumbuhan Ekonomi: Studi Empiris di Indonesia Jihad Lukis Panjawa; Ira Fitriani Widianingrum
Jurnal Penelitian Vol 12, No 1 (2018): JURNAL PENELITIAN
Publisher : LP2M IAIN kUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/jp.v12i1.4131

Abstract

Financial deepening has been identified as one of the strategies which can accelerate the rate of development. Deepening the financial sector is one important step in the effort to develop the country's financial markets especially developing countries one of which Indonesia. In this research will identify is the relationship between finacial deepening, the exchange rate of rupiah, interest rates and economic growth in Indonesia year of 1985-2015. The approach used in this study is the causality granger. The results in this study was the performance of the financial sector is still shallow. Financial deepening and economic growth have a one-way relationship, namely economic growth affects the financial deepening. Evidence that the introduction of Demand-Following Hypothesis in Indonesia. The exchange rate of the rupiah and financial deepening do not influence each other, as well as economic growth and the exchange rate of the rupiah not influence each other.
KONSEP PEMBIAYAAN DALAM PERBANKAN SYARI’AH Rahmat Ilyas
Jurnal Penelitian Vol 9, No 1 (2015): JURNAL PENELITIAN
Publisher : LP2M IAIN kUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/jupe.v9i1.859

Abstract

THE FINANCING CONCEPT IN SHARIA BANKING. Defrayal or financing is funding provided by one party to another to support the planned investment, either by themselves or institution. In other words, the financing is funding incurred to support the planned investment. Financing terms in effect means that I believe, I trust. The word financing means (trust) that means financial institutions as s}a>h} ib al-ma>l put their trust in someone to carry out the given mandate. The fund should be used properly, fairly, and must be accompanied by a bond and the terms are clear and mutually beneficial for both parties. Each financial institution has syari’ah philosophy to seek the pleasure of  Allah. to obtain good in the world and the hereafter. Therefore, any activities of  financial institutions which feared deviate from the guidance of  religion should be avoided. In the implementation of  the financing, Islamic bank must fulfill two very important aspects, namely: (1) syar’i aspect, where in each realization of  financing to customers, the Islamic bank must be oriented to the Islamic Shariah; and (2) the economic aspect, which is still considering the gains, both for banks and for Shariah bank customers.Keywords:   Financing,   Islamic   Banking,   Islamic Financial Institutions Pembiayaan atau financing adalah pendanaan yang diberikan oleh suatu pihak kepada pihak lain untuk mendukung investasi yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun lembaga. Dengan kata lain, pembiayaan adalah pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung investasi yang telah direncanakan. Istilah pembiayaan pada intinya berarti I believe, I trust, saya percaya, saya menaruh kepercayaan. Perkataan pembiayaan yang berarti (trust) berarti lembaga pembiayaan selaku sa}  h>  i} b al-mal>  menaruh kepercayaan kepada seseorang untuk melaksanakan amanah yang diberikan. Dana tersebut harus digunakan dengan benar, adil, dan harus disertai dengan ikatan dan syarat-syarat yang jelas dan saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Setiap lembaga keuangan syari’ah mempunyai falsafah mencari keridaan Allah swt. untuk memperoleh kebajikan di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, setiap kegiatan lembaga keuangan yang dikhawatirkan menyimpang dari tuntunan agama harus dihindari. Dalam pelaksanaan pembiayaan, bank syari’ah harus memenuhi dua aspek yang sangat penting, yaitu: (1) aspek syar’i, di mana dalam setiap realisasi pembiayaan kepada para nasabah, bank syari’ah harus tetap perpedoman pada syari’at Islam; dan (2) aspek ekonomi, yakni tetap mempertimbangkan perolehan keuntungan, baik bagi bank syari’ah maupun bagi nasabah bank syari’ah.Kata kunci: Pembiayaan, perbankan syariah, lembaga keuangan syariah
Pendekatan Konservatif dalam Pendidikan Islam (Kajian Teori Al Muhafidz Al-Ghazâli dalam Pendidikan Islam) Mochamad Nasichin Al Muiz; Muhammad Miftah
Jurnal Penelitian Vol 14, No 1 (2020): JURNAL PENELITIAN
Publisher : LP2M IAIN kUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/jp.v14i1.6993

Abstract

Watak Pendidikan Islam yang dinamis menjadi satu alasan bahwa pemikiran terhadapnya senantiasa memerlukan terobosan baru. Banyak di antara para pemikir Pendidikan Islam yang berijtihad dalam merumuskan pendidikan yang ideal, termasuk dalam menentukan sistem, kurikulum, metode, pendekatan dan lain sebagainya. Salah satu aliran pendidikan Islam menurut Muhammad Jawwad Ridla adalah Aliran Religius-Konservatif (al diny al muhafidz), dengan tokohnya al-Ghazali. Konsep dasar dalam pendidikan Islam adalah upaya transformasi nilai-nilai yang sesuai dengan ajaran Islam, yakni berdasar pada Al-Qur’an dan As-Sunah termasuk ijtihad dalam pelaksanaanya. Secara umum sistem pendidikan Islam mempunyai karakter religious, maka pendidikan yang benar menurut al-Ghazali adalah pendidikan dijadikan sebagai sarana dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT dan pendidikan yang mampu mengantarkan pada kebahagiaan di dunia dan akhirat. Maka kemudian, epistimologi pemikiran pendidikan al-Ghazali adalah berorientasi pada sumber ilmu dan bagaimana cara mendapatkannya, sekaligus penentuan kesesuaian kurikulum dan metode pendidikannya terhadap peserta didik dan perkembangan jaman.