cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Prodi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat UNDIP, Jalan Professor Soedarto, Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah 50275, Indonesia
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 23033622     EISSN : 25487213.     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Arjuna Subject : -
Articles 383 Documents
Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Komitmen Dokter di Puskesmas untuk Tidak Merujuk Kasus Non-Spesialistik Pasien BPJS di Kota Semarang Hendro Sucipto; Chriswardani Suryawati; Sutopo Patria Jati
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 7, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmki.7.2.2019.102-108

Abstract

Patients who should be able to be treated at the health center (puskesmas) but because of some matters referred to and handled in a hospital, it is a waste of health costs. Hence, BPJS will pay more according to INA CBG's tariff. 3       Advanced Health Facilities, in this case a hospital, is also object to having to deal with non-specialist cases, while the case can actually be completed at the first health facility. Handling non-specialist cases in hospitals leads to health services being less well targeted. The hospital will be very busy handling patients who are not supposed to, while patients who really need treatment in the hospital can be neglected. 2       This study aims to analyze factors which influence the commitment of doctors not to refer to non-specialist cases in health centers in the city of Semarang       The study was conducted with a cross sectional quantitative research design. The data were collected by calculating the total results of the questionnaire measurements on each variable with a Likert scale on 73 doctors in 37 health centers spread across the city of Semarang. The study was conducted during March to May 2018.       The results showed that the number of non-specialist cases of BPJS Health participant patients was still relatively high. This has to do with the commitment of doctors at the health center not to refer to non-specialist cases. The most influence factor to the commitment of doctors not to refer to non-specialist cases was the doctor's perception of the completeness of facilities and infrastructure and the doctor's perception of his competence
Pengaruh Pendidikan Buklet Kesehatan Terhadap Perilaku Ibu Hamil Terkait Upaya Pencegahan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) Di Kota Semarang (Studi Kasus di Puskesmas Tlogosari wetan dan Puskesmas Genuk) luluk faizatul azizah; Sri Achadi Nugrahaeni; Cahyono Hadi
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 6, No 1 (2018): April 2018
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmki.6.1.2018.22-28

Abstract

Latar belakang dan tujuan:   Angka kematian bayi akibat Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) di Kota Semarang masih tinggi. Dari 509 bayi BBLR dengan 36.6% mengalami kematian pada tahun 2017. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan melalui buklet terhadap perilaku ibu hamil terkait upaya pencegahan BBLR di Kota Semarang. Metode:   Penelitian eksperimen semu dengan desain pre post test with control group. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu hamil di Kota Semarang pada Agustus – September tahun 2017. Subjek peneltian sejumlah 82 ibu hamil yang dipilih secara simple purposive sampling. Data dikumpulkan dengan wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Data dianalisis dengan  Mann whitney.Hasil:   Hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan rerata skor pengetahuan pada kelompok intervensi dari 8,4 ± 2,1 (5-14) menjadi 13,4 ± 1,1 (11-15) dengan nilai p=0,001, sedangkan pada kelompok kontrol dari 7,3 ± 2,0 (3-11) menjadi  11,1 ± 1,3 (9-13) dengan nilai p=0,001. Peningkatan rerata skor sikap dari 37,5 ± 2,3 (28-41) menjadi 51,9 ± 3,2 (43-60) dengan nilai p=0,001, sedangkan pada kelompok kontrol dari 36,1 ± 2,2 (28-41) menjadi 37,2 ± 2,7 (28-43) dengan nilai p=0,001. Peningkatan rerata skor praktik dari 13,4 ± 1,9 (8-18) menjadi 18,1 ± 1,3 (13-20) dengan nilai p=0,001 sedangkan kelompok kontrol dari 14 ± 2,7 (7-18) menjadi 17,3 ±1,7 (12-19) dengan nilai p=0,018. Peningkatan skor pengetahuan (p<0,05), peningkatan sikap (p<0,05) dan praktik (p<0,05) pada kelompok intervensi lebih tinggi dibanding kelompok kontrol. Simpulan:     Pendidikan buklet kesehatan yang dilaksanakan di Kota Semarang meningkatkan perilaku ibu hamil terkait upaya pencegahan BBLR. Diharapkan buklet kesehatan menjadi penambahan sarana pendidikan pada ibu hamil.
Analisis Faktor Yang Berhubungan dengan Kepuasan Ibu Hamil terhadap Kualitas Pelayanan Kelas Ibu Hamil di Kota Semarang Nurani Hari Murti; Bagoes Widjanarko; M. Zen Rahfiludin
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 6, No 2 (2018): Agustus 2018
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmki.6.2.2018.121-131

Abstract

Pencapaian tujuan pelaksanaan Kelas Ibu Hamil dalam rangka menurunkan AKI secara bermakna dengan deteksi dini dan penanganan ibu hamil berisiko belum tercapai yang mengindikasikan bahwa kualitas pelayanan yang masih rendah dan berdampak pada ketidakpuasan terhadap pelayanan di kelas ibu hamil. Gambaran ketidakpuasan meliputi rendahnya kunjungan di kelas ibu hamil (20,37%), ketidakpuasan disebabkan oleh faktor akses, lokasi, fasilitas, kenyamanan dan kurangnya pemberian informasi. Dari studi pendahuluan terhadap 15 peserta kelas ibu hamil sebanyak 67% menyatakan tidak puas dan 33% puas. Pengukuran faktor-faktor yang berhubungan dengan kepuasan ibu hamil penting dilakukan sebagai bahan perbaikan berkesinambungan terhadap kualitas pelayanan di kelas ibu hamil.Tujuan penelitian menganalisis faktor yang berhubungan dengan kepuasan ibu hamil terhadap kualitas pelayanan kelas ibu hamil di Kota Semarang. Rancangan penelitian observasional analitik cross sectional dengan sampel 160 responden perwakilan dari 16 kecamatan di Kota Semarang. Hasil penelitian menunjukkan variabel yang berhubungan dengan kepuasan ibu hamil berdasarkan uji Chi-Square yaitu fasilitas (nilai p=0,000),lokasi (nilai p=0,003),pendidikan (nilai p=0,000) dan pekerjaan (nilai p=0,001). Sedangkan variabel yang tidak berhubungan adalah umur (nilai p=0,929),penghasilan (nilai p=1,0),jumlah hamil (nilai p=1,0),usia hamil (nilai p=0,138). Analisis multivariat regresi logistik yaitu faktor yang berhubungan dengan kepuasan ibu hamil adalah fasilitas (nilai p=0,004 dan OR=2,937) dan lokasi (nilai p=0,007 dan OR=2,773) dengan nilai probabilitas 85%.Saran untuk meningkatkan kepuasan ibu hamil terhadap pelayanan di kelas ibu hamil adalah meningkatkan fasilitas, ketrampilan petugas kesehatan, promosi dan sosialisasi melalui media, partisipasi aktif peserta kelas melalui pembentukan kepengurusan kelas, koordinasi penentuan lokasi kelas ibu hamil dengan sistem mikrosimulasi dan kerjasama interprofesi tenaga kesehatan serta pelibatan institusi pendidikan kesehatan. 
Asupan Vitamin D yang Rendah, Obesitas dan Paparan Asap Rokok merupakan Faktor Risiko Preeklampsia Di Puskesmas Indramayu Tahun 2017 Roifatun Nisa; Martha Irene Kartasurya; Siti Fatimah
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 6, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (28.107 KB) | DOI: 10.14710/jmki.6.3.2018.204-209

Abstract

Penyebab  utama  kematian  ibu di  Kabupaten Indramayu  dari tahun 2012 - 2016 adalah preeklampsia yaitu 40 %.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor risiko kejadian preeklampsia di Puskesmas Kabupaten Indramayu.Jenis penelitian observasional dengan rancangan kasus kontrol. Subyek sejumlah 55 kasus ibu preeklampsia dan 55 kasus ibu tidak preeklampsia dan dipilih secara purposive sampling. Pengumpulan data dilaksanakan dengan wawancara menggunakan kuesioner terstruktur, pengukuran antropometri dan metode food recall 2 x 24 jam. Analisis data dilakukan dengan chi-square dan regresi logistik ganda.Hasil penelitian menunjukkan faktor risiko terjadinya preeklampsia adalah umur kehamilan berisiko (<20 atau >35 tahun) (OR=5,4, p=0,001), riwayat preeklampsia sebelumnya (OR=7,1, p=0,001), riwayat preeklampsia dalam keluarga (OR=7,2, p=0,001), obesitas (OR=6,5, p=0,001), tingkat kecukupan protein kurang (OR=2,7, p=0,020), tingkat kecukupan vitamin D kurang (OR=3,7, p=0,013), stress (OR=2,6, p=0,013) dan paparan asap rokok (OR=2,3, p=0,030), secara multivariat umur kehamilan berisiko (<20 atau >35 tahun) (OR=2,9, p=0,047), riwayat preeklampsia (OR=4,3, p=0,024), riwayat preeklampsia dalam keluarga (OR=9,1, p=0,001), obesitas (OR=7,1, p=0,001) dan tingkat kecukupan protein (OR=4,1, p=0,026) secara bersama-sama merupakan faktor risiko kejadian preeklampsia. Disimpulkan bahwa faktor risiko yang paling kuat adalah riwayat preeklampsia dalam keluarga dan obesitas.  Disarankan agar memasukkan riwayat preeklampsia dalam keluarga pada daftar data perawatan antenatal, mengintensifkan kunjungan nifas dan melakukan pengawasan bagi mereka yang telah terindentifikasi mempunyai risiko terjadinya preeklampsia.
Analisis Efektivitas Komunikasi Tulis Baca Konfirmasi dalam Sasaran Keselamatan Pasien di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit X Jepara Sinta Nurani; Sudiro Sudiro
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 7, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.697 KB) | DOI: 10.14710/jmki.7.2.2019.142-150

Abstract

Communication is one of the root causes of mismanagement of medical actions, lack of division of labor and coordination between professions as one of the cultural barriers to safety enforcement in hospitals. Hospitals must have a list of permitted or prohibited abbreviations which can often lead to fatal communication errors. Doctors in private hospitals in regions such as the "X" Jepara hospital come from government hospitals, especially specialist doctors. The time that doctors give very little to meet patients and talk with nurses about the patient's health status is also a problem for patient care. General Purpose: To analyze the implementation of communication TBK in an effort to prevent events related to patient safety.This study uses data collection methods through indepth interviews (in-depth interviews) with informants who have been selected and determined in relation to the implementation of the communication process of effective inpatient installation of Jepara X Hospital. Data processing is carried out with four main processes of qualitative data analysis, namely comprehending, synthesizing, theorizing and recontextualizing.The results of the study show the implementation of communication TBK in an effort to prevent events related to patient safety Application of effective communication requires a confirmation sheet as proof of recording. But this is not yet available at the X Hospital in Jepara. The modern nurse operation with the TBK technique is to use the TBK technique documentation format for each patient each shift, operand notebook, and patient medical record
Pengembangan Sistem Informasi Surveilans Leptospirosis Di Dinas Kesehatan Kota Semarang Charisna Neilal Muna; Farid Agushybana; Mursid Raharjo
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 6, No 1 (2018): April 2018
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmki.6.1.2018.8-13

Abstract

Kasus leptospirosis masih menjadi perhatian terutama di negara tropis, seperti Indonesia. Kota Semarang menjadi salah satu kota dengan kejadian leptospirosis yang mengalami peningkatan dalam 2 tahun terakhir. Surveilans epidemiologi dilakukan dalam rangka pengendalian leptospirosis. Permasalahan yang terjadi dalam surveilans leptospirosis, yaitu manajemen data yang kurang lengkap, informasi dan pemetaan kasus kurang informatif, serta akses pengguna terhadap ketersediaan data yang kurang memadai. Tujuan penelitian ini adalah melakukan pengembangan sistem informasi surveilans leptospirosis dengan SIG dalam mendukung pengendalian berdasarkan faktor risiko lingkungan di Dinas Kesehatan Kota Semarang. Metode penelitian adalah research action dengan pendekatan kualitatif, serta pengembangan sistem dengan metode FAST. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas informasi yang dihasilkan menurut aspek kemudahan, kelengkapan, ketersediaan, keakuratan, dan ketepatan waktu telah dinilai lebih baik dan mampu mengatasi permasalahan yang ada sebelumnya untuk mendukung tindakan pengendalian. Sistem informasi surveilans leptospirosis dapat diaplikasikan di sarana pelayanan kesehatan untuk melaporkan kasus secara langsung agar jangkauan data dan informasi lebih luas, akurat, dan efisien.
Analysis of Linen Management in Inpatient Room of X Hospital of Semarang City Ririn Nurmandhani
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 5, No 3 (2017): Desember 2017
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.55 KB) | DOI: 10.14710/jmki.5.3.2017.19-27

Abstract

Laundry unit is a non-medical support unit that provides linen services, especially for inpatient room. Based on the result from preliminary study, it is found that disarragement of linen management in Inpatient Room of X hospital Kota Semarang occured, which affected a logistic input, implementation, and logistic output. Analysis of linen management in inpatient room X Hospital Semarang is mandatory.The research design was qualitative with cross sectional approach. The main informants in this research were 4 laundry officers, Head of CSSD and Laundry, 2 nurses, 2 nurse assistants, and Head of Nursing Division. The triangulation informants were 1 Head and 1 staff of RT and IPS RS. Data were collected by in-depth interview and observation techniques.The results of research showed that human resources factor in laundry management was lacking, the infrastructure was available but was not working properly. Guidelines and SPOs were available but  the used of PPE was lacking. Linen planning had not run well. In the execution was not been running properly because linen maintenance, recording and reporting was not in accordance with the should, the linen identification and inventory control was not run well. Linen output still contained stain spots of 10%, thin fabric fiber of 5%, and there is still a delay of linen availability of 5% because the number of linen was not up to standart.Sugesstion for management was to increase the number and capability of human resources, the maintenance of infrastructure to increase the value of use, and good planning for the lack of linen can be fulfilled and done the sorting so that the linen that had stain spots not circulating anymore in the room.
Budaya Organisasi dalam Pelayanan Keperawatan di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Ibu dan Anak Kumala Siwi Jepara Arief Yustiawan
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 6, No 2 (2018): Agustus 2018
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmki.6.2.2018.107-113

Abstract

Budaya organisasi yang terdiri dari artefak, nilai-nilai, dan asumsi-asumsi dasar yang diterapkan pada sebuah organisasi seperti rumah sakit membutuhkan konsistensi serta keterlibatan  seluruh anggota didalamnya sehingga akan memudahkan adaptabilitas terhadap lingkungan eksternal dan internal dengan ditandainya penyelesaian tugas yang baik dan benar, tidak ada kesalahan dalam hal pekerjaan, pelayanan menjadi baik, kedisiplinan, kerjasama antar karyawan yang baik, serta inovasi dan kreativitas meningkat. Peran perawat didalam rumah sakit sangat besar dalam pelaksanaan pelayanan keperawatan akan tetapi terdapat peran perawat muncul kendala selain bersinergi dengan terhadap tujuan yang diharapkan oleh rumah sakit, perawat juga memiliki kontrak dengan sosialnya dengan pasien dan pada profesi organisasinya. Jenis penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam pada 3 perawat pelaksana sebagai informan utama dan 2 informan triangulasi terdiri dari kepala seksi keperawatan dan kepala ruang rawat inap. Data dianalisis menggunakan metode content analysis. Penelitian menunjukkan pelaksanaan budaya organisasi meliputi artefak, nilai-nilai, dan asumsi-asumsi dasar terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi pelayanan keperawatan, didapatkan bahwa penanaman visi, misi dan tujuan rumah sakit telah dilaksanakan sesuai dengan budaya organisasi yang ada diterapkan oleh rumah sakit.  Penerapan struktur organisasi di ruang rawat inap belum terpenuhi sehingga pelaksanaan tugas kurang maksimal. Sumber daya keperawatan dengan jumlah yang kurang memadai sehingga pelaksanaan budaya organisasi di ruang rawat inap tidak berjalan dengan baik. Pelaksanaan metode penugasan kepada pasien tidak mengacu kepada falsafah yang dibangun rumah sakit, pola ketenagan, serta karakteristik populasi pasien dalam memberikan asuhan keperawatan. Ketersediaan sumber atau fasilitas diruang rawat inap tidak mendukung terciptanya budaya organisasi dalam pelayanan keperawatan. Kesadaran dan motivasi terhadap pekerjaan dilaksanakan secara profesional dan maksimal sesuai dengan penerapan nilai-nilai rumah sakit. Komitmen dari pimpinan terjalin dengan baik antar perawat pelaksana atau dibagian lain.   Kata kunci: Budaya Organisasi; Artefak; Nilai-Nilai; Asumsi-Asumsi Dasar.
Peran Dokter Dalam Pencegahan Dan Penanggulangan Medication Error Di Rumah Sakit ( Studi di RSI NU Kabupaten Demak ) Abdul Aziz; Sarsintorini Putra; Sutopo Patria Jati
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 6, No 1 (2018): April 2018
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (28.107 KB) | DOI: 10.14710/jmki.6.1.2018.81-90

Abstract

        Pencegahan dan penanggulangan medication error perlu dilakukan untuk menurunkan insiden terutama KTD dan mengoreksi sistem dalam rangka meningkatkan keselamatan pasien . Di RSI NU Demak pada 5 tahun terakhir  2012-2016 masih ditemukan medication error . Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian peran dokter dalam pencegahan dan penanggulangan medication error di RSI NU Demak. Desain penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian secara purposive sebagai informan utama 5 dokter yang memberikan pelayanan di RSI NU Demak, informan triangulasi 2 apoteker, 2 perawat dan 2 keluarga pasien. Data dikumpulkan dengan teknik wawancara mendalam, focus group discussion dan observasi. Pengolahan dan analisis data menggunakan analisis isi.       Hasil survei dari 100 lembar resep didapatkan hasil:  penulisan resep yang sulit terbaca ada 14 lembar resep (14%), dosis kurang tepat ada 75 lembar resep (75%),  polifarmasi) ada 55 lembar resep (55%) , interaksi minor ada 28 lembar resep (28%), dan interaksi mayor ada 1 lembar resep (1%). Hal tersebut dilatarbelakangi oleh :1) Predisposisi factor dari aspek pengetahuan terutama interaksi obat masih ada dokter yang kurang memahaminya, aspek beban kerja era BPJS pasiennya semakin banyak tenaga terbatas; 2) Enabling factor ; komitmen dan ketrampilan dalam pencegahan dan penanggulangan medication error masih kurang 3) Reinforcing factor dari aspek managemen RS perencanaan program belum dilakukan sesuai pedoman, sosialisasi SPO terkait kelengkapan administratif resep, HAM, Polifarmasi dan interaksi obat kepada semua dokter, apoteker dan perawat belum dilakukan sesuai pedoman, pelaksanaan  monev terhadap indikator mutu patieny safety ( medication error) belum dilakukan sesuai pedoman.        Disarankan untuk advokasi dan sosialisasi kepada pengambil kebijakan diikuti deklarasi komitmen bersama dari pihak managemen, dokter, apoteker, perawat untuk mensukseskan program patient safety, pelaksanaan program patient safety dilakukan dengan system pencacatan dan pelaporan,monitoring dan evaluasi agar dapat dilaksanakan sesuai pedoman.
Pengaruh Kepemimpinan Demokratis Kepala Ruang Rawat Inap Terhadap Kepuasan Kerja Perawat di Rumah Sakit Umum Aro Pekalongan Broto Rahardjo; Chriswardani Suryawati; Farid Agushybana
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 7, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.157 KB) | DOI: 10.14710/jmki.7.2.2019.109-114

Abstract

Leadership styles that are less suitable can reduce employee motivation, performance and job satisfaction. 4 out of 10 nurses in the inpatient room of Aro Pekalongan General Hospital felt dissatisfied with the leadership of the head of the inpatient room. Therefore a study was conducted to analyze the influence of the democratic leadership style of the inpatient head on the job satisfaction of nurses in Aro Pekalongan General Hospital.The study design was cross sectional with an observational quantitative approach. The research subjects were 32 nurses in the inpatient room of Aro General Hospital who were selected by the total sampling method. Data was collected by questionnaire. Processing and analysis of data using multiple logistic regression analysis.The results showed the variables of democratic leadership style related to nurse job satisfaction in Aro Pekalongan Hospital were delegation of responsibility variables (p = 0.005) and headroom decision-making variables (p = 0.034), while other variables not related to nurse job satisfaction were variable of headroom activity (p = 0.077) and empathy variable (p = 0.075). The variable delegation of tagging answers to the head of the room has a 19 times better effect on influencing nurse job satisfaction compared to the head of the room with poor delegation of responsibilities (p = 0.011 Exp (B) = 19.826).       It is recommended for management for periodic monitoring and evaluation, the selection of the head of the room is based on the length of work, competence and experience of advice for the head of the room to improve effective communication and hold regular meetings with nurses in the inpatient room of Aro Pekalongan General Hospital.