cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal METTEK (Jurnal Ilmiah Nasional Dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin)
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 130 Documents
Baja AISI 1006: Efek Suhu Pemanasan Terhadap Sifat Mekanik Dan Strukturmikro Nasmi Herlina Sari; Lalu Tumbuh Prasetya; Agus Dwi Catur
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 4 No 1 (2018)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/METTEK.2018.v04.i01.p01

Abstract

Penyelidikan sifat–sifat dari baja AISI 1006 menggunakan suhu pemanasan masih sangat menarik untuk dikembangkan. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki efek suhu pemanasan dan tempering terhadap sifat mekanik dan struktur mikro baja AISI 1006. Variasi suhu pemanasan yang digunakan adalah 850oC, 900oC dan 950oC. Proses tempering dilakukan pada suhu 200oC. Spesimen dibentuk mengikuti standar internasional untuk pengujian impak, kekerasan dan struktur mikro. Energi serap dan kekuatan impak ditentukan dengan menggunakan mesin uji impak, dan kekerasan baja diukur mengunakan mesin uji kekerasan Vickers. Selain itu, strukturmikro dari baja juga telah dianalisa menggunakan mikroskop metalografi. Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan suhu pemanasan dan tempering pada 200°C menurunkan nilai kekuatan impak dan penyerapan energi baja; sebaliknya, kekerasan baja meningkat; karena fase austenit berubah menjadi perlit dan sementit. Energi penyerapan dan kekuatan impak tertinggi diperoleh dari spesimen SRA. Sementara itu, nilai kekerasan tertinggi diperoleh dari spesimen TKC. Hasil ini diharapkan dapat memberikan data dan informasi bagi para peneliti dan industrialis dalam mengembangkan produk baja untuk berbagai aplikasi.
Analisis Performansi Kolektor Surya Pelat Datar Sirip Berlubang I Wayan Suirya; I Gusti Bagus WIjaya Kusuma; I Made Widiyarta
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 3 No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kolektor surya merupakan salah satu contoh alat untuk pemanfaatanenergi surya.Dengan kolektor surya kita dapat memanfaatkan energi surya untuk pemanas udara.Kolektor surya adalah sebuah alat yang mampu menyerap dan memindahkan panas dari energi surya ke fluida kerja. Pada penelitian ini kolektor surya pelat datar ditambahkan pelat berlubang dengan diameter lubang yang bervariasi. Panjang pelat Lp = 1200 mm dan lebar kolektor Wp = 500 mm. Diameter pelat berlubang dari diameter besar ke diameter kecil yaitu 90 mm, 70 mm, 50 mm, 30 mm, dan 10 mm. Diameter pelat berlubang dari diameter kecil ke diameter besar yaitu 10 mm, 30 mm, 50 mm, 70 mm, dan 90 mm. Jarak antara pelat berlubang 200 mm.Dari hasil pengujian yang telah dilaksanakan maka dapat disimpulkan bahwa kolektor surya pelat datar dengan variasi diameter lubang dari diameter besar ke kecil menghasilkan performansi lebih baik dibandingkan dengan kolektor surya pelat datar dengan variasi diameter dari kecil ke besar. Performansi kolektor dengan sirip berlubang dari diameter besar ke kecil yaitu temperatur keluarannya sebesar 321 K, energi bergunanya sebesar 128,6 W dan efisiensinya sebesar 17,75 % yang lebih tinggi dari performansi kolektor dengan sirip berlubang dari diameter kecil ke besar yaitu temperatur keluarannya sebesar 319 K, energi bergunanya sebesar 80,6 W dan efisiensinya sebesar 11,1 %. The solar collectors are one example of tools to harness solar energy. With solar collectors we can utilize solar energy to heat the air. The solar collector is a device capable of absorbing and transferring heat from solar energy to the working fluid. In this study flat plate solar collector added hollow plate with varying hole diameter. Length of plate Lp = 1200 mm and collector width Wp = 500 mm. Diameter of the perforated plate from large diameter to small diameter ie 90 mm, 70 mm, 50 mm, 30 mm, and 10 mm. Diameter of the perforated plate from small diameter to large diameter ie 10 mm, 30 mm, 50 mm, 70 mm, and 90 mm. The distance between the 200 mm perforated plate. From the results of tests that have been implemented it can be concluded that flat solar collector with variations in diameter of holes from large to small diameter produces better performance compared with flat plate solar collector with variations in diameters from small to large. The performance of collector with hollow fins from large to small diameter is the output temperature of 321 K, the useful energy of 128.6 W and the efficiency of 17.75% which is higher than the collector performance with hollow fins from small to large diameter ie the output temperature is 319 K, its useful energy is 80.6 W and its efficiency is 11.1%.
Analisa Perpindahan Panas Pada Heater Tank FASSIP - 01 Mahran Noufal; I Gusti Bagus Wijaya Kusuma; I Nengah Suarnadwipa
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 3 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

FASSIP-01 adalah sebuah piranti analisa pengembangan metode sirkulasi alamiah yang bertujuan dasar untuk mengedepankan aspek keamanan teknologi struktur untuk PLTN. Prototype FASSIP-01 memiliki beberapa komponen penting, salah satunya adalah Tabung Heater. Tabung ini berfungsi sebagai tabung induk pemanas untuk memanaskan pipa utama FASSIP – 01 yang melintas di dalamnya untuk kemudian terkena efek buoyancy dan bergerak mengikutin untaian. Penelitian FASSIP-01 telah dilakukan di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) namun data yang dihasilkan belum ditemukan yang meliputi temperatur dan kecepatan aliran fluida. Dikarenakan kurangnya data pembanding awal, penulis melakukan beberapa asumsi yang dipakai sebagai acuan daripada penelitian ini. Selanjutnya data hasil simulasi kondisi asumsi tersebut dianalisa dan kemudian hasil simulasi dengan kondisi analisa menjadi hasil utama yang didapat dari penelitian ini. Dari penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa telah terjadi peningkatan unjuk kerja yang meliputi laju perpindahan panas dan efektivitas yang dihasilkan. Laju perpindahan panas yang dihasilkan apabila tanpa permukaan tambahan pada pipa menunjukkan hasil 55.760,56 Watt dan efektivitas 56,4 %, sedangkan jika ditambahkan permukaan berbentuk juring berjumlah 2 buah maka akan menghasilkan daya sebesar 64.150,86 Watt dan efektivitas sebesar 64,9 % dengan efisiensi sebesar 98%. FASSIP – 01 was an analysys loop that developed natural sirculation method purposed for leading safe and secure aspect on structure of nuclear power plant. The prototype of FASSIP – 01 had some important component of it, the one is Heater Tank. The tank was build as main heater to made main pipe of FASSIP – 01 heated, located inside of the tank that will affected with buoyancy and then flows following the loop. The research of FASSIP – 01 had been done at Indonesian Nuclear Researcher Agency (BATAN) but the result data was not completely found, included the temperature and real velocity of the flows. Caused by the less of main data that could be compared, we’ve made some assumption used for according to on this research. After all, the datas about simulation with assumption condition would be analyze and the result of simulation with real condition will be the main result as could as we got at this research. From this research, we could know that improvement of performance happened including heat transfer rate and effectivity. The heat transfer result if without the attachment of extended surface would be 55.760,56 Watt, dan the effectivity would be 56,4 %, at the other side if the attachment of extended surface with pie (segments) type with total amount is 2 was active so the heat transfer rate would be 64.150,86 Watt and the effectivity would be 64,9 % with the 98% efficiencies.
Fenomena Transport Heat Exchanger Sistem Untai Miftah Ayu Fauziah; I Gusti Bagus Wijaya Kusuma; I Nengah Suarnadwipa; Ni Made Dwidiani
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 3 No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Heat exchanger sistem untai adalah suatu alat yang dibuat khusus untuk aliran satu-fasa dengan variabel diantaranya daya pemanas dan laju aliran fluida. Daya pemanas dalam untai berupa elemen pemanas air yang memiliki daya 1000 Watt. Heat exchanger sistem untai tersusun atas heater tank, cooling tank, dan pipa kaca (pyrex) yang membentuk sebuat siklus. Adapun fungsi dari masing-masing bagian yaitu, heater tank berfungsi sebagai media memanaskan alir dengan elemen pemanas hingga waktu yang telah ditentukan. Cooling tank berfungsi sebagai media mendinginkan air dimana pada cooling tank terdapat heat exchanger berupa coil and shell yang direndam dalam air atau kolam pendingin, di dalam heat exchanger fluida berupa air yang terlebih dahulu telah dipanaskan, air dipanaskan pada heater tank akan memberikan efek perubahan kerapatan fluida yang akan menyebabkan terjadinya pergerakan fluida yang disebabkan oleh efek buoyancy, yang tersusun atas pipa kaca dan membentuk sebuah siklus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecepatan aliran fluida dalam heat exchanger sistem untai melalui simulasi ansys fluent dan menganalisa perpindahan kalor yang terjadi serta dapat mengetahui banyaknya kalor yang mampu dipertukarkan melalui metode perhitungan secara matematis. Dari hasil penelitian, analisa perhitungan, dan simulasi yang telah dilakukan dengan input running simulasi yaitu temperatur dan tekanan didapatkan output yaitu velocity aliran fluida sebesar 1,264 m/s. Adapun panas yang dapat dipertukarkan pada heater tank sebesar 2039,66 Watt dan hanya memiliki efektifitas sebesar 38%. Pada Cooling tank mampu mempertukarkan kalor sebesar11281,53 Watt dan memiliki efektifitas sebesar 84% serta jumlah heat transfer yang mampu disalurkan (NTU) sebesar 1,83. Heat exchanger strand system is a tool made specifically for single-phase flow with variables including heating power and fluid flow rate. Heating power in the strand is a water heater element that has 1000 Watt power. Heat exchanger strand system is composed of heater tanks, cooling tanks, and glass pipes (pyrex) that form a cycle. The function of each section is, heater tank serves as a medium to heat the flow with the heating element until the time specified. Cooling tank serves as a cooling water medium where the cooling tanks contain heat exchanger in the form of coil and shell soaked in water or cooling pool, in a heat exchanger fluid in the form of water that has first been heated, water heated on the heater tank will give effect fluid density change which will lead to fluid movement caused by the buoyancy effect, which is composed of a glass pipe and form a cycle. This study aims to determine the speed of fluid flow in the heat exchanger strand system through simulation Ansys fluent and analyze the heat transfer that occurs and can know the amount of heat that can be exchanged through mathematical calculation method. From the results of research, calculation analysis, and simulations that have been done with input running simulation ie temperature and pressure obtained output velocity fluid flow of 1,264 m / s. The heat that can be exchanged on the heater tank of 2039.66 Watt and only has the effectiveness of 38%. In Cooling tanks capable of exchanging heat of 11281.53 Watt and has an effectiveness of 84% and the amount of heat transfer that can be channeled (NTU) of 1.83.
ANALISIS SIFAT FISIKA BAHAN BAKAR DARI LIMBAH ORGANIK I Komang Santika Yasa; I Gusti Bagus Wijaya Kusuma; I Gusti Ngurah Santhiarsa
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 3 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Serangkaian penelitian telah dilakukan oleh beberapa ahli untuk mengatasi krisis energi di berbagai negara, mulai dari pembuatan etanol dan biogasoline (campuran antara gasoline dan alkohol), pemakaian bahan bakar gas, hingga proses pembuatan bahan bakar alternatif pengganti bensin lainnya.Dalam penelitian ini, pembuatan alkohol dari limbah semangka dilakukan dengan metoda fermentasi dalam ruang tertutup (anaerob). Diharapkan proses ini dapat mempercepat proses pembuatan alkohol dan dengan kadar alkohol yang cukup tinggi. Dari hasil pengujian didapatkan bahwa untuk menghasilkan alkohol diperlukan campuran 15 kg sampah organik dengan 0,48 kg ragi dengan kadar alkohol 10,1%. Agar layak menjadi campuran (aditif) dalam biogasoline maka alkohol 10,1% tersebut didestilasi bertingkat hingga menghasilkan kadar alkohol yang lebih tinggi, yang divariasikan mulai dari kadar 90%, 93% dan 95%. Setelah itu dibuat biogasoline dengan variasi campuran A10, A15 dan A20 untuk bensin dan alkohol. Dari hasil pengujian massa jenis, kekentalan, nilai kalor, titik nyala dan titik bakar dapat diketahui bahwa biogasoline dengan rasio campuran A10 dengan kadar alkohol 95% ternyata memiliki sifat-sifat fisika yang mendekati sama dengan bensin murni. Artinya untuk menghasilkan biogasoline 100 ml dan memiliki sifat fisika yang mendekati sama dengan bensin murni diperlukan bensin sebanyak 90 ml dan alkohol dengan konsentrasi 95% sebanyak 10 ml. A series of studies have been undertaken by experts to address the energy crisis in many countries, ranging from the manufacture of ethanol and biogasoline (a mixture of gasoline and alcohol), the use of gas fuel, to the process of making other alternative gasoline alternatives. In this research, the manufacture of alcohol from watermelon waste is done by fermentation method in an enclosed space (anaerob). It is expected that this process can accelerate the process of making alcohol and with a high enough alcohol content. From the test results obtained that to produce alcohol required a mixture of 15 kg of organic waste with 0.48 kg yeast with alcohol content of 10.1%. In order to be eligible to be a mixture (additive) in biogasoline, the 10.1% alcohol is distilled up to produce higher levels of alcohol, which varies from 90%, 93% and 95%. After that, biogasoline was prepared with mixed variations of A10, A15 and A20 for gasoline and alcohol.From the results of testing of density, viscosity, heat value, flash point and fuel point, it can be seen that biogasoline with mixed ratio of A10 with 95% alcohol content turns out to have physics properties that are close to the same as pure gasoline. This means to produce 100 ml of biogasoline and has physics properties that close to the same as pure gasoline is required as much as 90 ml of gasoline and 95% concentration of alcohol as much as 10 ml.
EVALUASI JARINGAN PERPIPAAN TRANSMISI AIR BAKU DI KABUPATEN KARANGASEM Agus Adi Putra; Ainul Ghurri; I Gusti Ngurah Priambadi
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 2 No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan manusia terhadap air pada saat ini sangatlah besar baik untuk dikonsumsi maupun untuk menunjang kehidupan manusia. Pemerintah telah melakukan perencanaan dan melaksanakan pembangunan sarana dan prasarana jaringan transmisi pipa air baku di tahun anggaran 2006 sampai tahun anggaran 2014. Sejak selesainya kontruksi, muncul beberapa masalah seperti, tingkat kebocoran - kebocoran air yang dialami pipa, oleh karena itu jaringan pipa yang ada di Kabupaten Karangasem yang berfungsi mentransmisikan air bersih yang memenuhi kebutuhan masyarakat perlu untuk di evaluasi kembali terhadap jaringan pipa sehingga dapat ditemukan solusi yang tepat dalam menyelesaikan masalah tersebut. Penelitian ini dilakukan beberapa tahapan yaitu pengukuran secara langsung dan tidak langsung dilapangan. Persiapan tidak langsung dilakukan dengan melihat data awal dari asbuilt drawing, pengukuran langsung dilakukan dengan cara survey lokasi yaitu dengan pencatatan fitting persegmen yang ada di jaringan transmisi pipa dan pengukuran elevasi pada masing – masing diameter pipa dan jarak stasioner. Tahap berikutnya adalah menganalisa tekanan hanya berdasarkan beda tinggi dan menganalisa tekanan dengan adanya fitting. Pengukuran langsung dilapangan dan analisa dalam menentukan tekanan pada jaringan transmisi pipa air baku telah dilakukan dengan cara pengukuran  elevasi akhir pipa dari segmen A (pipa GIP Ø 700 mm) di elevasi 914,428 dengan panjang pipa 5.869 m ; akhir pipa segmen B (pipa HDPE Ø 710 mm) pada elevasi 924,907 m dengan panjang pipa 3.810 m; akhir pipa segmen C (pipa HDPE Ø 630 mm) pada elevasi 819,61 m dengan panjang pipa 2.376 m dan akhir pipa segmen D (pipa HDPE Ø 560 mm) pada elevasi 929 m dengan panjang pipa 3.314 m. Jaringan transmisi pipa air baku di Kabupaten Karangasem menunjukkan bahwa secara analisis perhitungan penyetingan pada gate valve, tekanan pada perpipaan yang sudah terpasang masih dalam keadaan aman dari tekanan berlebih yang melebihi tekanan nominal pipa dan jika masih diperlukan untuk menurunkan tekanan di jaringan transmisi air baku maka secara operasional bisa dilakukan yaitu dengan membuka setengah gate valve, yang akan mampu menurunkan tekanan air dalam pipa,  sehingga sistem penyediaan air baku dapat berfungsi dengan baik.The human need for water at this point is great both for consumption and to support human life. The government has been planning and implementing infrastructure development for the raw water pipeline transmission network in fiscal year 2006 to 2014. Since the completion of the construction, there were some problems such as, water leakage rate experienced pipe, therefore pipelines that exist in Karangasem regency which serves to transmit clean water that meets the needs of people in need for re-evaluation of the pipeline so you can find the right solution to solve the problem. This research was conducted several stages of measurement directly and indirectly in the field. Preparation indirect done by looking at the preliminary data from drawing asbuilt. Direct measurement is done by survey with recording location is fitting persegmen existing transmission pipeline network and elevation measurements on each - each stationary pipe diameter and distance. The next step is to analyze the pressure only on the height difference and analyze pressure with their fittings. Measurement directly in the field and analysis in determining the pressure on the raw water pipeline transmission network has been done by the end of the pipe elevation measurement of segment A (GIP pipe Ø 700 mm) in elevation 914,428 with a length of 5.869 m of pipe; the end of the pipe segment B (HDPE pipe Ø 710 mm) at an elevation of 924,907 m to 3,810 m long pipe; the end of the pipe segment C (HDPE pipe Ø 630 mm) at an elevation of 819,61 m with a 2.376 m long pipe and pipe end segment D (HDPE pipe Ø 560 mm) at an elevation of 929 m to 3.314 m long pipe. Transmission network pipe raw water in Karangasem shows that the analysis of the calculation of the setup on the gate valve, the pressure in the piping already installed is in a safe state of excess pressure that exceeds the nominal pressure pipe and if it is still needed to reduce the pressure on the transmission network raw water then the operations can be done is to open half a gate valve, which will be able to lower the water pressure in the pipe, so that the raw water supply system to function properly.
Analisa Unjuk Kerja Sistem PLTG di PT Indonesia Power Unit Pembangkitan Bali Musa Aleksander Partogi; I Gusti Bagus Wijaya Kusuma; Ketut Astawa
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 4 No 1 (2018)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/METTEK.2018.v04.i01.p03

Abstract

Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) merupakan salah satu mesin pembangkit yang digunakan PT. Indonesia Power UP Bali dalam kegiatan industri pembangkit di Indonesia. Dalam pengoperasiannya mulai tahun 1994 hingga sekarang mesin PLTG masih menggunakan minyak solar/HSD sebagai bahan bakar pembangkit.Penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisa unjuk kerja sistem PLTG khususnya analisa keekonomian dengan membandingkan penggunaan bahan bakar minyak solar dan gas pada mesin pembangkit. Spesific Fuel Consumption (SFC) adalah rasio perbandingan total konsumsi bahan bakar terhadap daya listrik yang dibangkitkan, SFC digunakan sebagai salah satu cara untuk mengetahui seberapa efisien sebuah mesin pembangkit dan salah satu penentu biaya produksi khususnya biaya bahan bakar yang diperlukan dalam pembangkit.Berdasarkan hasil penelitian dengan harga minyak solar/HSD Rp 7300,- /liter dan gas US $ 11 /mmBTU, didapatkan biaya produksi listrik bahan bakar HSD secara aktual sebesar Rp 2541,86 /kWh, secara teoritis Rp 2336,00 /kWh dan gas secara teoritis Rp 1714,3 /kWh. Jika penjualan listrik Rp 1352,- /kWh, maka dengan menggunakan bahan bakar HSD akan berpotensi rugi sebesar Rp 1189,86 /kWh secara akutal, Rp 984,00 /kWh secara teoritis, dan Rp 362,00 /kWh dengan menggunakan bahan bakar gas. Gas Power Plant (PLTG) is one of the power plant used by PT. Indonesia Power UP Bali in the power plant industry in Indonesia. In operation from 1994 until now the PLTG engine is still using diesel oil / HSD as fuel generator. This research is intended to analyze the performance of PLTG system, especially economic analysis by comparing the use of diesel fuel and gas in generating machine. Specific Fuel Consumption (SFC) is the ratio of total fuel consumption to electric power generated, SFC is used as one way to find out how efficient a generating machine and one determinant of production cost, especially fuel cost required in generating. Based on research results with the price of diesel oil / HSD Rp 7300, - / liter and gas US $ 11 / mm BTU, the actual cost of producing HSD fuel electricity is Rp 2541,86 / kWh, theoretically Rp 2336,00 / kWh and gas theoretically Rp 1714.3 / kWh. If the sale of electricity is Rp 1352, - / kWh, then using HSD fuel will potentially loss as much as Rp 1189.86 / kWh on a theoretical basis, Rp 984.00 / kWh theoretically, and Rp 362.00 / kWh using gas fuel .
Analisa Perbaikan Sistem Instalasi Pembuangan Air Limbah Kawasan Pemukiman Francisco Sarmento; I Gusti Bagus Wijaya Kusuma; I Wayan Bandem Adnyana
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 3 No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Urbanisasi di kota Denpasar terus mengalami peningkatan dan standar hidup masyarakat di kota-kota besar juga terus meningkat di mana kebutuhan sumber air bersih menjadi lebih tinggi, Kota Denpasar merupakan tujuan wisata lokal (domestic) maupun internasional, sehingga pengelolaan lingkungan menjadi salah satu prioritas utama bagi pemerintah. upaya pencegahan masuknya air limbah domestik yang telah dilakukan oleh pemerintah melalui Sanitasi berbasis Masyarakat (Sanimas) untuk pengolahan skala komunal dan Denpasar Sewerage Development Project (DSDP) sebagai pengolahan air limbah domestik terpusat skala kawasan, serta Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) Suwung. Metode dan tahapan proses pengolahan limbah cair yang telah dirancang dalam penelitian ini menunjukkan hasil yang bagus. Karena limbah cair yang ada memiliki kandungan polutan yang hampir sama sehingga tidak akan dibutuhkan proses pengolahan yang berbeda pula. Proses pengolahan tersebut telah dapat diaplikasikan secara keseluruhan, berupa kombinasi beberapa proses atau hanya salah satu proses. Proses pengolahan tersebut dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan atau faktor finansial agar menghasilkan biaya yang lebih ekonomis. Pemecahan masalah air limbah dengan metoda ringkas dan menghasilkan output yang lebih baik bagi lingkungan hidup dilakukan dengan jalan memperbaiki sistem jaringan pembuangan limbah. Berdasarkan perbaikan sistem jaringan tersebut, maka dapat disampaikan bahwa untuk menangani 600 pelanggan dimana tiap pelanggan dibatasi sebesar 20 liter limbah cair per hari sehingga volume limbah per hari yang bisa dilayani adalah 12.000 liter dengan kebutuhan energi listrik adalah 5,238 kWh dengan biaya Rp. 237.420 per bulan. Urbanization in the city of Denpasar continues to increase and the living standards of people in big cities also continue to increase where the need for clean water sources to be higher, The city of Denpasar is a local tourist destination (domestic) and international, so environmental management becomes one of the main priorities for the government. Efforts to prevent the entry of government domestic wastewater through Sanin-based Sanitation for communal scale processing and Denpasar Sewerage Development Project (DSDP) as centralized domestic wastewater treatment of regional scale, and Suwung Sludge Treatment Plant (IPLT). The method and stages of liquid waste treatment process which have been designed in this research show good result. Because the existing liquid waste has a content of almost the same pollutant so it will not need different processing. Processing processes have been applied as a whole, in the form of a combination of several processes or just one process. Processing is modified in accordance with the needs or financial factors in order to produce a more economical cost. Solving wastewater problems by a compact method and producing a better output for the environment is done by improving the sewerage network system. Based on the improvement of the network system, it can be said that to handle 600 customers where each customer is limited to 20 liters of liquid waste per day so that the volume of waste per day that can be served is 12,000 liters with the need for electrical energy is 5,238 kWh with cost Rp. 237,420 per month.
Analisis Perpindahan Panas Pada Cooler Tank FASSIP - 01 Aprianto Tangkesalu; I Gusti Bagus Wijaya Kusuma; I Nengah Suarnadwipa
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 3 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

FASSIP-01 merupakan sebuah alat uji ekperimen yang dikhususkan untuk aliran satu-fasa dengan variabel parameter daya heater dan laju aliran pendingin di cooler. Pada sistem FASSIP-01 terdapat beberapa komponen penting salah satunya cooler tank. Cooler tank sendiri terdiri dari 2 bagian yaitu pipa refrigerator dan tabung cooler. Hasil eksperimen sementara yang telah dilakukan di BATAN dibagian cooler tank khususnya di pipa refrigerator, diperoleh perubahan temperatur yang meningkatkan dari keadaan awal, yang seharusya tidak boleh mengingat fungsi dan kerjanya sebagai pendingin. Penelitian ini ditujukan untuk menganalisis lebih dalam sistem perpindahan panas yang terjadi pada cooler tank melalui metode simulasi dan perhitungan matematis, untuk mengetahui seberapa besar temperatur fluida yang dapat diturunkan di pipa refrigerator yang akan menjadi fluida pendingin pipa utama di tabung cooler, sekaligus unjuk kerja daripada alat dan peningkatan kerja jika ada permukaan tambahan pada pipa utama di bagian dalam tabung cooler. Dari hasil analisis penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa temperatur inlet-outlet di pipa refrigerator turun dari 260C menjadi 21,570C setelah terjadi proses pendinginan. Sementara dengan penambahan permukaan pada pipa utama tabung cooler menunjukkan adanya peningkatan kerja meliputi laju perpindahan panas, efektivitas dan NTU. Laju perpindahan panas yang dihasilkan tanpa permukaan tambahan sebesar 1116,68 Watt dengan efektivitas 51% dan NTU 0,71. Sementara dengan adanya permukaan tambahan berupa cincin rectangular sebanyak 10 buah menghasilkan laju perpindahan panas sebesar 1456 Watt dengan efektivitas sebesar 67% dan NTU 1,10 dengan efisiensi 82 %. FASSIP-01 is an experimental test equipment that dedicated to a single-phase flow with variable heater power parameters and coolant flow rate in the cooler. In FASSIP-01 system, there are several important components, one is a cooler tank. Cooler tank consists from refrigerator pipes and cooler tubes. The experimental cooler tank results that had been done in BATAN, especially in refrigerator pipes, the temperature was increased from the initial state, which is should not be happened as the functions and works as cooler. This study aimed to analyze the heat transfer systems that occur on the cooler tank through simulation methods and mathematical calculations, to determine how much fluid temperature can be descreased in the refrigerator pipes which will be the fluid coolant in the cooler tubes, and performance that will increase in system if there is extended surface on the main pipe inside of the cooler tubes. From the analysis of research conducted found that the temperature at the inlet-outlet refrigerator pipes is descreased from 26oC into 21,57oC after cooling process. The extended surface on the main pipe cooler tubes showed an increase of work includes the heat transfer rate, effectiveness and NTU. The resulting rate of heat transfer without extended surface at 1116.68 Watt with effectiness 51% and NTU 0.71. While the extended surface with the form of a rectangular fins with 10 pieces produces the heat transfer rate at 1456 Watt with effectiveness 67% and NTU 1.10 as the fins efficiency 82%.
Analisis Energy Sistem Biner Pada Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP) Bedugul I Putu Yajnartha; I Gusti Bagus Wijaya Kusuma; Made Sucipta; Ni Made Dwidiani
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 3 No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tingginya tingkat kebutuhan akan listrik di Bali seharusnya dapat diatasi, mengingat cadangan sumber daya alam berupa panas bumi (geothermal)seharusnya sudah di aplikasikan pada PLTP. Dalam perjalanannya PLTP Bedugul mengalami hambatan khususnya pada daya yang mampu di bangkitkan sangatlah kecil. Dalam upaya meningkatkan daya yang dapat dibangkitkan oleh PLTP Bedugul sebenarnya dapat dilakukan dengan berbagai cara salah satunya adalah modifikasi dengan binary cycle dan perhitungan daya yang dibangkitkan dengan metode energy. Penelitian ini dilakukan dengan simulasi CFD dan CAD drawing dengan menggunakan brine CH4 kemudian membandingkan daya dengan metode energy antara daya yang dibangkitan dengan brine dan tanpa brine. Dan berdasarkan hasil simulasi daya pada PLTP yang menggunakan brine dapat membangkitkan daya sebesar 32,7 MW atau 7 kali lebih tinggi dibandingkan dengan PLTP dengan fluida kerja tanpa brine. The high necessity of electricity in Bali should be able to overcome regarding the natural resources of geothermal should have been applied in PLTP. PLTP Bedugul, on its progress of development, encounters some obstacles especially on the small electrical power it can be generated. On the efforts to increase the electrical power that can be generated by PLTP Bedugul, it actually can be done in many ways, one is modification by binary cycle and generated power measurement with energy method. This research was done by CFD simulation and CAD drawing by using brine CH4. Afterwards, the electrical power between the powers generated with brine and without brine were compared with energi method. Based on the result of power simulation on PLTP that use brine, it could generate electrical power for 32,7 MW or seven times higher than the PLTP of steam without brine.

Page 4 of 13 | Total Record : 130