cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
GARIS Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
GARIS adalah e-jurnal mahasiswa Jurusan Arsitektur terbitan Jurusan Arsitektur Universitas Halu Oleo. E-jurnal terbit tiga kali dalam setahun, merupakan media pendokumentasian dan publikasi karya tulis ilmiah yang berisikan hasil rancangan, teori, dan telaah ilmu Arsitektur.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2019)" : 10 Documents clear
PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR METAFORA PADA GEDUNG PUSAT LEMBAGA KURSUS DAN PELATIHAN DI KOTA KENDARI PROVINSI SULAWESI TENGGARA Muhammad, Fadel; Ornam, Kurniati; Umar, Muhammad Zakaria
GARIS Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKDi Kota Kendari kualitas pendidikan dan sumber daya manusia cenderung rendah. Kota Kendari membutuhkan suatu tempat untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia. Dengan demikian, pusat lembaga kursus dan pelatihan dibutuhkan oleh masyarakat. Pusat lembaga kursus ini ditujukan sebagai pusat kegiatan pendidikan kursus dan pelatihan. Penelitian ini ditujukan sebagai berikut: (1) untuk membuat desain proses arsitektur; (2) untuk membuat konsep perancangan arsitektur dan; (3) untuk mentranformasikan konsep pada desain fisik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan grounded theory. Data dikumpulkan sesuai dengan tujuan penelitian. Data diambil dengan cara observasi, survei, dan studi literatur. Data dianalisis dengan teknik analisis triangulasi. Penelitian ini disimpulkan sebagai berikut; (1) desain proses didapatkan dengan tema book align with flexibility (buku selaras dengan fleksibilitas); (2) book align with flexibility ditransformasikan pada konsep perancangan arsitektur; (3) konsep book align with flexibility ditransformasikan ke bentuk bangunan dengan konsep arsitektur metafora.Kata kunci: metafora, pusat lembaga kursus dan pelatihan Kata Kunci: Metafora, pusat lembaga kursus dan pelatihan ABSTRACT In Kendari City the quality of education and human resources tends to be low. Kendari City needs a place to improve the quality of education and human resources. Thus, the center of the course and training institutions is needed by the community. The center of the institution is intended as a center for training courses and training activities. This research is intended as follows: (1) to make architectural process designs; (2) to make architectural design concepts and; (3) to transform concepts in physical design. This study uses a qualitative method with a grounded theory approach. Data is collected in accordance with the research objectives. Data is taken by observation, survey and literature study. Data were analyzed by triangulation analysis techniques. This research is summarized as follows; (1) process design is obtained with the theme book align with flexibility; (2) book align with flexibility is transformed into architectural design concepts; (3) the concept of book align with flexibility is transformed into building forms with the concept of metaphoric architecture.Key words: metaphoric, the course and training institutions Keywords: Metaphoric, the course and training institutions
PERENCANAAN SIRKUIT SUPERCROSS DI KOTA KENDARI Tamsion, Syiril; Tahir, M. Arzal; Arsyad, Muh.
GARIS Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kompetisi sepeda motor pertama kali muncul pada awal abad ke 20 di Inggris yang akhirnya berkembang menjadi sebuah olahraga yang mendunia. Di Indonesia, terkhusus Sulawesi Tenggara, peserta balap Motorcross selalu mengalami peningkatan peserta tiap tahunnya, akan tetapi peningkatan peminat tersebut tidak diikuti oleh perkembangan arena ataupun sirkuit Motocross itu sendiri, baik dari sirkuit maupun fasilitas di dalamnya seperti sirkuit, paddock, pos signal, ruang pers, tribun penonton dan fasilitas penunjang lainnya. Perencanaan sirkuit supercross adalah pembuatan rancangan sebuah lintasan balap  yang dilangsungkan dalam arena atau stadion baik terbuka maupun tertutup dengan menggunakan motocross dan lintasannya hanya dibuat untuk sementara dengan menggunakan bahan-bahan dari tanah atau pasir beserta fasilitas-fasilitas lain yang dapat menunjang berlangsungnya kegiatan balap. Penggunaan pendekatan arsitektur futuristik pada perencanaan dimaksudkan agar bangunan yang dibangun dapat menjadi sebuah vocal point atau pusat perhatian yang dapat menjadi sebuah bangunan yang tidak biasa dari segi bentuk maupun tampilan dan menghilangkan kesan monoton  dari bangunan biasanya. Kata kunci: Kota Kendari, sirkuit supercross, futuristik ABSTRACT Motorcycle competition first appeared in the early 20th century in England which eventually grow to become a worldwide sport. In Indonesia, especially Southeast Sulawesi, motorcross have experienced an increase in participants each year, but the increase in Motocross enthusiasts is not followed by the development of the arena or Motocross circuits, both from circuits and facilities such as  paddocks, signal post, press room, audience stands and other supporting facilities. Supercross circuit planning is the design of a racing track that is held in arenas or stadiums both open and closed using motocross and the trajectory is only made temporarily by using materials from soil or sand along with other facilities that can support the ongoing racing activities. The use of a futuristic architecture approach for planning is intended so that the building that is built can be a vocal point that can become an unusual building in terms of form and appearance and eliminate the monotonous impression of the usual building. Keywords: Kendari City, supercross circuit, futuristic 
PENERAPAN ARSITEKTUR TRADISIONAL MUNA PADA GEDUNG PUSAT KREATIFITAS MASYARAKAT MUNA DI KOTA RAHA Arlianto, La Ode; Nurjannah, Irma; Rosyidah, Sitti
GARIS Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Dalam menghadapai persaingan global mendatang, perkembangan ekonomi  kreatif di  Indonesia  pun  mulai  diperhatikan.  Ekonomi  kreatif yang berbasis kepada modal kreativitas sumber daya manusia, berpeluang mendorong daya saing bangsa Indonesia di masa depan. Perkembangan Ekonomi kreatif diikuti pula dengan perkembangan wirausaha muda di Indonesia yang saat ini mengalami peningkatan  jumlah yang cukup baik. Di Kabupaten Muna sendiri sudah ada beberapa komunitas - komunitas kegiatan jual-beli dan pameran produk-produk industri kreatif yang berbasis lokal meliputi produk fesyen, kerajinan, desain, dll. Maka dari itu sangat diperlukan sebuah wadah untuk kegiatan pengembangan industri kreatif yang ada di kota Raha, Kabupaten Muna. Dalam perancangan ini, wadah tersebut berupa Pusat Kreatifitas Masyarakat Muna yang direncanakan berlokasi di kawasan pusat bisnis (CBD) bertempat di jalan By Pass Raha. Pusat Kreatifitas Masyarakat Muna ini mewadahi kegiatan bekerja dan  edukasi  di  bidang  industri  kreatif,  dengan  adanya  fasilitas  seperti ruang-ruang workshop dan studio, ruang kelas serta ruang pameran atau pertunjukan baik indoor maupun outdoor untuk kegiatan-kegiatan kreatif lainnya. Sesuai dengan pendekatan dan rumusan masalah yang diangkat maka proses perancangan bangunan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi eksisting site, kebutuhan dan program ruang serta perwujudan tampilan arsitektur tradisional muna terhadap bangunan agar dapat mewadahi kegiatan di dalamnya dan sesuai untuk pengguna Pusat kreatifitas. Kata kunci: industri kreatif, arsitektur, tradisional muna, raha ABSTRACT In the face of future global competition, the development of the creative economy in Indonesia has begun to be noticed. A creative economy based on capital, the creativity of human resources, has the opportunity to encourage the competitiveness of the Indonesian people in the future. Creative economic developments are also followed by the development of young entrepreneurs in Indonesia, who are currently experiencing a fairly large increase in numbers. In Muna Regency, there are already several communities - buying and selling activities and exhibitions of local creative industrial products, including fashion products, crafts, drawings, etc. A container is therefore necessary for the development of creative industries in the city of Raha, Muna Regency. In this design, the container comes in the form of the Muna Community Creativity Center, which should be located in the Central Business District (CBD) located on By Pass Raha Road. The Muna Community Creativity Center organizes work and educational activities in the area of creative industries, with facilities such as workshops and studios, classrooms and indoor or indoor exhibitions or shows. outside for other creative activities. In accordance with the approach and formulation of the problem, the building design process is carried out taking into account site conditions, space requirements and existing programs, as well as the achievement of the appearance of the building. Traditional architectural architecture host activities and is suitable for users Pusat Kreatifitas. Keywords: Creative industry, architecture, traditional muna, raha
PENERAPAN KONSEP EKOWISATA PADA KAWASAN WISATA PANTAI TORONIPA DI KABUPATEN KONAWE Wijaya, Laode Herman; Halim, Halim; Rosyidah, Sitti
GARIS Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK  Prospek perkembangan pariwisata di Indonesia diprediksi semakin baik. Hal ini sebabkan banyaknya kampanye dan promosi. Obyek wisata yang dikembangkan oleh pemerintah di Sulawesi Tenggara cukup banyak. Salah satunya adalah wisata pantai Toronipa. Kawasan wisata pantai Toronipa memiliki kelemahan seperti penataan zonasi kurang optimal, sarana dan prasarana belum memadai. Penelitian ini ditujukan untuk mengolah tapak, merencanakan fasilitas penunjang dan merencanakan bangunan sesuai dengan konsep ekowisata. Penelitian ini menggunakan metode Grounded Theory dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini disimpulkan bahwa pada kawasan dibagi menjadi 3 zona. Zona-zona tersebut adalah zona inti, zona penyangga, zona pemanfaatan, dan menyedikan berbagai fasilitas penunjang seperti hunian, toko souvenir, dermaga wisata, area tracking bukit, flying fox tower, area pembibitan mangrove, restoran, plaza. Desain fisik bangunan sebagian besar merupakan bentuk panggung hal ini ditujukan untuk mencegah kerusakan tanah dan memaksimalkan penghawaan alami. Kata Kunci: Wisata, pantai, toronipa. ABSTRACT       The prospect of tourism development in Indonesia is predicted to be better. This is due to the number of campaigns and promotions. Tourism objects developed by the government in Southeast Sulawesi are quite a lot. One of them is the Toronipa beach tour. Toronipa beach tourism area has disadvantages such as less optimal zoning arrangement, inadequate facilities and infrastructure. This research is intended to process sites, plan supporting facilities and plan buildings in accordance with the concept of ecotourism. This study uses the Grounded Theory method with a qualitative approach. This study concluded that the area was divided into 3 zones. These zones are the core zone, buffer zone, utilization zone, and provide various supporting facilities such as residential, souvenir shops, tourist docks, hill tracking area, flying fox tower, mangrove nursery area, restaurant, plaza. The physical design of the building is largely a form of stage, which is intended to prevent soil damage and maximize natural ventilation. Keywords: tourism, beach, Toronipa.
PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR EKOLOGI PADA SEKOLAH ALAM DI KOTA KENDARI Wardahni, Mahdiya Zulfa; Riyanti, Hapsa; Syukur, La Ode Abdul
GARIS Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK (Blank 10)Sekolah alam adalah sekolah dimana alam digunakan sebagai media dan suasana belajar yang diciptakan pun sangat nyaman, sehingga anak-anak bebas bereksplorasi untuk menjawab semua rasa ingin tahu mereka. Salah satu pendekatan yang sesuai dengan sekolah alam yaitu arsitektur ekologi. Arsitektur ekologi adalah pembangunan berwawasan lingkungan, di mana memanfaatkan potensi alam semaksimal mungkin. Arsitektur ekologi merupakan pendekatan yang tepat dengan konsep sekolah alam yang mencoba menghadirkan metoda perancangan yang berbasis pada alam. Oleh karena itu, melalui perencanaan sekolah alam dengan pendekatan arsitektur ekologi ini diharapkan dapat meningkatkan minat siswa untuk lebih interaktif dalam proses pembelajaran dengan suasana yang menyenangkan dan berbeda dengan proses pembelajaran pada umumnya dan dapat memberikan pemahaman serta tingkat kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan alam sekitar. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan diantaranya, analisis berdasarkan survey langsung serta wawancara untuk mendapatkan data-data berkaitan dengan eksisting dan data-data yang berkaitan dengan judul perancangan. Sedangkan untuk merumuskan konsep perancangan sekolah alam dengan pedekatan arsitektur ekologi menggunakan analisis dengan studi literature dan juga teori-teoi pendukung. Hasil dari penelitian ini adalah lokasi perancangan yang didapat melalui beberapa alternative terpilih sehingga hasil akhir lokasi yang terpilih yaitu terletak pada jalan poros nanga-nanga, kecamatan poasia, kota kendari. Selain itu bangunan sekolah alam ini didesain untuk meningkatkan proses pembelajaran peserta didik, dengan memberikan konsep yang interaktif bagi siswa dimana memberikan ruang yang mampu mengekspor kreatifitas siswa dan kebebasan siswa berpikir agar mereka merasa tidak terkekang.  Mendesain ruang yang berhubungan dengan alam merupakan salah satu solusi yang ampuh, dimana dapat mengurangi tingkat stress pada peserta didik dibandingkan dengan pembelajaran di dalam ruangan. Selain itu desain sekolah alam juga menerapkan prinsip-prinsip arsitektur ekologi Kata kunci : perencanaan, sekolah alam, ekologi. [Blank 11]ABSTRACT(Blank 10)Nature School is a school where nature is used as a medium and the learning atmosphere created is also very comfortable, so children are free to explore to answer all their curiosity. One approach that is in accordance with the School of Nature is ecological architecture. Ecological Architecture is an environmentally sound development, which utilizes natural potential as much as possible. Ecological architecture is the right approach to the concept of natural schools that try to present design methods based on nature. Therefore, through the planning of the Nature School with an Ecological Architecture Approach, it is expected to increase students' interest to be more interactive in the learning process with a pleasant and different atmosphere from the learning process in general and can provide understanding and a high level of concern for the natural environment. In this study, the methods used include analysis based on direct surveys and interviews to obtain data relating to the existing and data relating to the design title. Whereas to formulate the design concept of the Nature School with the approach of Ecological Architecture using analysis with literature studies and also supporting theories. The results of this study are the location of design obtained through several alternatives chosen so that the final result of the selected location is located on the Nanga-nanga axis road, Poasia District, Kendari City. In addition, this natural school building is designed to improve the learning process of students, by providing an interactive concept for students which provides space that is able to export students' creativity and the freedom of students to think that they feel unfettered. Designing space related to nature is one of the most effective solutions, which can reduce stress levels in students compared to indoor learning. Besides that the design of the School of Nature also applies the principles of Ecological Architecture. [Blank 10]Keywords: planning, school of nature, ecology. 
RENCANA TINDAK PENANGANAN INFRASTRUKTUR KAWASAN PANTAI KABUPATEN MUNA BARAT Syukur, La Ode Abdul
GARIS Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPengembangan kawasan tepian pantai yang sudah ada (kawasan Tondasi sampai Kawasan Pajala) belum terlalu berhasil menjadikan kawasan tepian pantai tersebut sebagai kawasan Mix Use yang terangkai-menerus dan saling menunjang baik untuk kepentingan ekonomi maupun kepentingan ruang untuk masyarakat luas, sehingga pada umumnya keindahan pantai tidak dapat diakses dan dinikmati secara langsung oleh masayarakat dan cenderung terkotak-kotakan dalam bentuk kepemilikan pribadi. Tujuan dari penulisan yaitu memvisualisasikan penanganan infrastruktur kawasan pantai guna meningkatkan fungsi kawasan terhadap aspek lingkungan, ekonomi, serta fungsi kawasan waterfront. Penelitian ini menggunakan model penelitian kualitatif. Tahapan penelitian yang dilakukan meliputi tahap survey dan pengumpulan data, tahap analisis dan kajian aspek makro infrastruktur kawasan pantai, tahap penyusunan konsep penanganan infrastruktur, serta tahap pembahasan desain blok kawasan pantai. Konsep visual rencana tindak penanganan infrastruktur kawasan pantai di Kabupaten Muna Barat yaitu dengan menyediakan beberapa fasilitas berdasarkan karakteristik kawasan dan aktifitas yang diperuntukan bagi kepentingan pengguna. Fasilitas yang disediakan bersifat rekreatif yang dilengkapi dengan elemen pendukungnya. Kata Kunci: Kawasan pantai, penanganan infrastruktur ABSTRACTThe development of the existing coastal areas (the Tondasi area to the Pajala area) has not been very successful in making the coastal area a mix use area which is continuous and mutually supporting both for ecomonic and spatial interests for the wider community, so that generally the beauty of the beach is not can be accessed and enjoyed directly by the community and tend to be fragmented in the form of private ownership. The purpose of this writing is to visualize the handling of coastal are infrastructure in order to improve the areas function on environmental, economic, and waterfront area functions. The study uses a qualitative research model. The stages of the research carried out include the survey and data collection stage, the analysis stage and study of the macro aspects of coastal area infrastructure, and the stage of discussing the design of the coastal block design.  The visual concept of the action plan for the handling of coastal infrastructure in west Muna Regency, namely by providing several facilities based on the characteristics of the area and activities intended for the benefit od users. The facilities provide are recreational, complet with supporting elements. Keywords: coastal area, infrastructure handling  
PENERAPAN ARSITEKTUR POPULIS PADA REDESAIN GEDUNG PUSAT PROMOSI DAN INFORMASI DAERAH DI KOTA KENDARI Hamzah, Muhamad; Umar, Muhammad Zakaria; Sjamsu, Arief Saleh
GARIS Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Disebut arsitektur rakyat, Sebuah arsitektur yang berbicara tentang kerakyatan. Menurut Eko Prawoto arsitektur rakyat dibedakan menjadi arsitek rakyat membantu pemerintah untuk mewujudkan sebuah negara yang tertata dan tertib, dan arsitek yang memang membantu rakyat agar masyarakat tersebut dapat memenuhi kebutuhannya sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Dengan adanya arsitektur rakyat dan memberdayakan arsitektur rakyat itu sendiri, pemerintah harus berusaha memanfaatkan potensi yang ada dengan sebaik-baiknya. P2ID terdiri dari bangunan kesenian, tempat pemancingan, sarana olahraga, dan rumah-rumah adat yang terdapat di Sulawesi Tenggara. Seiring berjalannya waktu, kondisi lingkungan dan gedung mengalami kerusakan dan terabaikan. Permasalahan di lapangan antara lain, kebutuhan fasilitas dan ketersediaan sarana rendah, rendahnya kualitas lingkungan, rumah-rumah adat terbengkalai, bangunan dialih fungsikan dan tidak sesuai peruntuhkannya, Sirkulasi kurang tertib. Oleh karena itu, kawasan tersebut dijadikan pusat kriminalitas seperti kasus perdagangan narkoba, tempat lokalisasi dan penimbunan BBM. Dengan terwujudnya tempat hiburan rakyat dalam kawasan Pusat Promosi Dan Informasi Daerah (P2ID) merupakan usaha menghidupkan kembali fungsi dari pada Pusat Promosi Dan Informasi Daerah itu sendiri. Dengan demikian penataan kembali Pusat Promosi dan Informasi Daerah (P2ID) sudah selayaknya direncanakan dengan cara sebagai berikut: Mendesain beberapa titik sebagai pusat perdagangan, Mendesain wadah interaksi sosial dan edukasi, Mendesain fasilitas dan sarana, Memperbaikan sirkulasi kendaraan, Mempertahankan konsep struktur batas-batas tapak, Memperbaiki dengan menambahkan beberapa bangunan Hal ini ditujukan agar P2ID menjadi tempat yang berkenan diseluruh masyarakat kota Kendari sebagai kota yang layak huni. Kata Kunci: Arsitektur populis, pusat promosi dan informasi daerah, redesain  ABSTRACT Called folk architecture, architecture that speaks of popularism. According to Eko Prawoto, community architecture is differentiated into folk architects to help the government create an orderly and orderly state, and architects who are very helpful to the people so that people can meet their needs according to what is needed. With the existence of folk architecture and empowering people's architecture itself, the government must try to utilize the existing potential as well as possible. P2ID consists of art buildings, fishing spots, sports facilities, and traditional houses in Southeast Sulawesi. Over time, environmental conditions and buildings are damaged and neglected. Problems in the field include facilities and availability of low facilities, low environmental quality, abandoned traditional houses, converted buildings and not according to their designation, irregular circulation. Therefore, the area is used as a center for crime such as the case of drug trafficking, where localization and fuel stockpiling are. With the realization of community entertainment venues in the Regional Promotion and Information Center (P2ID) area is an effort to revive the functions of the Regional Information and Promotion Center itself. Thus the realignment of the Regional Promotion and Information Center (P2ID) must be planned in the following ways: Designing several points as a trading center, Designing forums for social interaction and education, Designing facilities and facilities, Improving vehicle circulation, Maintaining the concept of site boundary structures, Repair by adding several buildings. This is intended to make P2ID a pleasant place for the entire city of Kendari as a livable city.Keywords: Populist architecture, promotion center and regional information, redesign
PENERAPAN ARSITEKTUR BIOMORFIK PADA HOTEL RESORT PANTAI TORONIPA DI KABUPATEN KONAWE Rahayu, Rahayu; Ramadhan, Sachrul; Amri, Siti Belinda
GARIS Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKabupaten konawe memiliki potensi yang besar dibidang pariwisata seperti wisata Pantai Toronipa yang terletak di Kelurahan Toronipa Kecamatan Soropia  dimana memiliki panorama yang indah, aksesibiltas yang mudah, tersedianya amenitas di pantai toronipa, dan juga adanya keterkaitan antara pantai toronipa dengan wisata lain. Permasalahan yang dihadapi oleh kabupaten Konawe adalah kurangnya sarana dan prasarana yang dapat menunjang perkembangan pariwisata seperti tersedianya akomodasi penginapan. Pada hotel resort pantai toronipa disediakan fasilitas-fasilitas berupa akomodasi penginapan, meeting room & function room, restaurant,  kolam renang, pusat kebugaran & spa, serta fasilitas-fasilitas lain yang dapat membantu wisatawan dalam berwisata. Pada perencanaan hotel resort, prinsip-prisip arsitektur biomorfik diterapkan pada bentuk dasar dan tampilan bangunan agar dapat memberikan tampilan visual yang menarik, estetik, dan dinamis. Arsitektur biomorfik merupakan teori perancangan yang dimana desain bangunan langsung dipengaruhi oleh bentuk hewan, tumbuhan, tubuh manusia, dan struktur anatomi dengan bahan yang dipilih untuk menciptakan harmoni estetika. Arsitektur biomorfik menggunakan elemen eksisting alam yakni gelombang air laut dan kerang laut sebagai sumber inspirasi untuk menciptakan bentuk.Kata kunci: pantai toronipa, hotel resort, biomorfikABSTRACT Konawe Regency has great potential in the field of tourism such as Toronipa Beach tourism located in Toronipa Subdistrict, Soropia District where it has beautiful panoramas, easy accessibility, the availability of amenities on the coast of Toronipa, and also the connection between the coast of Toronipa and other tours. The problem faced by Konawe district is the lack of facilities and infrastructure that can support tourism development such as the availability of lodging accommodations. At the beach resort hotel Toronipa provided facilities such as accommodation accommodations, meeting rooms & function rooms, restaurants, swimming pools, fitness centers & spas, as well as other facilities that can help tourists in traveling. In resort hotel planning, the principles of biomorphic architecture are applied to the basic form and appearance of the building in order to provide an attractive, aesthetic, and dynamic visual appearance. Biomorphic architecture is a design theory in which building design is directly influenced by the shape of animals, plants, human bodies, and anatomical structures with materials selected to create aesthetic harmony. Biomorphic architecture uses existing natural elements, namely waves of sea water and sea shells as a source of inspiration to create shapes.Keywords :toronipa beach, resort hotel, biomorphic
PENERAPAN ARSITEKTUR VERNAKULER MUNA PADA GEDUNG PELESTARIAN ALAT MUSIK “RAMBI WUNA “ DI KOTA RAHA Saputra, Ahong; Nurjannah, Irma; Rianty, Hapsa
GARIS Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

  ABSTRAKKesenian alat musik “Rambi Wuna” merupakan kesenian musik daerah Kabupaten Muna dimana mempunyai peran sangat penting di bidang  kesenian karena merupakan salah satu aset yang sangat penting dalam perkembangan parawisata dan menjadi ciri khas daerah Kota Raha Kabupaten Muna. Kesenian Alat musik Rambi Wuna merupakan suatu seni dalam memukul alat musik yang terdiri dari dua alat musik utama yaitu alat musik (Mbololo) Gong dan (Ganda) Gendang. Alat musik Rambi Wuna mempunyai peranan yang sangat penting dalam acara - acara kebudayaan di Kota Raha Kabupaten Muna dimana alat musik ini dimanfaatkan sebagai iringan dalam acara kebudayaan tersebut. Untuk mengembangkan dan menumbuhkan kembali kepedulian masyarakat tentang kesenian alat musik tradisional “Rambi wuna” dibutuhkan wadah yang dapat memberikan pengenalan dan pengetahuan kembali terhadap masyarakat akan pentingnya alat musik tradisional Rambi Wuna yang menjadi ciri khas Kabupaten Muna. Kata Kunci: Pelestarian Alat Musik, Rambi Wuna, Arsitektur Vernakuler   ABSTRAKInstrument "Rambi Wuna" is a musical art Muna area, which had a very important role in the field of art because it is a very important asset in the development of tourism and become the hallmark of the City of Raha Muna. Musical instrument Rambi Wuna Art is an art in the hit musical instrument consisting of two main musical instrument is a musical instrument (Mbololo) Gong and (double) drum. Wuna Rambi musical instrument has a very important role in the events - cultural events in the city of Raha Muna where the instrument is used as accompaniment in the cultural event. To develop and grow back the public awareness of the art of traditional musical instruments "Rambi wuna" requires a container that can provide an introduction to and knowledge back to the community on the importance of traditional musical instruments Rambi Wuna that characterizes Muna. Keywords: preservation of musical instruments, rambi wuna, architecture vernakuler 
REDESAIN KAMPUNG NELAYAN RANOOHA RAYA SEBAGAI SALAH SATU DESTINASI WISATA KABUPATEN KONAWE SELATAN Sari, Yuni Puspa; Santi, Santi; Al Ikhsan, Ainussalbi
GARIS Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK (Blank 10)Menjadi negara kepulauan, maka negara Indonesia tentunya kaya akan kawasan pesisir.Seperti halnya pada wilayah Desa Ranooha Raya yang kaya akan potensi diantaranya perikanan, pengembangan usaha rumput laut, lobster mutiara dan pertambakan udang. Selain itu juga memiliki potensi konservasi laut seperti komoditi ekosistem mangrove. Selain di perairan, darat juga memiliki potensi perkebunan. Adanya kampung nelayan juga memberikan keunikan tersendiri bagi desa ini. Namun potensi tersebut nyatanya belum dapat dikelola dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu perlu adanya suatu perencanaan penataan kembali kawasan kampung nelayan ini, berupa Redesain demi mewujudkan sebuah area dimana wajah sosial budaya masyarakat Kabupaten Konawe Selatan mampu terlihat kembali. Selain itu juga dapat menghasilkan area yang mampu memberikan ruang tempat bermukim dan beraktivitas bagi masyarakat nelayan yang layak, nyaman, aman. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan diantaranya, analisis berdasarkan survey langsung serta wawancara, untuk mendapatkan data-data berkaitan dengan eksisting, sedangkan untuk merumuskan konsep perancangan Redesain Kampung Nelayan Ranooha Raya menggunakan analisis dengan studi literatur dengan menerapkan dasar-dasar teori pendukung perancangan. Hasil dari penelitian ini adalah desain penataan kawasan pemukiman yang layak bagi masyarakat Desa Ranooha Raya yaitu berupa tatanan massa bangunan hunian yang lebih rapi. Dimana pada hasil desain di area hunian daratan terdapat 21 unit sedangkan pada area hunian perairan terdapat 76 unit. Jumlah rumah tersebut mempertimbangkan berdasarkan jumlah penduduk desa ranooha raya dan juga jumlah hunian warga sebelumnya baik daratan, peralihan maupun perairan. Sedangkan desain pengembangan kampung nelayan Ranooha Raya agar dapat dijadikan kawasan destinasi wisata yaitu dengan mengembangkan potensi-potensi yang telah ada. Kata kunci : Redesain, kampung nelayan, destinasi, wisata. [Blank 11]ABSTRACT By becoming an archipelagic country, the Indonesian state is certainly rich in coastal areas. As well as in the area of Ranooha Raya Village which is rich in potential including fisheries, development of seaweed business, pearl lobster and shrimp farming. Moreover, it also has the potential of marine conservation such as the commodity of the mangrove ecosystem. Besides to the waters area, mainland area also has plantation potential. The existence of a fishing village also gave its own uniqueness to the village. But the potential is in fact not yet managed and utilized as well as possible. Therefore, there is a need for a plan to re-arrangement of this fishing village area, in the form of redesign to create an area where the face of the socio-cultural community of South Konawe Regency is able to be seen again. Besides that, it can also produce an area that is able to provide a place for living and activities for fishing communities that are decent, comfortable, and safe. This research used methods that included, analysis based on direct surveys and interviews, to obtain data relating to the existing, while to formulate design concept of the Ranooha Raya Fisherman Village Redesign, using analysis with literature studies by applying the foundations of design supporting theory. The research result indicates that design of a proper residential area arrangement for the community of Ranooha Raya Village is in the form of a neater arrangement of residential buildings. Which is, in the design result, there are 21 units in the mainland residential area, while there are 76 units in the waters residential area. The total of that residential is considered based on the total of Ranooha Raya population and also the total of previous people’s housing, both mainland area, transitional area, and waters area. While the design of the development of the Ranooha Raya fishing village so that can be a tourist destination is by developing existing potentials. [Blank 10]Keywords: redesign, fisherman village, destinations, tourism. 

Page 1 of 1 | Total Record : 10