cover
Contact Name
Subhan
Contact Email
jsapalaut@uho.ac.id
Phone
+6285394139509
Journal Mail Official
jsapalaut@uho.ac.id
Editorial Address
Sekretariat Elektronik Jurnal Gedung Kardiyo P. Kardiyo, Lt.2 FPIK-UHO, Jl. HEA Mokodompit No.1, Kampus Hijau Bumi Tridharma Anduonohu, Kendari Sulawesi Tenggara 93232
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Jurnal Sapa Laut
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : ""     EISSN : 25030396     DOI : http://dx.doi.org/10.33772/jsl.v5i4
Cakupan artikel Jurnal Sapa Laut Meliputi : Bio-ekologi Kelautan Oseanografi dan Sains Atmosfer Remote Sensing Kelautan dan GIS Bioteknologi Kelautan Mitigasi Bencana Pesisir dan Adaptasi Perubahan Iklim Pencemaran Laut Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Ekowisata Bahari
Articles 205 Documents
STUDI PERUBAHAN GARIS PANTAI DENGAN PENDEKATAN PENGINDERAAN JAUH DI WILAYAH PESISIR KECAMATAN MAWASANGKA KABUPATEN BUTON TENGAH Kulmawapa, Rizki Arpakul; Afu, La Ode Alirman; Takwir, Amadhan
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 2, No 3: Agustus 2017
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v2i3.3610

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memetakan perubahan garis pantai. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret–April Tahun 2017 yang bertempat di  pesisir Kecamatan Mawasangka Kabupaten Buton Tengah. Metode yang   digunakan  dalam penelitian ini adalah metode Overlay (tumpang susun) antara citra Landsat 5 TM tahun 1995 dan Landsat 8 OLI tahun 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama 20 tahun, perubahan garis pantai yang terjadi di lokasi studi berupa akresi dan abrasi. Perubahan berupa akresi berkisar antara 33,46-192,08 m yang terjadi di Desa Air Bajo, Terapung, Kanapa-napa, Banga, Tanailandu, Oengkolaki, Balobone, Napa, Wakambangura I, Wakambangura II, Kancebungi dan Gumanano. Sedangkan abrasi terjadi di Desa  Air Bajo, Terapung, Kanapa-napa, Tanailandu, Oengkolaki, Watolo, Mawasangka Balobone, Wakambangura I, Kancebungi dan Gumanano dengan rentang jarak antara 45,65-369,1 m. Perubahan tersebut utamanya disebabkan oleh faktor  hidro-oseanografi yakni arus dan gelombang serta faktor antropogenik yakni pembangunan pemukiman dan degradasi hutan mangrove.Kata Kunci: Perubahan garis pantai, citra Landsat, Mawasangka, Buton Tengah
KEPADATAN DAN KEANEKARAGAMAN FAMILI FUNGIDAE DI PERAIRAN DESA BUTON, KABUPATEN MOROWALI Mira, Tenri; Sadarun, Baru; Rahmadani, .
Jurnal Sapa Laut Vol 5, No 4: November 2020
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v5i4.15491

Abstract

Famili fungidae merupakan salah satu jenis karang yang hidup soliter atau membentuk koloni dan mampu hidup di berbagai macam substrat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menghitung kepadatan dan keanekaragaman famili fungidae di Perairan Desa Buton, Kabupaten Morowali. Pengambilan data penelitian  dilaksanakan pada bulan Maret 2019. Stasiun pengambilan data terdiri dari 3 stasiun penelitian. Penentuan stasiun menggunakan metode purposive sampling yaitu dengan memilih stasiun berdasarkan keberadaan famili fungidae di daerah reef flat dan reef slope. Pengambilan data kepadatan famili fungidae menggunakan metode transek sabuk dengan panjang transek 30 x 2 m. Kepadatan famili fungidae setiap stasiun berkisar antara 0,442-2,183 individu/m2 dengan rata-rata kepadatan yaitu pada daerah reef flat sebesar 1,719 individu/m2 dan pada daerah reef slope sebesar 0,997 individu/m2. Keanekaragaman famili fungidae yang ditemukan adalah 9 spesies dari 5 genera. Spesies dari famili fungudae yang ditemukan diantaranya Ctenactis echinata, Fungia concinna, Fungia fungites, Fungia horrida, Fungia paumotensis, Herpolitha limax, Herpolitha weberi, Podabacia crustacea dan Polyphyllia talpina. Kepadatan famili Fungidae lebih tinggi  di zona reef flat dibandingkan reef slope.Kata kunci: Famili Fungidae, Kepadatan, Keanekaragaman, Zona Terumbu Karang
PEMETAAN SEBARAN DAN TUTUPAN LAMUN MENGGUNAKAN CITRA SATELIT LANDSAT 8 DAN SENTINEL 2A DI PERAIRAN DESA TANJUNG TIRAM KABUPATEN KONAWE SELATAN Indriana, .; Haya, La Ode Muhammad Yasir; Takwir, Amadhan
Jurnal Sapa Laut Vol 5, No 4: November 2020
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v5i4.15496

Abstract

Studi tentang lamun telah dilakukan di perairan Desa Tanjung Tiram. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sebaran, tutupan, dan habitat lamun menggunakan citra LANDSAT 8 OLI dan Sentinel 2A. Metode penelitian yang digunakan adalah perbandingan klasifikasi dua citra yang dikombinasikan dengan data lapangan. Citra yang digunakan telah dikoreksi menggunakan algoritma Depth Invariant Index (DII) untuk menghilangkan efek kedalaman. Sedangkan data lapangan diperoleh melalui metode transek kuadrat ukuran 1x1 meter persegi. Setiap transek diambil titik koordinatnya dan diamati jenis lamun serta persen tutupan lamun. Hasil analisis data lapangan menunjukkan bahwa Enhalus acoroides hanya ditemukan di Stasiun I. Sedangkan di Stasiun II dan Stasiun III ditemukan tiga jenis lamun dengan jumlah yang berbeda, yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, dan Halophila minor. Terdapat tiga kategori kepadatan lamun dari hasil klasifikasi citra, yaitu; lamun jarang, lamun sedang, dan lamun padat. Analisis Citra Landsat 8 OLI menunjukkan bahwa area kepadatan lamun di Perairan Desa Tanjung Tiram terdiri kategori lamun jarang seluas 8.58 Ha (13%), lamun sedang seluas 34.21 Ha  (17%), dan lamun padat seluas 6.48 Ha (69%) dengan total area sebesar 49.28 Ha. Sedangkan citra satelit Sentinel 2A sedikit berbeda dengan Landsat 8 OLI, Area tutupan lamun dengan kategori lamun jarang seluas 9.59 Ha (18%), selanjutnya lamun sedang sebesar 33.40 Ha (64%), dan lamun padat sebesar 9.54 Ha (18%) dengan total area 52.53 Ha. Tingkat akurasi klasifikasi pada citra satelit yang digunakan masing-masing sebesar 60.28% (Landsat 8 OLI) dan 73.04% (Sentinel 2A). Secara umum, tutupan lamun di lokasi penelitian dapat dinyatakan baik dan perlu dijaga kelestariannya.Kata kunci: Lamun, Citra LANDSAT 8 OLI, Sentinel 2A, Desa Tanjung Tiram.
TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP KARANG Acropora formosa HASIL TRANSPLANTASI DI PERAIRAN SAWAPUDO KECAMATAN SOROPIA Nurman, Febry Hisbullah; Sadarun, Baru; Palupi, Ratna Diyah
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 2, No 4: November 2017
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v2i4.3820

Abstract

Pengambilan dalam penelitian ini pada bulan September sampai Oktober 2013 di Perairan Sawapudo. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kelangsungan hidup karang hasil transplantasi mengetahui dan faktor-faktor yang memengaruhi tingkat kelangsungan hidup karang. Metode penentuan titik stasiun penelitian secara purposif yaitu dibagi dalam 2 stasiun (kedalaman 3 dan 7 m). Hasil dari penelitian ini persentase tingkat kelangsungan hidup karang A. formosa yang ditransplantasi di kedalaman 3 dan 7 m tidak menunjukkan adanya perbedaan yaitu sebesar 70,83%. Sedangkan persentase tingkat kelangsungan hidup karang transplan pada meja kontrol menunjukkan hasil sedikit lebih rendah (66,67%). Faktor yang dominan memengaruhi tingkat kelangsungan hidup karang yang ditransplantasi adalah penutupan algae, sedimentasi, dan ukuran fragmen karang dengan cabang yang berbeda. Kedalaman 7 m merupakan kedalaman yang baik bagi karang transplan untuk melakukan adaptasi fragmen karang terhadap lingkungan.Kata kunci : Acropora Formosa, Perairan Sawapudo, Tingkat Kelangsungan Hidup,  Transplantasi Karang
PEMETAAN BATIMETRI PERAIRAN DANGKAL MENGGUNAKAN ALGORITMA JUPP PADA CITRA SPOT-7 DI PERAIRAN TANJUNG TIRAM Harianto, Kurniawan; Takwir, Amadhan; Halili, .
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 4, No 1: Februari 2019
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v4i1.6802

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara nilai-nilai setiap kanal citra SPOT-7 dengan kedalaman perairan dangkal Tanjung Tiram, mensimulasi tingkat akurasi serta memetakan kedalaman pada perairan Tanjung Tiram menggunakan algoritma Jupp. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari – Maret 2018 di perairan Tanjung Tiram. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan pengumpulan data-data primer dan sekunder hingga pengolahan data citra. Data primer berupa data batimetri. Data sekunder berupa data pasang surut. Data citra yang digunakan adalah citra SPOT-7 yang memiliki 4 kanal, multispektral dengan resolusi spasial 6 m terdiri dari kanal spektral biru (450 – 520 nm), hijau (530-590 nm), merah (625- 695 nm) dan band NIR (760 - 890 nm). Pengolahan data citra dilakukan dengan mengubah nilai digital menjadi nilai kedalaman perairan berdasarkan algoritma Jupp lalu koreksi terhadap pasang surut. Hasil penelitian menunjukan bahwa hubungan anatara nilai digital (DN) dan kedalaman lapangan cukup baik dengan nilai R2 0,71. Selain itu, terlihat bahwa nilai digital setiap kanal cenderung semakin rendah dengan bertambahnya kedalaman lapangan suatu perairan begitu pun sebaliknya.Kata Kunci : Tanjung Tiram, Batimetri, Citra SPOT-7, Algoritma Jupp
HUBUNGAN ANTARA KONDISI TUTUPAN KARANG HIDUP DENGAN KELIMPAHAN IKAN CHAETODONTIDAE DI PERAIRAN LALANU, KECAMATAN SOROPIA, KABUPATEN KONAWE Saputra, Muh. Tino; Sadarun, Baru; Rahmadani, .; Subhan, .
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 4, No 2: Mei 2019
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v4i2.8323

Abstract

Secara ekologis terumbu karang berfungsi sebagai penyangga bagi kehidupan biota pesisir dan lautan seperti ikan dan invertebrate. Salah satu ikan karang yang hidup di terumbu karang adalah ikan Chaetodontidae yang merupakan jenis pemangsa karang yang memiliki hubungan positif dengan persentase karang hidup. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi terumbu karang, mengetahui kelimpahan Ikan Chaetodontidae, serta untuk mengetahui hubungan antara persentase tutupan karang hidup dengan kelimpahan ikan Chaetodontidae di Perairan Lalanu. Pengambilan data dilakukan pada bulan Agustus 2018 di tiga stasiun penelitian. Pengambilan data karang dilakukan dengan menggunakan metode Line Intercept Transect (LIT) dan metode pencacahan visual bawah air (Underwater Visual Sensus) untuk pengambilan data ikan Chaetodontidae dengan panjang garis transek 70 m dengan luas area pengamatan seluas 350m2, sebanyak dua kali pengulangan pada setiap stasiun pengamatan. Hasil penelitian ditemukan sebanyak dua genus dan terdiri dari delapan spesies ikan famili Chaetodontidae, yaitu Chaetodon kleinii, C. vegabundus,  C. trifasciatus, C. lunulatus, C. auriga, C. melannotus, Heniochus acuminatus, dan H. varius, dengan total 160 individu. Kelimpahan jenis tertinggi ditemukan pada staiun tiga (0.0457 Ind/m2) dan terendah pada Stasiun satu (0.0329 Ind/m2). Persentase kategori Life Coral tertinggi terdapat pada Stasiun tiga (37,55%) dan terendah terdapat pada Stasiun satu (29,62%). Kelimpahan dan keragaman jenis ikan Chaetodontidae memiliki hubungan yang kuat terhadap persentase tutupan karang hidup pada stasiun penelitian di perairan Lalanu dengan nilai  (R²) sebesar 0,9171 dengan determinan sebesar r = 0.9576.Kata kunci:  Kelimpahan Jenis, Chaetodontidae, Karang, Perairan Lalanu.
KELIMPAHAN DAN PREVALENSI PENYAKIT KARANG DI PERAIRAN LANGARA, KONAWA KEPULAUAN, SULAWESI TENGGARA Hasma, Siti; Sadarun, Baru; Palupi, Ratna Diyah
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 4, No 2: Mei 2019
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v4i2.8328

Abstract

Penyakit karang adalah gangguan terhadap kesehatan karang yang menyebabkan hilang atau rusaknya jaringan karang. Biota karang yang terinfeksi penyakit telah diidentifikasikan sebagai salah satu faktor utama yang memperburuk tutupan terumbu karang secara global. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kelimpahan dan prevalensi penyakit karang di Perairan Langara, Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara. Pengambilan data dilakukan di bulan April 2018 pada tiga stasiun penelitian. Metode pengambilan data kelimpahan dan prevalensi penyakit karang menggunakan metode belt transect (transek sabuk) dengan luas area transek 350 m2, yang ditarik sejajar garis pantai. Hasil penelitian menyebutkan bahwa penyakit karang yang ditemukan di lokasi penelitian sebanyak 8 jenis [Black Band Disease (BBD), Dark Spots Disease (DSD), Ulcerative White Spots (UWS), White Band Disease (WBD), Explained Growth Anomalies (EGA), White Syndrom (WS), Bleacing (BL) dan Yellow Band Disease (YBD)]. Kelimpahan dan prevalensi penyakit karang yang tertinggi terdapat di stasiun II, dimana nilai kelimpahan yaitu 0.063 koloni/m2 dan nilai prevalensi yaitu 92.187%. Jenis penyakit karang yang mendominasi di lokasi penelitian secara berturut-turut adalah UWS, BBD dan WS.Kata Kunci: Kelimpahan; Penyakit Karang; Perairan Langara; Prevalensi
KEPADATAN DAN POLA DISTRIBUSI SACCOSTREA CUCULLATA DI PERAIRAN TELUK KENDARI Ruslin, Muhammad; Ramli, Muhammad; Nurgayah, Wa
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 4, No 3: Agustus 2019
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v4i3.8778

Abstract

Saccostrea cucullata adalah hewan invertebrata yang umumnya ditemukan melekat pada substrat seperti pada batuan dan akar bakau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerapatan dan pola distribusi S. cucullata dan untuk mengetahui pengaruh kualitas air terhadap kerapatan dan pola distribusinya. Penelitian ini dilakukan dari Desember 2018 hingga Maret 2019 di Teluk Kendari, Sulawesi Tenggara. Metode transek kuadratik dengan 1 x 1 m diterapkan untuk mengamati sampel sementara pengumpulan data kualitas air dilakukan secara in situ. Data dianalisis secara deskriptif untuk menentukan kepadatan dan pola distribusi S. cucullata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan tertinggi ditemukan di muara dengan 112.067 ind/m2 sedangkan terendah ditemukan di area reklamasi 4.667 ind/m2. Pola distribusi S. cucullata menelompok dan seragam di lokasi. Parameter yang dominan mempengaruhi kepadatan dan pola distribusi S. cucullata adalah suhu, kecepatan arus, dan salinitas masing-masing di daerah penelitian.Kata Kunci: S. cucullata, Kepadatan, Pola Distribusi, Kualitas Air, Transek Kuadrat, Teluk Kendari.
STRUKTUR KOMUNITAS TERIPANG DI PERAIRAN DESA TANOMEHA KABUPATEN WAKATOBI Darmisa, .; Emiyarti, .; Afu, La Ode Alirman
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 4, No 4: November 2019
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v4i4.10764

Abstract

Teripang merupakan salah satu sumberdaya hayati laut ekonomis penting dan mempunyai peluang pasar cukup baik. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui sturktur komunitas teripang meliputi kepadatan, keanekaragaman, keseragaman dan dominansi. Penelitian ini di lakukan di Perairan Desa Tanomeha Kecamatan Kaledupa Selatan Kabupaten Wakatobi pada bulan Januari-Maret 2019. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah transek kudrat, dibagi menjadi 3 stasiun. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa terdapat 10 spesies teripang yang di klasifikasikan dalam 3 genus (Holothuria, Bohadschia dan Stichopus). Berdasarkan perhitungan struktur komunitas menunjukkan kepadatan teripang tertinggi untuk kedua fase bulan yakni pada bulan terang 0,195 ind/m²   ditemukan di daerah lamun yang bersubtrat pasir berlempung. Untuk kenaekaragaman nilai tertinggi diperoleh pada bulan terang sebesar 1,58 dan bulan gelap 0,34. Sedangkan nilai keseragaman jenis yang paling tinggi diperoleh pada bulan terang di daerah lamun berkisar 1,79 dan bulan gelap berkisar 1,60. Dominansi nilai paling tinggi diperoleh pada bulan terang sebesar 0,78 dan bulan gelap sebesar 0,80 yang keduanya berada pada daerah mangrove. Parameter kualitas perairan yang diukur dalam lokasi penelitian memiliki kondisi lingkungan yang baik untuk kehidupan teripang.  Kata Kunci: Sturktur komunitas, Teripang, Perairan Tanomeha
KEANEKARAGAMAN JENIS DAN DISTRIUSI FITOPLANKTON SECARA VERTIKAL DI PERAIRAN PULAU BOKORI Padang, Reny W.A Lolo; Nurgayah, Wa; Irawati, Nur
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 5, No 1: Februari 2020
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v5i1.10947

Abstract

Fitoplankton organisme yang berperan sebagai produsen primer di perairan laut, baik secara langsung maupun tidak langsung mendukung kehidupan organisme laut. Komposisi maupun kelimpahan fitoplankton sangat berpengaruh terhadap keberadaan sumber daya hayati laut lainnya di perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis dan distribusi fitoplankton secara vertikal di perairan Pulau Bokori. Pengambilan sampel fitoplankton dilakukan selama 6 minggu dengan interval waktu pengambilan sampel dua minggu sekali dari bulan Desember 2018 sampai Januari 2019. Variable utama dalam penelitian ini adalah keanekaragaman dan distribusi fitoplankton, sedangkan variable pendukung adalah parameter fisika dan kimia yang diukur langsung dari tempat penelitian dan laboratorium. Sampel fitoplankton disaring menggunakan jarring plankton ukuran 25 µm. pengambilan sampel dengan metode purposive sampling, yaitu pada masing-masing stasiun terbagi dalam 3 variasi kedalaman yaitu 0,5, 5 dan 10 meter. Hasil penelitian menunjukkan komposisi jenis fitoplankton yang ditemukan di Perairan Pulau Bokori berjumlah 4 kelas yaitu terdiri dari kelas Bacillariophycea (11 genera), kelas Dinophyceae (4 genera), kelas Cyanophyceae dan Coscinodiscophyceae masing-masing terdiri dari 1 genus. Kelimpahan fitoplankton berkisar 185-1601 ind/L. kelimpahan fitoplankton didominasi kelas Bacillariophyceae (Chetoceros sp). Kelimpahan tertinggi fitoplankton terdapat pada stasiun III kedalaman 0,5 meter. Sedangkan kelimpahan terendah fitoplankton stasiun II pada kedalaman 5 meter. Keanekaragaman fitoplankton pada perairan Pulau Bokori termasuk rendah dan pola distribusi fitoplankton di perairan Pulau Bokori yaitu mengelompok.Kata Kunci : fitoplankton, kedalaman berbeda, Pulau Bokori

Page 9 of 21 | Total Record : 205