Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Keanekaragaman Juvenil Karang Batu (Ordo Scleractinia) di Perairan Sulawesi Tenggara Indonesia Palupi, Ratna Diyah; Rahmadani, Rahmadani
JSIPi (Jurnal Sains dan Inovasi Perikanan) (Journal of Fishery Science and Innovation) Vol 2, No 1 (2018): JURNAL SAINS dan INOVASI PERIKANAN
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.77 KB) | DOI: 10.33772/jsipi.v2i1.7578

Abstract

Keberadaan juvenil karang merupakan indikasi tingkat pemulihan dan resiliensi dari ekosistem terumbu karang. Juvenil karang yang berhasil menjadi karang dewasa akan berperan penting terhadap produktivitas di  perairan pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  keanekaragaman juvenil karang batu (Scleractinia) di Perairan Sulawesi Tenggara. Inventarisasi juvenil karang menggunakan transek kuadrat 1 m2 (1x1 m). Fokus obyek pengamatan pada  anakan karang yang berdiameter ≤ 5 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah juvenil karang tercatat selama penelitian sebanyak 234 anakan karang yang masuk dalam 21 genera dan 12 famili. Dari data tersebut tercatat genus Fungia, Pavona, Favia, dan Porites mempunyai kontribusi besar terhadap keanekaragam juvenil karang di lokasi penelitian. Keanekaragaman juvenil karang tertinggi tercatat di sekitar gosong karang Tukalanggara dan Pulau Bahulu Kata kunci : Juvenil karang, Keanekaragaman, Kelimpahan, Perairan Sulawesi Tenggara
Komposisi ukuran kepiting Rajungan (Portunus pelagicus) berdasarkan fase bulan di Perairan Lakara, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara Mawaluddin, .; Halili, .; Palupi, Ratna Diyah
Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan Vol 1, No 3 (2016): Agustus 2016
Publisher : Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.519 KB)

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Perairan Lakara Kabupaten Konawe Selatan Sulawesi Tenggara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi ukuran rajungan. Komposisi ukuran yang diamati adalah ukuran panjang/lebar karapaks dan bobot tubuh serta pola pertumbuhannya. Analisis hubungan bobot tubuh dengan panjang karapaks dan hubungan hobot tubuh dengan lebar karapaks baik rajungan jantan dan betina bersifat allometrik yaitu pertambahan bobot tubuh lebih cepat dibandingkan dengan pertambahan panjang dan lebar karapaksnya. Penelitian ini dilakukan selama dua bulan yaitu bulan Maret – April 2014. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan melakukan penangkapan menggunakan alat tangkap bubu (collapsible pot). Sampel yang tertangkap pada bulan gelap dan terang masing-masing menunjukkan 204 individu dalam 6 trip penangkapan dengan rata-rata 34 individu per tripdan175 individu dan 175 individu dalam 3 trip penangkapan dengan rata-rata 85,33 individu/trip. Jumlah rajungan jantan 106 individu dan betina 98 individu yang tertangkap pada bulan gelap, sedangkan rajungan jantan dan betina yang tertangkap pada bulan terang masing-masing berjumlah 91 individu dan 84 individu. Komposisi ukuran lebar karapaks pada remaja menunjukkan hasil tertinggi terjadi pada bulan terang baik rajungan jantan maupun betina dengan rata-rata hasil tangkapan rajungan jantan 27,67  individu/trip dan betina 25,33 individu/trip. Komposisi ukuran bobot rata-rata rajungan jantan dan betina tertinggi pada remaja dan dewasa terjadi pada fase bulan gelap dengan masing-masing bobot rata-rata pada remaja 42,21 g dan 48,54 g serta dewasa 125,84 g dan 48,54 g, sedangkan juvenile memiliki bobot rata-rata yaitu masing-masing 20,13 g dan 16,87 g. Data P. Pelagicus yang tertangkap selama periode penelitian memiliki komposisi ukuran yang tinggi pada ukuran remaja dan cenderung mendominasi pada setiap fase bulannya.Kata Kunci : Fase bulan, komposisi ukuran, Portunus pelagicus, pola pertumbuhan, siklus hidup
Pemetaan Kondisi Terumbu Karang Menggunakan Citra Satelit di Pulau Matahora Kabupaten Wakatobi Didi, La; Halili, .; Palupi, Ratna Diyah
Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan Vol 3, No 4 (2018): Oktober 2018
Publisher : Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.32 KB)

Abstract

Penelitian dilakukan di Pulau Matahora Kabupaten Wakatobi selama periode bulan Mei sampai Juni 2017, dengan tujuan untuk memetakan serta memperoleh data dan informasi spasial mengenai kondisi, sebaran, dan luasan ekosistem terumbu karang di Pulau Matahora, menggunakan data Citra Satelit Landsat 8 akuisi 19 November 2014. Penelitian dilakukan dengan tiga tahap (1) Pemetaan terumbu karang, menggunakan metode unsupervised classification untuk proses klasifikasi; (2) pengamatan lifeform karang dilakukan pada kedalaman 3 dan 10 m, dengan mengunakan line intercept transect untuk mengamati kondisi terumbu karang; (3) uji akurasi citra dilakukan dengan metode confusion matrix untuk membandingkan antara titik sampel dilapangan dengan hasil klasifikasi citra. Berdasarkan hasil klasifikasi citra didapatkan empat kelas substrat dasar perairan yaitu karang hidup, karang mati, lamun, dan pasir. Luas keseluruhan terumbu karang di perairan Pulau Matahora 15,275 Ha, yang terdiri atas karang hidup 8,523 Ha dan karang mati 6,752 Ha. Persentase rata-rata penutupan karang hidup pada kedalaman 3 m diperoleh 36,45% (kategori sedang), kedalaman 10 m diperoleh 63,97% (kategori baik). Hasil pengukuran kualitas perairan didapatkan dengan kisaran suhu 30 - 310C, salinitas 31 - 32 ppt, kecerahan 9 - 11 m, dan pH 7 - 8. Hasil uji akurasi citra didapatkan nilai overall accuracy sebesar 96,25%, dan nilai penyimpangan 3,75%. Hal ini menunjukan bahwa penggunaan data Citra Satelit Landsat 8 untuk pemetaan terumbu karang cukup akurat.Kata kunci : Citra Lansat 8, Kondisi, Pulau Matahora, Terumbu Karang
IDENTIFIKASI BAKTERI PATOGEN PENYEBAB PENYAKIT PURPLE SYNDROME PADA KARANG FUNGIA DI PULAU HARI SULAWESI TENGGARA Palupi, Ratna Diyah; Sadarun, Baru; Sawonua, Paiga Hanurin
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 6 No. 2 (2019): December 2019
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1443.583 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v6i2.3116

Abstract

IDENTIFIKASI BAKTERI PATOGEN PENYEBAB PENYAKIT PURPLE SYNDROME PADA KARANG FUNGIA DI PULAU HARI SULAWESI TENGGARA Nowadays coral disease is one of the causes of damage to coral reefs in Indonesia. Causative agents were found for some types of coral disease. This study aims to identify the type of pathogenic bacteria that cause purple syndrome which attacks Fungia corals. The study was conducted using descriptive exploratory methods. Corals infected with purple syndrome were collected on Pulau Hari, Southeast Sulawesi, through scuba diving. Then, microbiological analysis was carried out which included isolation using the scatter method, purification using a scratch method, a challenge test (antagonistic), a Koch Postulate test, and DNA analysis of putative bacterial isolates. Results showed that 5 bacterial isolates lived in symbiosis with the corals infected with purple syndrome (PSMH1, PSMH2, PSMH3, PSMH4, and PSMH5). Based on the Koch postulate test, 2 bacterial isolates which were pathogenic were obtained, namely PSHM2 and PSHM4 isolates. These bacteria infected the test corals with the characteristics of coral skeleton damage and coral bleaching (dead). Based on biomolecular testing, the two isolates were members of Enterobacter cloacae with a 99% similarity level.Keywords: Coral disease; Enterobacter cloacae; Fungia coral; Hari island; Purple syndromeABSTRAKSaat ini penyakit karang menjadi salah satu penyebab kerusakan terumbu karang di Indonesia. Penyebab pembawa untuk beberapa jenis penyakit karang sudah ditemukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis bakteri patogen penyebab penyakit purple syndrome yang menyerang karang Fungia. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif eksploratif. Sampel karang yang terinfeksi purple syndrome diambil di Pulau Hari, Sulawesi Tenggara, melalui scuba diving. Selanjutnya, analisis mikrobiologi dilakukan yang meliputi isolasi menggunakan metode sebar, purifikasi menggunakan metode gores, uji tantang (antagonistik), uji Postulat Koch, dan analisa DNA isolat bakteri yang diduga bersifat patogen. Hasil penelitian menemukan 5 isolat bakteri yang bersimbiosis dengan karang yang terinfeksi penyakit purple syndrome (PSMH1, PSMH2, PSMH3, PSMH4, dan PSMH5). Berdasarkan uji postulat Koch, 2 isolat bakteri yang bersifat patogen didapatkan, yaitu isolat PSHM2 dan PSHM4. Bakteri tersebut menginfeksi karang uji dengan ciri kerusakan skeleton karang dan pemutihan karang (mati). Berdasarkan uji biomolekuler kedua isolat tersebut merupakan anggota Enterobacter cloacae dengan tingkat kemiripan 99%.
IDENTIFIKASI PENYAKIT KARANG (SCLERACTINIA) DI PERAIRAN PULAU SAPONDA LAUT, SULAWESI TENGGARA Hazrul, Hazrul; Palupi, Ratna Diyah; Ketjulan, Romy
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 1, No 2: Mei 2016
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v1i2.928

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi penyakit karang dan jenis-jenis penyakit karang yang ada di Perairan Pulau Saponda Laut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah transek sabuk berukuran 40x2 m yang ditarik sejajar garis pantai pada tiap titik stasiun penelitian. Hasil yang diperoleh adalah nilai prevalesi penyakit karang di lokasi penelitian rata-rata sebesar 6,5%. Nilai tersebut terbilang sangat kecil jika dibandingkan dengan prevalensi penyakit karang di beberapa perairan di Indonesia. Jenis penyakit karang yang ditemukan di ketiga titik lokasi penelitian berjumlah 6 jenis, yaitu White Syndromes (WS), Pink Blotch (PB), Black Band Disease (BBD),Ulcerative white spot (UWS), Gigitan ikan karang, dan Skeleton Eroding Band (SEB). Penyakit yang mendominasi di lokasi penelitian adalah disebabkan oleh gigitan ikan yang banyak dijumpai pada karang jenis massive dan submasive.
DENSITAS ZOOXANTHELLAE KARANG FOLIOSE PADA KEDALAMAN BERBEDA (ZONA TERUMBU KARANG) DI PERAIRAN WAWORAHA KECAMATAN SOROPIA Salim, Resni Agustina; Palupi, Ratna Diyah; Ira, .
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 5, No 2: Mei 2020
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v5i2.12168

Abstract

Zooxanthellae merupakan mikroalga yang berperan penting bagi pertumbuhan karang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui densitas zooxanthellae karang foliose pada 3 zona terumbu karang yang berbeda (reef flat, reef crest, reef slope) di Perairan Waworaha kecamatan soropia, Konawe. Pengambilan data telah dilakukan pada April sampai Mei 2017 melalui dua tahapan yaitu pengambilan  sampel jaringan  karang foliose di perairan dan perhitungan zooxanthellae di laboratorium.. Pengambilan sampel karang foliose dilakukan dengan metode koleksi bebas (free handpicking) dengan mengunakan alat SCUBA sedangkan analisisi densitas zooxanthellae dilakukan dengan metode homogenisasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa densitas zooxanthellae karang foliose di lokasi penelitian rata-rata sebesar 5.1x 106 sel/cm2. Densitas zooxanthellae berdasarkan zona terumbu karang di Perairan Waworaha tercatat paling tinggi pada zona reef flat (7.7 x 106 sel/cm2) diikuti zona reef crest (4.5 x 106 sel/cm2) dan yang terendah berada pada zona reef slope (3.2 x 106 sel/cm2). Perbedaan densitas zooxanthellae pada karang foliose lebih dipengaruhi oleh perbedaan intensitas cahaya.Kata kunci : Densitas zooxanthellae, karang foliose, Perairan Waworaha,  zona terumbu karang
REKRUITMEN KARANG DI PULAU HARI KABUPATEN KONAWE SELATAN SULAWESI TENGGARA Rafilu, Abdul Haris; Sadarun, Baru; Palupi, Ratna Diyah
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 5, No 1: Februari 2020
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v5i1.10948

Abstract

Rekruitmen karang merupakan bagian penting dalam proses pemulihan terumbu karang di perairan. Tingkat rekruitmen karang diketahui sebagai salah satu mekanisme kunci yang memungkinkan terumbu karang melakukan pemulihan setelah terjadinya gangguan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan rekruitmen karang. Pengambilan data dilakukan pada bulan Agustus 2017 pada 4 (empat) titik stasiun penelitian. Pengambilan data rekruitmen karang dilakukan dengan metode transek kuadrat 1x1 m sebanyak 5 (lima) kali ulangan mengunakan alat bantu SCUBA. Terumbu karang yang diamati adalah karang muda yang berukuran dengan panjang maksimal 5 cm atau disebut karang muda. Hasil Penelitian menunjukan bahwa rata-rata kelimpahan rekruitmen karang di lokasi penelitian secara umum sebesar 2,1 koloni/m². Kelimpahan terendah adalah 0,35 koloni/m² terdapat pada stasiun I dan tertinggi adalah 2,6 koloni/m² terdapat pada stasiun IV. Adanya perbedaan kelimpahan tersebut dikarenakan karakteristik habitat dan substrat dasar perairan pada tiap lokasi penelitian yang berbeda. Rekruitmen karang paling banyak dijumpai pada substrat rubble atau pecahan karang mati, tipe substrat ini terdapat pada stasiun II dan stasiun IV. Pecahan karang mati menjadi habitat paling cocok untuk pertumbuhan koloni baru, karena menyediakan biofilm dan perlindungan dari predator serta kondisi yang ekstrem.Kata kunci :  Karang Muda, Pulau Hari, Rekruitmen.
KEANEKARAGAMAN DAN KEPADATAN SPONS DI PERAIRAN LALOWARU SULAWESI TENGGARA Yanti, Hilda; Palupi, Ratna Diyah; Rahmadani, .
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 5, No 1: Februari 2020
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v5i1.10954

Abstract

Spons sebagai salah satu hewan primitif yang hidup menetap dan bersifat filter feeder (menyaring). Hewan tersebut memberikan sumbangan yang penting terhadap komunitas bentik laut dan sangat umum dijumpai di perairan tropik dan sub tropik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan kepadatan spons di Perairan Lalowaru, Kabupaten Konawe Selatan. Pengambilan data ini dilaksanakan pada bulan April-Agustus 2016. Pengambilan data spons dilakukan dengan metode transek kuadrat. Garis transek sepanjang 50m dibentangkan tegak lurus pantai yang mewakili kondisi perairan pada kedalaman yang berbeda. Kemudian transek kuadrat ukuran 1m2 diletakkan dengan jarak 5m disetiap pengulangannya. Didapatkan bahwa keanekaragaman jenis spons di Perairan Lalowaru sebanyak 7 famili yaitu Agelasidae, Callyspongidae, Chalinidae, Irchinidae, Petrosiidae, Pseudoceratinidae, dan Microcionidae, 7 genus yakni Agelas , Callyspongia , Chalinula , Ircinia , Xestospongia , Pseudoceratina , dan Clatrhia . dan 243 individu. Kepadatan spons dilokasi penelitian dengan nilai kepadatan tertinggi terdapat pada genus spons Xestospongia  dengan nilai 15,34 ind/10m² dan terendah genus Pseudoceratina  dengan nilai 0,34 ind/10m².Kata kunci : Keanekaragaman, Kepadatan, Spons, Perairan Lalowaru
POTENSI KEANEKARAGAMAN JENIS DAN SEBARAN SPONS DI PERAIRAN PULAU SAPONDA LAUT KABUPATEN KONAWE Haedar, Haedar; Sadarun, Baru; Palupi, Ratna Diyah
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 1, No 1: Februari 2016
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v1i1.923

Abstract

Penelitian potensi keanekaragaman jenis dan sebaran spons di Perairan Pulau Saponda Laut Kabupaten Konawe dilaksanakan pada bulan Juni 2015. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui biodiversitas, kepadatan, frekuensi kemunculan, dan sebaran jenis spons berdasarkan kedalaman. Penelitian ini menggunakan metode transek sabuk (belt transek) dengan ukuran 500m­­2. Pengamatan dilakukan di tiga titik stasiun penelitian yang diambil berdasarkan keberadaan spons. Kepadatan berturut-turut didapatkan sebesar 0,5  ind/10m2 (Utara),  0,3 ind/10m2 (Selatan), dan 0,2 ind/10m2 (Timur). Frekuensi kemunculan tertinggi didapat pada spons jenis Stylotella sp. yang tersebar di kedalaman 2, 4 dan 9 m di semua titik stasiun penelitian. Jumlah species spons yang ditemukan di Perairan Pulau Saponda Laut sebanyak 12 species yang masuk dalam 10 family 9 ordo. Secara umum index keanekaragaman spons di lokasi penelitian masuk dalam kategori sedang.
HUBUNGAN KELIMPAHAN IKAN CHAETODONTIDAE DENGAN KONDISI TERUMBU KARANG DI PERAIRAN DESA BUTON, KABUPATEN MOROWALI Lisna, .; Yasir Haya, La Ode Muhammad; Palupi, Ratna Diyah
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 5, No 2: Mei 2020
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v5i2.12170

Abstract

Terumbu karang merupakan ekosistem laut dangkal yang sangat produktif dan menjadi habitat berbagai biota laut termasuk Ikan famili Chaetodontidae. Ikan famili Chaetodontidae adalah salah satu ikan indikator pada ekosistem terumbu karang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi terumbu karang, kelimpahan ikan Chaetodontidae, serta untuk mengetahui hubungan kelimpahan ikan Chaetodontidae dengan kondisi terumbu karang. Pengambilan data dilakukan pada bulan Maret 2019 berlokasi di Perairan Desa Buton, Provinsi Sulawesi Tengah. Data tutupan karang diperoleh dengan menggunakan metode Line Intercept Transect (LIT), sedangkan data ikan Chaetodontidae diperoleh dengan menggunakan metode Underwater Visual Sensus, dengan luas transek 150 m2, dilakukan pada 2 titik stasiun di zona reef flat dan reef slope, dengan dua kali pengulangan. Hasil study menunjukkan bahwa rata-rata kondisi karang di lokasi penelitian termasuk dalam kategori sedang (44,63%). Kondisi tutupan karang di stasiun-I dikategorikan baik yaitu zona reef flat (73,03%) dan reef slope (74,08%), sedangkan stasiun-II masuk dalam kategori buruk yaitu 15,68% pada reef flat dan 15,75% pada reef slope. Ikan Chaetodontidae yang ditemukan berjumlah 68 individu, yang terdiri atas dua genus dan delapan spesies, antara lain; Chaetodon kleinii, C. lineolatus, C. lunula, C. lunulatus, C. octofasciatus, C. vagabundus, Heniochus chrysostomus, H. varius. Berdasarkan stasiun penelitian, kelimpahan ikan Chaetodontidae tertinggi ditemukan di stasiun-I. Sedangkan berdasarkan zonasi terumbu karang, kelimpahan ikan Chaetodontidae tertinggi ditemukan di zona reef slope. Hubungan kelimpahan ikan Chaetodontidae dengan persentase tutupan karang hidup pada zona reef flat dan reef slope adalah memiliki hubungan yang kuat dengan nilai r = 0,991 (reef flat) dan r = 0,967 (reef slope). Sebaliknya, berdasarkan stasiun penelitian keduanya memiliki hubungan yang lemah dengan nilai r = 0,586 (Stasiun-I) dan r = 0,189 (Stasiun-II).Kata Kunci: Desa Buton, Ikan Chaetodontidae, Kelimpahan, Terumbu Karang.