cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM
ISSN : 08548498     EISSN : 2527502X     DOI : -
Core Subject : Social,
Ius Quia Iustum Law Journal is a peer-reviewed legal journal that provides a forum for scientific papers on legal studies. This journal publishes original research papers relating to several aspects of legal research. The Legal Journal of Ius Quia Iustum beginning in 2018 will be published three times a year in January, May, and September. This journal really opens door access for readers and academics to keep in touch with the latest research findings in the field of law.
Arjuna Subject : -
Articles 974 Documents
Tinjauan Maqashid Syariah Kontemporer terhadap Keadaan tanpa Kewarganegaraan Miftakhul Marwa, Muhammad Habibi
Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM Vol. 31 No. 2: MEI 2024
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/iustum.vol31.iss2.art2

Abstract

Statelessness has become a global problem. It is estimated that there are currently 12 million stateless people worldwide. This paper aims to analyze in depth the issue of statelessness according to contemporary maqashid sharia. The normative legal research method is employed in this paper as it uses secondary data obtained through literature study. Literary sources related to the object of the study are analyzed descriptively and qualitatively by utilising a conceptual approach. The results of this research show that Islam does not actually provide a specific provision regarding statelessness, since such situation is more related to the domestic laws enforced in each country. The paradigm of contemporary maqashid sharia is directed more towards the concept of development and rights rather than protection and preservation. Statelessness prevents a person from obtaining and developing basic human rights, such as individual rights, collective rights, civil rights, political rights, economic rights, social rights and cultural rights. Thus, statelessness must be mitigated due to the harms that it brings rather than the good.Keywords: Harms, Maqashid Sharia, Statelessness. AbstrakKeadaan tanpa kewarganegaraan telah menjadi masalah global. Diperkirakan saat ini terdapat 12 juta orang tanpa kewarganegaraan di seluruh dunia. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam keadaan tanpa kewarganegaraan menurut maqashid syariah kontemporer. Metode dalam penulisan artikel ini menggunakan jenis penelitian hukum normatif karena memakai data sekunder yang diperoleh melalui studi pustaka. Sumber kepustakaan yang berkaitan dengan objek kajian kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif menggunakan pendekatan konsep (conceptual approach). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebenarnya Islam tidak memberi penjelasan spesifik mengenai keadaan tanpa kewarganegaraan, karena keadaan ini lebih berkaitan dengan hukum yang diberlakukan pada suatu negara. Paradigma maqashid syariah kontemporer lebih diarahkan pada konsep development and rights daripada protection and preservation. Keadaan tanpa kewarganegaraan menghambat seseorang dalam mendapatkan dan mengembangkan hak dasar manusia, seperti hak individu, hak kolektif, hak sipil, hak politik, hak ekonomi, hak sosial, dan hak budaya. Oleh karena itu, keadaan tanpa kewarganegaraan harus dihindari karena lebih banyak mendatangkan mudarat dibandingkan maslahat.Kata Kunci: Keadaan tanpa Kewarganegaraan, Maqashid Syariah, Mudarat.
Kekuatan Mengikat Pertimbangan Hukum Putusan Mahkamah Konsitusi dalam Perkara Pengujian Undang-Undang (Studi Putusan Nomor 20/PUU-XIX/2021) Gunawan A. Tauda
Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM Vol. 31 No. 2: MEI 2024
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/iustum.vol31.iss2.art6

Abstract

The Constitutional Court has the authority to determine the addressed subject in order to make adjustments to laws that have been assessed or interpreted for their constitutionality. This determination usually only applies to applications that are granted and not applications that are rejected in their entirety. In Decision Number 20/PUU-XIX/2021 (Case for Reviewing Article 50 paragraph (4) of Law Number 14 of 2005 on Teachers and Lecturers in conformity with the 1945 Constitution), the Court emphasized in the Legal Considerations section two facts that were proven to be sufficiently justified in accordance with the law, which then became the basis for the Court to instruct the addressed subject to be adjusted. The issue to be addressed in this study is, do the legal considerations (Court Opinion) in the decision have the similar legally binding force as the decisive ruling. This is a normative legal research, accompanied by the use of a statutory approach, a case approach, and a conceptual approach. The results of the study indicate that based on the implementation of Decision Number 20/PUU-XIX/2021, legal reasoning, both ratio decidendi and obiter dicta, have the same legally binding force as the ruling. Legal considerations in a decision can be a "formal legal source" in the preparation of decisions and/or state administrative actions, and become a guideline (morally binding) in the formation of PERPU and laws. Specifically for constitutional courts, legal considerations are perfectly binding on the addressed subject if desired by the Court, especially because legal considerations are an authentic interpretation of the judge regarding a case of the constitutionality of a law. The Court's legal considerations therefore need to be positioned as the basis for regulating (legally binding) the formation of laws, so that explicit affirmation is needed in the relevant laws, especially the Constitutional Court Law regarding the binding force of legal considerations as an inseparable part of the decision.Keywords: Constitutional Court, Judicial Decisions, Legal Considerations. AbstrakMahkamah Konstitusi dapat menetapkan adressat putusan untuk melakukan penyesuaian terhadap undang-undang yang telah dinilai atau ditafsirkan konstitusionalitasnya. Penetapan ini, lazimnya hanya berlaku kepada permohonan yang dikabulkan dan bukan permohonan yang ditolak untuk seluruhnya. Pada Putusan Nomor 20/PUU-XIX/2021 (Perkara Pengujian Pasal 50 ayat (4) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen terhadap UUD 1945), dalam bagian Pertimbangan Hukum, Mahkamah menegaskan dua fakta yang terbukti cukup beralasan menurut hukum, yang kemudian menjadi dasar Mahkamah menginstruksikan kepada adressat putusan untuk ditindaklajuti. Permasalahan yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah apakah pertimbangan hukum (Pendapat Mahkamah) dalam putusan memiliki kekuatan hukum mengikat yang sama sebagaimana amar putusan. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif yang disertai penggunaan pendekatan peraturan perundang-undangan, pendekatan kasus, dan pendekatan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan, berdasarkan implementasi Putusan Nomor 20/PUU-XIX/2021, pertimbangan hukum (legal reasoning), baik yang bersifat ratio decidendi maupun obiter dicta, memiliki kekuatan hukum mengikat yang sama sebagaimana amar putusan. Pertimbangan hukum dalam putusan dapat menjadi ‘sumber hukum formil’ dalam penyusunan keputusan dan/atau tindakan tata usaha negara, dan menjadi pedoman (morally binding) dalam pembentukan perppu dan undang-undang. Khusus peradilan konstitusional, pertimbangan hukum mengikat secara sempurna terhadap adressat putusan apabila dikehendaki oleh Mahkamah, terutama karena pertimbangan hukum merupakan tafsiran atau interpretasi otentik hakim terhadap suatu perkara konstitusionalitas undang-undang. Pertimbangan hukum Mahkamah, karenanya perlu diposisikan sebagai dasar pengaturan (legally binding) pembentukan undang-undang, sehingga diperlukan penegasan secara eksplisit dalam undang-undang terkait, terutama Undang-Undang Mahkamah Konstitusi perihal kekuatan mengikat pertimbangan hukum sebagai bagian tidak terpisahkan dari putusan.Kata Kunci: Mahkamah Konstitusi, Pertimbangan Hukum, Putusan Peradilan.
Ilustrasi Praktik Diskriminasi Pengampuan Penyandang Disabilitas Mental dan Tinjauan Maslahat dalam Hukum Islam M. Syafi’ie
Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM Vol. 31 No. 1: JANUARI 2024
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/iustum.vol31.iss1.art8

Abstract

The discourse on the legal capacity of persons with mental disabilities is currently increasing among the observers of the rights of the disabled, including Islamic law observers. The present situation is driven by the demands of the disabled community who prefers the policy on giving parole to be abolished, and hopes for it to be altered with another newer policy known as ‘supported decision making’. Parole is considered to be discriminatory, as it violates human rights, and eradicates the rights of certain legal subject which such rights are categorized as the non-derogable rights. This article touches upon two issues, first, it illustrates the practice of offering parole in a way that is considered discriminatory for persons with mental disabilities. Second, it reviews the concept of benefit in Islamic law by looking at the practice of forgiveness that has been conducted. The method used in this research is empirical juridical. The research concluded that, firstly, the parole policy has had an impact on discriminatory practices, violating the rights of persons with mental disabilities, and should be abolished and replaced with a newer policy model, namely ‘supported decision making’, which means that persons with mental disabilities are not replaced (substituted) but facilitated by the creation of a system that provides support in the decision making, especially legal decisions. Second, in Islamic legal thoughts, the policy of giving forgiveness is considered not in line with the concept of benefit. Benefit means that the most essential feature in the legal system is the benefit, public interest, and positive outcomes resulting from the said system. An important conclusion in this research confirms that the parole policy has had a negative impact on persons with mental disabilities, thus should be replaced with a policy of ‘supported decision making’ which is considered useful, non-discriminatory, and in line with the rights of persons with disabilities.Keywords: Benefits; Parole; Persons with Mental Disabilities; Supported Decision Making. AbstrakDiskursus kecakapan hukum bagi penyandang disabilitas mental saat ini menguat di kalangan pengkaji disabilitas, termasuk di kalangan pengkaji hukum Islam. Situasi tersebut didorong oleh tuntutan komunitas penyandang disabilitas yang menghendaki penghapusan kebijakan ‘pengampuan’, dan harapannya diganti dengan kebijakan baru yang dikenal dengan ‘supported decision making’. Pengampuan dinilai diskriminatif, melanggar hak asasi manusia, dan menghilangkan hak atas sebagai subyek hukum yang merupakan hak terkategori non derogable rights. Tulisan ini meneliti dua hal, pertama, ilustrasi praktik pengampuan sehingga dianggap diskriminatif bagi penyandang disabilitas mental. Kedua, tinjauan konsep maslahat dalam hukum Islam dalam melihat praktik pengampuan yang terjadi. Metode penelitian yang digunakan ialah yuridis empiris dengan pendekatan sosiologis. Penelitian menghasilkan kesimpulan, pertama, kebijakan pengampuan telah berdampak terhadap praktik diskriminatif, melanggar hak penyandang disabilitas mental, dan sudah selayaknya dihapuskan dan digantikan dengan model kebijakan baru yaitu ‘supported decision making’ yang artinya bahwa penyandang disabilitas mental tidak digantikan (substitusi) tetapi difasilitasi dengan diciptakannya sistem pemberian dukungan dalam pengambilan keputusan, utamanya keputusan yang berdimensi hukum. Kedua, dalam pemikiran hukum Islam, kebijakan pengampuan dinilai tidak sejalan dengan konsep maslahat. Maslahat bermakna bahwa yang terpenting dalam sistem hukum ialah faedah, kepentingan umum, dan manfaat positif yang dihasilkan dari sebuah sistem. Kesimpulan penting dalam penelitian ini menegaskan bahwa kebijakan pengampuan telah berdampak negatif bagi penyandang disabilitas mental, dan sudah selayaknya digantikan dengan kebijakan ‘'supported decision making’ yang dinilai berguna, tidak diskriminatif, dan sejalan dengan hak-hak penyandang disabilitas.Kata Kunci: Maslahat; Pengampuan; Penyandang Disabilitas Mental; Supported Decision Making.
Perkembangan Pelaksanaan Urusan Pemerintahan Umum di Daerah: Studi terhadap Pelaksanaan Urusan Pembinaan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan Gani Wardhana, Allan Fatchan; Yuniar Riza Hakiki; Diva Febrina Nurcahyani Rahman
Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM Vol. 31 No. 1: JANUARI 2024
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/iustum.vol31.iss1.art4

Abstract

General government affairs fall under the authority of the President as the head of Government, which in fact are carried out by Heads of the Region, one of which is the sub-affairs of developing the value Pancasila and the nationalism insight. This authority is in fact exercised by the Regional Government by establishing Regional Regulations (Perda). In fact, regional regulations are enacted in order to carry out government affairs which fall under regional authority, carry out regional autonomy and assistance tasks, and accommodate special regional conditions. This research examines two features, first, can the authority for general government affairs be divided between provinces and districts/cities? Second, how is the development of the implementation of authority for general government affairs in the regions? The research method used is normative juridical with a statutory and a conceptual approach. The results of this research are first, that although general government affairs are the authority of the President, their implementation is divided among the regions. The matter of fostering Pancasila and nationalism insight reaches all regions in Indonesia and is certainly not effective if it is only carried out by the President. Second, general government affairs which were originally carried out on the principle of deconcentration have developed towards decentralization. Strengthening the independence of Regional Governments in carrying out general government affairs is reason enough. Such as the formation of the Regional Regulation on Pancasila Education and National Insight which accommodates locality aspects and financing from the APBD. Regions in the implementation of general government affairs are ultimately not only administrative regions, but have become autonomous regions.Keywords: Fostering Pancasila; General Government Affairs; Nationalism Insight; Regional Affairs. AbstrakUrusan pemerintahan umum merupakan kewenangan Presiden sebagai kepala Pemerintahan yang faktanya dilaksanakan Kepala Daerah, salah satunya yaitu sub urusan pembinaan Pancasila dan wawasan kebangsaan. Kewenangan tersebut faktanya dilaksanakan oleh Pemerintahan Daerah dengan membentuk Peraturan Daerah (Perda). Padahal Perda dibentuk dalam rangka melaksanakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah, menyelenggarakan otonomi daerah dan tugas pembantuan, serta menampung kondisi khusus daerah. Penelitian ini mengkaji dua hal, pertama, apakah kewenangan urusan pemerintahan umum dapat dibagi ke daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota? Kedua, bagaimana perkembangan pelaksanaan kewenangan urusan pemerintahan umum di daerah? Metode penelitian yang digunakan yaitu yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Hasil penelitian ini yaitu pertama, urusan pemerintahan umum meskipun merupakan kewenangan Presiden, namun pelaksanaannya dibagi kepada Daerah. Urusan pembinaan Pancasila dan wawasan kebangsaan menjangkau seluruh wilayah di Indonesia dan tentu tidak efektif apabila hanya dilaksanakan oleh Presiden. Kedua, urusan pemerintahan umum yang semula dilaksanakan dengan asas dekonsentrasi telah berkembang mengarah ke desentralisasi. Menguatnya kemandirian Pemerintahan Daerah dalam melaksanakan urusan pemerintahan umum cukup menjadi alasan. Sebagaimana dibentuknya Perda tentang Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan yang mengakomodasi aspek lokalitas dan pembiayaan dari APBD. Daerah dalam pelaksanaan urusan pemerintahan umum pada akhirnya juga tidak hanya sebagai wilayah administratif, akan tetapi telah menjadi daerah otonom.Kata Kunci: Daerah; Pembinaan Pancasila; Urusan Pemerintahan Umum; Wawasan Kebangsaan.
Perundungan Siber (Cyberbullying) Melalui Media Sosial Instagram dalam Teori the Space Transition of Cybercrimes Aroma Elmina Martha
Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM Vol. 31 No. 1: JANUARI 2024
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/iustum.vol31.iss1.art9

Abstract

Spatial transition theory defines that people behave differently in the cyber world than in the physical world. This theory attempts to explain patterns of cyber-criminal behavior by categorizing cyber-crimes into four main categories of cyber offenses, namely violent behavior, cyberbullying, fraud, cyber theft, and cyber pornography. The topic of cyber bullying is highlighted in this study since this behavior appears to have turned into something that is taken lightly in Indonesian society. Acts of bullying in cyberspace are carried out without burden by the perpetrator. The belief that bullying behavior becomes tolerated and will not raise legal consequences had made the perpetrator feel free. Bullying brings effects to the victim which severely impact their psychological welfare, which may even lead to depression and even death. This research describes cyberbullying behavior in the study of the spatial transition of cybercrimes theory as an effort to examine and to identify the background of why the perpetrator has the heart and courage to commit such crime. By utilising a criminological approach, the data collected were classified with cases of cyberbullying in the previous year of 2022-2023, in the form of social media information via Instagram. This research explores cases of cyberbullying which mainly poses an impact on the psychological losses of victims of crimes that occur on social media in Indonesia. This research is expected to provide an understanding of cybercrime patterns for the purpose of preventing cyberbullying behavior.Keywords: Bullying; Criminology; Cyberspace. AbstrakTeori transisi ruang menjelaskan bahwa orang memiliki perilaku yang berbeda di dunia siber dengan dunia fisik. Teori ini berupaya menjelaskan pola perilaku kriminal siber dengan mengkategorikan kejahatan dunia maya ke dalam empat jenis utama pelanggaran dunia maya yaitu perilaku kekerasan cyberbullying, penipuan, pencurian di dunia maya, dan pornografi dunia maya. Topik cyberbullying ini dipilih karena perilaku ini seolah telah menjadi norma yang dilonggarkan dalam masyarakat Indonesia. Tindakan bullying di dunia maya dilakukan tanpa beban oleh pelaku. Adanya keyakinan bahwa perilaku perundungan merasa aman dan tidak akan menimbulkan akibat hukum membuat pelaku merasa bebas. Efek yang ditimbulkan terhadap korban memberi pengaruh psikologi yang berat, bahkan sampai pada depresi bahkan kematian. Penelitian ini menguraikan perilaku cyberbullying dalam kajian teori the space transition of cybercrimes sebagai upaya mengidentifikasi dan mengetahui latar belakang mengapa pelaku tega dan berani melakukan kejahatan ini. Dengan menggunakan pendekatan kriminologis, data yang diambil dikelompokkan dengan kasus-kasus cyberbullying dalam satu tahun terakhir, 2022-2023, dalam bentuk informasi media sosial melalui Instagram. Riset ini menggali kasus cyberbullying yang utamanya berdampak pada kerugian psikis dari korban kejahatan yang terjadi di media sosial di Indonesia. Riset ini diharapkan memberikan pemahaman mengenai pola kejahatan cybercrimes sehingga dapat mencegah terjadinya perilaku cyberbullying.Kata Kunci: Dunia Maya; Kriminologi; Perundungan.
Daftar Isi dan Redaksi
Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM Vol. 30 No. 3: SEPTEMBER 2023
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biodata Penulis Edisi Ini
Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM Vol. 30 No. 3: SEPTEMBER 2023
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ucapan Terima Kasih untuk Mitra Bebestari Edisi Ini
Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM Vol. 30 No. 3: SEPTEMBER 2023
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konstruksi Indeks Demokrasi Internal Partai Politik dalam Negara Demokrasi Konstitusional: Perspektif Indonesia Muchamad Ali Safa’at; Haru Permadi; Wiranto
Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM Vol. 31 No. 1: JANUARI 2024
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/iustum.vol31.iss1.art10

Abstract

The modernization of democracy further clarified the central position and role of political parties in the political system and statehood. This kind of central position and role in one hand can have a positive impact on the functioning of the democratic system and at the same time may have a negative impact if the working of the democratic system within the internal political parties is not addressed. This paper attempts to analyse integratively with the purpose of constructing and assessing the level of internal democracy of political parties in Indonesia. This research is doctrinal legal research with qualitative and quantitative methods, the data is sourced from primary, secondary legal materials, and non-legal sources. An important finding in this study is the formulation of the internal-party index in Indonesia, which is then attributed to a independent variable obtained from 9 (nine) political party data. The results of these findings are then used to assess the level of internal democracy of political parties through classification into five (5) levels, including Most Democratic (SD), Democratic (D), Moderate Democratic (CD), Non-Democratic (TD), and Most Undemocratic (STD). According to the assessment, only 2 parties were categorised as D, including Partai Amanat Nasional (PAN) and Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Meanwhile the others were in the CD category.Keywords: Contemporary Democratic Constitutional; Intra-party Democracy Index; Modern Democratic State. AbstrakModernisasi demokrasi semakin memperjelas kedudukan dan peran sentral partai politik dalam sistem politik dan ketatanegaraan. Kedudukan dan peran sentral ini dapat berdampak positif bagi bekerjanya sistem demokrasi dan pada saat yang bersamaan dapat berdampak negatif jika bekerjanya sistem demokrasi di dalam internal partai politik tidak diperhatikan. Tulisan ini menganalisis secara integratif konstruksi dan penilaian tingkat demokrasi internal partai politik di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian hukum doktrinal dengan metode gabungan kualitatif dan kuantitatif (mixed methods), yang perolehan datanya bersumber dari bahan hukum primer, sekunder, dan sumber non-hukum. Temuan penting dalam penelitian ini yaitu dirumuskannya indeks demokrasi internal partai politik di Indonesia yang terdiri dari enam dimensi, meliputi partisipasi politik, pendidikan politik, kompetisi, keterwakilan, responsivitas, dan keterbukaan. Hasil temuan kemudian dikawinkan dengan variabel bebas yang diperoleh dari 9 (sembilan) data-data partai politik. Hasil dari temuan ini kemudian digunakan untuk menilai tingkat demokrasi internal partai politik melalui pengklasifikasian kedalam 5 (lima) tingkatan, antara lain Sangat Demokratis (SD), Demokratis (D), Cukup Demokratis (CD), Tidak Demokratis (TD) dan Sangat Tidak Demokratis (STD). Berdasarkan hasil penilaian, hanya 2 partai yang masuk dalam kategori D, antara lain Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Sementara itu, selebihnya ada pada kategori CD.Kata Kunci: Demokrasi Konstitusional Kontemporer; Indeks Demokrasi Internal Partai Politik; Negara Demokrasi Modern.
Problems with the Institutional Form of the Implementing Agency of Social Security in Indonesia Rohanawati, Ayunita Nur; Yuniza, Mailinda Eka
Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM Vol. 31 No. 1: JANUARI 2024
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/iustum.vol31.iss1.art6

Abstract

The administration of social security in Indonesia is entrusted to two newly formed institutions as mandated by Law Number 40 of 2004 concerning National Social Security System, namely BPJS for Health and BPJS for Employment. The basis for the operation of these two institutions is Law Number 24 of 2011 concerning the Implementing Agency of Social Security. These two bodies are public legal entities that were formed from the transition to the previous form of a limited liability company, namely PT Jamsostek (persero) and PT Askes (persero). The new form of the social security implementing agency as mentioned creates problems that need to find solutions to various problems that occur. Therefore, the purpose of this research is to find out what are the problems with the institutional forms of the Implementing Agency of Social Security in Indonesia. The method used in this research is to use juridical, namely by examining the legal materials, both primary legal materials, secondary legal materials, and tertiary legal materials used. The approach used is a statutory approach and a comparative approach. The research results show that there are problems that arise in the institutions administering social security in Indonesia. These problems are related to the governance of the agency, from the formation process, changes in characteristics from a limited liability company to a public legal entity, the failure to merge social security administering bodies as contained in Law Number 24 of 2011 concerning Social Security Administering Bodies and related to employment aspects in the social security administration body.Keywords: Agency of Social Security; Institutional Form; National Social Security System. AbstrakPenyelenggaraan jaminan sosial di Indonesia dipercayakan kepada dua lembaga yang baru dibentuk sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional, yaitu BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Landasan implementasi kedua lembaga tersebut yakni Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Keduanya merupakan badan hukum publik yang terbentuk dari peralihan bentuk perseroan terbatas sebelumnya yaitu PT Jamsostek (persero) dan PT Askes (persero). Bentuk baru lembaga penyelenggara jaminan sosial sebagaimana disebutkan di atas menimbulkan permasalahan yang perlu dicari solusinya terhadap berbagai permasalahan yang terjadi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui permasalahan yang terdapat pada bentuk kelembagaan Badan Pelaksana Jaminan Sosial di Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode yuridis, yaitu dengan meneliti bahan-bahan hukum, baik bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, maupun bahan hukum tersier yang digunakan. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan perundang-undangan dan pendekatan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat permasalahan yang muncul pada lembaga penyelenggara jaminan sosial di Indonesia. Permasalahan tersebut terkait dengan tata kelola lembaga, mulai dari proses pembentukan, perubahan ciri dari perseroan terbatas menjadi badan hukum publik, tidak adanya penggabungan badan penyelenggara jaminan sosial sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial dan terkait aspek ketenagakerjaan pada badan penyelenggara jaminan sosial.Kata Kunci: Badan Jaminan Sosial; Bentuk Kelembagaan; Sistem Jaminan Sosial Nasional.

Filter by Year

1994 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 32 No. 3: SEPTEMBER 2025 Vol. 32 No. 2: MEI 2025 Vol. 32 No. 1: JANUARI 2025 Vol. 31 No. 3: SEPTEMBER 2024 Vol. 31 No. 2: MEI 2024 Vol. 31 No. 1: JANUARI 2024 Vol. 30 No. 3: SEPTEMBER 2023 Vol. 30 No. 2: MEI 2023 Vol. 30 No. 1: JANUARI 2023 Vol. 29 No. 3: SEPTEMBER 2022 Vol. 29 No. 2: MEI 2022 Vol. 29 No. 1: JANUARI 2022 Vol. 28 No. 3: SEPTEMBER 2021 Vol. 28 No. 2: MEI 2021 Vol. 28 No. 1: JANUARI 2021 Vol. 27 No. 3: SEPTEMBER 2020 Vol. 27 No. 2: MEI 2020 Vol. 27 No. 1: JANUARI 2020 Vol. 26 No. 3: SEPTEMBER 2019 Vol. 26 No. 2: MEI 2019 Vol. 26 No. 1: JANUARI 2019 Vol. 25 No. 3: SEPTEMBER 2018 Vol. 25 No. 2: MEI 2018 Vol. 25 No. 1: JANUARI 2018 Vol. 24 No. 4: OKTOBER 2017 Vol. 24 No. 3: JULI 2017 Vol. 24 No. 2: APRIL 2017 Vol. 24 No. 1: JANUARI 2017 Vol. 23 No. 4: OKTOBER 2016 Vol. 23 No. 3: JULI 2016 Vol. 23 No. 2: APRIL 2016 Vol. 23 No. 1: JANUARI 2016 Vol. 22 No. 4: Oktober 2015 Vol. 22 No. 3: Juli 2015 Vol. 22 No. 2: APRIL 2015 Vol. 22 No. 1: Januari 2015 Vol. 21 No. 4: Oktober 2014 Vol. 21 No. 3: Juli 2014 Vol. 21 No. 2: April 2014 Vol. 21 No. 1: Januari 2014 Vol. 20 No. 4: Oktober 2013 Vol. 20 No. 3: Juli 2013 Vol. 20 No. 2: April 2013 Vol. 20 No. 1: Januari 2013 Vol. 19 No. 4: Oktober 2012 Vol. 19 No. 3: Juli 2012 Vol. 18 (2011): Edisi Khusus Vol. 18 Oktober 2011 Vol. 18 No. 4 (2011) Vol. 18 No. 3 (2011) Vol. 18 No. 2 (2011) Vol. 18 No. 1 (2011) Vol. 17 No. 4 (2010) Vol. 17 No. 3 (2010) Vol. 17 No. 2 (2010) Vol. 17 No. 1 (2010) Vol. 16 No. 4 (2009) Vol. 16 No. 3 (2009) Vol. 16 No. 2 (2009): English Version Vol. 16 No. 2 (2009) Vol. 16 No. 1 (2009): English Version Vol. 16 No. 1 (2009) Vol 16, Edisi Khusus 2009 Vol. 15 No. 3 (2008) Vol. 15 No. 3 (2008): English Version Vol. 15 No. 2 (2008) Vol. 15 No. 1 (2008) Vol. 14 No. 4 (2007) Vol. 14 No. 3 (2007) Vol. 14 No. 2 (2007) Vol. 14 No. 1 (2007) Vol. 13 No. 2: Mei 2006 Vol. 13 No. 1: Januari 2006 Vol. 12 No. 30: September 2005 Vol. 12 No. 29: Mei 2005 Vol. 12 No. 28: Januari 2005 Vol. 11 No. 27: SEPTEMBER 2004 Vol. 11 No. 26: Mei 2004 Vol. 11 No. 25: Januari 2004 Vol. 10 No. 24: September 2003 Vol. 10 No. 23: Mei 2003 Vol. 10 No. 22: Januari 2003 Vol. 9 No. 21: September 2002 Vol. 9 No. 20: Juni 2002 Vol. 9 No. 19: Februari 2002 Vol. 8 No. 18: Oktober 2001 Vol. 8 No. 17: Juni 2001 Vol. 8 No. 16 (2001): Cyberlaw Vol. 7 No. 15: Desember 2000 Vol. 7 No. 14: Agustus 2000 Vol. 7 No. 13: April 2000 Vol. 6 No. 12 (1999): H A K I Vol. 6 No. 11 (1999) Vol. 5 No. 10 (1998) Vol. 6 No. 9 (1997) Vol. 5 No. 8 (1997) Vol. 4 No. 7 (1997) Vol. 3 No. 6 (1996) Vol. 3 No. 5 (1996): Hukum dan Ekonomi Vol. 2 No. 4: September 1995 Vol. 1 No. 3 (1995) Vol. 1 No. 2 (1994): KEJAHATAN KERAH PUTIH Vol. 1 No. 1 (1994): Era PJPT II More Issue