cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. serang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2020)" : 7 Documents clear
Musik Kacapi Suling Sebagai Musik Terapi Asep Wasta; Neni Sholihat
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v5i1.8773

Abstract

Abstract : Kacapi Suling Art is Sunda traditional art risen from Cianjur, West Java.  Waditra Sunda equipments are able to be found in almost Tatar Sunda region, it consists of Kacapi and Suling performed instrumentally or with vocal. Slow rhytmic melodius produced by strumming strings composition could give result of soft music while compiled with melody notes of melismatistic Suling or vocal. According to these musical construction, the article and research purposed to identify and describe potential of Kecapi Suling music implication as music teraphy ability for stimulating brain and neuro system for another health effect of human. Analyzhing method used interdicipline approach of musicology adjusment and music phsycology. The analyses obtained Kecapi Suling musical elements is potential as therapy music by its relaxation effect. Keyword : Kacapi Suling, Music Therapy, Color Music, Melismatic, Psychiatric Effects  Abstrak : Seni Kacapi Suling adalah sebuah seni tradisional Sunda yang berasal dari daerah Cianjur, Jawa Barat. Perangkat waditra Sunda yang terdapat hampir di setiap daerah di Tatar Sunda, terdiri dari Kacapi dan Suling yang disajikan secara instrumental maupun bersama vocal. Alunan ritmik kecapi yang bertempo lambat, dihasilkan oleh petikan dawai yang menyatu menjadi musik yang lembut ketika bersatu dengan melodi dari suling atau vocal yang bersifat melismatis. Dari kontruksi musikal tersebut, artikel dan penelitian  ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menjelaskan tentang implikasi potensi musik kecapi suling sebagai musik terapi yang dapat menstimulan kerja otak dan syaraf untuk efek kesehatan lainnya pada manusia. Analisis yang digunakan dengan pendekatan interdisiplin yang mensinergikan musikologi dan  psikologi musik. Dari analisis diperoleh temuan awal bahwa elemen-elemen musikal kecapi suling berpotensi menjadi musik terapi karena efek relaksasinya. Kata Kunci : Kacapi Suling, Musik Therapi, Warna Musik, Melismatik, Efek Kejiwaan
Pembelajaran Seni Budaya dengan Model Project Based Learning (PJBL) melalui Lesson Study Fuja Siti Fujiawati; Rian Permana; Giri Mustika Roekmana
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v5i1.8774

Abstract

Abstract : Learning art and culture in schools aims to foster and develop the personality of students, nurture a sense of aesthetics, critical attitude, appreciation, and enrich the lives of students creatively. To achieve these learning objectives, effective learning design is needed so that the teacher can implement them when learning at school. One learning model that can foster student creativity is the Project Based Learning (PJBL) model. Through the project-based learning model can provide student experience in solving project-based problems as a first step in gathering and integrating new knowledge based on experience in actual activities. Therefore, the development of cultural arts learning is strongly influenced by the role of teachers in schools. Lesson Study is one of the many ways in which a teacher can improve his professionalism in learning in school. The purpose of this study is to develop cultural arts learning using Project based learning (PJBL) learning models, where students will solve project-based problems provided by the teacher using scientific methods. The method used in this research is a qualitative approach. The results showed that using the Project based learning (PJBL) learning model through lesson study can help teachers to develop a set of learning and can provide better learning. Keywords: Cultural Arts, Project based Learning (PJBL), Lesson Study Abstrak : Pembelajaran seni budaya di sekolah bertujuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan kepribadian peserta didik, mengasuh rasa estetik, sikap kritis, apresiatif, dan mengayakan kehidupan peserta didik secara kreatif. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut dibutuhkan perancangan pembelajaran yang efektif agar dapat di implementasikan guru pada saat pembelajaran di sekolah. Salah satu model pembelajaran yang dapat menumbuhkan kreatifitas siswa adalah model Project Based Learning (PJBL). Melalui model pembelajaran berbasis proyek dapat memberikan pengalaman siswa dalam memecahkan masalah berbasis proyek sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata. Oleh karena itu, pengembangan pembelajaran seni budaya sangat dipengaruhi oleh peran guru di sekolah. Lesson Study adalah salah satu dari banyak cara dimana guru dapat meningkatkan profesionalisme-nya dalam pembelajaran di sekolah. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan pembelajaran seni budaya dengan menggunakan model pembelajaran Project based learning (PJBL), dimana siswa akan memecahkan masalah berbasis proyek yang diberikan oleh guru dengan menggunakan metode ilmiah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran Project based learning (PJBL) melalui lesson study dapat membantu guru untuk mengembangkan seperangkat pembelajaran serta dapat memberikan pembelajaran yang lebih baik. Kata Kunci : Seni Budaya, Project based Learning (PJBL), Lesson Study
Pembelajaran Karakter Mandiri Melalui Pendidikan Seni di SD Negeri Pandeanlamper 02 Semarang Febrianti Wahyu Prasetiyaningtiyas
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v5i1.7101

Abstract

Abstract: The character of students is very important to be formed from an early age, especially independent character, because this character is needed in the daily lives of students. Independent character can be learned through Art Education, both through various activities in the classroom, in formal and non-formal education units, as well as outside the education unit. Activities outside the formal and non-formal education units, for example, are dance extracurricular activities, while what is meant by classroom activities is learning activities, in this case SBDP learning content. But now schools are only competing to create students who excel in the content of systematic thinking-based lessons, while content lessons based on unstructured creative abilities such as SBdP are marginalized. Most teachers assume that SBdP is a content for prospective artists, additional lesson content as a sweetener curriculum (superfacial curriculum), and intermittent learning content after fatigue learning other lesson content that is considered more useful for students and their lives. The purpose of this study was to determine art education at Pandeanlamper 02 Semarang Elementary School and independent character learning through art education in class IV Pandeanlamper 02 Semarang Elementary School. The research method used by researchers is descriptive qualitative. The results showed that art education in elementary school was able to learn independent character. Through art education students are trained not to depend on other people. Keywords: character, independent, art education.  Abstrak: Karakter peserta didik sangat penting dibentuk sedari dini, khususnya karakter mandiri, sebab karakter ini diperlukan dalam kehidupan peserta didik sehari-hari. Karakter mandiri dapat dibelajarkan melalui Pendidikan Seni, baikmelalui berbagai kegiatan di kelas, di satuan pendidikan formal dan nonformal, serta di luar satuan pendidikan. Kegiatan di luar satuan pendidikan formal dan nonformal contohnya adalah ekstrakurikuler seni tari, sedangkan yang dimaksud kegiatan di kelas adalah kegiatan pembelajaran, dalam hal ini adalah muatan pelajaran SBdP. Namun saat ini sekolah hanya berlomba-lomba untuk menciptakan peserta didik yang berprestasi dalam muatan pelajaran berbasis berpikir sistematis, sedangkan muatan pelajaran yang berbasis kemampuan kreasi unstructured seperti SBdP menjadi termarginalkan. Sebagian besar guru menganggap bahwa SBdP adalah muatan pelajaran bagi calon seniman, muatan pelajaran tambahan sebagai pemanis kurikulum (superfacial curriculum), dan muatan pelajaran selingan setelah penat belajar muatan pelajaran lain yang dianggap lebih bermanfaat bagi peserta didik dan kehidupannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pendidikan seni di SD Pandeanlamper 02 Semarang dan pembelajaran  karakter mandiri melalui pendidikan seni di kelas IV SD Negeri Pandeanlamper 02 Semarang. Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti yakni kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa pendidikan seni di SD mampu membelajarkan karakter mandiri. Melalui pendidikan seni peserta didik dilatih untuk tidak bergantung dengan orang lain. Kata Kunci : karakter, mandiri, pendidikan seni.
Tinjauan Ontologi Seni Tissa Tavini
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v5i1.8771

Abstract

Abstract : Art is one subsdivision of science that very close to the praxis dimension. Art is also associated with practical things, so the orientation of art is not released from something related to the conception of art creation itself. So the some society sometimes does not conduct an ontological review of the nature and existence of art. This ontological review is often overlooked, because the orientation of  art is only associated with practical things. The construction of ontological review is important to be able understanding the innermost nature of art and also be aware of the presence of art itself. When the conceptual construction of the deepest nature and presence of art can be understood radically, comprehensively, and systematically it will certainly have an impact on the construction of understanding and awareness about art. So that the implementation of art does not only stop at the praxis dimension but it goes even deeper, namely to the deepest nature of the art itself and also will bring the presence of art into the midst of wisdom. Keywords: ontology, nature, existence, art  Abstrak :  Seni merupakan salah satu cabang ilmu yang sangat dekat dengan dimensi praksis. Seni sering selalu dikaitkan dengan hal-hal yang praktikal, sehingga orientasi mengenai seni tidak luput dari sesuatu yang berkaitan dengan konsepsi penciptaan seni saja. Maka sering kali masyarakat tidak melakukan tinjauan ontologis mengenai hakikat dan keberadaan mengenai seni. Tinjauan ontologis ini sering kali terabaikan, karena orientasi mengenai seni hanya dikaitkan dengan hal-hal praksis. Konstruksi mengenai tinjauan ontologis merupakan hal yang cukup penting agar mampu memahami hakikat terdalam dari seni dan juga menyadari kehadiran dari seni itu sendiri. Ketika konstruksi konseptual mengenai hakikat terdalam dan kehadiran seni dapat dipahami secara radikal, komprehensif, dan sistematis tentunya akan berdampak pada konstruksi pemahaman dan kesadaran mengenai seni. Sehingga implementasi seni tidak hanya berhenti pada dimensi praksis akan tetapi jauh lebih dalam lagi, yaitu hingga ke hakikat terdalam dari seni itu sendiri dan juga akan membawa kehadiran seni ke tengah-tengah kebijaksanaan. Kata kunci: ontologi, hakikat, keberadaan, seni
Pengembangan Modul Makrame Mata Kuliah Kriya Anyam S1 Jurusan Seni Rupa Siti Mutmainah; Asidigisianti Surya Patria; Imam Zaini
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v5i1.8106

Abstract

Abstract : The Basic Craft Course already has student textbook  that is relevant to the sylabus as a result of the Fine Arts Research Department. Because of the broadness of the material in the textbooks, students become less profound in Macramé material, it needs to develop a module to provide students with depth of insight into the Macrame. The objectives of this study are: 1) Describe the module development process. 2) Describe the quality of the Macrame Module. This is a development research using 4D models. To determine the validity of the module, it is used questionnaire in terms of Indonesian and Graphic. Data analysis technique is done descriptively. This research resulted in Madul Makrame which was validated by Indonesian language experts with a score of 66% while graphic experts 91%, so that the average score was 84%. Students gave a positive response with a score of 79.6%. This Macrame Module is accordance with the material needs and characteristics of Fine Arts Education students, while this Module is already feasible to be produced and used by Fine Arts Education students who program Kriya Anyam courses. Keywords : Macrame, weaving, module, craft   Abstrak : Mata Kuliah Kriya Anyam Dasar telah memiliki Buku Ajar Mahasiswa yang relevan dengan RPS hasil dari Penelitian Swadana Jurusan Seni Rupa. Dengan keluasan materi dalam buku ajar terebut, materi anyam yang diperoleh mahasiswa menjadi kurang mendalam sehingga perlu adanya modul untuk memberikan kedalaman wawasan kepada mahasiswa mengenai Makrame. Tujuan Penelitian ini adalah:  1) Mendeskripsikan proses pengembangan Modul. 2) Mendeskripsikan kualitas Modul Makrame. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan menggunakan model 4D. Untuk mengetahui kevalidan modul menggunakan angket penilaian kelayakan modul ditiinjau dari Bahasa Indonesia dan Kegrafikan. Teknik penganalisaan data dilakukan secara deskriptif. Penelitian dan pengembangan ini menghasilkan Madul Makrame ini yang telah tervalidasi oleh ahli Bahasa Indonesia dengan skor 66% sedangkan ahli kegrafikan 91% Sehingga dirata-rata skor 84%. Mahasiswa memberikan respon positif dengan skor 79,6%. Modul Makrame ini sesuai dengan kebutuhan materi dan karakteristik mahasiswa Pendidikan Seni Rupa sedangkan Modul ini sudah layak diproduksi dan digunakan oleh mahasiswa Pendidikan Seni Rupa yang memprogram mata kuliah Kriya Anyam. Kata Kunci: Kriya Anyam, Makrame, Modul
Nilai Budaya dalam Balutan Kesenian “Bangreng” Ria Intani T
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v5i1.8772

Abstract

Abstract: Bangreng is a performance art that developed in Sumedang Regency. Bangreng art was born from the art of Terebang which developed into the art of Gembyung, and then developed again into the art of Bangreng. Various opinions say that an art is not created for mere beauty, but also various things that are valuable for life. In this regard, this study was conducted to find a depiction of Bangreng art, along with the values contained therein. This type of research is qualitative by extracting the data through interviews and observations. The results of the study showed that the art of Terebang which contained a lot of religious values and Gembyung which contained elements of entertainment became the foundation in Bangreng art. Thus, even though Bangreng art contains entertainment, religious values are maintained. Keywords: Bangreng art, cultural values.  Abstrak: Bangreng merupakan seni pertunjukan yang berkembang di Kabupaten Sumedang. Kesenian bangreng terlahir dari kesenian terebang yang berkembang menjadi kesenian gembyung, dan kemudian berkembang lagi menjadi kesenian bangreng. Berbagai pendapat mengatakan bahwasanya sebuah kesenian tidak diciptakan untuk keindahan semata, melainkan pula berbagai hal yang bernilai untuk kehidupan. Sehubungan dengan itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran tentang kesenian bangreng, berikut nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Jenis penelitian ini kualitatif dengan penggalian datanya melalui wawancara dan pengamatan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa kesenian terebang yang banyak mengandung nilai keagamaan dan gembyung yang mengandung unsur hiburan menjadi fondasi dalam kesenian bangreng. Dengan demikian meskipun kesenian bangreng mengandung unsur  hiburan, namun demikian nilai-nilai keagamaan tetap terjaga.                                       Kata kunci: Kesenian bangreng, nilai budaya.  
Penggunaan Media Pembelajaran Berbasis Teknologi Pada Guru Seni Budaya MTs Se-Kota Malang Sri Wulandari; Ocha Denta Wijaya; Imam Tri Laksono; Robby Hidajat
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v5i1.7640

Abstract

Abstract : Learning media that are encouraged and facilitated by schools include the procurement of tape recorders, LCD projectors, and computers. In general, the supply of this equipment has been around for the last ten years. In the era of the industrial revolution, 4.0 all aspects of life, including education, should be encouraged to use information technology. Various types of information are spread on social media or prepared by the teacher as a substitute for natural learning resources, namely the teacher in the process of teaching and learning activities and asked a question, how to optimize the availability and use of media based on information technology in the current learning of Cultural Arts? The purpose of this study is to reveal the use of instructional media based on information technology at the MTs level in Malang. This study uses observational research methods with quantitative descriptive research approaches. Data was obtained by filling out a questionnaire that was distributed online through social media in the form of Whatsapp MGMP Arts and Culture MTs group. The results of this study found that not all schools provide information technology-based learning media to support the learning of Art and Culture. Keywords : Learning media, learning resources, art learning, and technology  Abstrak : Media belajar yang didorong dan difasilitasi oleh sekolah meliputi pengadaan tape recorder, LCD proyektor, dan komputer. Pada umumnya pengadaan peralatan ini telah ada kurang  lebih 10 tahun terakhir. Di era revolusi industri 4.0 harusnya semua aspek kehidupan termasuk pendidikan didorong untuk menggunakan teknologi informasi. Berbagai jenis informasi yang tersebar di sosial media atau disiapkan oleh guru sebagai pengganti sumber belajar alami yaitu guru dalam proses kegiatan belajar mengajar. Diajukan sebuah pertanyaan, bagaimana optimalisasi pengadaaan dan penggunaan media yang berbasis teknologi informasi pada pembelajaran Seni Budaya saat ini? Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap penggunaan media pembelajaran yang berbasis teknologi informasi di tingkat MTs se Kota Malang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian observasional dengan pendekatan penelitian deskriptif kuantitatif.  Data diperoleh melalui pengisian angket yang disebar secara online  melalui media sosial berupa Whatsapp grup MGMP Seni Budaya MTs. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa tidak semua sekolah menyediakan media pembelajaran seni yang berbasis teknologi informasi untuk mendukung pembelajaran Seni Budaya. Kata Kunci : media pembelajaran, sumber belajar,  seni budaya, teknologi

Page 1 of 1 | Total Record : 7