cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Acta Pharmaceutica Indonesia
ISSN : 0216616X     EISSN : 27760219     DOI : -
Core Subject :
Acta Pharmaceutica Indonesia merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung. Jurnal ini mencakup seluruh aspek ilmu farmasi sebagai berikut (namun tidak terbatas pada): farmasetika, kimia farmasi, biologi farmasi, bioteknologi farmasi, serta farmakologi dan farmasi klinik. Acta Pharmaceutica Indonesia is the official journal published by School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung. The journal covers all aspects of pharmaceutical issues which includes these following topics (but not limited to): pharmaceutics, pharmaceutical chemistry, biological pharmacy, pharmaceutical biotechnology, pharmacology and clinical pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 254 Documents
Antimicrobial Activity Comparison Profile of Piper betle L., Pluchea indica L. and Citrus aurantifolia [Christm.] Swingle against Bacterial Isolates from Human Axillary Sweat with Odor Problem Nur Miftahurrohmah; Syarmalina Syarmalina
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 38 No. 2 (2013)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research to compare the antimicrobial activity profile of Piper betle L. leaf, Pluchea indica L. leaf, and Citrus aurantifolia [Christm.] Swingle fruit against bacteria isolated from axillary sweat of six probandus having axillary odor problem had been done. Eight pure bacterial isolates came from this process, and then identified with Gram stain and several biochemical reactions. Staphylooccus aureus, S. epidermidis, and S. haemolyticus, known as bacteria that usually present in a large amount at human axilla skin with odor problem, were used also in this research. The tested plants were prepared with procedures that usually used by the Indonesian people as traditional home medicine to face the axillary odor problem. Furthermore, fucidic acid and potassium alumunium phosphate were used as reference drugs. Antimicrobial activity of all of the plants and the reference drugs against 11 bacteria were studied using agar diffusion method. The results showed that liquid extracted from Citrus aurantifolia [Christm.] Swingle. fructus had the highest antimicrobial activity compared to the two other plants against bacteria isolated from axillary sweat with odor problem, which was equal with the antimicrobial activity of potassium alumunium phosphate 20% w/v solution. Antimicrobial activity of betel leaf and beluntas leaf were equal with the antimicrobial activity of 19.06 μg/mL of fusidic acid solution.Keywords: betel leaf, Piper betle L., beluntas leaf, Pluchea indica L., lime fruit, Citrus aurantifolia [Christm.] Swingle, antimicrobial, axillary odor. AbstrakTelah dilakukan penelitian untuk membandingkan aktivitas antimikroba dari daun sirih (Piper betle L.), daun beluntas (Pluchea indica L.), dan buah jeruk nipis (Citrus arantifolia [Christm.] Swingle) terhadap bakteri yang diisolasi dari keringat ketiak enam sukarelawan yang memiliki masalah bau ketiak. Delapan isolat bakteri murni didapat dari proses ini dan kemudian diidentifikasi dengan pewarnaan Gram dan uji-uji biokimia. Bakteri Staphylooccus aureus, S. epidermidis, dan S. haemolyticus yang umumnya terdapat dalam jumlah banyak di kulit ketiak yang berbau juga digunakan dalam penelitian ini. Tanaman-tanaman uji disiapkan dengan cara yang biasa dilakukan oleh masyarakat Indonesia untuk mengatasi bau badan secara tradisional. Sebagai senyawa antimikroba standar, digunakan asam fusidat dan tawas (kalium aluminium fosfat) untuk dibandingkan aktivitasnya dengan tiga tanaman uji. Aktivitas antimikroba seluruh tanaman uji dan larutan senyawa antimikroba terhadap 11 bakteri diteliti dengan menggunakan metode difusi agar. Hasil uji menunjukkan bahwa air perasan jeruk nipis memiliki aktivitas antimikroba terbesar dibandingkan dengan dua tanaman uji lainnya terhadap bakteri yang diisolasi dari keringat ketiak yang berbau, yang sebanding dengan aktivitas antimikroba larutan tawas 20% b/v. Aktivitas antimikroba daun sirih dan daun beluntas sebanding dengan aktivitas antimikroba larutan asam fusidat 19,06 μg/mL.Kata kunci: sirih, Piper betle L., beluntas, Pluchea indica L., jeruk nipis, Citrus aurantifolia [Christm.] Swingle, antimikroba, bau ketiak.
Isolation of Flavonoid from Jackfruit Leaves (Artocarpus heterophyllus Lamk.) and its Antioxidant Activity Soraya Riyanti; Clara Sunardi; Sana Nurul Falah
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 38 No. 2 (2013)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The flavonoid compound was successfully isolated from jackfruit leaves (Artocarpus heterophyllus Lamk.). Extraction was done by maceration with methanol-water (9:1), followed by methanol-water (1:1) as a solvent. Hydrolyzed extract was obtained by adding of 2NHCl, then extracted with ethyl acetate and monitored by thin layer chromatography (TLC) with nhexane-ethyl acetate (3:5) as a mobile phase. Separation was performed by column chromatography, followed by preparativethin layer chromatography. Purity of isolates was determined by 2-dimensional thin layer chromatography. Characterization of isolate were carried out by ultraviolet-visible spectrophotometry and infrared spectrophotometry. The result showed a maximum absorbance of bands I at 328.4 nm and 271 nm for bands II. Characterization of isolate by infrared spectrophotometry showed the presence of functional groups OH, CH, C = C, C = O, CC, and CO. Based on the data, the isolate identified as a flavonoid compound. Antioxidant activity of ethyl acetate fraction and column fraction by 1,1-diphenyl-2-picryl-hydrazyl (DPPH) assay showed EC50 at 60.53 mg/mL and 35.27 μg/mL respectively.Key words: Artocarpus heterophyllus Lamk., flavonoid, 1,1-diphenyl-2-picryl-hydrazyl (DPPH), EC50. AbstrakSenyawa flavonoid berhasil diisolasi dari daun belimbing (Artocarpus heterophyllus Lamk.). Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan metanol-air (9:1), diikuti dengan metanol-air (1:1) sebagai pelarut. Hasi dari ekstrak yang terhidrolisis didapatkan dengan menambahkan 2NHCl, kemudian diekstraksi dengan etil asetat dan diamati menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) dengan campuran n-heksana-etil asetat (3:5) sebagai fase gerak. Pemisahan dilakukan menggunakan kromatografi kolom yang dilanjutkan dengan kromatografi lapis tipis preparative. Kemurnian dari isolat ditentukan dengan cara kromatografi lapis tipis 2-dimensi. Karakterisasi isolat ditunjukkan dengan spektrofotometer UV-Vis dan inframerah. Hasil spektrum menujukkan adanya absorbansi maksimum dari pita I pada 328,4 nm dan 271 nm untuk pita II. Karakterisasi dari isolat menggunakan spektrofotometer inframerah menunjukkan adanya gugus fungsional OH, CH, C=C, C=O, CC, dan CO. Berdasarkan data tersebut, isolat teridentifikasi sebagai senyawa flavonoid. Aktivitas antioksidan dari fraksi etil asetat dan fraksi kolom menggunakan pengujian 1,1-difenil-2-pikril-hidrazil (DPPH) menunjukkan EC50 pada 60,53 mg/ml dan 35,27 μg/mL.Kata kunci : Artocarpus heterophyllus Lamk., flavonoid, 1,1-difenil-2-pikril-hidrazil (DPPH), EC50
Antioxidant Activity and Antocyanin Derivatives Study of Red Katuk (Euphorbia cotinifolia L.) Leaves Ria Mariani; Iwang S. Soediro; Setiadi Ihsan; Sinta Eva; Desi Nuraisyah
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 38 No. 2 (2013)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In this study, antioxidant activity and antocyanin derivatives study of extract of red katuk (Euphorbia cotinifolia L.) leaves was done. Antioxidant activity was done by DPPH (2,2-diphenyl 1-picrylhydrazyl) method using ultraviolet-visible spectrophotometer and thin layer chromatography. The result showed that methanol extract had antioxidant activity with IC50 value 33.13 μg/mL. Vitamin C as comparative substance had IC50 value was 5.24 μg/mL. From the acidified methanol extract, two anthocyanin derivatives have been isolated by preparative paper chromatography and characterized by ultraviolet visible spectrophotometry, which were supposed to be peonidin and cyanidin.Keywords: Euphorbia cotinifolia L, antioxidant, antocyaninAbstrakPada penelitian ini dilakukan pengujian mengenai aktifitas antioksidan dan turunan antosianin dari ekstrak daun katuk (merah Euphorbia cotinifolia L.). Aktifitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH (2,2-diphenyl 1-picrylhydrazyl) menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan kromatografi lapis tipis (KLT). Hasil penellitian menunjukkan bahwa ekstrak metanol memiliki aktifitas antioksidan dengan nilai IC50 33,13 μg/mL. Vitamin C sebagai senyawa pembanding memiliki nilai IC50 5,24 μg/mL. Dari ekstrak metanol dalam suasana asam, terdapat 2 turunan antosianin yang berhasil diisolasi menggunakan kromatografi kertas preparatif dan dikarakterisasi dengan spektrofotometer UV-Vis, dimana kedua isolate tersebut diketahui sebagai peonidin dan sianidin.Kata kunci : Euphorbia cotinifolia L, antioksidan, antosianin
Antidiarrheal Activity of Water Extracts of Guava Leaves (Psidium guajava L.) and Water Extracts of Green Tea Leaves (Camellia sinensis L.) Combination in Swiss Webster Mice Puspa Sari Dewi; Afifah B. Sutjiatmo; Arif Nurdiansyah
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 38 No. 2 (2013)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The antidiarrheal activities of water extracts of guava leaves (Psidium guajava L.) and water extracts of green tea leaves (Camellia sinensis L.) combination against castor oil-induced diarrhea and intestinal transit time method have been determined in Swiss Webster male mice. Twenty five male Swiss Webster mice weighing around 20-35 g were divided randomly into 5 groups for each method. The first group as a control was given gom 2% po, the second group was treated with loperamide hydrochloride 0.52 mg/kg body weight po. The third, fourth and fifth groups were treated with water extract of guava leaves (G) and water extract of green tea leaves (T) combinations i.e. (G : T) 112.5 : 110.55 ; (G : T ) 75 : 221.1 and (G : T) 37.5 : 331.65 mg/kg BW respectively. The results showed that all extract combinations had antidiarrheal activities, significantly differences in increased stool consistency, stool weight, onset and diarrhea duration, and intestinal transit time in mice that has been given extract compared to those of control group. Frequency of defecacy of mice administered by water extract of (G : T) 75 : 221.1 at minute 180-240 showed effects equal to the comparison group and significantly different compared to that of control group (p<0.05). Combination water extract of guava leaves 75 mg/kg BW and water extract of green tea leaves 221.1 mg/kg BW was the best combinations in this research.Keywords: intestinal transit time method, oleum ricini-induced, water extracts, guava leaves, green tea leaves AbstrakPada penelitian ini dilakukan penentuan aktifitas antidiare dari kombinasi ekstrak air daun jambu biji (Psidium guajava L.) dan ekstrak air daun teh hijau (Camellia sinensis L.) dengan menggunakan metode induksi dengan minyak jarak dan melihat waktu singgah pada saluran cerna. Penelitian ini menggunakan 25 jantan galur Swiss Webster dengan bobot berkisar antara 20-35 g yang dibagi menjadi 5 kelompok untuk setiap metode. Kelompok pertama diberi gom 2% secara peroral (po) sebagai kelompok kontrol, kelompok kedua diberi loperamid hidroklorida 0,52 mg/kg berat badan secara peroral. Kelompok ketiga, keempat dan kelima masing-masing diberi kombinasi ekstrak air daun jambu biji (G) dan ekstrak air daun teh hijau (T) dengan perbandingan sebagai berikut (G:T) 112,5 : 110,55 ; (G:T ) 75 : 221,1 dan (G:T) 37,5 : 331,65 mg/kg BB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh ekstrak memiliki aktifitas antidiare, terdapat perbedaan yang signifikan pada konsistensi feses, berat feses, onset dan durasi diare, dan pada waktu singgah saluran cerna antara mencit yang diberi ekstrak dan mencit pada kelompok kontrol. Frekuensi dari defekasi pada mencit yang diberi ekstrak air (G : T) 75 : 221,1 pada menit ke 180-240 menunjukkan adanya efek yang serupa dengan kelompok pembanding dan memiliki perbedaan yang bemakna dengan kelompok kontrol (p<0,05). Kombinasi antara ekstrak air daun jambu biji 75 mg/kg BB dan ekstrak air daun the hijau 221,1 mg/kg BB merupakan kombinasi yang paling baik dalam penelitian ini.Kata kunci : Metode waktu singgah saluran cerna, induksi oleum ricini, ekstrak air, daun jambu biji, daun teh hijau.
Front Matter Vol 38 No 3 (2013) Acta Pharmaceutica Indonesia
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 38 No. 3 (2013)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembuatan Sirup Glukosa dari Umbi Singkong (Manihot esculenta Crantz), Umbi Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.), Rimpang Ganyong (Canna edulis Ker.), Buah Sukun (Artocarpus communis Forst), dan Rimpang Garut (Maranta arundinace Linn) dengan Metode Enzimatis Muhamad Insanu; Fakar Daras Kamal; Asep Gana Suganda
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 38 No. 3 (2013)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Glukosa merupakan salah satu jenis gula yang banyak dimanfaatkan oleh industri, terutama industri makanan dan minuman ringan. Di Indonesia sirup glukosa diproduksi dari pati singkong. Akan tetapi, saat ini produksi sirup glukosa dalam negeri tidak sebanding dengan kebutuhannya yang tinggi sehingga pemerintah harus mengimpornya. Salah satu solusi untuk meningkatkan produksi sirup glukosa adalah dengan cara diversifikasi bahan baku. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mencari alternatif pengganti pati singkong sebagai bahan baku, tetapi penelitian yang telah dilakukan tidak membandingkan secara langsung potensi bahan baku alternatif tersebut. Selain itu, penelitian yang dilakukan umumnya menggunakan bahan baku dari pati bukan dari bagian tanaman sumber pati tersebut. Tujuan penelitian ini adalah menentukan potensi ubi jalar (Ipomoea batatas L.), ganyong (Canna edulis Ker.), sukun (Artocarpus communis Forst), dan garut (Maranta arundinace Linn) sebagai sumber sirup glukosa pengganti singkong (Manihot esculenta Crantz). Bahan baku dibersihkan dan dipotongpotong dengan ukuran sekitar 5x5 mm. Likuifikasi dilakukan dengan penambahan 63 µL α-amilase (185,1 unit/mL), dipanaskan pada suhu 95-100 °C selama 2 jam. Sakarifikasi dilakukan dengan penambahan 107 µL glukoamilase (345,7 unit/mL), dipanaskan pada suhu 61-64 °C selama 72 jam. Pemurnian dilakukan dengan pemberian karbon aktif. Analisis kualitatif dilakukan dengan metode kromatografi kertas, sedangkan analisis kuantitatif dilakukan dengan metode titrasi redoks yang dikembangkan Lane & Eynon dengan pembanding glukosa 0,1g/mL. Analisis kualitatif menunjukkan semua sirup mengandung glukosa. Hasil perhitungan kadar gula total yang ekuivalen dengan glukosa per gram bahan baku dari sirup yang berasal dari singkong, ubi jalar, ganyong, sukun, dan garut masing-masing adalah 2,69±0,45%; 5,56 ± 0,77%; 2,91±0,40%; 2,77±1,39%; dan 2,92±0,40%. Berdasarkan analisis kuantitatif, ubi jalar paling potensial menggantikan singkong sebagai sumber sirup glukosa.Kata kunci: sirup glukosa, singkong, ubi jalar, ganyong, sukun, garut, enzimatisAbstractGlucose syrup is commonly used in food and beverages industries, but the production is still insufficient so to fulfil the need government has to import it. In Indonesia glucose syrup was produced from cassava starch. The production of glucose syrup should be increased by the diversification of raw materials. Several researches have been conducted to look for alternative raw materials for substituting the use of cassava. However, no researches have compared the potential among these alternative materials and uses parts of the plants directly. The purpose of this study was to determine the potential of sweet potato (Ipomoea batatas L.), canna (Canna edulis Ker.), breadfruit (Artocarpus communis Forst), and arrowroot (Maranta arundinace Linn) as a source of glucose syrup for substituting cassava (Manihot esculenta Crantz). The raw materials were cleaned and cut into pieces with a size of 5x5 mm. Liquefaction was done by adding 63 μL of α-amylase (185.1 units/mL) followed by heating at 95-100°C for 2 hours. Saccharification was done by adding 107 µL of glucoamylase (345.7 units/mL) followed by heating at 61-64°C for 72 hours. Glucose syrup was purified by adding activated carbon as an absorbent. Qualitative analysis was performed by paper chromatography, while the quantitative analysis was conducted by the redox titration which was developed by Lane & Eynon using glucose 0.1 g/mL as a standard. Qualitative analysis showed all syrups contain glucose. The total sugar content equivalent to glucose per gram of raw material for each glucose syrup were 2.69±0.45%, 5.56±0.77%, 2.91±0.40%, 2.77±1.39%, and 2.92±0.40% for cassava, sweet potato, canna, breadfruit, and arrowroot respectively. Based on the quantitative analysis, sweet potatoes were the most potential substituting agent for cassava as a source of glucose syrup.Keywords: glucose syrup, cassava, sweet potato, canna, breadfruit, arrowroot, enzymatic
Aktivitas Antijamur Fusarium oxysporum Schlecht dari Tanaman Asli Indonesia Yenni Karlina; Sukrasno Sukrasno; I Nyoman Pugeg Aryantha
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 38 No. 3 (2013)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian aktivitas antijamur ekstrak metanol dari tujuh belas simplisia, yaitu rimpang dringo (Acorus calamus L.), umbi lapis bawang putih (Allium sativum L.), rimpang lengkuas (Alpinia galanga (L.) Wild.), rimpang kunyit (Curcuma domestica Val.), daun kayu manis (Cinamomum burmanii), daun sereh wangi (Cymbopogon nardus), herba urang aring (Eclipta alba), daun sirih (Piper betle L.), daun ketepeng (Cassia alata L.), rimpang temu putih (Curcuma zedoaria (Christin) Rosc.), rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.), rimpang jahe (Zingiber officinale Rosc.), bunga dan daun cengkeh (Syzygium aromaticum(L.) Merrill and Perry), kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.), herba babadotan (Ageratum conyzoides L.),dan daun sirih merah (Piper crocatum ) terhadap pertumbuhan jamur Fusarium oxysporum Schlecht. Uji aktivitas antijamur menggunakan metode difusi agar dengan menghitung prosentase penghambatan pertumbuhan radial miselium jamur pada hari ke tujuh. Konsentrasi ekstrak metanol yang digunakan untuk uji aktivitas antijamur, yaitu 2,5%, 5%, dan 10%. Ekstrak metanol daun sirih, bunga dan daun cengkeh memiliki aktivitas antijamur tinggi, yaitu 76-100%, Ekstrak metanol kunyit, dringo, temulawak, jahe memiliki aktivitas < 50%. Ekstrak metanol babadotan, bawang putih, lengkuas, ketepeng, temuputih, sereh wangi, sirih merah, manggis, kayu manis, dan urang aring tidak memiliki aktivitas antijamur Fusarium.Kata kunci : Antijamur, Fusarium oxysporium, tanaman obat.AbstractAntifungal activity of methanol extracts from 17 crude drugs, i.e. rhizome of Acorus calamus, bulbs of Allium sativum L, rhizome of Alpinia galanga L., rhizome of Curcuma domestica Val., leaves of Cinamomum burmanii, leaves of Cymbopogon nardus, leaves of Eclipta alba, leaves of Piper betle L., leaves of Cassia alata L., rhizome of Curcuma zedoaria Christin., rhizome of Curcuma xanthorrhiza Roxb, rhizome of Zingiber officinale Rosc., flower and leaves of Syzygium aromaticum, peel of Garcinia mangostana, herbs of Ageratum conyzoides, and leaves of Piper crocatum against fungi growth Fusarium oxysporum Schlecht. Antifungal activity was tested using agar diffusion method by calculating the percentage inhibition of fungal mycelium radial growth on the seventh day of incubation. Concentrations of the methanol extracts used were 2.5%, 5%, and 10% w/v. Methanol extract of Piper betle leaf, flower and leaf of clove, had a high antifungal activity 76-100%. Methanol extract of turmeric, dringo, ginger, had activity <50%. Methanol extract of babadotan, garlic, galangal, candle bush, white turmeric, citronella grass, red betel, mangosteen, cinnamon, and bhringraj did not have antifungal fusarium activity.Keyword : Antifungal activity, Fusarium oxysporium , medicinal plants.
Pemicu Hematemesis Melena pada Pasien Rawat Inap Kelas III Bagian Ilmu Penyakit Dalam di Salah Satu Rumah Sakit di Kota Bandung Tavinda Inggried Anindya; Elin Yulinah Sukandar; Sri Hartini
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 38 No. 3 (2013)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hematemesis adalah muntah berdarah atau material seperti bubuk kopi, sedangkan melena adalah feses hitam seperti ter serta berbau busuk. Hematemesis melena merupakan kejadian gawat darurat di rumah sakit yang dapat menyebabkan kematian sebesar 8-14%. Beberapa bahan dan obat-obatan dapat memicu terjadinya hematemesis melena jika digunakan dalam dosis tinggi atau jangka waktu lama oleh pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai pemicu hematemesis melena dan jenisnya yang paling banyak. Penelitian ini dilakukan secara retrospektif dengan pendataan rekam medik pasien hematemesis melena yang dirawat inap selama periode 1 Januari "“ 31 Desember 2011, dilanjutkan dengan percobaan menggunakan metode kromatografi lapis tipis. Hasil menunjukkan bahwa dari keseluruhan pasien hematemesis melena, terdapat 70,0% kasus yang diketahui pemicunya, sedangkan 30% sisanya tidak diketahui. Sumber perdarahan hematemesis melena tersebut antara lain: varises esofagus (32,5%); gastropati hipertensi portal (5,0%); ensefalopati hepatikum (7,5%); varises esofagus dan gastropati hipertensi portal (25,0%); varises esofagus dan ensefalopati hepatikum (10,0%); varises esofagus, gastropati hipertensi portal, dan ensefalopati hepatikum (2,5%); varises esofagus, gastropati hipertensi portal, dan ulkus duodenum (5,0%); ulkus peptikum (7,5%); serta gastritis erosif berdarah (5,0%). Kemungkinan pemicu hematemesis melena adalah AINS "“ ibuprofen (5,0%), jamu pegal linu (30,0%), jamu nyeri otot (5,0%), jamu rheumatoid arthritis (5,0%), jamu yang tidak diketahui jenisnya (10,0%), dan alkohol (15,0%). Kemungkinan pemicu hematemesis melena terbanyak adalah jamu pegal linu, yaitu sebesar 30,0%.Kata kunci: hematemesis, melena, gastrointestinal, jamu pegal linu, studi retrospektif.AbstractHematemesis is the vomitus of bright red blood or "coffee-ground" material. Melena is black and tarry stool which is foul smelling because of the prescence of partially digested blood products. Hematemesis melena is a very common hospital emergency that still carries hospital mortality for 8-14%. Some drugs and substances may induce the occurence of hematemesis melena. These drugs and substances are usually used for a long time by the patients. This study was made by the aim to identify kinds of inductors and the most inductor of hematemesis melena. This study was done retrospectively using medical records of hospitalized hematemesis melena patients period by January 1 until December 31, 2011, followed by lab experiment using thin layer chromatography method, in. Result showed that there were 70.0% cases of total hematemesis melena patients with known inductors, while the 30% were unknown. Causes of hematemesis melena sources were esophageal varices (32.5%); gastropathy of portal hypertension (5.0%); hepatic encephalopathy (7.5%); esophageal varices and gastropathy of portal hypertension (25.0%); esophageal varices and hepatic encephalopathy (10.0%); esophageal varices, gastropathy of portal hypertension, and hepatic encephalopathy (2.5%); esophageal varices, gastropathy of portal hypertension, and duodenal ulcer (5.0%); peptic ulcer (7.5%); and bleeding erosive gastritis (5.0%). Based on the results of this study, hematemesis melena was possibly induced by NSAID "“ ibuprofen (5.0%), jamu (traditional herbal medicine) for stiffness (30.0%), jamu for muscle pain (5.0%), jamu for rheumatoid arthritis (5.0%), jamu for unknown indication (10.0%), and alcohol (15.0%). The most possible inductor of hematemesis melena was jamu for stiffness, that was 30.0%.Keywords: Hematemesis, melena, gastrointestinal, jamu for stiffness, retrospective study.
Uji Efek Antikram Kinin dan O-Desmetil Kinin dengan Rute Pemberian Oral dan Topikal pada Mencit Swiss Webster Betina Elin Yulinah Sukandar; I Ketut Adnyana; Yohanna Christanti; Finna Setiawan
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 38 No. 3 (2013)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kinin adalah senyawa alkaloid dari kulit batang Cinchona sp. yang digunakan sebagai antimalaria. O-desmetil kinin (C19H22N2O2) adalah senyawa turunan kinin baru yang diperoleh dengan menghilangkan gugus metil pada kinin. Selain sebagai antimalaria, kinin juga dapat digunakan untuk mengobati kram kaki. Karena efek samping yang besar, FDA (2009) melarang penggunaan kinin oral dalam pengobatan kram kaki. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menguji efek kinin dan pada rute pemberian oral dan topikal serta mengetahui efek o-desmetil kinin pada terapi kram kaki. Mencit dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok normal, kelompok kinin oral dosis 26 mg/kg bb, kelompok kinin topikal dosis 52 mg/kg bb, kelompok o-desmetil kinin oral dosis 26 mg/kg bb, dan kelompok o-desmetil topikal dosis 52 mg/kg bb. Mencit diletakkan di atas rotarod dengan kecepatan 10-16 rpm selama 4 menit. Waktu yang dapat ditempuh mencit selama berada di atas rotarod diukur. Perlakuan yang sama diulang dengan durasi 45 menit selama 4,5 jam. Setelah menit ke 180, kelompok uji mengalami peningkatan waktu ketahanan di atas rotarod sedangkan kempok normal mengalami penurunan. Pada menit 270, kelompok oral dan topikal memberikan perbedaan yang bermakna dibandingkan dengan kelompok normal. Pemberian kinin dan odesmetil kinin pada rute pemberian oral dengan dosis 26 mg/kg bb dan topikal dengan dosis 52 mg/kg bb sebagai antikram memberikan hasil yang bermakna dibandingkan dengan kelompok normal (p<0,05). O-desmetil kinin memberikan efek yang tidak berbeda bermakna dari kinin base (p<0,05).Kata kunci: kram kaki, kinin, o-desmetil kinin, rotarod.AbstractQuinine is an alkaloid from the bark of Cinchona sp. as an anti-malaria. O-desmethyl quinine (C19H22N2O2) is the new quinine derivative, by losing its methyl. Beside the function as anti-malaria, quinine is used for leg cramps treatment. Because of the great side effects, FDA (2009) banned the use of quinine oral for leg cramps therapy. Therefore, this study was aimed to determine the effect of quinine by oral and topical administration and to determine o-desmethyl quinine's effect for leg cramps therapy. Mice were divided into normal group, quinine oral dose 26 mg/kg bw, quinine topical dose 52 mg/kg bw, o-desmethyl quinine oral dose 26 mg/kg bw, and o-desmethyl topical dose 52 mg/kg bw. Mice were taken on the rotarod at 10-16 rpm for 4 minutes. Time to remain on the rotarod was measured. The same treatment was repeated after 45 minutes for 4.5 hours. Over the 180 minutes, the endurance of the test groups were increased on the contrary, the normal group is decreased. After 270 minutes of observations, the oral and topical groups have significant difference compared by the normal group. The administration of quinine by oral dose 26 mg/kg bb and topical dose 52 mg/kg bb as an anti-cramps showed significantly difference compared to the normal group (p<0.05). O-desmethyl quinine has no significantly difference compared by quinine (p<0.05).Keywords: leg cramps, quinine, o-desmethyl quinine, rotarod.
Telaah Fitokimia Daun Jarak Tintir (Jathropa multifida Linn) dan Uji Hayatinya dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) Soraya Riyanti; Clara Sunardi; Yoshua Honasan
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 38 No. 3 (2013)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Obat tradisional Indonesia merupakan warisan budaya yang telah menjadi bagian dari aspek pengobatan di Indonesia. Salah satu tanaman di Indonesia yang digunakan masyarakat sebagai tanaman obat adalah tanaman jarak tintir (Jatropha multifida Linn). Getah tanaman jarak tintir telah digunakan oleh masyarakat untuk mengobati luka baru dengan cara dioleskan pada daerah luka. Uji hayati daun jarak tintir menggunakan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) menggunakan larva udang Artemia salina Leach yang berumur 48 jam. Daun jarak tintir diekstraksi secara maserasi menggunakan pelarut metanol. Ekstrak difraksinasi dengan ekstraksi cair-cair berturut-turut menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat dan air. Efek toksik dari masing-masing ekstrak dan fraksi dihitung persentase kematian larva udang menggunakan analisis Probit (LC50). Fraksi yang aktif kemudian diuji kandungan fitokimianya dan diidentifikasi senyawa bioaktif yang terkandung di dalamnya dengan menggunakan beberapa tekhnik kromatografi dan spektroskopi. Penelitian menunjukkan harga LC50 untuk ekstrak metanol daun jarak tintir, fraksi n-heksana, fraksi etil asetat dan fraksi air berturut-turut adalah 2,8057 µg/mL; 0,9128 µg/mL; 17,0918 µg/mL dan 1801,94 µg/mL.Kata kunci: Jarak Tintir, Jatropha multifida Linn., brine shrimp lethality test, Artemia salina Leach., LC50AbstractIndonesian traditional medicine is a cultural heritage that has become part of the aspects of treatment in Indonesia. One plant in Indonesia which used as a medicinal plant is a jarak tintir (Jatropha multifida Linn). The latex of this plant has been used by people to treat fresh wounds topically to the wound area. Method of bioassay of jarak tintir leaf using BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) using larval shrimp Artemia salina Leach was 48 hours. Jarak tintir leaves extracted by maceration using methanol. Extracts was fractionated by liquid-liquid extraction using n-hexane, ethyl acetate and water. Toxic effects of each of the extracts and fractions calculated using Probit analysis. Active fractions was tested and identified of bioactive compounds contained in active fraction by using some of the techniques of chromatography and spectroscopy. The results showed LC50 for methanol extract of the jarak tintir leaves, the fraction of n-hexane, ethyl acetate fraction and water fraction respectively were 2.8057 µg/mL; 0.9128 µg/mL; 17.0918 µg/mL and 1801.94 µg/mL.Keywords: Jarak Tintir, Jatropha multifida Linn, brine shrimp lethality test, Artemia salina Leach., LC50