cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Acta Pharmaceutica Indonesia
ISSN : 0216616X     EISSN : 27760219     DOI : -
Core Subject :
Acta Pharmaceutica Indonesia merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung. Jurnal ini mencakup seluruh aspek ilmu farmasi sebagai berikut (namun tidak terbatas pada): farmasetika, kimia farmasi, biologi farmasi, bioteknologi farmasi, serta farmakologi dan farmasi klinik. Acta Pharmaceutica Indonesia is the official journal published by School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung. The journal covers all aspects of pharmaceutical issues which includes these following topics (but not limited to): pharmaceutics, pharmaceutical chemistry, biological pharmacy, pharmaceutical biotechnology, pharmacology and clinical pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 254 Documents
Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa Bilimbi L.) terhadap Propionibacterium acnes, Staphylococcus epidermidis, MRSA dan MRCNS Elin Yulinah Sukandar; Irda Fidrianny; Rizka Triani
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 39 No. 3 & 4 (2014)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Belimbing wuluh adalah salah satu tanaman tropis yang hidup subur di Indonesia.Saat ini pemanfaatan buah belimbing wuluh masih terbatas dibandingkan dengan ketersediannya. Aktivitas antimikroba ditentukan terhadap empat bakteri uji meliputi penentuan konsentrasi hambat minimum, konsentrasi bakterisid minimum dan profil kurva pertumbuhan.Nilai KHM ekstrak etanol buah belimbing wuluh terhadap Staphylococcus epidermidis, Propionibacterium acnes, Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) dan Methicillin Resistant Coagulase-Negative Staphylococci (MRCNS) berturut-turut adalah 128,256, 256 dan 256 µg/mL. Nilai konsentrasi bakterisid minimum ekstrak etanol buah belimbing wuluh terhadap Staphylococcus epidermidis, Propionibacterium acnes, MRSA dan MRCNS berturut-turut adalah 512, 512, 1024 dan 512 µg/mL. Hasil pengujian kurva pertumbuhan menunjukkan ekstrak memiliki aktivitas bakteriostatik terhadap keempat bakteri pada 1 KHM, 4 KHM dan 8 KHM. Ekstrak etanol buah belimbing wuluh memiliki aktivitas bakteriostatik terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis, Propionibacterium acnes, MRSA dan MRCNS.Kata kunci: antibakteri, ekstrak etanol, buah belimbing wuluh, mikrodilusi.AbstractCucumber tree is one of lush tropical plants that live in Indonesia. Currently, the use of cucumber fruit is still limited compared to availability. Antimicrobial activity was determined against four bacteria includes the determination of minimum inhibitory concentration (MIC), minimum bactericidal concentration (MBC) and the profile of the growth curve. By using the microdilution method, the MIC value of the ethanol extract of cucumber tree fruit against Staphylococcus epidermidis, Propionibacterium acnes, Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) and Methicillin Resistant Coagulase-Negative Staphylococci (MRCNS) was 128, 256, 256 and 256 μg/mL respectively. Value of the minimum bactericidal concentration of ethanol extract of cucumber fruit against Staphylococcus epidermidis, Propionibacterium acnes, MRSA and MRCNS was 512, 512, 1024 and 512 µg/mL respectively. Turbidimetry method showed the ethanol extract of the cucumber tree fruit had bacteriostatic activity against Staphylococcus epidermidis, Propionibacterium acnes, MRSA and MRCNS until 8 MIC.Keywords: antibacterial, Averrhoa bilimbi L., ethanolic extract, broth microdilution, MIC.
Uji Aktivitas Antimikroba Kombinasi Ekstrak Perikarp Manggis (Garcinia mangostana L.) dan Kelopak Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) terhadap Bakteri Penginfeksi Kulit Elin Yulinah Sukandar; Afrillia Nuryanti Garmana; Citra Khairina
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 39 No. 3 & 4 (2014)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah diteliti aktivitas antimikroba dari kombinasi ekstrak etanol perikarp manggis dan kelopak bunga rosella pada ketiga bakteri penginfeksi kulit yaitu Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, dan Propionibacterium acnes. Pengujian dilakukan secara in vitro dengan metode mikrodilusi kemudian dilanjutkan pengujian secara topikal pada kulit punggung kelinci yang diinfeksi ketiga bakteri tersebut. Hasil pengujian secara in vitro menunjukan kombinasi ekstrak perikarp manggis dan kelopak bunga rosella memiliki aktivitas antibakteri yang sinergis terhadap S .aureus, S. epidermidis, dan P. acnes, dan mempercepat penyembuhan infeksi pada kulit punggung kelinci yang diinfeksi oleh ketiga bakteri tersebut (p > 0,05).Kata kunci: infeksi kulit, perikarp manggis, kelopak bunga rosella.AbstractThe antimicrobial activity of combination mangosteen pericarp and roselle calyx ethanol extract against bacterias that infect the skin such as Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, and Propionibacterium acnes had been studied. The in vitro test was conducted by microdilution method to determine the characteristic of extract combination, and gave topically to the back skin of rabbits. The results showed that the extract combination of mangosteen pericarp and roselle calyx have a synergistic antibacterial activity against S.aureus, S.epidermidis, and P.acnes by in vitro study, and accelerated healing time of infection on rabbits skin (p > 0.05).Keywords: skin's infection, mangosteen pericarp, roselle calyx.
Uji Aktivitas Antitukak Ekstrak Etanol Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dan Daun Dewa (Gynura pseudochina (L.) DC.) pada Tikus Wistar Betina yang Diinduksi Etanol Elin Yulinah Sukandar; Dewi Safitri; Aryo Dimas Pamungkas
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 39 No. 3 & 4 (2014)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daun belimbing wuluh dan daun dewa merupakan bagian dari tanaman obat Indonesia dan telah banyak digunakan dalam pengobatan tukak secara tradisional. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi aktivitas ekstrak daun belimbing wuluh dan daun dewa pada model hewan yang diinduksi tukak peptik. Parameter Indeks Tukak (IT) ditentukan setelah kelompok uji diberikan ekstrak 96% tanaman uji dengan dosis 50 mg/kg bb, 100 mg/kg bb, dan 150 mg/kg bb secara oral. Omeprazol 20 mg/kg bb diberikan secara oral sebagai obat pembanding. Etanol 96% dengan dosis 5 mL/kg bb diberikan secara oral 1 jam setelah pemberian ekstrak/pembanding. Ekstrak etanol kedua tumbuhan uji memiliki aktivitas antitukak yang ditunjukkan dengan adanya penurunan nilai IT dan diantara kedua tanaman uji, ekstrak etanol daun dewa dengan dosis 150 mg/kg bb menunjukkan aktivitas antitukak yang lebih baik, ditunjukkan dengan nilai IT sebesar 4,50. Pemberian ekstrak etanol daun belimbing wuluh dan ekstrak daun dewa memiliki potensi menghambat pembentukan tukak, seiring dengan peningkatan dosis yang diberikan.Kata Kunci: tukak lambung, antitukak, Indeks Tukak, belimbing wuluh, daun dewaAbstractAverrhoa bilimbi L. and Gynura pseudochina (L.) DC. leaves are parts of Indonesian medicinal plants which have been used traditionaly. This study was carried out to evaluate anti-ulcer activity of ethanol extract of belimbing wuluh and daun dewa on peptic ulcer model. Anti-ulcer activity was assessed by measuring Ulcer Index (UI). It was determined after oral administration of each leaves extract, at the doses of 50, 100 and 150 mg/kg bw. Omeprazole 20 mg/kg bw was used as reference drug. 95% ethanol at 5 mL/kg bw was given orally 1 hour after the administration of the extracts/reference drug.The ethanol extract of both plants had an anti-ulcer activity as known by their potency to decrease UI. Gynura pseudochina extract at 150 mg/kg bw showed better anti-ulcer activity than the other test doses. Administration of belimbing wuluh and daun dewa extract were potential to prevent gastric ulcer in dose-dependent manner.Keywords: gastric ulcer, anti-ulcer, Ulcer Index, Averrhoa bilimbi, Gynura pseudochina
Penentuan Kadar Resistin dan Korelasinya dengan Beberapa Parameter Klinik pada Kondisi Normal Dan Kurang Tidur Rianti Nurpalah; Tutus Gusdinar Kartawinata; Elin Julianti
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 39 No. 3 & 4 (2014)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Resistin merupakan suatu molekul yang berperan penting dalam patofisiologi beberapa penyakit seperti obesitas, diabetes mellitus dan aterosklerosis yang merupakan faktor resiko penyakit kardiovaskuler. Kadar resistin di dalam serum berperan dalam menghubungkan obesitas dengan diabetes dan resistensi insulin. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar resistin dan korelasinya dengan beberapa parameter klinik pada subyek normal dan kurang tidur. Diperoleh profil yang terdistribusi normal untuk hasil pemeriksaan dengan nilai p> 0,05. Hasilnya tidak ada korelasi antara konsentrasi serum resistin dengan beberapa parameter klinik yang diperiksa tetapiterdapat perbedaan hasil pemeriksaan antara subyek tidur normal dengan kurang tidur pada semua parameter, namun yang berbeda signifikanhanya konsentrasi resistin dengan p=0,010.Kata kunci: resistin, subyek normal, kurang tidur.AbstractResistin is a molecule that plays an important role in several pathophysiological conditions such us obesitas, diabetes mellitus and aterosklerosis is a risk factor cardiovascular diseases. The level of resistin in serum plays a role in connecting obesity to diabetes and insulin resistance. The aims of this study was to determine serum resistin levels andtheir correlation to the several clinical parameters in normal subjects and sleep-deprived subject. A profil normal distribution was retrived for the result of examination, with a value of p> 0.05. The result showed that there was no significant correlation between serum resistin concentrations with several examined clinical parameters but there are differences in examination results between subjects with normal sleep and sleep deprivation on all parameters, but the significant difference was only parameter of resistin concentrations with p= 0.010.Keywords: resistin, normal subject,sleep deprivation.
Aktivitas Antibakteri Madu Pahit Terhadap Bakteri Gram Negatif dan Gram Positif Serta Potensinya Dibandingkan Terhadap Antibiotik Kloramfenikol, Oksitetrasiklin dan Gentamisin Dwie Astrini; Marlia Singgih Wibowo; Ilma Nugrahani
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 39 No. 3 & 4 (2014)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terdapat beberapa jenis madu pahit tersedia di perdagangan, namun informasi ilmiah mengenai khasiat madu pahit belum banyak diketahui. Secara tradisional madu pahit diduga memiliki efek antibakteri dan dapat menyembuhkan penyakit infeksi, sehingga madu sering digunakan saat pengobatan infeksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri madu pahit terhadap bakteri uji Gram negatif dan Gram positif serta mengetahui kesetaraan potensinya terhadap antibiotik kloramfenikol, gentamisin dan oksitetrasiklin. Uji yang dilakukan meliputi analisis fisikokimia (pH, keasaman, kadar air dan konduktivitas elektrik) dan uji aktivitas antibakteri. Uji aktivitas antibakteri dilakukan terhadap 3 bakteri Gram negatif yaitu Salmonella typhimurium, Escherichia coli, dan Pseudomonas aeruginosa serta 5 bakteri Gram positif yaitu Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Enterococcus faecalis, Bacillus cereus, dan Listeria monocytogenes. Sampel madu yang digunakan terdiri dari 7 sampel madu pahit (A, B, C, D, E, F, dan G) dan 2 sampel madu manis (H dan I). Kadar Hambat Minimum (KHM) dan Kadar Bakterisid Minimum (KBM) diuji dengan menggunakan metode dilusi cair (Broth Dilution Method) dengan 10 konsentrasi (madu tanpa pengenceran, 90, 80, 70, 60, 50, 40, 30, 20, dan 10% b/v). Madu pahit yang memiliki aktivitas antibakteri paling baik kemudian dibandingkan potensinya terhadap antibiotik kloramfenikol, oksitetrasiklin, dan gentamisin menggunakan metode difusi agar. Ketujuh sampel madu pahit menunjukkan aktivitas antibakteri lebih tinggi terhadap bakteri uji Gram negatif dibandingkan terhadap Gram positif. Diameter hambat terhadap bakteri Gram negatif Salmonella typhimurium dan Escherichia coli masing-masing adalah antara 25,0 sampai 35,9 mm dan 26,2 sampai 35,0 mm. Kadar hambat minimum madu pahit terhadap bakteri uji berada dalam rentang 30-60% b/v sedangkan kadar bakterisid minimum berada dalam rentang 30-80% b/v. Dari hasil uji banding terhadap antibiotik diperoleh hasil bahwa 1 mL madu pahit C dan D masing-masing setara dengan 2,187 dan 1,838 mg kloramfenikol, 0,037 dan 0,032 mg oksitetrasiklin serta 0,013 dan 0,013 mg gentamisin.Kata Kunci: madu pahit, efek antibakteri, kadar hambat minimum (KHM), kadar bakterisid minimum (KBM), antibiotikAbstractThere are several types of "bitter honey" available in the market, however the scientific information about the efficacy of "bitter honey" is not widely known yet. Traditionally, "bitter honey" is known has antibacterial effects and can be used to support treatment of infection disease. Because of that, honey can be used during cure infection disease. The aim of this research are to determine the antibacterial activity of several bitter honey against some Gram negative and Gram positive bacteria and to evaluate the potency of the honey compared to antibiotics i.e chloramphenicol, oxytetracycline, and gentamycin. The analysis consist of physicochemical analysis (pH, acidity, water content, and electric conductivity) and antibacterial activity test. The antibacterial activity was analysed using three Gram negative bacteria (Salmonella typhimurium, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa) and five Gram positive bacteria (Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Enterococcus faecalis, Bacillus cereus, Listeria monocytogenes). Samples of honey used in this research consist of seven samples of bitter honey (A, B, C, D, E, F, and G) and two samples of sweet honey (H and I). Minimum inhibitory concentration (MIC) and minimum bactericidal concentration (MBC) have been tested using broth dilution method with 10 concentrations (honey without dilution, 90, 80, 70, 60, 50, 40, 30, 20, and 10% w/v). The "bitter honey" that showed the best antibacterial activity then tested for their potential activity against chloramphenicol, oxytetracycline and gentamicin. Seven samples of bitter honey showed higher level of activity against Gram negative than Gram positive bacteria tested. The diameter of inhibition against Salmonella typhimurium and Escherichia coli were 25.0-35.9 mm and 26.2- 35.0 mm. The MIC of bitter honey against the tested bacteria were varies between 30-60% w/v and the MBC between 30- 80% b/v. Based on the result of comparative study to antibiotics, 1 mL of bitter honey C and D are equal to 2.187 and 1.838 mg of chloramphenicol, 0.037 and 0.032 mg of oxytetracycline and 0.013 and 0.013 mg of gentamycin.Keywords: "bitter honey", antibacterial effect, minimum inhibitory concentration (MIC), minimum bactericidal concentration (MBC), antibiotics
Kesesuaian Informasi Kontraindikasi Obat Gastrointestinal Untuk Pasien Geriatri Pada Berbagai Sumber Informasi Tersier I Made Agus Gelgel Wirasuta; Anak Agung Febi Danuswari; Luh Putu Febriyana Larasanty
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 39 No. 3 & 4 (2014)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan obat gastrointestinal meningkat seiring penurunan fungsi sistem gastrointestinal pada populasi geriatri. Informasi kontraindikasi merupakan salah satu informasi keamanan yang diperlukan bagi pasien geriatri. Informatorium Obat Nasional Indonesia (IONI), Informasi Spesialite Obat (ISO), British National Formulary (BNF), dan Drug Information Handbook (DIH) merupakan sumber informasi tersier yang memuat informasi keamanan penggunaan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian informasi kontraindikasi obat gastrointestinal untuk populasi geriatri pada sumber informasi tersier dengan Beers List sebagai pustaka acuan.Penelitian dilakukan dengan studi kepustakaan pada informasi kontraindikasi penggunaan obat gastrointestinal untuk pasien geriatri pada sumber literatur tersier. Sampel obat gastrointestinal diperoleh dari pendataan pada buku Farmakologi Dasar dan Klinik, diperoleh 20 jenis obat yang informasi keamanan tercantum pada keempat sumber informasi tersier yang digunakan. Informasi kontraindikasi 20 obat tersebut didata pada masing-masing sumber informasi tersier, kemudian dikonfirmasi silang dengan informasi pada Beers List, sehingga diperoleh persentase kesesuaian informasi kontraindikasi pada masing-masing sumber informasi tersier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 20 jenis obat gastrointestinal yang digunakan dalam penelitian tidak dikontraindikasikan untuk populasi geriatri. Informasi pada Beers List juga menyatakan bahwa penggunaan obat tersebut tidak dikontraindikasikan pada populasi geriatri, sehingga informasi kontraindikasi penggunaan obat gastrointestinal pada keempat sumber informasi tersier sesuai dengan informasi yang tercantum pada Beers List.Kata kunci: geriatri, informasi keamanan, obat gastrointestinal.AbstractUses of gastrointestinal drugs was increased as the decline in the function of the gastrointestinal system in the geriatric population. Contraindication information is one of the safety information that is required for geriatric patients. Informatorium Obat Nasional Indonesia (IONI), Informasi Spesialite Obat (ISO), the British National Formulary (BNF), and the Drug Information Handbook (DIH) is a tertiary drug information source that includes information of safety drug use. This study aims is to determine the suitability of the information gastrointestinal drug contraindications to the geriatric population in various tertiary resources with Beers List as its reference library.This research are literature study on the use of contraindicated information of gastrointestinal drugs for geriatric patients at tertiary literature sources. Gastrointestinal drug samples listed from Basic and Clinical Pharmacology book, obtained 20 types of generic drug that safety information contained in the all of tertiary resources are used in this study. Contraindications information of those drug in each tertiary resources, then cross confirmed with the information on Beers List, in order to obtain the percentage of suitability of contraindicated information in each tertiary resources.The results showed that 20 type of gastrointestinal drugs used in this study were not contraindicated in geriatric population. Information on the Beers List also states that the use of the drug is not contraindicated in the geriatric population. It is concluded that the contraindicated information of gastrointestinal drug use in geriatric population in IONI, ISO, DIH and BNF is in accordance with the information listed on the Beers List.Keywords: geriatric, gastrointestinal drug, safety information
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI LIMA BELAS JENIS MUTU TEH HITAM ORTODOKS ROTORVANE DAN TEH PUTIH (CAMELLIA SINENSIS VAR. ASSAMICA) PADA STAPHYLOCOCCUS AUREUS ATCC 6538 Muhamad Insanu; Ida Maryam; Dadan Rohdiana; Komar Ruslan Wirasutisna
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 42 No. 1 (2017)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKCamellia sinensis (L.) Kuntze atau teh merupakan tumbuhan yang berasal dari suku theceae, digolongkan menjadi beberapa jenis, yaitu teh hitam, teh oolong, teh hijau, dan teh putih.  Secara tradisional teh digunakan sebagai obat kumur hal ini diperkuat oleh beberapa penelitian sebelumnya yang membuktikan aktivitas antibakteri terhadap bakteri yang ada pada rongga mulut antara lain Staphylococcus aureus. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas antibakteri dari lima belas mutu teh hitam dan teh putih yang diekstraksi dengan pelarut yang berbeda kepolaran. Serbuk simplisia daun teh diekstraksi secara maserasi menggunakan pelarut dengan kepolaran yang meningkat, yaitu n-heksana, etil asetat, dan etanol. Ekstrak difraksinasi menggunakan ekstraksi cair-cair. Seluruh ekstrak dan fraksi diuji aktivitas antibakterinya terhadap Staphylococcus aureus ATCC6538 menggunakan metode mikrodilusi dan difusi agar. Fraksi yang paling kuat aktivitas antibakterinya diuji menggunakan biaoautografi. Hasil percobaan menunjukkan ekstrak etanol teh putih memiliki aktivitas antibakteri yang paling kuat dengan nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) 78,13 μg/mL, sedangkan berbagai macam ekstrak teh hitam KHM-nya bervariasi antara 625-2500 μg/mL. Fraksi etil asetat dari ekstrak etanol teh putih memiliki aktivitas paling kuat dengan nilai KHM 156,25 μg/mL. Hasil bioautografi fraksi etil asetat menunjukkan hambatan pertumbuhan bakteri S. aureus pada nilai Rf 0,5 dan 0,76. Berdasarkan reaksi warna kedua nilai Rf ini termasuk golongan  flavonoid.Kata kunci: antibakteri, Staphylococcus aureus, teh putih, teh hitam orthodoxEVALUATION ON ANTIBACTERIAL ACTIVITY OF FIFTEEN DIFFERENT CLASSES OF ORTHODOX ROTORVANE BLACK TEA AND WHITE TEA (CAMELLIA SINENSIS VAR. ASSAMICA) AGAINST STAPHYLOCOCCUS AUREUS ATCC 6538ABSTRACTCamellia sinensis (L.) Kuntze or tea is a plant belonging to Theaceae family. It can be classified into four different classes, which are black tea, oolong tea, green tea and white tea. Traditionally, tea was used as a mouthwash. It was strengthened by previous researches; tea had antibacterial activity especially against bacteria that live in the oral cavity such as Staphylococcus aureus. The aim of this study was to evaluate the antibacterial activity of 15 different classes of black tea and white tea which were extracted by various organic solvents. The crude drugs were obtained by maceration using three different solvents, which were n-hexane, ethyl acetate, and ethanol. The extract was fractionated by liquid-liquid extraction. All extracts and fractions were evaluated their antibacterial activity using microdilution and disc diffusion. The strongest antibacterial fraction was continued to bioautography assay. Based on the result the ethanol extract of white tea showed the strongest activity with the Minimum Inhibition Concentration (MIC) was 78.13 μg/mL while the other extracts of black tea were ranged between 625-2500 μg/mL. Ethyl acetate fraction of white tea ethanol extract had MIC value which was 156.25 μg/mL.  Bioautography showed the rf values of 0.5 and 0.76 inhibited the growth of bacteria. Based on spot test, they were flavonoid compounds.Keywords: antibacterial, Staphylococcus aureus, white tea, orthodox black tea
PENGKAJIAN ANTIHIPERURISEMIA EMULSI MINYAK HATI IKAN KOD PADA MENCIT SWISS WEBSTER JANTAN Stefiani Emasurya Indrajaya; Andreanus Andaja Soemardji; Siti Farah Rahmawati
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 42 No. 2 (2017)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKEmulsi minyak hati ikan kod dipercaya membantu mencegah pembentukan asam urat. Penelitian ini bertujuan mengkaji aktivitas antihiperurisemia secara in vivo dan mengembangkan metode antihiperurisemia secara in vitro emulsi minyak hati ikan kod. Metode in vivo dilakukan menggunakan mencit Swiss Webster jantan yang diinduksi makanan tinggi purin 100 mg/kg BB suspensi hati ayam, bersama pemberian sediaan pembanding atau sediaan uji selama 20 hari. Kelompok kontrol sakit menerima induksi. Kelompok pembanding alopurinol menerima induksi dan 26 mg/kg BB alopurinol. Kelompok pembanding vitamin A menerima induksi dan 650 IU/kg BB vitamin A. Kelompok uji dosis rendah, sedang, dan tinggi menerima induksi dan 150 mg/kg BB, 300 mg/kg BB, dan 450 mg/kg BB emulsi minyak hati ikan kod. Efek antihiperurisemia terbesar ditunjukkan dosis 150 mg/kg BB dengan penurunan kadar asam urat sebesar 57,04% dibanding kelompok kontrol sakit. Hasil percobaan in vivo menunjukkan emulsi minyak hati ikan kod yang diberikan bersamaan induksi makanan tinggi purin memiliki efek antihiperurisemia. Metode in vitro dilakukan menggunakan asam urat dan basa purin murni yang ditambahkan homogenat hati tikus sebagai sumber enzim xantin oksidase. Hasil percobaan in vitro menunjukkan emulsi minyak hati ikan kod menguraikan asam urat dalam 0,525 mL medium campuran 0,075 mg asam urat dan 0,011 mL emulsi minyak hati ikan kod; emulsi minyak hati ikan kod mencegah pembentukan asam urat dari purin dalam 0,725 mL medium campuran 0,200 mg purin, 0,066 gram homogenat hati, dan 0,016 mL emulsi minyak hati ikan kod.Kata kunci : antihiperurisemia, emulsi minyak hati ikan kod, asam urat, purin. ABSTRACTCod liver oil emulsion is believed of being able to prevent uric acid accumulation. This research was held to examine antihyperuricemic activity with in vivo and develop antihyperuricemic method with in vitro of cod liver oil emulsion. In vivo method was accomplished using Swiss Webster male mice inducted with high purine meal 100 mg/kg BW chicken liver suspense, together with drugs or cod liver oil emulsion through 20 days. Control group consumed high purine meal. Allopurinol group consumed high purin meal and 26 mg/kg BW of allopurinol. Vitamin A group consumed high purine meal and 650 IU/kg BW of vitamin A. Low dose, medium dose, and high dose group consumed high purine meal and 150 mg/kg BW, 300 mg/kg BW, and 450 mg/kg BW of cod liver oil emulsion. Strongest antihyperuricemic capability was shown by dose of 150 mg/kg BW with 57,04% degradation of uric acid compared to control group. In vivo showed that cod liver oil emulsion given together with high purine meal had antihyperuricemic effect. In vitro method was accomplished using pure uric acid and purine base with rat liver homogenate as xanthine oxidase enzyme source added. In vitro showed cod liver oil emulsion degraded uric acid in 0,525 mL medium mixture of 0,075 mg of uric acid and 0,011 mL cod liver oil emulsion; cod liver oil emulsion prevented uric acid establishment from purine in 0,725 mL medium mixture of 0,200 mg of purin, 0,066 gram of liver homogenate, and 0,016 mL of cod liver oil emulsion. Keywords : antihyperuricemic, cod liver oil emulsion, uric acid, purine.
ANALISIS KESESUAIAN DOSIS PADA PASIEN GANGGUAN FUNGSI GINJAL DI SUATU RUMAH SAKIT PENDIDIKAN DI KOTA BANDUNG Zulfan Zazuli; Tomi Hendrayana; Bhekti Pratiwi; Cherry Rahayu
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 42 No. 1 (2017)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPenurunan fungsi ginjal dapat memicu masalah terkait obat akibat terjadinya akumulasi senyawa obat dan timbulnya gangguan patologis lain. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi ketidaksesuaian dosis yang terjadi pada pasien gangguan fungsi ginjal dan menilai sensitivitas pustaka acuan dalam mendeteksi ketidaksesuaian dosis. Penelitian ini dilakukan dengan metode observasi retrospektif pada 266 sampel pasien rawat inap dengan gangguan fungsi ginjal di suatu rumah sakit pendidikan di Kota Bandung pada periode Januari-Maret 2015. Pasien yang diteliti adalah pasien yang menggunakan salah satu atau lebih obat yang diteliti dengan kriteria obat memerlukan penyesuaian dosis, paling banyak digunakan, dan obat untuk komorbid. Kriteria Penggunaan Obat (KPO) untuk 10 obat yang diteliti kemudian dibuat berdasarkan AHFS 2014, DIH 2015 dan Seyffart 2011 dan digunakan sebagai dasar dalam analisis kesesuaian dosis. Dari 176 pasien yang memiliki data mencukupi, terdapat kejadian hari tidak tepat dosis sebesar 54,59% berdasarkan pustaka AHFS-DIH dan 34,96% berdasarkan pustaka Seyffart dari total hari pemberian obat untuk setiap pasien (p<0,05). Pustaka AHFS dan DIH lebih sensitif dalam mendeteksi ketidaksesuain dosis daripada Seyffart. Tingginya persentase ketidaksesuaian dosis menunjukkan diperlukannya pemantauan penggunaan obat terutama dalam aspek pemberian dosis secara terus menerus untuk mengurangi kejadian masalah terkait obat dan memperlambat progresivitas penyakit.Kata kunci: masalah penggunaan obat; gangguan fungsi ginjal; asuhan kefarmasianANALYSIS OF DOSE ADJUSTMENT IN PATIENTS WITH RENAL DYSFUNCTION AT A TEACHING HOSPITAL IN BANDUNGABSTRACTRenal impairment might lead to drug related problems resulted from drug accumulation of drug and other pathological disorders. This study aimed to identify inappropriate dosage on renal impairment patients and investigate sensitivity of literature used for the dosage adjustment. A restrospective observational study was conducted on 266 sample of inpatients with impaired renal function in an academic hospital in January "“ March 2015 period. The patients studied were patients who used one or more selected drugs with the criteria of drugs requiring dose adjustment, most widely used drugs, and drugs to treat comorbids. The Drug Use Criteria (KPO) for the 10 drugs studied was then made based on AHFS 2014, DIH 2015 and Seyffart 2011 and used as a basis for dose conformity analysis. From 176 patients with sufficient data, there was a 54.59% and 34.96% of the total inpatient days was found to have inappropriate dosing based on AHFS-DIH and Seyffart respectively (p<0.05). The AHFS and DIH libraries are more sensitive in detecting dose nonconformities than Seyffart. The high percentage of dose discrepancy indicates the need for monitoring of drug use especially in the aspect of continuous dosing to reduce the incidence of drug related problems and slow the progression of the diseaseKeywords: drug-related problems; kidney disease; pharmaceutical care
PENGUJIAN TOKSISITAS IN VITRO EKSTRAK DAN FRAKSI DARI DAUN JAMBU AIR (SYZYGIUM AQUEUM) DAN KULIT BUAH DELIMA (PUNICA GRANATUM) TERHADAP SEL VERO Muhamad Insanu; Cindra Mutia; Anita Artarini
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 42 No. 2 (2017)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daun jambu air (Syzygium aqueum) dan kulit buah delima (Punica granatum) merupakan tanaman yang pada umumnya terdapat di Indonesia. Kandungan flavonoid pada daun jambu air dan kulit buah delima diketahui memiliki efek antioksidan yang baik untuk tubuh sehingga tanaman ini banyak digunakan untuk pengobatan dan pencegahan beberapa penyakit. Secara tradisional daun jambu air dan kulit buah delima biasa digunakan sebagai antimikroba, antidiabetes, dan pengobatan diare. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan toksisitas ekstrak dan fraksi dari daun jambu air dan kulit buah delima secara in vitro terhadap sel Vero. Serbuk simplisia daun jambu air diekstraksi bertingkat dengan metode maserasi, sedangkan serbuk simplisia kulit buah delima diekstraksi bertingkat menggunakan metode refluks. Keduanya diekstraksi bertingkat dengan pelarut n-heksana, etil asetat, dan etanol. Ekstrak dipantau menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT). Ekstrak etanol dari daun jambu air dan kulit buah delima difraksinasi dengan metode ekstraksi cair-cair (ECC) menggunakan pelarut n-heksan dan etil asetat. Fraksi dipantau menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT). Ekstrak dan fraksi diuji toksisitasnya secara in vitro terhadap sel Vero menggunakan reagen alamar blue. Ekstrak dan fraksi daun jambu air dan kulit buah delima pada konsentrasi uji antara 2 µg/ml sampai dengan 1024 µg/ml bersifat tidak toksik terhadap sel Vero. Berdasarkan penelitian, dapat disimpulkan bahwa ekstrak n-heksana, etil asetat, dan etanol tidak toksik terhadap sel Vero. Fraksi n-heksana, etil asetat, dan air dari tidak toksik terhadap sel Vero.  Kata kunci: Alamar blue, ekstrak, fraksi, Punica granatum, sel Vero, Syzygium aqueum. Syzygium aqueum and Punica granatum are plants commonly found in Indonesia. Flavonoids from Syzygium aqueum leaves and Punica granatum peels are known to have antioxidant effect for the human body. Because of that these plants widely used for treatment several diseases. Traditionally, Syzygium aqueum leaves and Punica granatum peels are commonly used as antibiotic, antidiabetic, and treatment for diarrhea. This study aim to determine in vitro toxicity effect of Syzygium aqueum and Punica granatum extracts and fractions using Vero cell lines. Crude drug of Syzygium aqueum was extracted by maceration, while crude drug of Punica granatum was extracted by reflux. Both crude drugs were extracted using continuous extraction method and solvents with increasing polarity which were n-hexane, ethyl acetate, and ethanol. Extracts were monitored by thin layer chromatography (TLC). The ethanol extract from Syzygium aqueum and Punica granatum were fractionated by liquid-liquid extraction using n-hexane, and ethyl acetate as solvents. Fractions were monitored by thin layer chromatography (TLC). Toxicity effect of Syzygium aqueum and Punica granatum extracts and fractions on Vero cells were evaluated using Alamar blue. Extracts and fractions of Syzygium aqueum leaves and Punica granatum had no toxicity effect against Vero cell at concentrations between 2 µg/ml-1024 µg/ml. Based on our findings all of extracts and fractions had no toxicity effect against Vero cell lines.Keyword: Alamar blue, extract, fraction, Punica granatum, Syzygium aqueum, Vero cell.