cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil
ISSN : 08532982     EISSN : 25492659     DOI : 10.5614/jts
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan berkala setiap tiga bulan, yaitu April, Agustus dan Desember. Jurnal Teknik Sipil diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1990 dengan membawa misi sebagai pelopor dalam penerbitan media informasi perkembangan ilmu Teknik Sipil di Indonesia. Sebagai media nasional, Jurnal Teknik Sipil diharapkan mampu mengakomodir kebutuhan akan sebuah media untuk menyebarluaskan informasi dan perkembangan terbaru bagi para peneliti dan praktisi Teknik Sipil di Indonesia. Dalam perkembangannya, Jurnal Teknik Sipil telah terakreditasi sebagai jurnal ilmiah nasional sejak tahun 1996 dan saat ini telah terakreditasi kembali (2012-2017). Dengan pencapaian ini maka Jurnal Teknik Sipil telah mengukuhkan diri sebagai media yang telah diakui kualitasnya. Hingga saat ini Jurnal Teknik Sipil tetap berusaha mempertahankan kualitasnya dengan menerbitkan hanya makalah-makalah terbaik dan hasil penelitian terbaru.
Arjuna Subject : -
Articles 974 Documents
Nilai Kekuatan Tumpu Baut pada Empat Jenis Kayu Rakyat Indonesia Sucahyo Sadiyo; Dwi Susanto; Nanda Elsa Sara Pratiwi
Jurnal Teknik Sipil Vol 24 No 2 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2017.24.2.6

Abstract

AbstrakKekuatan tumpu baut merupakan salah satu parameter penting yang memengaruhi nilai desain rujukan (Z) pada sambungan tipe dowel. Di Indonesia penentuan nilai kekuatan tumpu baut dapat ditentukan berdasarkan SNI 7973-2013 yang mengadopsi standar NDS. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan nilai kekuatan tumpu baut menggunakan tiga ukuran diameter baut (1/2 in, 5/8 in, dan 3/4 in) dan empat jenis kayu rakyat Indonesia yaitu sengon (Paraserianthes falcataria), jabon (Anthocephalus cadamba), manii (Maesopsis eminii) dan nangka (Artocarpus heterophyllus) kemudian membandingkannya dengan SNI 7973. Hasil pengujian menunjukkan nilai kekuatan tumpu baut dipengaruhi oleh kerapatan dan berat jenis kayu. Nilai kekuatan tekan maksimum sejajar serat dapat digunakan sebagai parameter dalam menduga nilai kekuatan tumpu baut yang dihasilkan. Semakin tinggi kekuatan tekan maksimum sejajar serat maka kekuatan tumpu baut yang dihasilkan akan semakin tinggi pula. Nilai kekuatan tumpu baut berdasarkan jenis kayu berturut-turut yaitu sengon 161 kg/cm2, jabon 151 kg/cm2, manii 243 kg/cm2 dan nangka 392 kg/cm2. Baut dengan diameter 1/2 in memiliki nilai kekuatan tumpu baut tertinggi kecuali pada kayu jabon. Perbandingan nilai kekuatan tumpu baut pada kayu sengon dan jabon terhadap SNI 7973 cukup signifikan (16-27%) sedangkan pada kayu manii dan nangka tidak signifikan (2-3%).AbstractThe fasteners bearing strength is one of the properties that affect reference design value (Z) on dowel-type connections. In Indonesia, the value of bolt bearing strength can be determined in theory by SNI 7973 which adopt NDS standard. This study was conducted to determine the bolt bearing strength by using three bolts diameter (1/2 in, 5/8 in and 3/4 in) and four Indonesian woods community species which are sengon (Paraserianthes falcataria), jabon (Anthocephalus cadamba), manii (Maesopsis eminii) and nangka (Artocarpus heterophyllus) compared with SNI 7973. The results showed that bolt bearing strength can be affected by density and specific gravity. Moreover, the compression strength parallel to grain can be used as a parameter to predict bolt bearing strength. The higher compression strength parallel to grain, the higher bolt bearing strength will be. The bolt bearing strength based on wood species were sengon 161 kg/cm2, jabon 151 kg/cm2, manii 243 kg/cm2 and nangka 392 kg/cm2 respectively. Bolt with 1/2 in diameter has the highest bolt bearing strength except for jabon wood. The difference of bolt bearing strength on sengon and jabon versus SNI 7973 was differ significantly by 16-27% while the bolt bearing strength on manii and nangka was not differ significantly by 2-3%.
Perbandingan Karakteristik Campuran Cold Paving Hot Mix Asbuton (CPHMA) yang Dipadatkan Secara Dingin dan Panas I Nyoman Arya Thanaya; I Wayan Suweda; A.A. Adi Sparsa
Jurnal Teknik Sipil Vol 24 No 3 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2017.24.3.8

Abstract

AbstrakCold Paving Hot Mix Asbuton (CPHMA) adalah campuran yang terdiri dari agregat, asbuton butir, bahan peremaja dan bahan tambah lain yang dicampur panas dipadatkan dingin (pada temperatur ruang 30°C). Karakteristik campuran dipengaruhi temperatur pemadatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh: kadar aspal residu optimum, temperatur pemadatan ideal dan perbandingan karakteristik CPHMA yang dipadatkan secara dingin dan panas. Pemadatan dilakukan pada suhu 30°C, 60°C, 90°C, 120°C, dan 150°C. Diperoleh hasil, kadar aspal residu optimum 7 %; suhu pemadatan ideal 90°C. Pemadatan dibawah suhu 90°C memberikan porositas lebih tinggi berkisar antara (4,86-5,53)% namun masih memenuhi spesifikasi (4-10%). Pemadatan diatas suhu 90°C memberikan porositas antara (2,04-3.0)%, yang lebih rendah dari spesifikasi. CPHMA yang dipadatkan pada suhu ideal 90°C memberikan karakteristik Marshall, cantabro, kekakuan (stiffness), rangkak (creep), dan kelelahan (fatigue) lebih baik dibandingkan dengan CPHMA yang dipadatkan dingin.AbstractCold Paving Hot Mix Asbuton (CPHMA) is a mixture that consists of aggregates, asbuton particles, rejuvenating materials and other added materials, which were hot mixed and compacted cold (at ambient temperature 30°C). The characteristics of the mixture were affected by compaction temperatures. The objectives of this study were to obtain: residual optimum asphalt content; ideal compaction temperature and characteristics comparison of CPHMA compacted cold and hot. Compaction were carried out at 30°C, 60°C, 90°C, 120°C and 150°C. It was obtained that the optimum residual asphalt content for CPHMA mixture was 7% and the ideal compaction temperature was 90°C. Compaction at temperature lower than 90°C gave higher porosity, i.e between (4.86-5.53)%, nonetheless still met specification (4-10)%. Compaction at higher than 90°C gave porosity between (2.04-3.0)% which were lower than the specification. CPHMA compacted at ideal 90°C gave better Marshall characteristics, cantabro, stiffness, creep, and fatigue, compared to the cold compacted CPHMA.
Pengaruh Dinding Bata dengan Bukaan (Lobang) terhadap Ketahanan Lateral Struktur Rangka Beton Bertulang Maidiawati Maidiawati; Jafril Tanjung; Hamdeni Medriosa
Jurnal Teknik Sipil Vol 24 No 2 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2017.24.2.5

Abstract

AbstrakMakalah ini menjelaskan serangkaian pengujian pada struktur rangka beton bertulang dengan dinding bata penuh dan dinding bata ada bukaan (lobang) untuk mengetahui konstribusi dinding bata ada bukaan terhadap kekuatan lateral struktur beton bertulang. Empat benda uji struktur rangka beton bertulang dan dinding bata dengan skala 1:4, yaitu satu benda uji struktur rangka tanpa dinding pengisi dan tiga struktur rangka dengan dinding bata, diuji dengan memberikan beban lateral (beban dorong) pada bagian atas balok struktur hingga benda uji mengalami keruntuhan (pushover). Besarnya perpindahan lateral direkam selama pengujian untuk mengontrol peningkatan beban lateral. Retak dan perkembangannya diobservasi selama pengujian untuk mengidentifikasi mekanisme keruntuhan benda uji. Hasil pengujian menunjukan bahwa keruntuhan benda uji didahului dengan keruntuhan pada dinding bata sebelum keruntuhan struktur kolom. Kekuatan dan kekakuan lateral struktur rangka dengan dinding pengisi lebih besar daripada kekuatan dan kekakuan struktur rangka tanpa dinding pengisi. Struktur rangka dengan dinding bata penuh memiliki kekuatan lateral lebih dari dua kali kekuatan lateral struktur rangka tanpa dinding. Dinding bata dengan satu bukaan di tengah seluas 40% dan dinding bata dengan dua bukaan seluas 25% meningkatkan kekuatan lateral struktur rangka beton bertulang masing-masing sebesar 25% dan 47% .AbstractThis paper presents the series of experimental tests of reinforced-concrete (R/C) frame structures infilled with solid brick wall and opening brick walls to evaluate contributions of brick infills with openings to lateral strength of RC frames. Four 1/4-scale single story and single bay RC frame specimens, one bare frame and three infilled frames, were tested by applying the static monotonic lateral load to the upper beam of specimens. During the testing, lateral displacements of infilled structure were monitored to control the incremental lateral loads. The cracks, crack propagation and major cracks were observed throughout the tests to identify the mechanism failure of specimens. As the results, failure of brick wall was prior to the failure of RC columns. The lateral strength and stiffness of infilled frames were always higher than those of bare frame. The solid brick infill significantly increases the lateral strength of overall RC frame more than two times. The brick infill with a center opening of size 40% and the brick infill with 2 (two) openings of size 25% increase the lateral strength of R/C frame by about 25% and 47%, respectively.
Studi Kasus Waste Material Proses Fabrikasi Struktur Baja di Perusahaan EPC (Engineering, Procurement, Construction) Kelvin Rudy Sutanto; Paulus Nugraha; Andi Andi
Jurnal Teknik Sipil Vol 25 No 1 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2018.25.1.5

Abstract

AbstrakSisa material atau waste merupakan sisa dari material yang tidak dapat dipergunakan kembali. Sering tidak sesuainya perencanaan estimasi waste dengan kenyataan waste di lapangan, menjadi latar belakang penelitian ini. Penelitan ini terfokus pada empat jenis bangunan baja antara lain gudang, bandara, tower, jembatan dengan masing-masing menggambarkan jenis profil wf, pipa, siku, plat. Metode penelitian yaitu dengan menghitung persentase waste dengan cara menghitung selisih berat bruto dikurangi berat netto yang kemudian dibagi berat bruto. Berat bruto diperoleh dari perhitungan kebutuhan material berdasarkan gambar struktur, sedangkan berat netto diperoleh dari hasil permodelan 3D. Pengujian korelasi untuk mengetahui faktor penyebab waste. Hasil pengolahan data adalah waste tower dengan profil siku sebesar 5.71 %, gudang dengan profil wf sebesar 9.36 %, bandara dengan profil pipa sebesar 13.85 %, dan jembatan dengan profil plat sebesar 19.08%. Faktor penyebab waste adalah jenis profil dan dimensi bangunan yang meliputi tinggi bangunan, panjang bangunan, bentang bangunan.AbstractWaste material is residual of the material that can't be used anymore. Often planning estimates of waste is not same with the actual waste on site become the creation of ideas in this study regarding waste steel profile. In previous studies have focused on natural materials making can be done in the field or cast in situ. This research focused on four types of steel buildings include warehouses, airports, towers, bridges with each describing the type of profile wf, pipe, angle bar, plate. The research method is to calculate the percentage of waste by calculating the difference between the gross weight minus the net weight is then divided by gross weight. The gross weight is obtained from the calculation of material needs by drawing the structure, while the net weight obtained from the 3D modeling. The percentage of waste is then analyzed regression to obtain the factors causing waste. The result of data processing shows that the smallest percentage of waste is a type of tower building with angled profile by 5.71%, warehouse with wf profile for 9,36%, the airport building with pipe profile of 13.85%, building bridges with the profile plate by 19,08%. Causing factor of waste is type of profile and building dimension consists of height, wide, and length of building. 
Numerical Simulation of Bed Level Changes Around Structure Due to Waves and Current Susanna Nurdjaman; Prayoga Aryandi Putra
Jurnal Teknik Sipil Vol 24 No 3 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2017.24.3.2

Abstract

AbstractInteractions between sediments in the marine environment with the dynamics of the ocean can generate sediment movement. Sedimentation and erosion is the result of these interactions, which often have a negative impact on the harbor waters or coastal environment. The purpose of this research is to understand the process of sediment transport caused by the dynamics of currents and waves on the basis of morphological changes and the potential that can lead to scour for coastal protection structures (groin).Coupled model of hydrodynamic model, spectral wave and sediment transport were conducted to study the pattern of sediment movement. Simulations carried out by varying the waveform specification that propagates to the domain model. Verification of maximum velocity magnitude due to Van Rijn (1987), Nurdjaman and Ningsih (2003), and Adilantip (2012) shows good agreement with the differences value below 5%. While verification of wave height and wave stress radiation with analytical calculation shows good comparison with the mean of differences value 15%. The results of the study indicate that scour depth of 0,955 m was formed at the end of the simulation by the discharge input only. When the discharge combined with the various wave height and periods, scour depth increases by about 3 - 14%. Location of the scour depth coincides with the location of the maximum velocity at the tip of the groin structures to the left side.AbstrakInteraksi antara sedimen di lingkungan laut dengan dinamika laut dapat menghasilkan pergerakan sedimen. Proses sedimentasi dan erosi merupakan hasil dari interaksi tersebut yang tak jarang berdampak negatif terhadap perairan pelabuhan ataupun lingkungan pesisir. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memahami proses transpor sedimen yang diakibatkan oleh dinamika arus dan gelombang terhadap perubahan morfologi dasar dan potensinya yang dapat mengakibatkan gerusan terhadap struktur pelindung pantai (groin). Dilakukan model kopel hidrodinamika, gelombang spektral, dan transpor sedimen untuk mempelajari pola pergerakan sedimen. Simulasi dilakukan dengan memvariasikan perbedaan spesifikasi gelombang yang menjalar terhadap domain model. Simulasi dilakukan dengan memvariasikan spesifikasi waveform yang merambat ke model domain. Verifikasi besarnya kecepatan aliran maksimum dari hasil model oleh Van Rijn (1987), Nurdjaman dan Ningsih (2003), dan Adilantip (2012) menunjukkan kesesuaian yang baik dengan perbedaan nilai di bawah 5%. Sedangkan verifikasi tinggi gelombang dan radiasi tegangan gelombang dengan perhitungan analitik menunjukkan perbandingan yang baik dengan rata-rata perbedaan nilai 15%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedalaman gerusan 0,955 m terbentuk pada akhir simulasi dengan input debit sungai saja. Bila ddebit sungai dikombinasikan dengan berbagai tinggi dan perioda gelombang, kedalaman gerusan meningkat sekitar 3 - 14%. Lokasi kedalaman gerusan bertepatan dengan lokasi kecepatan aliran maksimum pada ujung struktur groin sisi kiri.
Evaluasi Struktural Perkerasan Kaku Menggunakan Metoda AASHTO 1993 dan Metoda AUSTROADS 2011 Studi Kasus : Jalan Cakung-Cilincing Shinta Rahmalia Irawan; Bambang Sugeng Subagio; Eri Susanto Hariyadi; Faisal Gerardo
Jurnal Teknik Sipil Vol 24 No 2 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2017.24.2.9

Abstract

AbstrakRuas jalan Cakung-Cilincing Jakarta merupakan salah satu Jalan Nasional yang mempunyai volume lalu lintas yang sangat tinggi dengan tipe perkerasan kaku. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tebal lapis tambah dan Metoda mana yang baik digunakan untuk penanganan di lapangan. Metoda yang digunakan adalah Metoda AASHTO 1993 dan Metoda AUSTROADS 2011 dengan berdasarkan data lendutan alat Falling Weight Deflectometer (FWD). Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai Modulus Elastisitas Beton mempunyai nilai dibawah 3 juta psi maka perkerasan beton tersebut telah mengalami kerusakan yang cukup parah. Berdasarkan hasil analisis Metoda AASHTO 1993 dibutuhkan 11 cm dan untuk beton rata-rata dibutuhkan 12 cm dengan umur sisa 59% pada lajur 1 dan 53% untuk lajur 2 pada ruas jalan tersebut. Kemudian, pada Metoda AUSTROADS 2011 hanya menggunakan data lendutan dari alat FWD saja, sedangkan untuk perhitungan tebal lapisan tambah pada beton sama seperti perhitungan desain baru perkerasan kaku. Tebal lapis tambah pada aspal didapatkan 24 cm sedangkan tebal lapis tambah pada beton didapatkan 18.50 cm. Perbandingan hasil kedua metoda tersebut menunjukan bahwa tebal lapis tambah yang dibutuhkan dalam Metoda AASHTO 1993 lebih kecil dibandingkan menggunakan Metoda AUSTROAD 2011.AbstractCakung-Cilincing Jakarta National Road Section has very rapid traffic load for rigid pavement. The purpose of this study are determining overlay thickness and choosing suitable method for implementation. AASHTO 1993 and AUSTROADS 2011 method are used in this study and using on Falling Weight Deflectometer (FWD) data. This study shows that value of Concrete Elasticity Modulus less than 3 million, then this rigid pavement is severely damaged. Based on AASHTO 1993 Method analysis, it needs 11 cm for flexible overlay and 12 cm for rigid overlay on lane 1 with 59% remaining life and lane 2 with 53% remaining life. AUSTROADS 2011 Methods use only FWD data and for overlay thickness determination is use new pavement analysis. Analysis using AUSTROADS 2011 Methods shows that flexible overlay requirement is 24 cm and rigid overlay requirement is 18.50 cm. Comparation between these two methods shows that AASHTO 1993 Method Analysis produce less overlay thickness than AUSTROADS 2011 Methods.
Analisis Spasial Risiko Banjir Bandang Akibat Keruntuhan Bendungan Alami pada DAS Krueng Teungku, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh Azmeri Azmeri; Eldina Fatimah; Henny Herawati; Devi Sundary; Amir Hamzah Isa
Jurnal Teknik Sipil Vol 24 No 3 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2017.24.3.6

Abstract

AbstrakPenelitian ini menyajikan hasil analisis spasial risiko bencana banjir bandang akibat keruntuhan bendungan alam pada Daerah Aliran Sungai Krueng Teungku Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Parameter kerentanan merupakan gabungan komponen kerentanan sosial dan kerentanan fisik. Selanjutnya dari parameter ancaman dan kerentanan tersebut, dilakukan analisis risiko melalui penentuan klasifikasi risiko bencana banjir bandang untuk daerah hilir bendungan. Secara keseluruhan daerah berisiko seluas 32,02 hektar berdasarkan pembentukan 15 grid (100 meter horisontal x 100 meter sejajar tebing sungai). Klasifikasi tingkat risiko untuk daerah hilir bendungan alam Krueng Teungku 5 wilayah termasuk dalam Tingkat Risiko Tinggi, 8 wilayah Tingkat Risiko Sedang dan 2 wilayah Tingkat Risiko Ringan. Kelas risiko sedang mendominasi seluas 23,33 hektar atau 72,85% dari luas total daerah yang berisiko. Kemudian diikuti oleh kelas risiko tinggi seluas 6,29 hektar atau 19,64% dari luas total daerah yang berisiko. Kelas risiko rendah seluas 2,41 hektar atau 7,51% dari luas total daerah yang berisiko. Klasifikasi tingkat risiko bencana banjir bandang ini berguna untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat di hilir bendungan alam untuk meminimalisir risiko bencana banjir bandang yang merupakan bencana berulang pada Desa Beureunut.AbstractThis research presents the results of spatial analysis of flash flood disaster risk due to the collapse of natural dam at the watershed Krueng Teungku, Seulimeum sub-district, Aceh Besar Regency, Aceh Province. The vulnerability parameter is a combination of components of social vulnerability and physical vulnerability. Furthermore, based on the parameters of these hazard and vulnerabilities, risk analysis was done through the determination of flash flood risk classification for downstream area of the dam. In general, the risk area covered 32.02 hectares based on the formation of 15 grids (100 meters horizontal x 100 meters parallel river cliff). Based on risk level classification of the natural downstream of Krueng Teungku, there were 5 areas included in the High Risk Level, 8 areas in Medium Risk areas, and 2 areas in Risk Level Light. The medium level was the most dominant category which covers 23.33 hectares or 72.85% of the total area. The high risk areas comprises of 6.29 hectares or 19.64% of total area area followed by low risk class covering an area of 2.41 hectares or 7.51% of total area. The classification of flash flood disaster risk level is useful to improve community preparedness in downstream of a natural dam to minimize the risk of flash flood disaster which is a recurrent disaster in Beureunut Village.
Modelling the Impact of Travel Time Uncertainty to the Cocoa Supply Chain Network Febri Zukhruf; Russ Bona Frazila
Jurnal Teknik Sipil Vol 25 No 1 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2018.25.1.1

Abstract

AbstractThe uncertainty issue becoming more and more important in term of freight transport, which essentially affect the transport cost. As an essential parameter to construct the product price, the transport cost variations sequentially impact the supply chain network structures. This paper then presents the multi-channelled supply chain network equilibrium (SCNE) model with the behaviour of freight carriers by considering variation of travel time. The cocoa SCNE model is then invoked to represent the trading chain of cocoa. As different with the previous researches, the model takes into account the variation of traffic flow and the road capacity to the freight cycle time, which is practically used for estimating the transport cost. The variation is propagated based on the Monte Carlo simulation approach. Finally, the model is applied to an actual cocoa SCN in Sulawesi for investigating the impact of travel time variation to the price of cocoa.AbstrakKetidakpastian di dalam jaringan transportasi menjadi isu yang semakin penting di dalam dunia angkutan barang, yang secara subtantif dapat mempengaruhi komponen biaya transportasi. Sebagai parameter penting untuk membangun harga produk, variasi biaya transportasi berperan dalam mempengaruhi struktur jaringan rantai pasokan. Makalah ini kemudian mendiskusikan model supply chain network equilibrium (SCNE) dengan perilaku angkutan barang dengan mempertimbangkan variasi waktu tempuh. Cocoa SCNE model kemudian digunakan untuk mewakili rantai pasok komoditas kakao. Berbeda dengan penelitian sebelumnya, makalah ini memperhitungkan variasi arus lalu lintas dan kapasitas jalan terhadap waktu siklus pengiriman, yang secara praktis digunakan untuk memperkirakan biaya transportasi. Variasi tersebut dibangun dengan mendasarkan kepada pendekatan simulasi Monte Carlo. Akhirnya, model ini diterapkan pada jaringan rantai pasok kakao di Sulawesi untuk menyelidiki dampak variasi waktu tempuh terhadap harga kakao.  
Optimasi Ukuran Penampang Rangka Batang Baja berdasarkan SNI 1729:2015 dengan Metode Metaheuristik Symbiotic Organisms Search Doddy Prayogo; Wong Foek Tjong; Ricky Gunawan; Stefano Kusuma Ali; Steven Sugianto
Jurnal Teknik Sipil Vol 25 No 1 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2018.25.1.6

Abstract

AbstrakPenelitian ini menyelidiki metode metaheuristik baru bernama symbiotic organisms search (SOS) dalam mengoptimasi ukuran penampang rangka batang baja. Syarat batasan desain diadopsi dari spesifikasi untuk bangunan gedung baja struktural, SNI 1729:2015, yaitu rasio gaya terhadap kapasitas dan rasio kelangsingan batang. Lima studi kasus optimasi struktur rangka batang digunakan untuk menguji performa dari SOS. Hasil simulasi dengan metode SOS ini kemudian akan dibandingkan terhadap tiga metode metaheuristik lainnya, yaitu particle swarm optimization, differential evolution, dan teaching"“learning-based optimization. Hasil penelitian menunjukkan bahwa algoritma SOS lebih superior dan mempunyai kemampuan konvergensi yang lebih baik dibandingkan dengan metode metaheuristik lainnya dalam menyelesaikan problem optimasi struktur rangka batang.AbstractThis study investigates a new metaheuristic method called symbiotic organisms search (SOS) for sizing optimization of steel truss structures. The design constraints are adopted from SNI 1729:2015 Indonesian code specification for structural steel buildings that includes the constraints on slenderness ratio and force capacity. Five practical case studies of truss design are employed to test the performance of the SOS algorithm. The simulation results of the SOS are compared to other metaheuristic methods, namely, the particle swarm optimization, differential evolution, and teaching learning-based optimization, in terms of accuracy and consistency. The results show the superiority of the SOS as well as excellent convergence behavior over the other metaheuristic algorithms in solving the truss structure optimization problems. 
Identifikasi Tinggi dan Jarak Genangan Daerah Rawan Bencana Rob di Wilayah Pantai Utara Jawa yang Disebabkan Gelombang Badai Pasang dan Variasi Antar Tahunan Farrah Hanifah; Nining Sari Ningsih
Jurnal Teknik Sipil Vol 25 No 1 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2018.25.1.10

Abstract

AbstrakTinggi dan jarak genangan rob yang disebabkan oleh gelombang badaipasang (storm tide) dan variasi antar tahunan di sepanjang pantai utara Jawa disimulasikan dengan menggunakan model hidrodinamika 2D dengan fasilitas Flooding and Drying (FAD). Dalam simulasi tersebut, digunakan batimetri dari General Bathymetric Chart of the Oceans (GEBCO), peta DISHIDROS TNI-AL, dan topografi daerah utara Pulau Jawa berdasarkan data Digital Elevation Model (DEM) dari The NASA Shuttle Radar Topographic Mission (SRTM). Gaya penggerak gelombang badai pasang yang digunakan adalah data elevasi pasang surut yang diperoleh dari hasil prediksi Global Tidal Model ORI.96 dan data angin serta tekanan udara yang diperoleh dari National Centers for Environmental Prediction (NCEP). Naiknya elevasi yang disebabkan badai (surge) tertinggi di kawasan pesisir utara Jawa dan Madura terjadi di Tanjung Pangkah (Jawa: 18,6 cm) pada Januari 2008. Jarak genangan maksimum (Smax) gelombang badai pasang serta run-up yang menyertainya (H) terjadi di Sampang (Madura; Smax = 6552,3 m, H = 1,559 m) pada November 2007. Tinggi genangan tertinggi terjadi pada Januari 2008 yaitu pada saat La-Niña kuat. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan muka laut akibat La-Niña cukup berperan menambah kenaikan muka laut yang diakibatkan gelombang badai pasang.AbstractHeight and distance inundation caused by storm tide and interannual variations along the northern coast of Java have been simulated by using a 2D hydrodynamic model with Flooding and Drying facilities (FAD). In the simulation model, bathymetry data was derived from General Bathymetric Chart of the Oceans (GEBCO) and DISHIDROS Indonesian Navy maps, whereas topography of the northern area of Java was derived from Digital Elevation Model (DEM) of The NASA Shuttle Radar Topographic Mission (SRTM). Tidal elevation obtained from Global Tidal Model prediction ORI.96 and wind and air pressure data of National Centers for Environmental Prediction (NCEP) were used as generating force of storm tide. The highest surge in the northern coast of Java and Madura occurred in Pangkah Cape (Java; 18.6 cm) in January 2008. Maximum inundation distance (Smax) and run-up (H) existed in Sampang (Madura; Smax = 6552.3 m, H = 1,559 m) in November 2007. The highest inundation occurred in January 2008 during strong La-Niña period, this suggests that La-Niña have significant contribution to increase sea level rise caused by storm tide. 

Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 32 No 3 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Desember Vol 32 No 2 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Agustus Vol 32 No 1 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi April Vol 31 No 3 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Desember Vol 31 No 2 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Agustus Vol 31 No 1 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi April Vol 30 No 3 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 30 No 2 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 30 No 1 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 3 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 2 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 1 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 3 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 2 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 1 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 27 No 3 (2020) Vol 27 No 2 (2020) Vol 27, No 1 (2020) Vol 27 No 1 (2020) Vol 26, No 3 (2019) Vol 26 No 3 (2019) Vol 26, No 2 (2019) Vol 26 No 2 (2019) Vol 26, No 1 (2019) Vol 26 No 1 (2019) Vol 26, No 1 (2019) Vol 25, No 3 (2018) Vol 25 No 3 (2018) Vol 25, No 3 (2018) Vol 25 No 2 (2018) Vol 25, No 2 (2018) Vol 25 No 1 (2018) Vol 25, No 1 (2018) Vol 24 No 3 (2017) Vol 24, No 3 (2017) Vol 24, No 2 (2017) Vol 24 No 2 (2017) Vol 24, No 2 (2017) Vol 24, No 1 (2017) Vol 24 No 1 (2017) Vol 23, No 3 (2016) Vol 23 No 3 (2016) Vol 23, No 2 (2016) Vol 23 No 2 (2016) Vol 23 No 1 (2016) Vol 23, No 1 (2016) Vol 22 No 3 (2015) Vol 22, No 3 (2015) Vol 22, No 2 (2015) Vol 22 No 2 (2015) Vol 22 No 1 (2015) Vol 22, No 1 (2015) Vol 21 No 3 (2014) Vol 21, No 3 (2014) Vol 21, No 2 (2014) Vol 21 No 2 (2014) Vol 21 No 1 (2014) Vol 21, No 1 (2014) Vol 20, No 3 (2013) Vol 20 No 3 (2013) Vol 20 No 2 (2013) Vol 20, No 2 (2013) Vol 20 No 1 (2013) Vol 20, No 1 (2013) Vol 19, No 3 (2012) Vol 19 No 3 (2012) Vol 19 No 2 (2012) Vol 19, No 2 (2012) Vol 19, No 1 (2012) Vol 19 No 1 (2012) Vol 18, No 3 (2011) Vol 18 No 3 (2011) Vol 18 No 2 (2011) Vol 18, No 2 (2011) Vol 18 No 1 (2011) Vol 18, No 1 (2011) Vol 17 No 3 (2010) Vol 17, No 3 (2010) Vol 17, No 2 (2010) Vol 17 No 2 (2010) Vol 17, No 1 (2010) Vol 17 No 1 (2010) Vol 16, No 3 (2009) Vol 16 No 3 (2009) Vol 16, No 2 (2009) Vol 16 No 2 (2009) Vol 16, No 1 (2009) Vol 16 No 1 (2009) Vol 15, No 3 (2008) Vol 15 No 3 (2008) Vol 15, No 2 (2008) Vol 15 No 2 (2008) Vol 15 No 1 (2008) Vol 15, No 1 (2008) Vol 14 No 4 (2007) Vol 14, No 4 (2007) Vol 14, No 3 (2007) Vol 14 No 3 (2007) Vol 14 No 2 (2007) Vol 14, No 2 (2007) Vol 14, No 1 (2007) Vol 14 No 1 (2007) Vol 13, No 4 (2006) Vol 13 No 4 (2006) Vol 13, No 3 (2006) Vol 13 No 3 (2006) Vol 13, No 2 (2006) Vol 13 No 2 (2006) Vol 13 No 1 (2006) Vol 13, No 1 (2006) Vol 12 No 4 (2005) Vol 12, No 4 (2005) Vol 12, No 3 (2005) Vol 12 No 3 (2005) Vol 12 No 2 (2005) Vol 12, No 2 (2005) Vol 12, No 1 (2005) Vol 12 No 1 (2005) Vol 11, No 4 (2004) Vol 11 No 4 (2004) Vol 11, No 3 (2004) Vol 11, No 3 (2004) Vol 11 No 3 (2004) Vol 11, No 2 (2004) Vol 11 No 2 (2004) Vol 11, No 1 (2004) Vol 11 No 1 (2004) Vol 10 No 4 (2003) Vol 10, No 4 (2003) Vol 10, No 3 (2003) Vol 10 No 3 (2003) Vol 10 No 2 (2003) Vol 10, No 2 (2003) Vol 10 No 1 (2003) Vol 10, No 1 (2003) More Issue