cover
Contact Name
Auliya Ridwan
Contact Email
aridwan@uinsby.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jpai@uinsby.ac.id
Editorial Address
Program Studi S1 Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. A. Yani 117 Surabaya Jatim 60237
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies)
ISSN : -     EISSN : 25274511     DOI : https://doi.org/10.15642/jpai.xxxx.xx.x.xx-xx
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) (print-ISSN: 2089-1946 & Electronic-ISSN: 2527-4511) is a peer-reviewed journal published by Islamic Education Teacher Training Program of UIN Sunan Ampel Surabaya. The journal issues academic manuscripts on Islamic Education Teaching and Islamic Education Studies in either Indonesian or international contexts with multidisciplinary perspective: particularly within scholarly tradition of classical Islam, Educational Studies, and other social sciences. The manuscripts are published in Bahasa Indonesia, English, and Arabic with abstract in both Bahasa Indonesia and in English. This is an open-access journal so that all parties are allowed to read, to download, to copy, to distribute, to print, or to link some or all parts of articles without any charge and without prior permission from either authors or journal editorial team. All articles in this journal have Document Object Identifier (DOI) number.
Articles 144 Documents
PROGRESIVISME JOHN DEWEY DAN PENDIDIKAN PARTISIPATIF PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM Ilun Mualifah
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 1 No. 1 (2013)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.63 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2013.1.1.101-121

Abstract

BAHASA INDONESIA:Artikel ini berisi tentang konsep pendidikan partisipatif yang dikaitkan dengan konsep progresivisme pendidikan John Dewey, dan kemudian dikaji dalam perspektif pendidikan Islam. Konsep pendidikan partisipatif dalam progresivisme pendidikan John Dewey merupakan konsep pendidikan yang mengacu pada teori-teori John Dewey yang berpijak pada asas-asas progresivitas. Asas progresivitas berprinsip pada sikap optimistis dalam memandang kemajuan peserta didik dalam proses pendidikannya. Konsep progresivisme pendidikan John Dewey yang megandung asas pendidikan partisipatif dalam pandangan pendidikan Islam bisa dipertegas: bahwa terdapat beberapa aspek kesesuaian (terutama dalam hal kemanfaatan yang bersifat duniawi), dan terdapat banyak aspek perbedaan yang sangat prinsip (terutama mengenai hal-hal yang bersifat metafisik-spiritual). Dengan demikian, ketika akan menerapkan asas partisipatif dalam konsep pendidikan Dewey di dalam kehidupan umat Islam, perlu difilter terlebih dahulu dengan kacamata nilai-nilai Islam. Apabila tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam, maka perlu diterapkan; namun apabila bertentangan dengan nilai-nilai Islam, maka tidak perlu diterapkan (cukup dijadikan pengetahuan saja). ENGLISH:This article discusses about participative education related to education progressivism concept by John Dewey, and then it is examined on Islamic studies perception. Participative education concept on John Dewey’s education progressivism is education concept that refers to John Dewey’s theories that bring up progressive principles. The progressive principles base on optimistic attitude on viewing the progress of learners’ learning process. The education progressivism concept by John Dewey contains participative education principles; it can be strengthened on Islamic education view that there are some compatibility aspects (especially in worldly usefulness), and there are many differences based on principles (especially in metaphysic-spiritual thing). Therefore, when Muslims will implement participative principles on Dewey’s educational concept in their life, they need to filter it based on Islamic views. If it does not contradict to Islamic views, it should be implemented on their life. Nevertheless, if it opposes Islamic views, it should not be implemented on their life (it is enough for them to know it as knowledge).
MANUSIA DALAM KONTEKS PEDAGOGIS Sutikno Sutikno
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 2 No. 1 (2014)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2035.979 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2014.2.1.189-218

Abstract

Secara pedagogis, manusia dipahami sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT untuk dididik dan mendidik. Oleh karena itu manusia itu sebagai subjek (pelaku) dan objek (sasaran) daripada pendidikan itu sendiri. Manusia adalah makhluk yang memiliki perasaan dan kepekaan luar biasa. Melalui pendidikan manusia dapat mengasah perasaan dan mencapai ilmu pengetahuan, melalui ilmu pengetahuan manusia dapat menciptakan sebuah kebudayaan. Oleh karena ilmunya, manusia menjadi orang yang mengetahui. Oleh karena banyaknya pengetahuan yang dimiliki manusia, maka iapun menjadi banyak dibutuhkan oleh manusia-manusia lain. Ketika manusia banyak dibutuhkan oleh manusia-manusia lain, maka posisinya pun menjadi terhormat. Kehormatannya akan mencapai derajat yang tinggi –baik di sisi Allah SWT maupun di sisi makhluk-Nya- apabila disertai dengan keimanan dan amal shaleh.
DINAMIKA POLITIK PENDIDIKAN GURU AGAMA ISLAM PADA MASA ORDE LAMA Heni Listiana
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 1 No. 2 (2013)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.573 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2013.1.2.374-397

Abstract

Politik pendidikan guru agama Islam pada masa Orde lama tidak dapat dilepaskan dari perjuangan memasukkan materi agama di sekolah. Sudah sejak lama Pemerintah Belanda menjadikan pendidikan agama terpisah dari pendidikan sekolah, dengan asumsi pendidikan sekolah itu netral dari pendidikan agama. Pendidikan agama menjadi urusan pribadi masing-masing dan bukan menjadi bagian integral pada pendidikan sekolah. Pemisahan ini menjadikan perbedaan yang sengit antara kaum nasionalis dan umat Islam dalam memandang pendidikan agama. Kaum nasionalis memiliki kecenderungan sinis dan apatis terhadap kaum muslim. Demikian juga kaum muslim berusaha untuk menyelamatkan kepentingannya dalam kancah politik di Indonesia sebagai mayoritas. Tetapi menjadi hal yang menarik untuk dikaji adalah meskipun Kementerian agama lahir belakangan tetapi usaha yang dilakukan pasca kemerdekaan harus diakui sebagai upaya yang luar biasa dalam menyediakan pendidikan yang berkualitas bagi umat Islam, terbukti dengan penyelenggaraan pendidikan guru yang pernah dijalankan.
URGENSI PEMBINAN IKLIM DAN BUDAYA SEKOLAH Lailatu Zahro
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 3 No. 1 (2015)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (623.541 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2015.3.1.157-186

Abstract

Bahasa Indonesia:Pengembangan sekolah yang efektif, efisien, produktif dan akuntabel perlu ditunjang oleh perubahan berbagai aspek yang terkait dengan pendidikan, termasuk iklim sekolah. Perubahan iklim sekolah perlu dilakukan untuk merespons kondisi pendidikan yang semakin terpuruk. Hal ini lebih diperkuat lagi dengan perubahan-perubahan mendasar dalam berbagai aspek kehidupan, yang menuntut penyesuaian pendidikan dan iklim sekolah yang kondusif yang menunjang terhadap pembelajaran yang bermakna. Iklim dan Budaya sekolah yang kondusif ditandai dengan terciptanya lingkungan belajar yang aman, nyaman dan tertib sehingga pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Iklim dan budaya sekolah yang kondusif sangat penting agar siswa merasa senang dan bersikap positif terhadap sekolahnya, agar guru merasa dihargai, orang tua dan masyarakat merasa diterima dan dilibatkan. Hal ini dapat terjadi melalui penciptaan norma dan kebiasaan yang positif, hubungan dan kerja sama yang harmonis yang didasari oleh sikap saling menghormati di antara satu dengan yang lain.  English:School development with the idea of effectiveness, efficiency, productivity, and accountability needs to go along with changing in educational settings, including the school climate. The climate transformation is urgently needed to respond degraded educational situation.  This is also required as the fundamental changing exists in every human life aspects, which requests for educational transformation and conducive school climate for meaningful learning at school. Conducive school climate is indicated by a safe, comfortable, and well-regulated school environment for effective learning. This circumstance is quite important so that students consider positively their schools, teachers feel appreciation for themselves, and parents are well-accepted and involved in school. This atmosphere can be developed through creating new positive habits and norms and teamwork under the umbrella of respects within the team member.
KONSEP PENDIDIKAN IMAM ZARNUJI DAN PAULO FREIRE Hanik Yuni Alfiyah
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 1 No. 2 (2013)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.936 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2013.1.2.201-221

Abstract

Tulisan ini bermaksud mengkaji konsep pendidikan Imam Zarnuji dan Paulo Freire. Mengkaji pemikiran pendidikan Imam Zarnuji dan Paulo Freire memang amat menarik, karena keduanya memiliki kekuatan masing-masing. Imam Zarnuji merupakan seorang filosof muslim dalam hal pendidikan yang ide-idenya kental dengan pesan-pesan moral. Menurutnya, selama ini peserta didik banyak menemukan kegagalan dalam hal kompetensi moral. Sehingga banyak alumni-alumni lembaga pendidikan yang cerdas tetapi kurang bermoral. Sementara itu Paulo Freire merupakan filosof pendidikan Barat yang ide-idenya kental dengan pesan-pesan pembebasan dalam pendidikan. Pendidikan harus memanusiakan manusia. Pendidikan harus membebaskan dan dapat menyelesaikan realitas problem sosial kemanusiaan. Membandingkan pemikiran pendidikan Zarnuji dengan Freire akan menemukan banyak perbedaan, karena memang mereka hidup dalam latar belakang sosial budaya yang berbeda, disamping juga paradigma keduanya yang berbeda. Hal yang menarik ketika memadukan pemikiran keduanya. Apabila melakukan pemaduan di antara kedua pemikiran tokoh tersebut, akan dapat menemukan konsep pendidikan yang humanis, membebaskan dan penuh dengan nuansa moral-transensdensi.
TEKNOLOGI KLONING DALAM PERSPEKTIF PAI MATERI FIQH Al-Quddus Nofiandri Eko Sucipto Dwijo
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 2 No. 2 (2014)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.35 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2014.2.2.331-356

Abstract

Tulisan ini berusaha memotret teknologi kloning dalam perspektif PAI materi Fiqh. Ketika ditinjau dari sisi hifzh al-din (memelihara agama), kloning manusia tidak membawa dampak negatif terhadap keberadaan agama. Ditinjau dari sisi hifzh al-nafs (memelihara jiwa), kloning tidak menghilangkan jiwa bahkan justru melahirkan jiwa yang baru. Dilihat dari sisi hifzh al-‘aql (memelihara akal), kloning juga tidak mengancam eksistensi akal, bahkan keberhasilan Kloning yang sempurna dapat membuat manusia mempunyai akal cerdas. Jika dilihat dari sisi hifzh al-nasl (memelihara keturunan), kloning manusia dipertanyakan. Dalam pandangan Islam, masalah keturunan merupakan sesuatu yang sangat essensial, karena keturunan mempunyai hubungan erat dengan hukum yang lain seperti pernikahan, warisan, muhrim, dan sebagainya. Apabila ditinjau dari sisi hifzh al-mal (memelihara harta), akan terkait dengan mashlahat dan mafsadat yang diperoleh dari usaha pengkloningan. Andaikata Kloning terhadap manusia hanya akan menghambur-hamburkan harta, tanpa adanya keseimbangan dengan manfaat yang diperoleh, maka kloning menjadi terlarang. Dengan penerapan kloning, kemapanan dan keluhuran cita-cita sebuah perkawinan dalam Islam akan terusik. Boleh jadi, di masa yang akan datang manusia tidak membutuhkan perkawinan untuk mendapatkan keturunan. Seks hanya diperlukan untuk melampiaskan hawa nafsu birahi terhadap lawan jenis tanpa mempertimbangkan akibat dan tanggung jawab dari hubungan seksualitas tersebut. Dengan demikian, kemafsadatan yang ditimbulkan akibat kloning manusia lebih besar daripada kemanfataannya. Oleh karena itu, kloning manusia diharamkan dalam ajaran Islam.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TPS (THINK PAIR SHARE) TERHADAP PEMAHAMAN SISWA PADA MATA PELAJARAN FIQIH KELAS VII MTS AL-IRSYADIYAH DERMOLEMAHBANG SARIREJO LAMONGAN Siti Mukhoyyaroh; Syaiful Jazil
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 1 No. 1 (2013)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.459 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2013.1.1.21-44

Abstract

BAHASA INDONESIA:Masalah yang diteliti dalam tulisan ini adalah: 1) Bagaimanakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) pada mata pelajaran Fiqih kelas VII MTs Al-Irsyadiyah Dermolemahbang Sarirejo Lamongan; 2) Bagaimanakah pemahaman siswa pada mata pelajaran Fiqih kelas VII MTs Al-Irsyadiyah Dermolemahbang Sarirejo Lamongan; 3) Bagaimanakah pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) terhadap pemahaman siswa pada mata pelajaran Fiqih kelas VII MTs Al-Irsyadiyah Dermolemahbang Sarirejo Lamongan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: 1) Observasi untuk memperoleh data tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share); 2) Angket untuk memperoleh data tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) dan pemahaman siswa terhadap mata pelajaran Fiqih; 3) Interview dan dokumentasi digunakan untuk memperoleh data gambaran umum objek penelitian. Analisis yang digunakan adalah: 1) prosentase dan 2) product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) adalah baik, hal ini dibuktikan dengan hasil angket yang menunjukkan nilai sebesar 80,2%; 2) Pemahaman siswa terhadap mata pelajaran Fiqih tergolong baik. Hal ini dibuktikan dengan hasil angket yang menunjukkan nilai sebesar 69,9%; 3) Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) terhadap pemahaman siswa pada mata pelajaran Fiqih kelas VII MTs Al-Irsyadiyah Dermolemahbang Sarirejo Lamongan, berdasarkan hasil analisis diperoleh rxy= 0,208 dengan jumlah responden 41 sedangkan rtabel pada taraf signifikansi 5% adalah 0,316 dan taraf signifikansi 1% adalah 0,408. Jadi rxy lebih kecil daripada rtabel yang berarti hipotesa alternatif (Ha) ditolak dan hipotesis nol (Ho) diterima atau disetujui. Sedangkan jika dikonsultasikan dengan tabel interpretasi nilai “r”  dimana nilai rxy berada diantara 0,20–0,40 yang berarti korelasinya rendah. ENGLISH:This paper examined some issues: 1) How is the application of cooperative learning model type TPS on Fiqh lesson; 2) How is the students’ understanding; 3) How is the effect of TPS in students’ understanding. Data collection techniques used in this paper include: 1) Observation to obtain data on the use of TPS; 2) Questionnaire to obtain data on the application of TPS and students’ understanding of Fiqh; 3) Interview and documentation was done to gain general data of the research’s object. The analyses used were: percentage and product moment. The result showed that: 1) the use of TPS was good; 2) Students’ understanding of Fiqh lesson was also good; 3) The effect of cooperative learning model type TPS in students’ understanding of Fiqh lesson, based on the result of the analysis was rxy = 0.208 with 41 respondents, while r table in the significant standard of 5% and 1% are 0.316 and 0.408. Therefore, rxy is smaller than r table which means the alternative hypothesis (Ha) is ignored and zero hypothesis (Ho) is accepted.
SUMBER BELAJAR DALAM TEORI PANCARAN (TELAAH FILOSOFIS TENTANG PENDIDIKAN) Abd. Kadir
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 2 No. 1 (2014)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.421 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2014.2.1.107-130

Abstract

Secara luas sumber belajar merupakan pengalaman hidup yang bersifat empirik, rasional dan spiritual. Pengalaman hidup empirik didapat dari insteraksi seseorang dengan lingkungan material dan sosial, dan yang rasional dari  melalui premis-premis yang dapat dipikirkan secara logis; sedangkan yang spiritual merupakan emanasi dari wujud wajib melalui akal aktif kepada Akal Mustafad. Akal yang beroperasi pada level supra mental ini memancarkan pengetahuan  yang berupa bentuk tertentu kepada seseorang, karena ada kecenderungan jiwa manusia yang suci berhubungan dengan akal ini. Siapapun yang dapat berhubungan dan berkomunikasi dengan akal  ini, maka ia akan mengenal atau mengetahui hakikat dari sesuatu.
PENDIDIKAN KARAKTER MENURUT KH. WAHID HASYIM Rangga Sa’adillah S. A. P.
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 3 No. 2 (2015)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (856.97 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2015.3.2.276-303

Abstract

Bahasa Indonesia:Studi library research ini berusaha menjawab dua pertanyaan. Pertama bagaimana pemikiran KH. Wahid Hasyim tentang pendidikan karakter? Kedua bagaimana relevansi konsep pendidikan karakter KH. Wahid Hasyim dengan kondisi pendidikan di Indonesia saat ini? Melalui analisis induktif dihasilkan dua temuan. Pertama, terdapat delapan nilai-nilai karakter yang berusaha ditanamkan oleh KH. Wahid Hasyim. Delapan nilai tersebut adalah religius, toleransi, madiri, demokratis, semangat kebangsaan, cinta tanah air, bersahabat atau komunikatif, dan gemar membaca. Temuan kedua pada penelitian ini, bahwa pemikiran pendidikan karakter KH. Wahid Hasyim sejalan dengan tujuan pendidikan karakter. Dia berikhtiar membangun kehidupan kebangsaan yang multikultural; membangun peradaban bangsa yang cerdas, berbudaya luhur, dan mampu berkontribusi terhadap pengembangan kehidupan umat manusia, mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik serta keteladanan baik; membangun sikap warganegara yang mencintai kedamaian, kreatif, mandiri, dan mampu hidup berdampingan dengan bangsa lain dalam suatu harmoni. English: This library research examined two research questions. They are what thoughts of KH. Wahid Hasyim about the character education are and how the concept of character education by KH. Wahid Hasyim is relevant to the current condition of education in Indonesia. This study reveals two findings through an inductive analysis. The chief finding of this study is that there are eight characteristic values taught by KH.Wahid Hasyim including religious, tolerant, independent, democratic, patriotic, nasionalist, communicative, and keen on reading. Second, this study disclosed that the thought of character education by KH. Wahid Hasyim is in line with the goal of character education. He strove to build a multicultural national life, educate an intelligent civilization, build a noble character, encourage people to contribute to the development of human life, and develop the potential of having kind hearts, positive thoughts and good behavior as well as exemplary models. He also sought to generate enthusiasm of citizens to keep the peace, creativity, independence, and to be able to coexist with other nations in a harmony.
ETIKA PELAJAR DALAM PERSPEKTIF IBN JAMA’AH Ahmad Yusam Thobroni
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 1 No. 2 (2013)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.089 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2013.1.2.303-318

Abstract

Tulisan ini memaparkan tentang “Etika Pelajar dalam Perspektif Ibn Jama’ah”. Konsep pendidikan Ibn Jama’ah merupakan konsep pendidikan yang cenderung memposisikan pelajar sebagai objek dalam pendidikan, sehingga pelajar kurang mendapat kesempatan untuk ‘diberdayakan’. Pelajar hanya dipandang sebagai manusia yang menerima dan menyimpan segala pengetahuan yang diperolehnya dengan tanpa diberi kesempatan untuk bersikap aktif, kreatif dan inovatif.  Oleh karena itu konsep ini kurang relevan jika diterapkan pada konsep pendidikan sekarang yang membutuhkan paradigma baru dengan memposisikan pelajar sebagai subjek dalam kegiatan belajar-mengajar. Meski demikian, tidak semua pemikiran Ibn Jamaa’ah yang berkaitan dengan konsep pendidikan tidak sesuai dengan kondisi kekinian, karena sebagian konsep pendidikan yang ditawarkan masih relevan dan cocok jika diterapkan pada pelaksanaan pendidikan saat ini (misalnya, pemikirannya berupa pelajar harus selalu menghiasi dirinya dengan akhlak mulia ketika menuntut ilmu).  Oleh karena etika merupakan media self-control (pengawasan melekat) terhadap diri pelajar yang dapat menghindarkannya dari hal-hal negatif, dimana hal ini berguna untuk mendukung kesuksesannya dalam belajar.

Page 2 of 15 | Total Record : 144