cover
Contact Name
Auliya Ridwan
Contact Email
aridwan@uinsby.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jpai@uinsby.ac.id
Editorial Address
Program Studi S1 Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. A. Yani 117 Surabaya Jatim 60237
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies)
ISSN : -     EISSN : 25274511     DOI : https://doi.org/10.15642/jpai.xxxx.xx.x.xx-xx
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) (print-ISSN: 2089-1946 & Electronic-ISSN: 2527-4511) is a peer-reviewed journal published by Islamic Education Teacher Training Program of UIN Sunan Ampel Surabaya. The journal issues academic manuscripts on Islamic Education Teaching and Islamic Education Studies in either Indonesian or international contexts with multidisciplinary perspective: particularly within scholarly tradition of classical Islam, Educational Studies, and other social sciences. The manuscripts are published in Bahasa Indonesia, English, and Arabic with abstract in both Bahasa Indonesia and in English. This is an open-access journal so that all parties are allowed to read, to download, to copy, to distribute, to print, or to link some or all parts of articles without any charge and without prior permission from either authors or journal editorial team. All articles in this journal have Document Object Identifier (DOI) number.
Articles 144 Documents
TANTANGAN INTERKONEKSI SAINS DAN AGAMA DI IAIN SUNAN AMPEL Muhammad Fahmi
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 1 No. 2 (2013)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.821 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2013.1.2.319-337

Abstract

Tulisan ini berusaha mengeksplorasi konsep interkoneksi keilmuan agama dan umum melalui integrated twin towers di IAIN Sunan Ampel beserta tantangan yag melingkupinya. Pengembangan epistemologi integrated twin towers yang berupaya menginterkoneksikan keilmuan agama dan umum dengan grand design yang sedang digodok oleh para petinggi IAIN Sunan Ampel baru sebatas asumsi, dan tetap rentan mengandung resiko dan penuh tantangan. Asumsinya adalah keilmuan agama dan umum yang integratif-interkonektif, dan resikonya adalah keilmuan agama dan umum yang semakin dikotomis dengan simbol menara kembar. Sementara itu tantangannya adalah ego SDM ilmu agama dan umum. Meskipun penuh resiko dan tantangan, namun upaya integrasi-interkoneksi keilmuan agama dan umum melalui epistemologi integrated twin towers perlu terus dilakukan. Asumsi keilmuan yang integratif-interkonektif melalui epistemologi integrated twin towers harus dikawal dengan perangkat sistem yang mendukung realisasinya. Apabila tidak melalui pengawalan sistem, yang terjadi bisa sebaliknya, bukan keilmuan yang integratif tetapi keilmuan yang semakin dikotomis antara agama dan umum, karena ada pelambangan berupa simbol menara kembar keilmuan, dimana keilmuan agama ada pada menara tersendiri dan keilmuan umum ada pada menara tersendiri. Bentuk pengawalan sistem yang ada bisa berupa seleksi penerimaan tenaga dosen atau karyawan yang mana dalam perekrutan harus dipastikan calon tenaga dosen atau karyawan adalah orang-orang yang mempunyai pemahaman keagamaan dan umum serta bidang yang akan digelutinya secara cukup. Jadi materi soal yang dijadikan acuan tes harus juga bersifat integratif.
MODEL PENDIDIKAN TOLERANSI DI PESANTREN MODERN DAN SALAF Ali Maksum
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 3 No. 1 (2015)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (625.02 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2015.3.1.81-108

Abstract

Bahasa Indonesia:Penelitian ini bertujuan mengetahui model pendidikan toleransi di pesantren modern dan di pesantren salaf. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan setting dua pesantren, yakni pesantren modern Gontor Ponorogo dan pesantren salaf Tebuireng Jombang. Teknik pengumpulan datanya dengan wawancara dan dokumentasi. Untuk analisis data digunakan teknik analisis induktif. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Pesantren Darussalam Gontor merupakan pesantren modern, dengan ciri khas berupaya memadukan tradisionalitas dan modernitas pendidikan. Sistem pengajaran wetonan dan sorogan diganti dengan sistem klasikal (pengajaran di dalam kelas) yang berjenjang dan kurikulum terpadu diadopsi dengan penyesuaian tertentu. Sistem pendidikan yang digunakan di pondok modern dinamakan sistem Mu’allimin, atau terkenal dengan nama Kulliyatul-Mu'allimin al-Islamiyah (KMI). Sedangkan sistem pendidikaan di pondok pesantren Tebuireng, dilihat dari segi sistem pendidikan dan pengajarannya sepenuhnya tidak dapat disebut sebagai pesantren salaf murni. Karena di pesantren Tebuireng masih mempertahankan sistem pendidikan  salaf, juga menerapkan sistem pendidikan modern. Oleh karena itu, untuk sekarang ini lebih tepat apabila menyebut Pondok Pesantren Tebuireng dengan sebutan Pondok Pesantren Campuran atau Pondok Pesantren Terpadu (antara khalaf dan salaf).  (2) Baik di pondok pesantren modern dan salaf, Islam yang dipahami dan diaktualkan adalah Islam yang inklusif, ramah, tidak kaku, moderat, yakni Islam yang bernuansa perbedaan dan sarat dengan nilai-nilai multikultural. Mendakwahkan Islam yang  seperti inilah yang menjadikan Islam bisa bersentuhan dengan multikultur. Untuk membentuk santri yang toleran kedua pesantren ini mengajarkannya melalui kurikulum pendidikan dan keteladanan hidup sehari-hari.  English:This research purposes to examine tolerant education model in both modern and salafis pesantren. This qualitatively descriptive study involves two pesantren settings, the modern pesantren Gontor Ponorogo and the salafis pesantren Tebuireng Jombang. Data is collected through interviews and documentations. From an inductive analysis, this research shows the following results. First, the Gontor modern pesantren acculturate preserved traditional value of pesantren in the modernity of educational systems. Particular teaching methods such as wetonan and sorogan are transformed into more standardized grades in classical way. Classic curriculum is still preserved in the class with some adaptations. This system is later called Mu’allimin or more popular as Kulliyatul-Mu'allimin al-Islamiyah (KMI). On the other hand, educational system in the pesantren of Tebuireng cannot be considered as the pure salafis category as the pesantren is still conducted the salafis education and the modern one separately. Therefore, the Tebuireng is now more exactly called “mixed pesantren” or integrated pesantren –between the khalafis and salafis. The next result of this result shows the fact that both salafis and integrated pesantrens actualize inclusive, peaceful, flexible, ad moderate Islam in which diversity and multiculturalism is in it. Islamic missionary in this way sustain Islam to live together with multi-culture. Curriculum of education and good-model leadership create santris with high tolerance.
ANALISIS MATERI ASTRONOMI PADA PEMBELAJARAN SAINS (PENYAJIAN SAINS MODERN DAN ALQURAN) Esti Yuli Widayanti
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 1 No. 1 (2013)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.692 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2013.1.1.140-160

Abstract

BAHASA INDONESIA:Menyandingkan sains dengan al-Quran dalam pembelajaran sudah banyak diperbincangkan, namun masih belum banyak dipraktikkan di pembelajaran sains sendiri, meskipun di sekolah berlabel agama. Hal ini disebabkan karena belum ada panduan khusus yang menyandingkan dua hal ini secara teknis. Buku-buku pelajaran masih memaparkan konsep secara ilmiah, sehingga yang disampaiakan guru juga hanya apa yang ada di dalam buku, yang kebetulan mereka jadikan acuan. Tujuan studi ini adalah memberikan sebuah acuan bagi para guru kelas di SD/MI dalam membelajarkan materi sains/IPA (meliputi fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori IPA) yang didukung dengan penyampaian ayat-al-Quran dan tafsitnya yang berkaitan dengan materi tersebut. Salah satu materi sains yang sangat menantang dan mengalami perkembangan yang signifikan dari masa ke masa adalah materi astronomi. Studi ini merupakan kajian kualitatif yang bertujuan menggambarkan dan mengungkap sebuah fenomena dalam hal penyampaian materi astronomi di SD/MI. Fenomena menarik disini berkaitan dengan bagaimana guru sains menyampaikan materi astronomi dengan yang dikuatkan dengan penyampaian ayat-ayat al-Qur’an serta tafsirnya yang terkait dengan materi astronomi SD/MI. Semakin terbuktinya ilmu astronomi yang diungkap di ayat-ayat al-Quran oleh hasil penelitian ilmiah, maka penyampaian ayat-ayat al-Qur’an bersamaan dengan materi sains adalah hal yang sangat penting. Hasil kajian meliputi tiga hal. Kajian pertama adalah analisis produk sains meliputi fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori. Untuk materi astronomi berdasarkan kurikulum 2006, diajarkan di kelas I, II, dan VI. Sedangkan berdasarkan kurikulum 2013, materi sains/IPA terkait astronomi disampaikan secara khusus di kelas VI. Kajian kedua mengidentifikasi ayat al-quran terkait dengan materi astronomi disesuaikan dengan ruang lingkup materi di SD/MI. Analisis terakhir yaitu strategi penyampaian ayat-al-Qur’an sebagai penguat materi astronomi adalah model terpadu dengan direct instruction. ENGLISH:There are a bunch of topics about the between Science and Koran. However, it has not practiced yet in science learning process, even in Islamic school. It is because the shortage of particular guidance that bring to a close between Science and Koran technically. Science book only discusses the concept scientifically. So, teachers only teach materials that are in book that coincidently they use it as source book. The purpose of this research is giving guidance for teachers in Public or Private Islamic Elementary School in teaching science (including fact, concept, principle, law, and science theory). Then, it is supported by delivering Koran verses and exclamation of passages of Koran by supplying additional material that relates to the material. One of science materials that is challenging and having significant development from time to time is Astronomy.  This research used qualitative method that has purpose to draw and explain the phenomenon in delivering Astronomy material in Public or Private Islamic Elementary School. Interesting phenomenon here relates to how science teachers deliver Astronomy material strengthened by delivering Koran verses and exclamation of passages of Koran by supplying additional material about Astronomy for Elementary students. The more Astronomy proves the truth of Koran by scientific research, the more important both Koran and science should be learned together. There are three results of this study.
APLIKASI PARADIGMA KONSTRUKTIVISTIK MODEL KOOPERATIF STAD UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PAI DI KELAS IV SD TARUNA SURABAYA Hanik Yuni Alfiyah
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 2 No. 2 (2014)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.288 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2014.2.2.233-272

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran PAI siswa kelas IV SD Taruna Surabaya melalui aplikasi paradigm pembelajaran konstruktivis model kooperatif STAD. Subjek penelitian adalah siswa kelas IVB yang terdiri dari 42 siswa. Tahap-tahap penelitian meliputi perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi dalam dua siklus. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, tes, catatan lapangan dan dokumentasi. Wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi tentang pendapat guru dan siswa mengenai proses pembelajaran; observasi dilakukan untuk memperoleh data tentang aktivitas siswa dalam kerja kelompok; tes dilakukan untuk mengukur pemahaman konsep siswa terhadap materi yang yang telah dipelajari; catatan lapangan dilakukan untuk memberikan gambaran proses pembelajaran yang terjadi; dan dokumentsi digunakan untuk mengetahui data tentang pemahaman konsep siswa pada pra tindakan. Data kualitatif dianalisis secara deskriptif kualitatif melalui tahapan koleksi data, reduksi data, display dan konklusi. Data kuantitatif dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan penyajian tabel dan dideskripsikan serta diambil kesimpulan berdasarkan kriteria yang mengacu pada rumus yang dikembangkan oleh Saifuddin Azwar. Untuk menghindari subjektivitas dari observer, maka dilakukan trianggulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pembelajaran PAI siswa kelas IV SD Taruna Surabaya meningkat melalui aplikasi paradigma pembelajaran konstruktivistik berupa pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan langkah-langkah pembelajaran antara lain: 1) menyampaikan tujuan pembelajaran, 2) menyajikan informasi seputar skenario pembelajaran, 3) mengelompokkan siswa secara heterogen 4-5 siswa dalam kelompok, 4) membimbing siswa dalam kelompok, 5) melakukan evaluasi, dan 6) memberikan penghargaan kelompok.
INTERNALISASI NILAI-NILAI KESADARAN LINGKUNGAN MELALUI PENDIDIKAN (PERSPEKTIF AL-QURAN DAN AL-HADITS) Ahmad Yusam Thobroni
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 2 No. 1 (2014)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.968 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2014.2.1.26-51

Abstract

Pengelolaan lingkungan harus berpijak pada prinsip-prinsip dan nilai-nilai al-Quran, yaitu: seluruh alam raya beserta isinya adalah milik Tuhan dan ciptaan-Nya; seluruh isi alam diperuntukkan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya;  alam ini ditundukkan agar dapat dikelola oleh manusia; manusia dititipi amanah oleh Tuhan untuk mengelola lingkungan; sebagai khalifah, manusia bertugas mengantarkan lingkungan untuk mencapai tujuan penciptaannya; pemborosan harus dicegah; kerusakan lingkungan adalah akibat perbuatan manusia, dan oleh karena itu manusia harus bertanggungjawab di dunia dan di akhirat; dan kasih sayang manusia kepada seluruh makhluk bermakna menghargai seluruh makhluk dan memperlakukannya dengan baik. Untuk menanamkan nilai-nilai kesadaran lingkungan berdasarkan spiritualitas Islam tersebut perlu diupayakan melalui proses pendidikan yang sistematis dan sinergis dengan memberikan perhatian khusus berupa pembentukan kurikulum pendidikan yang bernuansa kesadaran pelestarian lingkungan bagi subjek didik sejak dini. Dengan upaya ini diharapkan terwujudnya kelestarian lingkungan hidup yang semakin nyata dan membawa kepada kesejahteraan umat manusia.
EKSISTENSI KURIKULUM PESANTREN DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN Ahmad Saifuddin
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 3 No. 1 (2015)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.378 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2015.3.1.207-234

Abstract

Bahasa Indonesia:Sebagai lembaga pendidikan Islam asli Indonesia, pondok pesantren sudah menunjukkan keberhasilan dalam menjaga eksistensi diri. Sejak zaman sebelum merdeka sampai orde reformasi, pesantren semakin diakui keberadaannya dalam perundang-undangan Indonesia, terutama terkait pendidikan. Sebagai lembaga pendidikan Islam, pesantren memiliki unsur kyai, santri, pondok, masjid, metode pembalajaran dan kitab kuning. Variasi pondok pesantren menjadi salafiyah dan khalafiyah. Namun keduanya tetap memakai ketiga metode pembelajaran, yaitu sorogan, bandongan dan wetonan. Kurikulum pesantren merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan, sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pendidikan yang mencerminkan pandangan hidup bangsa. Lingkungan kebijakan pendidikan adalah ruang lingkup yang berada pada lingkungan dari sistem pendidikan tersebut, baik terpusat maupun bersifat lokal. Masalah dan agenda kebijakan pendidikan terdiri dari isu-isu yang sedang dibahas serius dalam hubungan domain kebijakan di bidang pendidikan. Sistem dan prosedur perumusan kebijakan pendidikan meliputi fungsi alokasi, fungsi inquiri dan fungsi komunikasi. Kajian metodologi dalam kebijakan pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan pembahasan mengenai subtansi pendidikan itu sendiri. Pondok pesantren –meskipun merupakan model pendidikan asli pribumi- namun dalam dinamikanya selalu tidak dapat lepas dari kebijakan pendidikan secara nasional. English:As a native Islamic educational institution in Indonesia, Pesantren has showed its success in preserving its existentialism. From the colonial period to the reformation period, Pesantren is getting more recognition in Indonesian legal system, particularly in the act of national education. As an Islamic educational institution, Pesantren has several element in its body, such as the kyai (the orthodox teacher), santri (the disciples), pondok, (the dorms), mosque, teaching methods, and kitab kuning (the yellow scriptures). The Pesantren has the salafiyah and khalafiyah as the variants. However, both of them implement the same teaching methods such as sorogan, bandongan, and wetonan. The Pesantren curriculum is a way of achieving educational goals and a direction of education with nation philosophies. The educational policy area in the Pesantren education exists both in national and local level. Issues and policy of education consist of actual problems in educational policy domain. The system and procedure of educational policy making involves several functions, such as allocation, inquiry, and communication. Methodological discourse in educational policy cannot be separated from the discourse of education itself. Pesantren –despite as a native educational system- cannot be separated from the dynamics of national education policy.
UPAYA KEPALA SEKOLAH SEBAGAI INOVATOR DALAM MENINGKATKAN KINERJANYA DI SD TARBIYATUL ATHFAL Lailatu Zahroh
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 1 No. 2 (2013)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.769 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2013.1.2.246-266

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjawab beberapa permasalahan yang berkaitan dengan upaya kepala sekolah sebagai inovator dalam meningkatkan kinerjanya, yaitu: (1) Bagaimana upaya kepala sekolah sebagai inovator dalam meningkatkan kinerjanya di SD Tarbiyatul Athfal Surabaya?, (2) Apa faktor pendukung  upaya  kepala sekolah sebagai inovator meningkatkan kinerjanya di SD Tarbiyatul Athfal Surabaya?, (3) Apa faktor penghambat upaya kepala sekolah sebagai inovator meningkatkan kinerjanya di SD Tarbiyatul Athfal Surabaya? Permasalahan diatas dijawab melalui kajian penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif dan metode pengumpulan data: obeservasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan: 1. Upaya kepala sekolah sebagai inovator dalam meningkatkan kinerjanya di Sekolah Dasar Tarbiyatul Athfal Surabaya, yaitu: a. Mengikutsertakan para pendidik dalam penataran-penataran, b. Memberikan kesempatan kepada pendidik untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dengan belajar ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, c. Berusaha menggerakkan tim evaluasi hasil belajar, d. Menggunakan waktu belajar secara efektif di sekolah, e. Membimbing dan mengembangkan  pendidik, f. Membimbing tenaga kependidikan, g. Membimbing peserta didik, h. Mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, tehnologi dan seni, dan i. Memberi contoh model pembelajaran dan bimbingan konseling yang baik; 2. Faktor pendukung upaya kepala sekolah sebagai inovator  dalam meningkatkan kinerjanya  di Sekolah Dasar Tarbiyatul Athfal Surabaya, yaitu: a. Kepala sekolah yang profesional, b. Motivasi pendidik tinggi, c. Motivasi belajar peserta didik tinggi; 3. Faktor penghambat upaya kepala sekolah sebagai inovator dalam meningkatkan kinerjanya di Sekolah Dasar Tarbiyatul Athfal Surabaya, yaitu: a. Sarana prasarana kurang memadai, b. Metode mengajar yang kurang variatif, c. Lingkungan kelas untuk pembelajaran model PAKEM belum maksimal.
PENDIDIKAN KARAKTER: UPAYA MEMBENTUK GENERASI BERKESADARAN MORAL Much. Arif Saiful Anam
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 2 No. 2 (2014)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.25 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2014.2.2.388-426

Abstract

The post-reform moral crisis shows that the achievement of moral competence processed at school has not been able to result the optimal output to the moral awareness generation development of nation. This condition such that begun from verbalistic growth culture from the learning process which inclines to only teach moral education as the textual limitation. That phenomenon and fact cause many sides conclude that the importance of character education implementation intensively as the essence of moral awareness generation development. This perspective places moral as the main environment aspect which decides generation characterization. Therefore, moral awareness should be learned intently and progressed or developed by character education applicatively. When the first time of implementation of character education in the school environment, it needs to do by the moral conditioning then continue to the moral training. The Design Character education like this has a function as systemic moral ideas in progressing the generation moral awareness which is able to supply young generation with moral intelligence competence and character.
PENDIDIKAN MULTIKULTURAL PERSPEKTIF SAID AGIL HUSIN AL-MUNAWAR M Nadlir
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 1 No. 1 (2013)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.614 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2013.1.1.61-77

Abstract

BAHASA INDONESIA:Tulisan ini memaparkan pemikiran pendidikan multikultural menurut Said Agil Husin Al-Munawar. Dalam perspektif Said Agil Husin Al-Munawar, pendidikan multikultural di Indonesia dianggap sebagai sesuatu yang relatif baru di tengah masyarakat Indonesia yang heterogen. Menurut SAH Al-Munawar, agar siswa memiliki pribadi yang aktif dan kepekaan sosial yang tinggi terkait dengan kondisi multikultural, maka pendidikan multikultural di Indonesia dapat mencakup tiga hal jenis transformasi, yakni: 1. Transformasi diri; 2. Transformasi sekolah dan proses belajar-mengajar; 3. Transformasi masyarakat. Menurut SAH Al-Munawar, dengan belajar dari model-model pendidikan multikultural yang pernah ada yang sedang dikembangkan oleh negara-negara maju, maka dikenal lima model pendidikan multikultural, yaitu: Pertama, pendidikan mengenai perbedaan-perbedaan kebudayaan atau multikulturalisme penuh kebaikan. Kedua, pendidikan mengenai perbedaan-perbedaan kebudayaan atau pemahaman kebudayaan. Ketiga, pendidikan bagi pluralisme kebudayaan. Keempat, pendidikan dwi-budaya. Kelima, pendidikan multikultural sebagai pengalaman moral manusia. ENGLISH:This paper describes the idea of multicultural education according to Said Agil Husin Al Munawar. In perspective of Said Agil Husin Al Munawar, multicultural education in Indonesia is regarded as something relatively new in Indonesia heterogeneous society. According to Al-Munawar, to make students have an active personal and social sensitivity associated with the multicultural, so the multicultural education in Indonesia can include three types of transformation: 1) Self-transformation; 2) The transformation of the school and the teaching-learning process; 3. Transformation of society. Based on Al-Munawar, learning from previous models of multicultural education which have been developed by the developed countries, then it is known as five multicultural education model, namely: First, education about cultural differences or benevolent multiculturalism. Second, education about cultural differences or cultural understanding. Third, education for cultural pluralism. Fourth, bi-cultural education. Fifth, multicultural education as a human moral experience.
PENGEMBANGAN IPTEK DALAM TINJAUAN HUKUM ISLAM Al Quddus Nofiandri Eko Sucipto Dwijo
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 2 No. 1 (2014)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.536 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2014.2.1.144-166

Abstract

Islam sangat mendukung umatnya untuk menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Dalam hal pengembangan Iptek, umat Islam dapat mempelajarinya dari orang-orang no-Islam, disamping juga dapat mengembangkan Iptek dari spirit ajaran Islam sendiri. Oleh karena produk keilmuan yang datang dari orang-orang non-Islam –secara umum- bersifat sekuleristik, maka setelah dipelajari, sebelum diadopsi dan diterpkan di dunia Islam, penting untuk terlebih dahulu diberikan nilai-nilai keislaman, agar tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran hukum Islam. Ajaran hukum Islam secara normatif dan empirik sangat memulyakan orang-orang yang beriman dan berilmu dengan beberapa derajat. Dalam ajaran hukum Islam, ditegaskan bahwa tidak sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Orang yang berilmu jelas lebih baik dan lebih utama daripada orang yang tidak berilmu. Dengan demikian, pengembagan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan ragam modelnya (misal dengan bahasa Islamisasi Iptek) sangat dianjurkan oleh ajaran hukum Islam.

Page 4 of 15 | Total Record : 144