cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
TATANAN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 90 Documents
KOMPARASI KINERJA ANTARA PANEL CERMIN DENGAN PANEL AKRILIK TRANSPARAN SEBAGAI KOLEKTOR CAHAYA PADA PIPA CAHAYA HORISONTAL Gunawan, Ryani
TATANAN Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractOn a typical multi-storey thick building, the use of natural lighting is often limited to penetration through window opening on buildings facade. One of the methods developed to maximize penetration of natural light into multi-storey thick building is implementing light transport system by means of horizontal light pipe into building.  By utilizing a light collector, such system directs sunlight down to specific rooms.            This research compares the efficiency of two passive light-redirecting collector models. The first model is made from a mirror panel, while the second one is made from a transparent acrylic panel. Both models were laboratory tested in a one-to-one scale horizontal light pipe model. The light source of this light pipe model is a spotlight. The two light collector models then observed to determine which one of the two is more efficient.   Based on the observation, it can be concluded that a light collector model made from a mirror panel has four times higher illumination level efficiency compares to a light collector model made from a transparent acrylic panel.  Key Words: light collector, mirror panel, transparent acrylic panel, horizontal light pipe AbstrakSecara umum, penggunaan pencahayaan alami pada bangunan tebal bertingkat banyak terbatas pada penetrasi cahaya melalui bukaan jendela pada fasad bangunan.  Salah satu metode untuk memaksimalkan penetrasi pencahayaan alami ke dalam bangunan tebal bertingkat banyak adalah dengan menerapkan sistem penyalur cahaya berupa pipa cahaya horisontal ke dalam sebuah bangunan. Dengan menggunakan kolektor cahaya, sistem tersebut menghantarkan sinar matahari langsung ke ruangan yang memerlukan.   Studi ini membandingkan tingkat efisiensi dari dua rancangan model kolektor cahaya pasif. Model pertama terbuat dari panel cermin dan model kedua terbuat dari panel akrilik transparan. Kedua model kolektor cahaya ini diuji di laboratorium dengan menggunakan sebuah model pipa cahaya horisontal berskala satu banding satu. Sumber cahaya pada model pipa cahaya horisontal ini adalah sebuah lampu sorot. Kedua model kolektor cahaya kemudian diamati dan dibandingkan efisiensinya.Sebagai kesimpulan dari studi ini, model kolektor cahaya dari panel cermin memiliki efisiensi tingkat pencahayaan empat kali lebih besar dibandingkan dari model kolektor cahaya yang terbuat dari panel akrilik transparan. Kata Kunci: kolektor cahaya, panel cermin, panel akrilik transparan, pipa cahaya horisontal
KAJIAN PROYEK DESAIN RUMAH SUSUN SEWA PADA PEREMAJAAN KAWASAN JATINANGOR BERDASARKAN PROFIL CALON PENGHUNINYA Wizmar, Dickie A.; Albert, Albert
TATANAN Vol 2, No 1 (2008)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractJatinangor area has changed from rural, to crowded urban city, with high density, almost 120 person/Ha and dominated with middle low economic level people. The consequences from that condition were the growth of slums.This condition motivates government to build some flats for middle low income. The design accomodates the owners activity, and their social economic condition, in order to make better housing quality.The main target to live in flats is worker, and university student. The target market affected the building design which is suited to the owners professions.Another thing which influence the design are dimension of each unit, and activity circulation. A good quality of basic housing conditions to be considered too in the building design are distance among flats, dimension, access and circulation, in order to obtain ultimate comfort for the people who lived there. Keywords: multistorey housing, revitalize Jatinangor area, users profile.AbstrakPerubahan kawasan Jatinangor yang semula berupa pedesaan menjadi perkotaan yang padat dan ramai, dengan tingkat kepadatan hampir 120 jiwa/ha dan didominasi oleh kalangan menengah ke bawah. Akibatnya, terjadi area kumuh yang cukup besar di kawasan Jatinangor.Kondisi ini mendorong pemerintah untuk memproyeksikan pembangunan rumah susun sewa yang diperuntukkan bagi mereka yang berada di kalangan menengah ke bawah. Karakteristik pembangunannya disesuaikan dengan penghuninya, pola aktivitasnya, dan kondisi sosial-ekonominya sehingga diharapkan kualitas hunian yang baik pun akan tercapai.Penghuni yang menjadi prioritas sebagai pengguna rumah susun sewa ini sebagian besar dari kalangan buruh pabrik, dan mahasiswa, hal ini berpengaruh desain rumah susun yang akan direncanakan, sesuai dengan mata pencaharian, dan profesi dari penghuninya.Hal lain yang juga harus diperhitungkan adalah kondisi umum yang menjadi standar pembangunan rumah susun yang layak guna, seperti jarak antar bangunan, dimensi ruangan, akses dan sirkulasi, sehingga kenyamanan penghuni tetap menjadi prioritas dalam pembangunan rumah susun sewa ini.Kata kunci: rumah susun, peremajaan kawasan Jatinangor, profil penghuni.
PENERAPAN RUANG GERAK MINIMAL TERHADAP TATANAN PERABOT PADA UNIT HUNIAN TIPE 21 Yuliana, Yuliana; Mellisa, Sherly
TATANAN Vol 2, No 1 (2008)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThe dimension of human dwelling is very related to space for them, which appropriate with what people needs who live in, although existing dimension are very limited and minimum.The dimensions of space that happened in each dwelling unit depended from placing and quantity of furniture which were owned by dweller.The dimensions of space that happened in each dwelling unit become too narrow or small because the mistake from dweller in location of furniture and too much furniture. While other mistake there is also on the side of organizer permitting rights rent at dweller owning family more than 3 head (husband, wife, and children above five year old). From entire existing room, which is generally felt to narrow, only WC size measure fulfilling standard.Keywords: dimension of human, furniture arrangement, low cost multistorey housingAbstrakBesaran suatu unit hunian yang layak huni sangat terkait erat dengan ruang gerak bagi manusia, yang sesuai dengan kebutuhan manusia yang tinggal di dalamnya, walaupun besaran ruang yang ada sangatlah terbatas dan minim.Ukuran-ukuran ruang gerak yang terjadi pada setiap unit hunian tergantung dari perletakkan dan jumlah perabot yang dimiliki oleh para penghuni.Ukuran ruang gerak yang terjadi pada setiap unit hunian menjadi sempit atau kecil karena kesalahan dari para penghuni dalam penempatan perabot dan terlalu banyaknya perabot yang dimiliki. Sedangkan kesalahan lainnya ada juga pada pihak pengelola yang mengijinkan hak sewa pada penghuni yang memiliki keluarga lebih dari 3 jiwa (suami, istri, dan anak-anak di atas balita). Dari seluruh ruang yang ada, yang umumnya dirasakan sempit, hanya ukuran WC yang memenuhi standar.Kata kunci: dimensi manusia, tatanan perabot, rumah susun
EFISIENSI PERAWATAN KULIT LUAR BANGUNAN DITINJAU DARI FASILITAS DAN TINDAKAN PERAWATAN Rustandi, Melisa
TATANAN Vol 3, No 2 (2009)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Vertical plan housing is an effective choice for saving energy building concept. This vertical house could shelter many spaces and anticipating the problem of limited land, especially at the big cities. One of the problems in vertical housing, especially in high rise building is "how to maintain the quality of building physical or building facade" if we make statistic comparison according to the dimension of building, we can see that two stories building can be cleaned only by simple stairs, but its impossible to cleaned twenty stories building with the same way with twenty stories of stairs. Considered by efficiency factor, this problem must be solved by doing the scientific research. From many factors we can say that the high rise building need the different way to cleaned and maintained the facade appeal with the low rise building. The purpose of this research is to knowing if theres a good facility as building equipment and what must we do as the owner of the building to clean the facade of the building. The most efficient choice from many various facilities and manual method in cleansing building is the conclusion that we said as the concept of energy saving. The method of this scientific research is qualitative method which data we got from literature, observation, directly measurement at the object and doing interview with the object maintainers. According to the theories, the scientific analysis have been doing by searcher for knowing about many factors of the efficient way in cleaning building. Conclusion of the research result is although there is a facility for cleansing building at the object, but the dimension is not standard. That condition caused the unefficient manual method doing by the owner.  Key Words: evaluation, facility and the manual method way of cleaning building, Apartment Ciumbuleuit Bandung Abstrak Perencanaan hunian secara vertikal memang efektif dan tergolong bangunan berkonsep hemat energi karena selain kemampuannya dalam menampung banyak ruang, bangunan tersebut dapat mengantisipasi masalah keterbatasan lahan, terutama di kota-kota besar namun perlu disadari satu hal bahwa bangunan hunian vertikal, atau dengan kata lain bangunan tinggi tersebut cenderung bermasalah dalam hal pemeliharaan kualitas fisiknya dibanding bangunan yang berskala lebih kecil. Jika dibuat komparasi berdasarkan skala bangunan maka jika bangunan dua tingkat cukup hanya dibersihkan dengan pencapaian melalui tangga sepanjang dua tingkat, maka bagaimana dengan bangunan yang terdiri dari 20 tingkat, tak mungkin dengan menggunakan tangga sepanjang 20 tingkat untuk pembersihannya. Tentu bila ditinjau dari segi efisiensi, hal tersebut pertu dilakukan penelitian lebih lanjut. Banyak faktor yang tak memungkinkan bangunan tinggi dibersihkan dan dirawat menggunakan peralatan dan cara yang sama dengan bangunan dua tingkat. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui apakah fasilitas yang tersedia pada rusun serta tindakan preventif perawatan yang telah dilakukan penghuni telah memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan.  Pemilihan alat dan tindakan yang paling efisien dalam perawatan bangunan tinggi itulah yang dapat mengidentifikasikan sebuah bangunan benar-benar dirancang sesuai konsep hemat energi.  Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, data diperoleh dari studi literatur, pengamatan dan pengukuran langsung ke lapangan, serta wawancara dengan pihak terkait. Berdasarkan teori-teori yang ada, maka dilakukan analisa penelitian terhadap faktor-faktor yang berpengaruh terhadap efisiensi tindakan perawatan bangunan tinggi pada objek studi.  Dari hasil penelitian tersebut didapatkan kesimpulan bahwa walaupun telah tersedia fasilitas perawatan pada objek, namun dimensinya belum sepenuhnya memenuhi ketentuan standard. Keadaan fasilitas yang demikian menyebabkan tindakan perawatan yang terbilang tak efisien pada rusun tersebut.  Kata Kunci: evaluasi, fasilitas dan tindakan perawatan, rumah susun, Apartemen Ciumbuleuit Bandung
KONFIGURASI UNIT HUNIAN DAN TINGKAT PRIVASI VISUAL PADA LIMA APARTEMEN DI JAKARTA Lukito, Sophie; Sanjaya, Christian L.
TATANAN Vol 1, No 2 (2007)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract                  Balancing between the privacy needs and the public interests became an important thing on a vertical housing. Privacy is correlated with the articulation of dwelling units configuration on the Apartment.                  In this study, there are five Apartments in Jakarta, chosen as the research objects, those are Metro Sunter Apartment, Bumi Mas-Hilltop Apartment, Pavillion Apartment, Parkview Apartrænt, and Semanggi Apartment.                  The variables in this study include: free distance between buildings; visual distance; height-depth ratio of space between buildings; building orientation and facade opening; and visual interaction in building.                  The finding of this study is about correlation between dwelling units configuration with the level of visual privacy at those five apartments.  Keywords: dwelling units configuration, level of privacy, apartment, Jakarta  Abstrak                 Keseimbangan antara kebutuhan privasi dan kepentingan publik menjadi sesuatu yang penting dalam perumahan vertikal. Privasi berkaitan dengan artikulasi konfigurasi unit-unit hunian pada apartemen.                 Pada studi ini ada lima apartemen di Jakarta yang dipilih sebagai obyek penelitian yaitu Apartemen Metro Sunter, Apartemen Bumi Mas-Hilltop, Apartemen Pavilion, Apartemen Parkview, dan Apartemen Semanggi.                 Variabel pada studi ini mencakup: jarak bebas antar bangunan; jarak jangkauan visual; perbandingan tinggi dan jarak pada ruang antara bangunan; orientasi bangunan dan arah bukaan pada fasad; serta interaksi visual di dalam bangunan.                 Temuan studi ini adalah tentang hubungan antara konfigurasi unit-unit hunian dengan peringkat privasi visual pada lima apartemen tersebut. Kata Kunci: konfigurasi unit hunian, tingkat privasi, apartemen, Jakarta
PENGARUH TATA LETAK PERABOT TERHADAP RUANG GERAK PADA UNIT HUNIAN APARTEMEN DAGO BUTIK Phanduwinata, Vici
TATANAN Vol 3, No 1 (2009)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The growth of multi-family housing in the form of apartment in big cities in Indonesia, especially in Bandung, has been a phenomenon nowadays. Dago, which is located in northern Bandung, has become an area that grows rapidly in apartment building. Dago Butik Apartments in this area is one of the examples of the phenomenon. This apartment has various types of units offered to the users, most of them are mid-high class people. Dago Butik Apartments has 6 types of units in 16 different levels. Each type has different dimensions. This study will analyze about the effectivity and efficiency of the units in this apartment. Effectivity and efficiency are one of the most important things in designing a building, including apartment. These factors can be seen in the effectiveness and the efficiency of the units design. The space formed in the apartment units is linked to the activity pattern and the inhabitants need. In this paper, the effectivity and efficiency will be linked to the tenants activities. Through the analysis, the pluses and minuses of Dago Butik Apartment units will come out. In general, it can be told how a unit can be effective and efficient.  Key Words: apartment, housing unit, effectivity, and efficiency  Abstrak Pesatnya pembangunan "multi-family housing" dalam bentuk apartemen di kota-kota besar di Indonesia, terutama di Kota Bandung, merupakan sebuah fenomena yang sedang berkembang akhir-akhir ini. Kawasan Dago, yang terletak di kawasan Bandung Utara menjadi salah satu kawasan yang mengalami perkembangan pesat dalam pembangunan apartemen. Apartemen Dago Butik yang dibangun pada kawasan ini adalah salah satu perwujudan nyata dari fenomena tersebut. Apartemen ini mempunyai berbagai macam tipe unit yang dapat ditawarkan kepada sasaran penggunanya yang rata-rata merupakan masyarakat dari kalangan menengah ke atas. Apartemen Dago Butik mempunyai 6 buah tipe unit yang tersebar dalam 16 lantai. Masing-masing tipe unit yang ditawarkan tersebut mempunyai besaran yang berbeda-beda. Dalam penelitian ini akan dianalisa mengenai efektivitas dan efisiensi unit-unit pada Apartemen Dago Butik. Efektivitas dan efisiensi merupakan salah satu faktor yang signifikan dalam mendesain sebuah bangunan, termasuk apartemen. Faktor efektivitas dan efisiensi ini salah satunya dapat dilihat dari segi keefektifan dan keefisienan ruang-ruang unit yang terdapat pada apartemen tersebut.Pembentukan ruang pada unit-unit apartemen tentunya berkaitan dengan pola aktivitas dan kebutuhan penghuni apartemen yang bersangkutan. Maka dalam pembahasan ini,efektivitas dan efisiensiunit pada Apartemen Dago Butik akan dikaitkan dengan pola aktivitaspenghuninya.Dengan pembahasan tersebut, maka secara khusus akan diketahui beberapa kelebihan dan kekurangan unit-unit pada Apartemen Dago Butik. Dan secara umum akan diketahui bagaimana sebuah unit dapat dikatakan benar-benar efektif dan efisien. Kata Kunci : apartemen, unit hunian, efektifitas dan efisiensi 
PENGARUH PENCAHAYAAN ALAMI TERHADAP KENYAMANAN PANDANG DAN KONSERVASI BENDA SENI PADA GALERI I MUSEUM AFFANDI, YOGYAKARTA Susanto, Aditya
TATANAN Vol 3, No 2 (2009)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Museum is a place to collect things with art value. Museum should be able to give information to public and also have a rule as a conservatory. To fulfill the function, museum should have exact light intensity to support visual activity and its artifact conservation. Galeri I Museum Affandi has a unique building design. The building which is built by the late Affandi, explores natural light for prime lighting source inside the gallery. The use of stretched skylight at the center of the roof make the natural light come out inside the gallery. Lighting with exact intensity which come out inside gallery will give visual comfort for appreciator Whereas from the conservation side, it is important for the artifact to not be gaze by the light. Daylighting is very good for visual activity inside the gallery because it has better color rendering and the most complete color spectrum.ln the other side, daylighting bring us UV ray which has bad effect for artifact conservation. Method used in this observation is descriptive-qualitative. That is measurement of the light intensity, dimension height of the artifact, simulation of the light come off inside gallery. Than, the report is compared with the visual comfort and conservation standard and theory from other sources. Generally, Galeri I Museum Affandy has over light intensity for visual activity. Ray come off from the skylight makes the gallerys intensity become unbalanced. It will brings bad influence for visual comfort and artifact conservation in this gallery.  Key Words: day lighting, visual comfort, artifact conservation  Abstrak  Museum merupakan tempat yang digunakan untuk menyimpan benda yang memiliki nilai seni. Museum diharapkan selain sejelas-jelasnya memberikan informasi kepada khalayak umum, juga harus menjalankan peran sebagai media konservasi dari benda seni yang ada pada museum tersebut. Dalam memenuhi fungsinya tersebut, museum memerlukan intensitas cahaya yang cukup untuk kegiatan visual yang terjadi dan tidak berlebih agar mendukung kelestarian benda seni. Galeri I di kompleks Museum Affandi memiliki bentuk dan desain bangunan yang unik. Bangunan yang diarsiteki oleh almarhum Affandi sendiri ini memanfaatkan cahaya alami sebagai sumber pencahayaan utama dalam ruang pamernya. Penggunaan skylight yang memanjang di tengah area atap ini memungkinkan cahaya alami masuk ke dalam ruang pamer di dalam galeri. Pencahayaan yang masuk ke dalam galeri dengan intensitas yang cukup, akan memberikan kenyamanan pandang bagi pengamat dalam mengapresiasi suatu benda seni. Sebaliknya dalam segi konservasi, benda seni diharapkan sesedikit mungkin mendapat cahaya untuk menjaga kelestarian benda seni. Cahaya alami, sangat baik jika digunakan untuk kegiatan visual dalam ruang pamer karena memiliki color rendering yang lebih baik dan spektrum warna yang paling lengkap. Namun cahaya alami membawa sinar UV yang akan berdampak buruk bagi suatu konservasi benda seni.  Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu dengan pengukuran intensitas kuat cahaya, pengukuran ketinggian benda seni dua dimensi, dan simulasi sinar yang masuk dalam galeri. Kemudian hasilnya dibandingkan dengan teori dan standar untuk kenyamanan pandang dan konservasi yang didapat dari berbagai sumber.  Secara umum, Galeri I Museum Affandi mendapat intensitas yang berlebih untuk kegiatan visual, sinar yang masuk melalui skylight menyebabkan kurang meratanya intensitas dalam ruang, hal ini akan berakibat buruk pada kenyamanan pandang pengamat dan konservasi pada benda seni dalam galeri ini.   Kata Kunci: pencahayaan alami, kenyamanan pandang, konservasi benda seni   
TINGKAT KENYAMANAN THERMAL DAN PENCAHAYAAN PADA UNIT RUSUN SARIJADI, BANDUNG DAN RUSUNAWA CIGUGUR TENGAH, CIMAHI (TERHADAP BUKAAN, BENTUK, DAN KONFIGURASI MASSA) Sugiarto, Fransisca
TATANAN Vol 2, No 2 (2008)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The practice of low cost multi-storey housings for the middle-to-low-income society is, in reality, much more preoccupied by the budget/economical concerns rather than its health aspects, amenities conditions, and the occupants health and safety. Yet the amenities condition is actually linked closely to the visual comfort (lighting) and thermal provisions (heating/cooling). As a popular low cost multi-storey housing, Sarijadi Bandung and Cigugur Tengah, Cimahi, is actually have good credits in visual and thermal comfort. These were obtained through geometric, mass configuration and opening plans. The geometric and mass configuration as were in Cigugur Tengah Multi-storey Housing, Cimahi, creates comfort conditions (visual and thermal) in this building. The geometric and mass configuration creates positive and negative pressure areas that support the opening plans (windows). Besides, geometric and mass configuration could also create units which position creates natural ventilation and natural lighting into all building corners anytime of the day. Opening plan will also define the visual and thermal comfort of a room. It is related to its orientation, dimension, and window types. Windows have to be designed in order to gain maximum natural lighting and natural ventilation, whilst considering the comfort of the building occupants. Besides opening plans, geometric and mass configuration, the behaviour and the habits of the occupants, site conditions, and amount of the occupants also influence the level of occupational comforts in the low cost multi-storey housing.  Key Words: visual and thermal comfort, geometric, mass configuration  Abstrak Pemenuhan kebutuhan perumahan bagi MBR lebih difokuskan pada persyaratan ekonomis tanpa mengedepankan persyaratan kesehatan, kenyamanan, keselamatan dan kemudahan. Persyaratan kenyamanan rumah susun sangat terkait dengan kenyamanan visual (pencahayaan) dan thermal (penghawaan) dari unit Rusun itu sendiri. Sebagai rusun yang cukup diminati, Rusun Sarijadi, Bandung dan  Rusunawa Cigugur Tengah, tentunya memiliki tingkat kenyamanan visual (pencahayaan) dan kenyamanan thermal (penghawaan) yang cukup baik. Kenyamanan tersebut dapat dicapai melalui bentuk dan konfigurasi massa serta rancangan bukaan. Bentuk dan konfigurasi massa seperti pada Rusunawa Cigugur, Tengah akan lebih menunjang untuk kenyamanan unit rusun (visual dan thermal). Karena bentuk dan konfigurasi tersebut, akan menciptakan daerah bertekanan positif dan negatif yang cukup menunjang desain bukaan. Selain itu, bentuk dan konfigurasi tersebut juga akan menciptakan unit-unit dengan letak/posisi yang dapat memasukkan angin dan cahaya alami ke seluruh sudut bangunan setiap saat.  Rancangan bukaan juga akan sangat menentukan kenyamanan thermal serta visual suatu ruangan. Rancangan bukaan yang dimaksud, terkait dengan letak/posisi bukaan, dimensi bukaan dan jenis bukaan. Desain bukaan harus dibuat sedemikian rupa untuk dapat memanfaatkan pencahayaan dan penghawaan alami dengan tetap mempertimbangkan kenyamanan pengguna ruangan tersebut.  Selain desain bukaan dan bentuk massa, perilaku dan kebiasaan penghuni, keadaan lingkungan sekitar serta jumlah penghuni unit rusun, juga akan mempengaruhi tingkat kenyamanan suatu unit hunian rumah susun.   Kata Kunci: kenyamanan termal dan pencahayaan, bentuk, konfigurasi massa  
POLA PENYELARASAN RUANG PADA UNIT HUNIAN DI RUMAH SUSUN SARIJADI BANDUNG Santoso, Amirani Ritva; Perris, Gina
TATANAN Vol 1, No 1 (2007)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract                This study examines adjustment pattern done by the occupants of low cost multi-storey housing – Sarijadi Bandung to their dwelling units that have been occupied for more than ten years. The main interest of this study was ignited by the significant degradation in Bandung’s environmental quality due to the lack of planning in horizontal urbal expansion. The vertical city development needs to be considered such as developing low cost multi-storey housing to avoid environmental degradation and improve the wealth grade of middle-low income society which is dominating the population in Indonesian big cities. Every family wants to have a home which could accomplish their basic needs and needs of self-actualization. It is not a simple task to live in small dwellings unit at a low cost multi-storey housing and neighboring with others and also sharing common space. That is why the occupants have to adapt simultaneously due to the changing of their daily activities as their lifecycle’s changing. Observation has been done by direct observation and interview with the occupants, five units each from long-type and short-type blocks. Observation focused in occupants’ change of living space pattern and daily activities rhythm, which concluded daily needs and self-actualization accomplishment. It is important to find the problem cause and its effect for daily activities rhythm and will be use for further improvement in dwelling unit’s design for a low cost multi storey housing in the future. Key words: adjustment pattern, low cost multi storey housing, Sarijadi Bandung Abstrak                Studi ini membahas tentang pola penyelarasan ruang yang dilakukan oleh penghuni Rumah Susun Sarijadi Bandung pada unit hunian yang telah dihuni selama lebih dari sepuluh tahun. Studi dilakukan karena pengembangan kota Bandung secara horisontal. Pengembangan vertikal kota perlu dipertimbangkan dan salah satu cara efektif adalah pembangunan rumah susun untuk menghindari dampak lingkungan yang lebih buruk sekaligus berguna bagi kesejahteraan masyarakat yang mayoritas menengah ke bawah. Setiap keluarga pasti mendambakan hunian yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan dasar dan aktualisasi diri. Tidak mudah menghuni unit hunian di rumah susun sederhana dengan unit hunian lain disekelilingnya dan luas terbatas serta harus berbagi ruang bersama. Sejalan masa huni yang panjang, ritme aktivitas keseharian masing-masing anggota keluarga berkembang dan berubah sesuai siklus kehidupannya. Untuk itu penghuni perlu terus menerus melakukan penyelarasan ruang pada unit hunian. Pengamatan dilakukan melalui pengamatan langsung dan wawancara dengan penghuni, masing-masing pada lima unit hunian di blok tipe panjang dan pendek. Fokus pengamatan pada perubahan tatanan ruang dan ritme aktivitas keseharian penghuni, meliputi aktivitas pemenuhan kebutuhan dasar hingga aktualisasi diri. Hal ini akan dibahas untuk menemukan penyebab masalah dan akibatnya pada ritme keseharian penghuni dan akan dijadikan landasan pembuatan saran bagi bentuk dan tatanan unit hunian bagi rumah susun sederhana di masa mendatang. Kata Kunci:  pola penyelarasan, rumah susun, Sarijadi Bandung
PENGALAMAN INDERA SEBAGAI PENDEKATAN PERANCANGAN Wijayaputri, Caecilia S.
TATANAN Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract            The architecture which surrounds us influences our thought, and subsequently our behavior. The understanding of the relationship between the environment and our mind is important, particularly for designers of built-environments. Our brain is not only hard-wired to interpret certain spatial characteristics in certain ways, but also plays a role in how we make environmental decisions. By designing with greater insight into how the human mind processes architecture, professional designers might be able to help occupants to live healthier, more meaningful and happier, as architectural qualities of an environment do trigger a wide variety of human response. The main idea is that our brain interprets architecture through our mind and plays a role in influencing our thoughts and subsequent behavior.             As architects, we should try to harness this understanding. The beautiful thing about architecture is that it can “tap into” an occupant’s past meaningful experiences through their senses and their emotion. Architecture also has the power set the stage for occupants to create new meaningful experiences -and memory plays a key role in helping to make all of this possible. Within architectural space it is important to establish a sense of place. This is true not only for the architecture to be good but also for our experience within that space to be memorable. In addition, architecture can be defined as a highly refined cultural statement.             Thus, this paper outlines a design thinking and design methods whose objectives are to develop a heightened understanding of the complex dialogue between behavior and architecture, and foster the type of analytical, critical, and creative abilities that are essential to addressing cultural diversity and change.  Key Words: sense of place, environmental behavior, design methods Abstrak            Arsitektur dalam kehidupan sehari-hari memberi pengaruh pada pikiran, dan secara tidak sadar kemudian mempengaruhi perilaku. Pemahaman akan hubungan antara lingkungan binaan dan pikiran manusia kemudian menjadi penting, terutama bagi perancang lingkungan binaan. Otak manusia tidak saja dapat menginterpretasi karakter spatial tertentu dengan cara tertentu, namun juga memiliki peran penting dalam cara manusia membuat keputusan desain. Melalui pemahaman yang lebih mendalam akan cara pikiran manusia memproses bentukan arsitektur, para perancang profesional dapat lebih mempengaruhi pengguna untuk hidup lebih sehat, lebih bermakna, dan lebih bahagia, karena kualitas arsitektur dalam lingkungan binaan secara nyata memicu keberagaman persepsi manusia. Ide utamanya adalah otak manusia menginterpretasi arsitektur melalui pikiran yang kemudian mempengaruhi perilaku.            Sebagai arsitek kita memiliki kewajiban untuk memahami hubungan ini, di mana arsitektur dapat masuk ke dalam pikiran manusia sebagai bagian dari memori yang memiliki makna tertentu, melalui indera dan emosi. Arsitektur juga dapat berperan sebagai panggung untuk mendapatkan pengalaman ruang yang bermakna dengan bantuan dari memori. Oleh sebab itu diperlukan adanya sebuah rasa kepekaan akan ruang tidak hanya untuk keindahan sebuah bentukan arsitektur namun juga sebagai pengkayaan pengalaman ruang. Arsitektur dapat juga disebut sebagai sebuah pernyataan budaya.            Penelitian ini kemudian membahas pemikiran desain dengan tujuan mengembangkan pemahaman akan hubungan perilaku dan arsitektur, secara analitis, kritis, dan kreatif untuk membawa kesadaran akan keragaman perseptual dan akhirnya perubahan pada metode perancangan. Kata Kunci: kepekaan ruang, perilaku lingkungan, metode perancangan