cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
TATANAN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 90 Documents
KUALITAS ARSITEKTURAL UNIT HUNIAN DENGAN LUAS MINIMAL DI RUMAH SUSUN PASAR JUMAT Antono, Bertha
TATANAN Vol 2, No 2 (2008)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Low Cost Apartment is one of the solutions in solving the citys problem as the limited space also the increasing of the residences needs. But the low cost apartment is usually made for the middle-low class community, oftentimes they ignores the quality of the architecture sector itself in order to compress the expense. While in every residence, the occupants always try to find the residences place which has qualities with the reasonable price. By having this research, can be seen how far some simple low cost apartment can the architectures qualities which is adequate even though the space is limited. The case which is chosen is the Pasar Jumat Low Cost Apartment. Pasar Jumat Low Cost Apartment is held on the Jakarta city and have one type unit which is type 21. The understanding of this architectures quality contains of some important aspects. Those aspects are the spaces qualities, lightings, circulations, utilities and also the esthetics. The most important aspects based on the minimal space in some residence are the spaces qualities, lightings, and circulations. But all those aspects are still influence how some residence is graded as the qualities one or not, by making the combination from some other factor as the occupants and also the rules of those developers themselves.  Key words: architectures qualities, low cost apartments unit, minimal space  Abstrak Rumah susun merupakan salah satu solusi dalam menangani masalah perkotaan atas keterbatasan lahan maupun peningkatan kebutuhan hunian. Namun rumah susun sederhana yang pada umumnya ditujukan untuk kalangan menengah ke bawah, seringkali mengabaikan segi kualitas arsitektural sendiri guna menekan biaya. Sedangkan untuk setiap tempat tinggal, penghuni senantiasa mencari hunian berkualitas dengan harga terjangkau. Melalui penelitian ini dilihat sejauh mana suatu rumah susun sederhana mampu menghadirkan kualitas arsitektural yang memadai walaupun dengan luas yang cukup terbatas. Studi kasus yang dipilih adalah Rumah Susun Pasar Jumat. Rumah Susun Pasar Jumat ini berada di kota Jakarta dan memiliki satu jenis unit yaitu type 21. Pengertian kualitas arsitektural di sini mencakup beberapa aspek penting. Aspek-aspek tersebut adalah kualitas ruang, pencahayaan, sirkulasi, utilitas dan juga estetika. Aspek yang paling berperan penting sehubungan dengan luas minimal suatu hunian adalah kualitas ruang, pencahayaan dan sirkulasi. Namun keseluruhan aspek tersebut tetap mempengaruhi bagaimana suatu hunian dinilai berkualitas atau tidak, dengan mengkombinasikan beberapa faktor penentu lain seperti penghuni maupun peraturan pengelola sendiri.  Kata kunci: kualitas arsitektural, unit hunian rumah susun, luas minimal
PENGARUH KENYAMANAN PSIKO-VISUAL DARI PENCAHAYAAN BUATAN PADA ERHACLINIC MEDICAL CENTER FOR DERMATOLOGY DI JAKARTA Pangestu, Mira Dewi; Puspita Santi, Intan Irani
TATANAN Vol 3, No 1 (2009)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Basically, artificial lighting only has lighting function, i.e. fulfilling quantitative visual requirement according to task being carried. In design of artificial lighting, though, qualitative aspects also need to be considered especially in commercial building in order to accentuate, to express its character, to define form, to provide certain effects, to build the buildings image, to provide visual comfort for its users, etc. These all can affect its occupants deeper feeling: emotion, psychology, and intellect so that architectural creation can speak louder through its artificial lighting design. This research is carried out in response to the vast spread of dermatology clinic in Indonesias large cities. Another aim is to learn how artificial lighting design can contribute to add value to creating environment that promote its users emotional and psychological condition. erhaclinic as one of frontline dermatology clinics in Indonesia is chosen due to its large network of branches in Indonesia. One of erhaclinics Jakarta-branch buildings is studied of its use of exterior and interior artificial lighting. This qualitative research departs from theory-based observation, especially visual and psycho-visual comfort. Then questionnaire method is employed to support above observation, and its conclusion is the final analysis of the observation. From several findings it is concluded that artificial lighting design of this particular erhaclinic building is a fundamental factor of visual perception of its users, successfully creating warm, comfortable, and calm mood, and giving luxurious impression that they feel they are not in a medical center. The creation of this perception is deemed important in attracting more visitors who have dermatological needs.  Key Words: artificial lighting, psycho-visual comfort, medical center for dermatology, Jakarta  Abstrak Mulanya pencahayaan buatan hanya berperan sebagai lighting function, yaitu untuk memenuhi kebutuhan visual akan kuantitas yang disesuaikan dengan fungsi ruang dan jenis aktivitas yang dilakukan. Namun dalam perencanaan pencahayaan buatan, terutama pada bangunan komersial juga mempertimbangkan masalah kualitas untuk dapat menimbulkan aksentuasi, mengekspresikan karakter, mendefinisikan bentuk, memberikan efek tertentu, membangun eksistensi, memberikan pengalaman estetis, membangun image/kesan, memberi kenyamanan visual bagi pengamatnya, membangun harmoni serta membangun suasana, yang dapat mempengaruhi ‘deeper feeling’ yaitu emosi, psikologis, dan intelektual dari penggunanya sehingga karya arsitektur dapat lebih berbicara melalui desain pencahayaan buatannya. Pelaksanaan penelitian dilakukan berdasarkan pengamatan terhadap pesatnya perkembangan keberadaan clinic for dermatology di kota-kota besar di Indonesia. Pertimbangan selanjutnya adalah keinginan untuk lebih mendalami tentang bagaimana melalui perancangan yang optimal dari pencahayaan buatan, khususnya pada bangunan medical center dapat memberikan nilai tambah dalam menciptakan suasana yang membentuk emosi dan psikologis bagi penggunanya. erhaclinic sebagai klinik spesialis kulit yang terdepan di Indonesia dipilih sebagai obyek studi, karena klinik ini akan terus dikembangkan dengan menambah lagi jaringannya di kota-kota besar di Indonesia. Dari bangunan erhaclinic ini akan ditinjau mengenai pemanfaatan pencahayaan buatan dalam membentuk atmosfir yang dapat memberikan efek positif dalam desain baik pada interior maupun eksterior bangunannya. Penelitian kualitatif ini berangkat dari pengamatan yang didasarkan pada teori, khususnya mengenai kenyamanan visual dan psiko-visual. Kemudian dibuat kuesioner untuk memperkuat hasil pengamatan dan kesimpulan merupakan analisa akhir dari hasil pengamatan. Dari beberapa temuan sebagai hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa desain pencahayaan buatan pada bangunan erhaclinic merupakan faktor fundamental dalam pembentukan persepsi visual yang telah berhasil menciptakan suasana hangat, nyaman, dan tenang, serta menciptakan kesan mewah dan merasa seperti tidak berada di sebuah medical center. Namun demikian, pencahayaan buatan bukanlah satu-satunya faktor penentu dalam pembentukan suasana ruangan. Pencahayaan tidak dapat terlepas dari desain interiornya. Pembentukan suasana tersebut dapat menjadi salah satu daya tarik bagi pengunjung dalam memilih klinik untuk memenuhi kebutuhannya dalam hal dermatology.  Kata Kunci: pencahayaan buatan, kenyamanan psiko-visual, medical center for dermatology, Jakarta 
EKSPRESI PANORAMA PADA KORIDOR JALAN TERKAIT EKSISTENSI JEMBATAN AMPERA KOTA PALEMBANG (STUDI KASUS: JALAN SUDIRMAN DAN JALAN RYACUDU) Sugiarto, Roni; Muliawan, Rachman
TATANAN Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractCorridor is a space in a city that serves as a regional connection between one area with other areas. Sudirman Street and Ryacudu Street are corridors in the city of Palembang. Both of these streets are separated by Musi River and the corridors connected by Ampera Bridge. Panoramic sequences consisting of rhythm, proportion, and visual perception in this corridor should provide a good existence of the Ampera Bridge as a landmark of Palembang City. This research used a qualitative descriptive method to describes how the panoramic Sudirman Street and Ryacudu Street corridor associated with the existence of Ampera Bridge.The analysis of segment distribution of each corridor based on a sample section draw and sketching with the data processing method of the survey in the field. Based on observation, rhythm, proportion, and visual perception contained in the both of corridors are already giving panoramic related to the existence of Ampera Bridge. However, with the not orderly construction of fly-over and billboards, it is disturbing the exsistence of Ampera Bridge. Moreover, the panorama related to the existence of Ampera Bridge which initially be viewed from each corridor, began to fade.  Key Words: panoramic, rhythm, proportion, visual perception, corridor, Ampera Bridge                                                                                                 AbstrakKoridor merupakan salah satu ruang dalam sebuah kota yang berfungsi sebagai penghubung sebuah kawasan dengan kawasan lain. Jalan Sudirman dan Jalan Ryacudu merupakan koridor yang berada di kota Palembang. Kedua jalan ini dipisahkan oleh Sungai Musi dan sebagai koridor jalan dihubungkan oleh Jembatan Ampera. Rangkaian panorama yang terdiri dari irama, proporsi, dan persepsi visual pada koridor ini diharapkan memberikan tingkat eksistensi yang tinggi Jembatan Ampera sebagai landmark Kota Palembang.            Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang berusaha menggambarkan bagaimana panorama koridor Jalan Sudirman dan Jalan Ryacudu terkait dengan eksistensi Jembatan Ampera. Pembagian segmen setiap koridor dianalisis berdasarkan sampel potongan gambar dan sketsa dengan metode pengolahan data dari hasil survey di lapangan. Berdasarkan hasil pengamatan: irama, proporsi, dan persepsi visual yang terdapat pada kondisi kedua koridor ini sudah memberikan panorama terkait eksistensi Jembatan Ampera. Namun, dengan adanya pembangunan jalan layang dan peletakan papan reklame yang tidak tertib, mengakibatkan eksistensi Jembatan Ampera terganggu. Selain itu panorama terkait keberadaan Jembatan Ampera yang pada awalnya terlihat dari setiap koridor, mulai memudar. Kata Kunci: panorama, irama, proporsi, persepsi visual, koridor, Jembatan Ampera
EFEKTIFITAS ELEMEN-ELEMEN PENEDUH BANGUNAN DARI SINAR MATAHARI OBJEK STUDI: KANTOR POS INDONESIA BANDUNG Pralabda, Poetro
TATANAN Vol 3, No 2 (2009)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Sun is one of the factors that influence the building comfort. Uncontrolled sunlight will result bad effect on building comfort. A building is potential in getting direct sunlight. This light will enter a building through the openings. The biggest possibility is through the window, whereas the surface usually coveted with glass. The direct sunlight can result glare and heat inside the building. Thats why, there should be some protection for the openings such as sun shade. The heat can also affect the building even though there is no direct sunlight but it will not be discussed in this study. There are various kinds of building shades that can be used to protect the windows from direct sunlight. In reality, the application sometimes doesnt fit the situation. The shade needs to be effective and should fit the needs. This study proved the misuse of the shade will cause an ineffectiveness and therefore it needs a design. To know the effectivity of the shade, there will be some measurement towards the shades, using some datas collected from the ecotect observation. The object of this study is Kantor Pos Indonesia Bandung which uses various kinds of shades, such as sun shade, glass, and mass configuration. The analysis resulted a misuse of the shade element that made the shade ineffective.  Key Words: effectivity, building shade, sunlight  Abstrak Matahari merupakan salah satu faktor yang menentukan dalam menciptakan kenyamanan bangunan. Sinar matahari yang tidak terkendali dapat mengakibatkan gangguan terhadap kenyamanan bangunan. Bangunan berpotensi terkena sinar matahari langsung. Sinar matahari akan masuk ke dalam bangunan melalui bukaan selubungnya. Kemungkinan paling besar sinar matahari masuk adalah melalui jendela, dimana pada bagian ini permukaannya biasa ditutup dengan material kaca. Sinar matahari yang masuk secara langsung mengakibatkan silau dan juga panas didalam ruangan menjadi terakumulasi, sehingga perlu diberikan perlindungan terhadap bukaan yang ada, berupa peneduhan terhadap bukaan tersebut. Gangguan panas juga dapat merambat masuk meskipun sinar matahari tidak masuk kedalam ruangan, tetapi hal tersebut tidak masuk dalam pembahasan ini. Terdapat jenis-jenis elemen peneduh yang dapat dimanfaatkan untuk memberikan perlindungan jendela dari sinar matahari langsung. Namun dalam penerapannya banyak yang tidak tepat. Ketidaktepatan ini menjadikan elemen peneduh yang digunakan tidak efektif karena tidak dapat berfungsi sebab elemen ini perlu disesuaikan dengan kebutuhan.  Penelitian ini membuktikan penggunaan yang tidak tepat akan mempengaruhi efektifitas penggunaan elemen peneduh pada bangunan untuk melindungi bangunan dari masuknya sinar matahari langsung kedalam bangunan, sehingga diperlukan perencanaan untuk penggunaannya. Untuk mengetahui keefektifan penggunaan elemen peneduh tersebut dilakukan perhitungan terhadap peneduhan yang terjadi dari masing-masing elemen peneduh, dengan menggunakan data-data menyangkut informasi matahari dari program ecotect.  Objek yang diteliti adalah Kantor Pos Indonesia Bandung, bangunan ini menggunakan beberapa jenis elemen peneduh, yaitu SPSM, kaca dan massa melalui konfigurasinya. Dari hasil penelitian didapat ketidaktepatan dalam penggunaan elemen peneduh tersebut, menjadikan elemen peneduh yang digunakan menjadi tidak efektif.  Kata Kunci: efektifitas, peneduh bangunan, sinar matahari  
EFISIENSI ENERGI AC PADA RUMAH INDUSTRI DENGAN METODA KESEIMBANGAN TERMAL Oktavia, Tantri; A. S., Philip
TATANAN Vol 2, No 2 (2008)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Bandung is one of the city that is crowded with visitors; they come to have a vacation or to trade. Thus it is balanced with the growth of industrial and trading area within the city Therefore Home Office and Industrial Home appeared within the city. Industrial Home mostly grows in Southern Bandung and Eastern Bandung, which is a dense-populated area with an uncomfortable atmosphere. Based on the first survey done by the team, those areas are troubled by sound pollution, engine vibration and fluctuated temperature change inside the room. Based on those problems, industrial area and housing area needs to be separated with the tendency of an air-conditioned room is installed to the ground floor of the houses in the housing area. Those installations could create a thermal comfort but its a common fact that the usage of air-conditioner will add an operational cost due to the big energy usage. Based on the literature, decreasing the power of the air-conditioner couldnt increase the energy efficiency of the air-conditioner itself but it creates an unwanted condition followed by a decrease in the human productivity. Therefore to increase the energy efficiency of the air-conditioner, we should have the space and building engineered, which could be calculated with the thermal equilibrium method.By doing some efforts to decrease the air-conditioning energy usage (internal or external efforts), we could save a quite numerable amount of money while fulfilling the human comfort standard. The most effective way to decrease the energy usage of the air-conditioner is to isolate the heat source which is comes from within the room. These conditions should be fulfilled because the engines in the room produced about 1500 Watts of heat. Therefore an ideal building with a tropical building type will be doubted to be comfortable if it is used as an industrial home; especially those with a western or eastern orientation, in addition to the condition above applying the sun-shading to all of the walls in the building could increase the effective.  Key Words: air-conditioner energy efficiency, Industrial Home, thermal equilibrium method  Abstrak Kota Bandung termasuk kota yang banyak didatangi oleh pendatang, baik untuk berwisata maupun untuk berdagang. Hal ini diimbangi dengan bertambahnya kawasan industri dan perdagangan di kota Bandung. Oleh karena itu, muncul banyak Ruko (rumah toko) dan Rutri (rumah industri). Perkembangan Rutri di kota Bandung sebagian beşar di daerah Bandung Selatan dan di Bandung Timur. Yang mana di kedua daerah tersebut merupakan daerah yang padat penduduk dan tidak nyaman dari segi udaranya.Berdasarkan hasil survei awal yang dilakukan, permasalahan yang timbul terutama pada kebisingan, getaran mesin dan suhu udara yang panas dalam ruangan. Oleh karena itu dilakukan pemisahan antara industri dan hunian secara vertikal dengan kecenderungannya menggunakan AC pada lantai huniannya. Keuntungan yang didapat dari penggunaan AC tersebut adalah kenyamanan termal, namun kerugiannya adalah bertambahnya biaya operasional yang dikarenakan oleh penggunaan AC yang terbukti (rahasia umum) memakan banyak energi.  Dari literatur dikatakan bahwa pengefisienan energi AC bukan berarti merekayasa dari AC-nya sendiri (misalnya dengan mengecilkan AC atau mengurangi tingkat penyejukan dari AC, yang akan menimbulkan ketidaknyamanan, sehingga dapat memberikan konsekuensi lebih lanjut dengan berkurangnya produktifitas penghuninya). Akan tetapi perlu dilakukan rekayasa ruang dan bangunannya sendiri, yang dapat diperhitungkan secara eksak dengan metoda keseimbangan termal.  Dengan dilakukannya beberapa upaya untuk mengurangi beban penyejukan AC baik penanggulangan panas eksternal maupun internal, dapat dilakukan penghematan yang cukup besar namun tetap memenuhi standar kenyamanan manusia. Upaya yang paling efektif melakukan pengurangan daya AC yaitu dengan mengisolasi sumber panas yang berasal dari dalam ruangan, karena mesin-mesin memberikan panas yang cukup besar yaitu sebesar 1500W. Bangunan yang ideal dengan tipikal bangunan tropis belum tentu sesuai atau nyaman, jika fungsinya RUTRI terutama pada bangunan yang memiliki arah hadap Barat-Timur. Selain itu dengan adanya sun-shading pada setiap dinding bangunan akan menambah efektifitasnya.   Kata Kunci : efisiensi energi AC, Rumah Industri (Rutri), keseimbangan termal.  
EVALUASI PRASARANA DAN SARANA PADA RUMAH SUSUN SARIJADI BANDUNG Putrie, Inta Catur; Sidik, Ersen
TATANAN Vol 1, No 1 (2007)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract                Housing has a very important role for human life; it is the one of three primary human needs which are food, clothes and shelter. For fulfill the human needs of houses, the government made a policy to build low cost housing for the lower income community. Flat was the one option of low cost housing that government built. To build a low cost public housing there is a standard and regulation that must be followed ro make the housing environment better. Unfortunately, the big concern only on economical aspect in design process seems like that the potential dwellers’ needs and wants has been ignored. As well as the standard and the regulation. Utilities and facilities are the things that must be provided in a housing environment and must follow the regulation to make the people or community living much better and give them satisfaction in daily life. The purpose of this study is to know whether the facilities in Sarijadi flat are fit with the standard that given or not, and to know whether the community of Sarijadi flat are satisfied with the facilities that there were or not. The method that is used in this study is quantitative method. The data are from literature, observation and questionnaire also interview to community. The conclusion is not all the facilities in Sarijadi flat followed the standard and regulation. Although not all the facilities followed the standard and regulation, the people mentioned that the utilities and the facilities are complete enough and can meet their needs. Key Words: evaluation, utility and facility, low cost public housing, Sarijadi Bandung Abstrak                Perumahan mempunyai fungsi dan peranan yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Perumahan dan permukiman merupakan salah satu dari tiga kebutuhan dasar manusia (sandang, pangan dan papan). Pembangunan perumahan dan permukiman merupakan upaya yang dilakukan pemerintah untuk memenuhi salah satu kebutuhan dasar manusia akan tempat tinggal terutama bagi golongan masyarakat menengah ke bawah. Upaya pemerintah untuk memenuhi kebutuhan manusia akan tempat tinggal adalah dengan pembangunan rumah murah yang salah satunya adalah rumah susun. Dalam pembangunan rumah susun terdapat standar dan ketentuan yang harus diikuti agar lingkungan perumahan menjadi lebih baik. Namun perhatian yang lebih ditekankan pada aspek ekonomi, menyebabkan seolah-olah dalam proses perancangan, kebutuhan dan keinginan calon penghuni terabaikan, demikian pula dengan standar dan peraturan. Prasarana dan sarana meruapakan hal yang harus disediakan pada suatu lingkungan perumahan dan harus memenuhi standar dan peratuan untuk membuat kehidupan masyarakat rusun Sarijadi menjadi lebih baik dan memberi kepuasan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Maksud studi ini adalah untuk mengetahui apakah prasarana dan sarana yang ada pada rumah susun Sarijadi telah memenuhi standar yang telah ditetapkan dan apakan prasarana dan sarana yang ada telah memenuhi kebutuhan para penghuni. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif, data diperoleh dari studi literatur, pengamatan langsung ke lapangan, serta dari angket dan wawancara terhadap penghuni rumah susun Sarijadi. Diperoleh kesimpulan bahwa walaupun prasarana dan sarana yang ada pada rumah susun Sarijadi belum sepenuhnya memenuhi standar, namun para penghuni menyatakan bahwa prasarana dan sarana sudah cukup lengkap dan dapat memenuhi kebutuhan mereka. Kata Kunci: evaluasi, prasarana dan sarana, rumah susun, Sarijadi Bandung
ANALISA PENGARUH ORIENTASI BUKAAN TIMUR TERHADAP KENYAMANAN VISUAL RUANG KELAS SEKOLAH TALENTA COLLEGE BANDUNG Roy, Andre
TATANAN Vol 3, No 1 (2009)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Energy crisis nowadays requires the efficient use of energy, especially towards the use of natural resources which is not maximum and efficient enough. The use of natural lighting has been one of the wise solutions although the use of artificial lighting can not be fully ignored because this lighting is required when the weather does not support. The latter is because natural lighting depends on the weather. In education buildings like schools, lighting quality influences the school process. Bad quality of lighting will interfere the process. Natural lighting is very important, especially in classroom. This is because of the operational hours that can make the use of natural lighting possible. Based on the consideration, the modern style Talenta College is chosen as the object. This school is hoped to have an optimal natural lighting through the design, especially in the classroom. This study aims to gain knowledge about the influence of opening design towards the natural lighting distribution in classrooms in each floor, regarding the east orientation, and also the influence of opening orientation towards the natural lighting in classrooms. Last but not least, this study also aims to find the influence of artificial lighting towards the visual comfort in the classroom. The method is started with the observation and measurement to know the light intensity in the classrooms. The next step is to analyzed the lighting based on the sky factor. The study also analyze the direct light which go into the classrooms. This helps to analyze the qualitative aspect of lighting which influence the visual comfort. The conclusions of this study are the glare which disturbs the visual comforts in classrooms is not only influenced by the light intensity but also because of the direct light which comes into the rooms. The light intensity produces visual comfort if the lighting comes from the sky light. Sky factor also becomes one of potentials which influences the visual comfort in the classrooms.  Key Words: opening design, classroom, natural lighting  Abstrak Krisis energi saat ini menuntut pemanfaatan energi yang lebih efektif, khususnya pada pemanfaatan sumber daya alam yang sampai saat ini pemanfaatannya masih kurang maksimal dan efektif. Pemanfaatan pencahayaan alami menjadi salah satu solusi yang bijaksana walaupun pemanfaatan pencahayaan buatan tidak dapat dihilangkan sama sekali karena sifatnya mendukung pencahayaan alami ketika kondisi cuaca kurangbaik. Hal ini dikarenakan pemanfaatan pencahayaan alami yang sangat bergantung pada kondisi cuaca. Pada bangunan pendidikan seperti sekolah, pemanfaatan cahaya sangat menentukan keberlangsungan kegiatan belajar dan mengajar sehubungan dengan kualitas pencahayaan. Kualitas pencahayaan yang buruk akan mengganggu proses belajar dan mengajar. Khususnya pada ruang kelas, pencahayaan alami sangat dibutuhkan. Hal ini dikarenakan jam operasional yang memungkinkan pemanfaatan pencahayaan alami. Dari pertimbangan tersebut objek studi yang dipilih adalah Talenta College yang memiliki gaya modern/kontemporer, sehingga diharapkan telah memperhatikan optimalisasi pencahayaan alami dengan desain yang memanfaatkan aspek pencahayaan alami dalam bangunan, khususnya pada ruang kelas. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh desain bukaan terhadap distribusi pencahayaan alami di ruang kelas pada tiap lantai bangunan pada orientasi timur dan besar pengaruh orientasi bukaan terhadap pencahayaan alami pada ruang kelas serta sejauh mana pengaruh pencahayaan buatan dapat mendukung kenyamanan visual di ruang kelas. Metode penelitian diawali dengan pengamatan dan pengukuran langsung yang dilakukan untuk mengetahui bagaimana kuat pencahayaan pada ruang kelas yang ditentukan sebagai objek penelitian. Kemudian tahap berikutnya yaitu dengan menganalisa pencahayaan berdasarkan faktor langit. Hal ini membantu menganalisa pencahayaan dari sudut besarnya faktor langit yang dimiliki ruang kelas. Selain itu, dilakukan pula analisa sinar langsung yang masuk ke dalam ruang kelas. Hal ini dilakukan untuk melakukan analisa yang berhubungan dengan aspek kualitatif pencahayaan terhadap kenyamanan visual pada ruang kelas. Berdasarkan penelitian diperoleh kesimpulan yaitu silau yang mengganggu kenyamanan visual pada ruang kelas tidak hanya dipengaruhi oleh kuat intensitas cahaya melainkan lebih dikarenakan sinar langsung yang diterima ruang kelas. Kuat intensitas justru memberikan kenyamanan visual bila pencahayaan yang diperoleh berupa terang langit. Faktor langit juga menjadi salah satu potensi yang mempengaruhi kenyamanan visual pada ruang kelas.  Kata Kunci: desain bukaan, ruang kelas, pencahayaan alami 
EVALUASI BANGUNAN HUMAN DITINJAU DARI KONSEP BERWAWASAN LINGKUNGAN Kusjayanto, Herbie; Baverina, Bianca
TATANAN Vol 1, No 2 (2007)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Residence is the one of human basic needs. In line with the increasing of the number of people, the needs of residence will increase too. Right now, the city area has a high level of density, so if there is no proper attention to the built environment development, it can intrude the balance of ecology that we have. More over the city situation has changed and there are some issues such as global warming and the ozone layer decreasing. The implementation of the green architecture becomes one of the options in decreasing the damage environment effect. This concept prioritizes the mutual relation between environment and to create buildings; by using sunlight, wind, and vegetations. A residence with green architecture supports the sustainable environment. This study compares the three buildings in Jalan Pager Gunung, Bandung, those are the old 1939s residential buildings; the new 1990s; and the new-form-old renovated one. The comparison is based on the concept of green architecture perspective. Key words: green architecture, residence, Bandung Abstrak Tempat tinggal merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk maka kebutuhan akan tempat tinggal juga meningkat. Sekarang ini daerah perkotaan memiliki tingkat kepadatan cukup tinggi, bila tidak ada perhatian yang layak dalam pembangunan lingkungan terbangun maka keseimbangan ekologi akan terganggu. Ditambah lagi keadaan kota telah berubah dengan cepat dan adanya berbagai isu seperti pemanasan global serta penipisan lapisan ozon. Penerapan arsitektur berwawasan lingkungan menjadi salah satu pilihan dalam upaya mengurangi dampak kerusakan lingkungan. Konsep ini mengutamakan adanya hubungan timbal balik antara lingkungan dan bangunannya; misalnya dengan memanfaatkan cahaya matahari, angin, dan vegetasi. Suatu hunian berwawasan lingkungan mendukung terciptanya suatu lingkungan yang berkelanjutan (sustainable). Studi ini membandingkan tiga bangunan di Jalan Pager Gunung, Bandung, yaitu bangunan hunian lama yang dibangun tahun 1939; bangunan baru yang dibangun tahun 1990; dan bangunan hasil renovasi dari bangunan lama. Perbandingannya didasarkan pada tinjauan konsep berwawasan lingkungan. Kata kunci: arsitektur berwawasan lingkungan, residensial, Bandung 
KAJIAN RUANG TERBUKA DAN MASSA BANGUNAN APARTEMEN MARINA SEBAGAI BANGUNAN DI KAWASAN TEPI LAUT Gunawan, Fransisca; Alvin, Alvin
TATANAN Vol 2, No 1 (2008)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThe demand of housing supply in North Jakarta increases in each years, therefore made BPL Pluit must do the reclamation of North Jakarta shore area to be prepared as housing area. Through the vertical housing concept to respond the housing demand, the developer tries to speculate with the condition of north Jakarta area and built Marina apartment in seashore.As an apartment in seashore, the developer tries to use waterfront concept for building design that so far has been used in advanced country such as Japan and America. This article made to analyze wheter or not the Marina apartment is an waterfront building as its concept. The study enclose the open space ordering and also building mass concept that next will be compared with the literature about some design criterias and elements that must be watched in apartment planning and waterfront concept.A building can be said as a waterfront building not only from the location in seashore but also the optimal using from the sea area and orientation of the sea around it. After the analysis progress, we can say that Marina apartment is not a building with waterfront concept because there is no optimal using of the sea around it that represent an important element in waterfront concept building.AbstrakTuntutan penyediaan permukiman di kawasan Jakarta Utara semakin meningkat setiap tahunnya sehingga menyebabkan pihak BPL Pluit harus melakukan reklamasi wilayah pantai Utara Jakarta untuk dikembangkan menjadi area permukiman. Dengan menerapkan konsep hunian vertikal untuk menjawab kebutuhan akan permukiman, maka pihak pengembang mencoba berspekulasi dengan kondisi yang ada di Jakarta Utara dengan mendirikan sebuah apartemen di tepi laut, yaitu apartemen Marina.Sebagai apartemen yang berlokasi di tepi laut, pihak pengembang mencoba menerapkan konsep desain bangunan waterfront yang selama ini sudah banyak digunakan di berbagai negara maju seperti Jepang dan Amerika. Tulisan ini dibuat untuk mengkaji apakah apartemen Marina sesuai dengan konsep desain bangunan waterfront. Pengkajian meliputi tatanan ruang terbuka serta desain massa bangunan yang kemudian dibandingkan dengan literatur mengenai berbagai kriteria desain dan elemen-elemen yang pertu diperhatikan dalam perencanaan apartemen serta konsep waterfront. Sebuah bangunan dapat dinyatakan sebagai bangunan waterfront bukan hanya berdasarkan lokasinya yang berada di tepi laut, tetapi adanya pemanfaatan optimal dan orientasi dari perairan itu sendiri. Setelah melalui proses analisa, dapat disimpulkan bahwa apartemen Marina temyata bukan merupakan bangunan yang menggunakan konsep waterfront dikarenakan tidak mengoptimalkan pemanfaatan laut di sekitamya dimana hal tersebut merupakan elemen utama dalam sebuah konsep bangunan waterfront.
KAJIAN EKOLOGIS DALAM DESAIN ARSITEKTUR Objek studi : Rumah Tinggal di Jalan Metro Alam 11/17 Jakarta Treisye, Cloudia; Perris, Gina
TATANAN Vol 2, No 1 (2008)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThis study examines architecture design by ecological view. At the beginning of architecture history, Vitruvius wrote about relation between built environment and natural environment. Vitruvius approach focused on human while nature only be seen as sources to accomplish human needs. This approach has not much change for two millennium. The appearance of Ecological Architecture begins with the observation about renewable natural resources, oil crisis, and World Environmental Summit at Rio de Janeiro. Then the nature has been seen as an important thing for human life and the natural environment concerns arise.In Ecological Architecture, architecture has been seen by ecosystem concept where architecture not only be seen by a abiotic components, but also biotic components which related in one defined system. Architecture has been seen as a solution to environmental problems which causes by human intervention and activities. To preserve natural environmental and ecosystem does not mean that human intervention to it is not allowed, but how to put humans activities in the environment with minimal effects. Ecological Architecture does not tend to determine what should be happened in architecture because there is no specific condition as standard or certain rules. Instead of that, ecological architecture will influence architecture form. Ecological architecture is about balancing between human and natural environment.Keywords: ecology, architecture, houses design.AbstrakStudi ini mengkaji tentang desain arsitektur dari sudut pandang ekologis. Pada awal sejarah arsitektur, Vitruvius menulis mengenai hubungan antara lingkungan binaan dan lingkungan alam. Pendekatan Vitruvius ini berpusat pada manusia dimana alam hanya dilihat sebagai sumber-sumber yang harus atau dapat memenuhi kebutuhan manusia. Pendekatan ini tidak berubah banyak selama dua milenia ini. Awal abad ke-19 ada usaha menghijaukan lingkungan binaan namun secara fundamental alam tetap dilihat sebagai objek pemenuhan kebutuhan manusia. Munculnya konsep arsitektur-ekologis diawali oleh penelitian akan sumber daya alam yang dapat diperbaharui, krisis minyak, dan pertemuan isu lingkungan di Rio de Janeiro. Setelah itu alam mulai dipandang sebagai sesuatu yang penting bagi kelangsungan hidup manusia dan muncul kesadaran akan lingkungan alam.Dalam arsitektur-ekologis, arsitektur dilihat dari konsep ekosistem dimana arsitektur tidak hanya dilihat dari komponen abiotiknya melainkan juga komponen biotiknya yang bekerjasama sebagai suatu sistem yang utuh. Arsitektur dianggap sebagai pemecahan terhadap masalah-masalah lingkungan yang disebabkan campur tangan dan aktivitas manusia dan mengakibatkan multiple effects. Menjaga lingkungan dan ekosistem tidak berarti tanpa campur tangan manusia sama sekali, tetapi bagaimana menghubungkan aktivitas manusia dan lingkungan dengan dampak negatif seminimal mungkin. Arsitektur-ekologis tidak menentukan apa yang seharusnya terjadi dalam arsitektur karena tidak ada sifat khas yang mengikat sebagai standar atau aturan baku. Walau demikian, prinsip-prinsip arsitektur-ekologis pada akhimya akan mempengaruhi bentuk arsitektur. Arsitektur-ekologis mencakup keselarasan antara manusia dengan lingkungan alamnya.Kata kunci: ekologi, arsitektur, perancangan rumah tinggal.