cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
TATANAN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 90 Documents
EVALUASI KENYAMANAN TERMAL PADA UNIT HUNIAN APARTEMEN MAJESTY Royana, Vina Agustina
TATANAN Vol 3, No 1 (2009)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Comfort, especially thermal comfort, is one of many aspects that should be available in a housing building. Others are security, accessibility, and health, so the inhabitants will feel at home. In humid tropical climate, high sun radiation and humidity become the major problems. The problems need certain solutions to create thermal comfort. Vertical housing (apartment) should have a design that responds to the climate, especially the facade design. Building facade will influence the thermal comfort quality in the building. Moreover, the housing units orientation and the different units height will affect the thermal comfort inside it. The Majesty Residence represents the facade problem which doesnt respond to the climate. This apartment’s shape is letter T, which make various unit orientations. To respond to the problems, analysis about the thermal comfort linked to the design principles of vertical housing is done. These principles are orientation, building form, unit orientation, construction, material, color, opening, and respond to the sun radiation. From the analysis, the right material, color, construction, and orientation for humid tropical climate can reduce the climatic problems. Therefore, the comfort zone can be created inside and outside the building.  Key Words: thermal comfort, housing units, Majesty Apartment Abstrak Kenyamanan khususnya kenyamanan termal merupakan salah satu aspek yang perlu dihadirkan dalam bangunan hunian, selain aspek keamanan, kemudahan, dan kesehatan, agar penghuni merasa betah. Di daerah tropis hangat lembab, radiasi matahari dan kelembaban udara yang tinggi menjadi masalah iklim utama. Masalah tersebut memerlukan pengendalian khusus untuk menciptakan kenyamanan termal. Bangunan hunian vertikal (apartemen) sudah selayaknya memiliki desain yang merespon iklim, terutama bagian fasad. Fasad bangunan akan mempengaruhi kualitas kenyamanan termal ruang di dalamnya. Selain itu orientasi unit hunian dan ketinggian unit yang berbeda akan mempengaruhi kenyamanan unit hunian yang berbeda juga. Apartemen "The Majesty Residence" mewakili permasalahan tentang fasad yang kurang merespon iklim. Selain itu Apartemen "The Majesty Residence" berbentuk letter-T memungkinkan orientasi unit hunian yang berbeda. Untuk menjawab masalah tersebut, dilakukan analisa mengenai kenyamanan termal yang dikaitkan dengan prinsip merancang bangunan vertikal (orientasi dan bentuk bangunan, orientasi ruang dalam bangunan, konstruksi, material, warna, bukaan, pengendalian terhadap radiasi matahari) terhadap kenyamanan termal ruang dalam. Dari hasil analisa, pemakaian material, warna,konstruksi dan orientasi yang tepat untuk daerah tropis hangat lembab, dapat mengendalikan masalah-masalah iklim. Dengan demikian, kondisi nyaman dapat tercipta baik di dalam maupun luar bangunan. Kata Kunci : kenyamanan termal, unit hunian, Apartemen Majesty 
LOMBA MAL DI BANDUNG MENUJU KEMAJUAN ATAU KEHANCURAN? Prastyatama, Budianastas
TATANAN Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract            Bandung, like many other major cities in Indonesia, aspires to be a vibrant, progressive city and a pride to its citizens. Stakeholders’ efforts to materialize that aspiration manifests physically in urban spaces as witnessed in Bandung. Admittedly, interpretations of that novel aspiration more than often are amissedly executed.            Shopping centres (malls) as one of the types of built environment frequently revered as one of key investment items in a city are many times considered as symbol of progress and modernization. Along with that, ownership of motorized vehicles, residences, and other consumption materials strengthened the symbol. The rate of presence of malls in Bandung, increasing frequency and quality of traffic jams are some of the tangible indicators to underline the phenomenon. This, to some extent, increases the burden unto the city itself.            This paper aim is to study critically what such burden occurred. Specifically, this paper studies the change(s) of architectural and public space(s), occurred through the presence of malls in the spirit of capitalism, “modernity”, “progress”, in their relationship with their human citizens/users.            The method that used in this study is qualitative method, observation and reference study. It concluded that the current mall growth shifts the meaning of architectural space(s) into commodity, and public space(s) into quasi public space(s) which is private (essentially).  Key Words: malls, capitalism, car culture, spatial meaning, man–space relation AbstrakBandung, sebagaimana kota besar lain di Indonesia, memiliki aspirasi menjadi kota yang hidup, maju, dan menjadi kebanggaan warganya. Upaya berbagai pemangku kepentingan untuk mewujudkan aspirasi tersebut tertuang ke dalam manifestasi fisik pada ruang kota seperti yang dapat disaksikan langsung di Bandung. Patut diakui bahwa interpretasi atas aspirasi yang baik tersebut seringkali tidak tepat dalam eksekusinya.Pusat perbelanjaan (mal) sebagai salah satu jenis lingkungan binaan yang sering dijadikan salah satu butir investasi utama di sebuah kota, sering dianggap pula sebagai simbol kemajuan dan modernisasi. Bersamaan dengan itu, kepemilikan kendaraan bermotor, rumah, dan benda-benda konsumsi lainnya hadir memperkuat simbol tersebut. Laju kehadiran mal di Bandung, peningkatan frekuensi dan kualitas kemacetan lalu lintas, menjadi beberapa indikasi kasat mata yang menegaskan fenomena tersebut. Sedikit banyak hal ini memberi beban kepada kota itu sendiri.Tulisan ini bertujuan meninjau secara kritis beban seperti apakah yang timbul. Secara khusus, studi ini membahas perubahan yang ditimbulkan kehadiran mal dalam nafas kapitalisme, “modernitas”, “kemajuan” terhadap makna ruang arsitektur dan ruang publik dalam hubungannya dengan manusia warga/penggunanya.Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode kualitatif, pengamatan langsung, dan studi literatur. Dapat disimpulkan bahwa gerak pertumbuhan mal yang terjadi sekarang ini menggeser pemaknaan ruang arsitektur ke arah komoditas, dan pengalihan ruang publik menjadi ruang quasi publik yang berhakekat privat.  Kata Kunci: mal, kapitalisme, budaya mobil, pemaknaan ruang, hubungan manusia-ruang
KORELASI PERMENPERA NO.7/PERMEN/M/2007 TERHADAP KRTERIA PEMBANGUNAN RUSUNAMI GADING NIAS DAN RUSUNAMI PULO GEBANG Permana, Arline
TATANAN Vol 2, No 2 (2008)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The government regulation concerning the development of the high-rise flat building was the important factor that must be paid attention to in designing a high-rise flat building. However the factor that must be paid attention to in designed not only was based on the government regulation but also from the flat (apartment) development criteria. This study analyzed the correlation between Permenpera No.7/FERMEN/M/2007 towards the development criteria of the high-rise flat that were divided into three parts, which are the standard of planning apartment, the publics criteria and the specific criteria of designing apartment. The aim of the implementation of this analysis was to know the correlation that emerged between both of them, also the consequences of this correlation. So as to be able to show the condition that could support the achievement of the stipulation of Permenpera No.7/PERMEN/M/2007 in the development of the high-rise flat. The approach that was carried out to analyze this correlation was with did cross-check between Permenpera and the development criteria of the high-rise flat which is connected towards the application to the building. Based on the analysis to the object of the study which are Rusunami Gading Nias and Rusunami Pulo Gebang, it was found that most development criteria rusun was fulfilled. However the selling price stipulation that was dismissed by Permenpera that is Rp 4 million per square metre of floor area was still not fulfilled. And the conclusion is that there is a correlation between Permenpera No. 7/PERMEN/M/2007 and the development criterion of the high-rise flat, but for several cases, it still has a discontinuity around both of them. This result the unfulfilment of the provisions of the selling price that was dismissed by Permenpera No. 7/PERMEN/M/2007.  Key Words: government regulation, development criteria, high-rise flat    AbstrakPeraturan pemerintah mengenai pembangunan rumah susun merupakan faktor penting yang harus diperhatikan dalam mendesain sebuah bangunan rumah susun. Namun faktor yang harus diperhatikan dalam mendesain bukan hanya berdasarkan peraturan pemerintah saja tetapi juga dari kriteria pembangunan rusun yang ada. Studi ini menganalisa korelasi antara Permenpera No.7/PERMEN/M/2007 terhadap kriteria pembangunan rumah susun pada Rusunami Gading Nias dan Rusunami Pulo Gebang yang terbagi atas standar perencanaan rusun, kriteria umum dan kriteria khusus pembangunan rusun.Tujuan dilakukannya analisa ini adalah untuk mengetahui korelasi yang timbul antara keduanya, juga konsekuensi atas korelasi tersebut. Sehingga dapat memunculkan persyaratan kondisi yang dapat menunjang tercapainya ketetapan Permenpera No.7/PERMEN/M/2007 dalam pembangunan rumah susun. Pendekatan yang dilakukan untuk menganalisa korelasi tersebut adalah dengan melakukan cross-check antara Permenpera dengan kriteria pembangunan rumah susun dikaitkan terhadap penerapannya pada bangunan rusunami. Berdasarkan analisa pada obyek studi Rusunami Gading Nias dan Rusunami Pulo Gebang, ditemukan bahwa sebagian besar kriteria pembangunan rusun telah terpenuhi. Namun ketetapan harga jual yang dikeluarkan oleh Permenpera yaitu Rp 4 juta per meter persegi lantai masih belum terpenuhi. Dan dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat korelasi antara Permenpera No.7/PERMEN/M/2007 dengan kriteria pembangunan rumah susun, namun untuk beberapa kasus, masih terdapat ketidaksinambungan diantara keduanya. Hal ini mengakibatkan tidak dapat terpenuhinya ketentuan harga jual yang dikeluarkan oleh Permenpera No.7/PERMEN/M/2007.  Kata kunci: peraturan pemerintah, kriteria pembangunan, rusunami
EFEKTIVITAS SIRKULASI PEJALAN KAKI TERHADAP PENCAPAIAN APARTEMEN BRAGA CITY WALK Atmaja, Willy; Royana, Vina Agustina
TATANAN Vol 2, No 1 (2008)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThese days the needs of housings and dwellings grow very high. Every year many housings and dwellings are planned and built in downtown area, urban area and even in villages. For unfolding time, human never felt satisfied with their ordinary places for living and tried new ideas for their houses that can fill all of their needs.The idea is a new concept for human space in one area with mixed use function. In this area human can get their needs daily, even for relaxing time, They can get all of this need just near their housing/ dwellings.There are differences of need from each functions in one building can be caused new problems. Problems that can be infected each function especially for circulation where as any functions have their needs on their own with many ways.The effectivity of the circulation for this research is measured from length, duration for walking from one function to the entrance of apartment, activities, capacity and density on the path that the circulation might have.The conclusion for the circulation research is telling us ineffectively in entrance positions every function caused intervention for each functions.Keywords: effectivity, pedestrian circulation, Braga City WalkAbstrakDewasa ini tuntutan akan perumahan dan permukiman di Indonesia meningkat sangat pesat. Perumahan dan permukíman baru didirikan setiap tahunnya baik di daerah perkotaan maupun di pedesaan guna memenuhi kebutuhan tersebut. Dalam perkembangannya manusia merasa tidak cukup hanya dengan tempat tinggalnya saja dan mereka mencoba suatu bentukan permukiman baru yang dapat mengakomodir semua kebutuhan tersebut.Pada masa kini telah hadir sebuah konsep baru dalam hal membangun suatu kawasan, yakni bangunan dengan fungsi mixed-use, dimana kebutuhan manusia akan tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, dan kebutuhan akan rekreasi dapat diperoleh dengan mudah tanpa harus pergi jauh.Adanya perbedaan kepentingan dari masing-masing fungsi dalam satu bangunan sangat berpotensi untuk melahirkan masalah yang akan saling mempengaruhi satu fungsi dengan fungsi lainnya. Khususnya dalam hal sirkulasi, dimana tiap fungsi memiliki tuntutan yang berbeda-beda.Efektivitas pada penelitian ini dinilai dari jarak, waktu tempuh yang diperlukan untuk mencapai entrance satu fungsi menuju apartemen. Aktivitas yang dapat ditampung jalur sirkulasí yang digunakan untuk mencapai apartemen, kapasitas dan densitas yan dimiliki oleh satu jalur sirkulasi.Pada kesimpulannya didapatkan bahwa jalur sirkulasi yang digunakan untuk mencapai apartemen pada kawasan Braga City Walk ini masih kurang efektif. Perletakkan entrance masing-masing fungsi masih kurang baik, sehingga masih sering terjadi intervensi antara satu fungsi dan fungsi yang lainnya.Kata kunci: efektivitas, sirkulasi pejalan kaki, Braga City Walk
PENYEDIAAN DAN PENATAAN SISTEM SANITASI PADA RUMAH SUSUN SARIJADI, BANDUNG Christina, Deasy Belda; Mahesaputri, Nindya
TATANAN Vol 1, No 1 (2007)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract                Basically, building utility or building complement plays an important role in giving soul to a building. Sanitation as a part of building utility, usually considered as non aesthetical element, causing bad smell, or sometimes causing an annoying sound. Therefore, designing a sanitation system needs a lot of consideration. The purpose of this research is to know how to provide the good sanitation system arrangement in a vertical housing architecture. Beside that, this research is also purposed to be means of learning for architecture students, in designing a vertical housing, and giving a point of the importance of sanitation system in designing a building. The method used in this research are collecting data through literature studies and interviewing some tenants and the others who related in building the Sarijadi vertical housing; then analyzing the design  and arrangement of sanitation system in sarijadi vertical housing which related to architecture value; and drawing a conclusion of the analysis results. Sanitation system providence in Sarijadi vertical housing is considered adequate to fulfill the needs of its tenants. However, there are still some problems that actually can be improved and managed to be settled. The design of sanitation system in Sarijadi vertical housing still has a lot of weakness, especially in the architecture’s value point of view. There are a lot ot things that have to be considered in creating an architecture works. That case can be very helpful in improving the quality of life for the building users, such as; health, comfort, beauty and the other aspects, especially for the building which hold a rolle of a housing building. Key Words: sanitation system, vertical housing, Sarijadi Bandung Abstrak                Kelengkapan bangunan atau utilitas pada dasarnya memiliki peranan penting dalam memberikan “nyawa” bagi sebuah bangunan. Sanitasi sebagai salah satu bagian dari kelengkapan bangunan, pada umumnya dianggap memiliki kesan tidak indah, menimbulkan bau yang tidak sedap, atau menghasilkan suara yang mengganggu. Oleh karena itu, menata suatu sistem sanitasi diperlukan berbagai pertimbangan-pertimbangan yang benar. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui penyediaan penataan sistem sanitasi yang baik pada arsitektur rumah susun. Selain itu untuk menjadi pembelajaran dan pengetahuan bagi mahasiswa arsitektur dalam merancang suatu bangunan rumah susun dan menjadi masukan mengenai pentingnya sistem sanitasi dalam merancang suatu bangunan. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu, pengumpulan data melalui studi literatur, observasi, dan wawancara dengan penghuni dan pihak-pihak yang terkait dengan pembangunan rumah susun Sarijadi. Kemudian menganalisa penataan sistem sanitasi pada rumah susun Sarijadi dalam kaitannya dengan nilai-nilai arsitektur, dan menarik kesimpulan atas hasil analisa. Penyediaan sistem sanitasi pada rumah susun Sarijadi dapat dikatakan cukup memenuhi kebutuhan para penghuninya. Namun masih ada beberapa permasalahan yang sebenarnya dapat ditingkatkan dan dikelola untuk menjadi lebih baik. Sedangkan untuk penataan sistem sanitasi pada rumah susun Sarijadi masih memiliki banyak kekurangan, khususnya jika dilihat dari nilai-nilai arsitektur. Banyak sekali hal yang perlu diperhatikan dalam membangun suatu karya arsitektur. Hal tersebut dapat membantu dalam peningkatan kualitas hidup pengguna bangunan tersebut, khususnya pada bangunan dengan fungsi rumah tinggal, yaitu berdasarkan aspek kesehatan, kenyamanan, keindahan dan aspek-aspek lainnya. Kata Kunci: sistem sanitasi, rumah susun, Sarijadi Bandung
KEPADATAN PENDUDUK DAN KELOMPOK SOSIAL DALAM TATANAN ARSITEKTUR DI PERUMNAS DAN RUMAH SUSUN SARIJADI Nursyaf, Migarena
TATANAN Vol 3, No 1 (2009)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Population density is one of the problems in the provision of housing. Vertical housing is regarded as the solution of the growing population problem.Every dwelling has an optimum point of density. At the present, there is no adequate standard for managing the housing density. This study will conduct empirical studies on horizontal and vertical housing to gain insight about the density. Results from the study of literature and the reality will be used to assess the object that is not real yet (plan in 1000 towers program). It turns out housing density in an area, building area, or floor area of each building depends on the infinite order of architecture, in order to create the ideal population density and social group. From the objects, Perumnas and housing flats, there are social groups, each consists of 5 people, more or less, and one person represents one unit. This study is expected to become a reference point for designing and to help creating ideal social groups. To design a housing is a social engineering activity, not just economic, and not only creating a certain amount of residences to house the community which is increasing.  Key Words: population density, low-cost public housing, Sarijadi Bandung  Abstrak Kepadatan penduduk merupakan salah satu masalah dalam penyediaan perumahan. Hunian vertikal dianggap sebagai penyelesaian persoalan pertambahan penduduk yang semakin meningkat.Semakin padat suatu hunian tentu ada titik optimalnya, saat ini belum ada standar yang memadai untuk mengatur kepadatan pada hunianStudi ini akan melakukan kajian empirik pada hunian horizontal maupun vertikal untuk mendapatkan gambaran tentang kepadatan. Hasil dari kajian literatur dan objek studi nyata akan dipakai untuk menilai objek yang tidak nyata (rencana 1000 tower). Ternyata kepadatan dalam suatu kawasan perumahan, area bangunan , atau area setiap lantai bangunan bisa sangat amat tak terbatas tergantung dari tatanan arsitekturnya, guna mewujudkan kepadatan penduduk dan kelompok sosial yang ideal. Dari objek fisik yang nyata yaitu Perumnas dan rumah susun Sarijadi, ditemukan kelompok sosial yang ideal rata-rata berjumlah ± 5 jiwa, dimana satu jiwa mewakili satu unit. Kajian ini diharapkan bisa menjadi acuan atau titik berangkat mendesain suatu hunian yang nantinya bisa membentuk kepadatan dan kelompok-kelompok sosial yang ideal.Mendesain perumahan merupakan suatu kegiatan merekayasa sosial, bukan hanya sekedar rekayasa ekonomi atau hanya sebatas pemenuhan jumlah unit hunian terhadap kebutuhan populasi masyarakat yang semakin bertambah. Kata kunci : kepadatan penduduk, perumahan, Sarijadi Bandung
PENGENDALIAN KENYAMANAN TERMAL PADA BANGUNAN DENGAN DOMINASI DINDING KACA Sepmanto, Heribertus Hendri; Widyawati, Stephanie
TATANAN Vol 1, No 2 (2007)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract                  Ideally, an architectural work is not only give the aesthetical value, but also must fulfill the thermal comfortness for the users, in line with the local climate condition.                  The tropical climate zone has a high solar radiation intensity, it causes the building in that zone must have a protection system, so that the good thermal comfortness can be gained.                  This study aims to evaluate the thermal comfortness of the Audi Car Show-room. Which in the architectural design of it has a conflict between the requirement to us transparancy bulding material for free visualization against with the thermal aspect comfortness.                  The evaluation based on some aspects, those are the respon to sun radiation, shadow, and reflecting; the air ventilation; and the thermal capacity, indicated that building design dominated by glass wall is not suitable to respon the tropical climate. The change in design is needed to obtain the good thermal comfortness.  Keywords: thermal comfortness, building façade, Show-room Audi Bandung  Abstrak                 Suatu karya arsitektur idealnya tidak hanya dituntut untuk memberi nilai estetika tetapi juga harus dapat memenuhi kenyamanan termal bagi penggunanya, sesuai dengan kondisi iklim setempat.                 Zona iklim tropis memiliki intensitas radiasi matahari tinggi, maka bangunan yang berada pada zona itu harus memiliki sistem perlindungan agar kenyamanan termal yang baik dalam ruangan dapat tercapai.                 Studi ini ditujukan untuk mengevaluasi kenyamanan termal pada Show-room Mobil Audi yang dalam desain arsitekturnya memiliki konflik antara tuntutan akan visualisasi yang bebas tanpa halangan sehingga menggunakan bahan transparan dengan aspek kenyamanan termalnya.                 Evaluasi berdasarkan aspek penyikapan terhadap radiasi matahari dan pembayangan, reflektivitas, ventilasi udara, dan kapasitas termal, menunjukkan bahwa desain bangunan dengan dominasi dinding kaca tidak sesuai untuk menyikapi iklim tropis. Dibutuhkan perubahan dalam desain untuk mencapai kenyamanan termal yang baik. Kata Kunci: kenyamanan termal, fasad bangunan, Ruang Pamer Mobil Audi Bandung
BUKAAN SEBAGAI SUMBER PENCAHAYAAN DAN VENTILASI ALAMI PADA RUKO Liawati, Liawati; Mahesaputri, Nindya
TATANAN Vol 2, No 1 (2008)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractShophouse is a great idea how to blend working space and dwelling in the urban life. Natural condition was needed to support those functions instead of land tipology, also city environment (morphology) where that building is.Banceuy Permai shophouse was built by developer with open plan system in a grid pattern in Banceuy area, center of Bandung city. Shophouses arrangement has a border that close with their back, and represent two shopshouses tipology; center shophouse and corner shophouse. Shophouses open plan layout cant support these natural condition because its interior so compact. Inadequate open space, causes opening (doors, windows) in the middle and back of building cant get natural ventilation and lighting.Dimension of their opening is so minimal. Shophouses condition depend on their opening in the front (in center shophouse) also from side of the building (corner shophouse). [to control natural lighting and ventilation on entire interior of the building]. Opening (doors, windows) placed in the front and side of the building clash with transition space caused natural ventilation and lighting cant be optimalized.Keywords: opening, natural ventilation and lighting, Banceuy Permai shophouse.AbstrakRuko merupakan gagasan tepat yang menggabungkan kegiatan usaha dan tempat tinggal di perkotaan. Pengkondisian alami diperlukan untuk mendukung kedua fungsi tersebut selain tipologi lahan maupun tata lingkungan kota (morfologi) tempat bangunan itu berada.Ruko Banceuy Permai dibangun oleh pengembang dengan sistem open plan dalam pola grid di kawasan Banceuy, pusat kota Bandung. Tatanan ruko memiliki batas kapling yang berhimpit dengan batas kapling di belakangnya sehingga menghadirkan dua buah tipologi ruko, yaitu ruko kapling tengah dan ruko kapling sudut. Tata ruang ruko yang open plan tidak dapat mendukung pengkondisian ruang dalam secara alami karena tata ruang dalam ruko rapat memenuhi kaplingnya. Ruang terbuka yang luasannya tidak memadai mengakibatkan bukaan (pintu, jendela) di tengah dan belakang kapling tidak mungkin dapat memperoleh pencahayaan dan ventilasi alami.Bidang pada bukaan ruko Banceuy Permai dapat dikatakan sangat minim. Pengkondisian ruko, sangat bergantung pada bukaan di muka (pada ruko kapling tengah) serta dari Sisi bangunan (pada ruko kapling sudut). [Untuk mengontrol Pencahayaan dan ventilasi alami pada seluruh ruang dalam]. Bukaan (pintu, jendela) yang ditempatkan di muka dan sisi bangunan bersinggungan dengan ruang antara sehingga kurang memperoleh pencahayaan dan ventilasi alami.Kata kunci: bukaan, sumber cahaya dan ventilasi, rumah toko Banceuy Permai.
SISTEM PROTEKSI KEBAKARAN YANG HEMAT UNTUK RUSUN Liandy, Dennis
TATANAN Vol 2, No 2 (2008)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Apartment Development is one of the alternative solution for the problem in the city with great number of population and dominated by low-income society. But the development of apartment in the city meets problem when the price of apartment units is out of reach and need to be economized. Economization of apartment price meets the problem of comfort, safety, and healthy that need to be fulfilled first. To fulfill the needs of safety factor, building have to equipped with fire protection and then increased in building cost. So, this script analyze explore to find which system of fire protection that cheaper and not wasteful. Cost of fire protection equipment (fire detector, smoke detector, sprinkle, etc) causing building system need to be designed effectively so it can worked well and not wasteful and the operational cost of building not become expensive. This script try to find out how to design fire protection in apartment building effectively and how to use fire protection equipment economically. To find how to design effective fire protection system in apartment buildings, this script compare the theory of fire protection to a apartment model and then analyze which part of the system that can be reduced. To find how to economized the use of fire protection equipment, this script analyze function of each equipment and find another method as the substituted so the use of fire protection equipment can be reduce or eliminated.  Key Words: fire protection system, effective, apartment  Abstrak Pembangunan Rumah Susun merupakan salah satu alternatif jawaban atas permasalahan kota besar dengan tingkat kepadatan penduduk yang besar dan tingkat ekonomi penduduk yang didominasi oleh masyarakat berpenghasilan rendah. Namun pembangunan rumah susun bukan tanpa masalah. Aspek biaya menuntut ekonomisasi dalam pembangunannya agar rumah susun sendiri dapat dijangkau oleh kalangan masyarakat ekonomi bawah. Upaya untuk mengekonomiskan harga rumah susun terbentur pada aspek kenyamanan, keamanan,dan keselamatan yang harus dipenuhi dalam desain rumah susun. Faktor keselamatan pada bangunan bertingkat banyak menuntut desain proteksi kebakaran bangunan yang lebih sehingga mengakibatkan munculnya kebutuhan akan sarana dan prasarana penyelamatan yang lebih. Hal ini meyebabkan alokasi biaya untuk pengadaan sarana dan prasarana penyelamatan menjadi sangat mahal. Oleh karena itu perlu dicari desain sistem proteksi kebakaran yang lebih murah agar alokasi biaya untuk proteksi kebakaran tidak membebani harga beli atau sewa unit Rusun. Besarnya biaya yang diperlukan untuk menyediakan alat proteksi kebakaran aktif (fire detector, smoke detector, sprinkle, dll) menyebabkan perlunya desain sistem proteksi kebakaran yang efektif agar peralatan proteksi kebakaran dapat berfungsi dengan baik namun tidak boros sehingga biaya operasional gedung tidak menjadi mahal.  Besarnya biaya alat proteksi kebakaran tidak hanya disebabkan harga satuan alat proteksi namun juga ditentukan oleh banyaknya spesifikasi yang dibutuhkan untuk meyediakan sistem proteksi kebakaran yang baik. Hal ini disebabkan karena setiap alat proteksi kebakaran bekerja di dalam sebuah sistem yang terdiri atas banyak spesifikasi peralatan.  Studi ini mencoba untuk mencari cara untuk mengefektifkan sistem alat proteksi kebakaran serta cara untuk menghemat penggunaan alat proteksi kebakaran pada bangunan rusun. Untuk mengefektifkan sistem alat proteksi kebakaran dilakukan analisa melalui penerapan teori dari literatur ke dalam model rusun pada objek studi. Untuk menganalisa cara menghemat alat proteksi kebakaran dilakukan analisa fungsi alat proteksi untuk kemudian dicari fungsi substitusi agar pengunaan alat proteksi kebakaran dapat dikurangi atau dihilangkan sama sekali.   Kata kunci: sistem proteksi kebakaran, efektif, rumah susun 
EVALUASI RUMAH SUSUN SARIJADI BANDUNG TINJAUAN TERHADAP KRITERIA KEBUTUHAN PENGHUNI DAN RANCANGAN TAPAK DAN BANGUNAN Setiyawan, Agung; Royana, Vina Agustina
TATANAN Vol 1, No 1 (2007)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Abstract                The increasing of affordable housing need encourages the government to build the vertical housing, unfortunately the low cost public housing that is provided for the low income group, especially flats, on its growth has became a slum area. It is caused by the utilization of space that is not fit with the use of it should be. Therefore, it needs a post occupancy evaluation about the flasts, in order to utilization of space by the dwellers. This writing shows the comparison between design criteria based on the dwellers need; and design criteria on site and building context to the factual condition of space utilization after the occupancy. Keywords: design criteria, mass public housing, Sarijadi Bandung Abstrak                Adanya peningkatan kebutuhan rumah yang terjangkau, mendorong pemerintah membangun rumah susun. Namun perumahan murah yang disediakan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, terlebih rumah susun, dalam perkembangannya menjadi permukiman kumuh. Penyebabnya adalah karena terjadi pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Untuk itu, dibutuhkan evaluasi pasca huni tentang rumah susun, dalam hal pemanfaatan ruang oleh penghuninya. Tulisan ini memaparkan perbandingan antara kriteria rancangan dalam konteks tapak dan bangunan, dengan kondisi faktual pemanfaatan ruang setelah rumah susun tersebut dihuni. Kata Kunci: kriteria rancangan, rumah susun, Sarijadi Bandung