cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik
ISSN : 26202964     EISSN : -     DOI : -
Jurnal Ilmiah Mahasiswa program studi pendidikan Sendratasik FKIP Unsyiah terbit 4 kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Februari, Mei, Agustus dan Novembe.
Arjuna Subject : -
Articles 232 Documents
KERAJINAN KAYU GERUPEL DALAM KONTEKS MASYARAKAT GAYO Arif Seswi Anugraini; Rida Safuan Selian; Ramdiana Ramdiana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 2, No 1 (2017): FEBRUARI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.218 KB)

Abstract

 ABSTRAK             Penelitian yang berjudul “Kerajinan Akar Kayu Gerupel dalam Konteks Masyarakat Gayo” ini dilakukan di Kecamatan Jagong Jeget pada pertengahan bulan Juni hingga awal September 2016. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik pengolahan data dalam penelitian ini adalah reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan penarikan kesimpulan (conclusion drawing/verification). Hasil analisis data menunjukkan bahwa proses pembuatan kerajinan akar kayu gerupel terdiri dari: Pengolahan bahan (pengadaan dan membersihkan bahan), menentukan bentuk, mewujudkan bentuk (kontruksi), serta finishing. Teknik yang digunakan adalah teknik tempel dan teknik raut. Sementara itu, berdasarkan perkembangannya kerajinan kayu gerupel awalnya hanya dimanfaatkan sebagai peti mati¸ namun seiring berjalannya waktu saat ini kayu gerupel telah menjadi produk kerajinan kayu kebanggan daerah yang memiliki beragam variasi dengan bentuk dan fungsi yang beragam pula.Kata Kunci: kerajinan, kayu gerupel, kebudayaan Gayo
PROSES PEMBUATAN RANUB KREASI PADA MASYARAKAT ACEH SAAT INTAT LINTO DAN TUENG DARA BAROE DI TANJONG SELAMAT, DARUSSALAM, ACEH BESAR Rina Muslimah; Ismawan Ismawan; Lindawati Lindawati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 1 (2016): FEBRUARI 2016
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.788 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian berjudul “proses pembuatan ranub kreasi pada masyarakat Aceh saat intat linto dan tueng dara baroe di Tanjong Selamat, Darussalam, Aceh Besar ”mengangkat masalah Bagaimana proses dan makna bentuk ranub kreasi teungkulok teuku umar dan ranub bungong pada saat intat linto dan tueng dara baroe di Tanjong Selamat, Darussalam, Aceh Besar”. Pendekatan dengan jenis penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yaitu melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Data yang terkumpul selanjutnya diolah dan dianalisis secara kualitatif. Hasil dari penelitian mendeskripsikan bahwa proses pembuatan ranub kreasi Teungkulok Teuku Umar ialah menggunakan empat jenis bentuk lipatan antaranya: bentuk panjang dan meruncing segitiga (bagian depan atas teungkulok), bentuk segitiga (bagian samping Teungkulok), bentuk serong segitiga (bagian belakang Teungkulok) dan bentuk susunan yang disusun rapi yang ditusuk dengan cengkeh (bagian bawah Teungkulok) dan keempat motif tersebut kemudian dikreasikan di atas batang pisang yang sudah dibentuk seperti topi Aceh/Teungkulok yang biasanya dibawakan pada upacara intat linto. Sedangkan Proses membuat ranub kreasi bungong  menggunakan tiga bentuk lipatan yaitu bentuk yang dirangkai dengan kawat bunga dan bentuk segi tiga yang kemudian dijahit dengan menggunakan benang dan jarum diatas kardus bekas yang sudah dibentuk menyerupai daun. Kedua bentuk lipatan ini sama seperti proses membuat Teungkulok, sedangkan bentuk ke tiga ialah daun sirih ditusuk rapi dengan kawat, kemudian dikreasikan di atas batang pisang yang sudah dibentuk tiga tingkatan lalu dikreasikan berbentuk bunga yang disebut ranub kreasi bungong yang biasa dibawakan pada upacara tueng dara baro. Makna ranub kreasi Teungkulok Teuku Umar ialah simbol pemimpin atau raja bermakna gagah, berani dan memiliki jiwa kepemimpinan, guna tujuan pria dalam berumah tangga yaitu mampu memimpin sebuah keluarga. Sedangkan ranub bungong ialah bunga yang bermakana anak dara atau gadis yang akan dipersuntingkan. Kata kunci: Proses, ranub kreasi, perkawinan Adat Aceh.
TEKNIK DASAR BERMAIN GITAR ELEKTRIK DI SEKOLAH MUSIK PRODIGY CONSERVATORY OF MUSIC DI KOTA BANDA ACEH Eko Ardian; Ahmad Syai; Tengku Hartati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 1 (2016): FEBRUARI 2016
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.406 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini berjudul “Teknik Dasar Bermain Gitar Elektrik di Sekolah Prodigy Conservatory of Music Kota Banda Aceh”. Adapun yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana teknik dasar gitar elektrik yang diajarkan pengajar di sekolah musik prodigy conservatory of music. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan teknik-teknik dasar bermain gitar elektrik pada sekolah musik Prodigy Conservatory of Music Banda Aceh. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan tahap-tahap untuk mengetahui hasil dari proses pembelajaran teknik dasar gitar elektrik di Sekolah musik prodigy conservatory of music, dasar bermain gitar elektrik, pengenalan gitar elektrik melakukan dasar bermain gitar elektrik pengenalan gitar elektrik melakukan dasar penjarian strumming, picking, menggunakan pick gitar elektrik, fingering jari kiri serta melakukan teknik gitar elektrik teknik Slide, hammer on, teknik pull of dan tapping.Kata kunci: teknik dasar, bermain gitar elektrik, sekolah musik Prodigy Conservatory of Music
TEKNIK PERMAINAN ALAT MUSIK TIUP TRADISIONAL ACEH SEURUNE KALEE PADA TARI PIASAN RAYA DI SANGGAR SEURAYENG NANGGROE BIREUEN Izet Aganovic; Ahmad Syai; Nurlaili Nurlaili
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 4 (2016): NOVEMBER
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.743 KB)

Abstract

ABSTRAK            Judul penelitian ini adalah Teknik Permainan Alat Musik Tiup Tradisional Aceh Seurune Kalee pada Tari Piasan Raya di Sanggar Seurayeng Nanggroe Bireuen. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimanakah teknik permainan alat musik tiup tradisional Aceh Seurune Kalee pada Tari Piasan Raya di Sanggar Seurayeng Nanggroe Bireuen. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan teknik permainan alat musik tiup tradisional Aceh Seurune Kalee pada Tari Piasan Raya di Sanggar Seurayeng Nanggroe Bireuen. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data penelitian ini adalah pimpinan sanggar seurayeung nanggroe dan anggota sanggar seurayeung nangroe. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat musik tiup tradisional Aceh Seurune Kalee merupakan salah satu alat musik tiup Aceh. Alat musik tiup seurune kalee terbagi atas 4 bagian, yaitu bambu (lipai), piring tembaga, lubang nada, lidah seurune. Teknik permainan Seurune Kalee dapat dilakukan dengan dua posisi, yaitu dalam posisi duduk dan berdiri. Teknik permainan alat musik tiup tradisioanl seurune kalee ada beberapa tahap: 1. Menghimpit lili (lidah seurune) dengan kedua bibir. 2. Menyimpan udara/ nafas di bagian rongga mulut, kemudian di tiup/ dihembuskan di bagian lili (lidah seurune) hingga seurune kalee mengeluarkan bunyi. 3. Posisi mulut kembang-kempis dipengaruhi oleh pertukaran udara yg dihirup melalui hidung 4. Posisi mulut tersebut menghasil bunyi seurune kalee yg tidak terputus-putus.” Ukuran dan bentuk Seurune Kalee sangat berparuh bagi suara yang dikeluarkan, karena diameter lubang seurune sangat menentukan bunyi yang dikeluarkan.Kata Kunci: teknik, permainan, Seurune Kalee   
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN SENI TARI DI KELAS VII SMP NEGERI I KUTA BARO KABUPATEN ACEH BESAR Erniana Mentari; Taat Kurnita; Aida Fitri
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 2, No 2 (2017): MEI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.168 KB)

Abstract

ABSTRAK             Penelitian berjudul “pelaksanaan pembelajaran seni tari di kelas VII SMP Negeri 1 Kuta Baro kabupaten aceh besar”. Mengangkat masalah bagaimana aktivitas guru dan siswa pada pembelajaran seni tari di SMP Negeri 1 Kuta Baro kabupaten Aceh Besar serta kendala-kendala apa saja yang dihadapi guru dan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran seni tari di SMP Negeri 1 kuta baro kabupaten Aceh Besar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aktivitas guru dan siswa pada pembelajaran seni tari di kelas VII di SMP Negeri 1 Kuta Baro kabupaten Aceh Besar dan mendeskripsikan kendala kendala apa saja yang dihadapi guru dan  siswa pada pembelajaran seni tari di SMP Negeri 1 Kuta Baro kabupaten Aceh Besar Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, dan jenis penelitian adalah deskriptif. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Kuta Baro kabupaten Aceh Besar. Subjek yang digunakan dalam penelitian adalah guru dan  siswa kelas VII-1 dan objek penelitian ini adalah pelaksanaan pembelajaran seni tari. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi,wawancara, dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data digunakan dengan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pelaksanaan aktivitas pembelajaran, hasil belajar siswa meningkat, dikarenakan pada pembelajaran seni budaya guru menggunakan beberapa macam-macam metode untuk membuat siswa lebih aktif dan kreatif saat belajar. Adapun kendala-kendala yang dihadapi guru adalah: belum maksimalnya ketersediaan buku panduan seni budaya SMP, proyektor dan siswa/i yang kurang respon/aktif serta sulit diatur. Kata kunci: pelaksanaan, pembelajaran, tari
PENYAJIAN TARI KREASI TURUN KU AIH AUNEN PADA SANGGAR KERENEM PIRAK KABUPATEN GAYO LUES Ardi Pradita; Ahmad Syai; Tengku Hartati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 3 (2016): AGUSTUS
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.367 KB)

Abstract

ABSTRAK                         Penelitian ini tentang “Penyajian Tari Kreasi Turun Ku Aih Aunen pada Sanggar Kerenem Pirak Kabupaten Gayo Lues”. Menyangkut masalah bagaimana penyajian tari dan makna gerak Tari Kreasi Turun Ku Aih Aunen. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penyajian tari dan makna gerak Tari Kreasi Turun Ku Aih Aunen. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan metode deskriftif. Data bersumber dari koreografer serta pelatih di sanggar Kerenem Pirak Kabupaten Gayo Lues tentang Tari Kreasi Turun Ku Aih Aunen. Pengumpulan data yang digunakan dengan tehnik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data mereduksi, display  dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Kreasi Turun Ku Aih Aunen bercerita tentang kegiatan rutin seberu (Anak Gadis) zaman dahulu mengambil air dari telaga yang dibuat di pinggir sungai. Tari ini ditarikan oleh 7 orang penari wanita yang menggunakan properti Coran (Bambu) dan Labu (kendi). Tarian ini memiliki 13 gerak yang diiringi dengan Canang dan Gegedem, serta syair yang dinyanyikan oleh seorang penyanyi. Tari Kreasi Turun Ku Aih Aunen ditampilkan di atas panggung proscenium, dengan tata rias cantik dan busana yang digunakan adalah busana kerawang Gayo Lues dengan Aksesoris berupa Genit Rante, Topong, dan Kupang. Gerak Tari Kreasi Turun Ku Aih Aunen ini memiliki makna dan ada juga yang tidak memiliki makna. Gerakan yang memiliki makna diantaranya gerak salam, gerak Berketibung dan gerak Mulawi. Kata kunci: penyajian, makna, tari kreasi Turun Ku Aih Aunen
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN SENI TARI DI KELAS VII SMP NEGERI 1 BAITUSSALAM Nurmalis Nurmalis; Taat Kurnita; Aida Fitri
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 2, No 1 (2017): FEBRUARI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.306 KB)

Abstract

ABSTRAK             Penelitian ini berjudul “Pelaksanaan Pembelajaran Seni Tari di Kelas VII SMP Negeri 1 Baitussalam” mengangkat masalah bagaimana proses pembelajaran seni tari di kelas VII SMP Negeri 1 Baitussalam serta bagaimana kendala-kendala yang dihadapi guru dalam proses pelaksanaan pembelajaran seni tari di kelas VII SMP Negeri 1 Baitussalam. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pembelajaran seni tari di kelas VII SMP Negeri 1 Baitussalam dan mendeskripsikan kendala-kendala yang dihadapai guru dalam proses pelaksanaan pembelajaran seni tari di kelas VII SMP Negeri 1 Baitussalam. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Lokasi penelitian berada di SMP Negeri 1 Baitussalam dengan sampel penelitian adalah siswa kelas VII-1, siswa kelas VII-2, dan siswa kelas VII-3 dengan tingkat kemampuan siswa yang hampir sama. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, dokumentasi dan wawancara. Sedangkan teknik analisis data menggunakan dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan evaluasi diakhir pembelajaran siswa lebih semangat karena siswa terbebas dari yang namanya pekerjaan rumah (PR), dengan adanya evaluasi diakhir pembelajaran  guru pun dapat langsung mengetahui kemampuan siswa serta kepahaman siswa dalam proses pembelajaran seni tari. Sehingga Hasil belajar siswa dengan adanya menggunakan evaluasi diakhir pembelajaran hasil nilai siswa dalam Proses Pembelajaran Seni Tari rata-rata mencukupi nilai kkm dan nilai siswa lebih tinggi dibandingkan dengan memberikan tugas rumah (PR). Pembelajaran dengan menggunakan bermacam-macam metode dapat melatih siswa serta dapat menumbuhkan minat belajar siswa dalam proses belajar mengajar. Proses pembelajaran dengan demikian dapat meningkatkan apresiasi siswa dalam belajar.Kata kunci: pembelajaran seni tari
BENTUK PENYAJIAN TARI PHO DI GAMPONG SIMPANG PEUT NAGAN RAYA Reizna Putri; Tri Supadmi; Ramdiana Ramdiana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 2 (2016): MEI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.009 KB)

Abstract

ABSTRAK              Penelitian ini berjudul “Bentuk Penyajian Tari Pho di Gampong Simpang Peut Nagan Raya” mengangkat masalah bagaimana bentuk penyajian tari tradisional Pho yang ada di Gampong Simpang Peut Nagan Raya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk penyajian tari Pho Di Gampong Simpang Peut Nagan Raya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah pelatih dan penari di Gampong Simpang Peut. Pengumpulan data digunakan dengan teknik observasi, wawancara serta dokumentasi, dan teknik analisis data dengan mereduksi, display, serta verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk penyajian  tari Pho yang ada di Gampong Simpang Peut Nagan Raya diantaranya meliputi gerak, pola lantai, tata rias, tata busana, pentas dan syair, yang diangkat dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Tari Pho ditarikan oleh 8-12 penari wanita. Tari Pho di gampong simpang peut memiliki 11 gerakan, dari masuk hingga gerakan salam penutupan. Pola lantai tari pho yaitu bersaf atau sejajar, lingkaran dan berbaris. Busana yang digunakan pada tari Pho adalah pakaian adat Aceh dan tata rias yang digunakan adalah rias cantik. Pengiring tari Pho adalah berupa syair yang dibawakan oleh syahi, yang bertempo lambat dan sedang. Secara keseluruhan gerak tari Pho menggambarkan kesedihan dan kebahagian, dan kekompakan, dan syairnya menceritakan tentang pemujaan kepada poe theu Allah dan pujian kepada kerajaan yang sudah almarhom, dan juga tentang kehidupan masyarakat sehari-hari. Kata kunci: Bentuk penyajian, Tari Pho
BENTUK PENYAJIAN TARI TOR-TOR NAPOSO NAULI BULUNG PADA ADAT PERKAWINAN MANDAILING DI KELURAHAN PIDOLI DOLOK Siti Pratiwi; Taat Kurnita; Nurlaili Nurlaili
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 4 (2016): NOVEMBER
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (798.635 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini berjudul “Bentuk Penyajian tari Tor-Tor Naposo Nauli Bulung pada Adat perkawinan Mandailing di Kelurahan Pidoli Dolok” mengangkat masalah bagaimana bentuk penyajian dan makna gerak tari Tor-tor Naposo Nauli Bulung. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah seniman dan budayawan, mantan penari tor-tor Naposo Nauli Bulung dan penari-penari tarian Naposo Nauli Bulung. Lokasi penelitian ini adalah di Kelurahan Pidoli Dolok, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi Teknik analisis data dengan mereduksi, display dan verifikasi. Hasil penelitian mengungkapkan tari Tor-tor Naposo Nauli Bulung sangat jarang diguanakan pada adat perkawinan, tari Tor-tor Naposo Nauli Bulung ditarikan oleh 6 penari yang terdiri dari 3 penari wanita dan 3 penari laki-laki. Tari ini memiliki 6 ragam gerakan, diiringi alat musik tradisional seperti Gordang Sambilan, Gong, Suling dan Talempong. Bentuk penyajian tari ini sangat sederhana. Setiap gerak tari tor-tor Naposo Nauli Bulung memiliki makna tertentu. Tari tor-tor Naposo Nauli Bulung berarti muda-mudi yang sopan dan santun kepada yang lebih tua.Kata Kunci: bentuk penyajian, makna, tari Tor-tor Naposo Nauli Bulung
MAKNA DAN NILAI SYAIR TRADISI PEUAYÔN ANEUK DI GAMPÔNG LHOK DALAM DUSUN PEUTUA CUT KECAMATAN PEUREULAK KABUPATEN ACEH TIMUR Mirza Fahmi; Ismawan Ismawan; Cut Zuriana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 1 (2016): FEBRUARI 2016
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.668 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini berjudul “Makna dan Nilai Syair Peuayôn Aneuk di Gampong Lhok Dalam Kecamatan Peureulak Kabupaten Aceh Timur”. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan makna dan nilai syair peuayôn aneuk di gampong Lhok Dalam. Penelitian ini dilakukan di gampong Lhok Dalam Kecamatan Peureulak. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan mereduksi, menyajikan (men-display), dan verifikasi data. Hasil penelitian ini  menunjukkan makna dan nilai syair peuayôn aneuk di gampong Lhok Dalam melalui beberapa langkah yaitu dengan mengunjungi rumah masyarakat, mendokumentasikan data, mengamati penyajian peuayôn aneuk yang memiliki makna tersurat dan tersirat. Makna tersurat yakni adanya pengakuan tentang keesaan Allah, seruan berbuat kebajikan terutama kepada Allah, kepada kedua orang tua, serta bersyukur atas apa yang telah dikaruniakan oleh Allah SWT sedangkan makna tersirat adalah kewajiban bersyahadat dua kalimat syahadat, menuruti nesahat orang tua dan mensyukuri yang telah ditetapkan oleh Allah, pengakuan adanya hari penghakiman di akhirat, Jika tidak dapat kita ucapkan melalui lidah maka kita wajib menyebut nama Allah di dalam hati dan makna yang menganjurkan supaya anak cepatlah tidur, sebab ibu akan melakukan shalat untuk menyembah Allah dan jika kelak anak telah dewasa maka diwajibkan juga kepadanya untuk menyembah Allah subhanahuwata`ala. Selanjutnya nilai yang terkandung adalah nilai pendidikan, nilai agama, nilai seni dan nilai solidaritas.Kata Kunci: Makna dan nilai, Syair, peuayôn aneuk di gampong Lhok Dalam Kecamatan    Peureulak

Page 7 of 24 | Total Record : 232