cover
Contact Name
Fuad Mustafid
Contact Email
fuad.mustafid@uin-suka.ac.id
Phone
+6281328769779
Journal Mail Official
asy.syirah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum
ISSN : 08548722     EISSN : 24430757     DOI : 10.14421/ajish
Core Subject : Religion, Social,
2nd Floor Room 205 Faculty of Sharia and Law, State Islamic University (UIN) Sunan Kalijaga, Marsda Adisucipto St., Yogyakarta 55281
Arjuna Subject : -
Articles 609 Documents
Masalah Pendistribusian Manfaat/Hasil Pengelolaan Wakaf (Kajian Terhadap Undang-undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf) Aminuddin, Muh. Zumar
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 2 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v45i2.25

Abstract

Tulisan ini merupakan studi terhadap persoalan pendistribusian hasil/manfaat pengelolaan wakaf dalam UU No 41 Tahun 2004 tentang Wakaf. Pendekatan yang dipakai adalah yuridis. Sifatnya deskriptif dan preskriptif. Namun aturan tersebut masih menimbulkan beberapa masalah, antara lain adanya kerancuan antara wakaf produktif dan wakaf konsumtif, kurang jelasnya status wakaf hasil pengembangan dan besarnya yang digunakan untuk pengembangan serta lemahnya keberpihakan kepada kaum dhuafa. Oleh sebab itu perlu ada perubahan aturan untuk menghindari hal-hal tersebut. Perubahan itu antara lain adalah adanya aturan yang membedakan antara wakaf konsumtif dan wakaf produktif, adanya aturan tentang status wakaf hasil pengembangan dan pemisahan aturan antara peruntukan dalam arti penggunaan harta benda wakaf dengan peruntukan dalam arti pendistribusian hasil/manfaat wakaf.
Dimensi Politik dalam Ajaran-ajaran Tasawuf (Studi Kasus atas Manaqib Syaikh ‘Abd al-Qadir al-Jailani) Sahri, Sahri
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 2 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v45i2.26

Abstract

Demokratisasi politik yang bergulir di Indonesia kini sangat memerlukan ragam tawaran konsep-konsep politik pada umat Islam agar mereka semakin cerdas dan arif menghadapinya. Sehubungan dengan itu, maka ajaran politik manaqib Syaykh ‘Abd al-Qadir al-Jailani menjadi sangat relevan diketengahkan di tengah publik. Wacana-wacana  politik yang berkembang di seputar manaqib lambat laun akan menjadi tawaran-tawaran sikap politik bagi para peminatnya. Sebagaimana diketahui bahwa aktivitas membaca terjemahan  manaqib berarti menafsirkan. Membaca dan menafsirkan berarti “menulis ulang” dalam bahasa mental dan bahasa pikir pembaca. Keberanian penulis untuk membahas manaqib didorong olehbeberapa tulisan yang telah ada sebelumnya. Ada dua tahap yang dilakuan dalam penelitian ini, yaitu tahap pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik. Pada pembacaan heuristik, penulis memfokuskan pada struktur bahasa dan penggunaan istilah. Adapun pada pembacaan hermeneutik, penulis memaknakan teks yang dianggap sebagai tanda terhadap sesuatu yang tersirat dari teks yang terbaca. Dalam telaah teks, penulis mengabaikan sisi prinsip historis menyangkut ruang dan waktu yang ada dalam narasi isi manaqib. Oleh karena itu, isi tulisan ini tidak akan menjawab persoalan apakah isi teks manaqib termasuk sejarah atau mitos.
HAM Beragama Dalam Perspektif Filsafat Ilmu Hukum Mangunsong, Nurainun
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 2 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v45i2.27

Abstract

sejatinya agama adalah pencarian spiritual manusia tentang hakekat kebenaran dan kedamaian dirinya dengan Tuhan yang terjadi secara evolutif. Dalam proses pencarian dan kebenaran itu maka beragama dipandang sebagai salah satu hak asasi manusia (HAM) yang harus dihormati oleh institusi apa dan manapun. Karena itu dalam konfigurasi ketatanegaraan, HAM beragama mempunyai posisi yang sangat penting. Bagaimanapun juga HAM beragama akan menemukan jantung “persoalan” yang utama ketika berhadapan dengan entitas negara. Persoalan yang munculkemudian bagaimana posisi agama dalam konteks negara? Atau posisi agama dalam konteks hukum? Tulisan ini ingin mengkaji lebih mendasar bagaimana HAM Beragama dalam perspektif Filsafat Ilmu Hukum.
Panggung Politik Kiai Di Era Pemilukada Subiyakto, Rudi
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 2 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v45i2.28

Abstract

Pada era pemilihan kepaladaerah langsung, Kiai sebagai elit lokal mempunyai nilai yang sangat berarti bagi calon pemimpin daerah. Dengan basis massa riil, Kiai dengan simbol-simbol agama merupakan modal yang signifikan dalam mendulang suara menuju kemenangan, terutama dalam rangka memobilisasi massa. Hal ini dikarenakan salah satu tugas pokok dalam rekruitmen politik adalah bagaimana elit yang ada dapat menyediakan kader-kader parpol berkualitas untuk duduk, terutama di kursi eksekutif maupun legislatif. Tarik-menarik kepentingan antara kandidat dan Kiai menjadi hal yang wajar. Kiai, dengan kharismanya mampu memobilisasi massa, sebaliknya kandidat pemimpin daerah mampu memberi berbagai fasilitas kepada Kiai.
Logika Induktif dan Deduktif Dalam Tradisi Pemikiran USUL AL-FIQH A. Yasid, A. Yasid
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 46 No 1 (2012)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v46i1.29

Abstract

Logic  occupies  a  central  position  in  the  tradition  of usul al-fiqh thought. Besides referring to the verbal revelation, the formulation  of  the  rules  of  usul al-fiqh is also  based  on  formal logic so that it cannot be easily cracked all along.  The logic with its main attention on the activity of the preparation of the ri ght argument  is  built  to  study  the  various  methods  and  principles used  to  distinguish  the  reasoning  straight  and  distorted  one. Inductive  and  deductive  logic  are  typical  ways  of  working  in  a world  of  usul al-fiqh  thought.  Inductive  logic  is  used  to  draw conclusions  from  individual  cases  that  have  a  range  of  very specific  to  general  conclusions.  Whereas  deductive  logic  is  the opposite way. It?s used to draw conclusions from things that are common  to  the  individual  case.  In  the  tradition  of  usul al-fiqh thinking, inductive logic is often used by Ahnaf  schools. While many of deductive logics are demonstrated by the yurisprudence of Mutakallimin followed by the majority of Islamic Juries.
Kontekstualisasi Gagasan Fiqh Indonesia T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy (Telaah atas Pemikiran Kritis Yudian Wahyudi) Mansur, Mansur
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 46 No 1 (2012)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v46i1.30

Abstract

Agree and disagree is an integral part when talking about the idea of Fiqh Indonesia TM Hasbi Ash-Shiddiqy (fiqh is determined based on the personality and character of Indonesia). Critical review conducted by Yudian Wahyudi about the idea of Fiqh Indonesia is very important to be understood thoroughly in order to align the proportionality debate and at the same time the idea of Fiqh Indonesia Hasbi contextualization. The description in this paper is the result of reading the author entirely to the works of Yudian Wahyudi to review the idea of Fiqh Indonesia Hasbi, especially a work entitled  Hasbi's Theory of Ijtihad in the Context of Indonesian Fiqh(2007).
Fiqh Jihad dan Terorisme (Perspektif Tokoh Ormas Islam Sumatera Utara) Saidurrahman, Saidurrahman
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 46 No 1 (2012)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v46i1.31

Abstract

Jihad is a teaching and even an obligation to a Muslim. In  the  Qur’an,  the  term  jihad  is  mentioned  forty  times  in sentences.  Jihad  has  an  underlying  concept  for  a  Muslim  life. However, the term jihad is often misconceived, referred to bad things, being violent and even inhumane. Therefore, redefining and  restructuring  the  concept  of  jihad  in  Islam  is  crucial.  The province  of  North  Sumatera  has  often  been  seen  as  a  terrorist territorial,  for  many  terrorists  have  been  arrested  from  the province.  This  has  provoked  anger  for  Muslims  who  are  the majority  of  the  population  in  the  province.  This  is  among specific findings of the study, which are based on interviews with the leaders of Muslim organizations in North Sumatera such as al-Jamiyat  al-Washliyah,  Nahdlatul  Ulama,  Muhammadiyah, DDII, MMI, DDII, FPI, and MUI.
Arah Pembangunan Hukum Keluarga Islam Indonesia: Pendekatan Integratif dan Interkonektif dalam Membangun Keluarga Sakinah Nasution, Khoiruddin
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 46 No 1 (2012)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v46i1.32

Abstract

So  far  the  subjects  discussed  in  Islamic Marriage/Family Law (Munakahat) limited marriage matter only and using the normative approach (halal and haram). In fact the successness  of  family  is  not  enough  by  merely  understanding marriage matter and the normative approach. To build a happy family  as  the  goal  of  marriage  in  Islam  is  required  other knowledges  and  approaches  outside  the  normative  approach. Even  with other subjects and using multi approach, it is possible to uncover the secret behind the Quranic texts discuss marriage. This  paper  attempts  to  illustrate  how  science  Ethnology,  as illustrated  Hazairin,  can  reveal  the  secret  behind  the  Quranic verse  discuss  mahram  (women  are  forbidden  to  marry)  as  it  is described in al-Nisa? (4): 22, 23, and 24. Likewise, this paper tries to  offer  a  number  of  subjects  that  should  be  included  in  the subject  of  Islamic  marriage  in  order  to  be  able  to  achieve  the goal  of  marriage  and  family  breakdown  can  be  avoided.  To mention some of which are: (1) the science about sexuality and sciences  related  thereto,  (2)  the  science  of  reproduction  and reproductive  health,  (3)  knowledge  of  health  and  family nutrition,  and  (4)  knowledge  about  building  communication between family members.
Pembacaan Progresif Terhadap Fikih Keluarga (Kritik terhadap KHI dan RUU HTPA) Sodik, Mochamad
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 46 No 1 (2012)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v46i1.33

Abstract

The formulation of several paragraphs in Compilation of Fikih  (Kompilasi Hukum Islam/KHI) and Preliminary Ac t of Implemented  Law  of  Religious  Court  (RUU  HTPA)  remain sustaining  the  subordination  concept  of  women  in  family.  The increase  of  wider  access  for  women  in  education  and  public participation  has  promotes  awareness  on  accomplishing woman's rights and children protection. This tendency requires progressive  reading  over  conservative  rationale  that  endured within  fikih  of Indonesian family.  Conservative rationale is root deeply  in  fikih  normativity  rampart  constructed  by  moslem theologian since 3rd century of  Hijriyah.  They likely to forbid the review  of  fikih  teaching  which  had  legitimized  as  final.  Fikih  is judge as conceptually definite. Moslems only requires to follow and  implement  the  concept.  Any  critical  review  will  be  treated under suspicion, and frequently judge as ?apostate?.  Progressive reading offers  ijtihadi  (serious thought) relevant to era dynamic, while  remain  stand  on  al-Qur‘an.  The  reading  over  fikih  of family  is  directed  to  gain  gender  equality  and  justice  and protection  over  children‘s  rights,  both  boy  and  girls.  The theoretical implication is constructing new paradigm that adapts contemporer human studies in reading humanize  fikih.  Whereas the practice implication is providing ethical-normative manual in implementing fikih that respects on dignity and honor each of all God creature.
Legalitas Perkawinan Di Luar Islam (Nikah Al-kuffar) Menurut Ibnu Taimiyah Hadi, Samsul
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 46 No 1 (2012)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v46i1.34

Abstract

Marriage is an institution that exist in every society and religion.  Every  society  and  religion  have  a  procedure  for  each different  from  each  other.  Whether  the  marriages  were  valid under Islamic law.  Islam is a religion that recognizes the  plurality of  society  and  religion  as  a  reality  of  life.  Ibn  Taimiyya had an opinion about the validity of marriages outside of Islam  (al-kuff?r marriage/nik?h al-kuff?r). Ibnu Taimiyya  opinion  was  based on  AlQur'an  and  as-Sunnah  (traditions)  and  the  opinions  of  some friends (sahabat).  Ibn  Taimiyya  opinion  was  consistent  with the principles  of  tolerance  in  Islam;  religious  freedom,  mutual respect,  and  justice.  Ibn  Taimiyya  opinion  is  very  important  in creating a harmonious relationship between religious.