cover
Contact Name
Fuad Mustafid
Contact Email
fuad.mustafid@uin-suka.ac.id
Phone
+6281328769779
Journal Mail Official
asy.syirah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum
ISSN : 08548722     EISSN : 24430757     DOI : 10.14421/ajish
Core Subject : Religion, Social,
2nd Floor Room 205 Faculty of Sharia and Law, State Islamic University (UIN) Sunan Kalijaga, Marsda Adisucipto St., Yogyakarta 55281
Arjuna Subject : -
Articles 609 Documents
Konsepsi Hukum Ibn ‘Arabi: Upaya Merumuskan Pendekatan Spiritual Terhadap Hukum Nurasiah, Nurasiah
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v45i1.5

Abstract

Metode  sufi  yang  berpijak  pada  kualifikasi  dan pengetahuan  hati,  berkonsekuensi  pada  perhatian  dan penekanan  sufi  pada  aspek  batiniah  atau  sisi  spiritual  dari sesuatu.  Penerapan  metode  ini  terhadap  hukum  merupakan kajian  yang  masih  baru.  Dalam  hal  ini,  Ibn  ‘Arabî  adalah pemikir  sufi  komprehensif  yang  telah  menerapkan  metode spiritual  dalam  bidang  hukum,  begitu  lengkap,  sistematis,  dan yang paling konsisten. Pada tataran praktik agama dalam bentuk fikih,  metode  spiritual  Ibn  ‘Arabî  menawarkan  tuntutan  untuk merengkuh  kesucian  hati  sebagai  substansi  dan  makna  hakiki ibadah  dan  hukum.  Pada  tataran  kaidah  hukum,  metode  dan pendekatan  spiritual-batiniah  Ibn  ‘Arabî  menghasilkan  doktrin ‘Kasih  Sayang  Tuhan  dalam  Hukum’,  yang mengimplementasikan  diri  dalam  bentuk  kaidah  ‘kemudahan dalam  hukum’.  Sementara  dalam  teori  hukum,  pendekatan spiritualnya  membentuk  rumusan  tentang  kedudukan  hati sebagai  sumber  hukum,  yang  intinya  bermuara  pada tuntutannya  untuk  menghasilkan  hukum  yang melibatkan  hati nurani dan menjalankan hukum dengan pelibatan penghayatan terdalam pada makna hakiki hukum.
Analisis Historis dan Filosofis Terhadap Pemikiran Kontekstualisasi Hukum Islam M. Usman, M. Usman
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v45i1.6

Abstract

Pemikiran  hukum  Islam  telah  lama  mengalami  stagnan. Baru sekitar abad ke-19 mulai muncul suara-suara untuk melakukan perubahan dan pembaharuan terhadap hukum Islam yang  ada. Di antara  penyebab  terjadinya  stagnasi  pemikiran  hukum  Islamtersebut,  akibat  adanya  pemahaman  yang  menganggap  bahwa hukum Islam itu telah cukup dan mapan serta tidak bolehdiganggu gugat  dalam  konteks  apapun.  Padahal  zaman  terus  berubah  dan berkembang  seiring  dengan  berkembangnya  ilmu  dan  teknologi yang  semakin  pesat  yang  pada  gilirannya  mengubah  prilaku  dan pola  hidup  masyarakat.  Dengan  demikian,  dalam  rangka mengkontekstualisasikan  hukum  Islam  harus  memahami  faktorfaktor  sosio-kultural  dan  politik  yang  melatarbelakangi  lahirnya suatu produk hukum tertentu, agar dapat memahami pertikularisme dari produk pemikiran hukum tersebut, sehingga jika di tempat atau waktu  lain  ditemukan  unsur-unsur  partikularisme  yang  berbeda, maka  produk  pemikiran  hukum  itu  dengan  sendirinya  harus dikontekstualisasikan sesuai dengan kebutuhan zaman.
Pengaturan Tindak Pidana dalam Islam Berdasar TeoriMaqasid Al-Syari’ah Munajat, Makhrus
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v45i1.7

Abstract

Upaya  dan  bentuk  formalisasi  syari'at  Islam  di Indonesia  diperdebatkan,  di  satu  sisi  dikehendaki  tegaknya syari'at  Islam  secara  legal  formal,  di  sisi  lain  menginginkan tegaknya  the  islamic  order pada  komunitas  masyarakat,  artinya Islam  lebih  mementingkan   aspek  moral  ketimbang  legal formalnya.  Demikian  halnya  dengan  upaya  formalisasi  hukum pidana Islam dalam konteks keindonesiaan. Model transformasi hukum  pidana  Islam  di  Indonesia  pada  saat  ini  tidak  sampai pada  dataran  sanksi  sebagaimana  yang  diterapkan  dalam AlQuran.  Akan  tetapi   perbuatan  yang  dilarang  dalam  Al-Quran dianggap  sebagai  tindak  pidana,  karena   zina,  qazf, mencuri, muharib,  bughat,  syurb  al-khamr,  murtad,  dan  menghilangkan nyawa  orang  lain   adalah  perbuatan  yang  tidak  sesuai  dengan prinsip dan moralitas Islam. Positivisasi hukum pidana Islam di Indonesia harus melalui ijma'(ijtihad jama'i) dengan lembaga ahl al-hall  wa  al-Aqdnya.  Yang  terdiri  dari berbagai  unsur,  semisal hay'at  al-tsyri'iyyah, al  al-ikhtisas dan  hay'at  al-siyasah (lembaga politik) dapat diterjemahkan menjadi Dewan Perwakilan Rakyat dan Majelis Permusyawaratan Rakyat.
Nilai-Nilai dalam Pertimbangan Seriousness Of Crime: Kajian Pada Komunitas Muslim Nuqul, Fathul Lubabin
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v45i1.8

Abstract

Public  opinion  about  seriousness  of  crime  was influenced  by  much  internal  from  person  (observer)  variable, beside variable form nature of crime and criminal profile. One of internal variable is value which in embracing by individual, one of the  values  is  coming  from  religion  value.  In  religion  values, especially Islamic value, arranges people behavior in relating with his god and with other people. This religion value also influences their  opnion  to  crime  and  action  as  response  to  crime. Nevertheless  has  not  many  field  studies  yet  publication explaining  about  the  Islam  value  in  criminal  justice  system phenomenon  and  influence  at  people  behavior,  so  that  it generates  many  questions  about  how  Muslim’s  opinion  crime and  criminal  justice  system.  The  purpose  of  the  research is  to know  crimes  was  assumed  is  serious  for  Muslim  and  Muslim’s consideration  are  in  determining  seriousness  of  crime.  There search involves 163 psychology undergraduate. In the research, respondent  asked  to  choose  out  of  23  form  of  crime  assumed most  serious  and  followed  with  open-end  questionnaire  related to  reason  of  election  of  crime  that  is  most  serious.  The result shows that apostates (murtad), intended genocide and corruption are  most  serious  crime.  Goodness  and  humanity  value  is  most dominant  reason  in  determination  of seriousness  of  crime. Opinion  about  seriousness  crime  has  implication  at assessment of justice at Law enforcement.
Wacana Demokrasi dalam Pemikiran Politik Islam Hasbi, Muhammad
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v45i1.9

Abstract

This  article  talks  about  democracy  concept  and  it relationship to religion which is concept and a means value system is extremely important in the human life. The problem is between Islam as the conviction based on divine revelation and  democracy that is product of human reason as social creature. Side long, Islam actually  is  the  initiator  in  political  system  application  that  very appreciate  humanity  and  on  the  other  side  democracy  system appreciated  as  the  most  appreciating  system  about  humanity,  so that almost entire government in the world include most  of Islamic state accept this system. This democracy system is still  in process and  it’s  fluency  dependent  on  three  component  within  the  state, they are political will from the state, strong commitment from the political society, and strong guidance from civil society to bring the democracy  system  into  reality.  For  the  Muslim,  this  socialization will be more effective when it also done through religion approach, by the translation of that democracy ideas into religiouslanguage, and  integration  between  it  and  learning  of  Islamic  religious discipline that discuss about constitutional.
Mekanisme Kerja Bersama Antara Nazir dan Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS-PWU) dalam Menggalang Wakaf Uang (Perspektif Manajemen Fundraising) Huda, Miftahul
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v45i1.10

Abstract

Produktifitas  pengelolaan  wakaf  oleh  nazir adalah  sebuah keniscayaan untuk menyalurkan hasil wakaf secara terus-menerus. Asumsi ini membutuhkan ketersediaan sumber daya/dana wakaf bagi nazir dengan cara  mengembangkan  model-model  penggalangan  sumber  wakaf khususnya wakaf uang. Di sisi yang lain, UU No 41 Tahun2004 Tentang Wakaf mengamanatkan Lembaga Keuangan Syariah PenerimaWakaf Uang (LKS-PWU)  untuk  menjadi  lembaga  penerima  dan  custody  wakaf  uang tersebut. Tentu kerjasama antara  nazir sebagai pengelola wakaf uang dan LKS-PWU menjadi urgen. Karena itu, makalah ini bertujuan mendesain seperti  apa  mekanisme  kerja  bersama  antara  nazir sebagai  lembaga pengelola  wakaf  dengan  Lembaga  Keuangan  Syariah  Penerima  Wakaf Uang  (LKS-PWU)  sebagai  lembaga  yang  formal  ditugaskan  untuk menghimpun, mengumpulkan  dan  sekaligus  lembaga  titipan  wakaf  uang, dalam mengembangkan  penggalangan  wakaf  uang  dari  masyarakat. Mekanisme  yang  dapat  dilakukan  adalah  dengan  kedua  lembaga  tersebut melakukan program pengelolaan wakaf uang bersama baik dalam konteks resource  management, asset management  maupun  grand  management, dengan tetap memberikan porsi fungsi masing-masing lembaga. LKS-PWU sebagai  penerima  dan  sebagai  kustodi sedangkan  nazir sebagai  pengelola dan  menyalurkan  hasil  wakaf  uang.  Tentu saja  dalam  ketiga segmen pengelolaan  tersebut,  kedua  lembaga  secara integratif  melakukan  kerjakerja  bersama  baik  dalam  memberikan motivasi/sosialisasi,  program, maupun metode penggalangan wakaf uang.
Mutu Produk, Nilai dan Kepuasan Pelanggan dalam Pandangan Islam Endraswati, Hikmah
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v45i1.11

Abstract

If producers want to attract new costumers or to defend the  old  one,  they  must produces  product  which  can  satisfy  the customers  need  and  want,  products which  offer  value  added  to customers  and  product  which  have  high  quality  but low  prices. Through innovation of the product, companies can compete with the ohters.  If  the  companies  can  do  better  than  the  others, companies  will  get  high return  in  the  future  like  high  profit, customer satisfaction, customer loyalty and higher market share. In this  paper,  we  explain  about  quality  of  the  product,  value and customer satisfaction in islamic perspectives.
Determinan Pelarangan PraktikShort Selling dalam Lingkup Pasar Modal Syariah dan Realitasnya di Indonesia R. Adawiyah, Wiwiek; Najmudin, Najmudin
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v45i1.12

Abstract

Capital  market  is  an  activity  related  to  public offering and trading of securities, public companies relating to the  issuance  of  securities,  institutions  and  professionals associated with the effects. One of the most popular financial instruments  and  commonly  used  in  conventional  capital market,  including  in  Indonesia  Stock  Exchange  (Bursa  Efek Indonesia) is short-selling. In regulation of Bapepam-LK No. V.D.6,  short-selling  is  the  sale  of  securities  in  which  the securities are not owned by the seller when the transaction is executed.  In general,  this  transaction  clearly  violated  syariah guidance,  as  embodied  in  the  Fatwa  of  DSN-MUI  No.  20 Year  2001  and  No.  40  year  2003,  because  of  short-selling synchronized with the bay' ma'dum based on the hadith "You may  not  sell  anything  which  are  not  your  belongings". Therefore, this paper aims at studying the issues surrounding the interpretation and the reality of short-selling instruments. Three  main  results  obtained  were  permissibility  of  shares as the object of the loan contract, the issue of bay 'ma'dum can be  interpreted  as  a collateral  of  delivery  which  can  be controlled  by  the  rules  of  Bapepam-LK, and  thirdly,  the economic benefit from the imposition of a fee in the formof the loan contract is concluded as a forbidden usury.
Kedudukan Anak di luar Pernikahan Menurut KUH Perdata dan Menurut Hukum Islam Gadjong, Agussalim Andi
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v45i1.13

Abstract

Anak zina menurut KUH. Perdata, dipandang sebagai anak yang sama sekali tidak mempunyai hubungan hukum, berupa kewarisan dan kekeluargaan dengan kedua orang tuanya, namun ia hanya berhak mendapat biaya penghidupan sesuai dengan kemampuannya. Anak zina menurut hukum Islam dipandang sebagai anak yang tidak sah, dan tidak mempunyai hubungan nasab dan kewarisan terhadap bapaknya, melainkan kepada ibu dan keluarga ibunya.
Harmoni Keluarga Beda Agama Di Mlati, Sleman, Yogyakarta Suhasti Sy, Ermi
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v45i1.14

Abstract

Married couples of different religions argue that they have no serious problems in families. They feel that their couple has fulfilled their needs, they do not live under poverty, and they are happy. In relation to the religious life, they feel that their couple gives much attention on freedom of religion and everyone in their family is free to perform their own religious worship. Their couple never asks them to change their belief to his/her religion. This also occurs in the religious social life in Melati village, Sleman, Yogyakarta. They feel very lucky to live among tolerant society, in which people honor religious diversity. Although they live among tolerant people, they feel uncomfortable in communicating with other people, especially in relation with the religious social activities, because they live in interfaith marriage. This makes them reluctant to be active in religious social activities. This article presents happiness and harmony among couples living in interfaith marriage in Mlati village, Sleman Regency, Yogyakarta.