cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Kedokteran
ISSN : 02164752     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah FK UKI bertujuan sebagai wadah publikasi hasil penelitian staff pengajar fakultas kedokteran internal dan eksternal UKI, sebagai sharing knowledge para dosen fakultas kedokteran serta menunjang pengembangan ilmu kedokteran/kesehatan.
Arjuna Subject : -
Articles 217 Documents
Efek Antimikroba Infusa Biji Pinang (Areca catechu Linn.), Daun Sirih (Piper betle Linn) dan Kombinasinya Terhadap Staphylococcus aureus Secara In Vitro Rusmana, Djaja; Gosandra, Sherrina O.; Widowati, Wahyu
Majalah Kedokteran UKI Vol. 37 No. 2 (2021): MEI - AGUSTUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v37i2.4821

Abstract

AbstrakStaphylococcus aureus menjadi bakteri penyebab utama terjadinya abses di rongga mulut. Frekuensi dental abses di dunia mulai dari 0,7% sampai 15% dan 14% di Indonesia. Biji pinang (Areca catechu L.) dan Daun sirih (Piper betle L.) memiliki aktivitas antimikroba. Tujuan penelitian ini adalah menilai aktivitas antimikroba dari infusa biji pinang, daun sirih dan kombinasinya terhadap Staphylococcus aureus. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorik metode difusi dengan metode Kirby-Bauer. Penelitian ini dilakukan triplo. Rerata zona inhibisi terbesar terdapat pada ciprofloxacin (25,46±0,19 mm), diikuti infusa biji pinang 6% (11,76±0,96 mm), 8% (11,60±0,64 mm), 10% (11,38±0,96 mm), kombinasi infusa biji pinang 6% dan daun sirih (10,88±0,72mm), infusa daun sirih (9,82±0,81 mm), kombinasi infusa biji pinang 8% dan daun sirih (8,66±0,41 mm), dan kombinasi infusa biji pinang 10% dan daun sirih (8,54±1,23 mm). Simpulan penelitian infusa biji pinang 6%, 8%, 10%, infusa daun sirih, dan kombinasinya memiliki efek antimikroba terhadap S. aureus.Kata Kunci: biji pinang; daun sirih; antimikroba; Staphylococcus aureus AbstractStaphylococcus aureus is the main cause of abscesses in the oral cavity. The frequency of dental abscesses in the world ranges from 0.7% to 15% and 14% in Indonesia. Areca nut (Areca catechu L.) and Betel leaf (Piper betle L.) has antimicrobial activity. The purpose of this study was to measure the inhibition zone from infusion of areca nut, betel leaf and their combination against Staphylococcus aureus and is expected to be a complementary therapy. This research is a laboratory experimental study using the Kirby-Bauer method of diffusion. This research was conducted in triplo. The largest mean zone of inhibition was found in ciprofloxacin (25.46±0.19 mm), followed by areca nut infusion 6% (11.76±0.96 mm), 8% (11.60±0.64 mm), 10% (11.38±0.96 mm), combination of betel leaf infusion and 6% areca nut (10.88±0.72mm), betel leaf infusion (9.82±0.81 mm), combination of betel leaf and 8% areca nut (8.66±0.41 mm), and combination of 10% areca nut infusion and betel leaf (8.54±1.23 mm). The conclusion of this research was that betel nut infusion 6%, 8%, 10%, betel leaf infusion, and their combination have antimicrobial effect against S.aureus.Keywords: areca nut; betel leaf; antimicrobial; Staphylococcus aureus*DR: Penulis Koresponden; Email: jayarusmana67@gmail.com
Sindrom Hipersensitivitas Dapson pada Penderita Kusta di Kota Jayapura Papua Indonesia Tahun 2017-2019 Reba, Timothy V.P.; Arodes, Evy S.; Sumolang, Inneke V.; Pohan, Dame J.
Majalah Kedokteran UKI Vol. 37 No. 2 (2021): MEI - AGUSTUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v37i2.4822

Abstract

AbstrakPengendalian kusta saat ini berdasarkan pada deteksi dini kasus dan pengobatan dengan menggunakan rejimen multi drug therapy (MDT), salah satu komponen terapinya adalah dapson, sebagai antibiotika dan anti-inflamasi. Dapsone hypersensitivity syndrome (DHS) merupakan salah satu efek samping dapson. Tujuan penelitian ini untuk melihat profil DHS pada orang asli Papua penderita kusta di Puskesmas kota Jayapura. Terdapat 36 penderita DHS 34 (94,4%), yang asli orang Papua dan 2 (5,6%) penderita non Papua. Kelompok umur terbanyak pada usia 17-60 tahun berjumlah 26 (76,5%) penderita. Jenis kelamin terbanyak adalah perempuan sebanyak 18 (53%) penderita. Jenis kusta terbanyak adalah multibasiler (MB) sebanyak 31 (91,2%) penderita. Lama pemberian MDT sampai timbulnya gejala klinis DHS terbanyak adalah pada minggu ke-4 sebanyak 23 (67,6%) penderita. Gejala klinis yang paling sering muncul adalah demam, kulit mengelupas, sklera ikterik dan anemia yang didapatkan pada 31 (91,2%) penderita. Pemberian steroid sebagai pilihan terapi yang diberikan selama 36-40 hari diberikan pada 18 (53%) penderita, sedangkan terapi kurang 30 hari diberikan pada tiga (8,8%) penderita yang meninggal dunia. Kesimpulannya, DHS pada penelitian ini yang dilakukan di kota Jayapura ditemukan lebih banyak DHS pada orang Papua dibandingkan dengan non Papua. Gejala klinis terbanyak timbul pada minggu ke-4. Terapi yang diberikan adalah steroid dengan tapering off dengan waktu rata-rata sampai 40 hari.Kata Kunci: multibasiler, steroid, terapi AbstractThe control of leprosy is currently based on early detection of cases and treatment using the Multi Drug Therapy (MDT) regimen, one of the therapeutic components is dapsone, as an antibiotic and anti-inflammatory. Dapsone Hypersensitivity Syndrome (DHS) is a side effect of dapsone. The purpose of this study was to see the DHS profile of Papuans affected by leprosy at the Jayapura City Health Center. There were 36 DHS sufferers 34 (94.4%) of them were Papuans and 2 (5.6%) were non-Papuans. Most age groups aged 17-60 years were 26 (76.5%) sufferers. Most of the sexes were women as many as 18 (53%) sufferers. Most types of leprosy are multibacillary (MB) as many as 31 (91.2%) patients. The duration of MDT administration and the appearance of the most clinical symptoms of DHS at week 4 were 23 (67.6%) patients. The clinical symptoms that appeared most often were fever, peeling skin, scleral icterus and anemia were found in 31 (91.2%) patients. Steroid administration as a therapeutic option was mostly found for 36-40 days in 18 (53%) patients, while therapy for less than 30 days found 3 (8.8%) patients died. In conclusion, the DHS among Papuans in Jayapura city is higher than that of non-Papuans. Most clinical symptoms occur at week 4. The therapy given was steroids with tapering off with an average time of up to 40 days.Keywords: multibasiler, steroid, therapy
Hubungan Indeks Massa Tubuh dan Hipertensi di Puskesmas Barimba Kapuas Hilir Kabupaten Kapuas Tahun 2020 Diani, Yusias H.; Yulanda, Buca
Majalah Kedokteran UKI Vol. 37 No. 2 (2021): MEI - AGUSTUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v37i2.4823

Abstract

AbstrakHipertensi merupakan masalah dunia maupun Indonesia. Berdasarkan Riskesdas 2018 prevalensi hipertensi mencapai 34,1% sedangkan obesitas mencapai 21,8%. Hipertensi tidak memiliki penyebab yang spesifik, namun salah satu faktor risiko terjadinya hipertensi adalah berat badan berlebih karena menyebabkan peningkatan curah jantung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara indeks massa tubuh (IMT) dengan kejadian hipertensi di Puskesmas Barimba Kapuas Hilir Kabupaten Kapuas. Penelitian dilakukan dengan desain potong lintang. Teknik pemilihan sampel menggunakan cara consecutive sampling menggunakan data sekunder berupa rekam medis. Data diolah dan dianalisis menggunakan uji statistik chi-square. Tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara IMT >25 dan hipertensi (p=0,874). Kesimpulan lebih separuh dari pasien hipertensi memiliki IMT >25, tetapi tidak ada hubungan yang bermakna dengan kejadian hipertensi di Puskesmas Barimba Kapuas Hilir Kabupaten Kapuas Tahun 2020.Kata Kunci: Hipertensi, Indeks massa tubuh AbstractHypertension is a global problem and in Indonesia. Based on the 2018 basic health survey, the prevalence of hypertension was 34.1% and obesity was 21.8%. Hypertension does not have a specific cause, but one of the risk factors for hypertension is obesity, as it can increase cardiac output. The purpose of this study was to determine the relationship between body mass index and the incidence of hypertension at the Barimba Kapuas Hilir Health Center, Kapuas Regency. This research was conducted with a cross sectional design. With a consecutive sampling method using medical records, we obtained 85 patients with hypertension. Data were processed and analyzed using the chi-square statistical test. There was no statistical significant association (p-value = 0.874) between obesity and hypertension. We concluded that more almost two-third of the patients were obese, but there was no association between obesity and hypertension at the Barimba Kapuas Hilir Health Center, Kapuas Regency in 2020.Keywords: Hypertension, Obesity
Anestesi pada Pasien Osteoartritis Panggul Kanan dengan Riwayat Poliomielitis yang Menjalani Hemiartoplasti Bipolar Soedarso, Raden D.T.
Majalah Kedokteran UKI Vol. 37 No. 2 (2021): MEI - AGUSTUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v37i2.4824

Abstract

AbstrakPoliomyelitis adalah penyakit menular akut yang disebabkan oleh virus dengan predileksinya sel anterior massa kelabu sumsum tulang belakang dan batang otak, dengan akibat kelumpuhan otot otot dengan distribusi dan tingkat yang bervariasi serta bersifat permanen. Pasien wanita 58 tahun didiagnosis sebagai osteo artritis dengan riwayat polio sejak kecil. Pasien mengeluhkan nyeri pada panggul kanan sejak setahun ini Pasien direncanakan untuk menjalani operasi hemiarthroplasty bipolar dengan pembiusan anestesi regional epidural. Anestesia epidural dengan regimen 15 ml bupivacaine 0,5% plain, di area L2-L3, hemodinamik saat operasi ceenderung stabil dengan nadi 80-90 kali / menit, tekanan darah 90-110 /60-75 mmHg. Setelah operasi pasien kembali keruangan dengan analgesia morpin 1 mg dalam 10 ml, diberikan setiap 10-12 jam. Pemilihan anestesia regional epidural bertujuan untuk meminimalkan pengaruh penurunan fungsi motorik namun tidak dirasakan nyeri saat operasi dan setelah operasi.Kata kunci: Poliomyelitis, anestesi epidural, hemiartroplasty bipolar. AbstractPoliomyelitis is an acute infectious disease caused by a virus which could causes cell damaging of anterior mass of gray spinal cord and brain stem, with consequent paralysis of muscle s with distribution and varying degree and nature permanent. A 58th years old woman patient was diagnosed with osteoarthritis with history of poliomyelitis since childhood. The patient complains pain in right hip since 1 years ago. This patient had operation hemiarthroplasty bipolar and had regional anesthesia for this procedure. Epidural anesthesia technique with regimen 15 ml bupivacaine 0.5% plain, in the area of L2-L3, Durante hemodynamic operations tend to be stable, with a pulse of 80-90 beats / minute, blood pressure of 90-110 / 60-75 mm Hg. Postoperatively the patient back to the room with morphine analgesic regimen of 1 mg in a volume of 10 ml, administered every 10-12 hours. The choice of epidural regional anesthesia aims to minimize the effect of decreased motor function but does not feel pain intraoperative surgery and postoperative Key words: Poliomyelitis, Epidural anesthesia, Hemiarthroplasty bipolar
Malnutrisi Sebagai Faktor Risiko Pneumonia Nosokomial Pada Usia Lanjut Watupongoh, Hildebrand H.V.; Kusumawati, Dyah S.
Majalah Kedokteran UKI Vol. 37 No. 2 (2021): MEI - AGUSTUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v37i2.4825

Abstract

Abstrak Data Nutrition Examination Survey (NHANES) menunjukan 16% orang Amerika yang berusia 65 tahun mengonsumsi kurang dari 1000 kalori per hari sehingga memiliki risiko tinggi kekurangan gizi. Di Indonesia, prevalensi usia lanjut (usila) yang mengalami risiko malnutrisi di rumah sakit adalah 69,03% dan 41,4% mengalami malnutrisi. Usia lanjut dengan malnutrisi mempunyai risiko lebih tinggi mengalami infeksi bakterial dan virus akut, tingkat kematian akibat infeksi lebih tinggi tiga kali lipat pada usila, karena gangguan sistem imun. Malnutrisi geriatri diidentifikasi melalui skrining status gizi dengan alat penapisan, Mini Nutrional Assessment (MNA) merupakan alat penilaian status gizi paling baik memberikan prognosis untuk mendete-ksi malnutrisi populasi usila. Malnutrisi merupakan faktor terjadinya pneumonia nosokomial pada usia lanjut, lama masa rawat inap yang memanjang, peningkatan biaya perawatan rumah sakit, dan risiko tinggi kematian. Kata Kunci: Usila, Pneumonia Nosokomial, Malnutrisi. AbstractData from Nutrition Examination Survey (NHANES) showed that 16% of Americans age of 65, consume less than 1000 calories per day, therefore have a high risk of malnutrition. The prevalence in Indonesia of malnutrition in the elderly who are hospitalized is 69.03% at risk of malnutrition and 41.4% experiencing malnutrition. The aging process of the elderly with malnutrition, has a higher risk of experiencing acute bacterial and viral infections, the mortality rate due to infection is three times higher in the elderly, due to immune system disorders. Geriatric malnutrition is identified through nutritional status screening with a screening tool, the Mini Nutritional Assessment(MNA) is the best nutritional status assessment tool providing the best prognosis for detecting malnutrition in the elderly population. Malnutrition is one of the factors in the occurrence of nosocomial pneumonia in the elderly, which has a risk of long hospitalization, increased hospitalization costs, and a high risk of death.Keywords: Elderly, Nosocomial Pneumonia, Malnutrition
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Metanol Teh Hijau dan Teh Hitam (Camellia sinensis) Terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus Evy S. Arodes; Ivan A. Hasudungan
Majalah Kedokteran UKI Vol. 36 No. 3 (2020): SEPTEMBER - DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v36i3.4828

Abstract

AbstrakResistensi mikroba terhadap antibiotik klasik dan perkembangannya yang cepat telah menimbulkan perhatian serius dalam pengobatan penyakit menular. Baru-baru ini, banyak penelitian diarahkan untuk menemukan solusi yang menjanjikan untuk mengatasi masalah ini. Fitokimia telah mengerahkan aktivitas antibakteri potensial terhadap patogen sensitif dan resisten melalui mekanisme aksi yang berbeda. Beberapa tanaman berpotensi untuk dikembangkan sebagai pengobatan infeksi bakteri S. aureus. Salah satunya termasuk tanaman dari genus Camellia sinensis yaitu teh hijau dan teh hitam. Teh yang mengandung berbagai senyawa antara lain katekin polifenol, saponin, alkaloid, tannin bersifat antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas antibakteri dari ekstrak methanol teh hijau dan teh hitam dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus menggunakan dengan metode difusi cakram Kirby Baurer. Konsentrasi setiap perlakuan ekstrak teh hijau mempengaruhi diameter zona hambat bakteri. Diameter antar perlakuan menunjukkan bahwa diameter zona hambat dari kontrol positif gentamisin lebih tinggi yaitu 26,67 mm dibandingkan dengan perlakuan ekstrak teh hijau dan teh hitam. Konsentrasi ekstrak 100 mg/ml memiliki zona hambat sebesar 16 mm pada teh hijau, sedangkan pada pada teh hitam sebesar 20 mm. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan ekstrak teh hijau dan teh hitam efektif menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus. Kata kunci: Staphylococcus aureus, Camellia sinensis, teh hijau, teh hitam, aktivitas antibakteri. AbstractMicrobial resistance to classical antibiotics and their rapid development have given rise to serious attention in the treatment of infectious diseases. Recently, a lot of research has been directed towards finding a promising solution to this problem. Phytochemicals have exerted potential antibacterial activity against sensitive and resistant pathogens through different mechanisms of action. Several plants have the potential to be developed as a treatment for S. aureus bacterial infection. One of them includes plants from the genus Camellia sinensis, namely green tea and black tea. Tea which contains various compounds including polyphenol catechins, saponins, alkaloids, and tannins are antibacterial. This study aims to determine the antibacterial effectiveness of methanol extract of green tea and black tea in inhibiting the growth of S. aureus bacteria using the Kirby baurer disk diffusion method. The concentration of each green tea extract treatment affected the diameter of the bacterial inhibition zone. The diameter between treatments showed that the diameter of the inhibition zone of the gentamicin positive control was 26.67 mm higher than that of the green tea and black tea extracts. The extract concentration of 100 mg/ml had an inhibitory zone of 16 mm in green tea, while in black tea it was 20 mm. Based on these data, it can be concluded that green tea and black tea extracts are effective in inhibiting the growth of S. aureus bacteria.Keywords: Staphylococcus aureus, Camellia sinensis, green tea, black tea, antibacterial activity
Pengaruh Desinfektan Pembersih Lantai Terhadap Perkembangan Larva Ascaris lumbricoides Bryant Leonardo; Kevin C. Sembiring; Yesika R. H. Siagian; Chyncia Vriesca; Made S. Primandita; Ronny; Retno Wahyuningsih
Majalah Kedokteran UKI Vol. 36 No. 3 (2020): SEPTEMBER - DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v36i3.4829

Abstract

AbstrakPenyakit kecacingan merupakan penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan kurang mendapat perhatian (neglected disease) dan prevalensi askariasis menjadi yang tertinggi di Indonesia. Desinfektan pembersih lantai merupakan salah satu alat yang digunakan untuk mencegah infeksi kecacingan. Desinfektan yang digunakan pada penelitian ini adalah; kombinasi alkohol etoksilat-natrium lauril eter sulfat, karbol-pine oil, benzalkonium klorida-etoksilat fatty alcohol, dan benzalkonium klorida. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh desinfektan dengan konsentrasi yang berbeda terhadap perkembangan telur A. lumbricoides. Bahan dan cara pada penelitian ini menggunakan telur A. lumbricoides yang berasal dari feses penderita askariasis. Kemudian feses diubah menjadi suspensi melalui proses sedimentasi dan sentrifugasi. Penelitian ini didapatkan bahwa seluruh desinfektan dengan konsentrasi yang berbeda tidak berpengaruh terhadap perkembangan larva A. lumbricoides. Kata kunci: Alkohol Etoksilat, Natrium Lauril Eter Sulfat, Karbol-Pine Oil, Benzalkonium Klorida-EtoksilatFatty Alcohol AbstractWorm disease is still a public health problem and has received less medical attention (neglected disease) and ascariasis become the highest prevalence of worm disease in Indonesia. Floor cleaning disinfectant is one of the tools that is used to prevent worm infections. The disinfectants used in this study were; combination of alcohol ethoxylatesodium lauryl ether sulfate, carbol-pine oil, benzalkonium chloride-ethoxylate fatty alcohol, and benzalkonium chloride. The purpose of this study is to determine the effect of disinfectants with different concentrations on the development of A. lumbricoides eggs. Materials and methods in this study used A. lumbricoides eggs derived from the feces of ascariasis patients. Then the feces were converted into the suspense through the process of sedimentation and centrifugation. The results of this study showed that all disinfectants with different concentrations had no effect on the development of A. lumbricoides larvae.Keywords: Ethoxylate alcohol, Sodium lauryl ether sulfate, Carbol-pine oil, Benzalkonium chlorid-ethoxylate fatty alcohol
FRAMBUSIA : INFEKSI TROPIS TERABAIKAN, DIAGNOSIS SERTA TATALAKSANANYA Felicia, Mildi; Suhartono, Beto
Majalah Kedokteran UKI Vol. 37 No. 3 (2021): SEPTEMBER - DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v37i3.2425

Abstract

Frambusia merupakan penyakit purbakala yang sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan karena masih terdapat daerah endemis di beberapa negara temasuk Indonesia. Frambusia adalah penyakit menular melalui kontak kulit dengan kulit dari seseorang penderita yang memiliki luka (lesi aktif) terhadap orang lain yang sehat. Bakteri Treponema pallidum subspecies pertenue merupakan agen penyebab penyakit ini. World Health Organization telah menetapkan frambusia sebagai salah satu penyakit infeksi tropis terabaikan yang ditargetkan mencapai eradikasi pada tahun 2020. Sama seperti penyakit lain yang disebabkan oleh infeksi Treponema, frambusia memiliki beberapa fase klinis perjalanan penyakit mulai dari manifestasi ringan pada kulit sampai menyebabkan kecacatan fisik permanen pada penderitannya. Diagnosis frambusia ditegakkan melalui tanda klinis dan pemeriksaan penunjang serologis. Saat ini tata laksana frambusia difokuskan melalui usaha pencapaian eradikasi. Pemberian azitromisin massal kepada seluruh masyarakat di daerah endemis merupakan tata laksana utama frambusia. Kegiatan survailans berupa pemantauan hasil pengobatan serta penemuan dan pengobatan kasus secara aktif maupun pasif juga dilakukan setelah pemberian obat masal dilakukan, untuk memastikan upaya pencapaian eradikasi dapat tercapai. Kata kunci:, Treponema pallidum subspecies pertenue, lesi kulit, eradikasi, azitromisin. Frambusia is one of the ancient disease which is still one of health problem that has not been resolved because there are still endemic in many countries including Indonesia. Frambusia is a contagious disease that was transmitted through skin-to-skin contact from a person with a wound (active lesion) to another healthy person. Treponema pallidum subspecies pertenue, is a causative agent for this disease. WHO has choosen frambusia as a neglected tropical infectious diseases who will be targeted to achieve eradication in 2020. Just like other diseases caused by Treponema infection, frambusia has several clinical phases from mild manifestations on the skin to permanent physical disability in patients. The diagnosis of frambusia is confirmed by finding clinical signs accompanied by serological investigations. Management of frambusia was focused to eradicate itself. Azithromycin was given to all people with frambusia in endemic areas and become the best one of management frambusia. Surveillance activities in the form of monitoring the results of treatment as well as active and passive case finding and treatment were also carried out after the mass drug administration was carried out, to ensure efforts to achieve eradication could be achieved. Keywords: Treponema pallidum subspecies ertenue,Skin lession, eradication, azithromycin
Gambaran Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Mahasiswa Terhadap Pencegahan Covid-19 Di Fakultas Kedokteran UKI Tahun 2020 Pappin, Rei Y.K.; Diani, Yusias H.
Majalah Kedokteran UKI Vol. 37 No. 3 (2021): SEPTEMBER - DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v37i3.3580

Abstract

Covid-19 merupakan penyakit yang disebabkan virus Corona, menginfeksi lebih dari 200 negara di dunia. Hingga kini belum ada pengobatan khusus sehingga dibutuhkan pengetahuan mengenai yang baik mengenai Covid-19 dan perilaku hidup bersih juga sehat sebagai upaya pencegahan penularan. Mahasiswa dalam populasi penelitian sejumlah 174 orang sebagai bagian dari kelompok masyarakat dan calon tenaga medis diharapkan mengambil bagian dalam gerakan pencegahan, karena itu dibutuhkan pengetahuan, sikap dan perilaku yang baik agar dapat memberikan teladan dan edukasi terkait cara pencegahan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Mahasiswa Terhadap Pencegahan Covid-19. Jenis penelitian ini deskriptif, dengan jumlah sampel 125 mahasiswa yang telah memenuhi kriteria inklusi. Hasil dan kesimpulan, didapatkan usia terbanyak pada 21 tahun 57,6%, jenis kelamin terbanyak pada perempuan yakni 63,2%, pengetahuan baik 79,2% responden, Sikap baik 91,2%, dan Perilaku baik 94,4%. Mayoritas responden berusia di bawah 21 tahun, dengan jumlah perempuan melebihi laki-laki, dan mayoritas responden memiliki pemahaman, sikap, dan perilaku yang baik tentang pencegahan Covid-19.
Pendekatan Diagnosis Ensefalitis Toksoplasma pada Penderita HIV/AIDS Yuwono, Edho
Majalah Kedokteran UKI Vol. 38 No. 1 (2022): JANUARI - APRIL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v38i1.4150

Abstract

Toxoplasma gondii merupakan penyebab ensefalitis toksoplasma. Infeksi ini merupakan bagian dari infeksi oportunistik yang sering muncul pada penderita HIV/AIDS (ODHA). Akibat penurunan sistem imunitas menyebabkan reaktivasi dari infeksi laten yang menyebabkan kejadian ensefalitis toksoplasma. Dalam menegakkan diagnosis ensefalitis toksoplasma diperlukan beberapa modalitas seperti manifestasi klinis yang sesuai, pemeriksaan radiologi CT scan atau MRI kepala dan pemeriksaan laboratorium seperti serologi antibodi, PCR maupun histopatologi. Dengan beberapa modalitas tersebut maka pemberian terapi dan profilaksis dapat segera diberikan untuk mencegah morbiditas maupun mortalitas. Kata kunci: Toxoplasmosis, diagnosis, terapi