cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Kedokteran
ISSN : 02164752     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah FK UKI bertujuan sebagai wadah publikasi hasil penelitian staff pengajar fakultas kedokteran internal dan eksternal UKI, sebagai sharing knowledge para dosen fakultas kedokteran serta menunjang pengembangan ilmu kedokteran/kesehatan.
Arjuna Subject : -
Articles 217 Documents
Premature Ovarian Insufficiency (POI) pada Wanita 31 Tahun, Sebuah Laporan Kasus Sirait, Batara I.; Imaneli, Nurin A.; Amiria, Prita A.
Majalah Kedokteran UKI Vol. 38 No. 1 (2022): JANUARI - APRIL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v38i1.5732

Abstract

Premature ovarian insufficiency (POI) adalah gangguan heterogen yang mempengaruhi sekitar 1% wanita < 40 tahun. POI ditandai dengan hipergonadotropin, hipoestrogenisme, dan amenore. Lima puluh persen kasus disebabkan oleh disgenesis ovarium. Pasien dengan POI beresiko mengalami komplikasi metabolik dan sistemik karena kadar esterogen yang rendah. Pada laporan kasus ini mempresentasikan wanita menderita POI dengan gangguan menstruasi selama beberapa tahun terakhir. Pasien dilakukan pemeriksaan USG transvaginal dan hormon anti-Müllerian (AMH) dengan hasil mengarah kepada POI. Pasien diberikan terapi pil KB yang mengandung kombinasi cyproterone acetate dan ethinyl estradiol, sehingga pasien mendapat menstruasi. Kata Kunci: Hipergonadotropin, Hipoestrogenisme, Esterogen, Menstruasi, USG Transvaginal Premature ovarian insufficiency (POI) is a heterogeneous disorder that affects approximately 1% of women < 40 years of age. POI is characterized by hypergonadotropin, hypoestrogenism, and amenorrhea. Fifty percent of cases are due to ovarian dysgenesis. Patients with POI are at risk for metabolic and systemic complications due to low estrogen levels. In this case report, we present a woman with POI has symptoms of menstrual disorders for the past few years. The patient underwent transvaginal ultrasound and Anti-Müllerian Hormone (AMH) examination with results leading to POI. The patient was given birth control pills containing a combination of Cyproterone acetate and Ethinyl estradiol, so that the patient got menstruation. Keywords: Hypergonadotropinism, Hypoestrogenism, Estrogen, Menstruation, Transvaginal Ultrasonography
Pengaruh Edukasi Terhadap Pengetahuan Tentang Stunting di Kalangan Ibu Hamil di Puskesmas, Kota Jayapura, Papua Taraudu, Beatrice I.; Sihombing, Rodinda; Manalu, Erida
Majalah Kedokteran UKI Vol. 38 No. 1 (2022): JANUARI - APRIL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v38i1.5735

Abstract

Stunting atau tenkes merupakan kegagalan pertumbuhan pada balita akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak menjadi pendek. Masalah stunting menandakan gangguan gizi kronis yang dipengaruhi oleh kondisi ibu pada saat kehamilan dan kondisi kesehatan balita. Stunting antara lain disebabkan pengetahuan yang kurang tentang pentingnya pemenuhan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan. Semakin rendah pengetahuan ibu maka semakin beresiko kejadian stunting pada anak. Edukasi merupakan salah satu faktor penting dapat meningkatkan pengetahuan serta praktik ibu dalam memenuhi kebutuhan nutrisi selama kehamilan dan setelah anak dilahirkan sebagai bentuk usaha mencegah kejadian stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi/penyuluhan tentang stunting pada ibu hamil di puskesmas, Kota Jayapura, Papua. Subyek penelitian terdiri atas 44 orang ibu hamil yang kebanyakan <20tahun, kebanyakan berpendidikan SMA, dan pendapatan rumah tangga <Rp. 1.500.000. Sebelum edukasi didapatkan 32 ibu hamil namun setelah edukasi didapatkan hanya satu orang ibu yang memiliki pengetahuan kurang, sementara 43 ibu memiliki pengetahuan yang baik, terdapat perbedaan signifikan pada sebelum dan setelah edukasi (t-test, p<0,05). Kata Kunci: Tenkes, ibu hamil, pengetahuan, edukasi Stunting or tenkes is a failure of growth in toddlers due to chronic malnutrition, so that children become short. The problem of stunting indicates a chronic nutritional disorder that is influenced by the condition of the mother during pregnancy and the health conditions of toddlers. Stunting is partly due to a lack of knowledge about the importance of nutritional fulfillment in the first 1000 days of life. The lower the mother's knowledge, the more risk the incidence of stunting in children. Education is one of the important factors that can increase the knowledge and practice of mothers in meeting nutritional needs during pregnancy and after the child is born as a form of effort to prevent stunting. This study aims to determine the effect of education/counseling on stunting in pregnant women at the health center in Jayapura City, Papua. The study subjects consisted of 44 pregnant women, most of whom were <20 years old, most of whom had a high school education, and household income <Rp. 1,500,000. Before education, there were 32 pregnant women but after counseling, only one mother had poor knowledge, while 43 mothers had good knowledge. There was a significant difference between before and after education (t-test, p<0.05). Keywords: Tenkes, pregnant women, knowledge, education
Malaria pada Kehamilan di Puskesmas Timika Jaya Tahun 2019-2020 Balagaise, Melania; Rahangiar, Maria Y.; Ronny; Sisirawaty
Majalah Kedokteran UKI Vol. 38 No. 1 (2022): JANUARI - APRIL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v38i1.5736

Abstract

Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa Plasmodium yang hidup dan berkembang di dalam eritrosit. Malaria pada kehamilan merupakan masalah kesehatan yang penting karena dapat mengakibatkan berbagai masalah pada ibu dan bayinya. Desain penelitian deskriptif potong lintang. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang berasal dari rekam medik di Puskesmas Timika Jaya. Subyek penelitian ini adalah seluruh ibu hamil positif malaria yang dibuktikan dengan pemeriksaan hapusan darah. Penelitian ini menunjukkan malaria pada ibu hamil paling banyak ditemukan ada kelompok umur 20-35 tahun (74,5%) dan paritas tertinggi adalah multigravida (38,7%). Bila ditinjau dari usia kehamilan infeksi malaria tertinggi terjadi pada trimester 2 yaitu 46,2%, sedangkan hasil pemeriksaan hemoglobin menunjukkan bahwa 69,8% mempunyai kadar Hb <11 g/dL. Spesies malaria yang paling banyak di temukan pada penelitian ini adalah P. falciparum yaitu 58,5%. Seluruh pasien merupakan pasien rawat jalan dan semuanya mendapatkan terapi dehidro artemisinin-piprakuin 100%. Kata Kunci : Malaria, kehamilan, P. falciparum, P. vivax, P. malariae Malaria is a disease caused by Plasmodium protozoa that live and develop inside erythrocytes. Malaria in pregnancy is an important health problem because it can cause various problems to the mother and her baby. Descriptive cross-sectional research design was conducted to study malaria in Puskesmas Timika Jaya, Papua. The data used in this study were obtained from medical records. The subjects of this study were all pregnant women positive for malaria as evidenced by blood smear examination. This study shows that malaria in pregnant women is mostly found in the age group 20-35 years (74.5%) and the highest infection was found in multigravida group (38.7%). Based on the gestational age the highest malaria infection occurred in trimester 2 (46.2%), while the results of hemoglobin investigation showed that 69.8% had Hb levels <11 g/dL. The most common malaria species found in this study was P. falciparum, 58.5%. All patients were outpatients and all received 100% dehydro artemisinin-piprakuin therapy. Keywords : Malaria, pregnancy, P. falciparum, P. vivax, P. malariae
Gambaran Keberhasilan Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Filariasis Melalui Pemeriksaan Apus Darah Tebal di Kabupaten Balangan Periode Februari – April 2021 Kustono, Rachel S.; Yanti; Harmiatun, Yovita
Majalah Kedokteran UKI Vol. 38 No. 2 (2022): MEI - AGUSTUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v38i2.5737

Abstract

Filariasis adalah penyakit menular menahun yang terjadi akibat transmisi mikrofilaria dengan perantara nyamuk yang menghisap darah sebagai vektor. Terdapat tiga spesies parasit yang menyebabkan filariasis yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori. Salah satu wilayah di Indonesia yang masih merupakan daerah endemik filariasis adalah Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan. Sebagai salah satu daerah endemis, di daerah ini wajib dilaksanakan kegiatan pemberian obat pencegahan massal (POPM) filariasis selama lima tahun berturut-turut dengan tujuan untuk mencapai keadaan bebas filariasis. Setelah kegiatan POPM dilaksanakan selama lima tahun berturut-turut, dilakukan evaluasi penilaian keberhasilan kegiatan melalui pemeriksaan sediaan apus darah tebal. Kegiatan POPM akan dinyatakan berhasil jika didapatkan hasil perhitungan microfilaria rate <1%. Penelitian ini dilakukan di Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan pada bulan Desember 2021 dengan cara mengambil data sekunder kegiatan POPM filariasis selama lima tahun dan hasil pemeriksaan sediaan apus darah tebal periode Februari - April 2021 di Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan. Hasil positif filariasis berdasarkan kelompok umur paling banyak didapatkan pada kategori 55-64 tahun dengan lima pasien dan berdasarkan jenis kelamin, dengan lima pasien, laki-laki lebih banyak menderita dibandingkan perempuan. Delapan pasien yang positif berasal dari kelompok yang tidak patuh dalam meminum obat anti filariasis. Perhitungan microfilaria rate, didapatkan hasil positif 1.6% dari pemeriksaan sediaan apus darah tebal yang berarti pelaksanaan kegiatan POPM filariasis telah menurunkan angka infeksi namun belum mencapai target yang ditentukan. Kata Kunci: Filariasis, endemis, POPM Filariasis is a chronic infectious disease that occurs due to the transmission of microfilariae through blood-sucking mosquitoes as vectors. There are three species of parasites that cause filariasis, namely Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, and Brugia timori. One area in Indonesia that is still an endemic area for filariasis is Balangan Regency, South Kalimantan. As an endemic area, in this area it is mandatory to carry out mass preventive treatment (POPM) activities for filariasis for five consecutive years with the aim of achieving a filariasis-free state. After POPM activities have been carried out for five consecutive years, an evaluation of the success of the activity is carried out through examination of thick blood smears. POPM activities will be declared successful if the microfilaria number calculation results are <1%. This research was conducted at the Balangan District Health Service, South Kalimantan in December 2021 by collecting secondary data on POPM filariasis activities for five years and the results of thick blood smear examinations for the period February – April 2021 at the Balangan District Health Service. The most positive results for filariasis based on age group were in the 55-64 year category with five patients and based on gender, there were five patients, men suffering more than women. Eight positive patients came from the group who were non-compliant in taking anti-filariasis medication. Calculating the number of microfilariae obtained positive results of 1.6% from examination of thick blood smears, which means that the implementation of POPM filariasis activities has reduced the transmission rate but has not reached the specified target. Keywords: Filariasis, endemic, POPM
Hubungan Waktu Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) dengan Tingkat Kejadian Stunting pada Balita di Indonesia Kuyap, Graceana M.A.; Parmono, Trimurti; Suryanegara, Wiradi
Majalah Kedokteran UKI Vol. 38 No. 2 (2022): MEI - AGUSTUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v38i2.5738

Abstract

Pemberian gizi yang seimbang dan mencukupi akan menghasilkan anak-anak dengan kesehatan yang baik. Untuk memastikan pertumbuhan serta perkembangan yang optimal pada bayi diperlukan pemberian ASI eksklusif dan pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang sesuai. Kekurangan gizi yang menyebabkan stunting merupakan hasil dari kurangnya nutrisi pada masa sebelumnya. Berdasarkan data WHO pada tahun 2018, prevalensi stunting di seluruh dunia adalah 22%. Di Indonesia angka ini mencapai 30,8% lebih tinggi dari rata-rata global. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengkaji hubungan antara saat pemberian MPASI dengan kejadian stunting pada anak balita di Indonesia. Pendekatan riset yang digunakan adalah metode potong lintang dan analisis observasional. Semua anak balita yang mengalami stunting dan tercatat dalam studi ini memakai data dari Riskesdas tahun 2018 sebagai populasi subjek penelitian. Riset ini melibatkan 23.257 bayi yang berada dalam rentang usia 6-24 bulan. Data hasil penelitian disajikan dalam format distribusi tabel dan dianalisis memakai uji chi square. Temuan dari studi ini mengindikasikan bahwa dari keseluruhan sampel tersebut hanya terdapat 99 bayi (0,4%) yang berusia melebihi 6 bulan dan mengalami stunting setelah menerima pemberian MPASI. Selain itu sudi ini menemukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pemberian MPASI dan kejadian stunting pada balita (dengan nilai p=0,634). Secara keseluruhan hasil studi ini menunjukkan pemberian MPASI pada bayi di atas 6 bulan tidak berpengaruh signifikan terhadap kejadian stunting balita di Indonesia. Kata kunci: Stunting, gizi, MPASI Proper and well-balanced nutrition contributes to the birth of healthy children. To ensure optimal growth and development of babies, exclusive breastfeeding and appropriate complementary foods (MP-ASI) are provided. Stunting is a condition of malnutrition caused by insufficient nutrients in the past. According to WHO data from 2018, the global prevalence of stunting was 22%, while in Indonesia, based on Riskesdas, it was 30.8%. This indicates that Indonesia has a higher stunting rate compared to the global average. The main objective of this study was to investigate the correlation between the timing of introducing complementary feeding (MP-ASI) and the incidence of stunting in Indonesian toddlers. The research adopted a cross-sectional approach and an analytical observation method. All children identified with stunting based on the Riskesdas 2018 data were included as participants, resulting in a total sample size of 23,257 infants aged 6-24 months. The data collected were presented in distribution tables and analyzed using the chi-square test. The study's findings revealed that out of the infants older than 6 months who received complementary foods, 99 (0.4%) experienced stunting. However, no significant relationship was found between complementary feeding and stunting (0.634, p < 0.05). In conclusion, the study suggests that the timing of introducing complementary feeding (MP-ASI) to infants older than 6 months did not significantly affect the occurrence of stunting in Indonesian toddlers. Nonetheless, it is crucial to emphasize that maintaining a balanced diet and exclusive breastfeeding remain essential for ensuring the healthy growth and development of children. Keywords: Stunting, nutrition, weaning food
Gambaran Demografis dan Klinis Demam Tifoid pada Anak di Rumah Sakit Universitas Kristen Indonesia Periode 2019-2022 Arika, Nur S.; Adriani, Ance
Majalah Kedokteran UKI Vol. 38 No. 2 (2022): MEI - AGUSTUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v38i2.5739

Abstract

Demam tifoid adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri golongan Salmonella. Infeksi tersebut dapat menyerang anak dan orang dewasa yang hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran demografis dan klinis pada anak dengan demam tifoid. Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif menggunakan data rekam medik pasien anak dengan diagnosis demam tifoid di RS UKI. Penelitian yang dilakukan pada 100 orang subyek menunjukkan sebagian besar infeksi terjadi pada anak laki-laki dan terbanyak pada usia 13 tahun. Gejala klinik yang ditemukan meliputi demam dan gejala gastro-intestinal seperti mual muntah, diare, konstipasi, dan hepatosplenomegali. Kata kunci: Demam tifoid, anak, data demografis, gejala klinik. Typhoid fever is an infection caused by Salmonella group bacteria. This infection can attack children and adults. Until now it is still a public health problem. This study aims to determine the demographic and clinical features of children with typhoid fever. This research is a retrospective study by examining the medical records of pediatric patients diagnosed with typhoid fever at UKI Hospital. Research conducted on 100 subjects showed that most of them occurred in boys and most occurred at the age of 13 years. Clinical symptoms found include fever and gastro-intestinal symptoms. Key words: Typhoid fever, children, demographic data, clinical symptoms.
Tuberkulosis Milier dan Malnutrisi Pada Anak Laki-Laki Usia 12 Tahun Laporan Kasus Simanjuntak, Agrevonna G.A.R.N.; Rauf, Soleh M.
Majalah Kedokteran UKI Vol. 38 No. 2 (2022): MEI - AGUSTUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v38i2.5740

Abstract

Tuberkulosis (TB) milier merupakan komplikasi fokus infeksi tuberkulosis yang disebarkan secara hematogen. Gambaran berupa bercak-bercak yang halus umumnya tersebar merata pada seluruh lapangan paru. Penanganan tuberkulosis milier (khususnya pada anak) perlu memperhatikan status gizi, mengingat riskannya anak dengan infeksi tuberkulosis mengalami malnutrisi. Kasus adalah seorang anak laki-laki umur 12 tahun dengan TB milier dan malnutrisi dirawat di RSUD Nunukan, Kalimantan Utara. Pasien dikonsulkan ke Bagian Pediatri dengan keluhan awal sesak. Pada pemeriksaan fisik ditemukan laju napas meningkat, iga gambang dan muscle wasting. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan anemia, leukositosis, hiponatremia, pad Rontgen torak ditemukan kesan TB milier. Pada pasien diberikan obat anti tuberkulosis (OAT) fixed drugs composition (FDC) dan penanganan malnutrisi. Pasien mengalami perbaikan secara klinis. Kata kunci: malnutrisi, OAT, tuberkulosis, tuberkulosis millier Milliary tuberculosis is a complication of a focal hematogenous spread of tuberculosis infection. In plain radiograph, milliary deposists appear as 1-3 mm diameter nodules, which are uniform in size and uniformly distributed. Management of milliary tuberculosis (especially in children) has to pay attention to nutritional status, given the risk of children with tuberculosis infection experiencing malnutrition. A 12-year- old boy with milliary tuberculosis and malnutrition has been treated at Nunukan District Hospital, North Kalimantan. Patient were consulted in the pediatric division with initial complaint was dyspneu. On physical examination found increased respiratory rate, prominent ribs, and muscle wasting. From laboratory tests found anemia, leucocytosis, hyponatremia, plain chest x-ray suggests milliary tuberculosis. Patients given fixed-dose combination anti-tuberculosis drug and malnutrition. The patient then undergoes clinical improvement. Keyword: malnutrition, anti-tiberculosis drug, tuberculosis, milliary tuberculosis
Kontaminasi Cacing yang Ditularkan Melalui Tanah pada Sayuran yang Dijual di Pasar Swalayan dan Pasar Tradisional Emilia, Risda; Swissanto, Nacitta; Suyono, Michelthelia S.; Febriyanti, Monica S.; Ronny; Wahyuningsih, Retno
Majalah Kedokteran UKI Vol. 38 No. 3 (2022): SEPTEMBER - DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v38i3.5748

Abstract

Infeksi cacing usus yang ditularkan melalui media tanah (CDMT) sudah menjadi masalah kesehatan diseluruh dunia. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi CDMT ini memberikan masalah bagi kesehatan masyarakat baik di perkotaan maupun pedesaan. Berbagai factor turut mempengaruhi tingginya angka insidensi penyakit ini, salah satunya adalah konsumsi sayuran dalam kondisi belum matang atau mentah, seperti selada, kubis, kacang panjang, timun, dan kemangi. Selada dan kubis merupakan contoh sayuran yang tumbuh dekat dengan tanah. Kondisi ini memungkinkan CDMT yang berada pada tanah dapat dengan mudah berpindah ke sayur selada maupun kubis, sementara sayur kacang panjang, timun dan kemangi yang tumbuh jauh dengan tanah dapat terkontaminasi CDMT melalui penggunaan pupuk dan perlakuan pasca panen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan kontaminasi CDMT pada sayuran yang dijual di pasar tradisonal dan pasar swalayan DKI Jakarta. Penelitian dilakukan di Laboratorium Parasitologi, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia pada bulan Agustus sampai November 2015. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan laboratorium. Pemilihan sampel menggunakan teknik cluster sampling dengan cara mengambil tiga pasar tradisional dan tiga pasar swalayan per wilayah. Pemeriksaan CDMT dilakukan menggunakan metode sedimentasi, dilanjutkan dengan pembuatan preparat yang akan diperiksa dibawah mikroskop. Berdasarkan hasil dari penelitian ini, dari total 375 sampel, terdapat kontaminasi CDMT sebanyak 43 (11,47%) pada sayur yang dijual di pasar swalayan dan sebanyak 134 (35,7%) pada sayur yang dijual di pasar tradisional. Jenis CDMT terbanyak yang ditemukan pada sayur yang dijual di pasar tradisional adalah Ascaris lumbricoides sebanyak 46 (12,27%), sedangkan pada sayur yang dijual di pasar swalayan, kontaminasi jenis CDMT terbanyak adalah cacing tambang sebanyak 15 (4%). Berdasarkan penelitian ini, kontaminasi CDMT terdapat pada sayur selada, kubis, kacang panjang, timun, dan kemangi yang dijual di pasar swalayan di Jakarta. Kata kunci : kontaminasi, sayur mentah, CDMT, pasar swalayan, Intestinal worm infection transmitted through the soil (soil transmitted helminths - STH) infection) is a health problem in the world. In Indonesia STH infection is a public health problem in both rural and urban areas. Many factors contribute to the high incidence of this disease, one of which is eating raw vegetables such as lettuce, cabbage, long beans, cucumbers and basil that are often used as vegetables. Lettuce and cabbage are plants that grow close to the ground. This situation allows STH in the soil to be easily attached to lettuce and cabbage, while for the long beans, cucumber and basil that grows high above the ground the possibility of contamination is due to the use of fertilizer and post-harvest handling. This study aims to determine the rate of contamination of vegetables sold in supermarkets by STH eggs. This research was conducted at the Laboratory of Parasitology, Medical Faculty of Christian University of Indonesia from August to November 2015. This is a descriptive study with laboratory approach. Samples were obtained by cluster sampling by taking three supermarkets in Jakarta. STH examination used sedimentation method, followed by making preparations for microscopic examination. The research found contamination STH 43 (11,47%) of the 375 samples. In this study parasites that are found are hookworm, 4% of eggs, filariform larvae 2,93% and 0,8% of larvae rhabditiform, while Ascaris lumbricoides comes in second (2.66%) and Trichuris trichiura only 0.53%. So, there is STH contamination on lettuce, cabbage, beans, cucumbers and basil sold in supermarkets in Jakarta. Keywords : Contamination, raw vegetable, soil transmitted helminths, supermarket
Pengetahuan Santri tentang Skabies, Cara Penularan, dan Pencegahannya di Pondok Pesantren X, Bogor, Jawa Barat Andriawan, Natasya D.; Cahyawari, Dartri
Majalah Kedokteran UKI Vol. 39 No. 1 (2023): JANUARI-APRIL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v39i1.5750

Abstract

Skabies adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh Sarcoptes scabiei varian hominis. Santri merupakan kelompok yang dianggap berisiko terkena skabies. Pengetahuan yang kurang mengenai skabies menyebabkan penyakit ini sering ditemukan di kalangan santri. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti tentang skabies menyangkut demografi, prevalensi, dan pemahaman tentang penyakit skabies. Penelitian ini bersifat descriptive cross sectional dengan menggunakan kuesioner dalam bentuk google form yang disebarkan kepada 250 orang santri di Pondok Pesantren X dan data yang dapat dianalisis berasal dari 72 orang santri. Hasil penelitian didapatkan prevalensi skabies di Pondok Pesantren X adalah 47,2% dan sebagian besar santri memiliki pemahaman yang cukup hingga baik tentang skabies baik pemahaman tentang penyakit, cara penularan, maupun pencegahannya. Kata Kunci : skabies, pengetahuan, sikap, perilaku, santri Scabies is an infectious skin disease caused by Sarcoptes scabiei hominis variant. Santri are a group considered to be at risk of contracting scabies. Insufficient knowledge about scabies causes this disease to often be found among students. This study aims to examine scabies regarding demographics, prevalence and understanding of scabies. This research is descriptive cross sectional in nature using a questionnaire in the form of a Google form which was distributed to 250 students at Islamic Boarding School X and the data that can be analyzed comes from 72 students. The research results showed that the prevalence of scabies in Islamic Boarding School Keywords: scabies, knowledge, attitudes, behavior, students
Keseimbangan Mikrobiota Saluran Cerna Pada Anak Stunting Kusumo, Pratiwi D.
Majalah Kedokteran UKI Vol. 39 No. 1 (2023): JANUARI-APRIL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v39i1.5751

Abstract

Setiap bagian permukaan tubuh manusia dikolonisasi dengan mikroorganisme yang kemudian kita kenal dengan istilah mikrobiota, jumlahnya sepuluh kali lipat dari jumlah sel dalam tubuh manusia, oleh karenanya manusia dikenal dengan “hybrid organisms” dengan komposisi manusia dan mikrobiota. Dalam keterkaitannya dengan stunting, faktor lingkungan seperti usia, diet, strees dan obat-obat memengaruhi komposisi mikrobiota manusia. Faktor endogen dan eksogen berkontribusi pada komposisi mikrobiota. Nutrisi yang kurang atau tidak cukup memenuhi kebutuhan tubuh, dapat menyebabkan terjadinya perubahan komposisi mikrobiota usus (disbiosis). Kondisi disbiosis mikrobiota dapat menyebabkan terganggunya penyerapan nutrisi sehingga anak menjadi kekurangan nutrisi dan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. Kekurangan nutrisi dapat menyebabkan gangguan sistem kekebalan tubuh. Pada anak stunting, sistem imun mengalami gangguan, sehingga lebih rentan terjadi infeksi berulang, menyebabkan kadar proinflamatory meningkat. Gangguan imunitas dapat memperburuk kondisi malnutrisi, menyebabkan malabsorbsi, gangguan hormonal, gangguan pertumbuhan dan kerentanan terhadap infeksi. Kata Kunci : Stunting, Mikrobiota, Malnutrisi, Eubiosis, Disbiosis Every part of the surface of the human body is colonized with microorganisms which we then know as microbiota, the number is ten times the number of cells in the human body, therefore humans are known as "hybrid organisms" with a composition of humans and microbiota. In relation to stunting, environmental factors such as age, diet, stress and medication influence the composition of the human microbiota. Endogenous and exogenous factors contribute to the composition of the microbiota. Deficiencies or insufficient nutrition to meet the body's needs can cause changes in the composition of the intestinal microbiota (dysbiosis). The condition of microbiota dysbiosis can cause disruption in the absorption of nutrients so that children become nutritionally deficient and disrupt the child's growth and development. Nutritional deficiencies can cause immune system disorders. In stunted children, the immune system is disturbed, making them more susceptible to recurrent infections, causing proinflammatory levels to increase. Immunity disorders can worsen malnutrition conditions, causing malabsorption, hormonal disorders, growth disorders and susceptibility to infection. Keywords : Stunting, Microbiota, Malnutrition, Eubyosis, Dysbiosis