cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin | Universitas Ialam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Jl. AH Nasution No 105, Cibiru Bandung.
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jaqfi : Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam
ISSN : 27149420     EISSN : 2541352X     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal Ilmiah JAQFI: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam adalah jurnal yang mempublikasikan hasil-hasil kajian dan penelitian orisinal terbaru dalam ilmu murni Filsafat Islam dan Aqidah (Teologi Islam), serta cakupannya meliputi kajian filsafat kontemporer, pendidikan, sosial, dan keagamaan dari perspektif filsafat maupun aqidah. Tujuan Jurnal berkala ini adalah untuk upaya meningkatkan intensitas kajian Filsafat Islam dan Aqidah, mengupayakan teori baru serta kontekstualisasinya bagi perkembangan intelektualitas.
Arjuna Subject : -
Articles 220 Documents
Theodicy in Islamic Philosophy and Scholasticism: An Examination of the Problem of Evil in the Thought of Aquinas and Muthahhari Firnando, Hero Gefthi
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 9 No. 2 (2024): Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v9i2.29992

Abstract

The issue of evil pertains to the intricate relationship between the existence of God and the prevalence of wickedness in the world. This conundrum has been a focal point of numerous scholars and intellectuals for centuries, giving rise to skepticism, agnosticism, and atheism. The ramifications of these philosophical and theological dilemmas present substantial challenges to the belief in a divine being.In this paper, we seek to fortify theistic arguments in response to these contentious issues. To this end, we adopt a philosophical approach that focuses on the theodicy of two major figures: Murtadha Muthahhari and Thomas Aquinas.This endeavor is intended to fulfill rational criteria and encourage individuals to rethink their negative views on the existence of God. As a result, both philosophers—Thomas Aquinas and Murtadha Muthahhari—strengthen theistic arguments through the concept of theodicy relating to God's justice. The aforementioned philosophers concur that the fundamental cause of evil can be traced to four primary factors: the existence of God as the creator of all things, the existence of evil as a reality, the existence of humans who possess freedom and moral responsibility, and the existence of a dynamic nature with its unique laws and development.
Hasan Hanafi's Anthropocentric Theological Approach in Interpreting the Qur‘an Solehudin, Solehudin
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 9 No. 2 (2024): Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Theological exegesis from classical to medieval times predominantly reflects a theocentric (allahūt) approach, which often limits the functional role of the Quran as hudan li an-nas (guidance for humanity). This traditional interpretation places divine attributes at the centre, sometimes overlooking the Qur an’s direct address to humans. In response, Hasan Hanafi introduced Anthropocentric Theology, a paradigm that seeks to activate theological texts for real-world applications. This study explores Hanafi’s anthropocentric interpretive framework and its implications for contemporary Qur anic exegesis. Using a qualitative descriptive-analytic method, this research is based on library research, analysing primary sources such as Min al-‘Aqidah ila as-Saurah, ad-Din wa as-Saurah, and Qadhaya al-Mu‘asirah, along with secondary literature that supports the discussion. This study applies theo-centric and anthropocentric theories to selected Quranic verses, aligning them with Hanafi’s interpretative structure. The findings show that Anthropocentric Theology serves as both a critique of theocentric interpretations and a new interpretive direction focusing on human agency. This approach emphasizes six key dimensions: (1) Anthropocentrism (at-tarkiz 'ala an-nās), (2) Historical Context (Tarikh nuzūl al-ayāt), (3) Rationality (Ta'aquli), (4) Emancipation (al-musawat fi al-huqūq), (5) Contextualization (at-tafsir bi'tibari as-siyaq), and (6) Social Transformation (at-taqhayur al-ijtima'i). The study concludes that Quranic interpretation must shift from the passive acceptance of fate (taqdīr) to active engagement (ikhtiār), promoting justice, prosperity, and societal reform. By applying eclectic thematic interpretation, anthropocentric theology offers a transformative vision, shifting conditions from corruption to righteousness, oppression to justice, and poverty to prosperity, ensuring the Quran’s continued relevance in modern sociopolitical contexts
The Concept of Time in Mulla Sadra's Philosophy Al Walid, Khalid; Ain Norman, Nurul; Miri, Mohsen
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 9 No. 2 (2024): Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v9i2.39714

Abstract

This article explains the concept of time in Mulla Sadra's Philosophy. Mulla Sadra is a philosopher who succeeded in establishing the third school of thought in Islamic philosophy. A fundamental problem in the philosophy of time is whether time is a real entity or merely a product of human perception of external reality. Does time exist because of external objects, or does it emerge alongside the presence of the possible being (al-Mumkin)? An analytical approach is used in this article to explore the structure of the concept of time developed by Mulla Sadra and the specific aspects that distinguish it from the views of previous philosophers.Mulla Sadra bases his explanation of time on the principles of Ashalat al-Wujud (the Primacy of Existence), Tasykik al-Wujud (the Gradation of Existence), and Harakat al-Jawhariyyah (the Essential Motion).For Mulla Sadra, time is included in Amr al-Wujudi, namely an element that is included in the part of being and being is a Single, gradative essence. Time is essentially Single with all physical objects so that everything that is physical is at the same time also enveloped by time.
Rasyid Al-Ghannousyi’s Thought on Islamic Democracy Thaib, Lukman; Bharuddin ChePa, Bara’Barakat Hamad al-Gharibeh; Rahman, Zaidi Abdul
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 1 No. 1 (2016)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v1i1.1687

Abstract

Rasyid al-Ghannousyi, pemikir, pembaharu, pemimpin dan pendiri partai politik al-Nahdhah di Tunisia, tak syak lagi adalah salah seorang pelopor kebangkitan Islam kontemporer. Keberanian dan kepeloporannyanya berkontribusi dalam membangkitkan kesadaran dan kepedulian politis Islam terkait dengan akibat-akibat yang berbahaya dan jahat dari rejim otoriter Zainal Abidin Bin Ali di Tunisia. Tulisan ini mengeksplorasi kehidupan dan pemikirannya dengan fokus khusus pada pendekatannya terhadap demokrasi dan kesesuaiannya dengan Islam, kebebasan publik dan sipil, hak-hal politik warga non-Muslim di Negara Islam dan konsep legitimasi politik dalam pemikiran politik Islam.
Pemikiran Pendita Za‘ba Menerusi Karya, Perangai Bergantung pada Diri Sendiri: (Analisis Dari Perspektif Pemikiran Islam) Wan Ali, WZ Kamaruddin bin
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 1 No. 1 (2016)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v1i1.1688

Abstract

Zainal Abidin bin Ahmad atau lebih dikenali Pendita Za‘ba merupakan seorang tokoh terkenal dalam masyarakat Muslim Melayu di Malaysia. Karena beberapa cara pandang yang berbeda, sebagian menganggapnya sebagai sesat, sementara yang lain menghormatinya dan memandangnya sebagai pemikir dan agamawan berpengaruh. Artikel ini akan mendiskusikan pembangungan bangsa menurut sudut-pandang Za‘ba dalam mengangkat integritas dan keunggulan masyarakat Muslim Melayu dalam lingkungan Islam dan bagaimana beliau melihat Muslim Melayu dengan perhatian khusus pada para pemikir dan agamawan [ulama] dan pemahaman-salah mereka terhadap Islam yang menjadi penyebab keruntuhan mereka. Pada dasarnya, diskusi ini akan berfokus terutama pada karya monumental beliau yang dikenal Perangai Bergantung Pada Diri Sendiri diterbitkan pada 1982 dan akhir-akhir ini dicetak ulang oleh Dewan Bahasa dan Pustaka [DBP] (Edisi Khusus) kerana keperluan bangsa.
Argumen Fitrah Tentang Adanya Tuhan Komarudin, Didin
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 1 No. 1 (2016)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v1i1.1689

Abstract

Secara alami manusia memiliki rasa akan keberadaan Allah. Watak alami ini tidak dapat dihilangkan; ia hanya bisa ditekan dan tersembunyi, dengan berbagai tekanan budaya, ilmu pengetahuan dan lain-lain, sehingga kadang-kadang muncul di saat-saat tertentu seperti ketika terserang atau dalam kesulitan yang benar-benar tidak bisa mereka atasi. Dalam kondisi ini, mereka (alam) berharap sosok lain yang memiliki kemampuan lebih dari mereka untuk datang dan memberi mereka bantuan.
Eskatologi Kematian dan Kemenjadian Manusia Abdilah, Sukron
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 1 No. 1 (2016)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v1i1.1691

Abstract

Kajian eskatologi berkait dengan pembicaraan mengenai peristiwa-peristiwa yang dialami setelah kematian. Kematian bukanlah akhir keberadaan manusia, sebagaimana diperkirangkan para filosof materialisme, melainkan pintu gerbang menuju tahap keberadaan berikutnya. Kehidupan di dunia dan kematian merupakan suatu rangkaian sistem dalam mekanisme penciptaan. Kematian adalah bagian dari persiapan menuju kehidupan yang lain, yang akan menggenapkan aktualitas keberadaan manusia, yang akan membawanya kepada destinasi akhir dirinya, Surga atau Neraka. Tolok-ukur kemajuan manusia dan peradabannya tidak bisa hanya didasarkan pada sekedar prestasi-prestasi material, sebab semua itu sama sekali tidak menjamin kemaslahatan bagi kelanjutan keberadaannya yang tidak berhenti dengan kematian fisikalnya. Terlepas dari kesulitan para pemikir materialistik untuk memahami persoalan eskatologi, beberapa argumen logis, disamping normatif (wahyu) bisa diajukan untuk memperkuat kebenaran yang terkait dengan persoalan eskatologis. Tema-tema yang terbahas dalam masalah eskatologis, hendaknya cukup menyadarkan kita bahwa terdapat pengalaman-pengalaman esksistensial manusia yang berada di luar jangkauan pembicaraan modernisme-materialisme yang ruang-lingkupnya melulu dibatasi oleh pengalaman pragmatis-ekonomis
Adaptasi Media Interaksi Sosial Tradisional Terhadap Modernisasi: Filsafat Komunikasi Di Rancakalong, Sumedang Anwar, Rully Khairul; Rizal, Edwin; Novianti, Evi; Sugiana, Dadang
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 1 No. 1 (2016)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v1i1.1692

Abstract

Artikel ini mendeskripsikan bahwa sementara di Negara kita sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup di ladang-ladang pertanian, terkadang masih mengalami kesulitan dalam menyebarkan informasi, khususnya informasi pembangunan yang sangat dibutuhkan oleh para petani untuk meningkatkan kualitas maupun kuantitas hasil pertaniannya. Pada era otonomi daerah ini, penggunaan media informasi pembangunan dari pusat ke daerah menjadi hal yang sangat penting. Urgensi penelitian adalah ingin mengukur tingkat penggunaan media tradisional pada masyarakat pedesaan dalam mendidik masyarakat pedesaan di Kecamatan Rancakalong Kabupaten Sumedang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa media tradisional yang digunakan untuk mentransfer pengetahuan lokal dan regenerasi, juga digunakan sebagai media komunikasi formal; sehingga muncullah praktek filsafat komunikasi di dalamnya. Namun, media itu kurang beradaptasi dengan bentuk-bentuk informasi modern dan hanya memasukkan alat-alat pendukung seperti pengeras suara dalam acara-acara tertentu.
Pemikiran Filosofis dan Ilmiah dari Averroisme Halim, Ilim Abdul
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 1 No. 1 (2016)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v1i1.1693

Abstract

Ibnu Rushd yang dikenal Averroes lahir dari keluarga yang mempunyai perhatian yang sangat besar terhadap ilmu pengetahuan. Kondisi lingkungan keluarga ditunjang oleh keberadaan penguasa dinasti Muwahhidin yang sangat mengagungkan filsafat. Karya Tulis yang telah disusunnya bercorak filsafat, kesehatan, ilmu tentang hewan, kosmologi, teologi, logika, fikih perbandingan (fiqh muqaran). Karya-karya ini menjadi perhatian masyarakat Barat. Ketiga, konsep pemikiran Ibnu Rushd memiliki pola filosofis ilmiah. Pola pemikiran ini memiliki kemiripan atau sejalan dengan pola pemikiran masyarakat Barat pada saat kebangkitan ilmu pengetahuan di Erofa. Pola pemikiran Ibnu Rushd yang filosofis ilmiah menekankan pada akal pemikiran (rasional) untuk menjelaskan berbagai hal. Hasil karya dari Ibnu Rushd berdampak pada pemikiran ilmiah di Eropa yang sedang bangkit dalam ilmu pengetahuan. Ibnu Rushd berperan sebagai penafsir (penjelas) karya-karya Aristoteles. Karya Aristoteles yang menekankan ilmu pengetahuan empiris dapat dipahami orang-orang Eropa setelah dijelaskan Ibnu Rushd lewat buku-buku terjemahannya. Pemikiran Ibnu Rushd atau Averroisme menjadi faktor penting dalam pemikiran Eropa yang melahirkan ilmu pengetahuan eksperimental modern
Michel Foucault: Kuasa/Pengetahuan, (Rezim) Kebenaran, Parrhesia Adlin, Alfathri
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 1 No. 1 (2016)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v1i1.1694

Abstract

Berbeda dengan para filosof sejarah yang lazimnya membahas watak perkembangan sejarah, teori sejarah, arah dan kecenderungannya, kubu-kubu kekuatan di balik peristiwa sejarah dan sebagainya, Foucault sama sekali berbeda. Foucault tidak menulis “tentang sejarah” tetapi menulis banyak hal “dalam sejarah”. Setiap persoalan selalu dilihatnya dalam hubungan yang rumit dengan pelbagai unsur sosial lain—politik, kekuasaan, kepentingan, gender, pemikiran, ideologi dan sebagainya—segagai sistem keseluruhan berpikir masyarakat yang disebut “episteme”. Apa yang kita pandang sebagai kebenaran dalam pelbagai diskursus (penalaran melalui bahasa), baik itu diskursus ilmiah, rapat-rapat, pidato politik, diskusi, dst. tidaklah lepas dari pengaruh episteme ini. Tulisan ini memperlihatkan bagaimana berbagai diskursus dalam setiap masyarakat melahirkan pengetahuan, kuasa, dan kebenaran dalam suatu hubungan sirkular, sebuah rezim kebenaran/kekuasaan tertentu yang berkembang dalam suatu periode dan berubah atau berganti secara total dalam tahapan periode lainnya.

Page 11 of 22 | Total Record : 220