cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kimia Riset
Published by Universitas Airlangga
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 2 (2019): Desember" : 10 Documents clear
PRODUKSI BIODIESEL DARI DEDAK PADI SECARA IN SITU DENGAN TEKNOLOGI MICROWAVE Yulia Tri Rahkadima; Qurrota A'yuni
Jurnal Kimia Riset Vol. 4 No. 2 (2019): Desember
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jkr.v4i2.16047

Abstract

AbstrakProses produksi biodiesel dari dedak padi dengan memanfaatkan microwave secara in situ telah berhasil dilakukan. Pengaruh jumlah metanol dan waktu reaksi terhadap kandungan FAMEs dalam produk dipelajari dalam penelitian ini. Dedak padi , metanol dan katalis basa berupa NaOH 0.6 w% dimasukkan ke dalam labu alas datar dilengkapi dengan kondensor dan dimasukkan ke dalam reaktor microwave yang telah dimodifikasi.  Produk reaksi yang berupa campuran FAMEs, gliserol, reaktan yang tidak bereaksi dan komponen lainnya kemudian dicuci menggunakan n- heksana dan dilanjut dilakukan proses distilasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa dengan menggunakan reaktor microwave, kandungan FAMEs lebih tinggi diperoleh dengan waktu reaksi yang lebih singkat. Gelombang mikro berhasil mempercepat terjadinya reaksi transesterifikasi. Kandungan FAMEs tertinggi yaitu 6.2036 % diperoleh pada waktu reaksi 10 menit, metanol 60 ml dan suhu reaksi 60oC.  Kata kunci : Biodiesel, In situ, Microwave, Dedak padi AbstractThe process of biodiesel production from rice bran using in situ microwaves has been successfully carried out. The effect of the amount of methanol and reaction time on the FAMEs content in the product was studied in this study. Rice bran, methanol and alkaline catalyst in the form of 0.6 w% NaOH are put into a flat bottom flask equipped with a condenser and put into a modified microwave reactor. The reaction product in the form of a mixture of FAMEs, glycerol, unreacted reactants and other components is then washed using n-hexane and contuining with the distillation process. The results showed that by using a microwave reactor, a higher FAMEs content was obtained with a shorter reaction time. Microwaves successfully accelerate the transesterification reaction. The highest FAMEs content of 6.2036% was obtained at a reaction time of 10 minutes, methanol 60 ml and reaction temperature 60oC.Keywords: Biodiesel, In situ, Microwave, Rice bran
PENGARUH METODE PENGGERUSAN TABLET VITAMIN C TERHADAP KADAR BAHAN AKTIF Damaranie Dipahayu Dipahayu; Silfiana Nissa Permatasari
Jurnal Kimia Riset Vol. 4 No. 2 (2019): Desember
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jkr.v4i2.16358

Abstract

One form of prescription service is preparing pulveres dosage form. Pulveres are generally obtained from the grinding technique of several tablet preparations and mixing them. The common grinding technique is manually using a mortar-stamper and a blender (pulverization machine). The use of a blender is considered more practical and shortens the time but the heat of blender can reduce levels of active ingredients which is unstable of high temperature. This study aims to determine whether the manual grinding method and blender of vitamin C tablets will affect the levels of active ingredients. Determination of levels of active ingredients of vitamin C tablets that was crushed by the HPLC method. Based on the results of the study, it is known that the levels of manually crushed vitamin C are 191,919 mg and 192,872 mg, while the blended vitamin C levels are 181,204 mg and 179,886 mg. The conclusion of this study shows that the blender method can cause a decrease in vitamin C levels greater than the manual method however, both methods can still maintain the availability of ascorbic acid content in the concentration range of 90% - 110.0%.
PENAMBAHAN EKSTRAK JERUK NIPIS DAN KONSENTRASI INOKULUM TERHADAP KARAKTERISTIK NATA DE SOYA DARI LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU KABUPATEN KLATEN Syarifah Aini; Fatkhun Nur
Jurnal Kimia Riset Vol. 4 No. 2 (2019): Desember
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jkr.v4i2.16137

Abstract

Limbah cair tahu (Whey) yang masih mengandung protein dan karbohidrat di kabupaten Klaten akan mengakibatkan pencemaran lingkungan. Sehingga, perlu adanya cara untuk mengolah limbah cair tahu menjadi produk olahan baru yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi. Maka dilakukannya penelitian pembuatan Nata de Soya berbahan dasar limbah cair tahu (Whey) dengan menggunakan fermentasi bakteri Acetobacter xylinum dan penambahan ekstrak jeruk nipis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik Nata de Soya dari limbah cair tahu dengan perlakuan penambahan ekstrak jeruk nipis dan konsentrasi inokulum yang berbeda. Metode penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok terdiri atas dua faktor perlakuan. Faktor pertama yaitu persentase air jeruk nipis (N) yang terdiri dari tiga taraf (1%, 3%, 5%) dan faktor kedua yaitu konsentrasi inokulum (I) yang terdiri dari tiga taraf (5%, 10% dan 15%). Analisis data dilakukan secara statistik, jika terdapat beda nyata dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (JBD) pada jenjang nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi inokulum 5% dengan jeruk nipis 3% dan 5% tidak berpengaruh nyata terhadap tekstur Nata de Soya. Konsentrasi inokulum 15% dan jeruk nipis 1% memberikan nilai terbaik dari semua perlakuan yaitu ketebalan 1,04 cm, rendemen 205,33 g, kadar air 86%, kadar serat 48,6% dan tekstur 2,48 N.
PENGARUH KONSENTRASI SURFAKTAN TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK NANOEMULSI DAN NANOEMULSI GEL KOENZYM Q10 Silvi ayu Wulansari; Ririn Sumiyani; Ni Luh Dewi Aryani
Jurnal Kimia Riset Vol. 4 No. 2 (2019): Desember
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jkr.v4i2.16164

Abstract

Coenzyme Q10 is a compound that functions as an antioxidant with a large molecular weight of 863.36 g/mol and has lipophilic properties. This makes coenzyme Q10 need to be formulated to improve the solubility of the material and the delivery system in the skin. This study aims to determine the effect of surfactant variations (a combination of PEG-40 HCO and Span 80) on the physical characteristics of nanoemulsion and nanoemulsion gel preparations. Coenzyme Q10 is formulated using the rice bran oil oil phase with the combination surfactant. This research was made in 3 nanoemulsion formulas  FI, F2, F3 and 3 nanoemulsion gel formulas  F4, F5, F6. Evaluation of physical characteristics is done after 24 hours after the preparation is complete, observations made include organoleptic (shape, color and phase formed), pH, viscosity, droplet size, zeta potential and polydispersity index. The research data were processed statistically using the Kruskal-Wallis analysis and Mann-Whitney follow-up tests. The results showed that the surfactant concentration affected physical characteristics (viscosity, droplet size, zeta potential and polydispersity index) with a significantly different result (p <0.05) but the surfactant concentration did not affect the pH with the results not significantly different (p> 0.05)
PEMURNIAN PARSIAL DAN KRISTALISASI PAPAIN DARI GETAH Carica papaya Dwi Putri Mashfufatur Rohmah; Sofijan Hadi; Afaf Baktir
Jurnal Kimia Riset Vol. 4 No. 2 (2019): Desember
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jkr.v4i2.16902

Abstract

AbstractThis research has done partial purification by fractionation and optimization crystallization of papain from Carica papaya latex with the addition of ammonium sulphate. The enhancement of purification factor was determined by its specific activity. The fractionation results show that papain fraction of Carica papaya can be obtained by adding 40-80% saturated ammonium sulphate, with the highest specific activity, i.e. 2,0819 U/µg and the factor purification increase of 6,27 fold than papain extract. Meanwhile, the highest total activity, i.e. 10,7780 U of papain crystals can be obtained by presipitant agent addition of ammonium sulphate in the level / concentration 80% saturated at 15 °C. Microscopycally papain crystals profile in this condition have cube and tetragonal shape.Key words: crystallization, fractionation, ammonium sulphate, papain
Uji Drug Loading Ibuprofen Pada Material UiO-66 (Zr-Metal Organic Framework) Tri Ana Mulyati; Fery Eko Pujiono
Jurnal Kimia Riset Vol. 4 No. 2 (2019): Desember
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jkr.v4i2.16088

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai loading ibuprofen pada material UiO-66 (Zr-Metal Organic Framework). Pada penelitian ini, dilakukan variasi lama perendaman 12, 24, 36, 48, 60 dan 72 jam, sehingga didapatkan nilai drug loading yang optimal. Nilai drug loading ibuprofen diukur menggunakan spektrofotometer UV-VIS. Adapun penyimpanan ibuprofen dalam UiO-66 dikonfirmasi dengan XRD, FTIR, dan SEM-EDX. Hasil analisa gugus fungsi sampel dengan Fourier-Transform Infra Red (FTIR) dari Zr-MOF menunjukkan bahwa puncak khas dari UiO-66 juga muncul pada 663, 748 dan 547 cm-1 yang menunjukkan adanya interaksi Zirkonium (Zr) dengan ligan H2BDC, setelah UiO-66 digunakan untuk loading Ibuprofen tidak mengubah posisi dari puncak-puncak UiO-66. Namun, terjadi penurunan intensitas dan hilangnya puncak disekitar 1300 cm-1 yang dikarenakan interaksi antara UiO-66 dengan ibuprofen. Pola difraktogram UiO-66  sebelum dan sesudah loading ibuprofen yang  menunjukkan bahwa UiO-66 yang terbentuk memiliki puncak karakteristik UiO-66 pada 7,3o. Mikrograf UiO-66 sebelum dan setelah loading  ibuprofen memiliki morfologi kubus. Namun, setelah  loading  ibuprofen terdapat bagian seperti karang putih, ukuran yang terlihat lebih besar, serta pengurangan ruang kosong permukaan material. Uji Drug Loading Ibuprofen pada UiO-66 menunjukkan loading optimum ibuprofen dalam Zr-MOF mencapai 82,79% pada waktu pengadukan 72 jam.
PENGARUH METODE EKSTRAKSI TERHADAP MUTU PEKTIN DARI KULIT PISANG RAJA NANGKA Vika Ayu Devianti; Rosita Dwi Chrisnandari; Rizky Darmawan
Jurnal Kimia Riset Vol. 4 No. 2 (2019): Desember
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jkr.v4i2.15753

Abstract

Ekstraksi dengan microwave dan pemanasan langsung merupakan metode yang dapat digunakan untuk ekstraksi pektin dari kulit pisang raja nangka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu pektin menggunakan metode ekstraksi dengan bantuan microwave dan pemanasan langsung. Berdasar hasil penelitian, diketahui bahwa ekstraksi pektin dengan bantuan microwave memiliki rendemen yang lebih tinggi dibandingkan metode pemanasan langsung. Ekstraksi dengan bantuan microwave menghasilkan pektin dengan kadar air lebih rendah dibandingkan ekstraksi pemanasan langsung. Berat ekivalen berkurang dengan meningkatnya daya microwave. Pektin yang diperoleh dari hasil ekstraksi pemanasan langsung dan microwave tergolong pektin bermetoksil rendah (Derajat esterifikasi < 50%). Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa ekstraksi menggunakan daya 450 W dengan lama waktu ekstraksi lima menit merupakan kondisi ekstraksi yang terbaik untuk mengekstrak pektin dalam kulit Pisang Raja Nangka.
PENGARUH VARIASI ZAT PENGATUR TUMBUH IAA, BAP, KINETIN TERHADAP METABOLIT SEKUNDER KALUS SIRIH HITAM (Piper betle L. Var Nigra) Junairiah Junairiah; Nurul Sofi Amalia; Yosephine Sri Wulan Manuhara; Ni’matuzzahroh Ni’matuzahroh; Lilis Sulistyorini
Jurnal Kimia Riset Vol. 4 No. 2 (2019): Desember
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jkr.v4i2.16898

Abstract

AbstrakPiper betle L. var Nigra (sirih hitam)  merupakan salah satu jenis tanaman obat yang berpotensi untuk dikembangkan dengan metode kultur jaringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi zat pengatur tumbuh Indole Acetic Acid (IAA), Benzyl Amino Purine (BAP), Kinetin terhadap senyawa metabolit sekunder  yang terdapat kalus sirih hitam. Eksplan daun dari sirih hitam ditanam pada medium Murashige dan Skoog dengan 4 perlakuan kombinasi (I1,0K1,0; I1,0K1,5; I1B1,5; I0,5B0,5). Kalus dipelihara selama 8 minggu. Simplisia kalus sirih hitam di maserasi menggunakan pelarut metanol dan diidentifikasi menggunakan Gas Chromatography Mass Spectra (GCMS). Berdasarkan analisis GCMS menunjukkan bahwa senyawa metabolit sekunder dengan presentase tertinggi terdapat pada masing- masing perlakuan yaitu senyawa gamma sitosterol (14,88%) pada perlakuan I1,0K1,0 ; senyawa 14-Beta H Pregna (15,94%) pada perlakuan I1,0K1,5 serta senyawa beta-d-glucopyranoside (15,54%) pada perlakuan I0,5B0,5; dan senyawa beta-d-glucopyranoside (5,63%) pada perlakuan I1,0 B1,5. Katakunci: Kalus, Piper betle L. var Nigra, senyawa metabolit sekunder  AbstractPiper betle L. Var Nigra (black betel) is one type of medicinal plant that has the potential to be developed by tissue culture method. This study was aims to determine the effect of variations in growth regulator Indole Acetic Acid (IAA), Benzyl Amino Purine (BAP), and Kinetin on secondary metabolite compounds contained in black betel callus. The explant of black betel’s leaf was cultured on Murashige and Skoog medium with four combination treatments (I1.0K1.0; I1.0K1.5; I1B1.5; I0.5B0.5). The callus was maintained for eight weeks. Simplisia of black betel’s callus was macerated using methanol solvent and identified using Gas Chromatography Mass Spectra (GCMS). GCMS analysis showed that secondary metabolites with the highest percentage in each treatment were gamma sitosterol compound (14.88%) in treatment I1.0K1.0; 14-Beta H Pregna compound (15.94%) in I1.0K1.5 treatment and beta-d-glucopyranoside compound (15.54%) in I0.5B0.5 treatment; and beta-d-glucopyranoside compound (5.63%) in I1.0 B1.5 treatment.Keywords: Callus, Piper betle L. Var Nigra, secondary metabolite compounds
Teknik Voltammetri Pelucutan Anodik Menggunakan Elektroda Glassi Karbon dalam Penentuan Kadar Logam Fe dalam Terong Ungu Irdhawati Irdhawati; Vivi Eka Indrayani; Emmy Sahara
Jurnal Kimia Riset Vol. 4 No. 2 (2019): Desember
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jkr.v4i2.15897

Abstract

Terong ungu adalah salah satu jenis tanaman yang banyak dibudidayakan. Tingginya permintaan terong menyebabkan petani menggunakan pupuk dan pestisida dari bahan kimia untuk meningkatkan produksi. Penggunaan bahan kimia yang berlebihan dapat mencemari lingkungan. Dalam penelitian ini kadar logam Fe dalam terong ungu ditentukan dengan teknik voltammetry pelucutan anodic. Elektroda kerja yang digunakan adalah glassi karbon, Ag/AgCl sebagai elektroda pembanding, dan kawat platina sebagai elektroda lawan. Parameter pengukuran yang dioptimasi meliputi waktu deposisi, potensial deposisi, dan laju pindai. Selanjutnya dilakukan validasi rentang konsentrasi linier, limit deteksi, limit kuantisasi, keberulangan, dan perolehan kembali. Hasil yang diperoleh yaitu waktu deposisi optimum selama 40 detik, potensial deposisi optimum pada -0,27 V, serta laju pindai 2,5 mV/s. Linieritas larutan standar Fe berada pada rentang 5 sampai 100 mg/L, dengan koefisien korelasi 0,9964. Limit deteksi dan limit kuantisasi berturut-turut 18,36 mg/L dan 37,79 mg/L. Keberulangan pengukuran menghasilkan nilai rasio Horwitz yang lebih kecil dari dua. Perolehan kembali standar logam Fe yang ditambahkan ke dalam larutan sampel diperoleh 100,00 ± 0,07%. Kadar Fe dalam terong ungu pada kondisi pengukuran optimum diperoleh 80,40 ± 1,85 mg/kg. Nilai tersebut lebih kecil dari Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk kadar logam dalam bahan pangan yaitu 5000 mg/kg.
Sintesis Dan Karakterisasi H-Aluminosilikat Sebagai Katalis Sintesis Biogasoline Dari Asam Oleat Deasi Adhiani Farida; Abdulloh Abdulloh; Ahmadi Jaya Permana
Jurnal Kimia Riset Vol. 4 No. 2 (2019): Desember
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jkr.v4i2.16897

Abstract

ABSTRACT          Aluminosilicate can be used for cracking reaction. In this study, catalyst of H-aluminosilicate has been synthesized by hydrothermal method with ratio molar Si/Al is 20. The characterizations has been performed by XRD, FTIR and acidity test. Characterization by XRD showed that catalyst of H-aluminosilicate have structure amorphous, while FTIR showed Si-O-Al bond at 457 cm-1. The acidity test showed that catalyst of H-aluminosilicate have Brønsted acid site 0.0272 mmol/g and Lewis acid site 0.0005 mmol/g. Oleic acid was cracking at 340 oC for 3 and 5 hours. The product has been analyzed by GC-MS not showed compound forming biogasoline.Keywords: H-aluminosilicate, biogasoline, oleic acid ABSTRAK          Aluminosilikat dapat digunakan sebagai katalis dalam reaksi prengkahan. Pada penelitian ini telah dilakukan sintesis katalis H-aluminosilikat melalui metode hidrotermal dengan rasio Si/Al sebesar 20. Karakterisasi yang telah dilakukan meliputi uji XRD, FTIR, dan keasaman.Hasil XRD menunjukkan katalis H-aluminosilikat berbentuk amorf, sedangkan pada FTIR menunjukkan ikatan Si-O-Al pada bilangan gelombang 457 cm-1. Uji situs asam menunjukkan katalis H-aluminosilikat memiliki jumlah asam Brønsted sebesar 0.0272 mmol/g dan jumlah sisi asam Lewis sebesar 0.0005 mmol/g. Proses perengkahan asam oleat telah dilakukan pada suhu 340oC selama 3 jam dan 5 jam. Produk cracking yang diuji dengan GC-MS tidak menunjukkan pembentukan senyawa biogasoline.Kata kunci: H-aluminosilikat, biogasoline, asam oleat

Page 1 of 1 | Total Record : 10