cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
E-Jurnal Medika Udayana
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23031395     EISSN : 25978012     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah ilmiah E-Jurnal Medika Udayana menerima naskah dari mahasiswa PSPD FK UNUD, baik berupa karangan asli atau laporan penelitian, ikhtisar pustaka, laporan kasus, maupun surat-surat untuk redaksi. Naskah yang dikirimkan untuk majalah ilmiah E-Jurnal Medika Udayana adalah naskah belum pernah atau tidak akan dikirim ke majalah lain. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia
Arjuna Subject : -
Articles 1,956 Documents
KORELASI NILAI INTRAVESICAL PROSTATIC PROTRUSION DAN POST VOID RESIDUAL URINE MENGGUNAKAN PEMERIKSAAN ULTRASONOGRAFI TRANSABDOMINAL DENGAN SKOR INTERNATIONAL PROSTATE SYMPTOM PADA PASIEN PEMBESARAN PROSTAT JINAK Marlina, Kiki Amelia
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 6 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i06.P11

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi nilai intravesical prostatic protrusion (IPP) dan volume post void residual (PVR) urine menggunakan pemeriksaan ultrasonografi transabdominal dengan skor international prostate symptom (IPSS) pada pasien pembesaran prostat jinak. Penelitian ini dilaksanakan di Departemen Radiologi RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, mulai Maret hingga Oktober 2020. Jumlah sampel sebanyak 48 pasien pembesaran prostat jinak yang telah dilakukan pemeriksaan ultrasonografi transabdominal dan memenuhi kriteria inklusi penelitian. Metode yang digunakan adalah uji korelasi Spearman’s rho dan Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi antara volume prostat (p=0,0001, r=0,736) dengan skor international prostate symptom (IPSS), semakin besar volume prostat maka semakin tinggi skor IPSS. Terdapat korelasi antara derajat intravesical prostatic protrusion (IPP) (p=0,0001, r=0,675) dengan skor international prostate symptom (IPSS), semakin tinggi derajat IPP maka semakin tinggi pula skor IPSS. Tidak terdapat korelasi antara post void residu (PVR) urine (p=0,076, r=0,258) dengan skor international prostate symptom (IPSS), besarnya volume PVR tidak berkorelasi dengan skor IPSS. Tidak terdapat korelasi antara kalsifikasi prostat (p=0,493) dengan skor international prostate symptom (IPSS). Kesimpulan dari penelitian ini yakni volume prostat dan nilai IPP berkorelasi dengan skor IPSS, sedangkan volume PVR dan kalsifikasi prostat tidak berkorelasi dengan skor IPSS. Kata kunci: Pembesaran prostat jinak, ultrasonografi transabdominal, intravesical prostatic protrusion, post void residual urine, kalsifikasi prostat, skor international prostate symptom
PENURUNAN RESOLUSI SKOR ELEVASI SEGMEN ST TERINTEGRASI (SESSTI) SEBAGAI PREDIKTOR KEJADIAN KARDIOVASKULAR MAYOR PADA PASIEN STEMI YANG DILAKUKAN INTERVENSI KORONER PERKUTAN (IKP) PRIMER SELAMA RAWAT INAP Diprabawa, D. Gde A.; Wirawan, H.; Maliawan, R. Paramitha I.; Yasmin, AAA. Dwi A.; Gunadhi, IGN Putra
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 6 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i06.P08

Abstract

Latar Belakang-Reperfusi dini dengan intervensi koroner perkutan (IKP) primer telah meningkatkan hasil secara substansial untuk pasien ST-elevation myocardial infarction (STEMI). Namun, terlepas dari efisiensi IKP primer, angka kematian di rumah sakit setelah infark miokard akut (AMI) tetap tinggi. Mendeteksi pasien dengan risiko tinggi untuk kejadian lebih lanjut seperti infark ulang atau kematian pada pasien pasca IKP primer, diperlukan untuk tatalaksana lebih dini sehingga mengurangi risiko efek samping. Resolusi segmen ST setelah IKP primer atau trombolisis merupakan indikasi untuk reperfusi yang efisien pada tingkat jaringan miokard. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pada pasien STEMI, adanya resolusi elevasi segmen ST adalah prediktor yang baik untuk patensi arteri yang berhubungan dengan infark (IRA), dan berkorelasi terbalik dengan kematian. Metode-Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan kohort prospektif untuk membuktikan hubungan Skor Elevasi Segmen ST terIntegrasi (SESSTI) sebagai indikator skor berbasis EKG terhadap kejadian kardiovaskular mayor dan mortalitas selama perawatan di rumah sakit pada pasien STEMI yang dilakukan IKP primer. Kriteria inklusi adalah semua pasien STEMI killip 1 yang berhasil dilakukan IKP primer dengan onset kurang dari 12 jam. Penghitungan SESSTI berdasarkan EKG saat pasien datang dan setelah 1 jam dilakukan fibrinolitik. Subyek penelitian akan dibagi dua kelompok berdasarkan SESSTI < 50% dan SESSTI ? 50%. Hasil-Penelitian dilakukan dari 1 maret-30 mei 2017 di RSUP Prof Ngoerah. Telah didapatkan 61 sampel dengan 53 pasien berjenis kelamin laki-laki (86,9 %), rentang usia 27-84 tahun, onset nyeri dada 1.5 jam – 11.5 jam, lokasi STEMI terbanyak di anterior yaitu 30 pasien ( 49,2 %), didapatkan 2 sampel mengalami kematian yang disebabkan karena VT/VF dan syok kardiogenik. 6 pasien lainnya mengalam kejadian kardiovaskular mayor selama masa perawatan. Didapatkan 13 pasien dengan resolusi SESSTI < 50 % dan 48 pasien dengan SESSTI ? 50%. Pada uji log rank tampak bahwa terdapat perbedaan kesintasan yang bermakna (p=0,002) antara kelompok STEMI dengan resolusi SESSTI < 50% paska IKP (rerata kesintasan 467,462 jam; 95% CI 292,439-642,484) dibandingkan dengan kelompok STEMI dengan resolusi SESSTI?50% (rerata kesintasan 676,542 jam; 95% CI 628,925-724,158). Dapat disimpulkan bahwa pasien STEMI dengan resolusi SESSTI < 50% memiliki kesintasan selama masa perawatan yang lebih buruk dibandingkan dengan pasien STEMI dengan resolusi SESSTI?50%. Dan setelah dilakukan analisa multivariat setelah dikontrol dengan variabel perancu resolusi SESSTI<50% paska IKP primer merupakan prediktor independen KKM selama perawatan di rumah sakit setelah dilakukan kendali dengan variabel yang dianggap sebagai perancu dengan masing p=0,0036(HR= 4,994; 95%CI 1,110-22,474). Diskusi-Hasil ini sesuai dengan penelitian oleh McLaughlin dkk, yang membuktikan resolusi segmen ST dan kematian berkorelasi kuat. Pada suatu studi oleh Opincariu dkk, juga menemukan bahwa pada pasien STEMI, adanya resolusi kurang 50% paska IKP primer merupakan pertanda awal peningkatkan risiko tejadinya kematian selama masa perawatan, sehingga resolusi segmen ST bukan hanya pertanda sederhana dari keberhasilan reperfusi tetapi juga sebagai prediktor independen terjadinya KKM selama masa perawatan pada pasien STEMI yang dilakukan IKP primer. Simpulan-SESSTI adalah skoring berbasis EKG yang sederhana dan berguna untuk pada pasien STEMI yang dilakukan reperfusi baik dengan fibrinolitik maupun IKP primer. Adanya resolusi SESSTI<50% pada pasien STEMI yang telah berhasil dilakukan IKP primer merupakan prediktor independen yang kuat untuk terjadinya KKM dan mortalitas kardiovaskular selama masa rawat inap. Kata Kunci: skor elevasi segmen ST terintegrasi, kejadian kardiovasakular mayor, STEMI, IKP primer
EKSPRESI RECEPTOR ACTIVATOR OF NF-?B LIGAND (RANKL) TINGGI DAN STATUS MENOPAUSE SEBAGAI FAKTOR RISIKO METASTASIS TULANG PADA LOCALLY ADVANCED BREAST CANCER (LABC) SUBTIPE LUMINAL Tarigan, Rika Christina
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 5 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i05.P17

Abstract

Metastasis tulang pada Locally Advanced Breast Cancer (LABC) subtipe luminal menunjukkan prognosis yang buruk dan sulit terdeteksi pada tahap awal. Salah satu faktor yang berperan dalam metastasis tulang pada kanker payudara adalah Receptor Activator of NF-?B Ligand (RANKL). Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa ekspresi RANKL tinggi merupakan faktor risiko terjadinya metastasis tulang pada kasus LABC subtipe luminal. Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan kasus kontrol tidak berpasangan. Subyek yang digunakan yaitu pasien LABC subtipe luminal dengan dan tanpa metastasis tulang yang dilakukan pemeriksaan patologi anatomi di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah dari 1 Januari 2016 hingga 31 Desember 2022. Evaluasi ekspresi RANKL dilakukan dengan pemeriksaan imunohistokimia. Tingkat ekspresi RANKL ditentukan dengan H-score dilanjutkan dengan analisis regresi logistik multipel untuk menilai faktor risiko ekspresi RANKL terhadap metastasis tulang. Pada penelitian ini terdapat 15 kasus dan 30 kontrol dengan perbandingan 1:2, didapatkan hasil ekspresi RANKL dan status menopause merupakan faktor risiko terjadinya metastasis tulang. Ekpresi RANKL memiliki risiko lebih tinggi (AOR= 19,5; p= 0,003) sedangkan status menopause memiliki risiko yang lebih rendah (AOR=6,7; p= 0,034). Ekspresi RANKL tinggi dan status menopause adalah faktor risiko terjadinya metastasis tulang pada pasien LABC subtipe luminal dan diharapkan dapat menjadi acuan untuk memprediksi kejadian metastasis tulang. Kata Kunci: LABC, luminal, metastasis tulang, RANKL
EKSPRESI EPIDERMAL GROWTH FACTOR RECEPTOR (EGFR) TINGGI SEBAGAI FAKTOR RISIKO RESPON KEMORADIASI NEGATIF PADA KARSINOMA NASOFARING NON KERATINISASI SUBTIPE TIDAK BERDIFERENSIASI DI RSUP PROF.DR.I.G.N.G. NGOERAH Butar, Christine Rosalina
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 5 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i05.P15

Abstract

Kasus karsinoma nasofaring (KNF) semakin meningkat, dengan 20-30 persen pasien mengalami gagal terapi/rekurensi dan/atau metastasis. Overekspresi EGFR mencapai 80% pada biopsi KNF primer dan dianggap sebagai faktor risiko kegagalan terapi. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa ekspresi EGFR tinggi sebagai faktor risiko respon kemoradiasi negatif pada karsinoma nasofaring non keratinisasi subtipe tidak berdiferensiasi di RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah. Sampel penelitian ini adalah penderita karsinoma nasofaring non keratinisasi subtipe tidak berdiferensiasi dan telah mendapatkan terapi kemoradiasi lengkap yang bahan biopsinya diperiksa secara histopatologi di Laboratorium Patologi Anatomi RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah, yang terdiri dari 23 sampel kelompok kasus yaitu dengan respon kemoradiasi negatif dan 23 sampel kelompok kontrol yaitu dengan respon kemoradiasi positif dari tanggal 1 Januari 2017 sampai 31 Desember 2021. Ekspresi EGFR dinilai dengan pewarnaan imunohistokimia. Hasil penelitian ini menunjukkan rerata usia pasien 48,63 tahun, dengan usia termuda 23 tahun dan tertua 71 tahun serta didominasi oleh pria (62,5%). Ekspresi EGFR dan respon kemoradiasi pada KNF dengan analisis chi-square, didapatkan p-value sebesar 0,044 (p<0,05) dan OR=4,286. Simpulan penelitian ini adalah ekspresi EGFR tinggi merupakan faktor risiko respon kemoradiasi negatif pada pasien karsinoma nasofaring non keratinisasi subtipe tidak berdiferensiasi. Pasien karsinoma nasofaring non keratinisasi subtipe tidak berdiferensiasi dengan ekspresi EGFR yang tinggi memiliki risiko 4,3 kali lebih tinggi untuk mendapatkan respon kemoradiasi negatif dibandingkan pasien karsinoma nasofaring non keratinisasi subtipe tidak berdiferensiasi dengan ekspresi EGFR yang rendah. Kata kunci : EGFR, karsinoma nasofaring, tidak berdiferensiasi, kemoradiasi
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS HAND SANITIZER BERMEREK DAN HAND SANITIZER TANPA MEREK TERHADAP TOTAL KOLONI BAKTERI DI TANGAN Herawati, Putri; Indraningrat, Anak Agung Gede
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 5 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i05.P18

Abstract

Bakteri adalah kelompok mikroorganisme bersel tunggal dengan konfigurasi selular prokariotik yang tersebar luas di alam, udara, tanah, air dan di tubuh manusia atau hewan. Tangan adalah salah satu bagian tubuh manusia yang sering terkontaminasi oleh bakteri, sehingga mencuci tangan menggunakan hand sanitizer adalah salah satu cara yang dipakai untuk membersihkan tangan apabila sabun dan air mengalir tidak tersedia. Jenis produk hand sanitizer yang beredar di masyarakat semakin beragam, dari hand sanitizer bermerek yang telah terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) hingga hand sanitizer tanpa merek yang diproduksi sendiri oleh sejumlah masyarakat sehingga belum diketahui efektivitasnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan efektivitas hand sanitizier bermerek dan hand sanitizier tanpa merek terhadap total koloni bakteri di tangan. Penelitian quasi experiment telah dilakukan menggunakan rancangan penelitian one grup pretest-posttest design dengan melibatkan 10 orang pegawai cleaning service FKIK Unwar sebagai responden. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon dan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan signifikan sebelum dan sesudah perlakuan hand sanitizer bermerek (P = 0,046 atau P < 0,05) dan tidak terdapat perbedaan signifikan sebelum dan sesudah perlakuan hand sanitizer tanpa merek (P= 0,161 atau P > 0,05). Efektivitas hand sanitizer bermerek dalam menurunkan angka bakteri sebesar 85% dan hand sanitizer tanpa merek sebesar 71%. Hasil ini mengindikasikan bahwa efektivitas hand sanitizer bermerek dan hand sanitizer tanpa merek tidak berbeda dalam menurunkan angka bakteri di tangan (P = 0,846 atau P > 0,05).
Uji Reliabilitas Keseimbangan Dinamis Dengan The Timed Up And Go Test Pada Lanjut Usia Dengan Osteoarthritis Lutut Komala Sari, Dwi Rosella
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 5 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i05.P13

Abstract

Latar belakang: Osteoarthritis (OA) lutut merupakan salah satu penyakit degeneratif yang menyerang lanjut usia (lansia). Penurunan kemampuan keseimbangan merupakan salah satu problematika pada penderita OA lutut, baik keseimbangan statis maupun dinamis. Keseimbangan dinamis salah satunya dipengaruhi oleh nyeri yang merupakan salah satu faktor meningkatkan resiko jatuh. Evaluasi keseimbangan dinamis sangat penting untuk mencegah resiko jatuh pada pasien dengan menggunakan the Timed Up and Go Test. Tujuan: Untuk mengetahui reliabilitas Timed Up and Go Test dalam hal test retest dan inter rater sebagai alat ukur untuk keseimbangan dinamis pada lansia dengan OA lutut. Metode: Penelitian ini menggunakan metode observational study dengan pendekatan methodological research. Penelitian ini melibatkan 58 responden yang diambil secara purposive sampling dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil: Test retest atau intra rater reliability dan inter rater reliability memiliki ICC 0.982 dan 0.995 (excellent). Test retest memiliki ?=0.991 (excellent), p<0.001, dan r=0.962 (korelasi sangat kuat). Sedangkan inter rater reliability didapatkan ?=0.997 (excellent), p<0.001, dan r=0.990 (korelasi sangat kuat). Kesimpulan: Timed Up and Go test merupakan alat ukur keseimbangan dinamis yang reliabel dalam hal test test retest dan inter rater reliability serta direkomendasikan untuk lansia dengan Osteoarthritis lutut. Kata kunci : reliabilitas, timed up and go test, osteoarthritis lutut.
KARAKTERISTIK HIDROSEFALUS PADA USIA DEWASA Arasy, Mohd Firdaus; Mahadewa, Tjokorda Gde Bagus; Niryana, , I Wayan; Maliawan, Sri
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 6 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i06.P09

Abstract

Istilah hidrosefalus berasal dari dua kata yaitu "hydro" dan "cephalous" yang masing-masing mewakili air dan otak. hidrosefalus adalah komplikasi ketika cairan dalam hal ini cairan serebrospinal (LCS) terbentuk di dalam rongga-rongga jauh di dalam otak, kelebihan cairan ini meningkatkan ukuran ventrikel sehingga meningkatkan tekanan keseluruhan pada otak. Cairan serebrospinal dalam keadaan normal akan mengalir melalui ventrikel dan serebral dan juga medula spinalis. Rangkuman menyeluruh dalam bentuk systematic review mengenai karakteristik pasien hidrosefalus pada usia dewasa. Protokol dalam studi ini menggunakan The Centre for Review and Dissemination and The Joanna Briggs Institute (JBI) Guideline sebagai panduan dalam asesmen kualitas dari studi yang akan dirangkum. Evaluasi dari systematic review akan menggunakan PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic reviews and Meta-Analyses) checklist untuk menentukaan penyelesaian studi yang telah ditemukan dan disesuaikan dengan tujuan dari systematic review. Berdasarkan 9 artikel studi, gejala klinis yang sering ditemukan pada pasien hidrosefalus berdasarkan data yang terdapat pada 3 artikel studi adalah gangguan gaya berjalan. Berdasarkan data pada 3 artikel studi, komorbid yang sering ditemukan adalah hipertensi (1.503 pasien) yang diikuti dengan diabetes mellitus dalam 4 studi artikel dengan jumlah pasien sebanyak 893 pasien. Dalam 4 artikel studi, didapatkan bahwa jenis intervensi yang diberikan kepada pasien berupa shunt treatment dengan mayoritas adalah Ventriculoperitoneal shunt (VP shunt) sebanyak 1.563 pasien. Berdasarkan hasil dan pembahasan dalam systematic review ini, dapat disimpulkan bahwa karakteristik hidrosefalus pada usia dewasa didominasi oleh jenis kelamin laki-laki, dengan gejala klinis yang sering ditemukan berupa gangguan gaya berjalan. Kebanyakan pasien memiliki komorbid hipertensi dan mendapatkan intervensi berupa ventriculoperitoneal shunt (VP shunt).
TINGKAT KEPARAHAN GEJALA AWAL DAN USIA ADALAH PREDIKTOR LUARAN BURUK BELL’S PALSY PADA PASIEN YANG MENJALANI TERAPI FISIK DAN REHABILITASI MEDIS Wiadi, I Nengah
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 6 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i06.P12

Abstract

Bell’s palsy merupakan penyakit yang ditandai dengan parese cranial nerve (CN) VII perifer yang bersifat idiopatik. Terapi fisik merupakan salah satu modalitas terapi non farmakologi yang terbukti efektif. Degenerasi akibat penuaan dan keparahan gejala awal merupakan prediktor luaran penyakit buruk ini. Penelitian merupakan penelitian analisis observasional untuk mengetahui usia dan tingkat keparahan gejala terhadap luaran. Luaran diukur berdasarkan tingkat remisi yaitu House Brackmann (HB) grade I. Analisis terukur dengan metode Analysis survival (Kaplan-Meier) dengan SPSS IBM 22. Sebanyak 42 subyek dianalisis pada penelitian ini. Rerata usia adalah 41,5 ± 17,6 tahun dan sebanyak 54,8% adalah pria. Rerata mulai kunjungan terapi fisik dan rehabilitasi adalah 13 ± 15,6 hari. Frekuensi terapi adalah 13,7 ± 10,8 kali. Analisis survival menunjukan Bell’s Palsy HB grade IV-VI memiliki luaran yang lebih buruk (p=0,003). Demikian juga usia >42 tahun merupakan faktor prediktor luaran buruk Bell’s Palsy (p=0,028). Dengan demikian disimpulkan bahwa gejala awal yang lebih berat dan usia yang lebih tua merupakan prediktor buruk luaran Bell’s Palsy.
GENETIC POLYMORPHISM OF ALDEHYDE DEHYDROGENASE 2 (ALDH2) OF MINANGKABAU ETHNIC GROUP Hidayat, Taufik; Nurhantari, Yudha; Suhartini, .
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 6 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i06.P10

Abstract

Introduction. Aldehyde dehydrogenase 2 (ALDH2) is the main isozymes that can converted efficiently acetaldehyde into acetic acid. The aim of this study is to analyze genetic polymorphism of ALDH2 of Minangkabau ethnic group and its relationship with alcohol sensitivity. Methode. This research use descriptive methodology. Population and sample taken from Minangkabau people who lived in Yogyakarta who passed the inclusion and exclusion criteria. Examination of polymorphism of ALDH2 was conducted to the sample with PCR-RFLP with Ear! Restriction enzyme. Results. From 24 electrophoresis samples we got genotype frequency of wild type is 5 samples (20.8%), heterozygote polymorphism is 16 samples (66.7%) and homozygote polymorphism/polymorphic type is 3 samples (12.5%). Conclusion. We conclude that there are heterozygote polymorphism and homozygote polymorphism in the young adult, non alcoholic and healthy Minangkabau ethnic group. Keywords: aldehyde dehydrogenase 2, polimorphism, Minangkabau ethnic
HUBUNGAN ANTARA EKSPRESI GALECTIN-3 DENGAN STADIUM FIGO DAN DERAJAT DIFERENSIASI PADA KARSINOMA OVARIUM TIPE SERUS DI RSUP PROF. DR. I. G. N. G. NGOERAH DENPASAR Pandapotan Sitorus, Harry Mangara
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 5 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i05.P16

Abstract

ABSTRAK Karsinoma ovarium tipe serus (KOS) merupakan histotipe karsinoma ovarium yang paling sering terjadi. Banyak protein yang diduga terlibat dalam karsinogenesis dan progresi karsinoma ovarium, salah satunya Galectin-3. Protein ini berkontribusi dalam pertumbuhan sel tumor, apoptosis, adhesi, angiogenesis, invasi, migrasi, metastasis, respon sistem imun, kemoresisten, dan inflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan hubungan ekspresi galectin-3 dengan stadium FIGO dan derajat diferensiasi pasien KOS di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik menggunakan rancangan potong lintang dengan besar sampel 37. Stadium FIGO dan derajat diferensiasi dinilai dari preparat hematoxyllin-eosin. Ekspresi galectin-3 dinilai dengan metode imunohistokimia. Selanjutnya dilakukan analisis bivariat untuk menilai hubungan ekspresi galectin-3 dengan stadium FIGO dan derajat diferensiasi. Analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan ekspresi galectin-3 dengan stadium FIGO (p=0,921), namun terdapat hubungan signifikan dengan derajat diferensiasi (p=0,005). Ekspresi galectin-3 tinggi seluruhnya ditemukan pada kasus KOS high grade (HG). Pada analisis risiko prevalensi didapatkan ekspresi galectin-3 tinggi memiliki risiko prevalensi 1,545 kali mengalami KOS-HG (IK95% 1,088-2,195). Sebagai simpulan, terdapat hubungan antara ekspresi galectin-3 dengan derajat diferensiasi pada pasien KOS di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah. Kata kunci: Karsinoma ovarium tipe serus, Galectin-3, stadium FIGO, derajat diferensiasi

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13 No 07 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 9 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 8 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 6 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 5 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 4 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 3 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 2 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 1 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 12 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 11 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 10 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 9 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 8 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 7 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 6 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 5 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 4 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 3 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 2 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 1 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 6 (2022): Vol 11 No 06(2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 12 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 11 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 10 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 9 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 8 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 7 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 6 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 5 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 4 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 3 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 2 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 1 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 12 (2021): Vol 10 No 12(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 11 (2021): Vol 10 No 11(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 10 (2021): Vol 10 No 10(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 9 (2021): Vol 10 No 09(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 8 (2021): Vol 10 No 08(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 7 (2021): Vol 10 No 07(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 6 (2021): Vol 10 No 06(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 5 (2021): Vol 10 No 05(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 4 (2021): Vol 10 No 04(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 3 (2021): Vol 10 No 03(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 2 (2021): Vol 10 No 02(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 1 (2021): Vol 10 No 01(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 12 (2020): Vol 9 No 12(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 11 (2020): Vol 9 No 11(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 10 (2020): Vol 9 No 10(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 9 (2020): Vol 9 No 09(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 8 (2020): Vol 9 No 08(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 7 (2020): Vol 9 No 07(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 6 (2020): Vol 9 No 06(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 5 (2020): Vol 9 No 05(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 4 (2020): Vol 9 No 04(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 3 (2020): Vol 9 No 03(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 2 (2020): Vol 9 No 02(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 1 (2020): Vol 9 No 01(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 5 (2019): Vol 8 No 5 (2019): Vol 8 No 5 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 4 (2019): Vol 8 No 4 (2019): Vol 8 No 4 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 12 (2019): Vol 8 No 12 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 11 (2019): Vol 8 No 11 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 10 (2019): Vol 8 No 10 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 9 (2019): Vol 8 No 9 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 8 (2019): Vol 8 No 8 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 7 (2019): Vol 8 No 7 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 6 (2019): Vol 8 No 6 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 3 (2019): Vol 8 No 3 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 2 (2019): Vol 8 No 2 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 1 (2019): Vol 8 No 1 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 12 (2018): Vol 7 No 12 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 11 (2018): vol 7 no11 2018 E-jurnal medika udayana Vol 7 No 10 (2018): Vol 7 No 10 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 9 (2018): Vol 7 No 9 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 8 (2018): Vol 7 No 8 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 7 (2018): Vol 7 No 7 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 6 (2018): Vol 7 No 6 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 5 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 4 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 3 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 2 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 1 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 12 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 11 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 10 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 9 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 8 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 7 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 6 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 5 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 4 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 3 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 2 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 1 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 5, No 12 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5, No 11 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 10 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 9 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 8 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 7 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 6 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 5 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 4 (2016): E-jurnal medika udayana vol 5 no 3(2016):e-jurnal medika udayana vol 5 no 2(2016):e-jurnal medika udayana vol 5 no 1(2016):e-jurnal medika udayana vol 4 no 12(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 11(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 10(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 9(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 8(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 7(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 6(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 5(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 4(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 3 (2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 2 (2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 1 (2015):e-jurnal medika udayana vol 3 no 12(2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 11(2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 10(2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 9 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 8 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 7 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 6 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 5 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 4 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 3 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 2 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 1 (2014):e-jurnal medika udayana vol 2 no 12 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 11 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 10 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 9 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 8 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 7 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no6(2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no5(2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no4 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no3 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no2 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no1 (2013):e-jurnal medika udayana Vol 1 No 1 (2012): e-jurnal Medika Udayana More Issue