cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
E-Jurnal Medika Udayana
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23031395     EISSN : 25978012     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah ilmiah E-Jurnal Medika Udayana menerima naskah dari mahasiswa PSPD FK UNUD, baik berupa karangan asli atau laporan penelitian, ikhtisar pustaka, laporan kasus, maupun surat-surat untuk redaksi. Naskah yang dikirimkan untuk majalah ilmiah E-Jurnal Medika Udayana adalah naskah belum pernah atau tidak akan dikirim ke majalah lain. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia
Arjuna Subject : -
Articles 1,956 Documents
DIAGNOSE AND MANAGEMENT TINEA FASCIALIS I Pt Agus Suryantara P; L.M Rusyati; I.G.K Darmada
E-Jurnal Medika Udayana vol 3 no 1 (2014):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.351 KB)

Abstract

Fungi disease  on skin is often occur at Indonesia because it is a tropic country that has hot climate and also correlate wit bad hygiene.  Dermatofitosis is fungi disease on the keratinizing tissue and differentiate as many class such as Tinea Corporis or TineaCruris. Tinea fascialis include in this form. The diagnose this disease from anamnesis,clinical manifetation, and also test result from the tissue. Management for thistineacomprise to topical and systemic. The important one in management this disease isprevention  management include in control of skin dryness.
GAMBARAN FAKTOR RISIKO HIPERTENSI PADA MASYARAKAT PRALANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS DAWAN I PERIODE MEI 2013 Made Yudha Ganesa Wikantyas Widia; I Wayan Sudhana
E-Jurnal Medika Udayana vol 4 no 4(2015):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.958 KB)

Abstract

Berdasarkan data kunjungan pasien di Puskesmas Dawan I, angka kejadian hipertensi pada golongan umur pralansia (45-59 tahun) lebih tinggi dari golongan lansia (> 60 tahun) pada periode Januari hingga Desember 2012. Berdasarkan data tersebut, terdapat kecenderungan untuk mulai bergesernya angka kejadian hipertensi kearah umur yang lebih muda yaitu pralansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor risiko hipertensi pada pralansia di wilayah kerja Puskesmas Dawan I pada bulan Mei 2013. Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Dawan I, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, pada bulan Mei 2013 dengan jumlah responden sebanyak 75 orang berusia 45-59 tahun. Rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional digunakan dalam penelitian ini. Hipertensi ditentukan dengan pengukuran tekanan darah menggunakan kriteria JNC VII (tekanan darah sistolik ?140 mmHg dan/atau diastolik ? 90 mmHg). Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kejadian hipertensi lebih cenderung dialami oleh laki-laki (43,6%), yang memiliki riwayat keluarga hipertensi (69,2%), pada perokok (56,5 %), yang menghisap rokok > 15 batang per hari (66,7%), riwayat lama merokok ? 25 tahun (69,2%), memiliki riwayat minum kopi rutin setiap hari (46%), mengkonsumsi  kopi ? 3 gelas per hari (62,5%), jenis kopi yang diminum adalah kopi giling (47,5%), riwayat konsumsi garam yang masuk dalam kategori lebih (52,2%), dan pada status IMTnya termasuk obesitas (67,9%). Mengingat tingginya prevalensi hipertensi pada kelompok dengan perokok, peminum kopi, dan obesitas, maka perlu dilakukan intervensi misalnya  melalui promosi kesehatan dan penyuluhan.        
HUBUNGAN DISFUNGSI EREKSI PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 TERHADAP KUALITAS HIDUP DI POLIKLINIK PENYAKIT DALAM RSUP SANGLAH PROVINSI BALI Muhammad Aris Sugiharso; Made Ratna Saraswati
E-Jurnal Medika Udayana Vol 5 No 5 (2016): E-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.946 KB)

Abstract

Erectile dysfunction was one of the complication of diabetes mellitus that often ignored. Besides, erectile dysfunction could be a sign of uncontrolled blood glucose and microvascular complication. This condition coexist with strict management of therapy will cause the psychological distress to the patient and will affect his health-related quality of life. This study purposed to determine the prevalence of diabetic man with erectile dysfunction, quality of life and its relation with the quality of life. This study used the cross – sectional descriptive and analytic design that held on Outpatient Department of Diabetic Sanglah General Hospital Center Bali with 34 participants enrolled in this research. The International Index of Erectile Function (IIEF) 15 quissionaire given to assess the erectile dysfunction, Diabetic Distress Scale (DDS) to assess the psychological pressure and RAND Short Form (SF) 36 to assess the quality of life of patient. From this study found that the prevalence of erectile dysfunction is 61.8%. From Kruskal – Wallis test found that the decrease of quality of life, particularly in physical functioning, role limitations due to physical health, energy / fatigue, social functioning and general health domain,  meanwhile with DDS questionnaire found the value of p>0.05 on all of the domain so that it concluded that there is no association between erectile dysfunction on diabetic patient with diabetic-related distress. From the Pearson correlation test found that the medium correlation (0.4 – 0.6) between erectile dysfunction on diabetic patient with physical functioning, emotional well-being and social functioning. Weak correlation (0.4) found on energy/fatigue and general health domain. The correlation was negative, which mean that higher the score of dysfunction on the patient will give the lower quality of life. It can be concluded that from this study found that there is a association between erectile dysfunction on diabetic patient and their quality of life. Meanwhile, there is no association between erectile dysfunction with the diabetic-related stress. 
PREVALENSI PASIEN IVA POSITIF MELALUI METODE SEE AND TREAT DI PUSKESMAS TABANAN III KABUPATEN TABANAN PERIODE BULAN JANUARI-JUNI 2014 Riski Ratnashinta Yustitia; I Gusti Putu Mayun Mayura
E-Jurnal Medika Udayana Vol 5, No 11 (2016): E-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.489 KB)

Abstract

Latar belakang: Kejadian lesi prakanker diperkirakan delapan kali jumlah kanker leher rahim yaitu184/100.000. Apabila lesi prakanker tidak segera ditangani dengan baik maka akan berkembangmenjadi kanker. Lesi prakanker ini dapat diketahui dengan metode inspeksi visual asam asetat (IVA).Untuk itu cakupan skrining IVA dan krioterapi ini perlu ditingkatkan dengan kerja keras, kerja cerdas,dan inovasi bersama seluruh lapisan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuiprevalensi pasien IVA positif melalui Metode See And Treat di Puskesmas Tabanan III KabupatenTabanan selama bulan Januari- Juni 2014. Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan data sekunder berupablangko skrining IVA yang memenuhi kriteria inklusi, dan data disajikan dalam bentuk tabel.Penelitian dilakukan pada 123 rekam medis/blangko pasien skrining IVA di Puskesmas Tabanan IIIpada bulan Januari- Juni 2014 dengan jumlah sampel eksklusi sebanyak 22 blangko sehingga sampel yang memenuhi kriteria inklusi adalah 101 blangko.Hasil: Didapat pasien IVA positif sebanyak 10,9% dan IVA negatif sebesar 89,1 %. 100% pasienIVA positif tersebut melanjutkan tindakan krioterapi. Frekuensi pasien IVA Positif tertinggi terdapatpada kelompok umur 36-45 tahun yaitu 54,5% dan sebanyak 90,9% pasien IVA positif terjadi padawanita yang menikah pertama kali pada kelompok usia 17-25 tahun, 54,5% pasien menggunakankontrasepsi oral dan sisanya tidak.Simpulan: Prevalensi pasien IVA positif di Puskesmas Tabanan III Kabupaten Tabanan masihterbilang tinggi sehingga perlu dilakukan sosialisasi mengenai Skrining IVA dan Krioterapi gunameningkatkan kesadaran masyarakat dalam melakukan pencegahan lesi prakanker dan kanker serviks dan menurunkan angka insiden lesi prakanker dan kanker serviks.
POTENSI EKSTRAK ETANOL DAUN PANDAN WANGI (PANDANUS AMARYLLIFOLIUS ROXB.) SEBAGAI LARVASIDA ALAMI BAGI AEDES AEGYPTI Maretta Rosabella Purnamasari; I Made Sudarmaja; I Kadek Swastika
E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 3 (2017): E-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.973 KB)

Abstract

Tingginya kasus demam berdarah dengue disertai munculnya resistensi terhadap temephos, menjadikan penggunaan larvasida alami mulai dipertimbangkan. Salah satu bahan alam yang dapat digunakan adalah daun pandan wangi. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret tahun 2016 sampai bulan Agustus tahun 2016 dan bertujuan untuk mengetahui efektivitas, LC50, dan LC90 dari ekstrak etanol daun pandan wangi sebagai larvasida bagi Aedes aegypti. Studi ini merupakan murni eksperimental dan memakai post test only control group design. Subjek dibagi menjadi kelompok kontrol (konsentrasi 0%) dan 7 kelompok perlakuan (konsentrasi 0,05%, 0,125%, 0,25%, 0,5%, 1%, 2%, 4%). Replikasi dilakukan empat kali dengan menggunakan 25 larva Aedes aegypti instar III/IV pada tiap-tiap kelompok. Data kematian larva dikumpulkan setelah 24 jam dan didapatkan tidak ada kematian pada kelompok kontrol. Rerata persentase kematian larva pada kelompok perlakuan berturut-turut dari konsentrasi perlakuan terkecil ke terbesar adalah 2%, 5%, 7%, 11%, 14%, 36%, 99%. Uji Kruskal Wallis memperoleh p<0,05 yang artinya diperoleh perbedaan bermakna pada kematian larva antar kelompok. Hasil dari uji Mann Whitney menunjukkan p<0,05 pada konsentrasi 0,125%, 0,25%, 0,5%, 1%, 2%, dan 4%, yang masing-masing dibandingkan dengan kontrol. Uji probit memperlihatkan nilai LC50 dan LC90 berturut-turut 2,113% dan 3,497%. Disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) konsentrasi 0,125%, 0,25%, 0,5%, 1%, 2%, dan 4% efektif sebagai larvasida alami bagi Aedes aegypti, dengan nilai LC50 sebesar 2,113% dan nilai LC90 sebesar 3,497%.
HUBUNGAN BERAT TAS SEKOLAH DENGAN GANGGUAN MUSKULOSKELETAL PADA SISWA SD SARASWATI 1 DENPASAR I Gede Putu Widya Artha
E-Jurnal Medika Udayana Vol 5 No 4 (2016): E-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.183 KB)

Abstract

The elementary school is one level of education in Indonesia. The number of subjects in elementary schools cause students should bring a lot of books in their bag. One type of bag that is often used by elementary school students is a backpack. Backpack can carry a lot of stuff but it can cause musculoskeletal disorders. This study aims to determine the relationship of the weight of school bags with musculoskeletal disorders at elementary students Saraswati 1 Denpasar. This study used a cross-sectional study. The sample used was grade 5 in elementary Saraswati 1 Denpasar which amounted to 103 people. Instruments in this study was a questionnaire Nordic Body Map. Data were analyzed with Spearman test to determine the relationship of the weight of school bags with musculoskeletal disorders at elementary students Saraswati 1 Denpasar. The results showed correlated between the heavy bag with musculoskeletal disorders at elementary students Saraswati 1 Denpasar (p = 0.001). The body parts most commonly experienced musculoskeletal disorders is back, shoulder and neck. Results of this study are expected to educate the public about ergonomic heavy bag for elementary school students. Keywords: Musculoskeletal Disorders, Weight Bag, Elementary School
PREVALENSI NON FUNCTIONAL OVERREACHING DAN OVERTRAINING SYNDROME PADA ATLET KEMPO, LARI, DAN TARUNG DERAJAT PRA PON PROVINSI BALI TAHUN 2015 Petrus Grasius Agung
E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 8 (2018): Vol 7 No 8 (2018): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.366 KB)

Abstract

Non functional overreaching (NFOR) dan Overtraining Syndrome (OTS) adalah penurunan performa atlet dengan atau tanpa gejala fisiologis dan psikologis selama waktu tertentu, yang berlangsung lebih dari dua minggu hingga bulan (NFOR) dan lebih dari dua bulan hingga bertahun-tahun (OTS). Terdapat berbagai kriteria yang menjadi petunjuk terjadinya NFOR dan OTS. Penurunan performa yang berlangsung lama bersamaan dengan gangguan psikologis menjadi faktor penting sebagai petunjuk NFOR dan OTS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi atlet kempo, lari dan tarung derajat pra PON Provinsi Bali yang mengalami NFOR dan OTS. Desain penelitian adalah penelitian deskriptif dengan 35 responden atlet dari berbagai level kompetisi. Data diperoleh menggunakan recovery stress quostionare for athletes (RESTQ). Karakteristik responden dan analisis data dilakukan melalui microsoft excel. Hasil deskriptif karakteristik responden menunjukan responden laki-laki berjumlah 22 orang (62,8%) dan perempuan berjumlah 13 orang (37,2%), umur responden berada di antara 16 sampai 32 tahun dengan rerata 20,14±3,97 tahun. Prevalensi NFOR dan OTS didapatkan 9 orang atlet (25,7%) di mana 8 orang (22.8%) dikategori menjadi NFOR dan 1 orang (2,9%) dikategori menjadi OTS. Prevalensi NFOR/OTS lebih tinggi pada perempuan (35,7%) daripada laki-laki (18,2%). Ada 7 orang (28%) yang mengalami NFOR/OTS berkompetisi di tingkat nasional dan 2 orang (20%) di tingkat regional. Disimpulkan bahwa ditemukan atlet kempo, lari dan tarung derajat pra PON Provinsi Bali yang mengalami NFOR dan OTS dengan prevalensi 25,7%. Kata Kunci: Non Functional Overreaching (NFOR), Overtraining Syndrome (OTS), dan atlet
KARAKTERISTIK BAKTERI Pseudomonas aeruginosa DAN POLA KEPEKAANNYA TERHADAP ANTIBIOTIK DI INTENSIVE CARE UNIT (ICU) RSUP SANGLAH PADA BULAN NOVEMBER 2014 – JANUARI 2015 I Gusti Ayu Mas Putri Dharmayanti; Dewa Made Sukrama
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 4 (2019): Vol 8 No 4 (2019): Vol 8 No 4 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.106 KB)

Abstract

Pseudomonas aeruginosa merupakan salah satu bakteri gram negatif yang paling sering diisolasi dari pasien di ruang ICU. Prevalensi resistensi mikroorganisme terhadap antibiotik juga lebih tinggi pada isolat pasien ICU dibandingkan dengan pasien non-ICU, termasuk pada P. aeruginosa. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik P. aeruginosa dan pola kepekaannya terhadap antibiotik di ICU RSUP Sanglah. Sehingga, pencegahan dan penanganan terhadap infeksi P. aeruginosa pada pasien di ICU menjadi efektif. Penelitian ini menggunakan rancangan studi epidemiologi deskriptif untuk mengetahui karakteristik P. aeruginosa dan pola kepekaannya terhadap antibiotik. Materi penelitian ini adalah data sekunder hasil kultur berbagai spesimen pasien RSUP Sanglah dari Instalasi Mikrobiologi Klinik RSUP Sanglah selama November 2014-Januari 2015. Lima belas isolat P. aeruginosa selama periode waktu tersebut diidentifikasi berdasarkan jenis spesimen yakni isolat dari spesimen urin 13%, pus 20%, sputum 33%, dan spesimen lain-lain 33% Berdasarkan jenis kelamin, laki-laki 73% dan perempuan 27% Berdasarkan usia pasien, usia balita 33%, usia dewasa 27%, usia lansia 13%, dan usia manula 27%. Isolat-isolat tersebut masih sensitif terhadap kolistin (100%), siprofloksasin (100%), sefepim (100%), piperasilin-tazobaktam (87%), amikasin (82%), meropenem (64%), levofloksasin (64%), seftazidim (55%) dan sefoperazon-sulbaktam (57%), dan sudah resisten terhadap ampisilin (90%), amoksisilin-asam klavulanat (88%), dan imipenem (63%). Penelitian tentang pola kepekaan P. aeruginosa terhadap antibiotik perlu dilakukan dalam periode waktu yang lebih lama dan berkala untuk menjadi pedoman penggunaan antibiotik empiris. Pedoman ini diperlukan oleh para klinisi untuk memilih antibiotik yang tepat untuk mengeradikasi P. aeruginosa pada kasus infeksi. Kata kunci: Pseudomonas aeruginosa, intensive care unit, pola kepekaan
HUBUNGAN SUHU TUBUH ISTIRAHAT DENGAN INDEKS MASSA TUBUH PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA Hanik Nuryanti; I Made Krisna Dinata; I Dewa Ayu Inten Dwi Primayanti
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 9 (2019): Vol 8 No 9 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.288 KB)

Abstract

Kondisi dimana lemak tubuh berlebih yang dapat digambarkan melalui indeks massa tubuh (IMT) disebutobesitas. Obesitas diakibatkan oleh kurangnya pengeluaran energi yang dipengaruhi oleh tingkat aktivitasdan olahraga secara umum serta metabolisme basal tubuh. Produksi panas yang dihasilkan darimetabolisme basal dapat diindikasikan oleh pengukuran suhu basal. Metode penelitian ini adalahpendekatan analitik potong lintang dengan melakukan pengukuran suhu tubuh istirahat, tinggi badan,berat badan dan perhitungan IMT. Uji analisis menggunakan uji non-parametrik Rank Spearman. Temuanpenelitian ini membuktikan adanya korelasi yang bermakna antara suhu tubuh istirahat dengan IMT,dengan nilai p sebesar 0,001. Koefisien korelasi didapatkan -0,878 menunjukkan hubungan tersebutberbanding terbalik. Suhu tubuh istirahat menandakan panas yang dihasilkan oleh proses metabolismebasal dan efek termik makanan. Proses metabolisme menggunakan lemak sebagai sumber energi panasdapat mengurangi kandungan lemak dalam tubuh. Kata kunci: suhu tubuh istirahat, IMT, metabolisme basal
PHARMACOTHERAPY ALOPECIA ANDROGENETIC IN MEN Riezky Januar Pramitha; I.G.N Sri Wiryawan; Ni Made Linawati
E-Jurnal Medika Udayana vol 2 no3 (2013):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.121 KB)

Abstract

Androgenetic alopecia is hair thinning due to the stimulation of hair follicles to androgens. Incidence in men is higher than in women, it is because men have a degree higher 5? reductase. This condition can cause both physical and psychological effects to the patient. Physical effects due to baldness cause hair loss as a function of protection against heat, cold and trauma. While psychologically can affect self-esteem and self-perception of the patient. Androgenetic alopecia in men influenced by the androgen dihydrotestosterone and genetic predisposition, although the physiology remains unclear. Modality in the management of androgenetic alopecia in males patients including pharmacotherapy, hair transplants and cosmetic approach. According to the Food and Drug Administration (FDA), there are two main drugs are safe and effective in the long term given to men with androgenetic alopecia are minoxidil and finasteride. Although the mechanism of action and route of administration are different, but both drugs have similar effectiveness in stopping the progression of androgenetic alopecia in men.

Page 45 of 196 | Total Record : 1956


Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13 No 07 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 9 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 8 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 6 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 5 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 4 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 3 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 2 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 1 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 12 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 11 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 10 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 9 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 8 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 7 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 6 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 5 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 4 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 3 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 2 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 1 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 6 (2022): Vol 11 No 06(2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 12 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 11 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 10 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 9 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 8 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 7 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 6 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 5 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 4 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 3 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 2 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 1 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 12 (2021): Vol 10 No 12(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 11 (2021): Vol 10 No 11(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 10 (2021): Vol 10 No 10(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 9 (2021): Vol 10 No 09(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 8 (2021): Vol 10 No 08(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 7 (2021): Vol 10 No 07(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 6 (2021): Vol 10 No 06(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 5 (2021): Vol 10 No 05(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 4 (2021): Vol 10 No 04(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 3 (2021): Vol 10 No 03(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 2 (2021): Vol 10 No 02(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 1 (2021): Vol 10 No 01(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 12 (2020): Vol 9 No 12(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 11 (2020): Vol 9 No 11(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 10 (2020): Vol 9 No 10(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 9 (2020): Vol 9 No 09(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 8 (2020): Vol 9 No 08(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 7 (2020): Vol 9 No 07(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 6 (2020): Vol 9 No 06(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 5 (2020): Vol 9 No 05(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 4 (2020): Vol 9 No 04(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 3 (2020): Vol 9 No 03(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 2 (2020): Vol 9 No 02(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 1 (2020): Vol 9 No 01(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 5 (2019): Vol 8 No 5 (2019): Vol 8 No 5 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 4 (2019): Vol 8 No 4 (2019): Vol 8 No 4 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 12 (2019): Vol 8 No 12 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 11 (2019): Vol 8 No 11 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 10 (2019): Vol 8 No 10 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 9 (2019): Vol 8 No 9 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 8 (2019): Vol 8 No 8 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 7 (2019): Vol 8 No 7 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 6 (2019): Vol 8 No 6 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 3 (2019): Vol 8 No 3 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 2 (2019): Vol 8 No 2 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 1 (2019): Vol 8 No 1 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 12 (2018): Vol 7 No 12 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 11 (2018): vol 7 no11 2018 E-jurnal medika udayana Vol 7 No 10 (2018): Vol 7 No 10 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 9 (2018): Vol 7 No 9 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 8 (2018): Vol 7 No 8 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 7 (2018): Vol 7 No 7 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 6 (2018): Vol 7 No 6 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 5 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 4 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 3 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 2 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 1 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 12 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 11 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 10 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 9 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 8 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 7 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 6 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 5 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 4 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 3 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 2 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 1 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 5, No 12 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5, No 11 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 10 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 9 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 8 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 7 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 6 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 5 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 4 (2016): E-jurnal medika udayana vol 5 no 3(2016):e-jurnal medika udayana vol 5 no 2(2016):e-jurnal medika udayana vol 5 no 1(2016):e-jurnal medika udayana vol 4 no 12(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 11(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 10(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 9(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 8(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 7(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 6(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 5(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 4(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 3 (2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 2 (2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 1 (2015):e-jurnal medika udayana vol 3 no 12(2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 11(2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 10(2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 9 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 8 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 7 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 6 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 5 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 4 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 3 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 2 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 1 (2014):e-jurnal medika udayana vol 2 no 12 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 11 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 10 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 9 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 8 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 7 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no6(2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no5(2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no4 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no3 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no2 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no1 (2013):e-jurnal medika udayana Vol 1 No 1 (2012): e-jurnal Medika Udayana More Issue