cover
Contact Name
I G. Made Krisna Erawan
Contact Email
krisnaerawan@unud.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Animal Hospital, Faculty of Veterinary Medecine Building, Udayana University, 2nd Floor, Jalan Raya Sesetan, Gang Markisa No 6, Banjar Gaduh, Sesetan, Denpasar, Bali, Indonesia
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Veteriner
Published by Universitas Udayana
ISSN : 14118327     EISSN : 24775665     DOI : https://doi.org/10.19087/jveteriner
Core Subject : Health,
Jurnal Veteriner memuat naskah ilmiah dalam bidang kedokteran hewan. Naskah dapat berupa: hasil penelitian, artikel ulas balik (review), dan laporan kasus. Naskah harus asli (belum pernah dipublikasikan) dan ditulis menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Naskah ilmiah yang telah diseminarkan dalam pertemuan ilmiah nasional dan internasional, hendaknya disertai dengan catatan kaki
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue "Vol 24 No 1 (2023)" : 18 Documents clear
Histopatologi Lumba-Lumba Fraser (Lagenodelphis hosei) yang Terdampar di Pandeglang, Banten Ratna Amalia Kurniasih; Nanda Radhitia Prasetiawan
Jurnal Veteriner Vol 24 No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.1.83

Abstract

Penanganan pascamati/postmortem dilakukan terhadap lumba-lumba fraser yang terdampar perairan Selat Sunda, Pandeglang, Banten. Semula lumba-lumba fraser ini ditemukan dalam kondisi hidup tetapi tidak dapat bertahan dan beberapa saat kemudian mati. Informasi mengenai kondisi lumba-lumba fraser yang terdampar di wilayah Indonesia masih sangat terbatas. Makalah ini mengulas gambaran patologi pada lumba-lumba fraser yang terdampar tunggal di Banten. Sampel organ berupa hati, paru-paru, ginjal, limpa, jantung, lambung, usus dan kulit diambil untuk pengamatan patologis makroskopis dan mikroskopis. Pada kulit lumba-lumba fraser teramati adanya lesi antropogenik. Organ hati mengalami hepatitis kronis disertai lipidosis, sedangkan ginjal mengalami kongesti, degenerasi, glomerulonefritis, fibrosis dan metaplasia. Pada paru-paru teramati mineralisasi, bronchiolitis, edema, kongesti dan hemoragi. Limpa mengalami perubahan warna dengan bercak-bercak kuning kecoklatan yang secara mikroskopis merupakan deposit pigmen. Kongesti, degenerasi dan myocarditis teramati pada jantung. Lambung terisi cairan berwarna coklat kehijauan tanpa padatan pakan maupun benda asing. Pada lambung teramati nodul parasit Pholeter gastrophilus dengan lesi spesifik gastritis fibrogranuloma dan pada usus mengalami kongesti, nekrosis dan enteritis tanpa disertai perubahan makroskopis. Lumba-lumba fraser tersebut dalam kondisi sakit sebelum terdampar dan mati.
Keanekaragaman Jenis Serangga Pengganggu Pada Pengolahan Ikan Asin di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan Andi Atikah Khairana; Susi Soviana; Supriyono Supriyono
Jurnal Veteriner Vol 24 No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.1.13

Abstract

Ikan asin merupakan produk olahan ikan dengan pemberian garam. Pengolahan ikan asin yang dilakukan secara tradisional dengan penjemuran di ruang terbuka menyebabkan banyak serangga yang hinggap dan menimbulkan kontaminasi serta kerusakan produk. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi keragaman jenis serangga pengganggu pada pengolahan ikan asin, mengukur kelimpahan nisbi dan dominasinya. Koleksi sampel dilakukan menggunakan tangguk serangga untuk serangga terbang, dan secara manual dilakukan pada permukaan ikan dengan menggunakan pinset atau kapas bertangkai yang telah dibasahi alkohol. Berdasarkan hasil koleksi dengan menggunakan tangguk serangga didapatkan 223 individu lalat. Serangga terbang yang ditemukan pada proses penjemuran ikan asin adalah 2 jenis lalat hijau (Calliphoridae) yaitu Chrysomya megacephala dan C. rufifacies, 2 jenis lalat rumah (Muscidae) yakni Musca domestica dan M. conducens serta satu jenis lalat daging Sarcophaga haemorrhoidalis. Selain itu, terdapat satu jenis tungau Lardolypus spp. Kelimpahan nisbi tertinggi adalah C. megacephala (51,12%) diikuti M. domestica (31,83%), M. conduncens (6,27%) C. rufifacies (5,85%), dan S. haemorrhoidalis (4,93%). Kata-kata kunci: ikan asin; serangga pengganggu, lalat.
Isolasi Bakteri Escherichia coli Resistan Antibiotik pada Ceker Ayam di Pasar Tradisional di Kecamatan Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat Yasminta Shakila Putri; Trianing Tyas Kusuma Anggaeni; Andry Pratama
Jurnal Veteriner Vol 24 No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.1.129

Abstract

Ceker ayam merupakan produk sampingan (by-product) dengan kandungan protein yang tinggi. Produk asal unggas ini sering diperjual-belikan di Pasar Tradisional yang rentan terhadap pencemaran bakteri resistan antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya potensi bakteri Escherichia coli resistan antibiotk dan mengetahui prevalensi resistansi antibiotik terhadap bakteri E. coli yang diisolasi pada ceker ayam di Pasar Tradisional Kecamatan Jatinangor, Sumedng, Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif eksploratif dengan pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Kriteria yang digunakan yaitu ceker ayam sebanyak 32 potong ceker dengan indikasi mengalami bumblefoot. Penelitian ini menggunakan media Eosin Methylene Blue Agar (EMBA), uji biokimia, dan uji kepekaan menggunakan lima jenis antibiotik. Dari 32 sampel ceker ayam dengan indikasi bumbelfoot yang diperdagangkan, diperoleh 24 sampel positif bakteri E. coli atau prevalensi 75%. Hasil uji resistansi antibiotik terhadap 24 isolat bakteri ceker ayam yang mengandung bakteri E. coli menunjukan hasil tetrasiklin (70,83%), ampisilin (66,67%), enrofloksasin (41,67%), siprofloksasin (29,17%), dan kolistin (4,17%). Hasil tersebut diikuti dengan adanya multi-drug resisaent sebesar 33,3%. Cemaran bakteri E. coli yang berasal dari ceker ayam yang dijual di pasar tradisional dapat dinyatakan menjadi salah-satu sumber terjadinya aantibiotik.
Description of Gastric Acidity (pH) with Simple Method in Lipopolysaccharide Induced Mice Anna Surgean Veterini; Bambang Wahjuprajitno; Nancy Margarita Rehatta; Heni Rachmawati; Subijanto Marto Soedarmo; I Ketut Sudiana; Widodo Jatim P; Annis Catur Adi; Rachmad Suhanda; Sarmanu Sarmanu; Widjiati Widjiati
Jurnal Veteriner Vol 24 No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.1.55

Abstract

The gastrointestinal acidity/pH can considerably influence the stability and absorption of oral medications. As a result, understanding the circumstances for drug delivery requires knowledge of gastrointestinal pH. Mice injected with lipopolysaccharide (LPS) are used in the most well-studied animal models of sepsis. However, information on gastrointestinal pH in sepsis mice is still insufficient. This study was conducted to identify gastric pH values in mice induced by lipopolysaccharide. The LPS was injected intraperitoneally as well as 0.9% NaCl as control groups. Treated groups (LPS) consisted of four groups and the control group (0.9% NaCl) consisted of four groups. Ten mice were used in each group. Gastric pH measurement was conducted using pH meter Lutron PH-201. Based on this study, the factors that influenced gastric pH in sepsis animal models were the LPS doses and the time after LPS injection. The results of gastric pH measurement in sepsis mice did not show a decrease in the pH compared to the normal conditions. The dose of LPS significantly influences the gastric pH change.
Perbandingan Respons Penyerentakan Ovulasi Berbasis Progesteron Intravaginal pada Sapi Dara Friesian Holstein dan Persilangannya dengan Belgian Blue Zultinur Muttaqin; Nurul Azizah; Anita Hafid; Anneke Anggraeni; Andi Baso Lompengeng Ishak
Jurnal Veteriner Vol 24 No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.1.94

Abstract

Protokol ovulation synchronization (ovsynch) dirancang untuk dapat menyerentakkan ovulasi, sehingga inseminasi buatan (IB) dapat dilakukan secara repat waktu/fixed time pada sapi dara tanpa diperlukan deteksi estrus. Namun, efektivitas dari ovsynch berbasis progesteron intravginal melalui pengamatan dinamika ovarium pada bangsa sapi yang berbeda, Sapi Friesian Holstein (FH) dan persilangannya dengan Belgian Blue (BBxFH), belum pernah dibandingkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan respons perlakuan ovsynch pada sapi dara FH dan BBxFH. Total delapan ekor sapi dara (4 FH dan 4 BBxFH) digunakan dalam penelitian ini dan diberikan protokol ovsynch: GnRH I + Cuemate® (7 hari) - PGF2? – 48 jam - GnRH II - 26 sampai 28 jam IB. Total ovulasi, diameter folikel preovulatori, diameter corpus luteum/CL, waktu ovulasi dan persentase kebuntingan dibandingkan antar bangsa sapi. Pengamatan ultrasonografi/ USG dilakukan pada h0, h7 sampai terjadi ovulasi, Ovulasi + tujuh hari setelah ovulasi (CL) dan 45 hari setelah IB (pemeriksaan kebuntingan). Total ovulasi, diameter folikel preovulatori dan diameter CL tidak berbeda nyata (P>0,05) antar bangsa sapi FH dan BBxFH (75% vs 100%; 13,6 ± 3,2 mm vs 14,9 ± 1,4 mm; dan 25,4 ± 2,5 mm vs 21,3 ± 1,6 mm, berturut-turut). Sebagai tambahan, persentase kebuntingan ditemukan lebih tinggi pada sapi BBxFH dibanding sapi FH pada diagnosis kebuntingan umur 45 hari (75% vs 50%). Protokol Ovsynch berbasis preparat progesteron efektif dalam menyerentakkan kejadian ovulasi, baik pada bangsa sapi FH dan BBxFH tanpa memengaruhi diameter folikel dominan dan CL yang dihasilkan.
Peramalan Produksi Telur Itik di Provinsi Aceh dengan Pendekatan Autoregressive Integrated Moving Average Fadhlan Zuhdi; Diana Nurjanah; Fawwa Rahly
Jurnal Veteriner Vol 24 No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.1.22

Abstract

Telur dari berbagai spesies unggas menjadi salah satu sumber nutrisi yang baik bagi manusia. Secara global, permintaan daging dan telur itik di negara-negara Asia dilaporkan mengalami peningkatan setiap tahunnya. Di Indonesia, tingginya permintaan telur itik juga terjadi, salah satunya terjadi di Provinsi Aceh yang diperkuat dengan berbagai kegiatan dan tradisi keagamaan. Namun demikian, produksi telur itik masih rendah dan berfluktuasi. Dalam tulisan ini dilakukan analisis dan peramalan dengan metode Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA) untuk mengetahui bagaimana kecenderungan produksi telur itik di Provinsi Aceh dalam lima tahun mendatang. Jenis penelitian ini adalah penelitian yang menggunakan data sekunder dengan desain penelitian deskriptif time series dalam kurun waktu 20 tahun (2000-2020) yang dihimpun dari Badan Pusat Statistika (BPS) melalui metode forecasting ARIMA. Berdasarkan hasil penelitian ini, terlihat bahwa akan terus terjadi penurunan kuantitas produksi telur itik di Provinsi Aceh setiap tahunnya dengan rata-rata penurunan sebesar 8.03 %. Namun demikian dimungkinkan bahwa produksi telur itik di Provinsi Aceh mengalami peningkatan karena memiliki nilai batas atas hingga 9.094 ton pada tahun 2025 atau memiliki selisih sebesar 1.361 ton dibandingkan tahun 2020. Berbagai faktor tunggal dan gabungan mungkin dapat berpengaruh terhadap penurunan produksi telur itik di Provinsi Aceh di antaranya faktor genetik, manajemen pemeliharaan dan manajemen kesehatan. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya-upaya yang komprehensif antara pihak terkait seperti Dinas Peternakan Provinsi Aceh, Kementerian Pertanian serta stakeholder lain yang terkait untuk mengetahui faktor risiko apakah yang paling berpengaruh serta merencanakan program pencegahan dan pengendalian yang baik dan berkesinambungan.
Production of Biogas As An Alternative Green Energy with Organic Wastes As The Main Raw Materials Yenni Ciawi; Ni Made Utami Dwipayanti; Anak Agung Gede Indraningrat; Yan Ramona
Jurnal Veteriner Vol 24 No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.1.138

Abstract

This research focused on the utilization of four different organic wastes, namely snake fruit, orange, cabbage, and tomato wastes, for the production of biogas. The main objectives were twofold: (1) to investigate the characteristics and biodegradability of these wastes, and (2) to evaluate their potential for anaerobic methane production. The experiment was conducted using 250 L bioreactors, with the four wastes serving as the primary raw materials. A starter culture of cattle dung was added, and the mixture was incubated for eight weeks. Regular sampling and analysis were carried out to assess water content, biodegradability, specific rate of volatile material reduction, and gas yield. The results showed that the water content of the four waste systems remained relatively consistent throughout the experiment. Biodegradability analysis revealed that all of the wastes were biodegradable, with varying levels of degradation ranging from 23.10 ± 2.89% to 59.84 ± 4.17%. Snake fruit waste exhibited the highest resistance to degradation, while tomato waste was the most easily degradable. Kinetic analysis indicated specific rates of volatile material reduction (µ) of 0.006 ± 0.0006 per day for the most resistant waste and 0.0170 ± 0.0021 per day for the least resistant waste. The incorporation of these four waste types in the biogas production process had a positive effect on gas formation. Therefore, these organic wastes hold promise as valuable resources for biogas production, addressing both the issue of waste accumulation and the energy crisis in an environmentally beneficial manner.
Black Cumin Seed Extract Decrease Motility and Shortening Mortality Time of Ascaridia galli Worm In Vitro Henni Vanda; Ahmad Khairi Abadi; Muhammad Hambal; Farida Athaillah; Wahyu Eka Sari; Frengki Frengki; Daniel Daniel
Jurnal Veteriner Vol 24 No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.1.63

Abstract

Ascaridiasis caused by roundworm Ascaridia galli is one of important diseases in poultry industry in Indonesia. This disease can affect economic losses in the form of death, growth retardation, reduced egg production as well as trigger for secondary viral or bacteria infections. Control of this nematode requires a good strategy to avoid the risk of anthelmintic resistance, one of which is the use of herbal medicine such as black cumin seed (Nigella sativa). This study was aimed to determine the level of motility and mortality time of A. galli after treated with black cumin seed extract in vitro. In this study, black cumin seed was extracted using ethanol 96%, and then diluted to 15% (P1), 25% (P2), and 45% (P3) concentration. Pyrantel pamoate preparation was used as positive control (C1), and carboxymethyl cellulose (CMC) solution as negative control (C0). Observations were carried out every 15 minutes until all the treatment worms died. The results revealed that the motility and mortality time of A. galli were significantly different in some treatment groups. The mortality time of group C0, C1 , P1, P2, and P3 were 2592, 801, 1557, 1350, and 612 minutes, respectively. 45% of black cumin seed extract had the ability to decrease worm motility, and it showed the shortest mortality time compared to other treatment groups. It can be concluded that ethanolic extract of black cumin seeds had potential anthelmintics property on A. galli worms
Gambaran Histopatologi Ginjal Mencit Model Sepsisyang Diberikan Efek Preventif Ciprofloxacin dan Diinduksi Escherichia coli Lisa Savitri; Elfred Rinaldo Kasimo; Datin An Nisa Sukmawati; Syntia Tanu Juwita; Ester Lianawati Antoro; Ida Septika Wulansari; Stanislaus Rachel Pringgadani; Akbar Nur Kholis
Jurnal Veteriner Vol 24 No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.1.101

Abstract

Bakteri Escherichia coli adalah salah satu bakteri yang paling sering dikaitkan dengan peningkatan insiden sepsis, yang merupakan kondisi klinis yang parah dan sering terjadi di unit perawatan intensif dengan tingkat kematian bervariasi antara 35% dan 50% pada syok septik. Respons inang/host terhadap infeksi menyebabkan kegagalan organ berfungsi pada pasien dengan sepsis. Salah satu organ yang terkena dampak parah adalah ginjal, dengan sepsis menjadi penyebab utama cedera ginjal akut pada pasien sakit kritis. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif untuk mengungkap perbandingan gambaran histopatologi ginjal mencit (Mus musculus) model sepsis yang diinduksi E. coli yang diberikan efek preventif ciprofloxacin. Mencit yang telah diadaptasikan diberikan perlakuan selama 14 hari dengan variasi sebagai berikut: 1) mencit normal (N), 2) mencit diinduksi dengan E. coli (dengan pemberian preventif aquades) (K-), 3) mencit diinduksi dengan E. coli (dengan pemberian preventif ciprofloxacin) (K+). Struktur histopatologi kelompok N tidak menunjukkan adanya kerusakan pada tubulus ginjal. Pada kelompok perlakuan K- ditemukan adanya perdarahan inter-tubuler yang ditandai dengan perdarahan berlebih di ruang antar tubulus. Selain itu juga ditemukan perdarahan intra-tubuler disertai terjadinya piknosis, serta karioreksis. Pada kelompok perlakuan K+ ditemukan piknosis, kongesti, kariolisis, karioreksis dan nekrosis, tetapi perdarahan intra-tubuler tidak ditemukan. Penelitian ini menguatkan temuan dari penelitian hewan dan manusia baru-baru ini yang menunjukkan bahwa sepsis dengan cedera ginjal akut tidak dapat dijelaskan hanya dengan perubahan morfologis.
Hematologi dan Biokimia Darah Babi yang Diberi Pakan Limbah Ubi Jalar Ungu I Gede Mahardika; Luh Dewi Anggreni; Nyoman Sadra Dharmawan
Jurnal Veteriner Vol 24 No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.1.32

Abstract

Babi adalah spesies hewan yang mudah beradaptasi dan berkembang pesat sehingga banyak dipelihara dan dikembangkan. Kebanyakan peternakan babi di Bali dilakukan secara sederhana dan tradisional. Kondisi ini perlu didukung, diantaranya dengan pemanfaatan pakan yang bersumber dari limbah tanaman. Salah satu limbah tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan alternatif adalah ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L). Tujuan penelitian ini untuk memperoleh data hematologi dan biokimia darah babi yang diberi pakan bersumber limbah ubi jalar ungu. Parameter hematologi yang diperiksa meliputi eritrosit, hemoglobin, hematokrit, indeks eritrosit, leukosit dan diferensial leukosit. Pemeriksaan dilakukan menggunakan mesin otomatis Hematology Analyzer Sysmex XS-800i. Pemeriksaan biokimia darah meliputi protein, kolesterol, trigliserida, dan glukosa, menggunakan alat Photometer 5010 V5+. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai hematologi dan biokimia darah babi pada perlakuan A yaitu kelompok babi kontrol yang diberi pakan standar, tanpa limbah ubi jalar ungu; perlakuan B yaitu kelompok babi yang diberi pakan standar dengan tambahan limbah ubi jalar ungu 7,5%; dan perlakuan C yaitu kelompok babi yang diberi pakan standar dengan tambahan limbah ubi jalar ungu 15%, semuanya masih berada pada rentang rujukan nilai normal. Hal ini membuktikan bahwa pemberian pakan limbah ubi jalar ungu 7,5% dan 15% tidak berpengaruh terhadap parameter hematologi dan biokimia darah yang diukur.

Page 1 of 2 | Total Record : 18


Filter by Year

2023 2023