cover
Contact Name
AHMAD SYAUQI
Contact Email
syauqiberbakti@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.empati@uinjkt.ac.id
Editorial Address
Jl. Ir. H. Juanda No. 95, (Gedung Fak. Dakwah dan Ilmu Komunikasi Lt. III), Cempaka Putih, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten 1541
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
EMPATI : JURNAL ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
ISSN : 23014261     EISSN : 26216418     DOI : 10.15408/empati
Core Subject : Social,
Empati: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial is a peer-reviewed journal on social welfare and social work, offering access to a better understanding of social welfare in Indonesia and developments through the publication of articles and research reports. EMPATI emphasizes on social welfare and social work practice in Indonesia, and intended to communicate original researches and current issues on various subjects such as on human service organizations, children, elderly, disability, economy, policy, health, gender, age, class, mental health, etc. The Journal provides an interdisciplinary forum to which academics and professionals working in the fields of social welfare.
Arjuna Subject : -
Articles 304 Documents
KEMISKINAN DAN MALNUTRISI PADA ANAK BALITA DALAM KELUARGA NELAYAN DI WILAYAH PESISIR KOTA SERANG Patty, Sitti Rukmana; Nugroho, Fentiny
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 8 No. 2 (2019): Empati Edisi Desember 2019
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v8i2.14510

Abstract

Abstract. Malnutrition is the most common problem in coastal areas among other areas in the city of Serang. The focus of this study is discussing the malnutrition of children under-fives in fishing families and their causes as well as the role of community assistant for families of fishermen who have children under-five with malnutrition status, where the majority of them are fishing laborers living in poverty. This research uses a qualitative approach with a descriptive type. Collecting data employs in-depth interviews, observation and documentation studies. The results of this research show that fishermen’s family income is low, their level of education and understanding of nutrition are low, so they are unable to meet their nutritional needs ideally. Cultural factors and local habits greatly affect their attitudes in meeting the needs of daily life, in terms of nutrition they believe that fish and eggs consumed by children under-five will adversely affect their health and skin. In addition there is still an understanding that fathers must be given the highest priority in any case, including in terms of eating compared to other family members. The findings show that they live in  dirty living environment with poor sanitation and inadequate clean water sources. Furthermore, this research study finds that the community assistants, including Social Worker, have not played their role adequately. The most striking obstacles faced are economic factors, accessibility and knowledge as well as lack of awareness from families in overcoming the problem of malnutrition in children under five in fishing families Abstrak. Masalah malnutrisi terbanyak terdapat di wilayah pesisir di antara wilayah lain di kota Serang. Fokus dari penelitian ini membahas tentang malnutrisi balita dalam keluarga nelayan dan penyebabnya serta peran pendamping bagi keluarga nelayan yang memiliki balita dengan status malnutrisi, di mana mayoritas mereka adalah buruh nelayan yang hidup dalam kemiskinan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Pengumpulan datanya menggunakan wawancara mendalam, observasi dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan keluarga nelayan rendah, tingkat pendidikan dan pemahaman akan gizi kurang sehingga mereka tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan gizi secara ideal. Faktor budaya dan kebiasaan setempat sangat mempengaruhi sikap mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari hari, dalam hal gizi mereka berkeyakinan bahwa ikan dan telur apabila dikonsumsi oleh balita akan berdampak buruk pada kesehatan dan kulit mereka. Selain itu, masih ada pemahaman bahwa ayah harus diutamakan dalam hal apapun termasuk dalam hal makan dibandingkan anggota keluarga lainnya. Berdasarkan penelitian, terlihat lingkungan tempat tinggal mereka sangat kotor dengan sanitasi yang buruk serta sumber air bersih yang cukup sulit. Lebih jauh terungkap bahwa peran pendamping masyarakat, termasuk Pekerja Sosial, masih relatif belum cukup memadai. Hambatan yang dihadapi yang paling menonjol adalah faktor ekonomi, aksesibilitas dan pengetahuan gizi serta kurangnya kesadaran dari keluarga dalam mengatasi masalah malnutrisi pada anak balita dalam keluarga nelayan.  
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB PERILAKU BULLYING SISWA DI SMK TRIGUNA UTAMA CIPUTAT TANGERANG SELATAN Suhendar, Risha Desiana
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 8 No. 2 (2019): Empati Edisi Desember 2019
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v8i2.14684

Abstract

 Abstract. Bullying is the act of using power to hurt someone or a group of people both verbally, physically, and psychologically so that the victim feels depressed and helpless. The act of bullying is not something new among students, bullying is synonymous with the age of teenagers who are still in school. There are many factors that cause student bullying in school. The purpose of this research is to find out the extent of the influence of family, mass media and peers on bullying actions of students at Triguna Utama Ciputat Vocational School in South Tangerang. In this study, researchers used a qualitative approach with a type of descriptive research. While the data collection technique is done through interviews, observation and documentation. The results show that family factors are the cause of bullying behavior of students in schools, families that give less attention and supervision to their children, families are not harmonious, often quarrel, lack of communication with children. then the mass media factor is also the cause of student bullying, students often play online games or watch television which contains elements of violence. And peer factors, because students spend a lot of time in school. In addition, adolescence is a period where children are looking for self-identity, so there is a sense of wanting to be recognized and trying to become a ruler who is feared by other students.Abstrak. Bullying adalah tindakan penggunaan kekuasaan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok orang baik secara verbal, fisik, maupun psikologis sehingga korban merasa tertekan dan tak berdaya. Tindakan bullying bukan sesuatu yang baru di kalangan peserta didik, bullying identik dengan usia remaja yang masih sekolah. Ada banyak faktor penyebab tindakan bullying siswa di sekolah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sejauh mana pengaruh dari faktor keluarga, media massa dan teman sebaya terhadap tindakan bullying siswa di sekolah SMK Triguna Utama Ciputat Tangerang Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sedangkan teknik pengumpulan datanya dilakukan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasilnya menunjukan bahwa faktor keluarga menjadi penyebab perilaku bullying siswa di sekolah, keluarga yang kurang memberikan perhatian dan pengawasan pada anak-anaknya, keluarga tidak harmonis, sering bertengkar, kurangnya komunikasi dengan anak. Kemudian faktor media massa juga menjadi penyebab tindakan bullying siswa, siswa sering memainkan game online atau menonton televisi yang di dalam nya mengandung unsur kekerasan. Serta faktor teman sebaya, karena siswa banyak menghabiskan waktu di sekolah. Selain itu juga masa remaja merupakan masa di mana anak sedang mencari identitas diri, sehingga ada rasa ingin diakui dan berusaha menjadi penguasa yang ditakuti oleh siswa-siswa lainnya.   
EVALUASI PROSES PROGRAM REHABILITASI LOW VISION YAYASAN LAYAK JAKARTA DALAM UPAYA PENCEGAHAN KEBUTAAN PADA ANAK Aji, Habib Rachman; Zaky, Ahmad
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 8 No. 1 (2019): Empati Edisi Juni 2019
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v8i1.14687

Abstract

Abstract. Visual impairment is a problem experienced by many children in developing countries. Uncorrected refraction disorders, cataracts, glaucoma, and visual disturbances that have been experienced since childhood are some of the things that cause a person experiencing visual disturbances. This study aims to find out the description and explanation of the implementation of low vision rehabilitation carried out by the Low Vision Layak Foundation Jakarta. This study uses a qualitative approach to the type of descriptive research. While data collection techniques are carried out through observation, interviews and documentation. For the selection of informants in this study using purposive sampling technique, the sample is taken intentionally. The results of this study indicate that the attitude shown by the officer has made the client feel confident and the services provided are right on target. In terms of facilities and infrastructure have met the standards of the institution but there is one room that is considered too small and requires another room for counseling. It would be nice to have a review conducted by the Layak Foundation related to these obstacles. And until now there are some children who are rarely evaluated. In the future, client evaluations should be carried out routinely. Abstrak. Gangguan penglihatan merupakan permasalahan yang banyak dialami oleh anak-anak di negara berkembang. Kelainan refraksi tidak terkoreksi, katarak, glaucoma, dan gangguan penglihatan yang dialami sejak masa kanak-kanak merupakan beberapa hal yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan penglihatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan penjelasan mengenai pelaksanaan rehabilitasi low vision yang dijalankan oleh Low Vision Yayasan Layak Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sementara teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Untuk pemilihan informan pada penelitian ini menggunakan tekhnik purposive sampling, yaitu sampel yang dimbil dengan sengaja. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sikap yang ditunjukkan oleh petugas telah membuat klien merasa yakin dan layanan yang diberikan sudah tepat pada sasaran. Dari segi sarana dan prasarana telah memenuhi standar lembaga akan tetapi ada ada satu ruangan yang dianggap terlalu kecil serta membutuhkan satu ruangan lain untuk konseling. Alangkah baiknya ada peninjauan kembali yang dilakukan oleh pihak Yayasan Layak terkait kendala tersebut. Dan sampai saat ini ada beberapa anak yang jarang di evaluasi. Untuk kedepannya mungkin evaluasi klien harus rutin untuk dilakukan. 
DUKUNGAN SOSIAL GERAKAN UNTUK KESEJAHTERAAN TUNARUNGU INDONESIA (GERKATIN) TERHADAP PENYANDANG TULI Jannati, Maulidina Sekar
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 8 No. 1 (2019): Empati Edisi Juni 2019
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v8i1.14688

Abstract

Abstract. A person with a deaf person is someone who has a disorder or damage to the ear organs. They prefer to be called Deaf (Tuli) than Deaf (Tunarungu). As a language used daily, Deaf friends get accessibility in fulfilling their rights and support from un-deaf friends and deaf friends. In this study, the authors used a qualitative research method with interviews, documentation studies and observations to study and describe the forms of social support provided by the Movement for Welfare Deaf Indonesia (GERKATIN) to Deaf friends and also examine the influence of Deaf friends who have joined this organization. The results showed that GERKATIN’s social support included: (1) social support, namely in the aspect of informative support such as the presence of Sign Language Interpreters (JBI), and social media that helped Deaf friends access information; (2) emotional support, such as sharing among members; (3) instrumental support, such as BISINDO learning places as socialization access to the community; (4) award support, such as JBI on television or in formal events; and (5) group support, such as sharing feelings among Deaf friends. Direct influences such as intensive support and communication provided by fellow members, indirect influences, namely the existence of a place to share stories, and interactive influences such as GERKATIN have an influence on Deaf friends to make this organization a place for their welfare such as avoiding discrimination that has many negative impacts. Abstrak. Orang dengan penyandang tuli adalah seseorang yang mengalami gangguan atau kerusakan pada organ-organ telinganya. Mereka lebih senang dipanggil dengan Tuli daripada Tunarungu. Sebagai bahasa yang digunakan sehari-hari membuat teman Tuli mendapatkan aksessibilitas dalam memenuhi hak-hak mereka dan dukungan dari teman-teman dengar maupun teman-teman Tuli.  Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan wawancara, studi dokumentasi dan observasi untuk mengetahui dan mendeskripsikan bentuk dukungan sosial yang diberikan oleh Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (GERKATIN) kepada teman Tuli. Juga meneliti tentang pengaruh teman Tuli yang telah bergabung di organisasi ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial GERKATIN meliputi: (1) dukungan sosial, yaitu pada aspek dukungan informatif seperti dengan adanya Juru Bahasa Isyarat (JBI), dan  sosial media yang membantu teman Tuli mengakses informasi; (2) dukungan emosional, seperti teman sharing antar sesama anggota; (3) dukungan instrumental, seperti tempat-tempat belajar BISINDO sebagai akses sosialisasi kepada masyarakat; (4) dukungan penghargaan, seperti JBI di televisi atau di acara-acara formal; dan (5) dukungan kelompok, seperti berbagi rasa antar sesama teman Tuli. Pengaruh langsung seperti dukungan dan komunikasi intensif yang diberikan oleh sesama anggota, pengaruh tidak langsung, yaitu adanya tempat berbagi kisah, dan pengaruh interaktif seperti GERKATIN mempunyai pengaruh kepada teman Tuli untuk menjadikan organisasi ini sebagai wadah kesejahteraan mereka seperti terhindarnya dari diskriminasi yang mempunyai banyak dampak negatif. 
PENGARUH KUALITAS PELAYANAN PROGRAM PANGAN BERSUBSIDI TERHADAP KEPUASAN MASYARAKAT DI KELURAHAN PONDOK LABU JAKARTA SELATAN Farieda, Puteri Nur
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 8 No. 1 (2019): Empati Edisi Juni 2019
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v8i1.14690

Abstract

Abstract. The service of Subsidized Food Program is a program that has been set by the Government in 2017. The program aims to aid reducing the poverty and can also support increasing the nutritional intake for DKI Jakarta residents who are under the Poverty Line. Communities certainly want a service that is in line with their expectations in order to achieve their own satisfaction within the program and vice versa. This research is located in the Pondok Labu Subdistrict area of South Jakarta, in RPTRA Pinang Pola and RPTRA Pola Idaman because the region, specifically in South Jakarta, has total sales of Subsidized Food as many as 4238 food. The purpose of this study is to find out how much the quality of service affects community satisfaction. This study uses a quantitative approach with a sample of 100 respondents. For the technique of processing the data and statistical analysis uses IBM SPSS Statistics 22 software. The results of this study can be obtained based on the significance value of 0,000 where the number is smaller than the value of 0.05, which means that the service quality variable has a significant influence on the community satisfaction variable. As for based on the value of R Square (R2) of 59.6%, which means that the service quality variable affects the community satisfaction variable while the remaining value of 40.4% is influenced or explained by other variables outside the research variable. This research is expected to be used as input for all parties to prioritize the quality of good service to produce good community satisfaction. Abstraks. Layanan Program Makanan Bersubsidi adalah program yang ditetapkan oleh Pemerintah pada tahun 2017. Program ini bertujuan untuk membantu mengurangi kemiskinan dan juga dapat mendukung peningkatan asupan gizi bagi penduduk DKI Jakarta yang berada di bawah Garis Kemiskinan. Masyarakat tentu menginginkan layanan yang sesuai dengan harapan mereka untuk mencapai kepuasan mereka sendiri dalam program dan sebaliknya. Penelitian ini berlokasi di wilayah Kecamatan Pondok Labu Jakarta Selatan, di RPTRA Pinang Pola dan RPTRA Pola Idaman karena wilayah tersebut, khususnya di Jakarta Selatan, memiliki total penjualan Makanan Bersubsidi sebanyak 4238 makanan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar kualitas layanan mempengaruhi kepuasan masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan sampel 100 responden. Untuk teknik pengolahan data dan analisis statistik menggunakan perangkat lunak IBM SPSS Statistics 22. Hasil penelitian ini dapat diperoleh berdasarkan nilai signifikansi 0,000 dimana angkanya lebih kecil dari nilai 0,05, yang berarti bahwa variabel kualitas layanan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel kepuasan masyarakat. Adapun berdasarkan nilai R Square (R2) sebesar 59,6%, yang berarti bahwa variabel kualitas layanan mempengaruhi variabel kepuasan masyarakat sedangkan nilai sisanya sebesar 40,4% dipengaruhi atau dijelaskan oleh variabel lain di luar variabel penelitian. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan bagi semua pihak untuk memprioritaskan kualitas pelayanan yang baik untuk menghasilkan kepuasan masyarakat yang baik.    
MODAL SOSIAL DALAM PENGEMBANGAN URBAN FARMING DI KAMPUNG HIDROPONIK KELURAHAN PENGADEGAN, JAKARTA SELATAN Subangkit, Arief; Yanti, Dini Fajar; Kusnadi, Lidya Maria; Sonuari, Mochammad Ikbal
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 8 No. 2 (2019): Empati Edisi Desember 2019
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v8i2.14691

Abstract

Abstract. The purpose of this research is to describe the form of social capital in the development of urban farming in the hydroponic village of Pangadegan, South Jakarta, DKI Jakarta. Data collection is done through interviews, documentation and observation. Data is processed and analyzed through a three-stage data encoding technique: open encryption, axial encryption and selective encryption. Arguments are formulated through analysis using Putnam’s social capital theory which focuses on networks, norms, and beliefs. The result is that social capital in developing urban farming in Pengadegan Village can be described in 3 ways, namely ties of trust, social institutions, and social networks. Relating to the bond of trust can be seen from the community including Gapoktan and the Village Government have the same passion and commitment to greening the environment and building community cohesiveness. Besides that, from social institutions, it can be seen that Gapoktan has its own written rules, both Gapoktan Gang B and Gang C. The written rules contain the duties and functions of each member. Social networks can be seen by showing that there are two Gapoktan who have different principles, Gapoktan in Gang C chooses to independently develop Hidroponik village, Gapoktan in Gang B prefers to develop the widest network both for the government and the private sector.  Abstrak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan bentuk modal sosial dalam pengembangan urban farming di kampung hidroponik Kelurahan Pangadegan Kota Jakarta Selatan DKI Jakarta. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara, dokumentasi dan observasi. Data diolah dan dianalisis melalui teknik tiga tahap penyandian data: penyandian terbuka, penyandian aksial dan penyandian selektif. Argumen dirumuskan melalui analisis dengan menggunakan teori modal sosial dari Putnam yang memfokuskan pada jaringan, norma, dan kepercayaan. Dari hasil analisis peneliti ditemukan bahwa modal sosial dalam pengembangan urban farming di Kelurahan Pengadegan dapat digambarkan dalam 3 hal yaitu ikatan kepercayaan, pranata sosial, dan jaringan sosial. Berkaitan dengan ikatan kepercayaan dapat dilihat dari masyarakat termasuk Gapoktan dan Pemerintah Kelurahan memiliki semangat dan komitmen yang sama yakni untuk menghijaukan lingkungan dan membangun kohesifitas masyarakat. Selain itu dari pranata sosial dapat dilihat Gapoktan memiliki aturan tertulis masing-masing, baik Gapoktan Gang B maupun Gang C. Aturan tertulis tersebut berisi tugas dan fungsi masing-masing anggota. Jaringan sosial dapat dilihat dengan menunjukkan bahwa terdapat dua Gapoktan yang memiliki prinsip yang berbeda, Gapoktan di Gang C memilih untuk secara mandiri mengembangkan Kampung Hidroponik, Gapoktan di Gang B lebih memilih untuk mengembangkan jaringan seluas-luasnya baik kepada pemerintah maupun swasta. 
HUBUNGAN RELIGIUSITAS, DUKUNGAN SOSIAL DAN TINGKAT STRES TERHADAP PERILAKU COPING ORANG TUA ANAK PENYANDANG DISABILITAS UNIT PELAYANAN DISABILITAS (UPD) KOTA TANGERANG SELATAN Novian, Muhammad Nurman
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 8 No. 1 (2019): Empati Edisi Juni 2019
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v8i1.14697

Abstract

Abstract. “Coping” behavior towards families of children with disabilities is suspected by a variety of parental conditions, such as the spiritual parent in dealing with social problems, parental stress levels and social support will trigger the direction of “coping” behavior of parents with children with disabilities. This study will look at the influence of spiritual variables, social support and stress levels in influencing the “coping” behavior of parents with children with disabilities who receive UPD Tangsel assistance. This research uses a quantitative approach. Based on the techniques in data collection, this research is a survey research. Survey research was carried out through questionnaires and formal interviews to collect information, background, behavior, beliefs and attitudes of people. Data processing was carried out using SPSS 25 software. At the value of the level of religiosity is smaller than α (0.005). So, 0,000 <0.005, then Ho is rejected and H1 is accepted. Thus, there is a relationship between the level of religiosity with the level of coping. At the level of social support, the value is smaller than α (0.005). So, 0,000 <0.005, then Ho is rejected and H1 is accepted. In the stress level variable, the value is smaller than α (0.005). So, 0,000 <0.005, then Ho is rejected and H1 is accepted. The conclusion is that there is a relationship between the level of religiosity, the level of social support and the level of stress with the level of coping of parents of children with disabilities in the South Tangerang City Disability Service Unit (UPD). Abstrak.  Perilaku coping terhadap keluarga anak penyandang disabilitas ditengarai oleh berbagai kondisi orang tua, seperti spiritual orangtua dalam menghadapi permasalahan sosialnya, tingkat stres orangtua dan dukungan sosialnya akan memicu arah perilaku coping orangtua dengan anak penyandang disabilitas. Penelitian ini akan melihat pengaruh dari variabel spiritual, dukungan sosial dan tingkat stres dalam mempengaruhi perilaku coping orangtua dengan anak penyandang disabilitas penerima bantuan UPD Tangsel. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, berdasarkan teknik dalam pengambilan datanya maka penelitian ini merupakan penelitian survei. Penelitian survei dilakukan melalui kuesioner tertulis serta wawancara formal guna mengumpulkan informasi, latar belakang, perilaku, kepercayaan dan sikap orang, pengolahan data dilakukan menggunakan software SPSS 25. Pada nilai tingkat religiusitas lebih kecil dari α (0,005). Sehingga 0,000 < 0,005, maka Ho ditolak dan H1 diterima. Dengan demikian terdapat hubungan tingkat religiusitas dengan tingkat coping. Pada tingkat dukungan sosial nilainya lebih kecil dari α (0,005). Sehingga 0,000 < 0,005, maka Ho ditolak dan H1 diterima. Pada variabel tingkat stress nilainya lebih kecil dari α (0,005). Sehingga 0,000 < 0,005, maka Ho ditolak dan H1 diterima. Kesimpulannya yaitu terdapat hubungan antara tingkat religiusitas, tingkat dukungan sosial dan tingkat stress dengan tingkat coping orang tua anak penyandang disabilitas Unit Pelayanan Disabilitas (UPD) Kota Tangerang Selatan. 
IMPLEMENTASI PELAYANAN KUNJUNGAN BERBASIS INFORMATION TECHNOLOGY (IT) DI LAPAS PEREMPUAN KELAS IIA DENPASAR NGATIQOH, SITI
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 9 No. 1 (2020): Empati Edisi Juni 2020
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v9i1.14895

Abstract

Abstract. This research focuses on the implementation of Information Technology (IT) based visitation services at Women Prison Class IIA Denpasar and the constraints that inhibit Information Technology (IT) based visitation services. The research method used is descriptive with qualitative approach. Data collection techniques used are by observation, interview, bibliography and documentation study. After conducting research at Women Prison Class IIA Denpasar, the authors obtained the result that Implementation of IT-based visit services at Women Prison Class IIA Denpasar has been implemented in accordance with the procedures, the faster service, the visitors are given a comfortable place, the openness was given in accordance with the portion, so that although there are still shortcomings but can be minimized with honest, fast, and good service. The process of visiting service has been more effective, especially to overcome the illegal fees that have been happening to accelerate the service process, with already integrated with IT services provided can be run with more orderly. Behind the many changes that are certainly considered better by the community especially those who receive the visit service, but there are still obstacles that still hamper the implementation of IT-based visit services such as the internet network which is sometimes not smooth, lack of visitor knowledge about the use of technology and lack of facilities and infrastructure. Abstrak. Penelitian ini fokus pada pelaksanaan pelayanan kunjungan berbasis Teknologi Informasi (IT) di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Denpasar dan kendala yang menjadi penghambat pelayanan kunjungan berbasis Teknologi Informasi (IT). Adapun metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan observasi, wawancara, kepustakaan dan studi dokumentasi. Setelah melakukan penelitian di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Denpasar, penulis memperoleh hasil bahwa implementasi pelayanan kunjungan yang berbasis IT di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Denpasar sudah diterapkan sesuai dengan prosedurnya, pelayanan berlangsung cepat, pengunjung diberikan tempat yang nyaman, keterbukaan pun diberikan sesuai dengan porsinya, sehingga walaupun masih terdapat kekurangan namun dapat diminimalisir dengan pelayanan yang jujur, cepat, dan baik. Proses pelayanan kunjungan sudah lebih efektif terutama mengatasi pungutan liar yang selama ini terjadi untuk mempercepat proses pelayanan, dengan telah teritegrasikan dengan IT pelayanan yang diberikan sudah dapat dijalankan dengan lebih tertib. Di balik banyaknya perubahan yang tentunya dianggap lebih baik oleh masyarakat khususnya yang menerima pelayanan kunjungan tersebut, namun masih terdapat kendala yang masih menghambat pelaksanaan pelayanan kunjungan yang berbasis IT seperti jaringan internet yang terkadang tidak lancar, kurangnya pengetahuan pengunjung tentang penggunaan teknologi dan kurangnya sarana dan prasarana.
META ANALISIS PEMENUHAN HAK ASIMILASI NARAPIDANA EFRILIAWATI, TRIE
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 9 No. 1 (2020): Empati Edisi Juni 2020
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v9i1.14897

Abstract

Abstract. From the research that has been conducted by the cadets of Akademi Ilmu Pemasyarakatan (AKIP) for ten years from 2007 to 2017, the authors found that the problems in implementing assimilation in prisons tend not to change. Whereas the regulations on assimilation have been amended twice in the last ten years. The theory that I use in this research is organizational theory. Through the theory, the author wants to link the reintegration of prisoners as the goal of the correctional system with policies governing the fulfillment of prisoners' assimilation rights. From the many problems faced by prisons in fulfilling the assimilation rights of prisoners, it can be concluded that these problems basically arise from three aspects: 1) organization, 2) human resources, and 3) society. Prisons will continue to face these problems as in the past ten years if the Government does not immediately take the right policy. Abstrak. Dari penelitian yang telah dilakukan oleh taruna Akademi Ilmu Pemasyarakatan (AKIP) selama sepuluh tahun sejak 2007 hingga 2017, penulis menemukan bahwa permasalahan dalam pelaksanaan asimilasi di lapas cenderung tidak berubah. Padahal peraturan tentang pemberian asimilasi itu sudah diubah sebanyak dua kali dalam sepuluh tahun terakhir. Teori yang penulis gunakan dalam penelitian ini ialah teori organisasi. Melalui teori ini, penulis ingin mengaitkan reintegrasi narapidana sebagai tujuan sistem pemasyarakatan dengan kebijakan yang mengatur tentang pelaksanaan pemenuhan hak asimilasi narapidana. Dari sekian banyak permasalahan yang dihadapi lapas dalam melaksanakan pemenuhan hak asimilasi narapidana, dapat disimpulkan bahwa masalah-masalah tersebut pada dasarnya timbul dari tiga aspek yaitu 1) organisasi, 2) sumber daya manusia, dan 3) masyarakat. Adapun masalah-masalah ini akan terus dihadapi lapas seperti sepuluh tahun belakangan jika Pemerintah tidak segera mengambil kebijakan yang tepat.
KEPEMIMPINAN BADAN KOORDINASI KEGIATAN KESEJAHTERAAN SOSIAL VERSUS KONSEP WEWENANG MAX WEBER SUGIYANTO, SUGIYANTO; GIAWA, ANALIUS; MUSOLI, MUSOLI
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 9 No. 1 (2020): Empati Edisi Juni 2020
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v9i1.15066

Abstract

Abstrak. The coordinating body of social welfare activities (BK3S), a non-governmental organization that has the task and responsibility of coordinating the implementation of social welfare efforts organized by social welfare institutions (LKS) for the community, especially gives services to people with social welfare problems. BK3S DIY social actions as government partners cq the social office has the authority to regulate, provide recommendations for licensing, advocate for organizations and strengthen the existence of LKS. The practice of organizing, coordinating, advocating and strengthening organizational governance is analyzed through Max Weber's authority theory. The results of the analysis of social actions in the practice of regulating, coordinating, advocating and engaging in strengthening institutions with Max Weber's theory of authority obtained organizational identity so that it looks strangely different from BK3S or other social organizations. Abstrak. Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) adalah lembaga non pemerintah. Tugas dan tanggungjawabnya adalah melakukan koordinasi penyelenggaraan berbagai usaha kesejahteraan sosial oleh Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) untuk masyarakat terutama memberi pelayanan kepada penyandang masalah kesejahteraan sosial. Tindakan sosial BK3S DIY sebagai mitra pemerintah cq dinas sosial mempunyai kewenangan mengatur, memberi rekomendasi perizinan, mengadvokasi organisasi dan memperkuat keberadaan LKS. Praktik mengatur, mengoordinasikan, mengadvokasi dan memperkuat tata kelola organisasi ini dianalisis melalui teori kewenangan Max Weber. Hasil analisis tindakan sosial dalam praktik pengaturan, koordinasi, advokasi dan keterlibatan memperkuat kelembagaan dengan teori kewenangan Max Weber diperoleh identitas organisasi sehingga tampak kekhasan dan pembeda dengan BK3S atau organisasi sosial lainnya.

Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 1 (2025): Empati Edisi Juni 2025 Vol 13, No 2 (2024): Empati Edisi Desember 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): Empati Edisi Desember 2024 Vol 13, No 1 (2024): Empati Edisi Juni 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): Empati Edisi Juni 2024 Vol. 12 No. 2 (2023): Empati Edisi Desember 2023 Vol 12, No 2 (2023): Empati Edisi Desember 2023 Vol 12, No 1 (2023): Empati Edisi Juni 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): Empati Edisi Juni 2023 Vol 11, No 2 (2022): Empati Edisi Desember 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): Empati Edisi Desember 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): Empati Edisi Juni 2022 Vol 11, No 1 (2022): Empati Edisi Juni 2022 Vol 10, No 2 (2021): Empati Edisi Desember 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): Empati Edisi Desember 2021 Vol 10, No 1 (2021): Empati Edisi Juni 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): Empati Edisi Juni 2021 Vol 9, No 2 (2020): Empati Edisi Desember 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): Empati Edisi Desember 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): Empati Edisi Juni 2020 Vol 9, No 1 (2020): Empati Edisi Juni 2020 Vol 8, No 2 (2019): Empati Edisi Desember 2019 Vol. 8 No. 2 (2019): Empati Edisi Desember 2019 Vol 8, No 1 (2019): Empati Edisi Juni 2019 Vol. 8 No. 1 (2019): Empati Edisi Juni 2019 Vol 7, No 2 (2018): Empati Edisi Desember 2018 Vol. 7 No. 2 (2018): Empati Edisi Desember 2018 Vol 7, No 1 (2018): Empati Edisi Juni 2018 Vol. 7 No. 1 (2018): Empati Edisi Juni 2018 Vol 6, No 1 (2017): Empati Edisi Juni 2017 Vol. 6 No. 1 (2017): Empati Edisi Juni 2017 Vol. 5 No. 1 (2016): Empati Edisi Juni 2016 Vol 5, No 1 (2016): Empati Edisi Juni 2016 Vol 4, No 1 (2015): Empati Edisi Juni 2015 Vol. 4 No. 1 (2015): Empati Edisi Juni 2015 Vol. 3 No. 1 (2014): Empati Edisi Juni 2014 Vol 3, No 1 (2014): Empati Edisi Juni 2014 Vol. 2 No. 1 (2013): Empati Edisi Juni 2013 Vol 2, No 1 (2013): Empati Edisi Juni 2013 Vol 1, No 1 (2012): Empati Edisi Juni 2012 Vol. 1 No. 1 (2012): Empati Edisi Juni 2012 More Issue