cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 3 (2015)" : 14 Documents clear
Pertambahan Berat Badan Pasca Penutupan Patent Duktus Arteriosus secara Transkateter Dewi Hartaty; Noormanto Noormanto; Ekawaty Lutfia Haksari
Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.3.2015.180-4

Abstract

Latar belakang. Patent duktus arteriosus (PDA) merupakan salah satu penyakit jantung bawaan asianotik yang paling banyakdijumpai pada anak. PDA dapat memengaruhi pertumbuhan anak dan menyebabkan malnutrisi pada anak dan malnutrisi yangterjadi merupakan faktor risiko mortalitas dan morbiditas pada anak.Tujuan. Mengetahui pertambahan berat badan sebelum dan sesudah dilakukan tindakan penutupan duktus pada anak dengan PDAsecara transkateter dan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pertambahan berat badan setelah dilakukanpenutupan PDA secara transkateter.Metode. Penelitian observasional pre dan post test design dengan menggunakan data rekam medis. Anak dengan PDA yangdilakukan penutupan secara transkateter. Z-score berat badan menurut umur dinilai sebelum dan pada saat 1, 3, 6, dan 12 bulansetelah penutupan dan dilakukan analisis menggunakan repeated ANOVA test. Faktor-faktor yang memengaruhi pertambahanberat badan 3 bulan setelah penutupan dianalisis menggunakan chi square dan regressi logistik.Hasil. Terdapat 43 anak usia <5 tahun dengan PDA diikutkan dalam penelitian dari Januari 2005 sampai Juni 2011. Sebelumpenutupan 76,7% (33) anak dengan z-score berat badan/umur < -2 SD. Didapatkan perbaikan rerata z-score berat badan/umursebelum dan saat 1, 3, 6, dan 12 bulan setelah penutupan (-2,63 vs -2,41, -2,14, -1,92 and -1,56; p<0,05). Jenis kelamin, umur,z-score berat badan/umur sebelum penutupan, berat lahir, hipertensi pulmonal, gagal jantung, pekerjaan orang tua, pendidikanibu dan penghasilan orang tua tidak berhubungan dengan pertambahan berat badan 3 bulan setelah penutupan.Kesimpulan. Penutupan defek secara transkateter pada anak usia <5 tahun dengan PDA akan memberikan peningkatan z-scoreberat badan berdasarkan umur.
Dampak Jangka Panjang Terapi Hormonal Dibandingkan Pembedahan pada Undesensus Testis Windhi Kresnawati; Aman Bhakti Pulungan; Bambang Tridjaja
Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.3.2015.229-33

Abstract

Latar belakang. Pemberian terapi hormonal pada undesensus testis (UDT) masih direkomendasikan di Indonesia sedangkanConsensus Report of Nordic Countries menyatakan bahwa terapi lini pertama untuk undesensus testis adalah operasi dan terapihormonal tidak direkomendasikan lagi.Tujuan. Mengevaluasi dampak samping terapi hormonal dan pembedahan pada undesensus testis berdasarkan bukti ilmiah.Metode. Penelusuran pustaka database elektronik : Pubmed, Cochrane, Medline, Pediatrics.Hasil. Terdapat 11 penelitian mengenai dampak terapi pada UDT. Lima penelitian prospektif melakukan pemantauan sampaiusia pasien 3 tahun sedangkan 6 penelitian lainnya merupakan studi potong lintang pada pria dewasa dengan riwayat undesensustestis. Volume testis dan kualitas sperma lebih rendah pada pasien yang memiliki riwayat terapi hormonal dibandingkan denganpasien yang menjalani pembedahan saja. Risiko infertilitas meningkat (OR 4,7) pada pasien yang menjalani terapi hormonal.Risiko keganasan meningkat jika pembedahan dilakukan lebih dari usia 10 tahun.Kesimpulan. Terapi hormonal pada UDT dapat meningkatkan risiko infertilitas di kemudian hari oleh karena itu terapi hormonalsebaiknya tidak dianjurkan. Pasien dengan UDT berisiko menderita keganasan testis di usia dewasa dan orkiopleksi dini (sebelumusia 12 bulan) terbukti menurunkan risiko tersebut.
Hubungan Kadar Vitamin D dan Cathelicidin Plasma dengan Kejadian Infeksi Tuberkulosis pada Anak dengan Kontak BTA Positif Lola Lusita; Finny Fitri Yani; Netti Suharti
Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.3.2015.200-4

Abstract

Latar belakang. Vitamin D dan cathelicidin berperan penting dalam sistem imun alamiah terhadap kuman tuberkulosis. VitaminD memediasi sintesis cathelicidin, melalui ekspresi vitamin D nuclear reseptor (VDR) sehingga cathelicidin dapat membunuhkuman mycobacterium tuberculosis.Tujuan. Melihat hubungan kadar vitamin D dan cathelicidin dengan kejadian infeksi tuberkulosis pada anak yang kontak denganpenderita tuberkulosis dewasa BTA positif.Metode. Penelitian cross sectional dengan sampel dibedakan antara terinfeksi tuberkulosis dengan yang tidak terinfeksi tuberkulosis.Sampel dilakukan pengukuran kadar vitamin D, yaitu kadar 25(OH)D dan cathelicidin plasma. Analisis statistik denganmenggunakan chi square, T-test, Mann-Whitney U, dan uji korelasi Spearman’s.Hasil. Anak terinfeksi tuberkulosis dengan gizi kurang 58%. Sumber kontak dengan BTA positif tiga anak yang terinfeksituberkulosis 54%. Tidak terdapat defisiensi vitamin D. Rerata kadar vitamin D anak terinfeksi dan tidak terinfeksi tuberkulosisberturut-turut 24,93±7,42 dan 24,66±6,23 ng/mL (p=0,868). Kadar cathelicidin rendah terdapat pada 62,5% anak yang terinfeksituberkulosis. Pada anak yang terinfeksi dan tidak terinfeksi tuberkulosis berturut-turut 149,76±160,76 dan 190,74±184,95 ng/mL (p=0,139). Tidak terdapat hubungan kadar vitamin D dan cathelicidin plasma pada anak dengan kontak BTA positif (p=0,135dan r=-0,183)Kesimpulan. Kadar cathelicidin pada anak yang tidak terinfeksi tuberkulosis cenderung lebih tinggi dibandingkan anak yang tidakterinfeksi, walaupun secara statistik tidak terdapat perbedaan yang bermakna.
Pemantauan Kerusakan Sendi pada Anak Hemofilia Berat: Peran Pemeriksaan Muskuloskeletal (HJHS), Ultrasonografi Sendi dan Kadar C-Terminal Telopeptide of Type II Collagen Urin Teny Tjitra Sari; Novie Amelia Chozie; Djajadiman Gatot
Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.725 KB) | DOI: 10.14238/sp17.3.2015.234-40

Abstract

Hemartrosis dan artropati hemofilik merupakan morbiditas utama hemofilia. Patogenesis artropati hemofilik masih belum diketahuidengan jelas, diduga meliputi proses degenerasi dan inflamasi. Deteksi dini tahap awal artropati hemofilik sebelum timbul gejalaklinis sangat diperlukan untuk mencegah progresivitas kerusakan sendi. Pemeriksaan muskuloskeletal dengan metode skoringHemophilia Joint Health Score (HJHS) sensitif untuk mendeteksi artropati hemofilik tahap dini. Ultrasonografi sendi memilikisensitivitas yang baik dalam mendeteksi artropati tahap dini, berbiaya lebih murah dan lebih praktis dibanding MRI. Peran petandabiologis kerusakan sendi seperti kadar C-terminal Telopeptide of Type II Collagen (CTX-II) urin sebagai penunjang diagnostikartropati tahap dini dan evaluasi keberhasilan terapi masih memerlukan penelitian lebih lanjut sebelum dapat digunakan dalampraktek sehari-hari. Tinjauan pustaka ini membahas patofisiologi dan pemantauan artropati hemofilik secara klinis, radiologisdan pemeriksaan petanda biologis kerusakan sendi.
Hubungan antara Kadar Zink Plasma dengan Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas (GPP/H) Sir Panggung T.S; Retno Sutomo; Amalia Setyati
Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.3.2015.205-9

Abstract

Latar belakang. Gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (GPP/H) atau attention deficit/ hyperactivity disorder (ADHD)merupakan gangguan neuro-behavioral yang paling sering pada anak dengan dampak besar bagi individu dan masyarakat. PrevalensiGPP/H di Indonesia 0,4% - 26,2%. Penelitian di berbagai negara menunjukkan keterlibatan zink dalam etiologi dan terapi GPP/H.Belum didapatkan data mengenai hubungan antara kadar zink plasma dengan GPP/H pada anak di Indonesia.Tujuan. Mengetahui hubungan antara kadar zink plasma dengan GPP/H pada anak.Metode. Penelitian kasus kontrol dilaksanakan di RSUP Dr. Sardjito dan Pusat Pengkajian dan Pengamatan Tumbuh KembangAnak (P3TKA) Yogyakarta pada Desember 2010-Maret 2011. Subyek adalah adalah 69 anak berusia 3-18 tahun, 34 anakdengan GPP/H dan 35 kontrol. Kadar zink plasma diperiksa dari sampel darah vena menggunakan metode atomic absorbancespectrophotometry (AAS). Analisis statisik menggunakan analisis deskriptif dan analisis bivariat dengan uji Chi-square terhadapperbedaan proporsi defisiensi zink antara kelompok kasus dan kontrol.Hasil. Proporsi defisiensi zink pada anak yang menderita GPP/H lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak menderita GPP/H,dengan nilai p=0,028, OR sebesar 8,8 (IK95% antara 1,02-76,07).Kesimpulan. Proporsi defisiensi zink pada anak yang menderita GPP/H lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak menderitaGPP/H, zink kemungkinan mempunyai peran dalam kejadian GPP/H.
Perbandingan Fungsi Fagositosis Neutrofil pada Sindrom Nefrotik Resisten Steroid dengan Sindrom Nefrotik Sensitif Steroid Saiful Mujab; Wistiani Wistiani
Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.872 KB) | DOI: 10.14238/sp17.3.2015.210-5

Abstract

Latar belakang. Pasien sindrom nefrotik (SN) mempunyai kelainan fungsi sistem kekebalan tubuh karena kurang protein opsonindan reseptornya. Anak dengan sindrom nefrotik resisten steroid (SNRS) mempunyai prognosis yang lebih buruk dibandingkandengan sindrom nefrotik sensitif steroid (SNSS). Salah satu gangguan sistem imun yang pernah diteliti antara lain fungsi fagositosisneutrofil, tetapi hasilnya tidak konsisten.Tujuan. Membandingkan fungsi fagositosis neutrofil pada anak penderita SNRS dengan SNSS.Metode. Desain cross sectional dengan 2 kelompok, yaitu SNRS dan SNSS. Penelitian dilakukan di RS Dr. Kariadi Semarang padabulan Mei 2013 dengan pengambilan sampel secara consecutive sampling. Fungsi fagositosis neutrofil diukur dengan metode latexyang dinyatakan sebagai indeks fagositosis. Analisis statistik dikerjakan dengan Mann Whitney test.Hasil. Didapatkan 18 anak dengan SN yang terdiri atas 10 anak SNSS, serta 8 anak SNRS. Rerata indeks fagositosis neutrofildari kelompok SNSS lebih rendah daripada anak sehat, tetapi perbedaan ini tidak bermakna secara statistik. Rerata indeks fagositosisneutrofil dari kelompok SNRS bermakna secara statistik lebih rendah daripada anak sehat, tetapi tidak ada perbedaan yang bermaknasecara statistik antara kelompok SNRS dibandingkan dengan kelompok SNSS.Kesimpulan. Tidak ada perbedaan antara fungsi fagositosis neutrofil pada anak penderita SNRS dibandingkan dengan SNSS.
Perbedaan Tingkat Kemandirian Anak Usia Prasekolah yang Mengikuti Program Sekolah Full Day Dibandingkan dengan Half Day Dina Rismawati; Mei Neni Sitaresmi; Ratni Indrawanti
Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.378 KB) | DOI: 10.14238/sp17.3.2015.185-9

Abstract

Latar belakang. Tujuan orangtua memasukkan anak pada program sekolah full day adalah untuk memenuhi kebutuhanperkembangan anak khususnya kemandirian. Hubungan antara tingkat kemandirian anak usia prasekolah dengan keikutsertaandalam program sekolah full day masih terdapat kontroversi.Tujuan. Mengetahui perbedaan tingkat kemandirian anak usia prasekolah yang mengikuti program sekolah full day dibandingkandengan half day.Metode. Rancangan penelitian potong lintang dengan besar sampel 116 anak usia 36 sampai 60 bulan pada 7 kelompok bermaindi Yogyakarta. Data dianalisis dengan menggunakan independent t test dan regresi linier.Hasil. Skor kemandirian anak usia prasekolah yang mengikuti program sekolah full day lebih tinggi dibandingkan dengan halfday 115,67+15,90 vs 109,98+18,28 (IK95%: -0,61-11,99; p=0,07). Skor kemandirian anak yang mendapat stimulasi adekuatlebih tinggi dibandingkan dengan stimulasi tidak adekuat 116,59+15,78 vs 104,11+17,71, (IK95%: 5,92-19,04; p<0,001). Skorkemandirian anak dengan ayah berpendidikan tamat perguruan tinggi lebih tinggi dibandingkan dengan berpendidikan menengah114,40 +17,35 vs 104,28+14,64, (IK95%: 1,50-18,74; p=0,022).Kesimpulan. Tidak terdapat perbedaan bermakna tingkat kemandirian anak usia prasekolah yang mengikuti program sekolah fullday dibandingkan half day. Anak dengan stimulasi adekuat dan ayah berpendidikan tamat perguruan tinggi mempunyai tingkatkemandirian lebih tinggi dibandingkan anak dengan stimulasi tidak adekuat dan ayah berpendidikan menengah.
Faktor yang Memengaruhi Kadar NT-proBNP pada Anak dengan PJB Pirau Kiri ke Kanan yang Mengalami Gagal Jantung Domiko Widyanto; Agus Priyatno; Moedrik Tamam
Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.3.2015.216-21

Abstract

Latar belakang. Amino terminal pro-brain natriuretic peptide (NT-proBNP) merupakan neurohormon jantung yang dikeluarkansebagai respon terhadap beban tekanan dan volume yang berlebihan pada gagal jantung. Secara teori, faktor yang memengaruhikadar NT-proBNP di antaranya anemia, frekuensi ISPA sering, dan diameter defek besar.Tujuan. Membuktikan bahwa anemia, frekuensi ISPA sering, dan diameter defek besar sebagai faktor yang dapat memengaruhikadar NT-proBNP pada anak dengan PJB pirau kiri ke kanan yang mengalami gagal jantung.Metode. Penelitian kasus kontrol, subjek 50 anak PJB pirau kiri ke kanan yang mengalami gagal jantung di RSUP dr. Kariadi, terdiri atas 25anak dengan kadar NT-proBNP di atas cut off point sebagai kasus dan 25 anak di bawah cut off point sebagai kontrol. Kadar NT-proBNPdianalisis dengan metode ELISA, sedangkan uji Mann-Whitney untuk perbedaan kadar NT-proBNP masing-masing kelompok.Hasil. Kelompok kasus didapatkan rentang usia 2-91 bulan (median 25 bulan), 16 (53,3%) perempuan, 21 (84%) diameter defekbesar, dan 19 (76%) malnutrisi. Pada kelompok kontrol didapatkan rentang usia 2-121 bulan (median 35 bulan), 17 (65,4%)perempuan, 13(52%) diameter defek besar, dan 14(56%) malnutrisi. Frekuensi ISPA sering dan diameter defek merupakan faktorrisiko peningkatan kadar NT-proBNP (OR=3,43; p=0,041; IK95%: 1,26-11,47) dan (OR=4,846; p=0,015; IK95%: 1,287-18,25).Anemia bukan merupakan faktor risiko (OR=1,0; p=1,00; IK95%:0,25-3,99).Kesimpulan. Frekuensi ISPA sering dan diameter defek besar merupakan faktor risiko peningkatan kadar NT-proBNP pada anakdengan PJB pirau kiri ke kanan yang mengalami gagal jantung, sedangkan anemia bukan merupakan suatu faktor risiko.
Risiko Gangguan Perkembangan Neurologis antara Bayi Kurang Bulan Lanjut dan Bayi Cukup Bulan Sesuai Usia Kehamilan Ike Dwi Wahyuni; Nelly Amalia Risan; Dwi Prasetyo
Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.316 KB) | DOI: 10.14238/sp17.3.2015.190-4

Abstract

Latar belakang. Bayi kurang bulan lanjut mempunyai fisiologis, metabolik, dan imunologi imatur, serta merupakan periodetercepat pertumbuhan dan perkembangan otak. Pada awal kehidupan, BKBL rentan mengalami komplikasi dan mempunyairisiko gangguan perkembangan neurologis (GPN).Tujuan. Menentukan risiko GPN antara BKBL dan BCB sesuai usia kehamilan pada usia 3–6 bulan.Metode. Penelitian dilaksanakan periode Oktober–Desember 2014 di RS Dr. Hasan Sadikin Bandung. Subjek penelitian adalahbayi BKBL usia 3–6 bulan dengan BCB sebagai kontrol yang memenuhi kriteria inklusi. Risiko GPN diperiksa menggunakanBayley infant neurodevelopmental screener (BINS) dan dianalisis menggunakan uji chi-square dan rasio odds.Hasil. Terdapat 36 BKBL dan 36 BCB, dengan usia rerata 5,58 bulan pada BKBL dan 5,26 pada BCB. Perawakan pendek lebihbanyak pada BKBL dibanding BCB. Sebagian besar subjek pada kedua kelompok tidak mendapatkan ASI eksklusif. Pendidikanterbanyak orangtua adalah SMP dan SMA dengan sebagian besar orangtua bekerja, tetapi mempunyai pendapatan/bulan yangrendah. Risiko GPN pada kelompok BKBL 22 dan BCB 10 bayi (p=0,004) dengan kekuatan hubungan risiko GPN pada BKBL4,086 kali dibanding dengan BCB (RO=4,086; IK95%:1,518–11,000).Kesimpulan. Bayi kurang bulan lanjut sesuai usia kehamilan dan sesuai usia koreksi mempunyai risiko gangguan perkembanganneurologis 4,086 kali lebih besar dibanding dengan bayi cukup bulan.
Perubahan Strong Ion Difference Pasca Resusitasi Cairan antara Ringer Laktat dan Normal Salin pada Anak dengan Syok Yuli Amuntiarini; Silvia Triratna; rfanuddin rfanuddin
Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.3.2015.222-8

Abstract

Latar belakang. Pemberian cairan resusitasi pada syok akan memengaruhi status asam basa tubuh melalui pengaruhnya terhadapstrong ion difference (SID) berdasarkan teori Stewart. Normal salin (NS) dan ringer laktat sering digunakan sebagai cairan resusitasinamun terdapat kekhawatiran bahwa penggunaan NS dapat menyebabkan asidosis hiperkloremik dan masalah ini belum banyakditeliti pada anak.Tujuan. Membandingkan perubahan SID dan pH plasma setelah pemberian cairan RL dan NS pada syok.Metode. Dilakukan uji klinik terbuka acak terkontrol di UPIA RSMH bulan Juli 2014 sampai Maret 2015. Randomisasi blokdilakukan pada 44 subjek penelitian rentang usia 2 bulan sampai 14 tahun.Hasil. Terdapat 23 subjek pada kelompok RL dan 21 pada kelompok NS. Pada kelompok RL, rerata SID dan pH setelah resusitasitidak mengalami perubahan bermakna (SID 32,96±5,26 menjadi 32,32±6,34 mEq/L, p=0,089; pH 7,40 menjadi 7,42 denganp=0,346). Pada kelompok NS (SID 34,44±8,1 menjadi 32,4±7,24 mEq/L, p=0,354; pH 7,290 menjadi 7,345 dengan p=0,434).Antara kelompok RL dan NS, tidak ditemukan perbedaan bermakna dalam rerata selisih SID (􀀧SID RL -1,22 mEq/L dan NS-1,97 mEq/L dengan p=0,177) dan pH (􀀧pH RL 0,013±0,088 dan NS 0,032±0,11 dengan p=0,534). Ditemukan penurunanbermakna kadar kalium pada kelompok NS setelah resusitasi (4,32±1,05 menjadi 3,73 ± 1,06 mEq/L, p=0,032).Kesimpulan. Resusitasi cairan dengan RL dan NS memberikan perubahan SID dan pH yang tidak berbeda pada kasus syok anakdi unit perawatan intensif anak.

Page 1 of 2 | Total Record : 14


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue