cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Respons Awal Obat Antiepilepsi Monoterapi pada Pasien Epilepsi Baru Nurcahaya Sinaga; Dwi Putro Widodo; Setyo Handryastuti
Sari Pediatri Vol 22, No 5 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.5.2021.270-6

Abstract

Latar belakang. Epilepsi merupakan satu dari penyakit neurologi yang sering menyebabkan disabilitas dan kematian. Prediktor terbaik dalam menentukan remisi epilepsi adalah respons awal terhadap OAE. Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi respons awal terapi diantaranya etiologi epilepsi, jumlah kejang sebelum pengobatan, bentuk bangkitan kejang, status neurologi, usia awitan dan gambaran elektroensefalografi.Tujuan. Mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi respons awal OAE pada pasien epilepsi baru pertama kali.Metode. Penelitian merupakan penelitian kohort prospektif dengan melihat respons awal OAE pada anak penderita epilepsi baru selama 3 bulan yang berobat ke poliklinik rawat jalan RSUP dr Cipto Mangunkusumo sejak Januari 2017 sampai Agustus 2017. Faktor-faktor risiko dianalisis secara bivariat dan multivariat.Hasil. Insiden epilepsi baru adalah 21,9%. Karakteristik pasien epilepsi baru yang mendapat OAE monoterapi sebagian besar berumur ≥1 tahun. Etiologi struktural, awitan kejang ≥1 tahun, jumlah kejang sebelum pengobatan ≥10 ditemukan lebih banyak. Pasien epilepsi tanpa kelainan neurologi ditemukan lebih sedikit dibanding dengan kelainan neurologi. Sebagian besar pasien adalah dengan bangkitan kejang umum dan dengan gambaran kelainan EEG. Respons awal yang baik pada pasien epilepsi baru terhadap OAE monoterapi adalah 77,2% dalam 3 bulan pengobatan. Faktor yang berhubungan dengan respon awal baik adalah etiologi epilepsi, jumlah kejang, kelainan neurologi, bangkitan kejang, dan gambaran EEG. Sementara faktor risiko respons awal dalam 3 bulan pemberian OAE monoterapi adalah jumlah kejang dan gambaran EEG.Kesimpulan. Faktor yang berperan terhadap respons awal terapi OAE monoterapi adalah jumlah kejang dan gambaran EEG. 
Peran Kadar Feritin Serum dan Vitamin D Terhadap Keterlambatan Usia Tulang pada Anak Penyandang Talasemia Beta Mayor Karla Shinta Napitu; Ponpon Idjradinata; Tetty Yuniati
Sari Pediatri Vol 22, No 4 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.4.2020.224-9

Abstract

Latar belakang. Anak penyandang talasemia beta mayor sering mengalami komplikasi kelainan tulang berupa gangguan maturasi tulang. Iron overload akibat transfusi darah berulang diketahui berkontribusi atas gangguan ini. Kadar vitamin D yang rendah juga sering ditemukan pada pasien talasemia beta mayor.Tujuan. Untuk mengetahui peranan kadar feritin serum dan vitamin D terhadap keterlambatan usia tulang.Metode. Observasi analitik korelasional rancangan potong lintang, pada anak usia 3-18 tahun dengan talasemia beta mayor. Dilakukan pemeriksaan kadar feritin serum, vitamin D, dan usia tulang. Analisis multi variabel menggunakan regresi linier ganda. Hasil uji bermakna bila nilai p<0,05.Hasil. Subjek sebanyak 50 anak. Rerata kadar feritin serum dan vitamin D yaitu 3092 ng/mL dan 26 ng/mL. Usia tulang defisit pada 39 (78%) subjek. Persamaan regresi ganda defisit usia tulang (bulan) yaitu 32,872-25,675*log (kadar vitamin D) + 0,007*kadar feritin serum sedangkan regresi multipel linier yaitu 51%. Kadar feritin serum diatas 2610 ng/mL dapat memprediksi defisit usia tulang > 12 bulan.Kesimpulan. Korelasi positif kuat antara kadar feritin serum terhadap keterlambatan usia tulang (p<0,001 ; r=0,7)  dan korelasi negatif lemah antara vitamin D terhadap keterlambatan usia tulang (p=0,02 ; r=-0,3). Peranan feritin dan vitamin D terhadap keterlambatan usia tulang, yaitu sebesar 51%.
Hubungan antara Perawakan Pendek dengan Masalah Psikososial pada Anak Usia Sekolah Dasar Salsabila Yasmine Dyahputri; Rini Sekartini
Sari Pediatri Vol 22, No 3 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.3.2020.146-52

Abstract

Latar belakang. Perawakan pendek merupakan masalah pertumbuhan yang banyak ditemukan di negara berkembang. Di Indonesia, prevalensi anak usia sekolah dasar dengan perawakan pendek mencapai 23,6% pada tahun 2018. Perawakan pendek pada anak dikaitkan masalah psikososial yang diduga disebabkan oleh perundungan, stigmatisasi, dan isolasi sosial yang dihadapi anak. Walaupun demikian, penelitian sebelumnya yang membahas topik ini memberi hasil yang bervariasi dan jumlahnya belum adekuat.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan antara perawakan pendek dengan masalah psikososial pada anak usia sekolah dasar. Metode. Desain penelitian potong lintang digunakan pada anak usia sekolah dasar di SDN 01 Kampung Melayu. Penelitian dilakukan dengan membandingkan kelompok tinggi badan anak dengan hasil skrining masalah psikososial menggunakan kuesioner PSC-17, yang menilai tiga subskala masalah perilaku (internalisasi, eksternalisasi, dan perhatian). Hasil. Prevalensi anak berperawakan pendek di SDN 01 Kampung Melayu mencapai 15,28%. Prevalensi anak dengan masalah psikososial adalah 18,12% dan prevalensi anak berperawakan pendek dengan masalah psikososial adalah 22,73%. Hasil analisis perawakan pendek terhadap masalah psikososial pada anak menunjukkan hubungan yang tidak bermakna secara statistik, baik secara umum (p=0,268), subskala internalisasi (p=0,532), eksternalisasi (p=0,400), perhatian (p = 0,414), dan skor total PSC-17 (p= 0,614). Kesimpulan. Tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara perawakan pendek dengan masalah psikososial pada anak usia sekolah dasar.
Peran Bifidobakteria dalam Pencegahan dan Pengobatan Alergi serta Gangguan Sistem Imun pada Anak Ketut Dewi Kumara Wati; Budi Setiabudiawan
Sari Pediatri Vol 22, No 6 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.6.2021.394-400

Abstract

Bifidobakteria berperan dalam dinamika maturasi sistem imun dan memiliki timeline yang terhubung dengan timelinesistem imun. Bifidobakteria membantu pembentukan sistem imun nonspesifik maupun spesifik sedangkan sistem imun membantu pembentukan komposisi bifidobakteria. Bifidobakteria dapat berperan dalam sistem imun karena memiliki banyak enzim yang menunjang kolonisasi, mampu memelihara homeostasis mukosa intestinal, bekerjasama dengan mukus dan SIgA memerangkap patogen, membantu pembentukan SIgA dan IgM, serta meningkatkan survival koloni Treg. Secara klinis, penggunaan bifidobakterium tunggal maupun kombinasi bermanfaat untuk pencegahan dan pengobatan kasus alergi dan gangguan sistem imun. Pemberian bifidobakteria pada dosis 109 colony forming unit satu hingga dua bulan sebelum kelahiran dilanjutkan pemberian pada bayi selama 6 bulan menurunkan kejadian dermatitis atopik. Pemberian bifidobakteria pada bayi prematur memperbaiki profil kolonisasi bifidobakteria, menurunkan kejadian,dan keparahan nerotizing enterocolitis. Pemberian bifidobakteria memperbaiki kualitas hidup rinitis alergi musiman dan asma intermiten, menurunkan skor dermatitis (SCORAD) dan penggunaan steroid pada dermatitis atopik, serta membantu menurunkan berulangnya infeksi saluran nafas pada anak. 
Hubungan antara Red Cell Distribution Width dan Kejadian Sepsis Neonatorum Bayi Prematur Raymond Warouw; Susi Susanah; Tetty Yuniati
Sari Pediatri Vol 22, No 2 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.2.2020.104-8

Abstract

Latar belakang. Sepsis neonatorum merupakan penyebab utama kematian bayi. Perjalanan awal neonatus sepsis sulit dikenali sehingga diperlukan penilaian klinis dan laboratorium menyeluruh. Red cell distribution width (RDW) sebagai parameter karakteristik eritrosit telah digunakan pada pasien dewasa, anak, dan neonatus cukup bulan sepsis. Belum banyak studi dilakukan pada bayi prematur. Tujuan. Mengetahui hubungan antara RDW dan kejadian sepsis neonatorum bayi prematur.Metode. Penelitian observasional potong lintang pada bayi prematur gestasi 28-<37 minggu dengan risiko infeksi yang dirawat di Bagian Neonatologi Rumah Sakit Hasan Sadikin bulan Desember 2018. Subjek memenuhi kriteria inklusi dilakukan penilaian kejadian sepsis dengan skor modifikasi Tollner dan pemeriksaan RDW. Analisis data menggunakan uji chi-kuadrat dan uji Kruskal-Wallis.Hasil. Dari 39 subjek ditemukan 7 bayi (17,9%) sepsis neonatorum, 11 bayi (28,2%) diduga sepsis dan 21 bayi (53,8%) tidak sepsis. Seluruh subjek memiliki rerata berat badan lahir 1732 gram dan median gestasi 34 minggu. Bayi prematur sepsis memiliki median RDW lebih besar (17,8%) dibandingkan bayi diduga (16,5%) dan tidak sepsis (16,7%). RDW normal didapati pada 55% bayi tidak sepsis, 33% bayi diduga sepsis dan 12% bayi sepsis. Terdapat hubungan bermakna antara peningkatan RDW dan kejadian sepsis neonatorum dengan p=0,006 (p<0,05). Kesimpulan. Peningkatan RDW berhubungan dengan neonatus prematur sepsis.
Peran Bifidobacterium dalam Perkembangan Otak dan Tumbuh Kembang Anak Ahmad Suryawan; Rini Sekartini
Sari Pediatri Vol 22, No 5 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.5.2021.325-30

Abstract

Pengetahuan tentang peran spesifik mikrobiota saluran cerna dalam perkembangan otak dan tumbuh kembang anak semakin menarik perhatian peneliti pada beberapa tahun terakhir. Hal tersebut disebabkan karena terakumulasinya bukti dari berbagai studi tentang komunikasi dua arah antara saluran cerna dan otak, yang digambarkan sebagai teori gut-brain axis. Salah satu mikrobiota yang mendapat perhatian khusus dalam hal ini adalah Bifidobacterium, yang berpotensi mempunyai peran khusus dalam perkembangan otak anak usia dini, Kolonisasi Bifidobacterium dalam saluran cerna paling dominan pada usia awal setelah lahir, yang terjadi paralel dengan periode kritis perkembangan sirkuit otak anak. Aplikasi klinis teori gut-brain axis lebih banyak terbukti pada studi eksperimental. Studi pada subyek anak mayoritas merupakan studi observasional dengan hasil yang tidak konsisten. Pemberian Bifidobacterium nampak menjanjikan sebagai regimen untuk terapi gejala gangguan tumbuh kembang. Namun bukti berbasis uji klinis masih sangat terbatas, dan menunjukkan hasil yang heterogen. Masih diperlukan bukti berbasis uji klinis acak-terkontrol yang dirancang dengan baik untuk memvalidasi efektivitas probiotik untuk terapi gangguan tumbuh kembang dalam hal identifikasi strain, dosis, dan waktu pengobatan yang sesuai dan standar. Peningkatan pemahaman tentang keilmuan gut-brain axis diharapkan membuka kemungkinan dimasa depan akan muncul terapi berbasis probiotik yang mempunyai efek terhadap berbagai kondisi otak dan tumbuh kembang anak
Peran IL-1 β pada Sepsis dan Gangguan Ginjal Akut Bayi Lahir Prematur Fiva Aprilia Kadi; Tetty Yuniati; Yunia Sribudiani; Dedi Rachmadi
Sari Pediatri Vol 22, No 4 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.4.2020.208-12

Abstract

Latar belakang. Interleukin-1β berperan dalam kejadian infeksi/inflamasi pada bayi prematur yang dapat menyebabkan gejala klinis berat. Imaturitas organ dapat menyebabkan kejadian inflamasi yang dapat merangsang pembentukan sitokin, salah satunya Interleukin-1β. Belum ada penelitian yang menghubungkan marker tersebut terhadap sepsis dan gangguan ginjal akut pada bayi prematur.Tujuan. Melihat peran Interleukin-1β pada kejadian sepsis dan gangguan ginjal akut bayi prematur. Metode. Studi analitik komparatif kohort pada bayi lahir prematur usia kehamilan ≤36 minggu dan berat lahir <2000gram lahir di RS dr. Hasan Sadikin Bandung. Diperiksakan kadar serum Interleukin-1β usia 24 jam lahir dan serum creatinin usia 24 dan 72 jam.Hasil. Nilai cut-off point Interleukin-1β serum bayi prematur sepsis sebesar 8,67 pg/dL, dengan odd ratio (OR) 6,56 (95%CI: 2,50-17,19), dan pada bayi prematur dengn gangguan ginjal akut 2,35 pg/dL dengan odd ratio (OR) 7,2 (95%CI: 4,58-18,20). Keduanya mempunyai nilai sensitifitas dan spesifitas cukup tinggi. Kesimpulan. Kadar interleukin-1β serum dapat dipertimbangkan menjadi salah satu marker untuk memprediksi kejadian sepsis dan gangguan ginjal akut pada bayi prematur.
Peran Metode Noninvasif dalam Mendeteksi Varises Esofagus Signifikan pada Anak dengan Hipertensi Portal William Jayadi Iskandar; Hanifah Oswari
Sari Pediatri Vol 22, No 3 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.3.2020.182-9

Abstract

Latar belakang. Esofagogastroduodenoskopi (EGD) penting dilakukan pada anak dengan hipertensi portal untuk mendeteksi varises esofagus signifikan (derajat II, III, atau stigmata perdarahan), tetapi prosedur ini invasif dan traumatik.Tujuan. Mengetahui kemampuan metode noninvasif dibandingkan EGD dalam menentukan varises esofagus signifikan pada anak dengan hipertensi portal.Metode. Penelusuran literatur melalui Pubmed, Scopus, dan Cochrane Library dilakukan pada tanggal 25 Juni 2019. Kriteria inklusi adalah subyek anak hingga berusia 18 tahun, dipublikasi dalam 5 tahun terakhir, berbahasa Inggris, dan tersedia full text. Kriteria eksklusi adalah subyek pascaoperasi atau tidak membahas metode noninvasif. Artikel terpilih kemudian dinilai secara kritis.Hasil. Tiga buah artikel penelitian ditemukan, terdiri atas sebuah telaah sistematik dan dua buah penelitian observasional. Metode noninvasif yang memiliki sensitivitas tinggi adalah clinical prediction rule (80%), varices prediction rule (80%), dan risk score (85,7%). Metode yang memiliki spesifisitas tinggi adalah King’s variceal prediction score (72,7%).Kesimpulan. Metode noninvasif dapat digunakan untuk memilih prioritas pasien anak dengan hipertensi portal yang perlu dilakukan EGD untuk menentukan varises esofagus signifikan.
Evaluasi Kualitatif Antibiotik Metode Gyssens dengan Konsep Regulasi Antimikroba Sistem Prospektif RASPRO pada Pneumonia di Ruang Rawat Intensif Anak Rinna Wamilakusumayanti Sundariningrum; Darmawan Budi Setyanto; Ronald Irwanto Natadidjaja
Sari Pediatri Vol 22, No 2 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.2.2020.109-14

Abstract

Latar belakang. Pneumonia masih paling sering sebagai infeksi primer maupun infeksi sekunder dalam perawatan anak di ruang rawat intensif. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat meningkatkan morbiditas, mortalitas, pengobatan lebih mahal, dan resistensi antibiotik.Tujuan. Mengevaluasi penggunaan antibiotik secara kualitatif pada pasien pneumonia menggunakan metode Gyssens dengan konsep RASPRO.Metode. Penelitian deskriprif retrospektif berdasarkan data rekam medis pasien pneumonia di ruang intensif anak RS Hermina Bekasi, periode bulan Mei sampai Oktober 2019. Antibiotik dievaluasi secara kualitatif menggunakan metode Gyssens dengan konsep RASPRO.Hasil. Didapatkan 51 (14,46%) pasien dengan pneumonia berat. Digunakan 119 antibiotik; terdiri dari 90 (75,63%) empiris dan 29 (24,37%) definitif. Ampisilin sulbaktam merupakan antibiotik paling banyak digunakan (15,98%), diikuti sefotaksim (15,12%), meropenem (13,44%), azithromisin (11,78%), dan seftriakson (10,92%). Berdasarkan metode Gyssens dengan konsep RASPRO, penggunaan antibiotik tepat (kategori 0) sebanyak 63,02%, sedangkan tidak tepat, yaitu 1,68% kategori IVa (alternatif lebih efektif), 22,69% kategori IIIa (durasi terlalu panjang) 9,24% kategori IIIb (durasi terlalu singkat), dan 3,36% kategori IIa (tidak tepat dosis).Kesimpulan. Pemakaian antibiotik tepat didapatkan hasil cukup baik, yaitu 63,03%. Konsep RASPRO dapat digunakan untuk mengurangi bias subyektifitas dalam penilaian antibiotik secara kualitatif dengan metode Gyssens pada pneumonia di ruang intensif anak. 
Hubungan Durasi Paparan Media Elektronik Terhadap Pola Tidur Anak Usia 10-13 Tahun Maudina Hati Fatimah Diantoro; Dimas Tri Anantyo; Farid Agung Rahmadi
Sari Pediatri Vol 22, No 6 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.6.2021.359-63

Abstract

Latar belakang. Diperkirakan setiap tahunnya terjadi peningkatan prevalensi gangguan tidur sesuai dengan peningkatan usia dan berbagai faktor penyebabnya. Paparan media elektronik berlebihan dapat berpengaruh pada masalah kesehatan. Penelitian di 5 negara termasuk Indonesia tahun 2012 menunjukkan bahwa lebih dari 80% anak usia 10-13 tahun telah memiliki akses telepon selular pribadi. American Academy of Pediatrics menyarankan durasi paparan media elektronik pada balita dan anak prasekolah selama 1 jam atau kurang dan remaja selama 2 jam atau kurang per hari.Tujuan. menganalisis hubungan antara durasi paparan media elektronik dengan munculnya gangguan tidur pada anak usia 10-13 tahunMetode. penelitian belah lintang dengan subjek penelitian dari beberapa SD di Semarang pada April – Juli 2019. Subjek penelitian melengkapi kuesioner 3DPAR) untuk menilai durasi paparan media elektronik serta orangtua mengisi kuesioner SDSC untuk menilai gangguan tidur. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-square dengan nilai signifikansi p<0,05.Hasil. Dari 90 responden didapatkan 76 responden (84,4%) dengan paparan media elektronik lebih dari 2 jam perhari dan terdapat 65 responden (72,2%) mengalami gangguan tidur. Terdapat hubungan bermakna antara durasi paparan media elektronik dengan gangguan tidur. Kesimpulan. Durasi paparan media elektronik lebih dari 2 jam perhari memiliki hubungan yang bermakna dengan gangguan tidur anak usia 10-13 tahun.

Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue