cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Profil Penyakit Kritis di Ruang Rawat Intensif Anak RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Nora Sovira; Jufitriany Ismi; Yunnie Trisnawati; Munar Lubis; Sulaiman Yusuf
Sari Pediatri Vol 22, No 2 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.2.2020.92-7

Abstract

Latar belakang. Angka morbiditas dan mortalitas pada anak yang disebabkan penyakit kritis masih tinggi, terutama pada usia di bawah 5 tahun. Hingga saat ini belum ada data mengenai profil pasien anak dengan penyakit kritis yang dirawat di ruang rawat intensif anak RSUD Dr. Zainoel Abidin (RSUDZA), Banda Aceh.Tujuan. Untuk mengetahui bagaimana profil pasien anak dengan penyakit kritis yang dirawat di ruang rawat intensif anak RSUD Zainoel Abidin (RSUDZA), Banda Aceh pada tahun 2019.Metode. Penelitian deskriptif retrospektif di ruang rawat intensif anak RSUDZA, Banda Aceh. Data dari rekam medis usia 1 bulan - 18 tahun sejak Januari 2019 sampai Desember 2019.Hasil. Diperoleh data pasien anak dengan sakit kritis yang dirawat di ruang intensif anak RSUDZA berjumlah 316 subjek. Mayoritas usia di bawah 5 tahun. Penyakit utama terbanyak adalah disfungsi organ respirasi (28,5 %). Jumlah Skor PELOD-2 terbanyak pada studi ini < 7 (69,6%) dengan lama rawat 2-7 hari (64,9%) dan angka mortalitas 21,8%.Kesimpulan. Profil penyakit kritis pada anak di RSUDZA Banda Aceh Tahun 2019 menunjukkan mayoritas subjek berusia di bawah 5 tahun, skor PELOD-2 < 7 dengan disfungsi organ terbanyak adalah respirasi.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Masalah Tidur Remaja Selama Pandemi Covid-19 Sri Hartini; Khairun Nisa; Elisabeth Siti Herini
Sari Pediatri Vol 22, No 5 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.5.2021.311-7

Abstract

Latar belakang. Masalah tidur pada remaja selama pandemi Covid-19 dilaporkan sekitar 20-66%. Rendahnya dukungan sosial, gangguan akademik dan kesehatan fisik yang menurun, paparan informasi, pengetahuan dan sikap tentang kesehatan tidur berhubungan dengan masalah tidur dan kebiasaan tidur pada remaja. Tujuan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran masalah tidur remaja dan faktor yang berhubungan selama pandemi Covid-19. Metode. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Seratus empat (104) remaja berusia 12-15 tahun di Kecamatan Samaturu, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara di rekruit menjadi responden penelitian. Sleep Disturbance Scale for Children (SDSC), kuesioner pengetahuan dan sikap tentang tidur digunakan untuk mengukur masalah tidur, pengetahuan dan sikap tentang tidur. Uji regresi linear digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan tidur remaja. Hasil. Prevalensi masalah tidur pada remaja selama pandemi Covid-19 sebesar 78%. Gangguan transisi tidur bangun merupakan jenis masalah tidur yang paling tinggi ditemukan (53%). Pengetahuan dan sikap tentang tidur berhubungan dengan masalah tidur remaja selama pandemik Covid-19. Kesimpulan. Sebagian besar remaja berusia 12-15 tahun mengalami masalah tidur selama pandemi Covid-19. Faktor yang paling dominan berhubungan dengan masalah tidur adalah sikap remaja tentang kesehatan tidur.
Korelasi Jumlah Cluster of Differentiation 4 dengan Fungsi Ventrikel Kanan pada Anak Terinfeksi Human Immunodeficiency Virus Henry Leo; Sri Endah Rahayuningsih; Sri Sudarwati; Anggraini Alam
Sari Pediatri Vol 22, No 4 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.4.2020.197-202

Abstract

Latar belakang. Infeksi Human immunodeficiency virus (HIV) merupakan salah satu masalah kesehatan utama dan salah satu penyakit menular yang dapat memengaruhi kesakitan dan kematian pada anak. Pemeriksaan kadar CD4 adalah parameter terbaik untuk mengukur imunodefisiensi serta petunjuk progresivitas penyakit. Manifestasi kardiovaskular yang sering terjadi pada anak dengan infeksi HIV, antara lain, disfungsi ventrikel kanan dan hipertensi pulmonal. Kelainan ventrikel kanan pada pasien dengan HIV belum banyak diteliti secara luas.Tujuan. Untuk mengetahui korelasi antara jumlah CD4 dengan fungsi ventrikel kanan pada anak terinfeksi HIV.Metode. Penelitian ini menggunakan rancangan potong lintang di klinik Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin bulan Januari-Februari 2020. Populasi adalah anak terdiagnosis HIV berusia 5–<18 tahun yang memenuhi kriteria inklusi. Pengukuran fungsi ventrikel kanan diukur dengan tricuspid annular plane systolic excursion (TAPSE) secara ekokardiografi. Analisis korelasi antara CD4 dengan TAPSE dilakukan dengan menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil. Ekokardiografi dilakukan pada 62 anak terinfeksi HIV, dua anak dieksklusi karena memiliki penyakit jantung bawaan dan kelainan katup. Tidak ada korelasi antara CD4 dengan TAPSE (r=0,122, p>0,05). Terdapat korelasi positif lemah antara usia dan lama terapi ARV dengan TAPSE (r=0,371 dan 0,271, p<0,05).Kesimpulan. Abnormalitas kardiovaskular dapat terjadi pada anak dengan infeksi HIV walaupun dapat bersifat asimptomatik. Pada penelitian ini nilai CD4 tidak berkorelasi dengan adanya penurunan fungsi ventrikel kanan, tetapi usia dan lama terapi berkorelasi positif dengan fungsi ventrikel kanan. 
Pengaruh Asupan Nutrisi pada Bayi Prematur dengan Pertumbuhan Ekstrauteri Terhambat di Rumah Sakit Anak Bunda Harapan Kita Toto Wisnu Hendrarto; Wida Ayu Nurahma; Marpauling Marpauling; Karina Karina
Sari Pediatri Vol 22, No 3 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.3.2020.169-75

Abstract

Latar belakang. Tantangan tatalaksana bayi prematur adalah terjadinya pertumbuhan ekstra uteri terhambat karena kecukupan nutrisi tidak sesuai dengan kebutuhan pertumbuhannya. Tujuan. Mengetahui distribusi terjadinya PEUT menurut asupan jenis nutrisinya. Metode. Penelitian deskriptif retrospektif dari rekam medik bayi prematur dirawat di Rumah Sakit Anak Bunda Harapan Kita pada Juli 2018 – Juli 2019. Hasil. Penelitian ini melibatkan 128 bayi prematur. Jenis asupan nutrisi yang diterima adalah ASI, ASI dengan fortifikasi human milk fortifier, ASI dengan susu formula prematur dan susu formula prematur saja. Bayi prematur yang mengalami PEUT berjumlah 55 (43%). Risiko terjadinya PEUT 1,08 dan 1,78 berturut-turut pada ASI dibandingkan dengan susu formula serta ASI dibandingkan dengan ASI ditambah HMF. Percepatan pertumbuhan tertinggi pada kelompok PEUT yang mendapat ASI dengan fortifikasi HMF (14 gram/kgBB/hari), terendah pada kelompok susu formula prematur (4,6 gram/kgBB/hari). Percepatan kenaikan berat badan hampir sama pada semua bayi prematur dalam kelompok pertumbuhan normal (11,5 – 13,7 gram/kgBB/hari). Kesimpulan. Air susu ibu adalah pilihan terbaik dalam pemberian introduksi nutrisi enteral pada periode kritis perawatan bayi prematur. Jenis nutrisi enteral pada periode pertumbuhan disesuaikan dengan kecukupan kebutuhan masing-masing bayi prematur.
Profil Klinis dan Faktor Risiko Mortalitas pada Anak dengan Hidrosefalus di RSUD dr. Soetomo Surabaya Nabila Fitri Ariyati; Prastiya Indra Gunawan; Florentina Sustini
Sari Pediatri Vol 22, No 6 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.6.2021.364-70

Abstract

Latar belakang. Hidrosefalus merupakan kelainan sistem saraf pusat yang paling umum terjadi baik pada bayi, anak, maupun remaja dan dapat menyebabkan konsekuensi serius berupa mortalitas. Informasi yang menyediakan faktor risiko mortalitas pada anak dengan hidrosefalus masih sangat terbatas.Tujuan. Mengevaluasi dan mengidentifikasi faktor risiko yang berhubungan dengan terjadinya mortalitas pada anak dengan hidrosefalus.Metode. Penelitian analitik observasional pada 89 pasien anak yang menderita hidrosefalus dengan menggunakan data rekam medis pasien anak yang dirawat di bagian instalasi rawat inap RSUD dr. Soetomo periode Januari 2014 hingga September 2016. Analisis menggunakan chi-square dan regresi logistik.Hasil. Didapatkan 89 subjek yang memenuhi kriteria inklusi. Mortalitas pasien anak dengan hidrosefalus adalah 17,97%. Analisis bivariat menunjukkan adanya hasil signifikan pada infeksi meningoensefalitis dengan OR 8,12 (95% CI 2,38-27,6) p=0,001. Sepsis memiliki OR 6,18 (95% CI 1,53-24,9) p=0,01. Kelainan struktur SSP berupa brain edema memiliki OR 4,27 (95% CI 1,25-14,6) p=0,02. Gagal nafas memiliki OR 56,0 (95% CI 6,16-508,9) p=0,001. Hasil analisis multivariat menunjukkan gagal nafas dan brain edema memiliki nilai OR (95% CI) berturut-turut 192,8 (9,92-3745,8) dan 10,07(1,23-82,5) dengan nilai p<0,05.Kesimpulan. Gagal nafas dan brain edema merupakan faktor risiko mortalitas pada anak dengan hidrosefalus.
Efektivitas Terapi Akupunktur untuk Tata Laksana Adjuvan Nyeri Kanker Murti Andriastuti; Dini Astuti Mirasanti; Irma Nareswari
Sari Pediatri Vol 22, No 2 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.2.2020.115-22

Abstract

Latar belakang. Efektivitas terapi akupunktur untuk tatalaksana adjuvan nyeri kanker pada anak masih kontroversial. Tujuan. Melakukan telaah kritis untuk menilai efektivitas terapi akupunktur untuk tatalaksana adjuvan nyeri kanker pada anak. Metode. Penelusuran artikel dilakukan melalui database Pubmed dan Cochrane dengan menggunakan kata kunci yang sesuai pada bulan Desember 2019. Hasil. Terdapat tiga artikel yang berguna berupa satu penelitian kohort prospektif, satu penelitian uji klinis acak, dan satu meta analisis Pasien berusia remaja cenderung lebih dapat menerima terapi akupunktur sebagai tatalaksana adjuvant nyeri kanker. Pada uji klinis acak dan meta analisis, didapati bahwa pasien yang mendapat terapi akupunktur memiliki skor nyeri yang lebih rendah. Meskipun demikian, penelitian uji klinis acak dan meta analisis tersebut tidak mengikutsertakan pasien anak (usia kurang dari 18 tahun). Kesimpulan. Terapi akupunktur merupakan suatu modalitas tatalaksana adjuvan nyeri kanker yang cukup potensial, tetapi diperlukan penelitian lebih lanjut pada populasi anak guna membuktikan efektivitas terapi tersebut.
Faktor Risiko Infeksi Tuberkulosis Milier dan Ekstraparu pada Anak Penderita Tuberkulosis Dewi Aryawati Utami; Ni Putu Siadi Purniti; Ida Bagus Subanada; Ayu Setyorini MM
Sari Pediatri Vol 22, No 5 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.5.2021.290-6

Abstract

Latar belakang. Infeksi Mycobacterium tuberculosis dapat bermanifestasi klinis sebagai penyakit tuberkulosis (TB) paru maupun TB ekstraparu dan TB milier. Saat ini terdapat kekurangan data mengenai faktor risiko TB ekstraparu dan milier pada anak TB. Tujuan. Untuk mengetahui faktor risiko TB milier dan TB ekstraparu pada anak penderita TB.Metode. Penelitian analitik potong-lintang menggunakan data sekunder. Sampel direkrut secara konsekutif dari pasien TB anak yang rawat inap dan rawat jalan di RSUP Sanglah, Denpasar mulai dari Januari 2017 hingga Agustus 2019. Selama periode penelitian didapat 120 pasien rawat inap maupun rawat jalan yang memenuhi kriteria inklusi. Tigapuluh enam subyek dieksklusi karena data rekam medik tidak lengkap sehingga didapat 84 sampel, terdiri dari 42 subyek TB paru dan 42 TB milier/TB ekstraparu. Seluruh sampel adalah pasien TB yang terbagi menjadi TB paru dan TB ekstraparu.Hasil. Tuberkulosis paru ditemukan 42 kasus (50%), 35 kasus (41,7%) menderita TB ekstraparu, dan 7 kasus (8,3%) menderita TB milier. Status HIV positif [OR= 3,71, IK 95% 1,21 sampai 11,33, p=0,022] dan tanpa parut BCG [OR=5,02, IK 95% 1,18 sampai 21,26, p=0,029] merupakan faktor risiko TB milier dan TB ekstraparu. Kesimpulan. Status HIV positif dan tanpa parut BCG merupakan faktor risiko TB milier dan TB ekstraparu.
Laporan kasus berbasis bukti: Efektifitas Pemberian Calcium Channel Blocker pada Perdarahan Subaraknoid Akibat Trauma Kepala Irawan Mangunatmadja; Anton Dharma Saputra
Sari Pediatri Vol 22, No 4 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.4.2020.243-51

Abstract

Latar belakang. Efektifitas pemberian calcium channel blocker (CCB) pada pasien trauma kepala dengan perdarahan subaraknoid masih kontroversial. Tujuan. Melakukan telaah kritis untuk melihat efektifitas CCB pada perdarahan subaraknoid. Metode. Pencarian artikel dilakukan secara daring menggunakan instrumen kata kunci yang sesuai melalui basis data New England journal of medicine (NEJM), Pubmed dan Cochrane pada bulan Mei-Juli 2019. Hasil. Didapatkan 2 artikel berupa studi meta-analisis dan laporan kasus. Hasil analisis sub-kelompok tSAH pada meta-analisis, tingkat kematian 23% pada kelompok uji dan 32% pada kelompok plasebo, tetapi perbedaan ini tidak bermakna secara statistik. Hasil studi kasus serial pemberian nimodipine oral pada pasien anak dengan perdarahan subaraknoid tidak mengurangi kejadian vasospasme serebral, ataupun infark. Kesimpulan. Penggunaan nimodipin pada kasus perdarahan subaraknoid akibat trauma kepala masih dapat dipertimbangkan. 
Hubungan Kadar C-Reaktif Protein dengan Stunting Usia 2-5 Tahun di Pucangsawit, Surakarta Labiqatullubabah Ahasmi; Hari Wahyu Nugroho; Harsono Salimo
Sari Pediatri Vol 22, No 3 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.3.2020.176-81

Abstract

Latar belakang. Stunting merupakan masalah kekurangan gizi yang kronis. Defisiensi mikronutrien pada stunting seperti zink, kalsium, vitamin D dan magnesium dapat memicu sitokin pro inflamasi dan memodulasi respon imun spesifik yang ditandai dengan peningkatan CRP.Tujuan. Mengetahui hubungan kadar C-reaktif protein (CRP) dengan stunting.Metode. Studi potong lintang beberapa PAUD daerah Pucangsawit, Surakarta, dilakukan dari Juli 2019 sampai Januari 2020. Semua anak yang masuk kategori stunting berdasarkan antropometri mendapatkan pemeriksaan CRP. Kemudian dilakukan analisis hubungan antara kadar CRP dengan stunting dengan uji Mann Whitney.Hasil. Terdapat 32 anak stunting yang terdiri dari 62,5% perempuan dan 37,5% lelaki. Sebanyak 75% anak dengan stunted dan 25% dengan severely stunted. Tidak terdapat peningkatan kadar CRP pada semua sampel dan tidak terdapat perbedaan kadar CRP yang signifikan pada anak stunted dan severely stunted (p=0,512)Kesimpulan. Kadar CRP tidak berhubungan dengan stunting baik pada anak yang stunted maupun severely stunted.
Akurasi Pemeriksaan Auskultasi Jantung dan Elektrokardiografi untuk Deteksi Kelainan Jantung pada Anak Ria Nova; Deny Salverra Yosy; Bermansyah Bermansyah
Sari Pediatri Vol 22, No 3 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.3.2020.164-8

Abstract

Latar belakang. Tidak semua kelainan jantung menimbulkan gejala klinis. Pemeriksaan ekokardiografi tidak semuanya tersedia di fasilitas kesehatan terbatas.Tujuan. Untuk mendeteksi kelainan jantung pada siswa-siswi sekolah dasar di Palembang melalui pemeriksaan auskultasi jantung dan elektrokardiografiMetode. Desain penelitian uji diagnostik dengan pendekatan cross sectional pada siswa-siswa sekolah dasar di kota Palembang. Penelitian dilakukan dari bulan Agustus sampai dengan November 2019. Subyek penelitian sebanyak 280 anak sekolah dasar. Semuanya dilakukan pemeriksaan auskultasi jantung, elektrokardiografi, dan ekokardiografiHasil. Subyek 280 anak sekolah dasar, terdiri dari 130 laki-laki dan 150 perempuan. Rerata umur 9,6 tahun (rentang 5-14) tahun. Median berat badan 27 kg. Pada pemeriksaan auskultasi ditemukan 79,2% normal, 9,2 % bising sistolik, 2,1 % bising diatolik, dan 7,1 % bising inosen. Hasil elektrokardiografi, normal 97,1%, sinus takikardi 1,4%, sinus bradikardi 0,4%, hipertrofi ventrikel kiri 0,7 %, right bundle branch block 0,4%. Hasil ekokardiografi, penyakit jantung rematik subklinis 20 anak, persisten foramen ovale 1 anak, pulmonal stenosis 2 anak dan hipertensi pulmonal primer 10 anak. Sensitivitas dan spesifisitas auskultasi jantung 90% dan 91%. Nilai prediksi positif dan negatif auskultasi jantung 57,69% dan 98,6%. Sensitivitas dan spesifisitas elektrokardiografi 6,06% dan 97,57%. Nilai prediksi positif dan negatif elektrokardiografi 25% dan 88,6%.Kesimpulan. Auskultasi jantung cukup akurat untuk deteksi awal kelainan jantung pada anak dibandingkan elektrokardiografi. 

Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue