cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Faktor-faktor yang Memengaruhi Kadar Vitamin D Neonatus Elfrida N. Auliya; Adhie Nur Radityo; Rina Pratiwi; Helen M. Kurniawan
Sari Pediatri Vol 25, No 2 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.2.2023.93-8

Abstract

Latar belakang. Vitamin D beredar dalam darah terutama dalam bentuk 25(OH)D. Vitamin D memegang peran penting dalam berbagai fungsi fisiologis tubuh dan diperkirakan dapat mencegah berbagai kondisi pada neonatus. Defisiensi Vitamin D (DVD) memiliki prevalensi yang cukup tinggi di seluruh dunia, termasuk Indonesia.Tujuan. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kadar vitamin D pada neonatus.Metode. Penelitan cross-sectional terhadap 36 neonatus dilakukan di Semarang. Data dikumpulkan dari pengisian kuesioner dan pemeriksaan kadar 25(OH)D neonatus. Analisis bivariat menggunakan uji T tidak berpasangan, uji One Way Anova, dan uji korelasi Spearman.Hasil. Pada studi ini didapatkan perbedaan signifikan antara usia ibu terhadap kadar 25(OH)D neonatus(p= 0,024 ). Tidak didapatkan perbedaan signifikan dari faktor status gizi ibu (p= 0,588 ), paparan matahari ibu (p= 0,255 ), paparan matahari neonatus (p= 0,227 ), dan tipe diet neonatus (p= 0,470 ) terhadap kadar 25(OH)D neonatus.Kesimpulan. Usia ibu memberikan perbedaan yang bermakna terhadap kadar vitamin D neonatus. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut terkait pengaruh status gizi ibu, suplementasi vitamin D ibu, paparan sinar matahari ibu, paparan sinar matahari neonatus, dan tipe diet neonatus terhadap kadar vitamin D neonatus.
Peran Puasa Ramadhan pada Anak dengan Epilepsi: Studi Pendahuluan Achmad Rafli; Ryan Pramana Putra; Irawan Mangunatmadja; Setyo Handryastuti; Amanda Soebadi
Sari Pediatri Vol 25, No 3 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.3.2023.170-3

Abstract

Latar belakang. Pada bulan Ramadhan semua umat Muslim diwajibkan untuk berpuasa, menahan diri untuk tidak makan, minum, atau meminum obat dari terbit hingga tenggelamnya fajar. Keadaan ini akan menimbulkan tantangan baru bagi anak dengan epilepsi yang berpuasa, berupa kontrol frekuensi kejang, perubahan jadwal minum obat, dan kepatuhan minum obat. Berpuasa dapat menyebabkan perubahan metabolisme otak yang berdampak pada peningkatan fungsi otak dalam hal kognitif, peningkatan neuroplastisitas dan ketahanan terhadap cedera dan penyakit. Adanya perubahan metabolisme otak pada saat berpuasa dapat membantu dalam mengontrol kejang pada anak dengan epilepsi.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai frekuensi kejang dan efek samping pada anak dengan epilepsi yang berpuasa di bulan Ramadhan tahun 2023. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian observasional prospektif yang dilakukan selama 1 bulan. Sampel pada penelitian ini merupakan semua anak dengan epilepsi yang berpuasa pada bulan Ramadhan, April 2023. Anak dengan epilepsi yang berpuasa dipantau frekuensi kejang, jadwal minum obat dan kepatuhannya (sebelum dan setelah berpuasa). Hasil. Total pasien pada penelitian ini adalah dua belas (6 laki-laki, 6 perempuan, rentang usia 6-17 tahun). Jenis kejang absans merupakan jenis kejang yang paling banyak (50%). Tujuh pasien mendapatkan antiepilepsi monoterapi (58,33%) dengan variasi pemberian antiepilepsi 1-4 jenis. Frekuensi kejang pada seluruh pasien mengalami penurunan selama puasa Ramadhan dibandingkan dengan satu bulan sebelumnya sebesar 27%. Tidak ada efek samping yang timbul akibat berpuasa dan perubahan jadwal minum obat. Kesimpulan. Puasa Ramadhan bermanfaat menurunkan frekuensi kejang bagi anak dengan epilepsi.
Nilai Laboratorium Darah dan Alat Skrining STRONGkids pada Malnutrisi Rumah Sakit Herlina Dimiati; Tommy Tommy; Mars Nasrah Abdullah; Sulaiman Arigayota
Sari Pediatri Vol 25, No 2 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.2.2023.106-11

Abstract

Latar belakang. Malnutrisi Rumah Sakit adalah malnutrisi yang didiagnosis selama dirawat di rumah sakit, mulai saat masuk sampai keluar rumah sakit. STRONGkids merupakan alat skrining risiko malnutrisi. Selama rawatan anak sakit, terjadi perubahan nilai laboratorium yang tidak normal akan berpotensi untuk terjadi malnutrisi rumah sakit. Tujuan. Menilai hubungan parameter laboratorium darah dengan alat skrining malnutrisi STRONGkids pada pasien yang dirawat di bangsal anak (Arafah 1) RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.Metode. Penelitian retrospektif dengan mengkaji data dari rekam medis rawat inap pada bangsal anak (Arafah 1) RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh periode 01 Januari sampai 31 Maret 2021. Variabel yang dianalisis adalah data laboratorium darah, status gizi serta level STRONGkids pada anak usia satu bulan sampai ?18 tahun, lahir cukup bulan dengan lama rawatan ?72 jam. Data disajikan dalam narasi dan atau tabel, dianalisa secara univariat atau bivariat. Hasil. Dari 63 subjek, 22 (34,9%) subjek mengalami malnutrisi rumah sakit, 32 subjek (50,8%) dengan kriteria STRONGkids berisiko rendah dan 31 subjek (49,2%) dengan kriteria sedang-tinggi. Terdapat hubungan signifikan nilai laboratorium darah terhadap risiko malnutrisi rumah sakit dengan penilaian kriteria STRONGkids (p<0,05) yaitu : hemoglobin, OR; 1,06 (p=0,014), eritrosit, OR; 1,08 (p=0,011), leukosit, OR; 3,49 (p=0,024), albumin, OR; 6,14 (p=0,017) dan kalsium, OR; 1,059 (p=0,013)Kesimpulan. Terdapat hubungan positif bermakna beberapa nilai laboratorium darah pada anak yang dirawat diruang Arafah 1 RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh dengan uji tapis STRONGkids untuk memprediksi kejadian malnutrisi rumah sakit.
Faktor-faktor yang Memengaruhi Kejadian Stunting di Wilayah Sangatta Kalimantan Timur Periskha Bunda Syafiie; Christina Sarangnga
Sari Pediatri Vol 25, No 3 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.3.2023.155-62

Abstract

Latar belakang. Prevalensi stunting di Kabupaten Kutai Timur pada 2020 sebanyak 1515 kasus. Di Sangatta, tercatat 290 anak mengalami stunting per Februari 2020 dari total 4615 anak yang melakukan kunjungan posyandu (6,28%). Faktor determinan penyebab stunting di Indonesia di antaranya kelahiran prematur, panjang lahir pendek, tidak mendapatkan Air Susu Ibu eksklusif selama enam bulan pertama, pendidikan dan pengetahuan ibu yang rendah, paparan infeksi berulang, status gizi ibu, dan praktik pemberian makanan pendamping yang tidak kompeten.Tujuan. Mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian stunting pada anak usia 6-59 bulan di Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.Metode. Penelitian menggunakan desain case control, dilakukan di semua Puskesmas di Sangatta pada November-Desember 2021. Subjek penelitian adalah anak usia 6-59 bulan yang melakukan kunjungan posyandu dalam periode penelitian. Sebanyak 230 anak dipilih dengan consecutive sampling. Analisis data menggunakan analisis multivariat regresi logistik.Hasil. Angka kejadian stunting berhubungan dengan jenis kelamin laki-laki (p=0,036 dengan OR:1,9; IK:1,04-3,47), tidak mendapatkan ASI eksklusif (p=0,036 dengan OR:1,9; IK:1,04-3,47), dan Bayi Berat Lahir Rendah (p=0,04 dengan OR:2,7; IK:1,05-7,37), diikuti dengan faktor pengetahuan ibu (p=0,02). Golongan pendapatan merupakan faktor confounding (perancu).Kesimpulan. Variabel yang berhubungan signifikan dengan kejadian stunting adalah jenis kelamin, pemberian ASI eksklusif, berat badan saat lahir, dan pengetahuan ibu yang merupakan faktor prediktif dominan terhadap kejadian stunting pada anak usia 6-59 bulan di Sangatta.
Pengetahuan dan Sikap Orang Tua Mengenai Buku Kesehatan Ibu dan Anak terhadap Perilaku Pemanfaatannya Debora Octo Luana; Lili Rohmawati; Wisman Dalimunthe; Sri Melinda Kaban
Sari Pediatri Vol 25, No 2 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.2.2023.75-9

Abstract

Latar belakang. Ibu dan anak merupakan kelompok rentan dalam keluarga dan sekitarnya sehingga perlu mendapatkan prioritas dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Buku Kesehatan Ibu dan Anak berperan sebagai alat deteksi dini gangguan kesehatan ibu dan anak, serta sebagai alat komunikasi yang memberikan informasi dan penyuluhan tentang pelayanan kesehatan ibu dan anak, termasuk rujukan dan standar pelayanan, gizi, imunisasi, dan tumbuh kembang balita kepada ibu, keluarga, dan masyarakat. Pemanfaatan buku ini terkendala oleh pengetahuan dan sikap orang tua yang rendah.Tujuan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap orang tua mengenai Buku Kesehatan Ibu dan Anak terhadap perilaku pemanfaatannya.Metode. Penelitian analitik observasional dengan desain potong lintang yang menggunakan data primer kuesioner di Puskesmas Padang Bulan, Padang Bulan Selayang II, dan Darussalam.Hasil. Dari 90 sampel penelitian memiliki tingkat pengetahuan baik (57,8%), dan cukup (42,2%). Tingkat sikap adalah baik (97,8%), dan cukup (2,2%). Perilaku pemanfaatan Buku Kesehatan Ibu dan Anak adalah tidak memanfaatkan (73,3%) dan memanfaatkan (26,7%). Berdasarkan analisis bivariat menggunakan chi-square, hubungan pengetahuan orang tua (p=0,019) dan sikap orang tua (p=1) terhadap perilaku pemanfaatan Buku Kesehatan Ibu dan Anak. Kesimpulan. Lebih banyak orang tua yang tidak memanfaatkan Buku Kesehatan Ibu dan Anak daripada yang memanfaatkannya. Pengetahuan dan sikap orang tua mengenai Buku Kesehatan Ibu dan Anak adalah baik. Terdapat hubungan antara pengetahuan orang tua mengenai Buku Kesehatan Ibu dan Anak terhadap perilaku pemanfaatannya, tetapi tidak terdapat hubungan antara sikap orang tua mengenai Buku Kesehatan Ibu dan Anak terhadap perilaku pemanfaatannya. 
Fungsi Ginjal Pasien Talasemia Beta Mayor yang Menggunakan Kelasi Besi Oral di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin Banda Aceh Fanni Dwi Mailani; Syafrudddin Haris; Heru Noviat; Dora Darussalam; Herlina Dimiati; T.M. Thaib
Sari Pediatri Vol 25, No 3 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.3.2023.174-8

Abstract

Latar belakang. Penderita talasemia beta mayor yang mendapatkan transfusi darah berulang dapat menyebabkan penumpukan besi, sehingga diperlukan pemberian kelasi besi. Deferasirox dan deferipron merupakan agen kelasi besi oral yang umum digunakan. Kelasi besi oral dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal.Tujuan. Untuk mengetahui fungsi ginjal penderita talasemia beta mayor yang menggunaan kelasi besi oral.Metode. Penelitian ini menggunakan data sekunder (rekam medis) selama rentang waktu November 2022 hingga Januari 2023 dengan desain potong lintang. Sampel penelitian pasien talasemia beta mayor anak yang mendapatkan terapi kelasi besi oral berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil. Analisis 51 anak talasemia beta mayor yang memenuhi kriteria inklusi dengan rata-rata Laju Filtrasi Glomerulus yang mendapat terapi kelasi oral deferasirox dan deferipron berturut-turut adalah 168,51±27,80 mL/min/1,73m2 dan 187,26±29,97 mL/min/1,73m2. Perbandingan pada kedua kelompok secara statistik terdapat perbedaaan bermakna dengan p=0,025. Kesimpulan. Terdapat perbedaan signifikan dari Laju Filtrasi Glomerulus pada kedua kelompok kelasi besi oral, tetapi tidak didapatkan terjadinya penurunan fungsi ginjal pada semua subjek.
Hubungan Status Nutrisi dan Morbiditas pada Anak dengan Kolestasis Kronik di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Nur Aryani; Fatima Safira Alatas
Sari Pediatri Vol 25, No 2 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.2.2023.99-105

Abstract

Latar belakang. Kolestasis adalah suatu kondisi gangguan aliran empedu yang memengaruhi asupan nutrisi dan perkembangan anak. Tujuan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi hubungan status nutrisi dan morbiditas pada anak dengan kolestasis kronik. Metode. Studi ini menggunakan metode kohort retrospektif yang melibatkan 97 pasien anak dengan kolestasis kronik. Data antropometri, usia, jenis kelamin, penyebab dasar penyakit, dan morbiditas pasien kemudian dikumpulkan dan dievaluasi. Status nutrisi dinilai berdasarkan kurva WHO 2006. Hasil. Hasil menunjukkan bahwa 46% pasien mengalami kondisi gizi buruk dan 27% gizi kurang berdasarkan pengukuran Lingkar Lengan Atas (LLA) per usia, sementara 66% pasien termasuk ke dalam kategori pendek dan 30% sangat pendek berdasarkan tinggi badan (TB) per usia. Studi ini menunjukkan hubungan antara common cold dan gizi buruk pada anak dengan kolestasis kronik. Kesimpulan. Meski terdapat hubungan antara pruritus, gangguan gastrointestinal, dan perdarahan saluran cerna dengan status gizi, tetapi tidak menunjukkan hasil yang signifikan setelah analisis multivariat. Faktor lain seperti organomegali, asites, dan defisiensi nutrisi tertentu juga berkontribusi terhadap penurunan nafsu makan dan berpotensi mengakibatkan gizi buruk pada anak. Penemuan ini menegaskan pentingnya tatalaksana gizi yang komprehensif dan penanganan dini bagi pasien anak dengan kolestasis kronik.
Perbandingan Pola Kepekaan Antibiotik Bakteri Penghasil Extended Spectrum Beta-Lactamase Penyebab Infeksi Saluran Kemih di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. M. Djamil Padang Evita Pratiwi; Linosefa Linosefa; Fitrisia Amelin
Sari Pediatri Vol 25, No 3 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.3.2023.163-9

Abstract

Latar belakang. Infeksi saluran kemih merupakan salah satu penyakit infeksi bakteri yang umum terjadi pada anak. Kultur urin dan uji sensitivitas antibiotik diperlukan sebelum menegakan diagnosis dan terapi.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan pola kepekaan antibiotik bakteri penghasil Extended Spectrum Beta-Lactamase dan Non-Extended Spectrum Beta-Lactamase penyebab Infeksi Saluran Kemih pada anak di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. M. Djamil Padang tahun 2018 – 2020.Metode. Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik observasional dengan desain potong lintang pada uji sensitivitas bakteri penyebab infeksi saluran kemih pada anak menggunakan VITEK®2. Usia, jenis kelamin, penyakit dasar, bakteri, ESBL, dan pola kepekaan telah diteliti. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling dengan jumlah sampel 98 orang.Hasil. Hasil penelitian menemukan kasus ISK anak paling banyak pada anak perempuan. Kelompok usia terbanyak adalah 0 – 1 tahun dengan usia rerata 4,5 tahun (standar deviasi, SD ± 5,8 tahun). Tipe infeksi yang banyak ditemukan adalah infeksi saluran kemih simpleks. Selain itu, juga ditemukan kasus kompleks dengan penyakit terbanyak yang mendasari adalah hidronefrosis. Bakteri yang umum menjadi penyebab adalah Escherichia coli (40,3%) dan Klebsiella pneumoniae (26,88%), dengan prevalensi bakteri penghasil enzim extended spectrum beta-lactamase masing-masing 72,7% dan 67,4%. Terdapat perbedaan yang signifikan antara pola kepekaan bakteri Escherichia coli pada antibiotik ampisilin, aztreonam, seftazidim, siprofloksasin, seftriakson, seftazidim, sefepim, nitrofurantoin, gentamisin, dan trimetoprim/sulfametoksazol. Terdapat perbedaan yang signifikan antara pola kepekaan bakteri Klebsiella pneumonia pada antibiotik aztreonam, siprofloksasin, seftriakson, ertapenem, dan meropenem.Kesimpulan. Penyebab paling umum infeksi saluran kemih pada anak adalah bakteri enterik Gram-negatif dan terdapat penurunan sensitivitas antibiotik pada bakteri penghasil ESBL. 
Hubungan Adiksi Internet dengan Gangguan Psikososial pada Remaja Jeanette I. Ch. Manoppo; Lidya Lustoyo Putrajaya; Hesti Lestari
Sari Pediatri Vol 25, No 2 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.2.2023.80-6

Abstract

Latar belakang. Kelompok pengguna internet tertinggi adalah remaja awal, penggunaan internet yang berlebihan ini dapat menimbulkan masalah psikososial. Saat memasuki usia tersebut merupakan waktu yang tepat untuk mulai mendeteksi agar diagnosis dan intervensi dapat dilakukan lebih awal.Tujuan. Untuk mengevaluasi hubungan adiksi internet dengan gangguan psikososial pada remaja. Metode. Penelitian ini merupakan studi observasional menggunakan rancangan potong lintang. Penelitian ini memperoleh data 670 siswa pada delapan Sekolah Menengah Pertama di Kecamatan Malalayang, Manado. Penelitian dilakukan pada bulan Maret-Mei 2022. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner google form yang berisi Kuesioner Diagnostik Adiksi Internet dan Pediatric Symptom Checklist. Hasil analisis regresi ditampilkan sebagai odds ratio dengan interval kepercayaan 95%, dan nilai p. Semua prosedur pengujian menggunakan tingkat kepercayaan ?=0,05.Hasil. Hasil analisis regresi logistik multivariat menunjukkan bahwa adiksi internet signifikan berisiko terhadap gangguan psikososial pada remaja dengan nilai adjusted OR 4,238 (Interval Kepercayaan 95% 2,93:6,06) nilai p < 0,001.Kesimpulan. Penelitian ini mendapatkan bahwa remaja yang mengalami adiksi internet meningkatkan risiko terjadinya gangguan psikososial jika dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami adiksi internet.
Analisis Hubungan Inisiasi Menyusu Dini dengan Bonding Attachment pada Ibu Nifas: Studi di Kabupaten Tabanan Budiapsari, Putu Indah; Supadma, I Nyoman; Sanjaya, Gusdek Ajie
Sari Pediatri Vol 26, No 2 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.2.2024.69-73

Abstract

Latar belakang. Saat ini sebagian besar ibu dianggap kurang bonding dengan anak, terutama ibu yang bekerja. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya waktu berinteraksi dan ibu memilih menggunakan susu formula ketimang ASI. Penggunaan asi ekslusif sampai 6 bulan juga dikatakan menurun oleh karena tidak dilakukan inisiasi menyusui dini.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara inisiasi menyusu dini dengan bonding attachment pada ibu nifas.Metode. Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan rancangan case control. Besar sampel yang digunakan adalah 46 orang terdiri dari 23 ibu yang dilakukan inisiasi menyusu dini dibandingkan dengan 23 ibu yang tidak dilakukan inisiasi menyusu dini. Data yang dikumpulkan akan dianalisis menggunakan uji Chi-square untuk melihat hubungan inisiasi menyusui dini dengan bonding attachment. Penelitian ini mengambil tempat di Puskesmas Tabanan 3 dan Rumas Sakit Umum Daerah Tabanan.Hasil. Hasil ini menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara inisiasi menyusui dini dengan bonding attachment dengan nilai p= 0,001, relative risk 0,3.Kesimpulan. Inisiasi menyusu dini meningkatkan bonding attachment pada ibu nifas dengan bayi.

Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue