cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Nebulisasi Salin Hipertonik pada Anak dengan Bronkiolitis Madeleine Ramdhani Jasin; Citra Estetika
Sari Pediatri Vol 25, No 2 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.2.2023.123-9

Abstract

Latar belakang. Bronkiolitis sering tering terjadi pada anak hingga usia dua tahun, dengan penyebab terbanyak adalah respiratory syncytial virus (RSV). Terapi bronkiolitis bersifat suportif, namun beberapa terapi tambahan lain sering digunakan walaupun laporan mengenai efektivitas masih kontroversial, salah satunya adalah pemberian nebulisasi salin hipertonik.Tujuan. Menelaah lebih lanjut manfaat klinik nebulisasi salin hipertonik pada anak dengan bronkiolitis.Metode. Penelusuran pustaka database elektronik, yaitu Pubmed dan Cochrane dengan kata kunci bronchiolitis, child atau infant, hypertonic, saline atau NaCl, nebulization atau nebulized atau inhalation, dan length of stay atau LOS atau length of hospitalization.Hasil. Terpilih tiga artikel untuk telaah kritis. Meta-analisis oleh Yu dkk mendapatkan hasil nebulisasi salin hipertonik lebih superior dari isotonik dalam menurunkan lama perawatan (mean difference MD:-0,6 hari), perbaikan skor keparahan penyakit (MD:-0,79), angka perawatan (odd ratio OR:0,74), dan distres napas (MD:-0,6). Hasil serupa juga diperoleh oleh studi Bashir dkk mengenai lama rawat, walaupun studi Alatwani dkk mendapatkan hasil yang berbeda. Kesimpulan. Nebulisasi salin hipertonik dapat mengurangi lama perawatan rumah sakit serta skor tingkat keparahan pada anak dengan bronkiolitis. Namun, belum banyak bukti mengenai manfaat dan risiko nebulisasi salin hipertonik pada kasus bronkiolitis berat.
Telaah Perbandingan Panduan Klinis Sindrom Nefrotik Idiopatik Resisten Steroid pada Anak Sudung Oloan Pardede; Reza Fahlevi; Edwin Kinesya; Eka Laksmi Hidayati; Henny Adriani Puspitasari; Partini Pudjiastuti Trihono
Sari Pediatri Vol 25, No 3 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.3.2023.137-46

Abstract

Latar belakang. Sebagai salah satu penyakit ginjal anak tersering di dunia, sindrom nefrotik dapat dibedakan menjadi sensitif dan resisten steroid. Penelitian dan tata laksana sindrom nefrotik resisten steroid pada anak terus berkembang. Panduan klinis yang digunakan seringkali berbeda dan bervariasi antar fasilitas kesehatan ataupun negara di dunia.Tujuan. Membandingkan panduan klinis sindrom nefrotik idiopatik resisten steroid pada anak. Metode. Kami menentukan topik dan lingkup bahasan yang akan dibahas. Sesudah itu, dilakukan telaah dan perbandingan terhadap empat panduan klinis dari Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2012, Kidney Disease: Improving Global Outcomes tahun 2021, Indian Society of Pediatric Nephrology tahun 2021, dan International Pediatric Nephrology Association tahun 2020. Empat lingkup bahasan kajian antara lain diagnosis, pemeriksaan penunjang, batasan kriteria, dan terapi.Hasil. Didapatkan beberapa perbedaan mendasar yang ditemukan, antara lain, adanya periode konfirmasi, beberapa istilah baru, anjuran pemeriksaan genetik, serta pilihan utama terapi imunosupresan. Kesimpulan. Sesudah menelaah panduan klinis sindrom nefrotik idiopatik resisten steroid dari Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2012 dan panduan klinis baru lainnya, ditemukan beberapa pebedaan dasar. Oleh karena itu, diperlukan pembaharuan konsensus sindrom nefrotik resisten steroid yang disesuaikan dengan bukti ilmiah terbaru serta ketersediaan fasilitas kesehatan dan obat-obatan di Indonesia.
Karakteristik Dan Luaran Tumor Otak Pada Anak Mia Milanti Dewi; Rausyanfikr Tajul Arifin Syuhada; Mirna Sobana
Sari Pediatri Vol 25, No 2 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.2.2023.87-92

Abstract

Latar belakang. Morbiditas dan mortalitas tumor otak pada anak masih menjadi masalah yang besar. Seringkali manifestasi klinis yang jelas muncul pada saat tumor dalam stadium lanjut. Saat ini luaran tumor otak di Indonesia masih belum memuaskan meskipun telah dilakukan berbagai terapi operatif maupun konservatif. .Tujuan. Mengetahui karakteristik dan luaran pasien tumor otak pada anak di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung (RSHS).Metode. Dilakukan secara deskriptif retrospektif dengan data pasien tumor otak pada anak berusia < 18 tahun yang datang ke RSHS pada periode 1 Januari 2012 - 31 Desember 2018.Hasil. Selama penelitian terdapat 161 subjek dengan 88 pasien (54,6%) laki-laki. Tumor otak terjadi paling sering pada kelompok usia 6-12 tahun sebanyak 66 pasien (41%). Sebanyak 73 pasien (46,5%) memiliki tumor otak di area supratentorial, 80 pasien (51%) memiliki tumor di area infratentorial, dan 4 pasien (2,5%) memiliki tumor di area suprainfratentorial. Hasil patologi anatomi terbanyak yaitu meduloblastoma pada 36 pasien (22,3%), dengan derajat keganasan VI (46,5%), dengan manifestasi klinis paling sering adalah sakit kepala (64,5%). Pada pemeriksaan neurologis didapatkan parese saraf otak paling sering adalah gangguan nervus kranialis II (34%) dan hemiparesis (20,5%). Ditemukan pula adanya reflek patologis pada 55 pasien (34%). Hasil luaran paling banyak dari data yang tersedia adalah perbaikan dalam gejala klinis (60,3%).Kesimpulan. Meduloblastoma merupakan jenis tumor otak yang tersering (22,3%), pada anak dengan sakit kepala sebagai manifestasi paling banyak.
Diagnosis dan Tata Laksana Infeksi Virus Hepatitis C pada Anak dengan Penyakit Ginjal Kronik di Indonesia Ellen Wijaya; Fatima Safira Alatas; Cahyani Gita Ambarsari
Sari Pediatri Vol 25, No 3 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.3.2023.190-202

Abstract

Latar belakang. Anak dengan penyakit ginjal kronik yang memerlukan hemodialisis merupakan kelompok risiko tinggi terjadinya infeksi virus hepatitis C. Infeksi virus hepatitis C pada anak dengan penyakit ginjal kronik memerlukan diagnosis dan tata laksana adekuat untuk mencegah progresifitas penyakit dan komplikasi menjadi karsinoma hepatoselular.Tujuan. Menelaah lebih lanjut diagnosis dan tata laksana infeksi virus hepatitis C pada anak dengan penyakit ginjal kronik di Indonesia.Metode. Penelusuran pustaka database elektronik, yaitu instrumen pencari Pubmed®, EBSCOHost®, dan penelusuran manual. Kata kunci yang digunakan adalah (“children” atau “pediatric”) dan “hepatitis C” dan “end stage renal disease” dan “treatment” dengan menggunakan batasan. Penelitian berbentuk kasus-kontrol, kohort, maupun potong lintang, dipublikasikan dalam bahasa Indonesia atau Inggris, dan diterbitkan dalam 20 tahun terakhir (2002-2022).Hasil. Ditemukan enam artikel yang relevan terhadap pertanyaan klinis. Hasil telaah kritis dan telaah berdasarkan validity, importance dan applicability.Kesimpulan. Hepatitis C pada anak seringkali tanpa gejala atau gejala ringan, memerlukan konfirmasi melalui pemeriksaan molekular. Terapi VHC pada anak PGK yang menjalani hemodialisis kontroversial, tetapi dosis disesuaikan interferon dan ribavirin dapat mencegah progresi penyakit. Klinisi harus mendiagnosis dan mengelola infeksi VHC pada anak PGK untuk mendukung eliminasi hepatitis pada 2030 sesuai target WHO
Perdarahan Saluran Cerna pada Anak dengan Penyakit Ginjal Tahap Akhir Beatrix Siregar; Eka Laksmi Hidayati; Sudung Oloan Pardede
Sari Pediatri Vol 25, No 2 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.2.2023.130-6

Abstract

Penyakit ginjal tahap akhir (PGTA) adalah penyakit ginjal kronik (PGK) stadium 5 yang ditandai dengan laju filtrasi glomerulus (LFG) < 15 mL/menit/1,73m2 selama tiga bulan atau lebih, atau suatu kondisi dengan pasien memerlukan terapi pengganti ginjal seperti hemodialisis, dialisis peritoneal, atau transplantasi ginjal. Pasien dengan PGTA sering mengalami gangguan saluran cerna, termasuk perdarahan saluran cerna, yang dapat terjadi dari atas maupun bawah. Perdarahan saluran cerna atas lebih umum ditemukan dan berkaitan dengan erosi saluran cerna. Pada pasien anak dengan PGTA, erosi saluran cerna umum ditemukan namun angka kejadian perdarahan saluran cerna berkaitan dengan erosi pada anak dengan PGTA belum diketahui. Patofisiologi perdarahan saluran cerna pada pasien PGTA belum sepenuhnya diketahui, namun diduga berkaitan dengan disfungsi trombosit akibat uremia, anemia, dan penggunaan obat-obatan. Mekanisme perdarahan saluran cerna tergantung etiologinya, terutama erosi dan angioektasia. Belum ada pendekatan dan tata laksana perdarahan saluran cerna khusus pada anak dengan PGTA yang terbukti secara uji klinis, namun optimalisasi dialisis dan tata laksana anemia dapat dilakukan sebagai tindakan pencegahan.
Kadar Malondialdehid Sebagai Biomarker Stress Oksidatif Sebelum dan Sesudah Kemoterapi Fase Induksi pada Pasien Anak dengan Leukemia Limfoblastik Akut AANKP. Widnyana; DK. Wati; IPG. Karyana; IGNS. Putra; KT. Ariawati
Sari Pediatri Vol 25, No 2 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.2.2023.117-22

Abstract

Latar belakang. Leukemia merupakan keganasan yang sering terjadi pada anak dan kemoterapi merupakan terapi kuratif penting pada pasien leukemia limfablastik akut. Penggunaan kemoterapi pada awal diagnosis dapat memicu terbentuknya radikal bebas yang mengganggu homeostasis sel. Malondialdehid merupakan produk sekunder dari peroksida lipid yang dihasilkan oleh reaksi radikal bebas lemak tak jenuh dalam membran sel dan dapat digunakan sebagai penanda stress oksidatif. Protokol kemoterapi sebelumnya tidak konsisten. Protokol kemoterapi di Indonesia saat ini menggunakan protokol LLA 2018 yang berbeda dari protokol sebelumnya. Tujuan. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan kadar malondialdehid sebelum dan sesudah kemoterapi fase induksi pada anak dengan limfoblastik leukemia akut.Metode. Penelitian ini merupakan penelitian kohort prospektif dengan subjek penelitian anak berusia >1 bulan hingga 18 tahun dengan LLA yang mendapat pengobatan di Rumah Sakit Umum Pusat Prof. dr. IGN Gde Ngoerah dari bulan Juli 2021 hingga September 2022. Uji Wilcoxon digunakan untuk menilai perbedaan kadar malondialdehid sebelum dan sesudah kemoterapi fase induksi. Tingkat signifikansi ditentukan dengan nilai p <0,05.Hasil. Terdapat 30 subjek dalam penelitian ini. Median kadar malondialdehid serum sebelum kemoterapi fase induksi adalah 77,63 (20,45-578,66) dan menurun menjadi 66,63 (22,6-357,3) setelah kemoterapi fase induksi, tetapi tidak signifikan secara statistik (p=0,60). Pada kelompok sesudah kemoterapi fase induksi, terdapat peningkatan status gizi baik pada 22 subjek (73,4%), sedangkan sebelum kemoterapi hanya terdapat 15 subjek (50%), tetapi tidak signifikan secara statistik (p=0,464).Kesimpulan. Kadar malondialdehid menurun setelah kemoterapi fase induksi, terutama pada pasien dengan status gizi baik, meskipun tidak bermakna secara statistik.
Persalinan Sectio Caesarean dan Pemberian Air Susu Ibu Sebagai Faktor Risiko Hiperbilirubinemia Neonatorum Putu Indah Budiapsari; I Nyoman Supadma; Ni Wayan Winianti
Sari Pediatri Vol 25, No 3 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.3.2023.185-9

Abstract

Latar belakang. Kejadian hiperbilirubinemia pada bayi yang dilahirkan secara sectio caesarean cukup tinggi baik pada bayi cukup bulan maupun kurang bulan.Tujuan. Untuk mengetahui persalinan sectio caesarean dan pemberian air susu ibu dengan sebagai faktor risiko kejadian hiperbilirubinemia neonatorum Metode. Rancangan penelitian ini adalah kasus kontrol. Sampel yang digunakan adalah sampel bayi usia 0-28 hari yang mengalami hiperbilirubinemia kelompok kasus dan bayi yang tidak hiperbilirubinemia sebagai kontrol, yang dirawat di Rumah Sakit Umum Famili Usada Gianyar selama periode penelitian. Variabel bebas yang diteliti adalah cara lahir dan pemberian air susu ibu. Penelitian ini mengambil lokasi di ruang bersalin dan poliklinik anak dalam kurun waktu Agustus-Oktober 2022. Sampel penelitian adalah bayi usia 0-28 hari yang dilahirkan secara sectio caesareanHasil. Bayi yang lahir dengan prosedur sectio caesarean meningkatkan risiko hiperbilirubinemia dengan OR 2,72, pemberian air susu ibu menurunkan risiko hiperbilirubinemia atau sebagai faktor protektif dengan OR 0,09 dengan p<0,05.Kesimpulan. Persalinan sectio caesarean meningkatkan risiko hiperbilirubinemia dan pemberian air susu ibu menurunkan risiko hiperbilirubinemia pada neonatus.
Hubungan Pengetahuan Ibu tentang Makanan Pendamping-Air Susu Ibu dengan Status Gizi pada Anak Usia 6-24 Bulan Lary Anceli Br. Pasaribu; Sri Yati; Wahyunita Do Toka
Sari Pediatri Vol 25, No 2 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.2.2023.112-6

Abstract

Latar belakang. Prevalensi kematian balita di dunia sekitar 45% dikarenakan masalah gizi. Salah satu upaya untuk mencegah terjadinya permasalahan gizi adalah pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu pada anak dengan benar. Upaya ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah tingkat pengetahuan ibu.Tujuan. Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang Makanan Pendamping Air Susu Ibu dengan status gizi pada anak di Puskesmas JambulaMetode. Penelitian observasional dengan pendekatan potong lintang. Sampel penelitian adalah ibu yang memiliki anak usia 6-24 bulan. Data yang di peroleh dianalisa dengan metode Fisher Freeman Halton Exact Test. Kuesioner yang digunakan berupa pernyataan terbuka tentang pengetahuan ibu sebanyak 30 nomor.Hasil. Berdasarkan 64 yang diteliti, terbanyak ditemukan ibu dengan pengetahuan baik, yaitu 59 (92,2%), status gizi anak terbanyak ditemukan pada kategori gizi baik, yaitu 42 (65,6%). Hasil analisis bivariat diperoleh nilai p=0,505. Hal ini menunjukan bahwa tidak terdapat korelasi antara tingkat pengetahuan ibu tentang Makanan Pendamping Air Susu Ibu dengan status gizi pada anak usia 6-24 bulan.Kesimpulan. Tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan status gizi anak usia 6-24 bulan di Puskesmas Jambula.
Faktor-Faktor Risiko Kejadian Lesi Serebral pada Bayi Prematur Laras Puspa Nirmala; Dimas Tri Anantyo; Gatot Irawan Sarosa
Sari Pediatri Vol 25, No 3 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.3.2023.179-84

Abstract

Latar belakang. Angka kematian neonatal pada tahun 2019 adalah 15/1000 kelahiran hidup. Penyebab utama kematian bayi adalah prematur. Bayi prematur rentan terhadap cedera otak hemoragik dan iskemik. Ultrasonografi kepala berguna untuk diagnosis dini berbagai etiologi ensefalopati pada neonatus.Tujuan. Untuk menganalisis faktor-faktor risiko kejadian lesi serebral pada bayi prematur.Metode. Penelitian dengan desain kasus kontrol. Data diambil dari rekam medis bayi prematur yang di rawat di ruang Neonatal Intensive Care Unit Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Kariadi Semarang pada bulan Januari 2019-Agustus 2022. Analisis data dengan menggunakan uji chi square, fisher exact test, dan regresi logistik.Hasil. Subjek penelitian berjumlah 98 pasien yang terdiri dari, 49 kasus dan kontrol. Jenis lesi serebri terbanyak adalah perdarahan intraventrikular (15,3%) berapa subjek. Pada faktor risiko maternal, kejadian lesi serebri signifikan pada bayi prematur dengan ibu ketuban pecah dini (odds ratio 4,53; Interval Kepercayaan 95%: 1,6-12,7). Pada faktor neonatal, kejadian lesi serebri signifikan pada bayi prematur dengan neonatal infeksi (odds ratio 13,89; Interval Kepercayaan 95%: 1,7-112). Hasil analisis multivariat menunjukkan neonatal infeksi merupakan faktor risiko yang paling berpengaruh odds ratio 10,1. Kesimpulan. Perdarahan intraventrikular adalah kelainan terbanyak yang didapatkan pada penelitian ini. Ketuban pecah dini dan neonatal infeksi merupakan faktor risiko signifikan kejadian lesi serebri pada bayi prematur.
Hubungan Lama Sakit dengan Kualitas Hidup pada Anak Lupus Eritematosus Sistemik di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Mulya Safri; Roziana Roziana; Liza Salawati; Tita Menawati Liansyah; Rosmanida Keumala Putri
Sari Pediatri Vol 25, No 3 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.3.2023.147-54

Abstract

Latar belakang. Lupus eritematosus sistemik pada anak memiliki karakteristik yang lebih berat dibandingkan pada masa dewasa, yaitu aktivitas penyakit yang lebih tinggi, derajat penyakit yang lebih berat, gangguan organ yang lebih berat, lebih agresif, keterlibatan ginjal dan sistem saraf lebih sering, dapat menyebabkan kerusakan yang lebih cepat, serta angka mortalitas yang lebih tinggi. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lama sakit dengan kualitas hidup pada anak lupus eritematosus sistemik.Metode. Metode penelitian adalah analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional pada 34 anak berusia 5-18 tahun dengan lupus eritematosus sistemik yang berobat di Poliklinik Anak Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh. Analisis menggunakan univariat dan bivariat dengan uji Spearman rank. Subjek penelitian mengisi kuesioner PedsQL 3.0 Rheumatology Module untuk menilai kualitas hidup. Hasil. Anak yang menderita LES dengan lama sakit ?5 tahun memiliki kualitas hidup yang baik yaitu 21 orang (67,6%) dan anak yang menderita LES >5 tahun juga memiliki kualitas hidup yang baik yaitu 2 orang (100%). Hasil uji korelasi Spearman rank pada interval kepercayaan 95% dan ? = 0,05 menunjukkan bahwa hubungan lama sakit dengan kualitas hidup menghasilkan p=0,328 dan nilai koefisien korelasi (r)=0,173.Kesimpulan. Tidak terdapat hubungan antara lama sakit dengan kualitas hidup pada anak lupus eritematosus sistemik. 

Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue