cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Perbandingan Efektifitas Kombinasi Ampisilin dan Gentamisin dengan seftazidim Pada Pengobatan Sepsis Neonatorum Melina Imran; Julniar M. Tasli; Herman Bermawi
Sari Pediatri Vol 3, No 2 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.235 KB) | DOI: 10.14238/sp3.2.2001.92-100

Abstract

Beberapa penelitian terakhir melaporkan bahwa sensitifitas kuman terhadap ampisilindan gentamisin yang lazim digunakan sebagai terapi sepsis neonatorum telahmenurun sehingga digunakan sefalosporin generasi ketiga sebagai alternatif.Dilakukan penelitian uji klinik acak tersamar ganda terhadap 50 kasus tersangkasepsis neonatorum dengan tujuan untuk menilai perbandingan efektivitas kombinasiampisilin dan gentamisin dengan seftazidim. Subyek penelitian adalah seluruh pasienyang dicurigai sepsis neonatorum dan memenuhi persyaratan penelitian. Datadiperoleh dari anamnesis, pemeriksaan fisis dan laboratorium. Analisa statistikmenggunakan t-test, chi square test dan Kruskal_Wallis, berdasarkan jenis data yangakan diolah. Dari hasil penelitian kelompok yang mendapat kombinasi ampisilindan gentamisin 8,3% memberikan respons klinis baik (dengan 95% confidence limit:1-27%) dan 91,7% gagal. Sedangkan pada kelompok seftazidim 88,5% memberikanrespons baik (dengan 95% confidence limit: 69,8-97,6%) dan 11,5% gagal. Terdapatperbedaan yang sangat bermakna antara hasil pengobatan kombinasi ampisilin dangentamisin dengan seftazidim. Hasil pengobatan seftazidim jauh lebih baik dibandingdengan kombinasi ampisilin dan gentamisin, RR 7,9 artinya risiko gagal kelompokkombinasi ampisilin dan gentamisin 7,9 kali lebih besar daripada kelompokseftazidim.
Pola Tata laksana Diare Akut di Beberapa Rumah Sakit Swasta di Jakarta; apakah sesuai dengan protokol WHO? Pramita G. Dwipoerwantoro; Badriul Hegar; Pustika A.W. Witjaksono
Sari Pediatri Vol 6, No 4 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.182 KB) | DOI: 10.14238/sp6.4.2005.182-7

Abstract

Pada umumnya penyakit diare akut bersifat self limiting disease sehingga seringkalipasien tidak memerlukan pengobatan spesifik. Tata laksana diare akut dengan berbagaiderajat dehidrasi telah dibakukan oleh WHO.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menilai pola tata laksana diare akut di luarrumah sakit institusi pendidikan.Metoda: Penelitian deskriptif yang dilakukan secara retrospektif di tiga rumah sakitswasta Jakarta sejak 1 Januari sampai 31 Maret 1999 pada 67 pasien diare akut yangdirawat, berumur 0-24 bulan.Hasil: Didapatkan 37 (55%) anak lelaki dan 30 (45%) anak perempuan menderitadiare akut, terdiri dari tanpa dehidrasi 6 (9%) anak, dehidrasi ringan-sedang 52 (78%)anak, dan dehidrasi berat 9 (13%) anak. Proporsi rentang usia 0-6 bulan sebanyak 23(34%) anak, >6-12 bulan 28 (42%), dan >12-24 bulan 16 (24%). Jumlah pasien diareakut tanpa dan dengan dehidrasi ringan-sedang yang mendapat rehidrasi secara parenteralsebanyak 51 (88%) anak dari 58 anak. Sedangkan sisanya menderita dehidrasi beratdiberi cairan rehidrasi parenteral yang dibagi dalam 24 jam. Pada keseluruhan pasienrawat hanya 37 (55%) anak yang mendapat cairan rehidrasi oral (oralit/Pedialyte).Penggunaan antibiotik didapatkan pada 55 (82%) anak dan anti diare pada 32 (48%)anak. Pemberian ASI hanya didapatkan pada 41 (61%) anak, dan di antaranya pemberianASI dilanjutkan pada 36 (88%) anak, serta dihentikan pada 5 (12%) anak; sedangkan26 (39%) anak sudah tidak mendapatkan ASI. Dari 51 anak yang menggunakan susuformula, didapatkan pemberian susu formula khusus pada 47 (70%) anak danpengenceran susu formula pada 2 (3%) anak. Lama rawat rerata 3 hari, dengan kisaran2 sampai 6 hari, dan 1 anak dirawat lebih dari 7 hari.Kesimpulan: tata laksana diare akut di tiga rumah sakit swasta di Jakarta kurang sesuaidengan panduan/protabel WHO, tampak dari hasil pemakaian CRO hanya pada 50%pasien, antibiotik masih banyak dipakai (90%), dan pemakaian susu formula khususpada 70% anak. Sedangkan pemberian ASI diteruskan cukup baik, yaitu 88%.
Profil Status Imunisasi Dasar Balita di Poliklinik Umum Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta Anita Juniatiningsih; Soepardi Soedibyo
Sari Pediatri Vol 9, No 2 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.2.2007.121-6

Abstract

Latar belakang. Vaksinasi merupakan salah satu upaya kesehatan masyarakat yang paling efektif. DiPoliklinik Umum Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo(IKA RSCM), masih ditemukan pasien dengan imunisasi dasarnya tidak lengkap.Tujuan Penelitian. Mengetahui status imunisasi dasar, penyebab imunisasi tidak lengkap, serta cakupanimunisasi.Metode. Penelitian ini bersifat observasional deskriptif dengan studi seksi silang dilakukan di Poliklinik UmumDepartemen IKA RSCM selama kurun waktu 8 minggu (Mei-Juli 2006) pada semua pasien anak balita.Sampel diambil secara consecutive sampling. Data penelitian dikumpulkan dan diolah dengan program Excell.Hasil. Persentase cakupan imunisasi pada 84 anak yang diteliti untuk masing-masing jenis vaksin adalah BCG97,6%, DPT1 97,6%, DPT 2 90,5%, DPT3 78,6%, polio 1 100%, polio 2 97,6%, polio 3 92,9%, polio 490,5 %, hepatitis B 1 95,2%, hepatitis B2 88,1% ,hepatitis B3 78,6% dan campak 76,2%. Alasan orang tuatersering untuk tidak melengkapi imunisasi anaknya adalah anak sering sakit (20 orang), ibu cemas/takut (4orang), tidak tahu (2 orang), sibuk (2 orang), lupa (2 orang), sering pindah rumah (2 orang).Kesimpulan. Status imunisasi dasar lengkap 66,7% diantara 84 pasien anak balita di Poliklinik UmumIKA-RSCM pada bulan Mei-Juli 2006. Cakupan jenis imunisasi yang masih di bawah 90% adalah campak,Hepatitis B 3, DPT 3, dan Hepatitis B 2. Alasan orang tua tersering untuk tidak melengkapi imunisasiadalah anak sering sakit. Tempat imunisasi dan tenaga medis yang paling banyak dipilih adalah praktekbidan dan Puskesmas (perawat)
Peran Operasi Kasai pada Pasien Atresia Bilier yang Datang Terlambat Elina Waiman; Hanifah Oswari
Sari Pediatri Vol 11, No 6 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.325 KB) | DOI: 10.14238/sp11.6.2010.463-70

Abstract

Kasus atresia bilier di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RS Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta selamasepuluh tahun terakhir mengalami peningkatan. Namun disayangkan pasien pada umumnya datangberobat terlambat, sehingga telah terjadi sirosis bilier dengan prognosis buruk. Operasi Kasai merupakanpilihan tata laksana utama pasien dengan atresia bilier, karena keterbatasan melakukan transplantasi hatidi Indonesia. Dari penelusuran literatur didapatkan bahwa keberhasilan operasi Kasai dipengaruhi olehberbagai faktor, antara lain keadaan histologi hati dan tipe atresia bilier, kadar bilirubin serum dan kejadiankolangitis asenden pascaoperasi, serta pengalaman pusat pelayanan yang bersangkutan dalam melakukanoperasi Kasai dan perawatan pascaoperasi. Apabila operasi dilakukan pada pasien yang berusia lebih darienampuluh hari, umumnya hasil tidak memuaskan. Namun, beberapa peneliti melaporkan sejumlah pasienyang dioperasi pada usia lebih dari enampuluh hari memiliki kesintasan hingga 10-15 tahun pascaoperasi.Hal ini menjadi peringatan kepada petugas kesehatan terutama dokter anak agar dapat mendeteksi atresiasecara dini dan merujuk pada saat yang tepat sehingga meningkatkan kesintasan jangka panjang pasien atresiabilier. Edukasi dan informasi kepada masyarakat mengenai bayi yang mengalami kuning berkepanjangantampaknya perlu disosialisasi kembali. 
Bayi Terlahir Dari Ibu Pengidap Hepatitis B Purnamawati S Pujiarto; Zuraida Zulkarnain; Yulfina Bisanto; Hanifah Oswari
Sari Pediatri Vol 2, No 1 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp2.1.2000.48-9

Abstract

Indonesia adalah negara endemis tinggihepatitis B dengan prevalensi HBsAg positifdi populasi antara 7 – 10%. Pada kondisiseperti ini, transmisi vertikal dari ibu ke bayimemegang peran penting. Di lain pihak, terdapatperbedaan natural history antara infeksi hepatitis B yangterjadi pada awal kehidupan dengan infeksi hepatitisB yang terjadi pada masa dewasa. Infeksi yang terjadisejak awal kehidupan atau bahkan sejak dalamkandungan, membawa risiko kronisitas sebesar 80 –90%. Infeksi pada masa dewasa yang disebabkan olehtransmisi horisontal, mempunyai risiko kronisitashanya sebesar 5%.1,2Berdasarkan imunopatogenesis hepatitis B, infeksikronik pada anak umumnya bersifat asimtomatik. Disatu pihak, yang bersangkutan tidak menyadari bahwadirinya sakit. Di lain pihak, individu tersebut potensialsebagai sumber penularan.2Dalam rangka memotong transmisi infeksihepatitis B maka kunci utama adalah imunisasihepatitis B segera setelah lahir, secara universal,terhadap semua bayi baru lahir di Indonesia. Makalahini akan membahas tatalaksana terhadap bayi yang lahirdari ibu mengidap/menderita hepatitis B kronik.
Penelitian Kendali Acak Terbuka Terhadap Efektifitas dan Keamanan Cairan Elektrolit Rumatan pada Neonatus dan Anak (KAEN 4B® vs N/4D5) M. Juffrie
Sari Pediatri Vol 6, No 2 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.2.2004.91-6

Abstract

Cairan rumatan sangat dibutuhkan oleh tubuh kita untuk memelihara keseimbanganhemodinamik, apalagi pada pasien neonatus dan anak. Cairan rumatan dengankecukupan elektrolit esensial sangat berperan penting menunjang keseimbangan cairandan elektrolit sehari-hari. Oleh karena itu dibutuhkan suatu bentuk cairan yangmengandung kecukupan air dan elektrolit tersebut. Penelitian ini bertujuan melihatdan mengetahui lebih jauh apakah sediaan cairan rumatan baru (KAEN 4B®) yangtelah dipasarkan dapat memenuhi kecukupan elektrolit dan aman dipakai dibandingkandengan cairan rumatan yang biasa digunakan pada pasien neonatus dan anak, yaitucairan NaCl 0.225%, D5 atau (N/4-D5).Penelitian kendali acak terbuka ini dilakukan terhadap 44 subyek yang terbagi22 subyek pada kelompok kasus dengan cairan elektrolit rumatan (KAEN 4B®) dan22 subyek lainnya pada kelompok kontrol dengan (N/4-D5). Tidak didapatkan suatuperbedaan yang bermakna dari kadar natrium dan kalium serum antara keduakelompok setelah 6-8 jam perlakuan; sedangkan kadar kalium di dalam urin tampaklebih sedikit pada kelompok kontrol. Analisa gas darah tak tampak ada perbedaanbermakna sebelum dan setelah perlakuan pada kedua kelompok namun kadar pCO2lebih tinggi pada kelompok kontrol. Kreatinin serum tak ada perbedaan pada keduakelompok tetapi terjadi penurunan setelah perlakuan 6-8 jam. Kadar glukosa terdapatpenurunan setelah perlakuan terutama pada kelompok kontrol. Tidak didapatkansuatu reaksi efek samping atau reaksi anafilaksi pada kedua kelompok. Hasil penelitianini menunjukkan bahwa pemakaian cairan elektrolit rumatan baru yang beredar dipasaran KAEN 4B® dapat menjaga kadar elektrolit terutama Na dan K setelah 6-8jam puasa, aman dipakai dan bisa diterima dengan baik pada neonatus dan anakbila dibandingkan cairan N/4-D5.
Terapi Vincristine dan Triamcinolone dalam pengobatan Hemangioma Infantil Heru Noviat Herdata; Djajadiman Gatot; Endang Windiastuti
Sari Pediatri Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1222.944 KB) | DOI: 10.14238/sp9.1.2007.59-66

Abstract

Latar belakang. Hemangioma infantil merupakan salah satu tumor jinak pada bayi dan anak yang diawalidengan bentuk noda kemerahan. Pada masa proliferasi, noda kemerahan ini dapat berubah menjadi bentuknodul atau melebar serta membesar. Hingga saat ini belum ada terapi yang memuaskan, dan terapi dengankortikosteroid sistemik merupakan pilihan yang mudah dan efektif meskipun hasilnya tidak seragam.Terapi alternatif lain telah dicoba yaitu vincristin atau interfensi alfa.Tujuan Penelitian. Mengetahui sebaran, gambaran, komplikasi hemangioma serta mengevaluasi terapikortikosteroid dan vincristine pada HI serta efek sampingnya.Metode. Analisis retrospektif terhadap 26 pasien yang berobat jalan di Poliklinik Khusus HematologiOnkologi Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, rumah sakit Dr. Ciptomangunkusumo Jakartamulai tahun 2005 – 2006, hasil terapi dinilai berdasarkan mengecilnya hemangioma.Hasil. Hemangioma lebih banyak pada anak perempuan dengan bentuk morfologi segmental. Enam puluhsembilan persen hemangioma timbul setelah lahir dan terapi kortikosteroid diberikan terhadap 92% pasien,baik secara oral, maupun kombinasi suntikan intralesi atau dengan vincristine. Sebanyak 50% pasienmengalami perbaikan termasuk semua pasien yang diterapi kortikosteroid kombinasi dengan vincristine.Tidak ditemukan efek samping lokal, maupun sistemik akibat pemakaian kortikosteroid dan vincristin.Kesimpulan. Kortikosteroid sistemik dan intralesi cukup efektif sebagai pengobatan HI, yaitu denganpengecilan hemangioma serta tidak ditemukannya efek samping sistemik lokal, maupun sistemik . Vincristindapat dipakai sebagai alternatif pengobatan HI yang resisten terhadap kortikosteroid
Perbandingan Efek Live dan Heat-killed Probiotic Terhadap Penyembuhan Diare Akut Nondisentri pada Anak Reby Kusumajaya; Ina Rosalina; Sri Endah Rahayuningsih
Sari Pediatri Vol 10, No 5 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.5.2009.302-7

Abstract

Latar belakang. Diare akut masih menjadi penyebab morbiditas dan mortalitas, terutama di negara berkembang. Probiotik sebagai mikroorganisme hidup jika dikonsumsi dalam jumlah cukup akan memberikan manfaat terhadap tubuh pejamu. Namun masih terdapat masalah teknologi probiotik yang sulit diatasi, yaitu hilangnya dosis dan aktivitas yang tidak dapat diprediksi karena kualitas penyimpanan sediaan yang beragam. Heat-killed probiotic sudah mengalami tindalisasi menawarkan sediaan farmasi yang lebih stabil dengan aktivitas yang sama.Tujuan. Menilai efektifitas heat-killed probiotic dibandingkan dengan live probiotic terhadap anak yang menderita diare akut nondisentri.Metode. Uji klinis acak tersamar buta ganda terhadap pasien diare akut nondisentri usia 6-24 bulan dengan atau tanpa dehidrasi ringan-sedang di RS Hasan Sadikin, RSUD Ujung Berung dan RSUD Cibabat pada periode bulan April-Mei 2008. Setiap subjek mendapat satu bungkus berisi 3 x 1010 probiotic atau 107 live probiotic, kemudian dilanjutkan dengan interval 8 sampai 12 jam per hari selama lima hari. Durasi dan frekuensi defekasi dicatat secara kuantitatif. Analisis statistik dihitung dengan menggunakan uji t.Hasil. Didapatkan 52 anak (25 heat-killed probiotic, 27 live probiotic) masuk ke dalam penelitian. Rata-rata durasi diare menurun secara bermakna pada pasien yang diberi heat-killed probiotic (50,2 jam SB 28,6) dibandingkan dengan live probiotic (74,8 jam SB 28,8) (p=0,003). Rata-rata frekuensi defekasi juga lebih rendah secara bermakna pada kelompok heat-killed probiotic dibandingkan dengan kelompok live probiotic (8,3;SB 7,4 vs 10,7;SB6,4).Kesimpulan. Heat-killed probiotic lebih baik dalam mengurangi lama diare dan frekuensi defekasi daripada live probiotic pada anak pasien diare akut nondisentri.
Jadwal Imunisasi Rekomendasi IDAI Sari Pediatri
Sari Pediatri Vol 2, No 1 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.387 KB) | DOI: 10.14238/sp2.1.2000.43-7

Abstract

Dalam mempergunakan bagan jadwal imunisasi IDAI edisi Agustus 1999 untuk keperluan praktek sehari-hari, perlu penjelasan sebagai berikut, a) Penyusunan jadwal Imunisasi periode Agustus 1999 dibuat dengan memperhatikan range (tenggang) waktu imunisasi yang dianjurkan, dengan maksud agar supaya teman sejawat dapat memberikan waktu yang lebih tepat dan leluasa kepada pasien, kapan imunisasi sebaiknya diberikan sesuai dengan kedatangan/ kebutuhan anak. b) Jadwal imunisasi menurut Program Pengembangan Imunisasi (PPI) Depkes tetap dapat dipergunakan, bersama jadwal imunisasi IDAI. c) Jadwal Imunisasi IDAI setiap tahun akan dievaluasi untuk penyempurnaan, berdasarkan pada hasil penelitian mengenai perubahan pola penyakit, kebijakan Depkes/ WHO, dan pengadaan vaksin di Indonesia.
Serangan Asma Berat pada Asma Episodik Sering Ariz Pribadi; Darmawan BS
Sari Pediatri Vol 5, No 4 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.514 KB) | DOI: 10.14238/sp5.4.2004.171-7

Abstract

Kasus asma serangan berat dengan episodik sering terjadi pada seorang anak berusia14 bulan. Penanganan pertama untuk mengatasi eksaserbasi adalah pemberianberulang β2-agonist secara inhalasi, glukokortikoid sistemik, dan oksigen. Apabilapasien tidak menunjukkan respons terhadap pengobatan awal dan terlihat adanyaperburukan klinis sehingga pasien harus dirawat di ruang perawatan intensif atasindikasi ancaman henti napas (Pa C02 >45 mm Hg). Dengan pemberian obatkombinasi anti kolinergik, multixantin intravena, dan glukokortikoid sistemik terlihatperbaikan dalam waktu 24 jam. Serangan eksaserbasi asma yang berat dapatmengancam hidup dan merupakan keadaan darurat yang memerlukan penanganansegera.

Page 41 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue